Recommended

artikel

Papua Nugini (5) Ketika Era Prasejarah Bertemu Globalisasi : Sungai yang Mengering

Draft artikel menengai Papua Nugini untuk majalah Traveler 旅行家, China. “Dumori desa kami adalah surga,” kata Mama Ruth saat kami bersama menumpang kano menuju desanya di muara Sungai Fly, “Itu tempat terbaik di dunia.” Kano kayu kami terayun-ayun di laut tenang. Perlu waktu 12 jam untuk menempuh jarak 130 kilometer dari Daru ke Dumori dengan kano besar ini. Kami tiba di Dumori tengah malam, badan saya menggigil hebat. “Welcome to Paradise,” kata Mama Ruth. Senyumnya menampilkan barisan gigi putih yang seakan melayang di tengah kegelapan. Surga? Di sekeliling saya hanya tampak air, memantulkan samar sinar bulan. Rumah-rumah panggung dan pohon seperti mengambang. Dulu, Dumori terletak di tebing tinggi dan hampir tak pernah banjir. Sekarang, seminggu dalam sebulan desa ini pasti terendam air. Setelah banjir surut, seluruh desa tertutup lumpur tebal. Kerusakan alam terjadi sangat radikal di Sungai Fly gara-gara aktivitas pertambangan emas dan tembaga Ok Tedi di hulu sana. Saat baru beroperasi tiga puluh tahun lalu, pertambangan itu membuang limbah beracun ke Sungai Fly. Air sungai kini tidak bisa diminum dan penduduk terpaksa mengandalkan air hujan. Sagu makanan utama mereka diolah dengan air sungai, kini hitam dan pahit. Hampir semua orang di sini juga menderita penyakit kulit parah. Pertambangan itu [...]

February 11, 2016 // 8 Comments

Papua Nugini (4) Ketika Era Prasejarah Bertemu Globalisasi : Orang Hitam dan Orang Putih

Draft artikel menengai Papua Nugini untuk majalah Traveler 旅行家, China. Cargo cult ala Melanesia (sumber: youtube.com) Penduduk desa Tais, kampung halaman Sisi, selalu menyebut saya “orang putih”. Padahal saya orang Asia keturunan China dan warna kulit saya bukan putih. Desa ini terletak di pedalaman hutan, sehingga mereka jarang kedatangan tamu orang asing. Para orang dewasa menyambut saya dengan sukacita, namun anak-anak justru menganggap saya seseram setan. Ketika saya lewat di depan rumah, satu bayi menangis meraung-raung memanggil ibunya. Seorang bocah dua tahun ketakutan sampai berlari dan terjatuh, wajahnya menabrak tanah. Seorang bocah perempuan sampai terloncat melihat saya mendekatinya, seperti disergap binatang buas. Saya sudah membuat lusinan bocah menangis hanya dengan penampakan saya. Kenapa mereka begitu takut dengan kulit putih? Konon menurut legenda yang dipercaya di daerah ini, roh orang yang sudah mati akan terbang ke tempat terbenamnya matahari, dan tubuh orang itu akan berubah dari hitam menjadi putih. Kulit putih identik dengan kematian. Orang putih pertama kali tiba di desa ini pada saat Perang Dunia II, dan itu membuat semua penduduk, baik tua maupun muda, lari ketakutan bersembunyi ke dalam rimba. Sedangkan di abad ke-18, ketika penjelajah Eropa pertama kali datang di kepulauan Kiwai di dekat Daru, penduduk langsung berlutut [...]

February 10, 2016 // 1 Comment

Papua Nugini (3) Ketika Era Prasejarah Bertemu Globalisasi : Perbatasan Segitiga

Draft artikel menengai Papua Nugini untuk majalah Traveler 旅行家, China. Dauan, Australia (AGUSTINUS WIBOWO) Tidak banyak orang menyadari bahwa Australia terletak sangat dekat dari Papua Nugini. Saking dekatnya kita bisa lihat Australia dengan mata telanjang. Untaian pulau kecil Australia hanya empat kilometer di selatan pantai Papua Nugini. Ber adalah satu desa Papua Nugini yang berhadapan dengan pulau Boigu, Australia. Dilihat dari laut di malam hari, Boigu bagai metropolitan dengan ratusan noktah cahaya berkilauan, sedangkan Ber tampak seperti tiga cahaya lemah yang sering padam, seperti lilin diterpa angin. Sumber cahaya di Ber hanyalah api unggun. Satu-satunya cara untuk mencapai Ber, orang harus naik perahu dari Daru ke arah barat sejauh 100 kilometer melewati lautan Selat Torres yang terkenal ganas ombaknya. Perahu motor yang saya tumpangi nyaris tenggelam ditelan ombak. Ini adalah perjalanan seharian yang basah dan mematikan. Begitu terisolasinya Ber dari daerah Papua Nugini lainnya, desa dengan dua ratusan penduduk ini seperti belum tersentuh peradaban. Mereka tinggal rumah-rumah panggung yang semuanya terbuat dari gedek anyaman daun. Pantai Ber tertutup lumpur, seperti sawah padi yang baru diairi. Ber berhadapan langsung dengan laut, tetapi warga di sini justru jarang ke laut dan ikan nyaris tidak ada dalam menu mereka. Setiap hari penduduk makan [...]

February 9, 2016 // 3 Comments

Papua Nugini (2) Ketika Era Prasejarah Bertemu Globalisasi : Satu Bahasa

Draft artikel menengai Papua Nugini untuk majalah Traveler 旅行家, China. “PNG itu bukan singkatan Papua New Guinea,” seorang kawan ekspatriat memberitahu saya, “itu singkatan Promise Not Guaranteed.” Di sini, tiket pesawat bukan jaminan bisa terbang. Sudah banyak calon penumpang pesawat yang memiliki tiket, sesampainya di bandara diberitahu bahwa pesawat sudah penuh dan tidak ada tempat bagi mereka. Karena itu, kawan itu menganjurkan saya pergi seawal mungkin ke bandara. Saya bersyukur dengan anjuran itu. Bukannya terlambat, pesawat justru terbang satu jam lebih awal dari jadwal. Kata pramugari, itu karena semua dari dua puluhan penumpang sudah tiba di bandara. Sembilan puluh menit kemudian, pesawat kami mendarat di Daru, sebuah pulau noktah kecil di bagian paling selatan provinsi perbatasan Western Province. Dulu kota-pulau ini pernah menjadi pusat pemerintahan provinsi, sebelum kemudian dipindah ke Kiunga di utara sana. Bandara Daru mirip lapangan bola yang dikelilingi pagar kawat. Di balik pagar itu, orang-orang berderet menonton pesawat. Dari balik kawat pagar kawat, saya juga menonton para penumpang yang berbaris di atas tarmak menuju pesawat yang akan lepas landas kembali ke Port Moresby. Dua penumpang yang terakhir naik tiba-tiba turun lagi. Saya dengar dari petugas bandara, mereka tidak diizinkan terbang karena pesawat telah kelebihan muatan kargo. Entah [...]

February 8, 2016 // 3 Comments

Papua Nugini (1) Ketika Era Prasejarah Bertemu Globalisasi : Bahaya di Ibukota

Draft artikel menengai Papua Nugini untuk majalah Traveler 旅行家, China.   Papua Nugini sering digambarkan sebagai negeri primitif yang dihuni suku-suku terisolasi dari zaman prasejarah. Nama negeri itu senantiasa membangkitkan imajinasi tentang taman liar yang dipenuhi burung-burung surga, sebuah dunia lain yang begitu jauh dari dunia kita. Hanya beberapa puluh tahun lalu, di negeri ini memang masih banyak lelaki dengan labu penutup penis dan perempuan bertelanjang dada, atau suku-suku pemuja arwah, penyihir, bahkan pemburu kepala manusia di pedalaman hutan rimba. Kini globalisasi telah merambah, kehidupan Papua Nugini sudah se-“normal” dunia kita. Walaupun, harus diakui, belum sepenuhnya begitu. Bahaya di Ibukota Dilihat dari angkasa, Port Moresby bagai barisan perbukitan hijau bergulung-gulung di tepi laut, ditebari rumah-rumah penduduk membentuk mozaik warna-warni. Perbukitan itu berhadapan langsung dengan biru kristal Lautan Teduh yang membentang luas tak berbatas. Sulit memercayai kota secantik ini termasuk kota paling tidak layak huni di dunia. Di antara kota-kota tak layak huni lainnya, ada Lagos dengan kekacauan konfliknya, Bogota dengan mafia narkotikanya, Karachi dengan kriminalitas dan terorismenya. Tapi tidak ada kota lain di dunia yang serupa Port Moresby. Metropolitan Pasifik Selatan ini justru sekilas kelihatan ceria. Jalanannya bersih dan hijau bagai taman, dihiasi monumen merayakan burung surga dan mural warna-warni. [...]

February 5, 2016 // 6 Comments

Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (6)–Jalan Menembus Batas

Serial artikel untuk Chinese National Geography Jalan Menembus Batas “Afghan datang! Afghan datang!” Para bocah yang tinggal di perkemahan yurt keluarga Khan bersorak meloncat-loncat menyaksikan titik kecil hitam yang bergerak di padang luas. Titik itu semakin mendekat, semakin menampakkan wujudnya. Para lelaki dari keluarga Khan berlarian menyambut. “Afghan datang!” Orang Kirgiz Afghan secara natural tidak pernah menganggap diri mereka sebagai “Afghan”. Para “Afghan” itu adalah dua pedagang Pashtun dari Kabul yang beserban dan berjenggot, membawa karung-karung besar di punggung kuda. Keduanya langsung menuju sebuah yurt kosong yang dikhususkan menerima tamu. Di sana, mereka membongkar isi karung, sementara para lelaki keluarga Khan sibuk memilih barang, dan anak-anak hanya menonton di sudut kemah sambil terkikik-kikik. Di Pamir tidak ada toko dan pasar. Semua barang kebutuhan orang Kirgiz di Pamir, mulai dari gandum sabun, kain, gula, selimut, radio, panel surya, potongan kayu untuk membangun tenda, kain merah untuk bahan pakaian perempuan Kirgiz, bros China untuk hiasan baju, sampai opium, dibawa oleh karavan pedagang Afghan dari bawah gunung sana. Mereka datang berkaravan, beriringan menunggang kuda. Di Pamir juga tidak ada uang. Perdagangan di abad milenium masih dilangsungkan dengan cara yang paling primitif: barter. Satuan mata uang mereka adalah domba. Seekor domba berumur empat tahun [...]

September 25, 2015 // 1 Comment

Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (5)–Perjalanan yang Terhenti

Serial artikel untuk Chinese National Geography Perjalanan yang Terhenti Nama Pamir bagi kebanyakan orang Afghan adalah sinonim surga. Nama Pamir bertebaran di seluruh Afghanistan, mulai dari toko, restoran, hotel, biro wisata, perusahaan dagang, lembaga sosial, sampai maskapai penerbangan. Seperti Shangri-La, Pamir telah menjadi mitos utopia, sebuah tempat fantastis berlimpah keindahan dan kedamaian sempurna. Namun, mengalami sendiri kehidupan di Pamir, saya tahu pasti ini bukanlah kehidupan surgawi yang dibayangkan orang-orang. Pada ketinggian yang ekstrem ini, kehidupan Pamir sama sekali tidak normal. Sore musim panas yang berkabut dan bersalju lebat itu, saya berkuda menuju perkemahan sang Khan—raja suku orang Kirgiz di Pamir. Khan Abdul Rashid Khan, lelaki renta bertubuh ringkih itu berjalan pincang dengan dibantu sebuah tongkat kayu, masuk ke dalam yurt, duduk setengah berbaring. Tidak sedikit pun saya melihat kemegahan seorang “raja” pada diri Khan. Lima kemah pada klan keluarga Khan tidak jauh berbeda dengan permukiman klan-klan Kirgiz lainnya, bahkan jumlah ternaknya terlalu sedikit jika dibandingkan sejumlah keluarga lainnya. “Mengapa tetap tinggal di alam yang sekeras ini?” saya bertanya. “Tanah kami ini memang sulit, tetapi kami tak mungkin meninggalkannya,” jawabnya. “Kami sudah terlalu banyak berpindah. Sekarang kami sudah menemukan rumah. Di sini, di Pamir Afghanistan. Rumah kami, sekarang dan selamanya.” Kirgiz [...]

September 24, 2015 // 4 Comments

Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (4)–Kehidupan Gembala Atap Dunia

Serial artikel untuk Chinese National Geography Kehidupan Gembala Atap Dunia Jalan mobil buatan Rusia berakhir di Sarhad-e-Boroghil, 220 kilometer di timur Ishkashim. Ini menandai berakhirnya Lembah Wakhan, yang dilanjutkan dengan Pamir di timur, ke arah perbatasan China. Selepas Sarhad, yang ketinggiannya sekitar 3300 meter, jalan berubah menjadi jalan setapak yang hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki atau berkuda, melintasi celah-celah pada ketinggian 5.000 meter dikelilingi puncak-puncak salju yang mencapai 7.000an meter. Ini jalan berbahaya di tepi jurang curam, yang seperti tak pernah tersentuh peradaban, namun justru adalah sebuah lintasan Jalur Sutra yang tak berubah sejak zaman Marco Polo. Karena terlalu berbahaya, saya tidak mungkin ke Pamir sendirian. Setelah empat hari menunggu di Sarhad, saya akhirnya menemukan sebuah karavan kuda para tentara Afghan yang hendak menuju Pamir. Karavan terdiri dari seorang komandan perbatasan, seorang pengawal, empat serdadu memanggul Kalashnikov. Mereka mendapat tiga ekor kuda dari penduduk Sarhad. Dua lelaki Wakhi dari Sarhad menjadi pemandu karavan. Di hadapan saya terpampang jalan setapak berpasir licin selebar 30 sentimeter tepat di tepi jurang vertikal yang kedalamannya mungkin sampai 1000 meter, dengan sebuah sungai deras mengaum dalam perjalanannya menuju Amu Darya, sementara tepat di seberang sungai ada sebuah tebing vertikal lain yang membentuk gunung cadas [...]

September 23, 2015 // 3 Comments

Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (3)–Koridor Zaman

Serial artikel untuk Chinese National Geography Koridor Zaman Begitu meninggalkan Ishkashim, hal yang paling mengejutkan saya adalah melihat wajah perempuan—sesuatu yang hampir mustahil di Afghanistan. Di mana-mana tampak para perempuan desa Lembah Wakhan berpakaian warna-warni mencolok, melambaikan tangan sambil tersenyum ke mobil kami. Baju, kerudung, topi sulaman tangan di bawah kerudung, rompi, rok, celana kombor, juga perhiasan manik-manik berat yang menghiasi rompi mereka, semuanya dalam warna berbeda dan beraksen kuat, membuat mereka terlihat seperti khusus berdandan untuk festival. Lembah Wakhan dihuni bangsa Wakhi, yang jumlahnya 100 ribu orang dan tersebar di daerah pegunungan Afghanistan, Tajikistan, Pakistan, dan China. Di Tajikistan mereka disebut sebagai “Tajik Pamir”, sedangkan di China hanya sebagai “Tajik”, walaupun mereka sebenarnya berbahasa, berbudaya, dan menganut kepercayaan yang berbeda dengan orang Tajik. Orang Wakhi adalah penganut sekte Islam Ismaili. Pemimpin spiritual umat Ismaili adalah Aga Khan, dipercaya sebagai keturunan langsung Nabi Muhammad. Dusun Qala Panja, 80 kilometer atau dua hari perjalanan dari Ishkashim, dalam sejarahnya adalah tempat perhentian penting para musafir kuno zaman Jalur Sutra untuk mengganti kendaraan mereka dari kuda menjadi yak untuk melintasi pegunungan Pamir menuju China. Kini, Qala Panja adalah lokasi kediaman pemimpin umat Ismaili di seluruh Koridor Wakhan. Lelaki itu dikenal sebagai Shah Panja, [...]

September 22, 2015 // 5 Comments

Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (2)–Sungai Pemisah Takdir

Serial artikel untuk Chinese National Geography Sungai Pemisah Takdir Amu Darya sang sungai ibunda mungkin memang sejak ribuan tahun telah ditakdirkan menjadi pemisah kehidupan manusia. Bangsa Yunani kuno menyebut Asia Tengah Transoxiana—“Seberang Sungai Amu” dan orang Arab Mawarannahr—“Tanah Seberang Sungai”. Amu Darya lebih dari 2.500 kilometer panjangnya, bersumber dari mata air di Pamir, pegunungan salju atap dunia di ujung timur Koridor Wakhan. Di sana, dia berupa sungai-sungai kecil yang sempit namun bergolak deras dan mematikan, bahkan buihnya sampai melayang ke udara. Satu cabangnya di utara menjadi Sungai Pamir, yang menjadi batas antara Afghanistan dan Tajikistan di bagian timur Koridor. Lalu, turun dari Pamir, sungai ini menjadi sungai lebar berlumpur yang mengalir lambat di lembah Wakhan, terus mencapai Ishkashim, berbelok ke utara dan kembali menjadi sempit dan deras, tetap membelah provinsi yang sama-sama bernama Badakhshan di kedua negeri. Semakin ke barat, setelah selama 1.300 kilometer menjadi batas dengan Tajikistan, sungai ini kemudian menjadi batas antara Afghanistan dengan secuil wilayah Uzbekistan, bermetamorfosa menjadi sungai yang lambat namun lebar tak terkira. Semakin ke barat, sungai ini menjadi pembatas antara padang pasir Afghanistan dengan Turkmenistan yang sama keringnya. Di sana, gelegaknya sirna, bahkan terlalu lemah untuk mempertahankan arah alirannya sendiri, sehingga sering bergeser di [...]

September 21, 2015 // 2 Comments

Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (1)–Pasar Internasional

Serial artikel untuk Chinese National Geography Seperti kata pepatah, “banyak jalan menuju Roma”, lintasan Jalur Sutra kuno pun bercabang-cabang, bagai jalinan serabut akar yang menghubungkan China dengan Barat. Di antara semua fragmen Jalur Sutra itu, mungkin tidak ada yang bisa menandingi kemisteriusan Koridor Wakhan. Teronggok di sudut terjauh Afghanistan, perlintasan penting Jalur Sutra itu kini menjadi salah satu tempat paling terpencil di dunia, namun justru terletak tepat di seberang batas China. Dia juga telah menjadi saksi terakhir matinya rute perdagangan legendaris ribuan tahun itu—yang terjadi hanya tujuh dekade silam.   Pasar Internasional Ishkashim, satu-satunya pintu gerbang menuju Koridor Wakhan, adalah sebuah desa pegunungan Afghanistan yang sepi dan malas, berlumpur dan berdebu. Perbukitan diselimuti padang rumput; para bocah gembala menggiring domba, kambing, dan sapi, sambil bersiul dan bersenandung merayakan pagi yang dingin. Nuansa padang hijau tak bertepi di wilayah utara Afghanistan ini membuat saya serasa telah dilemparkan ke Asia Tengah. Di utara dusun, bergolak aliran sungai Panj, gemuruhnya menenggelamkan semua suara. Ini adalah anak sungai Amu Darya yang menjadi perbatasan antara Afghanistan dengan republik-republik Asia Tengah pecahan Uni Soviet. Sungai Panj bagaikan cermin, memisahkan barisan gunung Afghanistan dari barisan gunung Tajikistan, dan dusun-dusun Afghanistan berhadapan simetris dengan dusun-dusun Tajikistan di seberang [...]

September 19, 2015 // 10 Comments

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (6)

Serial artikel Tajikistan untuk Chinese National Geography. Patroli tentara Kirgiz di daerah perbatasan Tajikistan. Pulau di Tengah Daratan Tujuh kilometer di selatan desa-desa “papan catur”, ada sebidang tanah Tajikistan sepenuhnya dikelilingi Kirgizstan. Vorukh terpisahkan dari “daratan utama” Tajikistan oleh sebuah desa Kirgizstan bernama Ak-Sai. Untuk mencapai Vorukh, secara teori orang harus keluar dari Tajikistan, masuk Kirgizstan, keluar Kirgizstan lalu masuk lagi ke Tajikistan. Tetapi tidak ada portal perbatasan antara kedua negara di daerah ini, sehingga dari Tajikistan orang bebas pergi ke Vorukh dengan melintasi wilayah Kirgizstan. Semakin mendekati Vorukh, saya merasakan aroma ketegangan semakin kuat. Sopir sangat gelisah melihat kamera saya, berulang kali memperingatkan, “Jangan ambil foto dari wilayah Kirgizstan. Kami berperang dengan orang-orang ini.” Warga Vorukh pun sangat mewaspadai kehadiran saya yang jelas orang asing. “Kamu orang asing pertama yang datang ke sini,” kata Husein Nodirov, seorang lelaki pemilik warung, “Bagaimana saya bisa tahu kamu orang baik-baik?” Saya butuh dua jam untuk meyakinkan Husein sampai dia setuju menampung saya di rumahnya dan melindungi saya dari polisi yang sangat mungkin akan menginterogasi saya. Wilayah Vorukh berupa perbukitan, yang mengawali barisan Pegunungan Turkistan yang menjadi batas selatan Lembah Ferghana. Di pusat Vorukh yang berjarak lima kilometer dari perbatasan, orang akan melihat [...]

September 17, 2015 // 0 Comments

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (5)

Serial artikel Tajikistan untuk Chinese National Geography. Arka adalah sepotong Kirgizstan di tengah Tajikistan Garis Batas yang Tanpa Garis Batas Jalan raya A376 yang menghubungkan kota Khujand menuju Kanibadam sekilas terlihat seperti jalan raya biasa, beraspal mulus dan cukup lebar, merupakan urat nadi bagi kota-kota di Tajikistan Utara. Namun, berbeda dengan informasi pada peta mana pun, sebagian dari jalan ini adalah perbatasan antara Tajikistan dan Kirgizstan. Di kota Histervarz, 20 kilometer dari Khujand, sebelah kiri jalan adalah Tajikistan dan sebelah kanan jalan adalah Kirgizstan. Tulisan yang ada di rumah-rumah di sebelah kiri adalah bahasa Tajik, sedangkan di sebelah kanan adalah bahasa Kirgiz. Sedangkan mobil-mobil yang berlalu lalang di jalan menggunakan plat nomor bergambar bendera Tajikistan maupun Kirgizstan. Saya turun di sisi kanan jalan. “Ini Kirgizstan?” tanya saya kepada seorang pedagang semangka yang jelas orang Tajik, dalam bahasa Tajik. “Ya, ini Kirgizstan,” jawabnya, “Seberang jalan sana Tajikistan.” “Orang Tajik boleh berjualan di Kirgizstan?” “Tidak masalah. Tapi saya punya paspor Kirgizstan,” katanya. Rumah Umedjon terletak di kampung di belakang, di sisi kanan jalan. Dia bilang, dia terpaksa masuk kewarganegaraan Kirgizstan, karena kalau tidak, dia harus pindah rumah. Sekarang di sini memang tidak ada perbatasan, orang Tajik maupun Kirgiz bebas bepergian seolah ini [...]

September 16, 2015 // 2 Comments

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (4)

Serial artikel Tajikistan untuk Chinese National Geography. Para pekerja China membanjiri Tajikistan. Selatan dan Utara Realita kehidupan Tajikistan sebenarnya ada di bagian barat negeri, di dataran yang walaupun tak sampai 7 persen luas wilayahnya, dihuni mayoritas penduduknya sehingga kota-kotanya sangat padat. Namun ada hal yang selalu sama: kehidupan di sini tidak pernah terlepas dari dua sekat—garis batas dan gunung. Bentuk negara Tajikistan begitu canggung di atas peta. Tajikistan seperti memiliki sebuah “kepala” kecil di utara yang dihubungkan dengan bagian badan di selatan oleh sebuah leher sempit yang terlihat begitu rapuh. Kenyataannya memang hanya ada satu-satunya jalan, menembus Pegunungan Fan dan Pegunungan Turkistan, yang menghubungkan ibukota Dushanbe di sisi selatan dengan kota terbesar kedua Tajikistan yang terletak di utara, Khujand. Khujand, yang pusat kotanya dihuni orang Tajik tetapi dikelilingi desa-desa orang Uzbek, semula adalah wilayah Uzbekistan yang baru belakangan ditambahkan ke Republik Soviet Sosialis Tajikistan yang akan berdiri. Dulu, ketika masih berada di bawah Uni Soviet, jalan mulus yang menghubungkan Dushanbe dengan Khujand melewati dataran rendah Samarkand—kini wilayah Uzbekistan. Setelah kedua negara merdeka, Uzbekistan menutup perbatasannya untuk kendaraan Tajikistan (beserta warganya). Karena itu, untuk bepergian di antara kedua kota itu, warga Tajikistan terpaksa bersusah-payah mendaki dan melewati dua celah gunung raksasa: [...]

September 15, 2015 // 0 Comments

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (3)

Serial artikel Tajikistan untuk Chinese National Geography. Masa lalu yang belum sepenuhnya berlalu Dimensi Mimpi Di seberang sungai sana, orang Afghan sering mengatakan kepada saya betapa bagus kehidupan Tajikistan. Jalan ada, listrik ada, mobil ada, perempuan ada, sekolah, pasar, rumah sakit semua ada. Itu dunia yang sempurna. Tetapi berada di sisi Tajikistan sini, barulah saya menyadari bahwa realita tidak seindah apa yang mereka impikan dari seberang sana. Di daerah pegunungan terpencil ini, bensin adalah barang langka. Seorang sopir mengatakan sudah dua bulan ini mobilnya tidak beroperasi sama sekali karena tidak ada bensin. Tiga hari menunggu di Langar barulah saya mendapat tumpangan melanjutkan perjalanan. Mobil kami tidak melulu mengikuti aliran sungai yang menjadi penanda perbatasan Afghanistan, tetapi berbelok menuju Pamir Highway di utara. Celah Khargush, pada ketinggian nyaris 4.000 meter, adalah rintangan terberat. Khargush terletak di dekat Danau Zor Kol, salah satu sumber Sungai Amu Darya. Danau ini juga menjadi perbatasan dengan Afghanistan, sehingga merupakan daerah sensitif dan terdapat pos pemeriksaan militer yang cukup besar. Tak lama setelah melintasi Celah, pemandangan tiba-tiba berubah. Dari tebing gunung yang terjal, sekarang menjadi padang hijau yang datar dan luas. Di kejauhan, terbentang barisan gunung bertudung salju dengan lekuk kurva nyaris membundar. Inilah Pamir yang [...]

September 14, 2015 // 1 Comment

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (2)

Serial artikel Tajikistan untuk Chinese National Geography. Sungai Amu Darya, selebar 20 meter, memisahkan Afghanistan dan Tajikistan di kedua sisinya seabad jauhnya. Kerinduan dari Seberang Sungai Gambaran fisik Tajikistan yang paling gamblang dalam imaji kebanyakan orang tentu adalah gunung-gunung tinggi bertudung salju menggapai angkasa. Tidak salah memang. Belahan timur Tajikistan adalah kawasan pegunungan Pamir yang hampir seluruhnya berada di atas ketinggian 3.000 meter, dan dijuluki dengan sangat romantis: Atap Dunia. Jalan beraspal M-41 (dikenal juga sebagai “Pamir Highway”) yang bertabur lubang dan meliuk-liuk di tepi jurang pegunungan cadas yang nyaris tegak lurus ini menghubungkan Dushanbe dengan Pamir. Nama wilayah ini sebenarnya adalah Provinsi Otonomi Pegunungan Badakhshan, atau lebih dikenal dengan singkatan bahasa Rusia: GBAO. Luasnya sekitar 45 persen luas Tajikistan, tetapi populasinya hanya 5 persen penduduk nasional. Jip Rusia kami menyusuri jalan sempit sepanjang tepian Sungai Amu Darya, garis batas alami antara Tajikistan dengan Afghanistan. Lembah sungai tidak terlalu lebar, siapa pun bisa melihat dengan jelas kehidupan di negeri seberang sana. Paralel dengan jalan yang kami lewati di Tajikistan ini adalah sebuah jalan setapak sempit berdebu yang menanjak dan menukik mengikuti punggung pegunungan, tepat di tepi sungai yang bergolak hebat. Seorang pria Afghan beserban terlihat berjalan tertatih-tatih, menggeret keledai malas [...]

September 11, 2015 // 9 Comments

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (1)

Serial artikel Tajikistan untuk Chinese National Geography. Para tentara Tajikistan memberikan penghormatan kepada Rudaki, sang pujangga pahlawan nasional. Bagasi Masa Lalu Alkisah, seribu tahun silam, Rudaki sang pujangga Tajik cemas melihat raja junjungannya terlena pada kenyamanan hidup di kota Herat (kini wilayah Afghanistan) dan tampaknya akan melupakan takhta kerajaan di ibukota Bukhara. Kepada sang raja, Rudaki melantunkan puisi legendaris ini: Kucium semerbak harum Sungai Muliyan, Bangkitkan kenangan manis pada dia tercinta Gerunjal bebatuan Sungai Amu tajam meradak, Di telapak kakiku begitu lembut laksana sutra Puisi itu seketika membuat raja Nasr II dari Dinasti Samani bangkit dari duduknya, langsung meloncat ke punggung kuda bahkan lupa mengenakan sepatunya, memacu kuda dengan kecepatan penuh tanpa berhenti hingga mencapai ibukota tercinta: Bukhara. Itulah satu dari begitu banyak kisah menakjubkan tentang Rudaki yang saya dengar dari penduduk desa Panjrud. Desa tempat beradanya makam Rudaki ini terletak 55 kilometer di barat kota tua Panjakent, kota perbatasan Tajikistan yang pernah menjadi salah satu kota paling ramai di dunia pada masa keemasan Jalur Sutra. Desa ini berada di selatan aliran Sungai Zeravshan (namanya berarti “Penyebar Emas”), tersembunyi di balik lekukan pegunungan cadas di mana sejumlah perusahaan pertambangan emas dari China kini beroperasi. “Di sini semua orang, termasuk anak [...]

September 10, 2015 // 1 Comment

U-Mag (2010): Burkutchu-Si Pemburu Elang

Maret 2010: U-MAG Travel   Wajah Mongolia ini barangkali jauh dari bayangan banyak orang, tatkala Agustinus Wibowo merekamnya pada musim gugur lalu: sabana hijau beralih menjadi samudra salju, dan para pengelana berpindah dari kemah nomaden ke gubuk-gubuk kayu agar lebih hangat. Inilah negeri tempat tradisi ribuan tahun tetap hidup dengan jaya di dalam diri para pemburu serta elangelang raksasa yang merajai angkasa raya. Musim panas lewat diam-diam, meninggalkan jejak di padang rumput yang cokelat kekuningan. Mongolia—yang terkungkung di tengah daratan mahaluas—tiba-tiba sunyi dari hiruk-pikuk para pelancong. Semua wisatawan bergegas meninggalkan negeri itu di ambang musim gugur. Hawa dingin menjalar cepat dan sungguh tak bersahabat. Salju melumat seluruh negeri sejak pertengahan September. Suhu anjlok dari hari ke hari. Kehijauan padang rumput beralih menjadi samudra putih yang menggentarkan hati. Mongolia adalah tanah yang ramah, hangat, dan indah pada Juni hingga Agustus. Di musim panas singkat ini, matahari terbit di waktu subuh, bersinar terik sepanjang hari, dan terbenam menjelang tengah malam. Tapi musim gugur datang terlalu cepat, sebelum orang tanak menikmati sinar surya. Angin dingin dan salju September hanyalah ”pembuka” sebelum Mongolia mengarungi hari-hari dengan temperatur jauh lebih ganas: bisa minus 60 derajat Celsius. Embusan napas langsung menjadi es, darah membeku, pembuluh perih [...]

March 4, 2010 // 12 Comments