Recommended

gamelan

Amsterdam, 8 November 2016: Rumah Gamelan di Negeri Belanda

Hujan rintik di malam dingin bulan November di Amsterdam. Tetapi itu tidak menyurutkan niat lima belas orang dari berbagai bangsa ini untuk berlatih memainkan orkestra tradisional Jawa. Di antara mereka ada Ivy, seorang perempuan paruh baya Cina Suriname yang telah bermain gamelan selama 20 tahun. Dia piawai memainkan slenthem, instrumen tetabuhan berupa barisan lembaran logam tipis yang menghasilkan dengungan rendah. Matanya setengah terpejam dan kepalanya bergoyang-goyang lambat, manakala tangan kanannya mengayunkan pemukul, dan tangan kirinya me-matet, atau menahan getaran lembaran perunggu agar suara yang dihasilkan tetap terkontrol. Sedangkan Ruth Jaeger yang berasal dari Köln di Jerman rela datang jauh-jauh ke Amsterdam setiap Selasa untuk berlatih gamelan. Di negaranya sendiri memang ada grup gamelan, tetapi dia menemukan permainan di Amsterdam ini lebih bervariasi dan menantang. Di sini, dimainkan gending yang cepat maupun lambat; yang mudah seperti Menthog-Menthog sampai yang sulit seperti Palaran, yang menuntut kerja sama tingkat tinggi antara vokal, kendang, ketuk kenong, dan gong. Ada pula Gabriela, yang kecintaannya terhadap gamelan berawal dari kebiasaan. Rumah wanita asli Belanda itu berada di dekat Het Gamelanhuis—tempat grup gamelan ini berlatih—dan sejak lama dia sering mendengar dengung alunan orang berlatih gamelan, yang begitu magis terus bergema sampai ke alam mimpinya. Itu membuatnya tertarik [...]

November 22, 2016 // 6 Comments

Garis Batas 51: Ada Indonesia di Uzbekistan

Ozoda dan murid-muridnya (AGUSTINUS WIBOWO) Tidak banyak negara seperti Uzbekistan. Bukan hanya terkunci daratan, semua negara yang mengelilinginya di keempat penjuru pun sama-sama tak punya lautan. Demikian jauhnya Uzbekistan dari laut, sampai ke utara, selatan, timur, barat, untuk mencapai lautan harus lewat setidaknya dua negara. Tetapi itu bukan berarti orang sini tidak peduli dengan Indonesia, negeri romantis berdebur ombak nun jauh di seberang lautan sana. “Setangkai anggrek bulan…, yang hampir gugur layu….” lagu tempo doeloe mengalun lembut di gedung kepemudaan Samarkand, kota bersejarah Uzbekistan yang terkenal dengan untaian monumen peradaban. Para penonton yang terkesima, ikut berdiri, dan mengayun-ayunkan badannya mengikuti irama lagu kepulauan yang mendayu-dayu. Kalau tidak diberi tahu bahwa yang menyanyi bukan orang Indonesia, melainkan orang Uzbek tulen, saya pun tak percaya. Lafal penyanyinya fasih, iramanya pas, dan emosinya sudah tepat, walaupun kemudian saya menemukan bahwa penyanyinya sendiri tidak tahu apa artinya. Tepuk tangan bergemuruh mengakhiri persembahan lagu Indonesia oleh sepasang penyanyi Uzbek itu. Pertunjukan kemudian dilanjutkan dengan tari-tari tradisional, yang nama-namanya pun tidak semuanya saya kenal, macam Badinding, Sukaria, Piring, Batik, Puspito, dan Yapong. Semuanya dibawakan oleh pelajar-pelajar Uzbek dari Samarkand, dan saya hanya bisa terkesima. Saya dibawa ke sini oleh staff penerangan Kedutaan Besar [...]

August 23, 2013 // 0 Comments