Recommended

Asia Tengah

[Detik.com] Liburan ke Asia Tengah Aman atau Tidak? Ini Dia Faktanya

Detik Jakarta – Masalah politik dan kriminalitas seakan mengaburkan keindahan wisata di Asia Tengah. Tapi bukan tidak mungkin liburan ke sana. Berikut faktanya. Lima negara Asia Tengah yang terdiri dari eks-Uni Soviet, yakni Kazakshtan, Kyrgyzstan, Tajikistan, Turkmenistan, Uzbekistan memang dikenal eksotis. Tapi masalah konflik politk dan kriminalitas yang muncul dalam pemberitaan membuat traveler berpikir ulang sebelum berkunjung. Dari Indonesia, ada penulis sekaligus petualang Agustinus Wibowo yang telah menyibak Asia Tengah dan menuliskan kisahnya dalam buku Garis Batas. Untuk mencari tahu aman tidaknya traveling ke Asia Tengah, detikTravel pun mewawancarai Agustinus Wibowo via telepon pada Rabu malam (26/10/2016). Secara geopolitik, dua dari lima negara Asia Tengah bertetangga dengan Afghanistan yang rawan konflik dan perang. Secara tidak langsung, ada pengaruh radikalisasi hingga terorisme dari negara Timur Tengah ke Asia Tengah. “Efek dari Timur Tengah sekarang ini memang sedkit terasa, jadi banyak pejuang dari Tajikistan, Uzbekistan yang bergabung ke ISIS. Bahkan Kyrgyzstan dan Kazakhstan ada. Jadi arus radikalisasi sudah merembet masuk ke Asia Tengah. Yang itu mereka cukup rawan. Tapi kalau secara general untuk traveling ke situ mungkin efeknya kita nggak akan terlalu berasa seperti itu ya,” jelas Agustinus. Agustinus pun menceritakan tentang konflik yang sempat terjadi di Fergana, Uzbekistan pada tahun 2004 [...]

November 6, 2016 // 3 Comments

[Detik.com]: Ada Apa di Asia Tengah? Ini Kata Penulis & Petualang Agustinus Wibowo

Menyibak Asia Tengah Johanes Randy Prakoso – detikTravel – Kamis, 27/10/2016 08:10 WIB Detik.com Jakarta – Membicarakan negara di Asia Tengah tentu tidak terlepas dari nama Agustinus Wibowo, penulis dan penjelajah asal Indonesia. Yuk mengenal Asia Tengah lebih jauh! Lahir di Lumajang Jawa Timur, tahun 1981, nama Agustinus Wibowo mungkin sudah dikenal publik dan traveler Indonesia secara luas lewat sejumlah tulisan perjalanannya yang mengisahkan cerita kemanusiaan dan perbatasan di negara Asia Tengah. Berbeda dengan dengan traveler kebanyakan, pria berdarah Jawa Tinghoa ini malah memiliki ketertarikan khusus akan negara Asia Tengah yang belum dikenal dan rawan isu politik. Tapi tentu bukan hanya itu, perbedaan bahasa hingga sulitnya akses visa ke negara Asia Tengah juga menjadi alasan. Namun tidak untuk Agustinus Wibowo. Untuk mendapat gambaran dan mengenal Asia Tengah lebih lanjut, detikTravel pun berbincang dengan pria yang akrab disapa Agus ini via telepon, Rabu (26/10/2016). Dari perjalananya di Asia Tengah, ada banyak hal menarik yang bisa disimak. “Konsep Asia Tengah itu sebenarnya berbeda-beda setiap definisi, ada yang menganggap Asia Tengah mulainya dari Mongolia, masuk ke China Barat dari Rusia, negara-negara pecahan Uni Soviet, kadang Afghanistan juga dimasukkan ke Asia Tengah. Jadi memang definisinya itu berbeda-beda, tapi sekarang kebanyakan orang menganggap asia tengah [...]

November 1, 2016 // 0 Comments

China dan Jalur Sutra Baru

China mempromosikan mimpi besar untuk membangun Jalur Sutra modern demi kemakmuran bersama. Apakah mimpi ini bisa terwujud, atau sekadar menjadi slogan utopia semata? Laporan untuk Visiting Program for Young Sinologist di Beijing, riset saya mengenai usulan China untuk membangun Jalur Sutra Baru. Jalur Sutra Abad Milenium Hampir 22 abad silam, Kaisar Han mengutus Zhang Qian mendatangi kerajaan Dayuan di Asia Tengah demi membentuk aliansi militer. Perjalanan ini kemudian melahirkan rute perdagangan legendaris Jalur Sutra. Berselang dua milenium, China sekali lagi mengajak negara-negara di sekelilingnya untuk bergabung dalam aliansi multinasional yang dijuluki Jalur Sutra Baru. Dalam kunjungan kenegaraan di Kazakhstan pada 7 September 2013, Presiden Xi Jinping mengusulkan pembangunan Sabuk Ekonomi Jalur Sutra (Silk Road Economic Belt). Berselang tiga minggu kemudian, di hadapan parlemen Indonesia di Jakarta, Xi mengemukakan konsep Jalur Sutra Maritim Abad ke-21 (21st Century Maritime Silk Road). Kedua konsep ini, yang digabungkan menjadi inisiatif Satu Sabuk dan Satu Jalur (OBOR), adalah desain akbar untuk menghubungkan negeri-negeri yang dilintasi rute perdagangan bersejarah itu, mulai dari Asia Tengah hingga Eropa dan Afrika, mulai dari Asia Tenggara hingga Jazirah Arab. Menurut data ADB, kebutuhan pendanaan pembangunan infrastruktur di Asia mencapai US$ 800 miliar setiap tahunnya. Sebagai negara dengan cadangan devisa terbesar [...]

October 5, 2015 // 3 Comments

Beijing 7 Juli 2015: China dan Jalur Sutra

Sebuah catatan dari Visiting Program for Young Sinologists, 7-24 Juli 2015 Ibn Battuta pernah menyusuri Jalur Sutra Laut dari Arab sampai ke Quanzhou di China Orang sering mengaitkan Jalur Sutra dengan peradaban China. Pemerintah China di abad ke-21 ini juga menggalakkan pembangunan “Jalur Sutra Baru”. Tetapi, menurut pakar sejarah Prof. Ge Jianxiong dari Universitas Fudan, dalam sejarahnya China justru lebih banyak mengabaikan Jalur Sutra. Istilah “Jalur Sutra” sendiri tidak pernah ditemukan dalam catatan sejarah China. Istilah ini pertama kali digunakan oleh ahli geografi Jerman pada akhir abad ke-19, Ferdinand von Richtofen, yang menyebut jalur perdagangan sepanjang 6.000 kilometer dari China sampai ke negeri Romawi itu sebagai “Seidenstraße” atau “Jalan Sutra”. Dalam bahasa Indonesia, kita menyebutnya sebagai “jalur” bukan “jalan”, karena lintasan ini bukan hanya berupa satu jalan melainkan beratus lintasan yang bercabang-cabang. Selain itu, lintasan bukan berupa jalan besar, tetapi kebanyakan berwujud hanya jalan setapak bagi karavan. Setelah orang Barat dan Jepang banyak meneliti sejarah Dunhuang dan daerah-daerah di China Barat yang dilintasi Jalur Sutra, barulah China mulai menaruh perhatian pada Jalur Sutra. Mengapa demikian? Prof. Ge Jianxiong dalam presentasinya kepada kami pada pertemuan Sinologis Muda di Beijing ini menjawab dengan tegas, “Karena di mata China, Jalur Sutra itu tidak [...]

September 29, 2015 // 2 Comments

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (6)

Serial artikel Tajikistan untuk Chinese National Geography. Patroli tentara Kirgiz di daerah perbatasan Tajikistan. Pulau di Tengah Daratan Tujuh kilometer di selatan desa-desa “papan catur”, ada sebidang tanah Tajikistan sepenuhnya dikelilingi Kirgizstan. Vorukh terpisahkan dari “daratan utama” Tajikistan oleh sebuah desa Kirgizstan bernama Ak-Sai. Untuk mencapai Vorukh, secara teori orang harus keluar dari Tajikistan, masuk Kirgizstan, keluar Kirgizstan lalu masuk lagi ke Tajikistan. Tetapi tidak ada portal perbatasan antara kedua negara di daerah ini, sehingga dari Tajikistan orang bebas pergi ke Vorukh dengan melintasi wilayah Kirgizstan. Semakin mendekati Vorukh, saya merasakan aroma ketegangan semakin kuat. Sopir sangat gelisah melihat kamera saya, berulang kali memperingatkan, “Jangan ambil foto dari wilayah Kirgizstan. Kami berperang dengan orang-orang ini.” Warga Vorukh pun sangat mewaspadai kehadiran saya yang jelas orang asing. “Kamu orang asing pertama yang datang ke sini,” kata Husein Nodirov, seorang lelaki pemilik warung, “Bagaimana saya bisa tahu kamu orang baik-baik?” Saya butuh dua jam untuk meyakinkan Husein sampai dia setuju menampung saya di rumahnya dan melindungi saya dari polisi yang sangat mungkin akan menginterogasi saya. Wilayah Vorukh berupa perbukitan, yang mengawali barisan Pegunungan Turkistan yang menjadi batas selatan Lembah Ferghana. Di pusat Vorukh yang berjarak lima kilometer dari perbatasan, orang akan melihat [...]

September 17, 2015 // 0 Comments

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (5)

Serial artikel Tajikistan untuk Chinese National Geography. Arka adalah sepotong Kirgizstan di tengah Tajikistan Garis Batas yang Tanpa Garis Batas Jalan raya A376 yang menghubungkan kota Khujand menuju Kanibadam sekilas terlihat seperti jalan raya biasa, beraspal mulus dan cukup lebar, merupakan urat nadi bagi kota-kota di Tajikistan Utara. Namun, berbeda dengan informasi pada peta mana pun, sebagian dari jalan ini adalah perbatasan antara Tajikistan dan Kirgizstan. Di kota Histervarz, 20 kilometer dari Khujand, sebelah kiri jalan adalah Tajikistan dan sebelah kanan jalan adalah Kirgizstan. Tulisan yang ada di rumah-rumah di sebelah kiri adalah bahasa Tajik, sedangkan di sebelah kanan adalah bahasa Kirgiz. Sedangkan mobil-mobil yang berlalu lalang di jalan menggunakan plat nomor bergambar bendera Tajikistan maupun Kirgizstan. Saya turun di sisi kanan jalan. “Ini Kirgizstan?” tanya saya kepada seorang pedagang semangka yang jelas orang Tajik, dalam bahasa Tajik. “Ya, ini Kirgizstan,” jawabnya, “Seberang jalan sana Tajikistan.” “Orang Tajik boleh berjualan di Kirgizstan?” “Tidak masalah. Tapi saya punya paspor Kirgizstan,” katanya. Rumah Umedjon terletak di kampung di belakang, di sisi kanan jalan. Dia bilang, dia terpaksa masuk kewarganegaraan Kirgizstan, karena kalau tidak, dia harus pindah rumah. Sekarang di sini memang tidak ada perbatasan, orang Tajik maupun Kirgiz bebas bepergian seolah ini [...]

September 16, 2015 // 2 Comments

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (4)

Serial artikel Tajikistan untuk Chinese National Geography. Para pekerja China membanjiri Tajikistan. Selatan dan Utara Realita kehidupan Tajikistan sebenarnya ada di bagian barat negeri, di dataran yang walaupun tak sampai 7 persen luas wilayahnya, dihuni mayoritas penduduknya sehingga kota-kotanya sangat padat. Namun ada hal yang selalu sama: kehidupan di sini tidak pernah terlepas dari dua sekat—garis batas dan gunung. Bentuk negara Tajikistan begitu canggung di atas peta. Tajikistan seperti memiliki sebuah “kepala” kecil di utara yang dihubungkan dengan bagian badan di selatan oleh sebuah leher sempit yang terlihat begitu rapuh. Kenyataannya memang hanya ada satu-satunya jalan, menembus Pegunungan Fan dan Pegunungan Turkistan, yang menghubungkan ibukota Dushanbe di sisi selatan dengan kota terbesar kedua Tajikistan yang terletak di utara, Khujand. Khujand, yang pusat kotanya dihuni orang Tajik tetapi dikelilingi desa-desa orang Uzbek, semula adalah wilayah Uzbekistan yang baru belakangan ditambahkan ke Republik Soviet Sosialis Tajikistan yang akan berdiri. Dulu, ketika masih berada di bawah Uni Soviet, jalan mulus yang menghubungkan Dushanbe dengan Khujand melewati dataran rendah Samarkand—kini wilayah Uzbekistan. Setelah kedua negara merdeka, Uzbekistan menutup perbatasannya untuk kendaraan Tajikistan (beserta warganya). Karena itu, untuk bepergian di antara kedua kota itu, warga Tajikistan terpaksa bersusah-payah mendaki dan melewati dua celah gunung raksasa: [...]

September 15, 2015 // 0 Comments

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (3)

Serial artikel Tajikistan untuk Chinese National Geography. Masa lalu yang belum sepenuhnya berlalu Dimensi Mimpi Di seberang sungai sana, orang Afghan sering mengatakan kepada saya betapa bagus kehidupan Tajikistan. Jalan ada, listrik ada, mobil ada, perempuan ada, sekolah, pasar, rumah sakit semua ada. Itu dunia yang sempurna. Tetapi berada di sisi Tajikistan sini, barulah saya menyadari bahwa realita tidak seindah apa yang mereka impikan dari seberang sana. Di daerah pegunungan terpencil ini, bensin adalah barang langka. Seorang sopir mengatakan sudah dua bulan ini mobilnya tidak beroperasi sama sekali karena tidak ada bensin. Tiga hari menunggu di Langar barulah saya mendapat tumpangan melanjutkan perjalanan. Mobil kami tidak melulu mengikuti aliran sungai yang menjadi penanda perbatasan Afghanistan, tetapi berbelok menuju Pamir Highway di utara. Celah Khargush, pada ketinggian nyaris 4.000 meter, adalah rintangan terberat. Khargush terletak di dekat Danau Zor Kol, salah satu sumber Sungai Amu Darya. Danau ini juga menjadi perbatasan dengan Afghanistan, sehingga merupakan daerah sensitif dan terdapat pos pemeriksaan militer yang cukup besar. Tak lama setelah melintasi Celah, pemandangan tiba-tiba berubah. Dari tebing gunung yang terjal, sekarang menjadi padang hijau yang datar dan luas. Di kejauhan, terbentang barisan gunung bertudung salju dengan lekuk kurva nyaris membundar. Inilah Pamir yang [...]

September 14, 2015 // 1 Comment

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (2)

Serial artikel Tajikistan untuk Chinese National Geography. Sungai Amu Darya, selebar 20 meter, memisahkan Afghanistan dan Tajikistan di kedua sisinya seabad jauhnya. Kerinduan dari Seberang Sungai Gambaran fisik Tajikistan yang paling gamblang dalam imaji kebanyakan orang tentu adalah gunung-gunung tinggi bertudung salju menggapai angkasa. Tidak salah memang. Belahan timur Tajikistan adalah kawasan pegunungan Pamir yang hampir seluruhnya berada di atas ketinggian 3.000 meter, dan dijuluki dengan sangat romantis: Atap Dunia. Jalan beraspal M-41 (dikenal juga sebagai “Pamir Highway”) yang bertabur lubang dan meliuk-liuk di tepi jurang pegunungan cadas yang nyaris tegak lurus ini menghubungkan Dushanbe dengan Pamir. Nama wilayah ini sebenarnya adalah Provinsi Otonomi Pegunungan Badakhshan, atau lebih dikenal dengan singkatan bahasa Rusia: GBAO. Luasnya sekitar 45 persen luas Tajikistan, tetapi populasinya hanya 5 persen penduduk nasional. Jip Rusia kami menyusuri jalan sempit sepanjang tepian Sungai Amu Darya, garis batas alami antara Tajikistan dengan Afghanistan. Lembah sungai tidak terlalu lebar, siapa pun bisa melihat dengan jelas kehidupan di negeri seberang sana. Paralel dengan jalan yang kami lewati di Tajikistan ini adalah sebuah jalan setapak sempit berdebu yang menanjak dan menukik mengikuti punggung pegunungan, tepat di tepi sungai yang bergolak hebat. Seorang pria Afghan beserban terlihat berjalan tertatih-tatih, menggeret keledai malas [...]

September 11, 2015 // 9 Comments

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (1)

Serial artikel Tajikistan untuk Chinese National Geography. Para tentara Tajikistan memberikan penghormatan kepada Rudaki, sang pujangga pahlawan nasional. Bagasi Masa Lalu Alkisah, seribu tahun silam, Rudaki sang pujangga Tajik cemas melihat raja junjungannya terlena pada kenyamanan hidup di kota Herat (kini wilayah Afghanistan) dan tampaknya akan melupakan takhta kerajaan di ibukota Bukhara. Kepada sang raja, Rudaki melantunkan puisi legendaris ini: Kucium semerbak harum Sungai Muliyan, Bangkitkan kenangan manis pada dia tercinta Gerunjal bebatuan Sungai Amu tajam meradak, Di telapak kakiku begitu lembut laksana sutra Puisi itu seketika membuat raja Nasr II dari Dinasti Samani bangkit dari duduknya, langsung meloncat ke punggung kuda bahkan lupa mengenakan sepatunya, memacu kuda dengan kecepatan penuh tanpa berhenti hingga mencapai ibukota tercinta: Bukhara. Itulah satu dari begitu banyak kisah menakjubkan tentang Rudaki yang saya dengar dari penduduk desa Panjrud. Desa tempat beradanya makam Rudaki ini terletak 55 kilometer di barat kota tua Panjakent, kota perbatasan Tajikistan yang pernah menjadi salah satu kota paling ramai di dunia pada masa keemasan Jalur Sutra. Desa ini berada di selatan aliran Sungai Zeravshan (namanya berarti “Penyebar Emas”), tersembunyi di balik lekukan pegunungan cadas di mana sejumlah perusahaan pertambangan emas dari China kini beroperasi. “Di sini semua orang, termasuk anak [...]

September 10, 2015 // 1 Comment

Titik Nol 182: Pilar Dunia

Makam Rukni Alam (AGUSTINUS WIBOWO) Kota kuno Multan adalah salah satu dari tempat-tempat di negeri Pakistan yang pertama kali dirambah Islam dalam ekspedisi yang dipimpin oleh Mohammad bin Qasim. Sekarang kota ini tetap menjadi kota penting di mana ribuan peziarah datang dari seluruh penjuru negeri ke puluhan makam suci yang bertaburan. Syahdan, Multan adalah bagian sebuah kerajaan Brahmin yang beribukota di Brahmanabad (kota Brahmin), sekarang di wilayah propinsi Sindh. Yang memerintah adalah Raja Dahir, putra Chach. Walaupun yang memerintah adalah orang Hindu, tetapi penduduknya mayoritas beragama Budha. Orang Arab waktu itu melihat banyak patung pemujaan milik orang Budha, lalu mendapat kosa kata budd – dari nama Budha – untuk menyebut ‘patung’. Kata budd yang berarti patung ini masih dipakai dalam bahasa Urdu di Pakistan. Pasukan Muhammad bin Qasim dari dinasti Ummayyah pertama-tama menaklukkan kota Daibul, kemudian ibu kota Brahmanabad, terus ke utara hingga Sukkur di perbatasan Sindh, masuk ke Punjab ke kota Multan – kota tertua dalam sejarah Asia Selatan. Waktu itu kota Multan dipenuhi berbagai kuil emas pemujaan dewa matahari Aditya. Perlahan-lahan suku-suku Sindh dengan sukarela memeluk Islam. Walaupun dalam suasana perang dan masih pada zaman ribuan tahun silam, kebebasan beragama benar-benar dihormati. Orang Budha dan Brahmin yang tidak [...]

May 5, 2015 // 2 Comments

Titik Nol 104: Terkapar di New Delhi

Stasiun kereta api Chhatrapati Shivaji Terminus (AGUSTINUS WIBOWO) Tak ada jalan lain bagi saya untuk segera kembali ke Delhi. Penyakit kuning yang saya derita semakin parah. Tubuh saya lemas. Tetapi Delhi lebih dari seribu kilometer jauhnya, dua puluh empat jam perjalanan yang berat dengan kereta. “Mungkin kamu harus pulang, Gus, jangan memaksakan perjalanan ini,” saran seorang teman dari Jakarta. “Hepatitis, itulah keadaan di mana banyak backpacker mengakhiri pengembaraannya,” seorang kawan backpacker senior dari Inggris menulis email. “Hepatitis adalah penyakit di mana seorang harus istirahat, bed rest total, satu bulan penuh minimal. Sebaiknya memang kamu pulang,” tulis yang lain. Tetapi saya tak mau berakhir di sini. Saya tak mau menyerah dengan penyakit ini. Dari sekian banyak surat dari kawan, hanya satu yang menyemangati saya untuk terus maju. “Jangan menyerah, Gus. Maju terus. Gue yakin kamu pasti bisa,” tulis Andi Lubis, seorang wartawan senior di Medan. Sepatah kalimat pendek itu yang membuat saya terus bertahan. Saya yakin saya pasti bisa, mencapai cita-cita saya melihat ujung dunia. Saya tak gentar perjalanan panjang kereta api menuju New Delhi. Saya harus segera sampai ke Pakistan, di mana gunung-gunung salju pegunungan Himalaya dan Karakoram akan menjadi tempat saya beristirahat. Hati saya dipenuhi segala macam rancangan, impian, [...]

January 15, 2015 // 7 Comments

Selimut Debu 74: Everything is Wrong in Afghanistan

Yang membuat aku lebih marah lagi adalah, ternyata aku sendirian di tengah kerumunan orang-orang pasar ini. Tidak ada yang menolongku berbicara. Si orang Tajikistan yang tadi bersamaku sudah kabur entah ke mana, mungkin mengira aku adalah orang yang penuh masalah. Kemarahanku yang lebih besar adalah, sesungguhnya ada beberapa orang asing di pasar ini. Ada Arnault, ada aku, ada pula si orang Tajikistan, juga kalau tidak salah ada orang India. Tapi mengapa hanya aku satu-satunya yang dikerumuni orang, diperiksa pasporku dengan tidak profesional dan tanpa tujuan? Dan gara-gara pemeriksaan tadi, aku ketinggalan kendaraan menuju Faizabad (Aku tidak mau menginap di Baharak, terima kasih!). Sekarang aku harus mencari lagi kendaraan yang sudah penuh penumpang. Aku sudah tidak tahu semarah apa aku jadinya, ketika tiba-tiba sebuah tangan keras mencengkeram pundakku. Tangan dari seorang lelaki berseragam yang lebih mirip seragam satpam. Aku harus ke kantor, katanya. Tentu aku menolak. Aku hanyalah turis yang menunggu bus, dan sekarang aku menjadi pusat perhatian begitu banyak orang-orang bosan di jalanan, dan menjadi objek permainan para polisi yang sebenarnya tidak mengerti apa itu paspor dan apa tulisan di atas paspor asing. Seorang lelaki berbahasa Urdu berbisik di telingaku. “Menurut sajalah. Tenang, ikuti kata mereka. Koi zabardasti nehi. Tidak [...]

February 6, 2014 // 0 Comments

Selimut Debu 73: Hadiah Ulang Tahun

Setelah perjuangan panjang dari Qala Panjah menuju Ishkashim (yang di luar dugaan, memakan waktu sampai tiga hari karena parahnya transportasi!), aku berjuang untuk melanjutkan perjalanan ke arah barat, moga-moga bisa mencapai Kedutaan Indonesia di Teheran untuk merayakan Hari Kemerdekaan 17 Agustus. (Nasionalisme? Mungkin ini gara-gara perbincangan dengan Arnault sebelumnya). Lagi pula, hari ini 8 Agustus adalah hari ulang tahunku yang ke-25. Semoga saja hari ulang tahun ini melimpahiku dengan keberuntungan. Amin. Jadi hari ini, kami berdua berangkat menuju Baharak, di mana aku bisa mendapat kendaraan menuju Faizabad, dan Arnault berbelok ke utara ke arah Danau Shewa. Orang Afghan ini punya konsep waktu yang aneh. Ketika kami masih sarapan jam 6 pagi, sopir memburu-buru kami katanya mobil segera berangkat. Tetapi setelah kami duduk manis di mobil, satu jam kemudian mesin baru dinyalakan dan dua jam kemudian kami baru meninggalkan Ishkashim. Matahari sudah sangat tinggi sedangkan perjalanan ke Baharak memakan waktu minimal tujuh jam. Sekarang semua berbalik arah. Dulu waktu berangkat dari Baharak ke Ishkashim, Baharak terasa seperti kota pasar yang membosankan tapi jalanannya teramat indah. Sekarang, sepulang dari Wakhan, jalanan bergunung-gunung ke Baharak terasa sangat datar, tetapi Baharak dengan barisan toko-tokonya terasa seperti metropolitan New York. Warung-warung, kios, pedagang asongan, penyemir [...]

February 5, 2014 // 0 Comments

Selimut Debu 72: Nilai Ke-Afghanistan-an

Aku berusaha keras menghindari Bakhtali. Tapi untunglah, kami berjalan dengan kecepatan yang jauh berbeda. Aku merayap lambat menyisir bebatuan, sementara dia melesat kilat seperti anak panah. Dalam kesendirian, aku menikmati pemandangan perbatasan yang begitu menakjubkan ini. Di sebelah kananku Tajikistan, di sebelah kiriku Pakistan, aku ada di tengah Koridor Wakhan yang sempit dan termasyhur itu. Tetapi kesepian ini sungguh menakutkan. Sepi yang sesepi-sepinya, selain suara angin dan debur arus sungai. Tak ada lagi orang lain yang bisa kumintai pertolongan, apalagi karena kedua kakiku semakin sakit karena berjalan terlalu jauh. Aku mulai berjalan pukul 1 sore, dan setelah dua jam berjalan kedua kakiku hampir lumpuh. Aku hanya bisa berjalan, dan terus berjalan, karena tidak ada pilihan lain. Tidak ada desa sama sekali di antara Aorgarch dengan Qala Panjah. Yang kulihat hanya ada tiga orang gembala, dan tidak ada manusia lainnya barang satu pun. Ah, andaikan saja ada jembatan yang menghubungkan jalanan ini dengan jalanan beraspal di seberang sungai sana. Tentu dengan mudah aku menumpang kendaraan bermotor, tanpa harus bersusah-payah seperti ini. Tapi… itu cuma mimpi. Yang di seberang sana, walaupun terlihat dekat, adalah tanah tak tergapai. Negara lain. Dunia lain. Ada garis batas tak tertembus. Setelah empat jam berjalan, langit sore [...]

February 4, 2014 // 2 Comments

Selimut Debu 71: Petualangan Sebuah Traktor

Di tempat seperti ini, kita tidak bisa pergi kapan pun kita suka. Transportasi sangat terbatas, dan aku hanya bisa menggantungkan jadwal perjalananku pada tumpangan. Untungnya, hari ini Juma Khan kebetulan mau ke Khandud karena ada urusan, jadi aku bisa menumpang traktornya sampai ke Khandud. Kesempatan ini tidak datang setiap hari. Walaupun kakiku masih sakit gara-gara berjalan kaki 40 kilometer beberapa hari lalu, dan aku sebenarnya masih ingin tinggal lebih lama di Kret barang dua hari lagi, aku memutuskan untuk ikut. Para penumpang gratisan ternyata juga bukan aku saja. Ada beberapa warga desa Kret yang juga gembira ada transportasi ke desa tetangga. Bahkan Bakhtali si moalem juga ikut menumpang. Ini karena jalanan di sepanjang sisi selatan Sungai Wakhan sangatlah susah dilewati kalau berjalan kaki, karena banyaknya sungai besar. Juma Khan tidak memungut bayaran apa pun. Tolong-menolong sesama manusia adalah jalan hidup di Wakhan. Di sini, kita tidak mungkin hidup sendiri. Toh kita juga pasti akan membutuhkan bantuan mereka. Jalanan sesudah Desa Baba Tangi juga kebanjiran, yang airnya sampai sedalam pinggang. Saking dalamnya, kami para penumpang harus melemparkan batu ke dalam air supaya traktor bisa lewat. Selanjutnya adalah jalanan mendaki yang sangat terjal ke atas bukit. Traktor kosong yang kurang beban ini [...]

February 3, 2014 // 5 Comments

Selimut Debu 70: Saudara Sebangsa

Para pria Pakistan ini memang katanya datang ke sini untuk membawa perubahan. Lihat celana modern dan jaket-jaket bulu yang mereka pakai. Coba dengarkan gemeresik radio yang mereka putar. Belum lagi mulut-mulut yang bercakap bahasa Inggris dengan fasih. Faizal-ur-Rahman, Juma Khan, dan yang lain-lainnya, datang dari Chapursan di Pakistan di balik gunung sana. Mereka menganut Islam Ismaili yang sama, bicara bahasa yang sama, tetapi betapa modernnya orang-orang ini di mata penduduk desa. Kelima belas orang ini umumnya adalah tukang batu dan tukang bangunan. Tugas mereka adalah membangun gedung sekolah di desa, proyek dari Central Asia Institute, sebuah NGO yang katanya cukup bermasalah. Ada yang menatah batu, ada yang mengangkut dengan traktor. Ada yang mengaduk semen, ada yang memasang tembok dan jendela. Penduduk desa kadang ikut membantu menyiapkan teh dan makanan kecil. Semua tidak sabar ingin melihat gedung sekolah mungil ini cepat selesai. Sekarang, anak-anak masih harus berjalan kaki empat kilometer untuk sampai di sekolah tenda berlogo UNICEF. Bukan berarti orang Wakhan miskin-miskin. Ada cukup banyak pula orang kaya di sini. Akimboy salah satunya. Juga Bulbul, yang rumahnya di bawah bayang-bayang puncak salju Baba Tangi. Nama Bulbul memang berarti burung bulbul. Ternaknya ada ratusan. Dua adik Bulbul sekarang tidak tinggal di desa. [...]

January 31, 2014 // 5 Comments

Selimut Debu 69: Terkunci Waktu

Waktu berjalan sekehendaknya, kadang cepat, kadang lambat. Musim panas, musim dingin datang silih berganti. Dan tak ada yang peduli. Coba tanyakan kepada orang-orang dari Dusun Kret ini, berapa musim panas yang telah berlalu dalam hidup mereka. Tak banyak yang tahu jawabnya. Si bocah pemungut kotoran kambing dengan bangga berkata umurnya sudah tiga setengah tahun. Anaknya tangkas, sudah bisa memanjat pohon dan meloncati batu di tepi jurang. Di mataku setidaknya ia pasti sudah berumur sepuluh tahun. Rajabmat mengaku 95 tahun. Kepalanya sudah ditumbuhi rambut-rambut putih. Bahkan daun telinganya pun berbulu putih. Dengan angka 95 itu, ia sudah menjadi orang yang paling tua yang pernah kutemui di desa ini. Tetapi angka itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Siapa yang percaya? Orang bilang, Tila Khan adalah kakek paling tua di seluruh desa. Tetapi Tila Khan bilang “baru” berumur 80 tahun. Bagaimana membuktikannya? Akte kelahiran? Ah, itu barang dari dunia lain. Lembah ini hidup dalam dimensi waktunya sendiri. Sehari. Seminggu. Sebulan. Setahun. Sepuluh tahun. Tak ada bedanya. Masih musim panas yang itu-itu juga. Masih musim dingin yang sama menggigitnya. Waktu seakan tak pernah menggeser kehidupan di sini. Terperangkap. Terlupakan. Krek… krek… krek…. Derik bergema dalam kamar batu gelap. Zaman yang mana lagi ini, pikirku. [...]

January 30, 2014 // 1 Comment

Selimut Debu 68: Agama Kita Adalah Kemanusiaan

Terkadang aku lupa, ini adalah Afghanistan. Di sini tidak ada burqa, dan kaum perempuan begitu bebas bercengkerama di jalanan. Burqa tidak dikenal dalam kamus Bakhtali. Ia masih sering keseleo lidah menyebut kata itu, ”Bur-qa atau buq-ra? Apa sih namanya?” Bakhtali hanya tahu kata chadri, padanan kata burqa yang lebih banyak digunakan di sini. Bagi perempuan Ismaili di Wakhan, chadri sungguh adalah barang yang asing, namun terkadang mereka tak bisa menghindarinya. Bibi Sarfenaz, misalnya, pekerja sosial di Wakhan, selalu membawa chadri ke mana-mana. Ia adalah wanita tangguh, mengunjungi rumah-rumah penduduk di Desa Kret untuk survei. Ia bekerja untuk organisasi sosial milik Aga Khan. Dengan pengalaman kerjanya yang bertahun-tahun di wilayah umat Ismaili di Pakistan, kini ia kembali bekerja di kampung halamannya di Wakhan. “Orang Ismaili adalah pecinta kebebasan. Dan sudah seharusnya ada kebebasan terhadap perempuan, karena perempuan itu sejajar dengan laki-laki.” Bibi Sarfenaz berapi-api. Di Afghanistan, perempuan Sunni tidak pergi ke masjid. Tetapi kaum perempuan Ismaili bersama-sama dengan kaum prianya juga pergi beribadah di jemaatkhana, rumah ibadah orang Ismaili, tiga kali sehari. “Tetapi, kami juga terkadang harus memakai burqa,” lanjut Bibi Sarfenaz, ”yaitu ketika kami pergi ke kota. Di kota banyak orang-orang Sunni. Kalau tidak pakai burqa, mereka bilang darah kami [...]

January 29, 2014 // 11 Comments

Selimut Debu 67: Halusinasi

Asap mengepul dari pojok ruangan gelap rumah Bakhtali. Sumbernya bukan dari dapur atau perapian, melainkan dari sebuah pipa melengkung berbentuk tanda tanya. Seorang kakek tua berbaring di ruangan, mengisap dalam-dalam sambil meresapi kenikmatan pipa. Bakhtali mengambil tempat di sebelah kakek tua. Ia ikut menggerus sesuatu hingga menjadi bubuk, kemudian ditaruh dalam pipa, dan diisap asapnya. Aku bertanya, apa itu. “Taryak,” jawab Bakhtali kalem. Opium. Orang-orang Ismaili dari Lembah Wakhan ini memang dikenal akan tradisi mengisap opium. Aku sempat terkejut mencium aroma menusuk yang memualkan kini memenuhi seluruh ruangan. Si kakek tua terbaring menikmati surganya. Istri Bakhtali hanya duduk, di dekat perapian, mengamati teman suaminya yang tampaknya sudah langganan ke rumah ini. “Ini taryak,” kata Bakhtali sekali lagi, ”tapi percayalah. Aku tak akan mengisapnya. Ini barang jahanam.” Kakek tua mengisap dalam-dalam, menyemburkan asapnya ke arah Bakhtali. Bakhtali gelagapan. Godaan aroma asap itu menjebol daya tahannya. Tangannya gemetar. Ia meraih pipa tanda tanya itu dari kakek tua yang masih terbaring. Perlahan-lahan diisapnya, perlahan-lahan diembuskannya. “Aku tak akan mengisapnya. Ini barang jahanam,” ia masih berkata. Detik berikutnya ia sudah lupa ucapannya sendiri. Yang ada hanya ritual isap dan embus. Pufff…. Pufff…. Bergantian dengan kakek tua itu. Istri Bakhtali hanya merangkul kedua anak mereka, [...]

January 28, 2014 // 2 Comments

1 2 3 7