Recommended

Tajikistan

【中国国家地理】塔吉克斯坦:群山与国界的夹缝之中

My article in Chinese National Geography, edition October 2015. This is a special edition focusing on China’s grand project: One Belt One Road, a.k.a. the “New Silk Road”, with some focus articles from the Silk Road countries, especially in Central Asia. In this edition, I have contributed two articles: Tajikistan and Afghanistan’s Wakhan Corridor. 塔吉克斯坦被称作中亚的高山之国,它近一半的国土位于帕米尔高原。其实塔吉克族并非是自古生活在山地的民族,面对如今的国家版图状况,不少塔吉克人心中有难言的苦衷。来自印度尼西亚的作者奥古斯汀是一名“中亚通”,他对塔吉克斯坦的考察和采访,能够加深我们对这个国家的认识。   撰文Agustinus Wibowo[印尼] 摄影刘辉 等 翻译王飞宇   令塔吉克人自豪的两座古城,如今却位于乌兹别克斯坦的境内 塔吉克斯坦是中亚最小的国家,面积约等于中国的辽宁省,全境的93%在山区,一半以上国土在海拔3000米以上。受地理条件所限,塔吉克斯坦境内的文明遗址寥寥无几。但塔吉克人相信自己是中亚最古老的民族,并坚信他们的历史比当今占中亚地区主流的突厥人要长得多。 [...]

October 17, 2015 // 1 Comment

China dan Jalur Sutra Baru

China mempromosikan mimpi besar untuk membangun Jalur Sutra modern demi kemakmuran bersama. Apakah mimpi ini bisa terwujud, atau sekadar menjadi slogan utopia semata? Laporan untuk Visiting Program for Young Sinologist di Beijing, riset saya mengenai usulan China untuk membangun Jalur Sutra Baru. Jalur Sutra Abad Milenium Hampir 22 abad silam, Kaisar Han mengutus Zhang Qian mendatangi kerajaan Dayuan di Asia Tengah demi membentuk aliansi militer. Perjalanan ini kemudian melahirkan rute perdagangan legendaris Jalur Sutra. Berselang dua milenium, China sekali lagi mengajak negara-negara di sekelilingnya untuk bergabung dalam aliansi multinasional yang dijuluki Jalur Sutra Baru. Dalam kunjungan kenegaraan di Kazakhstan pada 7 September 2013, Presiden Xi Jinping mengusulkan pembangunan Sabuk Ekonomi Jalur Sutra (Silk Road Economic Belt). Berselang tiga minggu kemudian, di hadapan parlemen Indonesia di Jakarta, Xi mengemukakan konsep Jalur Sutra Maritim Abad ke-21 (21st Century Maritime Silk Road). Kedua konsep ini, yang digabungkan menjadi inisiatif Satu Sabuk dan Satu Jalur (OBOR), adalah desain akbar untuk menghubungkan negeri-negeri yang dilintasi rute perdagangan bersejarah itu, mulai dari Asia Tengah hingga Eropa dan Afrika, mulai dari Asia Tenggara hingga Jazirah Arab. Menurut data ADB, kebutuhan pendanaan pembangunan infrastruktur di Asia mencapai US$ 800 miliar setiap tahunnya. Sebagai negara dengan cadangan devisa terbesar [...]

October 5, 2015 // 3 Comments

Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (3)–Koridor Zaman

Serial artikel untuk Chinese National Geography Koridor Zaman Begitu meninggalkan Ishkashim, hal yang paling mengejutkan saya adalah melihat wajah perempuan—sesuatu yang hampir mustahil di Afghanistan. Di mana-mana tampak para perempuan desa Lembah Wakhan berpakaian warna-warni mencolok, melambaikan tangan sambil tersenyum ke mobil kami. Baju, kerudung, topi sulaman tangan di bawah kerudung, rompi, rok, celana kombor, juga perhiasan manik-manik berat yang menghiasi rompi mereka, semuanya dalam warna berbeda dan beraksen kuat, membuat mereka terlihat seperti khusus berdandan untuk festival. Lembah Wakhan dihuni bangsa Wakhi, yang jumlahnya 100 ribu orang dan tersebar di daerah pegunungan Afghanistan, Tajikistan, Pakistan, dan China. Di Tajikistan mereka disebut sebagai “Tajik Pamir”, sedangkan di China hanya sebagai “Tajik”, walaupun mereka sebenarnya berbahasa, berbudaya, dan menganut kepercayaan yang berbeda dengan orang Tajik. Orang Wakhi adalah penganut sekte Islam Ismaili. Pemimpin spiritual umat Ismaili adalah Aga Khan, dipercaya sebagai keturunan langsung Nabi Muhammad. Dusun Qala Panja, 80 kilometer atau dua hari perjalanan dari Ishkashim, dalam sejarahnya adalah tempat perhentian penting para musafir kuno zaman Jalur Sutra untuk mengganti kendaraan mereka dari kuda menjadi yak untuk melintasi pegunungan Pamir menuju China. Kini, Qala Panja adalah lokasi kediaman pemimpin umat Ismaili di seluruh Koridor Wakhan. Lelaki itu dikenal sebagai Shah Panja, [...]

September 22, 2015 // 5 Comments

Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (2)–Sungai Pemisah Takdir

Serial artikel untuk Chinese National Geography Sungai Pemisah Takdir Amu Darya sang sungai ibunda mungkin memang sejak ribuan tahun telah ditakdirkan menjadi pemisah kehidupan manusia. Bangsa Yunani kuno menyebut Asia Tengah Transoxiana—“Seberang Sungai Amu” dan orang Arab Mawarannahr—“Tanah Seberang Sungai”. Amu Darya lebih dari 2.500 kilometer panjangnya, bersumber dari mata air di Pamir, pegunungan salju atap dunia di ujung timur Koridor Wakhan. Di sana, dia berupa sungai-sungai kecil yang sempit namun bergolak deras dan mematikan, bahkan buihnya sampai melayang ke udara. Satu cabangnya di utara menjadi Sungai Pamir, yang menjadi batas antara Afghanistan dan Tajikistan di bagian timur Koridor. Lalu, turun dari Pamir, sungai ini menjadi sungai lebar berlumpur yang mengalir lambat di lembah Wakhan, terus mencapai Ishkashim, berbelok ke utara dan kembali menjadi sempit dan deras, tetap membelah provinsi yang sama-sama bernama Badakhshan di kedua negeri. Semakin ke barat, setelah selama 1.300 kilometer menjadi batas dengan Tajikistan, sungai ini kemudian menjadi batas antara Afghanistan dengan secuil wilayah Uzbekistan, bermetamorfosa menjadi sungai yang lambat namun lebar tak terkira. Semakin ke barat, sungai ini menjadi pembatas antara padang pasir Afghanistan dengan Turkmenistan yang sama keringnya. Di sana, gelegaknya sirna, bahkan terlalu lemah untuk mempertahankan arah alirannya sendiri, sehingga sering bergeser di [...]

September 21, 2015 // 2 Comments

Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (1)–Pasar Internasional

Serial artikel untuk Chinese National Geography Seperti kata pepatah, “banyak jalan menuju Roma”, lintasan Jalur Sutra kuno pun bercabang-cabang, bagai jalinan serabut akar yang menghubungkan China dengan Barat. Di antara semua fragmen Jalur Sutra itu, mungkin tidak ada yang bisa menandingi kemisteriusan Koridor Wakhan. Teronggok di sudut terjauh Afghanistan, perlintasan penting Jalur Sutra itu kini menjadi salah satu tempat paling terpencil di dunia, namun justru terletak tepat di seberang batas China. Dia juga telah menjadi saksi terakhir matinya rute perdagangan legendaris ribuan tahun itu—yang terjadi hanya tujuh dekade silam.   Pasar Internasional Ishkashim, satu-satunya pintu gerbang menuju Koridor Wakhan, adalah sebuah desa pegunungan Afghanistan yang sepi dan malas, berlumpur dan berdebu. Perbukitan diselimuti padang rumput; para bocah gembala menggiring domba, kambing, dan sapi, sambil bersiul dan bersenandung merayakan pagi yang dingin. Nuansa padang hijau tak bertepi di wilayah utara Afghanistan ini membuat saya serasa telah dilemparkan ke Asia Tengah. Di utara dusun, bergolak aliran sungai Panj, gemuruhnya menenggelamkan semua suara. Ini adalah anak sungai Amu Darya yang menjadi perbatasan antara Afghanistan dengan republik-republik Asia Tengah pecahan Uni Soviet. Sungai Panj bagaikan cermin, memisahkan barisan gunung Afghanistan dari barisan gunung Tajikistan, dan dusun-dusun Afghanistan berhadapan simetris dengan dusun-dusun Tajikistan di seberang [...]

September 19, 2015 // 10 Comments

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (6)

Serial artikel Tajikistan untuk Chinese National Geography. Patroli tentara Kirgiz di daerah perbatasan Tajikistan. Pulau di Tengah Daratan Tujuh kilometer di selatan desa-desa “papan catur”, ada sebidang tanah Tajikistan sepenuhnya dikelilingi Kirgizstan. Vorukh terpisahkan dari “daratan utama” Tajikistan oleh sebuah desa Kirgizstan bernama Ak-Sai. Untuk mencapai Vorukh, secara teori orang harus keluar dari Tajikistan, masuk Kirgizstan, keluar Kirgizstan lalu masuk lagi ke Tajikistan. Tetapi tidak ada portal perbatasan antara kedua negara di daerah ini, sehingga dari Tajikistan orang bebas pergi ke Vorukh dengan melintasi wilayah Kirgizstan. Semakin mendekati Vorukh, saya merasakan aroma ketegangan semakin kuat. Sopir sangat gelisah melihat kamera saya, berulang kali memperingatkan, “Jangan ambil foto dari wilayah Kirgizstan. Kami berperang dengan orang-orang ini.” Warga Vorukh pun sangat mewaspadai kehadiran saya yang jelas orang asing. “Kamu orang asing pertama yang datang ke sini,” kata Husein Nodirov, seorang lelaki pemilik warung, “Bagaimana saya bisa tahu kamu orang baik-baik?” Saya butuh dua jam untuk meyakinkan Husein sampai dia setuju menampung saya di rumahnya dan melindungi saya dari polisi yang sangat mungkin akan menginterogasi saya. Wilayah Vorukh berupa perbukitan, yang mengawali barisan Pegunungan Turkistan yang menjadi batas selatan Lembah Ferghana. Di pusat Vorukh yang berjarak lima kilometer dari perbatasan, orang akan melihat [...]

September 17, 2015 // 0 Comments

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (5)

Serial artikel Tajikistan untuk Chinese National Geography. Arka adalah sepotong Kirgizstan di tengah Tajikistan Garis Batas yang Tanpa Garis Batas Jalan raya A376 yang menghubungkan kota Khujand menuju Kanibadam sekilas terlihat seperti jalan raya biasa, beraspal mulus dan cukup lebar, merupakan urat nadi bagi kota-kota di Tajikistan Utara. Namun, berbeda dengan informasi pada peta mana pun, sebagian dari jalan ini adalah perbatasan antara Tajikistan dan Kirgizstan. Di kota Histervarz, 20 kilometer dari Khujand, sebelah kiri jalan adalah Tajikistan dan sebelah kanan jalan adalah Kirgizstan. Tulisan yang ada di rumah-rumah di sebelah kiri adalah bahasa Tajik, sedangkan di sebelah kanan adalah bahasa Kirgiz. Sedangkan mobil-mobil yang berlalu lalang di jalan menggunakan plat nomor bergambar bendera Tajikistan maupun Kirgizstan. Saya turun di sisi kanan jalan. “Ini Kirgizstan?” tanya saya kepada seorang pedagang semangka yang jelas orang Tajik, dalam bahasa Tajik. “Ya, ini Kirgizstan,” jawabnya, “Seberang jalan sana Tajikistan.” “Orang Tajik boleh berjualan di Kirgizstan?” “Tidak masalah. Tapi saya punya paspor Kirgizstan,” katanya. Rumah Umedjon terletak di kampung di belakang, di sisi kanan jalan. Dia bilang, dia terpaksa masuk kewarganegaraan Kirgizstan, karena kalau tidak, dia harus pindah rumah. Sekarang di sini memang tidak ada perbatasan, orang Tajik maupun Kirgiz bebas bepergian seolah ini [...]

September 16, 2015 // 2 Comments

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (4)

Serial artikel Tajikistan untuk Chinese National Geography. Para pekerja China membanjiri Tajikistan. Selatan dan Utara Realita kehidupan Tajikistan sebenarnya ada di bagian barat negeri, di dataran yang walaupun tak sampai 7 persen luas wilayahnya, dihuni mayoritas penduduknya sehingga kota-kotanya sangat padat. Namun ada hal yang selalu sama: kehidupan di sini tidak pernah terlepas dari dua sekat—garis batas dan gunung. Bentuk negara Tajikistan begitu canggung di atas peta. Tajikistan seperti memiliki sebuah “kepala” kecil di utara yang dihubungkan dengan bagian badan di selatan oleh sebuah leher sempit yang terlihat begitu rapuh. Kenyataannya memang hanya ada satu-satunya jalan, menembus Pegunungan Fan dan Pegunungan Turkistan, yang menghubungkan ibukota Dushanbe di sisi selatan dengan kota terbesar kedua Tajikistan yang terletak di utara, Khujand. Khujand, yang pusat kotanya dihuni orang Tajik tetapi dikelilingi desa-desa orang Uzbek, semula adalah wilayah Uzbekistan yang baru belakangan ditambahkan ke Republik Soviet Sosialis Tajikistan yang akan berdiri. Dulu, ketika masih berada di bawah Uni Soviet, jalan mulus yang menghubungkan Dushanbe dengan Khujand melewati dataran rendah Samarkand—kini wilayah Uzbekistan. Setelah kedua negara merdeka, Uzbekistan menutup perbatasannya untuk kendaraan Tajikistan (beserta warganya). Karena itu, untuk bepergian di antara kedua kota itu, warga Tajikistan terpaksa bersusah-payah mendaki dan melewati dua celah gunung raksasa: [...]

September 15, 2015 // 0 Comments

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (3)

Serial artikel Tajikistan untuk Chinese National Geography. Masa lalu yang belum sepenuhnya berlalu Dimensi Mimpi Di seberang sungai sana, orang Afghan sering mengatakan kepada saya betapa bagus kehidupan Tajikistan. Jalan ada, listrik ada, mobil ada, perempuan ada, sekolah, pasar, rumah sakit semua ada. Itu dunia yang sempurna. Tetapi berada di sisi Tajikistan sini, barulah saya menyadari bahwa realita tidak seindah apa yang mereka impikan dari seberang sana. Di daerah pegunungan terpencil ini, bensin adalah barang langka. Seorang sopir mengatakan sudah dua bulan ini mobilnya tidak beroperasi sama sekali karena tidak ada bensin. Tiga hari menunggu di Langar barulah saya mendapat tumpangan melanjutkan perjalanan. Mobil kami tidak melulu mengikuti aliran sungai yang menjadi penanda perbatasan Afghanistan, tetapi berbelok menuju Pamir Highway di utara. Celah Khargush, pada ketinggian nyaris 4.000 meter, adalah rintangan terberat. Khargush terletak di dekat Danau Zor Kol, salah satu sumber Sungai Amu Darya. Danau ini juga menjadi perbatasan dengan Afghanistan, sehingga merupakan daerah sensitif dan terdapat pos pemeriksaan militer yang cukup besar. Tak lama setelah melintasi Celah, pemandangan tiba-tiba berubah. Dari tebing gunung yang terjal, sekarang menjadi padang hijau yang datar dan luas. Di kejauhan, terbentang barisan gunung bertudung salju dengan lekuk kurva nyaris membundar. Inilah Pamir yang [...]

September 14, 2015 // 1 Comment

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (2)

Serial artikel Tajikistan untuk Chinese National Geography. Sungai Amu Darya, selebar 20 meter, memisahkan Afghanistan dan Tajikistan di kedua sisinya seabad jauhnya. Kerinduan dari Seberang Sungai Gambaran fisik Tajikistan yang paling gamblang dalam imaji kebanyakan orang tentu adalah gunung-gunung tinggi bertudung salju menggapai angkasa. Tidak salah memang. Belahan timur Tajikistan adalah kawasan pegunungan Pamir yang hampir seluruhnya berada di atas ketinggian 3.000 meter, dan dijuluki dengan sangat romantis: Atap Dunia. Jalan beraspal M-41 (dikenal juga sebagai “Pamir Highway”) yang bertabur lubang dan meliuk-liuk di tepi jurang pegunungan cadas yang nyaris tegak lurus ini menghubungkan Dushanbe dengan Pamir. Nama wilayah ini sebenarnya adalah Provinsi Otonomi Pegunungan Badakhshan, atau lebih dikenal dengan singkatan bahasa Rusia: GBAO. Luasnya sekitar 45 persen luas Tajikistan, tetapi populasinya hanya 5 persen penduduk nasional. Jip Rusia kami menyusuri jalan sempit sepanjang tepian Sungai Amu Darya, garis batas alami antara Tajikistan dengan Afghanistan. Lembah sungai tidak terlalu lebar, siapa pun bisa melihat dengan jelas kehidupan di negeri seberang sana. Paralel dengan jalan yang kami lewati di Tajikistan ini adalah sebuah jalan setapak sempit berdebu yang menanjak dan menukik mengikuti punggung pegunungan, tepat di tepi sungai yang bergolak hebat. Seorang pria Afghan beserban terlihat berjalan tertatih-tatih, menggeret keledai malas [...]

September 11, 2015 // 9 Comments

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (1)

Serial artikel Tajikistan untuk Chinese National Geography. Para tentara Tajikistan memberikan penghormatan kepada Rudaki, sang pujangga pahlawan nasional. Bagasi Masa Lalu Alkisah, seribu tahun silam, Rudaki sang pujangga Tajik cemas melihat raja junjungannya terlena pada kenyamanan hidup di kota Herat (kini wilayah Afghanistan) dan tampaknya akan melupakan takhta kerajaan di ibukota Bukhara. Kepada sang raja, Rudaki melantunkan puisi legendaris ini: Kucium semerbak harum Sungai Muliyan, Bangkitkan kenangan manis pada dia tercinta Gerunjal bebatuan Sungai Amu tajam meradak, Di telapak kakiku begitu lembut laksana sutra Puisi itu seketika membuat raja Nasr II dari Dinasti Samani bangkit dari duduknya, langsung meloncat ke punggung kuda bahkan lupa mengenakan sepatunya, memacu kuda dengan kecepatan penuh tanpa berhenti hingga mencapai ibukota tercinta: Bukhara. Itulah satu dari begitu banyak kisah menakjubkan tentang Rudaki yang saya dengar dari penduduk desa Panjrud. Desa tempat beradanya makam Rudaki ini terletak 55 kilometer di barat kota tua Panjakent, kota perbatasan Tajikistan yang pernah menjadi salah satu kota paling ramai di dunia pada masa keemasan Jalur Sutra. Desa ini berada di selatan aliran Sungai Zeravshan (namanya berarti “Penyebar Emas”), tersembunyi di balik lekukan pegunungan cadas di mana sejumlah perusahaan pertambangan emas dari China kini beroperasi. “Di sini semua orang, termasuk anak [...]

September 10, 2015 // 1 Comment

Selimut Debu 74: Everything is Wrong in Afghanistan

Yang membuat aku lebih marah lagi adalah, ternyata aku sendirian di tengah kerumunan orang-orang pasar ini. Tidak ada yang menolongku berbicara. Si orang Tajikistan yang tadi bersamaku sudah kabur entah ke mana, mungkin mengira aku adalah orang yang penuh masalah. Kemarahanku yang lebih besar adalah, sesungguhnya ada beberapa orang asing di pasar ini. Ada Arnault, ada aku, ada pula si orang Tajikistan, juga kalau tidak salah ada orang India. Tapi mengapa hanya aku satu-satunya yang dikerumuni orang, diperiksa pasporku dengan tidak profesional dan tanpa tujuan? Dan gara-gara pemeriksaan tadi, aku ketinggalan kendaraan menuju Faizabad (Aku tidak mau menginap di Baharak, terima kasih!). Sekarang aku harus mencari lagi kendaraan yang sudah penuh penumpang. Aku sudah tidak tahu semarah apa aku jadinya, ketika tiba-tiba sebuah tangan keras mencengkeram pundakku. Tangan dari seorang lelaki berseragam yang lebih mirip seragam satpam. Aku harus ke kantor, katanya. Tentu aku menolak. Aku hanyalah turis yang menunggu bus, dan sekarang aku menjadi pusat perhatian begitu banyak orang-orang bosan di jalanan, dan menjadi objek permainan para polisi yang sebenarnya tidak mengerti apa itu paspor dan apa tulisan di atas paspor asing. Seorang lelaki berbahasa Urdu berbisik di telingaku. “Menurut sajalah. Tenang, ikuti kata mereka. Koi zabardasti nehi. Tidak [...]

February 6, 2014 // 0 Comments

Selimut Debu 73: Hadiah Ulang Tahun

Setelah perjuangan panjang dari Qala Panjah menuju Ishkashim (yang di luar dugaan, memakan waktu sampai tiga hari karena parahnya transportasi!), aku berjuang untuk melanjutkan perjalanan ke arah barat, moga-moga bisa mencapai Kedutaan Indonesia di Teheran untuk merayakan Hari Kemerdekaan 17 Agustus. (Nasionalisme? Mungkin ini gara-gara perbincangan dengan Arnault sebelumnya). Lagi pula, hari ini 8 Agustus adalah hari ulang tahunku yang ke-25. Semoga saja hari ulang tahun ini melimpahiku dengan keberuntungan. Amin. Jadi hari ini, kami berdua berangkat menuju Baharak, di mana aku bisa mendapat kendaraan menuju Faizabad, dan Arnault berbelok ke utara ke arah Danau Shewa. Orang Afghan ini punya konsep waktu yang aneh. Ketika kami masih sarapan jam 6 pagi, sopir memburu-buru kami katanya mobil segera berangkat. Tetapi setelah kami duduk manis di mobil, satu jam kemudian mesin baru dinyalakan dan dua jam kemudian kami baru meninggalkan Ishkashim. Matahari sudah sangat tinggi sedangkan perjalanan ke Baharak memakan waktu minimal tujuh jam. Sekarang semua berbalik arah. Dulu waktu berangkat dari Baharak ke Ishkashim, Baharak terasa seperti kota pasar yang membosankan tapi jalanannya teramat indah. Sekarang, sepulang dari Wakhan, jalanan bergunung-gunung ke Baharak terasa sangat datar, tetapi Baharak dengan barisan toko-tokonya terasa seperti metropolitan New York. Warung-warung, kios, pedagang asongan, penyemir [...]

February 5, 2014 // 0 Comments

Selimut Debu 72: Nilai Ke-Afghanistan-an

Aku berusaha keras menghindari Bakhtali. Tapi untunglah, kami berjalan dengan kecepatan yang jauh berbeda. Aku merayap lambat menyisir bebatuan, sementara dia melesat kilat seperti anak panah. Dalam kesendirian, aku menikmati pemandangan perbatasan yang begitu menakjubkan ini. Di sebelah kananku Tajikistan, di sebelah kiriku Pakistan, aku ada di tengah Koridor Wakhan yang sempit dan termasyhur itu. Tetapi kesepian ini sungguh menakutkan. Sepi yang sesepi-sepinya, selain suara angin dan debur arus sungai. Tak ada lagi orang lain yang bisa kumintai pertolongan, apalagi karena kedua kakiku semakin sakit karena berjalan terlalu jauh. Aku mulai berjalan pukul 1 sore, dan setelah dua jam berjalan kedua kakiku hampir lumpuh. Aku hanya bisa berjalan, dan terus berjalan, karena tidak ada pilihan lain. Tidak ada desa sama sekali di antara Aorgarch dengan Qala Panjah. Yang kulihat hanya ada tiga orang gembala, dan tidak ada manusia lainnya barang satu pun. Ah, andaikan saja ada jembatan yang menghubungkan jalanan ini dengan jalanan beraspal di seberang sungai sana. Tentu dengan mudah aku menumpang kendaraan bermotor, tanpa harus bersusah-payah seperti ini. Tapi… itu cuma mimpi. Yang di seberang sana, walaupun terlihat dekat, adalah tanah tak tergapai. Negara lain. Dunia lain. Ada garis batas tak tertembus. Setelah empat jam berjalan, langit sore [...]

February 4, 2014 // 2 Comments

Selimut Debu 71: Petualangan Sebuah Traktor

Di tempat seperti ini, kita tidak bisa pergi kapan pun kita suka. Transportasi sangat terbatas, dan aku hanya bisa menggantungkan jadwal perjalananku pada tumpangan. Untungnya, hari ini Juma Khan kebetulan mau ke Khandud karena ada urusan, jadi aku bisa menumpang traktornya sampai ke Khandud. Kesempatan ini tidak datang setiap hari. Walaupun kakiku masih sakit gara-gara berjalan kaki 40 kilometer beberapa hari lalu, dan aku sebenarnya masih ingin tinggal lebih lama di Kret barang dua hari lagi, aku memutuskan untuk ikut. Para penumpang gratisan ternyata juga bukan aku saja. Ada beberapa warga desa Kret yang juga gembira ada transportasi ke desa tetangga. Bahkan Bakhtali si moalem juga ikut menumpang. Ini karena jalanan di sepanjang sisi selatan Sungai Wakhan sangatlah susah dilewati kalau berjalan kaki, karena banyaknya sungai besar. Juma Khan tidak memungut bayaran apa pun. Tolong-menolong sesama manusia adalah jalan hidup di Wakhan. Di sini, kita tidak mungkin hidup sendiri. Toh kita juga pasti akan membutuhkan bantuan mereka. Jalanan sesudah Desa Baba Tangi juga kebanjiran, yang airnya sampai sedalam pinggang. Saking dalamnya, kami para penumpang harus melemparkan batu ke dalam air supaya traktor bisa lewat. Selanjutnya adalah jalanan mendaki yang sangat terjal ke atas bukit. Traktor kosong yang kurang beban ini [...]

February 3, 2014 // 5 Comments

Selimut Debu 70: Saudara Sebangsa

Para pria Pakistan ini memang katanya datang ke sini untuk membawa perubahan. Lihat celana modern dan jaket-jaket bulu yang mereka pakai. Coba dengarkan gemeresik radio yang mereka putar. Belum lagi mulut-mulut yang bercakap bahasa Inggris dengan fasih. Faizal-ur-Rahman, Juma Khan, dan yang lain-lainnya, datang dari Chapursan di Pakistan di balik gunung sana. Mereka menganut Islam Ismaili yang sama, bicara bahasa yang sama, tetapi betapa modernnya orang-orang ini di mata penduduk desa. Kelima belas orang ini umumnya adalah tukang batu dan tukang bangunan. Tugas mereka adalah membangun gedung sekolah di desa, proyek dari Central Asia Institute, sebuah NGO yang katanya cukup bermasalah. Ada yang menatah batu, ada yang mengangkut dengan traktor. Ada yang mengaduk semen, ada yang memasang tembok dan jendela. Penduduk desa kadang ikut membantu menyiapkan teh dan makanan kecil. Semua tidak sabar ingin melihat gedung sekolah mungil ini cepat selesai. Sekarang, anak-anak masih harus berjalan kaki empat kilometer untuk sampai di sekolah tenda berlogo UNICEF. Bukan berarti orang Wakhan miskin-miskin. Ada cukup banyak pula orang kaya di sini. Akimboy salah satunya. Juga Bulbul, yang rumahnya di bawah bayang-bayang puncak salju Baba Tangi. Nama Bulbul memang berarti burung bulbul. Ternaknya ada ratusan. Dua adik Bulbul sekarang tidak tinggal di desa. [...]

January 31, 2014 // 5 Comments

Selimut Debu 69: Terkunci Waktu

Waktu berjalan sekehendaknya, kadang cepat, kadang lambat. Musim panas, musim dingin datang silih berganti. Dan tak ada yang peduli. Coba tanyakan kepada orang-orang dari Dusun Kret ini, berapa musim panas yang telah berlalu dalam hidup mereka. Tak banyak yang tahu jawabnya. Si bocah pemungut kotoran kambing dengan bangga berkata umurnya sudah tiga setengah tahun. Anaknya tangkas, sudah bisa memanjat pohon dan meloncati batu di tepi jurang. Di mataku setidaknya ia pasti sudah berumur sepuluh tahun. Rajabmat mengaku 95 tahun. Kepalanya sudah ditumbuhi rambut-rambut putih. Bahkan daun telinganya pun berbulu putih. Dengan angka 95 itu, ia sudah menjadi orang yang paling tua yang pernah kutemui di desa ini. Tetapi angka itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Siapa yang percaya? Orang bilang, Tila Khan adalah kakek paling tua di seluruh desa. Tetapi Tila Khan bilang “baru” berumur 80 tahun. Bagaimana membuktikannya? Akte kelahiran? Ah, itu barang dari dunia lain. Lembah ini hidup dalam dimensi waktunya sendiri. Sehari. Seminggu. Sebulan. Setahun. Sepuluh tahun. Tak ada bedanya. Masih musim panas yang itu-itu juga. Masih musim dingin yang sama menggigitnya. Waktu seakan tak pernah menggeser kehidupan di sini. Terperangkap. Terlupakan. Krek… krek… krek…. Derik bergema dalam kamar batu gelap. Zaman yang mana lagi ini, pikirku. [...]

January 30, 2014 // 1 Comment

Selimut Debu 68: Agama Kita Adalah Kemanusiaan

Terkadang aku lupa, ini adalah Afghanistan. Di sini tidak ada burqa, dan kaum perempuan begitu bebas bercengkerama di jalanan. Burqa tidak dikenal dalam kamus Bakhtali. Ia masih sering keseleo lidah menyebut kata itu, ”Bur-qa atau buq-ra? Apa sih namanya?” Bakhtali hanya tahu kata chadri, padanan kata burqa yang lebih banyak digunakan di sini. Bagi perempuan Ismaili di Wakhan, chadri sungguh adalah barang yang asing, namun terkadang mereka tak bisa menghindarinya. Bibi Sarfenaz, misalnya, pekerja sosial di Wakhan, selalu membawa chadri ke mana-mana. Ia adalah wanita tangguh, mengunjungi rumah-rumah penduduk di Desa Kret untuk survei. Ia bekerja untuk organisasi sosial milik Aga Khan. Dengan pengalaman kerjanya yang bertahun-tahun di wilayah umat Ismaili di Pakistan, kini ia kembali bekerja di kampung halamannya di Wakhan. “Orang Ismaili adalah pecinta kebebasan. Dan sudah seharusnya ada kebebasan terhadap perempuan, karena perempuan itu sejajar dengan laki-laki.” Bibi Sarfenaz berapi-api. Di Afghanistan, perempuan Sunni tidak pergi ke masjid. Tetapi kaum perempuan Ismaili bersama-sama dengan kaum prianya juga pergi beribadah di jemaatkhana, rumah ibadah orang Ismaili, tiga kali sehari. “Tetapi, kami juga terkadang harus memakai burqa,” lanjut Bibi Sarfenaz, ”yaitu ketika kami pergi ke kota. Di kota banyak orang-orang Sunni. Kalau tidak pakai burqa, mereka bilang darah kami [...]

January 29, 2014 // 11 Comments

Selimut Debu 67: Halusinasi

Asap mengepul dari pojok ruangan gelap rumah Bakhtali. Sumbernya bukan dari dapur atau perapian, melainkan dari sebuah pipa melengkung berbentuk tanda tanya. Seorang kakek tua berbaring di ruangan, mengisap dalam-dalam sambil meresapi kenikmatan pipa. Bakhtali mengambil tempat di sebelah kakek tua. Ia ikut menggerus sesuatu hingga menjadi bubuk, kemudian ditaruh dalam pipa, dan diisap asapnya. Aku bertanya, apa itu. “Taryak,” jawab Bakhtali kalem. Opium. Orang-orang Ismaili dari Lembah Wakhan ini memang dikenal akan tradisi mengisap opium. Aku sempat terkejut mencium aroma menusuk yang memualkan kini memenuhi seluruh ruangan. Si kakek tua terbaring menikmati surganya. Istri Bakhtali hanya duduk, di dekat perapian, mengamati teman suaminya yang tampaknya sudah langganan ke rumah ini. “Ini taryak,” kata Bakhtali sekali lagi, ”tapi percayalah. Aku tak akan mengisapnya. Ini barang jahanam.” Kakek tua mengisap dalam-dalam, menyemburkan asapnya ke arah Bakhtali. Bakhtali gelagapan. Godaan aroma asap itu menjebol daya tahannya. Tangannya gemetar. Ia meraih pipa tanda tanya itu dari kakek tua yang masih terbaring. Perlahan-lahan diisapnya, perlahan-lahan diembuskannya. “Aku tak akan mengisapnya. Ini barang jahanam,” ia masih berkata. Detik berikutnya ia sudah lupa ucapannya sendiri. Yang ada hanya ritual isap dan embus. Pufff…. Pufff…. Bergantian dengan kakek tua itu. Istri Bakhtali hanya merangkul kedua anak mereka, [...]

January 28, 2014 // 2 Comments

Selimut Debu 66: Nostalgia Komunis

Bagi sebagian orang, mimpi adalah masa lalu yang gemilang, sempurna, tanpa cacat. Itulah masa lalu yang sama sekali tak terbandingkan dengan realita hidup sekarang yang begitu terbelakang. Bakhtali, pria 35 tahun ini, masih hidup dalam masa lalunya. Gurat-gurat wajahnya menggambarkannya jauh lebih tua, tidak heran jika kuduga dia lebih dari 50 tahun. Kumisnya tebal tersekat antar hidung dengan bibir atas. Wajahnya keras. Tangannya pun keras. Sungguh berbeda dengan figur guru, atau mualem, sebagaimana ia biasa dipanggil penduduk Desa Kret. Dengan bangga dia menunjukkan serpihan-serpihan sejarahnya. ”Ini kartu anggota partai komunis.” Foto Bakhtali muda dalam lipatan kartu merah tampak sangat tampan dan gagah. Pandangan matanya tajam, wajahnya halus dan bersih. Bibirnya terkatup rapat. Inilah figur masa lalu seorang komunis yang sangat dibanggakannya. “Nah, kalau ini, tanda penghargaan kader komunis,” seringai Bakhtali, “langsung dari Presiden Najibullah!” Aku mengamati Bakhtali yang duduk di hadapanku. Mulutnya tak pernah terkatup rapat. Pandangan matanya kosong, kumisnya tebal, wajahnya gelap dan kasar, tak terawat. Benarkah ini Bakhtali yang sama dengan yang dibanggakan dalam kartu-kartu berlambang bintang dan palu arit? Ia masih hidup dalam masa lalu. ”Aku memang komunis,” katanya sambil menepuk dada, ”dan komunis itu baik.” Istri Bakhtali masuk membawa senampan cangkir dan poci teh, serta beberapa [...]

January 27, 2014 // 1 Comment

1 2 3 5