Recommended

Australia

Detik: Agustinus Wibowo: Australia Negara Santai Tapi Taat Hukum

Jumat 10 Mar 2017, 17:25 WIB Australia Plus ABC – detikNews Perth -Agustinus Wibowo, penulis perjalanan dan fotografer asal Indonesia baru-baru ini hadir di Festival Penulis di Perth (Australia Barat). Penulis yang dikenal menguasai banyak bahasa ini berbicara dengan wartawan ABC Sastra Wijaya mengenai apa yang dibicarakan di Perth, pandangannya mengenai Australia dan buku terbaru yang sedang ditulisnya. Anda diundang di Perth Writers Festival, apa yang Anda bicarakan di sana? Saya tampil dua kali di Perth. Sesi pertama disebut Nomadic Lives (Kehidupan Nomadic (Berpindah-pindah). Saya tampil bersama penulis terkenal Australia Tim Cope, yang menghabiskan waktu tiga tahun mengendarai kuda berkelana dari Mongolia ke Hongaria di Eropa. Jadi kami terlibat dalam kehidupan nomadic dalam perjalanan kami. Di tahun 2005, saya memulai perjalanan ” Grand Overland Voyage”, melakukan perjalanan selama empat tahun, dimulai dari ibukota China, Beijing, dengan harapan bisa mencapai Afrika Selatan, tanpa melewati laut. Saya tidak menyelesaikan perjalanan tersebut, karena saya akhirnya tinggal di Afghanistan selama hampir tiga tahun. Salah satu pertanyaan menarik yang kami diskusikan di panel tersebut adalah apakah kita bisa menyebut diri kita nomad modern. Dalam pandangan saya ada perbedaan besar antara kehidupan nomadik dengan melakukan perjalanan. Bagi orang luar, para nomad ini sering dilihat sebagai ‘orang [...]

March 31, 2017 // 2 Comments

#BoycottBali: Siapa Membutuhkan Siapa?

Saat menentukan destinasi liburan, ada beberapa hal yang biasanya kita pertimbangkan: kemudahan visa, atraksi di destinasi, biaya, keamanan. Tetapi warga Australia diminta untuk mempertimbangkan hal lain: ada tidaknya hukuman mati di destinasi yang dituju. Itu tergambar dari gerakan boikot dari media sosial Australia dan sempat menjadi trending topic beberapa hari lalu: #BoycottBali. Gerakan ini berkenaan dengan rencana Indonesia menjalankan eksekusi mati terhadap dua gembong narkoba warga Australia, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, yang ditangkap di Bali pada 17 April 2005. Mereka berdua adalah pemimpin dari kelompok beranggotakan sembilan orang Australia, dikenal sebagai “Bali Nine”, yang berupaya menyelundupkan 8,3 kilogram heroin senilai A$ 4 juta dari Indonesia ke Australia. Death Row Diaries of Andrew Chan and Myuran Sukumaran (source: news.com.au) Di saat-saat terakhir ini, pemerintah Australia gigih meminta pengampunan kepada presiden Indonesia. Tetapi presiden Indonesia yang baru terpilih, Joko Widodo, juga gigih untuk tidak memberikan grasi terhadap kasus narkoba. Jokowi—demikian dia biasa dikenal—beralasan bahwa Indonesia dalam keadaan “darurat narkoba”, dan mengutip data mencengangkan: 4,5 juta orang Indonesia harus direhabilitasi karena narkoba dan 40-50 orang Indonesia mati setiap hari karena narkoba. Sebagian publik Australia menuding Indonesia yang melaksanakan hukuman mati sebagai negara barbar biadab. Sementara Andrew dan Myu dipandang sebagai [...]

February 21, 2015 // 49 Comments

Byron Bay, 3 Agustus 2014: Festival Penulis

Bersama Janet Steele, Jono Lineen, Carina Hoanh, dan Bhuchung Sonam “So, where are you from?” tanya Janet Steele membuka panel diskusi “A Guest in Their Country” kepada kami para panelis: seorang pengungsi Tibet yang kini tinggal di Dharamsala, India; seorang Tionghoa Indonesia yang pernah mencari rumah ke negeri China; seorang pengungsi Vietnam yang pernah menjadi manusia perahu dan kini menikah dengan orang Australia dan tinggal di Australia; seorang Kanada-Australia yang kematian adiknya membawanya pergi ke Himalaya dan membuatnya menemukan agama baru—Buddhisme. Pertanyaan “Dari mana kamu?” adalah pertanyaan sederhana yang ternyata membutuhkan jawaban panjang. Bhuchung Sonam menceritakan bagaimana dia meninggalkan Tibet yang pernah menjadi rumahnya, ketika negerinya berada di bawah pendudukan China yang tidak akan pernah diakuinya sebagai tuan untuk negerinya, dan kini tinggal di India yang juga tidak pernah menjadi rumahnya. Bhuchung, dengan penuh kesedihan, mengatakan, dia tidak pernah kehilangan rumah karena memang dia tak punya rumah. Janet Steele, seorang jurnalis kawakan dari Amerika Serikat dan seorang Indonesianis, adalah moderator panel ini. Dia mengawali cuplikan dari buku saya Ground Zero, ketika saya berada di Kashmir di tengah keluarga pengungsi yang menjadikan saya sebagai bagian dari keluarga itu. Para pengungsi Kashmir itu berkata pada saya, “Agustinus, ke mana pun kamu pergi [...]

August 4, 2014 // 10 Comments

Byron Bay, July 31, 2014: A Nanny State?

“Australia is a country only for old people,” says Celine, a 22-year-old Indonesian student sitting next to me in a Qantas flight to Sydney. Celine lives in a suburb of Melbourne, and has been there for four years majoring food technology. “After 5 pm all shops are closed and the towns are deserted. There is absolutely no fun.” I am on my way to Gold Coast, to attend Byron Bay Writers Festival tomorrow; while Celine is heading to Melbourne and she will have some hours of transit in Sydney. Celine grumbles as she has no choice but to take this Qantas flight. She usually takes the Indonesian carrier, Garuda, which offers the only direct flight from Jakarta to Melbourne. But Garuda tickets are sold out, and only Qantas is available for her. But as I am a first timer to Qantas, I am very excited with this flight. In fact, I am first timer to any Western airlines. And I have to admit, I am shocked to see that all passengers were greeted by an overweight stewardess with thick lips wearing glossy lipsticks, whose age I bet around half a century. “Welcome, Sir,” she says with a friendly smile. In [...]

August 1, 2014 // 26 Comments

Byron Bay, 31 Juli 2014: Negara Orang Tua

Pramugari Qantas “Australia adalah negara orang tua,” kata Celine, pelajar asal Indonesia yang sudah tinggal di Melbourne selama empat tahun untuk belajar teknologi pangan, “Setelah jam lima semua toko tutup dan sepi. Sama sekali tidak fun.” Saya dan Celine berbagi tempat duduk dalam pesawat menuju Sydney. Saya menuju Gold Coast, dan dia transit menuju Melbourne. Biasanya dia menumpang Garuda, yang mempunyai layanan penerbangan langsung dari Jakarta ke Melbourne. Tetapi karena tidak kebagian tiket, dia terpaksa menumpang pesawat Qantas ini. Begitu memasuki pesawat, semua penumpang disambut pramugari bertubuh gemuk dan berbibir tebal dengan lipstik mengilap, usianya saya duga sudah mendekati setengah abad. “Welcome, Sir,” katanya sambil tersenyum ramah. Kalau di negara kita, ataupun di kebanyakan negara Asia lainnya, pramugari umumnya gadis muda, tinggi, semampai, berwajah atraktif, para pramugara di penerbangan Qantas ini adalah lelaki paruh baya berkepala botak sedangkan para pramugarinya juga berumur setidaknya empat puluh tahun dan sama sekali tidak bisa dibilang ramping. Saya sempat bertanya-tanya, apakah kita orang Indonesia telah melakukan diskriminasi terhadap orang tua dan orang jelek untuk banyak jenis profesi? Saat pesawat mengudara, para pramugari dan pramugara memeragakan petunjuk keselamatan, mengikuti penjelasan panjang lebar dari corong pengeras suara dalam bahasa Inggris dan Melayu Malaysia. Penjelasan ini sangat [...]

August 1, 2014 // 25 Comments

Jakarta, 29 Juli 2014: Australia dan Papua Nugini

Saya mengambil backpack, mengisinya dengan barang-barang, dan menyadari bahwa saya sudah tak ingat lagi kapan terakhir kali saya merasakan debar seperti ini. Debar akan Ketidaktahuan dan Keberbedaan. Besok, saya akan memulai perjalanan pertama saya keluar benua Asia. Hari Senin 21 Juli lalu saya mendapat konfirmasi undangan menghadiri Byron Bay Writers Festival (BBWF) di Byron Bay, NSW, 1-3 Agustus. Ini adalah festival penulis yang bekerja sama dengan Ubud Writers and Readers Festival, dan setiap tahun memberi kesempatan bagi penulis Indonesia maupun Asia untuk tampil pada forum penulis internasional ini. Karena waktu yang sangat mendesak, saya pun buru-buru mengurus visa Australia. Biasanya visa Australia membutuhkan waktu 5 hari kerja, dan berkenaan dengan Idul Fitri maka hari keberangkatan saya bertepatan dengan hari kerja ke-4. Agak riskan juga. Untunglah, visa Australia (dengan undangan dan permintaan urgen) keluar hanya dalam dua hari. Mengenai festival penulis ini, saya diundang untuk berbicara dalam dua panel, semuanya berhubungan dengan penulisan perjalanan. Hal yang paling membuat saya excited adalah kesempatan untuk berkomunikasi dengan penulis perjalanan dari negara lain. Ketika menerjemahkan buku ketiga saya, Titik Nol, ke dalam bahasa Inggris, saya sungguh menyadari betapa pola pikir dari setiap bangsa yang berbeda sangat memengaruhi cara masyarakat dari pengguna bahasa itu untuk [...]

July 29, 2014 // 26 Comments

Jakarta, July 29, 2014: Australia and Papua New Guinea

I grab my backpack, clean it up from a layer of thick dust covering it, and put my clothes inside. It has been years since the last time I touched this backpack. Suddenly I realize I do not remember the last time I felt this kind of anxiety. Anxiety to face the Unknown and the Otherness. Tomorrow, I will start my first trip out of Asia. Just few days ago, on Monday, July 21, I got the confirmation of invitation to attend the Byron Bay Writers Festival (BBWF) in Byron Bay, NSW, Australia, to be held from August 1 to 3. It is a literary festival in collaboration with the Ubud Writers and Readers Festival in the Indonesian island of Bali, which I have attended twice. Each year BBWF provides an opportunity for Indonesian writer for a special appearance in this international event. As the confirmed invitation came up in very last minutes, I was worrying whether I would get my Australian visa on time. Australian visa usually takes five working days. But as Indonesia is celebrating Eid-ul-Fitr, the day of my departure coincided with the 4th working day after I lodged my visa application along with complete invitation documents [...]

July 29, 2014 // 26 Comments