Recommended

Ahmad Shah Massoud

Selimut Debu 86: Hari Massoud

Orang mengingatkanku untuk selalu berhati-hati dengan perbatasan Iran dengan Afghanistan, karena pemeriksaan bisa sangat panjang. Ya, Iran selalu khawatir dengan tetangganya yang lucu ini, yang selalu dicurigai sebagai pemasok opium dan pengungsi. Tapi tidak demikian dengan sebaliknya bukan? Aku rasa, karena aku menyeberang dari Iran ke Afghanistan, seharusnya semua berjalan lancar. Benar saja. Semua lancar. Malah terlalu lancar. Aku tidak pernah melihat imigrasi perbatasan yang selonggar imigrasi Afghanistan ini. Aku sudah menyodorkan pasporku tepat di halaman visa, sehingga si petugas Afghan tinggal mengecap. Petugas itu langsung mengecap, tanpa menghabiskan sedetik pun untuk melihat visa itu, melihat halaman depannya, atau bahkan untuk melihat wajahku. Tanpa registrasi, tanpa wawancara, tanpa rewel. Proses imigrasi hanya memakan waktu 3 detik. Ini adalah proses yang paling cepat dan efisien yang kualami. Dan berita gembira lainnya, tidak ada pula pemeriksaan barang di bea cukai. Datang dari Iran, kita semua dianggap sebagai makhluk tak berdosa. Meninggalkan gerbang perbatasan Islam Qala, aku seperti masuk ke mesin waktu lagi, meloncati dimensi waktu dan mundur ke masa lalu, dari modernitas kembali ke realita negeri berselimut debu. Debu, dalam artian harfiah, lekat dengan kehidupan penduduk Herat. Di bagian timur kota ini, hingga ke perbatasan Iran, terbentang gurun pasir luas. Selama 120 [...]

February 24, 2014 // 0 Comments

Garis Batas 96: Good Boy

Agustinus Wibowo di Perbatasan Pakistan dan Afghanistan. Tentara perbatasan Uzbekistan memang terkenal sangat merepotkan. Penggeledahan barang-barang bawaan sudah menjadi prosedur wajib. Tetapi masih ada yang lebih melelahkan dan menjengkelkan dari ini. Sudah hampir satu jam saya berdiri di hadapan tentara muda itu, dengan semua barang bawaan saya tertata amburadul di atas meja bea cukai. Kaos dan celana-celana lusuh bertumpuk-tumpuk seperti gombal, membuat dia mirip pedagang keliling baju bekas, dan membuat muka saya merah padam. Puas mengobrak-abrik semua isi tas ransel, tentara itu langsung memerintah saya cepat-cepat mengemas kembali semua barang itu. Seperti diplonco rasanya. Saya disuruh mengikutinya, ke sebuah kamar kecil dan tertutup di pinggir ruangan. Ukurannya cuma 2 x 3 meter, sempit sekali, dengan sebuah kasur keras di sisinya. Begitu saya masuk, dia langsung mengunci pintu. Apa lagi ini? Saya berduaan dengan tentara tinggi dan gagah yang mengunci pintu di sebuah kamar dengan ranjang yang nyaman, dan sekarang dia menyuruh saya menungging. Dia mulai menggerayangi tubuh saya dengan kedua tangannya. Jangan berpikir yang aneh-aneh dulu. Setelah barang bawaan yang diperiksa, kini giliran tubuh saya yang diteliti habis-habisan. Dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Dan ini dalam arti harafiah. Ujung sepatu saya diketok-ketok. Kebetulan sepatu yang saya pakai ini [...]

October 25, 2013 // 11 Comments

Herat – Massoud Day

Everybody is talking about Massoud “Massoud is our hero. He is, of course, Musliman!” – a Herati man Five years ago, just two days before the September 11 incident, the Afghan great leader, Ahmad Shah Massoud, was murdered. It was suicide bombers posing as a journalist and a photographer pretended to interview Massoud and then blasted themselves. Since then, the security officers in Afghanistan became very touchy with cameras. All TV stations in Afghanistan during these days played documentaries about Massoud, mostly made by French filmmakers. It was interesting to see how the image of Massoud among Afghan different ethnics. Massoud was a Tajik, and for the Tajiks he was a great hero. The Uzbeks in a Maimana restaurant in Herat were also enthusiastic when follwing documentary programs about life of the great hero in TV. Some of them even cried exactly on the part when Massoud was murdered and Massoud’s brother was recounting the tragedy. For the Pashtuns, some of them liked and some disliked Massoud. Almost all of Hazara didn’t like him. Massoud once had did slaughtering action on this Mongoloid minority. Being Muslim is vital sign of goodness How about people in Herat? Herat is located at [...]

September 9, 2006 // 0 Comments

Taloqan – The Colorful Mondays

Welcome to Taloqan “First it was the culture, then it mixed with the religion” – Sa’dat The city of Taloqan is the capital of the Takhar province, one of Afghanistan northern provinces. Takhar was part of the Qataghan province which once comprised the nowadays provinces of Kunduz, Takhar and Baghlan. Taloqan is hot in summer although compared to Kunduz, it’s much cooler. The city is dusty, but the smoothly paved road which connected the sleepy provincial capital to Kabul promised its brighter future. The city has somehow a strong link with the Islamic Republic of Iran. Unlike other cities in Afghanistan, the roads in Taloqan has clear name and road signs, and many of the main road signs in the town center are backgrounded with Iranian flag, and signed “Afghanistan and Iran”. Some of the roads have quite Iranian smell, like the “Ayatollah Khomeini” St. Some other main roads are Hafez St., and as in all other cities in Afghanistan, the “Ahmad Shah Massoud” St. Massoud is a Tajik warrior from the Panjshir valley who fought against the Taliban and now is respected by many as a national hero. Taloqan: Ahmad Shah Massoud, Iranian flag, and burqa The people of [...]

July 23, 2006 // 0 Comments