Recommended

Publication

Pikiran Rakyat (2014): Berselimut Debu, Menembus Garis Batas

MINGGU  (PAHING)  9 MARET 2014 7 JUMADIL AWAL 1435  H JUMADIL AWAL 1947   Agustinus Wibowo Berselimut Debu, Menembus Garis Batas SULIT juga ”menangkap” pria yang satu ini. Dalam dua hari kunjungannya ke Bandung, travel writer Agustinus Wibowo (33) disibukkan dengan aktivitas menjadi pembicara di berbagai tempat dari pagi hingga tengah malam. Wartawan Pikiran Rakyat, Endah Asih, baru bisa menemui nya Minggu (2/3/2014) pagi, sambil mengobrol di atas kereta api yang melaju dari Stasiun Kiaracondong ke Cicalengka, Kabupaten Bandung. Memang, tak ada cara yang lebih menyenang kan untuk berakhir pekan dengan traveller, selain melakukan perjalanan itu sendiri meski singkat.   SETELAH berkeliling Asia selama 13 tahun, Gus, begitu ia biasa disapa, akhirnya bermukim di Indonesia sejak Februari 2013. Dalam terminologi seorang backpacker “kahot“, harap dimaklumi bahwa kata bermukim itu hanya diartikan sebagai tinggal sekurang-kurangnya satu tahun di suatu tempat. “Saya memang rencana mau pulang ke Indonesia nengok keluarga dan ngeluarin buku ketiga waktu itu, tapi ternyata Ayah saya meninggal tepat dua minggu sebelum jadwal pulang, akhirnya saya mempercepat agenda pulang kampung,” kata pria kelahiran Lumajang Jawa Timur ini, memulai perbincangan. Pagi itu, suasana Stasiun Kiaracondong masih agak lengang. Dalam satu malam, barang-barang yang seluruhnya memiliki  berat 100 kilogram, selesai di-packing.  [...]

March 11, 2014 // 1 Comment

Agama, Nasionalisme dan Kemanusiaan di Mata Agustinus Wibowo

Senin, 03 Maret 2014 13:31 WIB ( 570 Views ) http://islamindonesia.co.id/detail/1485-Agama-Nasionalisme-dan-Kemanusiaan-di-Mata-Agustinus-Wibowo#sthash.vTZddrUA.dpuf Penulis : Lina Agustinus Wibowo saat mengisi workshop di Kantor Mizan Pustaka, Bandung pada Sabtu, (01/03/14). Perjalanan adalah jembatan antara nilai-nilai universal yang menyangkut agama, nasionalime, dan kemanusiaan.   Nama Agustinus Wibowo mulai mendapat tempat di hati para traveler Nusantara dengan tiga buku best-sellernya, yakni Selimut Debu, Garis Batas dan Titik Nol. Bukan hanya karena kisah perjalanannya yang unik dan penuh tualang, tapi juga karena paradigma baru yang berhasil ia tawarkan pada para pembaca. Sebuah paradigma yang mampu menyentuh hati—tentang bagaimana memaknai tiap langkah manusia, hingga mampu mengubah pola pikir yang kadang, menjadi garis batas bagi dirinya sendiri—dengan agamanya—dengan etnisnya—dengan negaranya—yang sebetulnya mengkerangkeng nilai-nilai universal yang dimiliki setiap manusia. Ditemui di sela-sela mengisi Workshop di Kantor Mizan Pustaka, Bandung, lelaki kelahiran Lumajang, Jawa Timur ini bercerita panjang lebar tentang pengalamannya selama menjadi traveler—terkait agama, nasionalisme dan kemanusiaan. Berikut ini adalah petikan wawancara dengan Agustinus Wibowo; Latarbelakang keagamaan Anda? Orangtua saya Budhis, tapi saya disekolahkan di sekolah Kristen. Jadi, saya juga ke sekolah Minggu, juga ke Vihara. Saya dibesarkan dalam kultur dua agama [...]

March 3, 2014 // 8 Comments

Bukunya (2014): Membedah Buku Laris Gramedia Pustaka Utama 2013

http://bukunya.com/membedah-buku-laris-gramedia-pustaka-utama/ Membedah Buku Laris Gramedia Pustaka Utama 2013 By redaksi Mengupas resep dan rahasia tingginya penjualan Penerbit Gramedia Pustaka Utama pada Jumat (3/1) mengumumkan daftar buku terlaris mereka sepanjang 2013. Bukunya membedah beberapa alasan buku-buku tersebut masuk daftar bestseller. Kategori fiksi: Rantau 1 Muara karya A. Fuadi 99 Cahaya di Langit Eropa karya Hanum Rais dan Rangga Alma 9 Summers 10 Autumns karya Iwan Setyawan Mimpi Sejuta Dolar karya Alberthiene Endah Autumn Once More karya Ilana Tan, Alia Zalea, Ika Natassa, dkk. Seasons to Remember karya Ilana Tan Negeri di Ujung Tanduk karya Tere Liye Sunshine Becomes You karya Ilana Tan Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin karya Tere Liye The Devil in Black Jeans karya Alia Zalea Daftar buku laris ini menunjukkan dua resep buku laris dewasa ini yakni mengangkat novelisasi kisah hidup dari sederhana cenderung tak berada hingga sukses terutama setelah berjuang di luar negeri. Resep kedua adalah kisah asmara yang mudah dicerna. Roman memang tak ada matinya. Faktor film juga berperan besar dalam daftar ini. Misalnya saja 99 Cahaya meski isinya unik dan ditulis oleh putri tokoh ternama, namun penjualannya baru terdongkrak sejak rumor film hingga kemunculannya di layar lebar. Yang bakal mengikuti jejak novel ini [...]

January 5, 2014 // 0 Comments

Esquire (2013): Di Atap Dunia

1 2 • 1 3 Esquire Gourmet Halaman 19 Di Atap Dunia Kuliner yang amat mengakar budaya >>> Teks & Foto: Agustinus Wibowo “Makanan apa ini?” gerutu seorang tamu saat memandang piring-piring besar yang disajikan para gembala Pamir. Di satu piring, kepala domba utuh dengan mulut seperti mengerang plus bola mata hitam menyembul,menatap ke arah kami, para tamu kehormatan. Tersaji di pinggan sebelahnya, sebongkah gajih seukuran semangka dari pantat domba, empuk bagai agar-agar yang berbalut minyak. Menu istimewa dari padang gembala di ujung terjauh Afghanistan ini direbus tanpa bumbu dan garam, menyisakan rasa dan aroma domba yang paling murni. Kepala domba adalah bagian paling mulia, simbol penghormatan bagi tamu teristimewa. Lemak domba untuk tamu level dua. Potongan daging sebesar lengan manusia itu untuk tetamu biasa. Berulang kali kami memohon pada tuan rumah untuk diperlakukan sebagai tamu biasa, dalam hati sungguh tidak tega melahap kepala domba dan menelan gumpalan lemak itu. Penghuni Pamir adalah bangsa nomaden Kirgiz, mendiami padang rumput di ketinggian 4.500 meter, dikelilingi barisan gunung bertudung salju. Tidak ada musim panas, apalagi pohon, belukar, buah, toko, atau pasar. Bahkan perdagangan masih menggunakan sistem barter dengan mata uang berupa domba. “Domba murahan adalah yang lemaknya sedikit,” kata pepatah bangsa Kirgiz. [...]

December 16, 2013 // 4 Comments

[Audio] UWRF13: Reflections of Afghanistan

Ubud Writers and Readers Festival 2013 Reflections of Afghanistan : Ben Quilty, Agustinus Wibowo & Michael Vatikiotis Forgotten wars & forgotten people. Hear from two individuals who have made the journey to Afghanistan to record the lives of the people there through their images. What does it look like through their eyes? Indus, 15 October 2013   http://www.ubudwritersfestival.com/audio/reflections-of-afghanistan-ben-quilty-agustinus-wibowo-michael-vatikiotis/ Featuring: Ben Quilty Ben Quilty has been widely recognised for his artwork. Quilty’s paintings of his Holden Torana produced a sell-out show in 2002 and since then his work has been seen in many exhibits and art fairs. Some of his work can be seen at the Art Gallery of New South Wales and the Museum of Contemporary Art. Quilty won the Doug Moran Portrait Prize in 2009 for his painting Jimmy Barnes, ‘There but for the Grace of God Go I, no.2′. In the same year Quilty was named runner up in the Archibald Prize for this portrait. He then won the Archibald Prize two years later for his portrait of fellow artist Margaret Olley. Find out more about Ben Quilty   Michael Vatikiotis Michael Vatikiotis is a writer and novelist who has lived in Southeast Asia since 1987. He has [...]

December 5, 2013 // 0 Comments

[Audio] UWRF2013: Travellers

Ubud Writers and Readers Festival 2013 Travellers : Trinity, Don George, Tony Wheelers, Agustinus Wibowo & Lisa Dempster Travel – from the beginning of Lonely Planet to today, we track the journey of travel writing. Who are the travel writers these days, does what they say still have an impact or have we all become travel writers? Neka, 13 October 2014 http://www.ubudwritersfestival.com/audio/travellers-trinity-don-george-tony-wheelers-agustinus-wibowo-lisa-dempster/ Featuring:   Agustinus Wibowo Agustinus Wibowo is an Indonesian travel writer whose travel experiences have taken him through Asia to the Middle East. He is fascinated by cultures and traditions and is curious about how the world works as one when it is constantly divided by history and culture. He prefers to travel overland when he can and once entered Tibet by pretending to be a Chinese citizen. He also volunteered to help victims of a natural disaster in Kashmir, before deciding on a career in photojournalism and taking on an assignment in war-torn Afghanistan. His first book, considered a masterpiece by many, was Selimut Debu (A Blanket of Dust) and chronicles his journey in Afghanistan. It was followed by Garis Batas (Borderlines: A Journey Through Central Asia), which examines issues of borderlines across ex-Soviet republics, including psychological [...]

December 5, 2013 // 0 Comments

[Audio] UWRF2013: Memoir

  Ubud Writers and Readers Festival 2013 Memoir : Bernice Chauly, Salena Godden, Agustinus Wibowo & Janet Steele In life there are short stories, big stories, stories that end well & ones that don’t. Would you share them all, or put a shiny & more exciting glaze over them? How do these writers go about writing their memoir – how much is truth & how much is fiction? Left Bank, 13 October 2013 http://www.ubudwritersfestival.com/audio/memoir-bernice-chauly-salena-godden-agustinus-wibowo-janet-steele/ Featuring: Bernice Chauly Bernice Chauly is a Malaysian writer, poet and teacher. Born in George Town, Penang, to Chinese-Punjabi teachers, she read Education and English Literature in Canada as a government scholar. For over 20 years, she has worked extensively in the creative industries as a writer, photographer, actor and film maker and has won multiple awards for her work and her contribution to the arts. In 1998, she began organising literary events and, in 2005, founded Readings and CeritAku, which continue to be important platforms for established and emerging writers and poets in Kuala Lumpur. In 2011, she was Festival Director for the Writers Unlimited Tour Kuala Lumpur/Makassar and invited to be Festival Curator of the George Town Literary Festival in Penang, now in its [...]

December 5, 2013 // 0 Comments

Koran Sindo (2013): Lebih Akrab dengan Arab

http://www.koran-sindo.com/node/348056 Lebih Akrab dengan Arab Ada banyak cara untuk mengenal sebuah kebudayaan. Nah yang punya banyak uang dan waktu, biasanya melakukan traveling, sementara yang belum punya, salah satu dari dua hal tersebut bisa membaca buku tentang sebuah kebudayaan. Tapi ada satu cara kreatif yang bisa dilakukan selain dua kegiatan tersebut, yaitu datang ke sebuah festival kebudayaan seperti Arab Festdi Universitas Padjadjaran (Unpad). Acara keren ini baru saja selesai digelar temanteman dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) pada 7-9 November lalu. Mengapa acaranya keren? Soalnya, kegiatannya superseru! Ada diskusi dengan penjelajah sekaligus penulis beken Agustinus Wibowo, fashion showbusana Arab, sampai lomba makan makanan Arab. Keseruan bahkan sudah dimulai sejak pengunjung masuk ke gerbangnya. Pas masuk gerbang, banyak orang yang berpakaian khas Timur Tengah berseliweran di mana-mana. Sementara di pertengahan area, ada gerbang kuning dengan tulisan Arab. Lokasi ini jadi tempat yang paling banyak dikerumuni karena banyak pengunjung yang pengin narsis, berfoto-foto di dekat replika mumi yang disandarkan di gerbang. Di gerbang ini, pengunjung juga bisa mengorek langsung segala hal tentang budaya Mesir dari mahasiswa Sastra Arab yang seolah-olah menjadi tour guide. Pada hari pertama Arab Fest, ada diskusi seru tentang travelingke Timur Tengah dengan pembicara Agustinus Wibowo. Nah yang belum tahu, Mas [...]

November 30, 2013 // 0 Comments

Jakarta Globe (2013): Learning By Traveling

  http://www.thejakartaglobe.com/blogs/agustinus-wibowo-learning-by-traveling/   Agustinus Wibowo: Learning By Traveling By Annisa Dewi Yustita on 1:36 pm November 28, 2013. Category Blogs, Cultural Musings Tags: Indonesia author, travel Villagers traveling on the truck in Afghanistan western provinces. The central route of Afghanistan connecting Herat to Kabul is unpaved for about 900 km. (Agency Photo) Traveling is more than just spending time in a particular place. On a deeper level it enables us to learn many things from our destination, such as the language, culture and its people. Agustinus Wibowo is an Indonesian travel writer whose travel experiences have taken him through Asia and the Middle East. He said that he was fascinated by the world’s cultures and traditions and was curious about how the world works despite its historical and cultural divisions. Agustinus started his journey going around Asia with just US$2,000 from his savings during his study at Tshinghua University in Beijing, China. When he ran out of money, he stayed for a while with local people and worked with them to collect money and continued his journey again. “I loved traveling from when I was a student in China. I used to be a homeboy and scared of going around [...]

November 28, 2013 // 1 Comment

Travel and Escape (2013): Are Travel Writers Obsolete?

  http://www.travelandescape.ca/2013/11/are-travel-writers-obsolete/ Not too long ago, travellers communicated with home via letters and the beloved blue-paper aerogram. Nowadays we text, email and update social media from even some of the farthest reaches of the world. It’s easy to tell our stories and the internet is flooded with blogs, Facebook updates and reviews from travellers worldwide. With this new information-sharing culture, are traditional travel writers and their stories going to become obsolete?This was the question asked of travel writing experts—Tony Wheeler, founder of Lonely Planet, Don George, editor of National Geographic Traveller, and Agustinus Wibowo, a leading Indonesian travel writer—at the 2013 Ubud Writers and Readers Festival in Bali. Here are their responses:Credit: Victoria Watts   Tony Wheeler: I don’t think travel writers will become obsolete. People are still going to want information in a trusted fashion. However, the way we get that information is changing. We read as many words as we ever did, we just don’t always read them on paper—we read them on screen, on our phones and through the internet. But we still read those words, so the demand for information is still there. Agustinus Wibowo: The world is constantly changing, the way we travel is changing [...]

November 27, 2013 // 0 Comments

National Geographic (2013): Literary Magic in Bali

http://intelligenttravel.nationalgeographic.com/2013/11/12/literary-magic-in-bali/   Literary Magic in Bali Posted by Don George of National Geographic Traveler in Travel with Heart on November 12, 2013 Last month I had the opportunity to participate for the second year in a row in the Ubud Writers & Readers Festival on the Indonesian island of Bali. At the six-day festival, I taught two travel writing workshops, spoke on a panel about the evolution of the genre, and hosted a luncheon conversation with the co-founders of Lonely Planet, Maureen and Tony Wheeler. Celebrating its tenth anniversary, this year’s fest was the biggest gathering yet, with more than 200 authors, musicians, and performers from more than 20 countries participating, and many hundreds of literature-lovers from around the Pacific Rim, Southeast Asia, and beyond attending. As with last year, I was exhilarated to encounter in panels and dinners and performances acclaimed and groundbreaking journalists, novelists, poets, and nonfiction writers from Indonesia, Malaysia, Myanmar, the Philippines, India, Sri Lanka, Australia, Egypt, Syria, Germany, France, Ireland, and England, as well as bright-eyed, book-hugging readers inspired by what these writers create. One of the festival’s highlights was the aforementioned travel writing panel, facilitated by Lisa Dempster, director of the Melbourne Writers Festival. [...]

November 12, 2013 // 0 Comments

Indonesia Book Fair (2013): Menulis Perjalanan Ke Dalam Diri Sendiri

http://www.indonesiabookfair.net/2013/11/09/agustinus-wibowo-menulis-perjalanan-ke-dalam-diri-sendiri/ Agustinus Wibowo: Menulis Perjalanan Ke Dalam Diri Sendiri Agustinus Wibowo (32), seorang backpacker penulis trilogi perjalanan Selimut Debu (2011), Garis Batas (2011), Titik Nol (2013) lahir 08 Agustus 1981 di Lumajang dan besar di sana. Kemudian, kuliah di Institut Teknologi Surabaya dan melanjutkannya di China. Seorang kutu buku yang tertarik pada backpacking ini, setelah berkenalan dengan backpacker perempuan asal Jepang. Pada tahun 2001, dia pun memulai perjalanannya ke Mongolia. Lalu, melanjutkannya lagi pada tahun 2005, setelah lulus kuliah, dengan  melintasi Tibet, Nepal, ke gurun pasir India, pegunungan di Pakistan Utara. Dia juga sempat bekerja sebagai sukarelawan gempa Kashmir, ke pedalaman Pakistan, berkeliling Afghanistan dengan hitchhiking, lalu ke Iran, Tajikistan, Kirgistan, Kazakhstan, Uzbekistan dan Turkmenistan. Perjalanannya terus berlanjut hingga Mei 2009, ketika akhirnya dia harus pulang ke Lumajang karena Mamanya divonis kanker dan harus menjalani pengobatan. Pada kesempatan pameran Indonesia Book Fair 2013, Sabtu (09/11) di Panggung Utama Istoran Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta ia membagikan pengalamannya dalam menulis buku perjalanan. Ia sendiri jika disebut berbeda dengan penulis perjalanan lain tidak mengiranya dan begitu tahu. Karena konsep yang ia pahami dari travel writing ini dari awal sebelum ia menulis sering membaca buku-buku traveler [...]

November 9, 2013 // 0 Comments

VIVAlife (2013): 8 Tips Sukses Jadi Penulis Perjalanan

8 Tips Sukses Jadi Penulis Perjalanan Simak tips penting dari penulis top perjalanan Agustinus Wibowo. Maya Sofia, Ananda Putri Laras Minggu, 3 November 2013, 11:31 WIB http://life.viva.co.id/news/read/455831-8-tips-sukses-jadi-penulis-perjalanan VIVAlife – Menjadi penulis perjalanan atau travel writer memang terlihat menyenangkan. Bisa menjelajah dunia dan menghasilkan uang dari pekerjaan tersebut. Setiap orang bisa mencapai impian ini, tidak memiliki kemampuan jurnalistik bukanlah hambatan krusial. Penulis perjalanan dari Indonesia yakni Agustinus Wibowo, tidak memiliki latar belakang jurnalistik sama sekali. Tapi dengan kegigihannya untuk terus belajar, menulis perjalanan dapat ditaklukkan. Melalui beberapa tips ini, Agustinus berbagi resep agar Anda menjadi penulis perjalanan yang berkualitas. Mulailah dari blog Agustinus memulai karya-karyanya dari sebuah blog. Buatlah blog pribadi, catat setiap perjalanan Anda. Jika tulisan menarik, maka pihak media akan menghubungi Anda untuk bekerja sama. Sewalah penerjemah saat di perjalanan Jika Anda memang berencana membuat buku, sebaiknya menyewa penerjemah agar dapat berinteraksi lebih dekat dengan penduduk setempat. Informasi yang digali pun lebih banyak. Catat perjalanan di dalam buku harian Tidak semua orang bersahabat dengan teknologi. Narasumber kadang takut dengan alat perekam, terlebih mereka yang berada di daerah terpencil. Akibatnya, mereka jadi tak terbuka memberikan informasi. Bawalah selalu buku harian, catat [...]

November 3, 2013 // 0 Comments

Viva (2013): Merangkum Dunia Lewat Rangkaian Kata

http://life.viva.co.id/news/read/455495-merangkum-dunia-lewat-rangkaian-kata Merangkum Dunia Lewat Rangkaian Kata Maya Sofia, Ananda Putri Laras Jum’at, 1 November 2013, 12:22 WIB  “Saya pergi ke negeri jauh, juga untuk mempelajari Indonesia.” VIVAlife – Seorang pria menyusuri perjalanan panjang. Khasmir telah dilihatnya dengan mata telanjang. Wilayah yang diperebutkan oleh India dan Pakistan. Dua negara ini bertetangga, namun saling bertempur melucuti ego masing-masing. Pernah juga ia tinggali Afghanistan, negeri yang diidentikan tentara Taliban. Kemudian kakinya melangkah terus ke Pakistan, Tajikistan, Kirgizstan, Kazakhstan, Uzbekistan, hingga Turkmenistan. Ia terus berpetualang mempelajari hidup dari berbagai sudut pandang. “Saya pergi ke negeri jauh, juga untuk mempelajari Indonesia,” ucap seorang pria bernama Agustinus Wibowo. Ia lah sang penjelajah negeri “stan” tersebut. Bagi Agustinus, negara-negara Asia Tengah adalah refleksi dari Tanah Airnya sendiri, Indonesia. Masih memiliki koneksi, sama-sama negara berlatar belakang terjajah yang dibebat konflik perbatasan. Berpindah latar ke Kamboja, pria lain menelisik detail Angkor Wat. Candi yang dibangun megah di kota Siem Reap. Relief-relief yang terukir begitu akrab di matanya. Berupa burung Garuda yang senantiasa bergeming pada kisah Ramayana. “Ternyata dunia wayang menarik, kisahnya mendunia di berbagai belahan bumi. Saya tidak hanya melihatnya di Indonesia, tapi [...]

November 1, 2013 // 1 Comment

Jawa Pos (2013): Perjalanan Akbar Musafir Lumajang

27 Oktober 2013 Perjalanan Akbar Musafir Lumajang Oleh J. SUMARDIANTA REPUBLIK Mauritius merupakan kasus tidak lazim multikulturalisme. Pulau kecil di Samudra Hindia, terapat bermukim bagi lebih dari sejuta orang keturunan Afrika, Eropa, India, dan Asia Tenggara. Di situ pelbagai agama, bahasa, dan. tradisi etnis bergabung dalam kultur harmonis. Tiada negeri lain di belahan dunia mana pun bisa seotentik Mauritius. Negeri mungil itu merdeka dari Inggris pada 1968. Sumber daya yang terbatas dan keragaman etnis mengancam kelangsungan perdamaian. Mayoritas penduduk keturunan India. Kaum minoritas khawatir dikesampingkan. Sedari awal Mauritius diprediksi bakal hancur terjerumus kekisruhan politik, agama, ras, dan etnis. Namun, warga Mauritius, dengan komitmen dasar merayakan perbedaan, merancang konstitusi yang menyantuni semua orang di sekujur negeri. Sebagian besar kursi parlemen diberikan kepada para wakil terpilih dalam pemilu. Delapan kursi dicadangkan buat “peserta kalah pemilu” yang menduduki peringkat terbaik. Kursi cadangan menjamin keterwakilan seimbang kaum minoritas. Keragaman agama dan budaya membuat masyarakat Mauritius memiliki banyak hari libur. Mereka sampai kesulitan membereskan pekerjaan karena setiap kelompok tidak bersedia menghapus hari libur mereka. Dibuatlah kesepakatan: bila suatu kelompok merayakan hari libur, semua ikut merayakan. Hari-hari libur keagamaan tertentu dirayakan rakyat seluruh negeri. Semua orang menghormati Diwali Hindu, [...]

October 27, 2013 // 2 Comments

Jakarta Post (2013): What Writers Think About Travel Writing

    http://www.jakpost.travel/news/what-writers-think-about-travel-writing-SDjzu7QgZ6JLP83q.html What writers think about travel writing By Raditya Margi, The Jakarta Post, Ubud | Oct 24, 2013 The Ubud Writers & Readers Festival (UMRF) 2013 in Bali brought several renowned travel writers such as Tony Wheeler, the founder of Lonely Planet publications, and Don George, who writes for many top-tier travel media like National Geographic Traveler. The two, along with Indonesian travel writers and book authors Trinity and Agustinus Wibowo, appeared on a panel discussion titled “The Traveler”, one of 75 main sessions on the UWRF. As the format becomes increasingly popular, masters such as Wheeler and George offered insights into what makes good travel writing. It is more than just a whimsical description of a faraway place. Wheeler said the content must be accurate, while Agustinus said that it must always be honest non-fiction. “Travel writing is fundamentally about a place – it’s about illuminating a place,” said George to The Jakarta Post Travel on the sidelines of the main panel session. According to George, there are two types of travel writing: the guidebook style and storytelling. “Guidebook writing is about giving central information – like where to stay and where to eat; and then there’s [...]

October 24, 2013 // 0 Comments

DailySylvia (2013): Yang Tersisa dari Ubud Writers & Readers Festival

    http://www.dailysylvia.com/2013/10/23/yang-tersisa-dari-ubud-writers-readers-festival/ Yang Tersisa Dari Ubud Writers & Readers Festival 23 Oct 2013 agustinus wibowo, daniel ziv, goenawan mohamad, laksmi pamuntjak, ubud, uwrf 2013 by oldy Merayakan “Buku, pesta dan cinta” di tanah dewata. Sejak berdomisili di Ubud beberapa tahun terakhir, Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) masuk dalam agenda wajib tahunan dan paling saya nantikan. Tema UWRF 2013 sama dengan UWRF yang digelar pertama kalinya pada 2004 silam, ‘Through Darkness to Light’ (Habis Gelap Terbitlah Terang), sebagai tema perayaan 10 tahun festival yang dilaksanakan pada 11 – 15 Oktober 2013 lalu. Seperti di UWRF sebelumnya, tahun ini saya melompat dari satu sesi ke sesi lain. Mayoritas diskusi panel yang saya hadiri sangat baik – terorganisir, moderator proaktif, panelis yang tampil pun komprehensif dan alur diskusi sejalan dengan tema. Tetapi beberapa sesi diskusi masih perlu perbaikan, baik dari segi tema maupun panelis yang berpartisipasi. Saatnya Wanita Angkat Bicara Sesi ‘Women in Ancient Text’ yang dipimpin Laksmi Pamuntjak menampilkan Helen Creese – profesor bahasa dan penulis, dan I Nyoman Darma Putra – dosen sastra Indonesia di Universitas Udayana, dengan tema perempuan dan perannya dalam sastra lama. Helen memberi rangkuman tentang bagaimana cara perempuan berpikir, merasa dan menempatkan diri di masa [...]

October 23, 2013 // 0 Comments

Malang Post (2013): Awas Virus Writer’s Block!

  http://www.malang-post.com/edupolitan/75323-awas-virus-writers-block Awas Virus Writer’s Block! Sunday, 20 October 2013 10:28 MALANG – Writer’s block atau hilangnya ide dalam proses penulisan pasti pernah dialami semua penulis, bahkan mereka yang terbilang produktif sekalipun. Banyak orang yang gemar menulis atau memiliki latar belakang pekerjaan yang membutuhkan kecakapan menulis seperti penulis buku atau penulis naskah film yang sering merasa mentok. Hal ini menjadi trending topic dalam diskusi kepenulisan TechnoFair Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya (UB), Creativolution: Revolusi Kepenulisan yang Bukan Sekedar Goresan Pena di Gedung Widyaloka Sabtu (19/10) pagi lalu. Pada kegiatan tersebut, ketiga pemateri, Husnun N Djuraid, Eros Djarot, dan Agustinus Wibowo dihujani dengan pertanyaan-pertanyaan seputar proses kreatif penulisan. “Rasanya, apa yang kita tulis tidak lagi ‘menggigit’ saat dibaca. Karya yang kita buat tidak maksimal, dan yang paling mengesalkan, kita seperti tersesat pada alur naskah itu,” urai Eros yang disambut anggukan setuju oleh kurang lebih 200 peserta yang memadati gedung. Menurut ketiga pemateri tersebut, writer’s block tidak akan berakibat fatal jika disikapi dengan bijak. Terkait hal itu, setiap penulis memiliki cara masing-masing yang dirasa paling tepat untuk mengatasi writer’s block. Ketua pelaksana kegiatan tersebut, Fitrul Ilhamadi, mengungkapkan, kegiatan tersebut diselenggarakan atas dasar keresahan [...]

October 20, 2013 // 0 Comments

Speak Without Interruption (2013): Give Afghanistan back to the Afghans

http://www.speakwithoutinterruption.com/site/2013/10/ubud-encounters-give-afghanistan-back-to-the-afghans/ October 20, 2013 Ubud encounters: Give Afghanistan back to the Afghans Posted by Muhammad Cohen in: Art, Asia, Books, China, Faith, Foreign Affairs, Immigration, Islam, Journalism, Military, Religion, Sociology, Terrorism, Travel, War, Women’s Rights, World Issues Australian painter Ben Quilty and Indonesian writer Agustinus Wibowo told the Ubud Writers and Readers Festival in Bali how they each reached Afghanistan by different routes for different reasons. But following their stays, they both also reached the same conclusion: after a dozen years and thousands of casualties, it’s time for Afghanistan to solve its problems without foreign help. Wibowo came to Afghanistan for the first time as a curious and footloose traveler. In Afghanistan as well as Pakistan, Wibowo said that since he came from Indonesia, people assumed he was Muslim. Telling them he was an ethic Chinese raised in the Buddhist tradition would either provoke suspicion or pointless debate, including attempts to convert him. “But I found the perfect answer,” Wibowo revealed. “When people asked if I was Muslim, I’d say, ‘Insy’allah’ [God willing].” Later, Wibowo said he found an even better answer from Afghan imam. “He told me he was a member of the highest religion of all: humanity.” Wibowo [...]

October 20, 2013 // 1 Comment

Koran Jakarta (2013): Memotret Kehidupan Budaya dan Eksotisme Negeri Orang

http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/131435 Perada Sabtu, 19 Oktober 2013 | 03:03:10 WIB Memotret Kehidupan Budaya dan Eksotisme Negeri Orang Petualangannya tidak selalu mulus. Berbagai rintangan dan tantangan dihadapi dengan tabah, termasuk menemukan banyak keunikan budaya dan tradisi negaranegara seperti India. Negeri ini memiliki ritus sejak ribuan tahun, termasuk seks dan misterinya. Safarnama berasal dari bahasa Persia. Safar berarti perjalanan. Nama berarti tulisan, (hal 9). Buku ini memaparkan kisah perjalanan ke berbagai negara, seperti Mongolia, Tibet, Nepal, India, dan Pakistan. Salah satu kisah eksotis tentang nuansa mistis puncak Everest. Menatap puncak Everest, menyaksikan garis kurvanya yang tegak dan curam, tentu terbayang betapa sulit perjuangan para pendaki mencapainya, (hal 113). Meski sudah menelan banyak korban, pesona puncak Everest tidak pernah memudar, bahkan semakin menantang. Perjalanan adalah eksplorasi untuk menemukan dunia “lain”, (hal 133). Betapa dalamnya filosofi dari sebuah pelancongan. Perjalanan adalah proses menyusuri, (hal 259). Mungkin karena alasan inilah, penulis, Agustinus Wibowo, memaparkan kisah perjalanannya dalam buku setebal 552 halaman. Petualangannya tidak selalu mulus. Berbagai rintangan dan tantangan dihadapi dengan tabah, termasuk menemukan banyak keunikan budaya dan tradisi negara-negara seperti India. Negeri ini memiliki ritus sejak ribuan tahun, termasuk seks dan misterinya, (hal 246). Di Pakistan [...]

October 19, 2013 // 0 Comments

1 3 4 5 6 7 11