Recommended

Belanda

Ikan Makan Ikan

Andai saja Republik Maluku Selatan (RMS) berhasil merdeka, Docianus Ony Sahalessy tentunya akan menjadi pahlawan nasional. Dia pencipta lagu kebangsaan RMS, Maluku Tanah Airku. Sepuluh tahun hidup dia bergerilya di hutan-hutan melawan kepungan tentara Indonesia, demi cita-cita tanah air Maluku merdeka. Kini lelaki 78 tahun itu tinggal di Belanda, hidup bersahaja dengan tunjangan sosial minimum dari pemerintah Belanda. Saya menemuinya di kota kecil Assen, di bagian utara Belanda, dalam sebuah rumah perawatan warga lansia. Sudah dua bulan Bung Ony sakit, baru saja menjalani operasi karena kesehatan semakin memburuk di usia senja. Badannya kecil, bungkuk dan ringkih, langkahnya tertatih-tatih. Suaranya terombang-ambing. Matanya menerawang jauh, terkadang berkaca-kaca, ketika saya, yang datang dari negeri yang pernah dia perangi, mengajaknya menyusuri kenangannya tentang tanah air. Maluku, tanah air Bung Ony, adalah untaian pulau-pulau kecil di bagian timur Indonesia. Dikenal sebagai Kepulauan Rempah, Maluku menghasilkan beragam rempah eksotis yang dulu teramat bernilai di Eropa. Maluku menjadi incaran bangsa-bangsa Barat yang menjelajah samudra, mengawali dominasi berabad kolonialisme Belanda di bentangan kepulauan yang kini kita kenal sebagai Indonesia. Belanda kemudian banyak merekrut serdadu dari Maluku Selatan untuk dibawa bertempur dalam pendudukan di pulau-pulau lain di Indonesia. Saat itu Bung Ony masih kecil. Kakeknya adalah mantan serdadu Belanda, [...]

May 10, 2017 // 8 Comments

Moengo, 17 Desember 2016: Sarijo Moeljoredjo, Imigran Jawa Terakhir di Moengo

Gurat tulang-belulang tampak jelas di sekujur tubuh renta Sarijo Moeljoredjo. Tetapi matanya masih bersinar cemerlang, gerakan tubuhnya cekatan. Pada usia menginjak 96 tahun ini, Mbah Sarijo (baca: Saryo) setiap hari masih bekerja di kebun pisang di belakang rumah. Sehari-hari pun dia kuat bersepeda keliling kota. Tetapi yang luar biasa, ingatannya masih sangat tajam manakala dia mengurai setiap detail perjalanan hidupnya. Dialah orang tertua sekaligus saksi hidup terakhir di kota Moengo, satu dari 32.962 orang Jawa yang pernah diangkut dengan kapal oleh Belanda ke Suriname. “Aku lahir di Desa Puluan,” kata Mbah Sarijo memulai kisahnya, “Itu ada di Negara Jawa. Tetapi aku tak tahu pasti di mana itu.” Mbah Sarijo bercerita dalam bahasa Jawa Ngoko yang kental, bercampur banyak kosakata Belanda dan Sranan Tongo (bahasa kreol Suriname). “Sebelum berangkat, Pak dan Mak-ku pisah, aku ikut Pak, mbakyuku ikut Mak. Pak-ku dulu kerja susah, di kebun, tidak ada kerja, tidak ada uang. Setahun itu kerja cuma tanam tebu dan padi, disuruh Belanda,” lanjutnya. Karena kemiskinan dan impian untuk hidup lebih baik, bapaknya yang bernama Moeljoredjo itu memutuskan untuk menjadi pekerja ke Suriname, dengan membawa istri baru dan anak lelakinya. Berdasar informasi dalam basis data Arsip Nasional Belanda, saya menemukan bahwa Sarijo lahir [...]

December 23, 2016 // 43 Comments

Den Haag, 24 November 2016: Djainem Moeridjan, Dukun Jawa di Belanda

Sudah hampir 30 tahun orang Jawa bermigrasi dari Suriname ke Belanda. Seiring waktu, tradisi Jawa semakin memudar, perlahan menghilang. Tidak banyak lagi dukun Jawa yang masih bisa melakukan ritual sebagaimana diwariskan leluhur turun-temurun. Tak heran, walaupun Mak Djainem Moeridjan sudah berusia 83 tahun, dia masih sibuk bepergian dari kota ke kota di seluruh penjuru Belanda untuk memenuhi panggilan. Dengan jadwal praktik yang begitu padat, cukup sulit membuat janji temu dengan Mak Djainem. Beruntung, dengan bantuan Ibu Hariette Mingoen—seorang aktivis diaspora Jawa Suriname, saya berhasil menemui Mak Djainem di kompleks apartemen khusus warga lanjut usia Jawa Suriname yang dinamai Wisma Tunggal Karso. Saya langsung merasakan keramahan khas Jawa begitu Mak Djainem membuka pintu rumahnya—kalimat pertamanya adalah permohonan maaf. “Jangan jadi penggalih kalau rumahku agak kotor,” katanya dalam bahasa Jawa Ngoko yang sangat kental. Kisah hidup Mak Djainem berasal dari tanah Jawa. Ayahnya saat itu masih perjaka, sedangkan ibunya semula adalah seorang istri yang sudah punya anak dua. Pada 15 Oktober 1918, mereka bersama-sama naik Kapal Karimata, sebagaimana hampir 600 penumpang yang lain, berangkat dari Semarang menuju Paramaribo, Suriname. Mereka di kapal yang sama, tetapi tidak saling mengenal. Ayah Mak Djainem sebenarnya bernama Satirin, 21 tahun, berasal dari Ngadiluwih, Kediri, naik kapal [...]

December 20, 2016 // 16 Comments

Groningen, 26 November 2016: Kisah Maluku di Negeri Belanda

Lelaki Maluku itu berdiri di atas panggung. Dengan suara bergetar, dia mengisahkan sebuah memori mengerikan tentang pamannya—seorang tentara KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) dari Maluku yang ikut aksi militer Belanda tidak lama setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Pamannya itu, saat itu adalah tentara muda berusia 18 tahun yang menjadi anggota korps elit Baret Hijau di bawah komando Raymond Westerling. Soal kekejaman Westerling dalam pembantaian ribuan orang di Sulawesi pada tahun 1946-1947 itu sudah menjadi pengetahuan umum. Pasukan mereka menyerang desa-desa, membunuhi semua yang ada: laki-laki, perempuan, tua, muda, anak dan bayi, bahkan semua ayam dan sapi, dan setelah itu mereka membumihanguskan desa. Sang paman, sebagai tentara yunior, mendapat ujian dari para senior. Di hadapannya satu orang Indonesia duduk berlutut dengan tangan terikat. “Tebas kepalanya!” perintah komandan, sambil menyerahkan kelewang. Tentara muda itu mengacungkan kelewang, tangannya bergetar hebat, tak sanggup dia mengayunkan kelewang itu. Tetapi, dikelilingi para komandan, dia tak punya pilihan. Trauma itu dibawa sang paman hingga ke masa tuanya. Di Belanda, ketika traumanya bangkit, dia berhalusinasi bahwa orang-orang Indonesia datang menyerangnya. Dia berteriak-teriak sendiri di kamar atas, menenggak alkohol, menaruh semua parang di depan pintu. Dia berteriak pada istri dan anak-anaknya, “Jangan naik! Ikan makan ikan!”—saudara bisa bunuh saudara. Ini [...]

December 3, 2016 // 6 Comments

Leiden, 20 November 2016: Diaspora Jawa Suriname Menyoal Makna Menjadi Jawa

“Apakah yang menjadikan Anda orang Jawa?” Pertanyaan itu diajukan pembawa acara kepada Johan Reksowidjojo, pemimpin Forum Javanen in Diaspora Nederland (JID-NL), atau Forum Orang Jawa dalam Diaspora di Belanda. Lelaki paruh baya itu terhenyak. Rupanya dia tidak menduga akan ditembak pertanyaan yang menohok itu, tepat setelah dia selesai membacakan sambutan pembukaan pada acara diskusi Identitas Orang Jawa (Suriname): Antara Pelestarian dan Pembaharuan. Merenung sejenak, sambil tertawa terkekeh Johan akhirnya menjawab, dia menjadi Jawa karena orangtuanya adalah orang Jawa, dia makan makanan Jawa, dan dia hidup secara orang Jawa. Tetapi, cukupkah itu untuk membuat seseorang menjadi Jawa? Acara diskusi ini digelar di Museum Volkenkunde, Leiden, dihadiri lima puluhan warga keturunan Jawa Suriname, di samping beberapa orang Belanda berkulit putih. Secara fisik, orang Jawa Suriname sangat mirip dengan orang-orang Jawa di Indonesia. Mereka berkulit cokelat terang hingga cokelat gelap, berpostur relatif pendek, beberapa memakai kopiah atau kebaya. Tetapi bahasa yang digunakan sepanjang acara hampir seluruhnya bahasa Belanda, sesekali diselingi kalimat-kalimat bahasa Jawa. Mereka ada karena migrasi. Pada akhir abad ke-19, Belanda mulai mengirimkan orang-orang Jawa ke Suriname untuk menjadi pekerja di perkebunan. Kebanyakan mereka, laki-laki maupun perempuan, sama sekali tidak tahu akan dibawa ke mana mereka. Mereka ditipu, bahwa mereka akan dibawa [...]

November 30, 2016 // 8 Comments

Leiden, 5 November 2016: Garis Batas di Atas Kertas

“Maaf, Tuan, kami tidak bisa mengizinkan Anda naik ke pesawat,” kata petugas di balik konter China Airlines, saat saya melakukan pelaporan di bandar udara Svarnabhumi, Bangkok, Thailand, untuk penerbangan saya menuju Belanda. Kepada petugas yang seorang lelaki muda Thai ini, saya telah mengakui bahwa saya belum memastikan tanggal berapa saya akan meninggalkan Eropa, dan saya juga tidak memiliki tiket pulang. “Tetapi saya hendak ke sana melakukan riset,” kata saya, “Mustahil bagi saya untuk memastikan kapan riset saya akan benar-benar selesai. Lagi pula, saya memiliki visa yang panjang, untuk satu tahun.” Petugas itu kembali mengamati stiker visa yang tertempel di dalam paspor saya. Visa saya adalah Visa Schengen untuk kategori C, visa tinggal jangka pendek, yang artinya saya bisa tinggal di negara-negara Eropa penandatangan perjanjian Schengen selama maksimal 90 hari dalam setiap masa 180 hari. Lelaki itu menggeleng. “Saya sudah tanya atasan saya,” katanya, “Untuk kategori visa C, wajib untuk mempunyai tiket pulang yang sudah terkonfirmasi.” Dia lalu menutup buku paspor saya, dan mengembalikannya kepada saya tanpa pas naik. “Maaf, Tuan, Anda harus punya rencana yang pasti.” Saya tetap berdiri di sana beradu argumen, sementara petugas itu berusaha meyakinkan bahwa saya bisa membeli tiket pulang dan membatalkannya begitu saya sampai di [...]

November 11, 2016 // 9 Comments

Tais 30 Agustus 2014: Kulit Hitam dan Kulit Putih

“Apakah di negaramu, orang kulit putih juga ada yang jadi pengemis?” Singai Suku, lelaki kepala desa Tais yang berperut besar itu bertanya kepada saya. “Kulit putih? Kulit putih yang mana?” tanya saya. “Kulit putih yang seperti kamu.” “Kulit putih dan kulit hitam semua sama, semua ada.” “Apa?” Singai begitu terkejut sampai melongo. “Kenapa kulit putih harus mengemis? Kalau kulit hitam jadi pengemis itu wajar. Tapi kulit putih? Itu tidak masuk akal!” Ini adalah salah satu dari begitu banyak percakapan yang cukup membikin stres selama saya berada di Papua Nugini. Mengapa mereka selalu menganggap diri mereka lebih rendah daripada kulit putih? Beberapa hari yang lalu, saya pernah menunjukkan foto-foto yang saya ambil di Afghanistan kepada Sisi—perempuan muda tuan rumah saya di Tais—bersama warga desa lainnya. Sisi terpaku menatap gambar anak-anak jalanan korban perang di ibukota Kabul yang mengemis dengan berbaring telentang di atas aspal panas. Sisi menggeleng-geleng tak percaya. “Tapi mengapa? Mengapa mereka harus hidup seperti itu? Mereka kulit putih, bukan?” Boneka kulit hitam dijual di sebuah toko di Port Moresby (AGUSTINUS WIBOWO) Warga Tais hidup dari berburu (AGUSTINUS WIBOWO) Di Papua Nugini, walaupun saya bukan kulit putih, mereka selalu menyebut saya kulit putih. Menjadi “orang putih” di sini, saya menerima [...]

February 3, 2015 // 33 Comments