Recommended

Interviews

Adventurer Agustinus Wibowo: A journey home

By Rory Howard China.org.cn, May 8, 2015 Agustinus Wibowo is a Chinese-Indonesian author. At first glance, he seems more like a traveler than an adventurer and more like a happy conversationalist than a philosopher. But just as my first impression of him is challenged by what I learn of him in our conversation, so too do we find in his latest book, “Ground Zero: When the Journey Takes You Home,” that his sense of self has been tested by his upbringing, his culture and his travels. Danger, charity, humanity Wibowo’s first two books – “A Blanket of Dust” and “Borderlines: A Journey to Central Asia” – tell of his earlier travels through Afghanistan, Tajikistan, Kyrgyzstan, Kazakhstan and Uzbekistan. When asked what took him to these places, he answers that his journeys were governed by chance. “I wanted to be a journalist, but I didn’t have a background in journalism. The road itself is the best university,” he says. His journey began in China, the “land of his ancestors,” where he studied computer engineering for many years in Beijing before becoming disillusioned by education. He had no interest in pursuing a career in his field, so he decided he had to travel [...]

May 8, 2015 // 1 Comment

Antara: Penulis Indonesia berbagi pengalaman di London

Minggu, 19 April 2015 06:56 WIB | 9.486 Views Pewarta: Zeynita Gibbons London (ANTARA News) – Penulis Indonesia berbagi pengalaman dengan pecinta buku dalam ajang pameran bergengsi London Book Fair 2015 yang digelar di gedung Olympia, London pada 14-16 April 2015. Penulis Indonesia, Agustinus Wibowo di London, Minggu mengatakan, berbagi pengalaman bersama Elizabeth Pisani, penulis buku “Indonesia Exploring the Improbable Nation” di London Book Fair merupakan pengalaman berkesan dalam hidupnya. “Tampil dalam London Book Fair merupakan salah satu percakapan terbaik yang pernah saya tampilkan di talkshow,” ujar “travel writer” berusia 34 tahun yang merupakan penulis buku “bestseller” “Selimut Debu, Garis Batas dan Titik Nol”. Indonesia untuk pertama kalinya tampil dalam London Book Fair yang didukung Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) dengan menghadirkan lebih dari 15 penerbit Indonesia dalam pameran selama tiga hari ini. Stan Indonesia selain memperagakan sekitar 200 judul buku juga mengelar “talkshow” yang menampilkan diskusi buku “Lelaki Harimau” karya Eka Kurniawan yang baru diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Inggris dengan judul “Man Tiger”. Selain itu, peluncuran buku “Sophis TEAcation – An Anthology of Porcelain Teacups Collecting”, acara bincang-bincang tentang buku digital/animasi serta kisah perjalanan [...]

April 19, 2015 // 0 Comments

CNN Indonesia: Penulis Indonesia Berjaya di London Book Fair

Vega Probo, CNN Indonesia Jumat, 17/04/2015 12:25 WIB   Jakarta, CNN Indonesia — Stand Indonesia di ajang London Book Fair (LBF), meriuh saat digelar acara bincang-bincang Indonesian Travel Writing: When Indonesians See The World yang menghadirkan penulis Agustinus Wibowo, pada Kamis (16/4), pukul 11 waktu Inggris. Agaknya publik London mulai jatuh hati pada kisah-kisah seru yang dipaparkan oleh penulis Indonesia. Sebagaimana diketahui, Agustinus adalah penulis buku best seller berjudul Selimut Debut, Garis Batas, dan Titik Nol. “Kalau ditotal sekitar 30 orang yang mendengarkan acara, baik di tempat duduk maupun dari luar stand. Di luar stand juga diputar video-video Afghanistan yang menarik pengunjung untuk datang,” tulis Agustinus melalui surel kepada CNN Indonesia (17/4). Stand Indonesia, 5B140, menampilkan 223 judul buku pilihan dari berbagai penerbit. LBF adalah ajang jual beli rights buku. LBF diramaikan 25.000 pelaku industri dari 124 negara. Selain itu, juga digelar acara diskusi dan pameran foto. “Stand Indonesia terletak di corner dengan lemari buku di sisi-sisi tembok yang menampilkan buku anak-anak, sastra, dan fotografi. Ruangan terbuka di keempat sisi tembok sehingga pengunjung bisa mengalir dari berbagai arah,” kata Agustinus. Pengalaman Lebih Berharga Ketimbang Uang Pria yang kenyang bertualang ini tak tampil sendirian, melainkan bersama Elizabeth Pisani, penulis Indonesia Etc. [...]

April 17, 2015 // 9 Comments

CNN Indonesia: Cengkeram Penulis Indonesia di Eropa Makin Kuat

Vega Probo, CNN Indonesia Selasa, 14/04/2015 16:10 WIB   Jakarta, CNN Indonesia — Hanya segelintir penulis Indonesia yang karya-karyanya dikenal di luar negeri. Sebut saja, Pramoedya Ananta Toer. Namun kini, agaknya angin sejuk tengah berembus membawa nama-nama penulis baru ke daratan Eropa. Dua penulis Indonesia, Eka Kurniawan dan Agustinus Wibowo, turut berpartisipasi di London Book Fair di London, Inggris, pada 14-16 April 2015. Nama yang disebut terakhir ini dikenal lewat buku Selimut Debut, Garis Batas, dan Titik Nol. “Saya ada talkshow soal travel writing Indonesia dan pameran foto Melihat Dunia dari Lensa Orang Indonesia,” kata Agustinus kepada CNN Indonesia melalui pesan singkat, hari ini (14/4). “Kegiatan saya nanti pas hari terakhir, 16 April.” Saat ini, Agustinus mengaku sedang berkeliling arena bersama rombongan Indonesia. Selain Eka dan Agustinus, juga turut Desiree Sitompoel (seniman dan kolektor cangkir), Haidar Bagir (cendekiawan dan penulis), Putut Widjanarko (Penerbit Mizan),  Lucya Andam Dewi (Presiden IKAPI), serta Sari Meutia (CEO Mizan Publishing, Koordinator Promosi dan Publikasi Komite Nasional Indonesia di London Book Fair). Eka dikenal lewat buku Lelaki Harimau yang telah diterbitkan oleh Verso UK dengan judul Man Tiger. Desiree meluncurkan buku SophisTEAcation-An Anthology of Porcelain Teacups Collecting, yang ditulis oleh Arlyn Lawrence. Haidar, Putut dan Lucya [...]

April 14, 2015 // 0 Comments

Hipwee: Agustinus Wibowo, Si Penembus Garis Batas dan Catatan Perjalanan yang Tak Melulu Indah

Danar Mustofa | Feb 3, 2015 Hipwee “Bagi saya perjalanan bukan lagi gaya hidup. Tapi perjalanan adalah kehidupan yang sesungguhnya.” Agustinus Wibowo Maraknya tren traveling memunculkan banyak penulis catatan perjalanan dengan gayanya masing-masing. Ada yang kocak, menjual tempat-tempat indah, sampai yang gemar menceritakan proses menemukan diri yang ia rasakan selama perjalanan. Ada satu pejalan Indonesia yang berbeda dari itu semua — Agustinus Wibowo namanya. Ia memilih berjalan ke negeri-negeri penuh konflik, tinggal bertahun-tahun di sana, mempelajari bahasanya, menyelundup dari satu perbatasan ke perbatasan lain tanpa visa demi satu hal: menjadi manusia.   Berbeda dengan pejalan lain yang mengunjungi destinasi indah semata, Agustinus justru pergi ke tempat-tempat yang dihindari orang karena ketidakamanannya Bicara soal pejalan yang sekarang naik daun tentu membuat pikiran kita terbang pada destinasi eksotis yang sudah tersohor. Eropa, Amerika, New Zealand, Singapura, Jepang, sampai Australia jadi destinasi favorit the so called traveler untuk melangkahkan kaki. Namun, apa yang akan kalian pikirkan ketika mendengar Afghanistan, Tajikistan, Kazakhstan maupun Turkmenistan? Tak salah memang jika dalam kepala akan muncul bayangan tentang perang, bom, dan huru-hara yang sering terjadi di sana. Sebab seluruh pemberitaan di media lain mengabarkan tentang hal yang serupa. Namun pernahkah kalian mendengar tentang pegunungan Pamir, maupun lembah Bamiyan yang [...]

February 3, 2015 // 0 Comments

[VIDEO] Net TV (2014): Talk Show Perjalanan minat khusus bersama Agustinus Wibowo

Indonesia Morning Show Net TV 29 December 2014: Talk Show Perjalanan minat khusus bersama Agustinus Wibowo Agustinus Wibowo not only travels, but also learning the life of the people in the regions he visits. He has visited countries like Afghanistan, Mongolia, Pakistan, and just returned from a three-month journey in Papua New Guinea, and is projecting to visit all Indonesian borders. In Indonesia Morning Show NET TV 29 December 2014, Agustinus talks about his journey and what he has learned.     Talkshow in Indonesia Morning Show program of Net TV on traveling to unusual places to learn about the life of the [...]

January 27, 2015 // 7 Comments

[VIDEO] Net TV (2014): Berwisata Sekaligus Belajar

Indonesia Morning Show Net TV 29 December 2014: Agustinus Wibowo berwisata sekaligus pelajari kehidupan daerah sekitarnya Agustinus Wibowo not only travels, but also learning the life of the people in the regions he visits. He has visited countries like Afghanistan, Mongolia, Pakistan, and just returned from a three-month journey in Papua New Guinea, and is projecting to visit all Indonesian borders. In Indonesia Morning Show NET TV 29 December 2014, Agustinus talks about his journey and what he has learned.     Talkshow in Indonesia Morning Show program of Net TV on traveling to unusual places to learn about the life of the [...]

January 24, 2015 // 5 Comments

Pikiran Rakyat (2015): Tiket Murah Dihapus, Pelesir Jalan Terus

Pikiran Rakyat 18 Januari 2015 Tiket Murah Dihapus, Pelesir Jalan Terus Endah Asih SAATNYA berlibur. Setelah berselancar di dunia maya, sebuah destinasi baru yang eksotis di belahan lain nusantara berseliweran di kepala. Tinggal mencari tiket pesawat dengan harga miring lalu akomodasi nyaman dengan harga terendah di berbagai situs pembanding. Jadwal cuti tak lupa segera disusun. Oh iya, ucapan selamat tinggal harus dilayangkan pada promo tiket pesawat murah meriah. Ah, jadi berlibur atau tidak, ya?   JADI, dong! Aturan baru Kementerian Perhubungan yang menetapkan tarif batas bawah sebesar 40% dari tarif batas atas untuk penerbangan domestik boleh saja masih menuai banyak protes. Pro dan kontranya masih nyaring terdengar hingga kini. Apalagi, tiket pesawat adalah hal terpenting, selain akomodasi dan konsumsi saat melakukan perjalanan. Buat banyak pejalan mandiri dengan dana minim atau akrab di telinga dengan sebutan backpacker, aturan itu cukup mencekik. Namun, mengapa animo backpacking juga harus ikut tercekik? Mari sejenak tengok backpacking dari sudut pandang sejarah. Perjalanan backpacker yang terlacak dimulai dengan era hippie pada 1970-an. Lewat dana yang sangat terbatas, kaum hippie melakukan perjalanan darat dari Eropa sampai India. Foto: AGUSTINUS Wibowo bersama penduduk Papua Nugini. Saat memulai “backpacking” 14 tahun lalu, Agustinus belum mengenal tiket penerbangan murah. Hal [...]

January 18, 2015 // 4 Comments

CNN Indonesia: Tokoh Indonesia Penguasa Banyak Bahasa

  Windratie, CNN Indonesia Kamis, 06/11/2014 13:06 WIB Bangsa ini pernah memiliki putra bangsa dengan kemampuan bahasa yang mencengangkan. Gayatri Wailissa namanya. Sampai akhirnya hayatnya pada 23 Oktober lalu, setidaknya dia menguasai hingga 14 bahasa asing. Indonesia berduka kehilangan seorang polyglot terbaik bangsa.Kemampuan berbahasa asing sebaiknya dimiliki oleh para pemimpin bangsa. Kemampuan berbahasa akan membuat diplomasi antarnegara terjalin baik. Apa jadinya, jika pemimpin bangsa tidak menguasai bahasa internasional? Itu terjadi pada Presiden RI ke-7 Joko Widodo yang kemampuan bahasa asingnya diragukan banyak pihak. Dalam sejarah bangsa kita mengenal negarawan-negarawan yang menguasai setidaknya lima bahasa. Mereka disebut dengan polyglot. Bisa jadi mereka termasuk kategori orang-orang genius. Namun, dalam perjalanannya lima tokoh di bawah ini tidak begitu saja dapat menguasai banyak bahasa. Ada banyak faktor menyertainya. Kecintaan besar terhadap buku dan sastra, serta keingintahuan untuk menjelajahi dunia menjadi salah satu penyebab. Dari ketekunan dan kedisiplinan negarawan dan tokoh bangsa di bawah ini kita tahu bahwa polyglot bukan keajaiban tapi ilmu yang digali. Agus Salim Lelaki kelahiran Agam, Sumatera Barat, ini adalah negarawan dengan otak cemerlang. Dia banyak dipuji karena kemahirannya menguasai banyak bahasa. Bahasa Belanda Agus Salim dipelajari pada saat beliau di kapal laut dalam perjalanan menuju Belanda. Dalam sejarah, Agus Salim [...]

November 6, 2014 // 11 Comments

TribunNews (2014): Agustinus Wibowo Mewakili Indonesia di Byron Bay Writers Festival

Inspirasi Agustinus Wibowo Mewakili Indonesia di Byron Bay Writers Festival Senin, 4 Agustus 2014 18:02 WIB http://www.tribunnews.com/lifestyle/2014/08/04/agustinus-wibowo-mewakili-indonesia-di-byron-bay-writers-festival TRIBUNNEWS.COM, NEW SOUTH WALES – Penulis perjalanan Agustinus Wibowo mendapat kehormatan untuk mewakili Indonesia dalam festival penulis internasional Byron Bay Writers Festival (BBWF) yang digelar 1-3 Agustus 2014 di Byron Bay, New South Wales, Australia. Setiap tahun BBWF, yang merupakan salah satu perhelatan sastra tahunan terbesar di Australia, selalu menjalin kerja sama dengan Ubud Readers and Writers Festival (UWRF) yang rutin digelar di Bali. Oleh karenanya, BBWF selalu menyediakan kesempatan bagi penulis muda Indonesia maupun Asia untuk tampil di forum internasional ini. Penulis Indonesia yang pernah mendapat kehormatan untuk menjadi pembicara di ajang BBWF ini antara lain Andrea Hirata dan Ahmad Fuadi, penulis trilogi Negeri 5 Menara. Dalam peta sastra di Indonesia, Agustinus Wibowo dikenal sebagai perintis penulisan sastra perjalanan dengan menggunakan gaya narasi. Diawali dengan karyanya Selimut Debu (2010) yang mengisahkan petualangannya di negeri perang Afghanistan, dilanjutkan dengan Garis Batas (2012) yang merupakan buku catatan perjalanannya di Asia Tengah, dan kemudian Titik Nol (2013) memoar tentang perjuangan ibunya menghadapi kanker sekaligus bagaimana dia memaknai perjalanan hidup. Selain menjadi pembicara dalam beberapa panel [...]

August 5, 2014 // 11 Comments

Tentang Workshop A CREATIVE WRITING CLASS ON #YourJourney Gramedia 14 Juni 2014

Teman-teman penulis, pembaca, dan pencinta tulisan perjalanan: Pada 14 Juni ini, Gramedia Pustaka Utama akan mengadakan workshop dan seminar A CREATIVE WRITING CLASS ON #YourJourney, dengan pembicara saya sendiri, Agustinus Wibowo. Acara ini akan digelar dalam satu hari saja, dari pukul 9:00 WIB sampai 16:00 WIB yang akan dibagi menjadi tiga sesi. Pada zaman sekarang ini, semakin banyak orang melakukan perjalanan dan semakin banyak orang yang menuliskannya. Tetapi, tidak banyak tulisan perjalanan mampu meninggalkan kesan di hati pembaca. Kamu mungkin pernah mencoba menuliskan pengalaman perjalananmu, atau pengalaman hidupmu, tetapi sering kebingungan sampai di tengah-tengah karena tidak tahu bagaimana harus menyelesaikannya? Atau kamu merasa ceritanya jauh lebih membosankan dari perjalanan seru yang kamu alami? Atau, kamu pernah mencoba memasukkan data-data untuk memperkaya tulisanmu, tetapi malah jadinya seperti artikel Wikipedia? Kamu tidak sendiri. Workshop ini akan membahas apa itu tulisan perjalanan, bagaimana sejarahnya, dan bagaimana menggunakan teknik bercerita untuk menghasilkan tulisan perjalanan yang kuat. Teknik nonfiksi kreatif ini bukan hanya bisa dipakai untuk menulis tulisan perjalanan saja, tetapi juga memori perjalanan hidup (memoar) ataupun pelaporan pewartaan (jurnalisme sastrawi). Teknik-teknik dan berbagai tips praktis ini akan membuat tulisanmu hidup dan lincah seperti halnya novel fiksi, walaupun semua yang kamu sampaikan adalah kisah nyata [...]

June 9, 2014 // 0 Comments

Pikiran Rakyat (2014): Berselimut Debu, Menembus Garis Batas

MINGGU  (PAHING)  9 MARET 2014 7 JUMADIL AWAL 1435  H JUMADIL AWAL 1947   Agustinus Wibowo Berselimut Debu, Menembus Garis Batas SULIT juga ”menangkap” pria yang satu ini. Dalam dua hari kunjungannya ke Bandung, travel writer Agustinus Wibowo (33) disibukkan dengan aktivitas menjadi pembicara di berbagai tempat dari pagi hingga tengah malam. Wartawan Pikiran Rakyat, Endah Asih, baru bisa menemui nya Minggu (2/3/2014) pagi, sambil mengobrol di atas kereta api yang melaju dari Stasiun Kiaracondong ke Cicalengka, Kabupaten Bandung. Memang, tak ada cara yang lebih menyenang kan untuk berakhir pekan dengan traveller, selain melakukan perjalanan itu sendiri meski singkat.   SETELAH berkeliling Asia selama 13 tahun, Gus, begitu ia biasa disapa, akhirnya bermukim di Indonesia sejak Februari 2013. Dalam terminologi seorang backpacker “kahot“, harap dimaklumi bahwa kata bermukim itu hanya diartikan sebagai tinggal sekurang-kurangnya satu tahun di suatu tempat. “Saya memang rencana mau pulang ke Indonesia nengok keluarga dan ngeluarin buku ketiga waktu itu, tapi ternyata Ayah saya meninggal tepat dua minggu sebelum jadwal pulang, akhirnya saya mempercepat agenda pulang kampung,” kata pria kelahiran Lumajang Jawa Timur ini, memulai perbincangan. Pagi itu, suasana Stasiun Kiaracondong masih agak lengang. Dalam satu malam, barang-barang yang seluruhnya memiliki  berat 100 kilogram, selesai di-packing.  [...]

March 11, 2014 // 1 Comment

Agama, Nasionalisme dan Kemanusiaan di Mata Agustinus Wibowo

Senin, 03 Maret 2014 13:31 WIB ( 570 Views ) http://islamindonesia.co.id/detail/1485-Agama-Nasionalisme-dan-Kemanusiaan-di-Mata-Agustinus-Wibowo#sthash.vTZddrUA.dpuf Penulis : Lina Agustinus Wibowo saat mengisi workshop di Kantor Mizan Pustaka, Bandung pada Sabtu, (01/03/14). Perjalanan adalah jembatan antara nilai-nilai universal yang menyangkut agama, nasionalime, dan kemanusiaan.   Nama Agustinus Wibowo mulai mendapat tempat di hati para traveler Nusantara dengan tiga buku best-sellernya, yakni Selimut Debu, Garis Batas dan Titik Nol. Bukan hanya karena kisah perjalanannya yang unik dan penuh tualang, tapi juga karena paradigma baru yang berhasil ia tawarkan pada para pembaca. Sebuah paradigma yang mampu menyentuh hati—tentang bagaimana memaknai tiap langkah manusia, hingga mampu mengubah pola pikir yang kadang, menjadi garis batas bagi dirinya sendiri—dengan agamanya—dengan etnisnya—dengan negaranya—yang sebetulnya mengkerangkeng nilai-nilai universal yang dimiliki setiap manusia. Ditemui di sela-sela mengisi Workshop di Kantor Mizan Pustaka, Bandung, lelaki kelahiran Lumajang, Jawa Timur ini bercerita panjang lebar tentang pengalamannya selama menjadi traveler—terkait agama, nasionalisme dan kemanusiaan. Berikut ini adalah petikan wawancara dengan Agustinus Wibowo; Latarbelakang keagamaan Anda? Orangtua saya Budhis, tapi saya disekolahkan di sekolah Kristen. Jadi, saya juga ke sekolah Minggu, juga ke Vihara. Saya dibesarkan dalam kultur dua agama [...]

March 3, 2014 // 8 Comments

[Audio] UWRF13: Reflections of Afghanistan

Ubud Writers and Readers Festival 2013 Reflections of Afghanistan : Ben Quilty, Agustinus Wibowo & Michael Vatikiotis Forgotten wars & forgotten people. Hear from two individuals who have made the journey to Afghanistan to record the lives of the people there through their images. What does it look like through their eyes? Indus, 15 October 2013   http://www.ubudwritersfestival.com/audio/reflections-of-afghanistan-ben-quilty-agustinus-wibowo-michael-vatikiotis/ Featuring: Ben Quilty Ben Quilty has been widely recognised for his artwork. Quilty’s paintings of his Holden Torana produced a sell-out show in 2002 and since then his work has been seen in many exhibits and art fairs. Some of his work can be seen at the Art Gallery of New South Wales and the Museum of Contemporary Art. Quilty won the Doug Moran Portrait Prize in 2009 for his painting Jimmy Barnes, ‘There but for the Grace of God Go I, no.2′. In the same year Quilty was named runner up in the Archibald Prize for this portrait. He then won the Archibald Prize two years later for his portrait of fellow artist Margaret Olley. Find out more about Ben Quilty   Michael Vatikiotis Michael Vatikiotis is a writer and novelist who has lived in Southeast Asia since 1987. He has [...]

December 5, 2013 // 0 Comments

[Audio] UWRF2013: Travellers

Ubud Writers and Readers Festival 2013 Travellers : Trinity, Don George, Tony Wheelers, Agustinus Wibowo & Lisa Dempster Travel – from the beginning of Lonely Planet to today, we track the journey of travel writing. Who are the travel writers these days, does what they say still have an impact or have we all become travel writers? Neka, 13 October 2014 http://www.ubudwritersfestival.com/audio/travellers-trinity-don-george-tony-wheelers-agustinus-wibowo-lisa-dempster/ Featuring:   Agustinus Wibowo Agustinus Wibowo is an Indonesian travel writer whose travel experiences have taken him through Asia to the Middle East. He is fascinated by cultures and traditions and is curious about how the world works as one when it is constantly divided by history and culture. He prefers to travel overland when he can and once entered Tibet by pretending to be a Chinese citizen. He also volunteered to help victims of a natural disaster in Kashmir, before deciding on a career in photojournalism and taking on an assignment in war-torn Afghanistan. His first book, considered a masterpiece by many, was Selimut Debu (A Blanket of Dust) and chronicles his journey in Afghanistan. It was followed by Garis Batas (Borderlines: A Journey Through Central Asia), which examines issues of borderlines across ex-Soviet republics, including psychological [...]

December 5, 2013 // 0 Comments

[Audio] UWRF2013: Memoir

  Ubud Writers and Readers Festival 2013 Memoir : Bernice Chauly, Salena Godden, Agustinus Wibowo & Janet Steele In life there are short stories, big stories, stories that end well & ones that don’t. Would you share them all, or put a shiny & more exciting glaze over them? How do these writers go about writing their memoir – how much is truth & how much is fiction? Left Bank, 13 October 2013 http://www.ubudwritersfestival.com/audio/memoir-bernice-chauly-salena-godden-agustinus-wibowo-janet-steele/ Featuring: Bernice Chauly Bernice Chauly is a Malaysian writer, poet and teacher. Born in George Town, Penang, to Chinese-Punjabi teachers, she read Education and English Literature in Canada as a government scholar. For over 20 years, she has worked extensively in the creative industries as a writer, photographer, actor and film maker and has won multiple awards for her work and her contribution to the arts. In 1998, she began organising literary events and, in 2005, founded Readings and CeritAku, which continue to be important platforms for established and emerging writers and poets in Kuala Lumpur. In 2011, she was Festival Director for the Writers Unlimited Tour Kuala Lumpur/Makassar and invited to be Festival Curator of the George Town Literary Festival in Penang, now in its [...]

December 5, 2013 // 0 Comments

Koran Sindo (2013): Lebih Akrab dengan Arab

http://www.koran-sindo.com/node/348056 Lebih Akrab dengan Arab Ada banyak cara untuk mengenal sebuah kebudayaan. Nah yang punya banyak uang dan waktu, biasanya melakukan traveling, sementara yang belum punya, salah satu dari dua hal tersebut bisa membaca buku tentang sebuah kebudayaan. Tapi ada satu cara kreatif yang bisa dilakukan selain dua kegiatan tersebut, yaitu datang ke sebuah festival kebudayaan seperti Arab Festdi Universitas Padjadjaran (Unpad). Acara keren ini baru saja selesai digelar temanteman dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) pada 7-9 November lalu. Mengapa acaranya keren? Soalnya, kegiatannya superseru! Ada diskusi dengan penjelajah sekaligus penulis beken Agustinus Wibowo, fashion showbusana Arab, sampai lomba makan makanan Arab. Keseruan bahkan sudah dimulai sejak pengunjung masuk ke gerbangnya. Pas masuk gerbang, banyak orang yang berpakaian khas Timur Tengah berseliweran di mana-mana. Sementara di pertengahan area, ada gerbang kuning dengan tulisan Arab. Lokasi ini jadi tempat yang paling banyak dikerumuni karena banyak pengunjung yang pengin narsis, berfoto-foto di dekat replika mumi yang disandarkan di gerbang. Di gerbang ini, pengunjung juga bisa mengorek langsung segala hal tentang budaya Mesir dari mahasiswa Sastra Arab yang seolah-olah menjadi tour guide. Pada hari pertama Arab Fest, ada diskusi seru tentang travelingke Timur Tengah dengan pembicara Agustinus Wibowo. Nah yang belum tahu, Mas [...]

November 30, 2013 // 0 Comments

Jakarta Globe (2013): Learning By Traveling

  http://www.thejakartaglobe.com/blogs/agustinus-wibowo-learning-by-traveling/   Agustinus Wibowo: Learning By Traveling By Annisa Dewi Yustita on 1:36 pm November 28, 2013. Category Blogs, Cultural Musings Tags: Indonesia author, travel Villagers traveling on the truck in Afghanistan western provinces. The central route of Afghanistan connecting Herat to Kabul is unpaved for about 900 km. (Agency Photo) Traveling is more than just spending time in a particular place. On a deeper level it enables us to learn many things from our destination, such as the language, culture and its people. Agustinus Wibowo is an Indonesian travel writer whose travel experiences have taken him through Asia and the Middle East. He said that he was fascinated by the world’s cultures and traditions and was curious about how the world works despite its historical and cultural divisions. Agustinus started his journey going around Asia with just US$2,000 from his savings during his study at Tshinghua University in Beijing, China. When he ran out of money, he stayed for a while with local people and worked with them to collect money and continued his journey again. “I loved traveling from when I was a student in China. I used to be a homeboy and scared of going around [...]

November 28, 2013 // 1 Comment

Travel and Escape (2013): Are Travel Writers Obsolete?

  http://www.travelandescape.ca/2013/11/are-travel-writers-obsolete/ Not too long ago, travellers communicated with home via letters and the beloved blue-paper aerogram. Nowadays we text, email and update social media from even some of the farthest reaches of the world. It’s easy to tell our stories and the internet is flooded with blogs, Facebook updates and reviews from travellers worldwide. With this new information-sharing culture, are traditional travel writers and their stories going to become obsolete?This was the question asked of travel writing experts—Tony Wheeler, founder of Lonely Planet, Don George, editor of National Geographic Traveller, and Agustinus Wibowo, a leading Indonesian travel writer—at the 2013 Ubud Writers and Readers Festival in Bali. Here are their responses:Credit: Victoria Watts   Tony Wheeler: I don’t think travel writers will become obsolete. People are still going to want information in a trusted fashion. However, the way we get that information is changing. We read as many words as we ever did, we just don’t always read them on paper—we read them on screen, on our phones and through the internet. But we still read those words, so the demand for information is still there. Agustinus Wibowo: The world is constantly changing, the way we travel is changing [...]

November 27, 2013 // 0 Comments

National Geographic (2013): Literary Magic in Bali

http://intelligenttravel.nationalgeographic.com/2013/11/12/literary-magic-in-bali/   Literary Magic in Bali Posted by Don George of National Geographic Traveler in Travel with Heart on November 12, 2013 Last month I had the opportunity to participate for the second year in a row in the Ubud Writers & Readers Festival on the Indonesian island of Bali. At the six-day festival, I taught two travel writing workshops, spoke on a panel about the evolution of the genre, and hosted a luncheon conversation with the co-founders of Lonely Planet, Maureen and Tony Wheeler. Celebrating its tenth anniversary, this year’s fest was the biggest gathering yet, with more than 200 authors, musicians, and performers from more than 20 countries participating, and many hundreds of literature-lovers from around the Pacific Rim, Southeast Asia, and beyond attending. As with last year, I was exhilarated to encounter in panels and dinners and performances acclaimed and groundbreaking journalists, novelists, poets, and nonfiction writers from Indonesia, Malaysia, Myanmar, the Philippines, India, Sri Lanka, Australia, Egypt, Syria, Germany, France, Ireland, and England, as well as bright-eyed, book-hugging readers inspired by what these writers create. One of the festival’s highlights was the aforementioned travel writing panel, facilitated by Lisa Dempster, director of the Melbourne Writers Festival. [...]

November 12, 2013 // 0 Comments

1 2 3 4 5 7