Recommended

Publication

[BIBF]中印对话的桥梁 ——走近印度尼西亚作家、翻译家翁鸿鸣

2016-08-23 纸托邦 零点——走向回归的远行 作为将余华作品翻译引入印度尼西亚的第一人,如同余华成名作《十八岁出门远行》,翁鸿鸣也在十八岁离开家门,踏上中国的土地,开始了他背负祖辈多代人乡愁的寻根之旅。 始于寻根的旅行 翁 鸿鸣的父辈身在印尼,心念故国。由于印尼过去复杂的政治环境,华裔在印尼处境艰难,他们在印尼被当作外人,始终无法融入印尼主流社会,遭受各种形式的歧视 和排挤。对翁鸿鸣的父辈来说,回归故土是一桩萦绕心头的难了心愿。翁鸿鸣生于印尼从未到过中国的外婆,曾看着一幅中国地图流泪伤心,“我们原来中国是一个 很大的海棠叶啊,现在就是一个鸡的形状了。”正是这份叠加几代人的牵念,牵引着翁鸿鸣在十八岁时离开印尼,来到清华读书,由此也开启了他十余年不停歇的旅 程。 来 到中国的翁鸿鸣发现,真正的中国现实和父辈口中传颂的故国形象之间,有着巨大的鸿沟。父辈对中国的“所有记忆也仅停留当初第一批移民华人离开中国时的样 子”,“当初对中国所有印象和概念都是一片片”,“印尼华人当初对于自己的‘根’只是一个国家的概念,没有那个省市村,就是中国,地图上的那个版块”。他 回到的不是祖辈魂牵梦萦的故土,而是一片崭新又陌生的土地。 [...]

August 24, 2016 // 0 Comments

The Weekend West Magazine (Australia): Ground Zero Book Review

Page turners WILLIAM YEOMAN Like so many travellers before him, Agustinus Wibowo left home in search of something intangible —in the case of this young Indonesian of Chinese heritage, who had long felt like a foreigner in his homeland, a place he would feel welcome, a place he could call his own. “In my pocket was an Indonesian passport and two thousand American dollars in cash, and in my heart was the dream of a colossal adventure: to travel overland from Beijing to the furthest destination possible: South Africa. I believed that somewhere out there, when I reached the end of the long and winding road, I would become a completely new man. There would be happiness there.” It was July 2005 and Agustinus had already been away from home for several years, studying computer engineering at university in Beijing, spending his days and nights in pursuit of high marks. This, he decided, was not the life for him. It took him months to wear down his angry father, who had such high hopes for his son in “the land of the ancestors”, but when Agustinus finally received his blessing, he bought a train ticket, loaded his backpack and headed [...]

August 22, 2016 // 0 Comments

“ZERO” in Beijing International Book Fair

ZERO—When The Journey Takes You Home Sponsored by: BIBF Curated by: Paper Republic Co-organized by: Paper Republic, Indonesia National Book Committee Date: Aug 24th, Wednesday, 13:00-15:00 Address: Writers’ Stage, BIBF Venue Guests: Agustinus Wibowo, Yu Hua Join Yu Hua and writer Agustinus Wibowo in conversation about stories of the Chinese experience, both personal and historical. Yu Hua needs no introduction: from early works such as To Live, to the more recent blockbuster Brothers, he is among China’s foremost portraitists of modern Chinese society. Wibowo is an Indonesian translator and author of Chinese descent: his translation of Yu Hua’s To Live is already published in Indonesia, and Brothers and Chronicle of a Blood Merchant are forthcoming. At a young age he ventured to China in search of his roots and, finding China not at all as he’d imagined it, embarked on a ten-year journey through the world, which is the subject of his new book, Zero: When the Journey Takes You Home. Yu Hua and Wibowo discuss their authorial relationship, the similarities between China’s recent history and the history of the Chinese in Indonesia, and the role of the individual in historical narrative. “零点:走向回归的远行”   主办:北京国际图书博览会(BIBF) 策划:纸托邦(Paper Republic) 联合协办:纸托邦(Paper Republic)、印尼国家图书委员会 时间:8月24日星期三13:00-15:00 [...]

August 21, 2016 // 0 Comments

DETIK: Agustinus Wibowo Hadir di Beijing International Book Fair 2016

Detik.com Jakarta – Sukses di Bologna Book Fair dan London Book Fair pada Maret serta April 2016 lalu, Indonesia akan hadir di ajang Beijing International Book Fair (BIBF) pada 24-28 Agustus mendatang. Salah satu penulis kenamaan Tanah Air Agustinus Wibowo untuk pertama kalinya hadir di pameran buku tersebut. Penulis ‘Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan’ merasa terhormat dapat menghadiri BIBF. “Eksibisi buku ini membawa penulis-penulis dunia untuk mengunjungi Tiongkok. Saya akan hadir menjadi penulis Indonesia pertama yang tampil di BIBF, dalam salah satu acara dari rangkaian program Literary Salon bersama penulis kenamaan Tiongkok, Yu Hua,” ucapnya, seperti dikutip dari situs resmi Agustinus, Senin (15/8/2016). General Manager Gramedia Pustaka Utama, Siti Gretiani mengungkapkan rasa bangganya terhadap salah satu penulis yang karyanya diterbitkan oleh Gramedia. “Ini panggung yang tepat bagi Agustinus Wibowo untuk mewakili Indonesia, karena selain fasih berbicara dalam bahasa Mandarin, Agustinus bisa memperkenalkan literatur Indonesia ke pasar Tiongkok,” katanya kepada detikHOT, belum lama ini. Karya-karya Yu Hua juga diterjemahkan oleh Agustinus ke dalam bahasa Indonesia serta diterbitkan Gramedia. “Sehingga ajang ini juga bisa menjadi semacam pertukaran budaya lewat literatur,” tambah Greti lagi. Di ajang BIBF, Indonesia akan menampilkan 200 judul buku pilihan dan memberikan wawasan tentang industri penerbitan di Indonesia. Agustinus [...]

August 21, 2016 // 0 Comments

Pulau Imaji: Penulis Indonesia Agustinus Wibowo Hadir di BIBF 2016

Setelah keberhasilan Indonesia di Bologna Book Fair dan London Book Fair pada Maret dan April 2016 lalu, buku-buku dari Indonesia kini hadir di Stand Indonesia dengan lokasi E2F28 di Bejing International Book Fair (BIBF 2016) pada 24-28 Agustus 2016. Inilah kali pertama penerbitan Indonesia tampil di BIBF secara kolektif karena sebelumnya anggota penerbit Indonesia hanya hadir sebagai pengunjung. Selama lima hari pameran di Beijing, Indonesia menampilkan 200 judul buku pilihan dan memberikan wawasan tentang industri penerbitan di Indonesia. Indonesia akan menghadirkan penulis Agustinus Wibowo yang didampingi penulis terkenal Yu ha dalam acara ZERO: When The Journey. Takes You Home disponsori BIBF bekerja sama dengan Paper Republic pada Rabu, 24 Agustus, pada pukul 13.00-15.00 bertempat di Writers’ Stage, BIBF Venue. Dalam acara Introduction to the Asean Market yang digelar di EAST HALL 2, Rabu 24 Agustus, jam 14.00-15.00, Ketua Komite Buku Nasional, Laura Prinsloo, hadir sebagai pembicara yang mempresentasikan Indonesia “Islands of Opportunity” menjabarkan potensi yang dimiliki negara ini dari berbagai sisi: seperti demografi, ragam bahasa, kebebasan berekspresi, dan pertumbuhan industri penerbitan di Indonesia. “Kami juga akan mengundang Duta besar Indonesia untuk Tiongkok, Soegeng Rahardjo untuk hadir dalam program-program yang kami adakan,” papar laura di kantor KBN, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan [...]

August 13, 2016 // 0 Comments

Beijing International Book Fair 2016 作家来袭,讲述永不完结的故事

It’s a great honour for me to be the first Indonesian author featured in the Beijing International Book Fair (BIBF). The Book Fair also organizes the Literary Salon programs, which are a series of events taking placing during and around the BIBF, bringing authors from around the world into close contact with Chinese audiences. This year’s theme is “Never Ending Stories”, highlighting the continuing and essential importance of literary narrative, even as storytelling branches out into other media. The Salons will be conducted in various venues in Beijing, for the week of August 20 to 28. http://book.sina.com.cn/news/c/2016-08-12/1737815998.shtml 作家来袭,讲述永不完结的故事 2016年08月12日17:37   第23届北京国际图书博览会 再过22天,第23届北京国际图书博览会即将开展,图博会今年30岁了,BIBF文学沙龙系列活动也与读者相伴近7年了。今年,我们如约而至。 与往年一样,来自世界各地的几十位作者将齐聚北京。我们举办“文学沙龙”的目的,就是让北京读者与这些作者亲密接触,促成他们与中国作者对话,让所有来自 不同文化背景却对文学、书籍怀着同样热爱的人走得更近 Never Ending Stories [...]

August 13, 2016 // 0 Comments

Papua Nugini (5) Ketika Era Prasejarah Bertemu Globalisasi : Sungai yang Mengering

Draft artikel menengai Papua Nugini untuk majalah Traveler 旅行家, China. “Dumori desa kami adalah surga,” kata Mama Ruth saat kami bersama menumpang kano menuju desanya di muara Sungai Fly, “Itu tempat terbaik di dunia.” Kano kayu kami terayun-ayun di laut tenang. Perlu waktu 12 jam untuk menempuh jarak 130 kilometer dari Daru ke Dumori dengan kano besar ini. Kami tiba di Dumori tengah malam, badan saya menggigil hebat. “Welcome to Paradise,” kata Mama Ruth. Senyumnya menampilkan barisan gigi putih yang seakan melayang di tengah kegelapan. Surga? Di sekeliling saya hanya tampak air, memantulkan samar sinar bulan. Rumah-rumah panggung dan pohon seperti mengambang. Dulu, Dumori terletak di tebing tinggi dan hampir tak pernah banjir. Sekarang, seminggu dalam sebulan desa ini pasti terendam air. Setelah banjir surut, seluruh desa tertutup lumpur tebal. Kerusakan alam terjadi sangat radikal di Sungai Fly gara-gara aktivitas pertambangan emas dan tembaga Ok Tedi di hulu sana. Saat baru beroperasi tiga puluh tahun lalu, pertambangan itu membuang limbah beracun ke Sungai Fly. Air sungai kini tidak bisa diminum dan penduduk terpaksa mengandalkan air hujan. Sagu makanan utama mereka diolah dengan air sungai, kini hitam dan pahit. Hampir semua orang di sini juga menderita penyakit kulit parah. Pertambangan itu [...]

February 11, 2016 // 8 Comments

Papua Nugini (4) Ketika Era Prasejarah Bertemu Globalisasi : Orang Hitam dan Orang Putih

Draft artikel menengai Papua Nugini untuk majalah Traveler 旅行家, China. Cargo cult ala Melanesia (sumber: youtube.com) Penduduk desa Tais, kampung halaman Sisi, selalu menyebut saya “orang putih”. Padahal saya orang Asia keturunan China dan warna kulit saya bukan putih. Desa ini terletak di pedalaman hutan, sehingga mereka jarang kedatangan tamu orang asing. Para orang dewasa menyambut saya dengan sukacita, namun anak-anak justru menganggap saya seseram setan. Ketika saya lewat di depan rumah, satu bayi menangis meraung-raung memanggil ibunya. Seorang bocah dua tahun ketakutan sampai berlari dan terjatuh, wajahnya menabrak tanah. Seorang bocah perempuan sampai terloncat melihat saya mendekatinya, seperti disergap binatang buas. Saya sudah membuat lusinan bocah menangis hanya dengan penampakan saya. Kenapa mereka begitu takut dengan kulit putih? Konon menurut legenda yang dipercaya di daerah ini, roh orang yang sudah mati akan terbang ke tempat terbenamnya matahari, dan tubuh orang itu akan berubah dari hitam menjadi putih. Kulit putih identik dengan kematian. Orang putih pertama kali tiba di desa ini pada saat Perang Dunia II, dan itu membuat semua penduduk, baik tua maupun muda, lari ketakutan bersembunyi ke dalam rimba. Sedangkan di abad ke-18, ketika penjelajah Eropa pertama kali datang di kepulauan Kiwai di dekat Daru, penduduk langsung berlutut [...]

February 10, 2016 // 1 Comment

Papua Nugini (3) Ketika Era Prasejarah Bertemu Globalisasi : Perbatasan Segitiga

Draft artikel menengai Papua Nugini untuk majalah Traveler 旅行家, China. Dauan, Australia (AGUSTINUS WIBOWO) Tidak banyak orang menyadari bahwa Australia terletak sangat dekat dari Papua Nugini. Saking dekatnya kita bisa lihat Australia dengan mata telanjang. Untaian pulau kecil Australia hanya empat kilometer di selatan pantai Papua Nugini. Ber adalah satu desa Papua Nugini yang berhadapan dengan pulau Boigu, Australia. Dilihat dari laut di malam hari, Boigu bagai metropolitan dengan ratusan noktah cahaya berkilauan, sedangkan Ber tampak seperti tiga cahaya lemah yang sering padam, seperti lilin diterpa angin. Sumber cahaya di Ber hanyalah api unggun. Satu-satunya cara untuk mencapai Ber, orang harus naik perahu dari Daru ke arah barat sejauh 100 kilometer melewati lautan Selat Torres yang terkenal ganas ombaknya. Perahu motor yang saya tumpangi nyaris tenggelam ditelan ombak. Ini adalah perjalanan seharian yang basah dan mematikan. Begitu terisolasinya Ber dari daerah Papua Nugini lainnya, desa dengan dua ratusan penduduk ini seperti belum tersentuh peradaban. Mereka tinggal rumah-rumah panggung yang semuanya terbuat dari gedek anyaman daun. Pantai Ber tertutup lumpur, seperti sawah padi yang baru diairi. Ber berhadapan langsung dengan laut, tetapi warga di sini justru jarang ke laut dan ikan nyaris tidak ada dalam menu mereka. Setiap hari penduduk makan [...]

February 9, 2016 // 3 Comments

Papua Nugini (2) Ketika Era Prasejarah Bertemu Globalisasi : Satu Bahasa

Draft artikel menengai Papua Nugini untuk majalah Traveler 旅行家, China. “PNG itu bukan singkatan Papua New Guinea,” seorang kawan ekspatriat memberitahu saya, “itu singkatan Promise Not Guaranteed.” Di sini, tiket pesawat bukan jaminan bisa terbang. Sudah banyak calon penumpang pesawat yang memiliki tiket, sesampainya di bandara diberitahu bahwa pesawat sudah penuh dan tidak ada tempat bagi mereka. Karena itu, kawan itu menganjurkan saya pergi seawal mungkin ke bandara. Saya bersyukur dengan anjuran itu. Bukannya terlambat, pesawat justru terbang satu jam lebih awal dari jadwal. Kata pramugari, itu karena semua dari dua puluhan penumpang sudah tiba di bandara. Sembilan puluh menit kemudian, pesawat kami mendarat di Daru, sebuah pulau noktah kecil di bagian paling selatan provinsi perbatasan Western Province. Dulu kota-pulau ini pernah menjadi pusat pemerintahan provinsi, sebelum kemudian dipindah ke Kiunga di utara sana. Bandara Daru mirip lapangan bola yang dikelilingi pagar kawat. Di balik pagar itu, orang-orang berderet menonton pesawat. Dari balik kawat pagar kawat, saya juga menonton para penumpang yang berbaris di atas tarmak menuju pesawat yang akan lepas landas kembali ke Port Moresby. Dua penumpang yang terakhir naik tiba-tiba turun lagi. Saya dengar dari petugas bandara, mereka tidak diizinkan terbang karena pesawat telah kelebihan muatan kargo. Entah [...]

February 8, 2016 // 3 Comments

Papua Nugini (1) Ketika Era Prasejarah Bertemu Globalisasi : Bahaya di Ibukota

Draft artikel menengai Papua Nugini untuk majalah Traveler 旅行家, China.   Papua Nugini sering digambarkan sebagai negeri primitif yang dihuni suku-suku terisolasi dari zaman prasejarah. Nama negeri itu senantiasa membangkitkan imajinasi tentang taman liar yang dipenuhi burung-burung surga, sebuah dunia lain yang begitu jauh dari dunia kita. Hanya beberapa puluh tahun lalu, di negeri ini memang masih banyak lelaki dengan labu penutup penis dan perempuan bertelanjang dada, atau suku-suku pemuja arwah, penyihir, bahkan pemburu kepala manusia di pedalaman hutan rimba. Kini globalisasi telah merambah, kehidupan Papua Nugini sudah se-“normal” dunia kita. Walaupun, harus diakui, belum sepenuhnya begitu. Bahaya di Ibukota Dilihat dari angkasa, Port Moresby bagai barisan perbukitan hijau bergulung-gulung di tepi laut, ditebari rumah-rumah penduduk membentuk mozaik warna-warni. Perbukitan itu berhadapan langsung dengan biru kristal Lautan Teduh yang membentang luas tak berbatas. Sulit memercayai kota secantik ini termasuk kota paling tidak layak huni di dunia. Di antara kota-kota tak layak huni lainnya, ada Lagos dengan kekacauan konfliknya, Bogota dengan mafia narkotikanya, Karachi dengan kriminalitas dan terorismenya. Tapi tidak ada kota lain di dunia yang serupa Port Moresby. Metropolitan Pasifik Selatan ini justru sekilas kelihatan ceria. Jalanannya bersih dan hijau bagai taman, dihiasi monumen merayakan burung surga dan mural warna-warni. [...]

February 5, 2016 // 6 Comments

[Suara.com] Agustinus Wibowo, Kisah Pengeliling Dunia Berbekal 2000 Dolar AS

Esti Utami : 02 Dec 2015 | 09:01 Suara.com – “Lakukanlah perjalanan. Karena perjalanan tidak hanya mengenalkanmu pada dunia luar, tapi juga membuatmu lebih mengenal diri sendiri. Tanpa perjalanan, kamu bisa kehilangan kesempatan untuk mengenal diri sendiri.” Itulah pesan seorang Agustinus Wibowo, salah satu orang yang menjadi ‘nabi’ bagi para backpacker di tanah air. Ia adalah seorang petualang, musafir, pengembara. Seorang backpaker sejati. Bagi banyak orang, aktivitas jalan-jalan dengan biaya rendah sebagai bakckpaker adalah hobi. Tapi bagi Agus, demikian Agustinus biasa disapa, menjadi backpaker adalah hidupnya, napas yang setiap hari dihelanya. Perjalanan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan laki-laki kelahiran Lumajang, Jawa Timur 34 tahun silam ini. Hidup, baginya, adalah sebuah perjalanan yang pelakunya tidak tahu kapan semua itu akan selesai. Ribuan kilometer jarak telah dijejakinya. Banyak negara telah dikunjunginya, tapi ia belum tahu kapan akan berhenti. Ditemui di sela peluncuran buku di “Titik Nol” versi bahasa Inggris beberapa waktu lalu, Agus, demikian ia sering disapa, mengatakan ia sedang merencanakan untuk sebuah perjalanan ke Myanmar. Meski menurutnya, perjalanan ke Myanmar kali ini adalah untuk ‘berhenti’. “Saya mungkin sebulan di sana. Tiba-tiba saja ingin ke sana, mungkin untuk tidak melakukan apa-apa. Meski untuk itu saya harus rela melepaskan banyak hal,” ujarnya. [...]

December 2, 2015 // 13 Comments

[GIV]: The Knowmad’s Journey Along Indonesia’s Eastern Border

Global Indonesian Voices Posted On 01 Dec 2015 By : Tony Sugiarta and Jennifer Sidharta For the locals, the Indonesia-Papua New Guinea border is so vague that they could not differentiate which part belongs to which country. Here is a story from Indonesian travel writer and photographer Agustinus Wibowo, who have spent a significant amount of time at the border area. Students at Tais, a coastal village located at Papua New Guinea’s Western Province. (Photo source: Agustinus Wibowo) Perspective Singapore, GIVnews.com – At one point of our life, we all question our identity. Agustinus Wibowo takes it a step further, as he makes it his quest. Many who are familiar with his works will agree that they are hardly classified as the typical travel writings like Lonely Planet guidebooks or reviews of glamourous hotels and establishments. Instead, Agustinus travels to contemplate intrapersonal conflicts and writes about them, taking readers along to experience his physical and mental tribulations. No doubt, he is a great storyteller and in Singapore, GIV had the privilege to sit down and listen to his adventure in Papua New Guinea, Indonesia’s closest, yet the furthest, neighbour. “So how can they survive? So this is the reason of the anger. [...]

December 1, 2015 // 0 Comments

Book Launch: Ground Zero–When the Journey Takes You Home

  It’s TODAY! The launching of “Ground Zero: When the Journey Takes You Home”. When it comes to most people’s mind, traveling is about going somewhere. But here, we will discuss the other part, the most important part, of traveling: homecoming. Today I will share my journeys on the roads of Asian countries, including the adventures of sneaking as a Chinese citizen into Tibet and the years of living dangerously in Afghanistan, until my homecoming to Indonesia to face the reality of home. The other speaker in this program, Noor Sabah Nael Traavik had experienced a roller-coaster life journey from the war-ridden Afghanistan, being refugee in Iran, until becoming a Norwegian diplomat. Both of us will discuss the meaning of traveling, seeking and finding, the conflict of identities, and home. This panel will be moderated by Nathalie Indry. So, we are really looking forward to seeing you all guys there in Plaza Senayan, today at 4pm. Have a nice journey! Friday, November 20th 2015 4-6 pm Kinokuniya Bookstore, Sogo, Plaza Senayan, [...]

November 20, 2015 // 1 Comment

【中国国家地理】瓦罕走廊:被遗忘的丝绸之路

Article published in Chinese National Geography, October 2015, on Afghanistan’s forgotten Wakhan Corridor. The Wakhan Corridor of Afghanistan is the last piece of the ancient Silk Road, which was still operating few decades ago, but now has turned into an isolated world as it’s confined by the international borders. 古丝绸之路如同一棵大树错综庞杂的根系,铺展于东西方之间。在所有丝路古道中,没有哪条比瓦罕走廊更富神秘色彩的了,它藏身于阿富汗深处,像是硬贴在阿富汗脸上的一条舌头。随着边界的关闭,它从传奇商道变成世界上最偏远难达的地区之一。本文作者在瓦罕走廊进行了长达3年的探访,用鲜活的文字为您揭开瓦罕走廊的神秘面纱。   撰文/Agustinus Wibowo(印尼) 翻译/王飞宇   伊什卡希姆是进入瓦罕走廊的唯一门户 伊什卡希姆是阿富汗山区一个僻静而慢节奏的村庄,遍地泥沼尘沙,这里是通往瓦罕走廊的入口。村子北边的喷赤河翻滚着怒涛,巨大的涛声淹没了世间一切声响。它是阿姆河的支流,也是阿富汗与苏联解体后形成的中亚各国之间的分界线。喷赤河就像一面镜子,分隔开阿富汗和塔吉克斯坦的山峦,两国的村落呈镜像分布在河流两岸。阿富汗伊什卡希姆的“双胞胎姐妹”是塔吉克斯坦山间一个同样叫做伊什卡希姆的村庄。 [...]

November 17, 2015 // 0 Comments

【户外探险】瞧那几个斯坦

Agustinus Wibowo(翁鸿鸣 印尼)>撰文 摄影 王飞宇>翻译 约两千两百年前,张骞首度踏足大宛国时,为当地发达的城市文明深深折服。同样令人叹服的还有当地的小麦和葡萄种植水平以及美酒佳酿。而最令人叫绝的自当数有天马之称的神驹—汗血宝马。 大宛国相去汉朝时中国西部约一万里,位于今费尔干纳一带,地处中亚腹地。张骞出使西域开拓了一条贯通东方与西方的贸易路线—丝绸之路。20世纪之初,古丝路沿线的中亚古国接连为俄国所吞并。俄国统治者们在中亚重划版图,一些历史上从未有过的国家就此诞生,各族自成一国:塔吉克人的国家就是塔吉克斯坦,乌兹别克族人的国家是乌兹别克斯坦,哈萨克人的国家是哈萨克斯坦,吉尔吉斯人的国家是吉尔吉斯斯坦,而土库曼人的国家则是土库曼斯坦。如今,各国竞相夸耀自己是古丝路文明最当仁不让的传承者。 世易时移,不变的是,同张骞的时代一样,对于生活于新千年的大部分中国人来说,中亚仍然是一个神秘的所在。 丝与史 印欧语系古老民族的西域文明与中国东方文明的第一次相遇是在费尔干纳。费尔干纳盆地是世界上最大的盆地,为乌兹别克斯坦、吉尔吉斯斯坦、塔吉克斯坦三国共辖。 [...]

November 12, 2015 // 0 Comments

Pre-Order Ground Zero (Autographed Limited Edition)

  Ground Zero: When the Journey Takes You Home After ten years wandering the world, Agustinus Wibowo has finally come home. He is now forced to face a reality that he has always feared. His mother is on the brink of death, as cancer ravages her body. Not unlike Scherazade who reads through one thousand and one tales over as many nights, the traveller recounts his journey to his ailing mother, who has barely ever left their little village in Java, Indonesia. He talks about the illusory homeland of China, the holy Tibet, the spiritual Nepal, the dramatic India, the struggling Pakistan, and the surviving Afghanistan. And along with these stories, his mother finally finds a voice to recount her own life journey. Fragments of their lives come together, two distinctive roads spanning time and distance only to converge, to become a heart-wrenching tale of love and survival. “Relating his travels to his dying mother, Wibowo beautifully captures the bittersweet experience of solo travel.  The excitement of discovery, the shadow of a changeling identity and the low-grade thrum of the road not taken combine to produce this lyrical journey through time and place.” –Elizabeth Pisani, author of Indonesia Etc.: [...]

October 21, 2015 // 3 Comments

【中国国家地理】塔吉克斯坦:群山与国界的夹缝之中

My article in Chinese National Geography, edition October 2015. This is a special edition focusing on China’s grand project: One Belt One Road, a.k.a. the “New Silk Road”, with some focus articles from the Silk Road countries, especially in Central Asia. In this edition, I have contributed two articles: Tajikistan and Afghanistan’s Wakhan Corridor. 塔吉克斯坦被称作中亚的高山之国,它近一半的国土位于帕米尔高原。其实塔吉克族并非是自古生活在山地的民族,面对如今的国家版图状况,不少塔吉克人心中有难言的苦衷。来自印度尼西亚的作者奥古斯汀是一名“中亚通”,他对塔吉克斯坦的考察和采访,能够加深我们对这个国家的认识。   撰文Agustinus Wibowo[印尼] 摄影刘辉 等 翻译王飞宇   令塔吉克人自豪的两座古城,如今却位于乌兹别克斯坦的境内 塔吉克斯坦是中亚最小的国家,面积约等于中国的辽宁省,全境的93%在山区,一半以上国土在海拔3000米以上。受地理条件所限,塔吉克斯坦境内的文明遗址寥寥无几。但塔吉克人相信自己是中亚最古老的民族,并坚信他们的历史比当今占中亚地区主流的突厥人要长得多。 [...]

October 17, 2015 // 1 Comment

From Zero to Frankfurt: The Translating Process of Ground Zero

The journey began when a mother is lying on a hospital bed, dying. The son who has been years living overseas finally returns. Realizing not much time left, the son sits beside her, reads his diary about faraway lands he saw. About their ancestral land of China, about the Himalayas, about the Pakistani desert and the warzone of Afghanistan. Along with his stories, the mother starts to recount her stories that have been buried for long. About her childhood, her love, her awaiting, her struggle, her God, her life and death. Two journeys set in two dimensions of time and place intertwine, and eventually converge. In the final days, the mother and son share a journey of life together. This is the story of my travel-narrative memoir, Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan (lit. Point Zero: The Essence of a Journey), published in Indonesian language by Gramedia Pustaka Utama in 2013. It received quite warm welcome from Indonesian readers. Some months after the launching, Gramedia asked whether I was interested to translate this book into English. At that time Indonesia has been confirmed to be the Guest of Honor in the Frankfurt Book Fair 2015. This is the biggest book exhibition [...]

October 12, 2015 // 0 Comments

Dari Titik Nol Menuju Frankfurt

Kisah ini dimulai dari seorang ibu yang terbaring di ranjang rumah sakit menanti ajal. Anaknya yang bertahun-tahun tinggal di perantauan akhirnya pulang. Menyadari tidak banyak waktu tersisa, anak itu duduk di samping ibunya, membacakan buku hariannya tentang negeri-negeri jauh yang pernah dialaminya. Bersama cerita-cerita itu, sang ibu yang tidak pernah ke mana-mana itu akhirnya membuka sebuah cerita yang selama ini dipendamnya. Tentang masa kecilnya, cintanya, penantiannya, perjuangannya, Tuhannya, hidup dan matinya. Dua perjalanan dalam dua dimensi waktu dan tempat itu berkelindan, akhirnya menyatu. Itulah kisah yang tertuang dalam memoar-cum-catatan-perjalanan saya, Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan, yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2013. Buku itu mendapat sambutan cukup hangat dari pembaca Indonesia. Beberapa bulan setelah buku itu terbit, penerbit menanyakan apakah saya tertarik menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris. Pada saat itu, Indonesia telah dipastikan akan menjadi Tamu Kehormatan dalam ajang pameran buku terbesar di dunia—Frankfurt Book Fair 2015. Itu artinya, fokus dunia perbukuan akan tertuju pada Indonesia. Namun terlepas Indonesia adalah negara dengan populasi terbesar keempat dunia dan industri buku yang sangat aktif dengan penerbitan 30.000 judul buku per tahun (faktor penting terpilihnya Indonesia sebagai Tamu Kehormatan), Indonesia masihlah sebuah negara “tembus pandang” di kancah perbukuan [...]

October 11, 2015 // 40 Comments

1 2 3 4 11