Recommended

Jalur Sutra

China dan Jalur Sutra Baru

China mempromosikan mimpi besar untuk membangun Jalur Sutra modern demi kemakmuran bersama. Apakah mimpi ini bisa terwujud, atau sekadar menjadi slogan utopia semata? Laporan untuk Visiting Program for Young Sinologist di Beijing, riset saya mengenai usulan China untuk membangun Jalur Sutra Baru. Jalur Sutra Abad Milenium Hampir 22 abad silam, Kaisar Han mengutus Zhang Qian mendatangi kerajaan Dayuan di Asia Tengah demi membentuk aliansi militer. Perjalanan ini kemudian melahirkan rute perdagangan legendaris Jalur Sutra. Berselang dua milenium, China sekali lagi mengajak negara-negara di sekelilingnya untuk bergabung dalam aliansi multinasional yang dijuluki Jalur Sutra Baru. Dalam kunjungan kenegaraan di Kazakhstan pada 7 September 2013, Presiden Xi Jinping mengusulkan pembangunan Sabuk Ekonomi Jalur Sutra (Silk Road Economic Belt). Berselang tiga minggu kemudian, di hadapan parlemen Indonesia di Jakarta, Xi mengemukakan konsep Jalur Sutra Maritim Abad ke-21 (21st Century Maritime Silk Road). Kedua konsep ini, yang digabungkan menjadi inisiatif Satu Sabuk dan Satu Jalur (OBOR), adalah desain akbar untuk menghubungkan negeri-negeri yang dilintasi rute perdagangan bersejarah itu, mulai dari Asia Tengah hingga Eropa dan Afrika, mulai dari Asia Tenggara hingga Jazirah Arab. Menurut data ADB, kebutuhan pendanaan pembangunan infrastruktur di Asia mencapai US$ 800 miliar setiap tahunnya. Sebagai negara dengan cadangan devisa terbesar [...]

October 5, 2015 // 3 Comments

Beijing 7 Juli 2015: China dan Jalur Sutra

Sebuah catatan dari Visiting Program for Young Sinologists, 7-24 Juli 2015 Ibn Battuta pernah menyusuri Jalur Sutra Laut dari Arab sampai ke Quanzhou di China Orang sering mengaitkan Jalur Sutra dengan peradaban China. Pemerintah China di abad ke-21 ini juga menggalakkan pembangunan “Jalur Sutra Baru”. Tetapi, menurut pakar sejarah Prof. Ge Jianxiong dari Universitas Fudan, dalam sejarahnya China justru lebih banyak mengabaikan Jalur Sutra. Istilah “Jalur Sutra” sendiri tidak pernah ditemukan dalam catatan sejarah China. Istilah ini pertama kali digunakan oleh ahli geografi Jerman pada akhir abad ke-19, Ferdinand von Richtofen, yang menyebut jalur perdagangan sepanjang 6.000 kilometer dari China sampai ke negeri Romawi itu sebagai “Seidenstraße” atau “Jalan Sutra”. Dalam bahasa Indonesia, kita menyebutnya sebagai “jalur” bukan “jalan”, karena lintasan ini bukan hanya berupa satu jalan melainkan beratus lintasan yang bercabang-cabang. Selain itu, lintasan bukan berupa jalan besar, tetapi kebanyakan berwujud hanya jalan setapak bagi karavan. Setelah orang Barat dan Jepang banyak meneliti sejarah Dunhuang dan daerah-daerah di China Barat yang dilintasi Jalur Sutra, barulah China mulai menaruh perhatian pada Jalur Sutra. Mengapa demikian? Prof. Ge Jianxiong dalam presentasinya kepada kami pada pertemuan Sinologis Muda di Beijing ini menjawab dengan tegas, “Karena di mata China, Jalur Sutra itu tidak [...]

September 29, 2015 // 2 Comments

Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (6)–Jalan Menembus Batas

Serial artikel untuk Chinese National Geography Jalan Menembus Batas “Afghan datang! Afghan datang!” Para bocah yang tinggal di perkemahan yurt keluarga Khan bersorak meloncat-loncat menyaksikan titik kecil hitam yang bergerak di padang luas. Titik itu semakin mendekat, semakin menampakkan wujudnya. Para lelaki dari keluarga Khan berlarian menyambut. “Afghan datang!” Orang Kirgiz Afghan secara natural tidak pernah menganggap diri mereka sebagai “Afghan”. Para “Afghan” itu adalah dua pedagang Pashtun dari Kabul yang beserban dan berjenggot, membawa karung-karung besar di punggung kuda. Keduanya langsung menuju sebuah yurt kosong yang dikhususkan menerima tamu. Di sana, mereka membongkar isi karung, sementara para lelaki keluarga Khan sibuk memilih barang, dan anak-anak hanya menonton di sudut kemah sambil terkikik-kikik. Di Pamir tidak ada toko dan pasar. Semua barang kebutuhan orang Kirgiz di Pamir, mulai dari gandum sabun, kain, gula, selimut, radio, panel surya, potongan kayu untuk membangun tenda, kain merah untuk bahan pakaian perempuan Kirgiz, bros China untuk hiasan baju, sampai opium, dibawa oleh karavan pedagang Afghan dari bawah gunung sana. Mereka datang berkaravan, beriringan menunggang kuda. Di Pamir juga tidak ada uang. Perdagangan di abad milenium masih dilangsungkan dengan cara yang paling primitif: barter. Satuan mata uang mereka adalah domba. Seekor domba berumur empat tahun [...]

September 25, 2015 // 1 Comment

Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (5)–Perjalanan yang Terhenti

Serial artikel untuk Chinese National Geography Perjalanan yang Terhenti Nama Pamir bagi kebanyakan orang Afghan adalah sinonim surga. Nama Pamir bertebaran di seluruh Afghanistan, mulai dari toko, restoran, hotel, biro wisata, perusahaan dagang, lembaga sosial, sampai maskapai penerbangan. Seperti Shangri-La, Pamir telah menjadi mitos utopia, sebuah tempat fantastis berlimpah keindahan dan kedamaian sempurna. Namun, mengalami sendiri kehidupan di Pamir, saya tahu pasti ini bukanlah kehidupan surgawi yang dibayangkan orang-orang. Pada ketinggian yang ekstrem ini, kehidupan Pamir sama sekali tidak normal. Sore musim panas yang berkabut dan bersalju lebat itu, saya berkuda menuju perkemahan sang Khan—raja suku orang Kirgiz di Pamir. Khan Abdul Rashid Khan, lelaki renta bertubuh ringkih itu berjalan pincang dengan dibantu sebuah tongkat kayu, masuk ke dalam yurt, duduk setengah berbaring. Tidak sedikit pun saya melihat kemegahan seorang “raja” pada diri Khan. Lima kemah pada klan keluarga Khan tidak jauh berbeda dengan permukiman klan-klan Kirgiz lainnya, bahkan jumlah ternaknya terlalu sedikit jika dibandingkan sejumlah keluarga lainnya. “Mengapa tetap tinggal di alam yang sekeras ini?” saya bertanya. “Tanah kami ini memang sulit, tetapi kami tak mungkin meninggalkannya,” jawabnya. “Kami sudah terlalu banyak berpindah. Sekarang kami sudah menemukan rumah. Di sini, di Pamir Afghanistan. Rumah kami, sekarang dan selamanya.” Kirgiz [...]

September 24, 2015 // 4 Comments

Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (4)–Kehidupan Gembala Atap Dunia

Serial artikel untuk Chinese National Geography Kehidupan Gembala Atap Dunia Jalan mobil buatan Rusia berakhir di Sarhad-e-Boroghil, 220 kilometer di timur Ishkashim. Ini menandai berakhirnya Lembah Wakhan, yang dilanjutkan dengan Pamir di timur, ke arah perbatasan China. Selepas Sarhad, yang ketinggiannya sekitar 3300 meter, jalan berubah menjadi jalan setapak yang hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki atau berkuda, melintasi celah-celah pada ketinggian 5.000 meter dikelilingi puncak-puncak salju yang mencapai 7.000an meter. Ini jalan berbahaya di tepi jurang curam, yang seperti tak pernah tersentuh peradaban, namun justru adalah sebuah lintasan Jalur Sutra yang tak berubah sejak zaman Marco Polo. Karena terlalu berbahaya, saya tidak mungkin ke Pamir sendirian. Setelah empat hari menunggu di Sarhad, saya akhirnya menemukan sebuah karavan kuda para tentara Afghan yang hendak menuju Pamir. Karavan terdiri dari seorang komandan perbatasan, seorang pengawal, empat serdadu memanggul Kalashnikov. Mereka mendapat tiga ekor kuda dari penduduk Sarhad. Dua lelaki Wakhi dari Sarhad menjadi pemandu karavan. Di hadapan saya terpampang jalan setapak berpasir licin selebar 30 sentimeter tepat di tepi jurang vertikal yang kedalamannya mungkin sampai 1000 meter, dengan sebuah sungai deras mengaum dalam perjalanannya menuju Amu Darya, sementara tepat di seberang sungai ada sebuah tebing vertikal lain yang membentuk gunung cadas [...]

September 23, 2015 // 3 Comments

Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (3)–Koridor Zaman

Serial artikel untuk Chinese National Geography Koridor Zaman Begitu meninggalkan Ishkashim, hal yang paling mengejutkan saya adalah melihat wajah perempuan—sesuatu yang hampir mustahil di Afghanistan. Di mana-mana tampak para perempuan desa Lembah Wakhan berpakaian warna-warni mencolok, melambaikan tangan sambil tersenyum ke mobil kami. Baju, kerudung, topi sulaman tangan di bawah kerudung, rompi, rok, celana kombor, juga perhiasan manik-manik berat yang menghiasi rompi mereka, semuanya dalam warna berbeda dan beraksen kuat, membuat mereka terlihat seperti khusus berdandan untuk festival. Lembah Wakhan dihuni bangsa Wakhi, yang jumlahnya 100 ribu orang dan tersebar di daerah pegunungan Afghanistan, Tajikistan, Pakistan, dan China. Di Tajikistan mereka disebut sebagai “Tajik Pamir”, sedangkan di China hanya sebagai “Tajik”, walaupun mereka sebenarnya berbahasa, berbudaya, dan menganut kepercayaan yang berbeda dengan orang Tajik. Orang Wakhi adalah penganut sekte Islam Ismaili. Pemimpin spiritual umat Ismaili adalah Aga Khan, dipercaya sebagai keturunan langsung Nabi Muhammad. Dusun Qala Panja, 80 kilometer atau dua hari perjalanan dari Ishkashim, dalam sejarahnya adalah tempat perhentian penting para musafir kuno zaman Jalur Sutra untuk mengganti kendaraan mereka dari kuda menjadi yak untuk melintasi pegunungan Pamir menuju China. Kini, Qala Panja adalah lokasi kediaman pemimpin umat Ismaili di seluruh Koridor Wakhan. Lelaki itu dikenal sebagai Shah Panja, [...]

September 22, 2015 // 5 Comments

Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (2)–Sungai Pemisah Takdir

Serial artikel untuk Chinese National Geography Sungai Pemisah Takdir Amu Darya sang sungai ibunda mungkin memang sejak ribuan tahun telah ditakdirkan menjadi pemisah kehidupan manusia. Bangsa Yunani kuno menyebut Asia Tengah Transoxiana—“Seberang Sungai Amu” dan orang Arab Mawarannahr—“Tanah Seberang Sungai”. Amu Darya lebih dari 2.500 kilometer panjangnya, bersumber dari mata air di Pamir, pegunungan salju atap dunia di ujung timur Koridor Wakhan. Di sana, dia berupa sungai-sungai kecil yang sempit namun bergolak deras dan mematikan, bahkan buihnya sampai melayang ke udara. Satu cabangnya di utara menjadi Sungai Pamir, yang menjadi batas antara Afghanistan dan Tajikistan di bagian timur Koridor. Lalu, turun dari Pamir, sungai ini menjadi sungai lebar berlumpur yang mengalir lambat di lembah Wakhan, terus mencapai Ishkashim, berbelok ke utara dan kembali menjadi sempit dan deras, tetap membelah provinsi yang sama-sama bernama Badakhshan di kedua negeri. Semakin ke barat, setelah selama 1.300 kilometer menjadi batas dengan Tajikistan, sungai ini kemudian menjadi batas antara Afghanistan dengan secuil wilayah Uzbekistan, bermetamorfosa menjadi sungai yang lambat namun lebar tak terkira. Semakin ke barat, sungai ini menjadi pembatas antara padang pasir Afghanistan dengan Turkmenistan yang sama keringnya. Di sana, gelegaknya sirna, bahkan terlalu lemah untuk mempertahankan arah alirannya sendiri, sehingga sering bergeser di [...]

September 21, 2015 // 2 Comments

Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (1)–Pasar Internasional

Serial artikel untuk Chinese National Geography Seperti kata pepatah, “banyak jalan menuju Roma”, lintasan Jalur Sutra kuno pun bercabang-cabang, bagai jalinan serabut akar yang menghubungkan China dengan Barat. Di antara semua fragmen Jalur Sutra itu, mungkin tidak ada yang bisa menandingi kemisteriusan Koridor Wakhan. Teronggok di sudut terjauh Afghanistan, perlintasan penting Jalur Sutra itu kini menjadi salah satu tempat paling terpencil di dunia, namun justru terletak tepat di seberang batas China. Dia juga telah menjadi saksi terakhir matinya rute perdagangan legendaris ribuan tahun itu—yang terjadi hanya tujuh dekade silam.   Pasar Internasional Ishkashim, satu-satunya pintu gerbang menuju Koridor Wakhan, adalah sebuah desa pegunungan Afghanistan yang sepi dan malas, berlumpur dan berdebu. Perbukitan diselimuti padang rumput; para bocah gembala menggiring domba, kambing, dan sapi, sambil bersiul dan bersenandung merayakan pagi yang dingin. Nuansa padang hijau tak bertepi di wilayah utara Afghanistan ini membuat saya serasa telah dilemparkan ke Asia Tengah. Di utara dusun, bergolak aliran sungai Panj, gemuruhnya menenggelamkan semua suara. Ini adalah anak sungai Amu Darya yang menjadi perbatasan antara Afghanistan dengan republik-republik Asia Tengah pecahan Uni Soviet. Sungai Panj bagaikan cermin, memisahkan barisan gunung Afghanistan dari barisan gunung Tajikistan, dan dusun-dusun Afghanistan berhadapan simetris dengan dusun-dusun Tajikistan di seberang [...]

September 19, 2015 // 10 Comments

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (4)

Serial artikel Tajikistan untuk Chinese National Geography. Para pekerja China membanjiri Tajikistan. Selatan dan Utara Realita kehidupan Tajikistan sebenarnya ada di bagian barat negeri, di dataran yang walaupun tak sampai 7 persen luas wilayahnya, dihuni mayoritas penduduknya sehingga kota-kotanya sangat padat. Namun ada hal yang selalu sama: kehidupan di sini tidak pernah terlepas dari dua sekat—garis batas dan gunung. Bentuk negara Tajikistan begitu canggung di atas peta. Tajikistan seperti memiliki sebuah “kepala” kecil di utara yang dihubungkan dengan bagian badan di selatan oleh sebuah leher sempit yang terlihat begitu rapuh. Kenyataannya memang hanya ada satu-satunya jalan, menembus Pegunungan Fan dan Pegunungan Turkistan, yang menghubungkan ibukota Dushanbe di sisi selatan dengan kota terbesar kedua Tajikistan yang terletak di utara, Khujand. Khujand, yang pusat kotanya dihuni orang Tajik tetapi dikelilingi desa-desa orang Uzbek, semula adalah wilayah Uzbekistan yang baru belakangan ditambahkan ke Republik Soviet Sosialis Tajikistan yang akan berdiri. Dulu, ketika masih berada di bawah Uni Soviet, jalan mulus yang menghubungkan Dushanbe dengan Khujand melewati dataran rendah Samarkand—kini wilayah Uzbekistan. Setelah kedua negara merdeka, Uzbekistan menutup perbatasannya untuk kendaraan Tajikistan (beserta warganya). Karena itu, untuk bepergian di antara kedua kota itu, warga Tajikistan terpaksa bersusah-payah mendaki dan melewati dua celah gunung raksasa: [...]

September 15, 2015 // 0 Comments

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (3)

Serial artikel Tajikistan untuk Chinese National Geography. Masa lalu yang belum sepenuhnya berlalu Dimensi Mimpi Di seberang sungai sana, orang Afghan sering mengatakan kepada saya betapa bagus kehidupan Tajikistan. Jalan ada, listrik ada, mobil ada, perempuan ada, sekolah, pasar, rumah sakit semua ada. Itu dunia yang sempurna. Tetapi berada di sisi Tajikistan sini, barulah saya menyadari bahwa realita tidak seindah apa yang mereka impikan dari seberang sana. Di daerah pegunungan terpencil ini, bensin adalah barang langka. Seorang sopir mengatakan sudah dua bulan ini mobilnya tidak beroperasi sama sekali karena tidak ada bensin. Tiga hari menunggu di Langar barulah saya mendapat tumpangan melanjutkan perjalanan. Mobil kami tidak melulu mengikuti aliran sungai yang menjadi penanda perbatasan Afghanistan, tetapi berbelok menuju Pamir Highway di utara. Celah Khargush, pada ketinggian nyaris 4.000 meter, adalah rintangan terberat. Khargush terletak di dekat Danau Zor Kol, salah satu sumber Sungai Amu Darya. Danau ini juga menjadi perbatasan dengan Afghanistan, sehingga merupakan daerah sensitif dan terdapat pos pemeriksaan militer yang cukup besar. Tak lama setelah melintasi Celah, pemandangan tiba-tiba berubah. Dari tebing gunung yang terjal, sekarang menjadi padang hijau yang datar dan luas. Di kejauhan, terbentang barisan gunung bertudung salju dengan lekuk kurva nyaris membundar. Inilah Pamir yang [...]

September 14, 2015 // 1 Comment

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (2)

Serial artikel Tajikistan untuk Chinese National Geography. Sungai Amu Darya, selebar 20 meter, memisahkan Afghanistan dan Tajikistan di kedua sisinya seabad jauhnya. Kerinduan dari Seberang Sungai Gambaran fisik Tajikistan yang paling gamblang dalam imaji kebanyakan orang tentu adalah gunung-gunung tinggi bertudung salju menggapai angkasa. Tidak salah memang. Belahan timur Tajikistan adalah kawasan pegunungan Pamir yang hampir seluruhnya berada di atas ketinggian 3.000 meter, dan dijuluki dengan sangat romantis: Atap Dunia. Jalan beraspal M-41 (dikenal juga sebagai “Pamir Highway”) yang bertabur lubang dan meliuk-liuk di tepi jurang pegunungan cadas yang nyaris tegak lurus ini menghubungkan Dushanbe dengan Pamir. Nama wilayah ini sebenarnya adalah Provinsi Otonomi Pegunungan Badakhshan, atau lebih dikenal dengan singkatan bahasa Rusia: GBAO. Luasnya sekitar 45 persen luas Tajikistan, tetapi populasinya hanya 5 persen penduduk nasional. Jip Rusia kami menyusuri jalan sempit sepanjang tepian Sungai Amu Darya, garis batas alami antara Tajikistan dengan Afghanistan. Lembah sungai tidak terlalu lebar, siapa pun bisa melihat dengan jelas kehidupan di negeri seberang sana. Paralel dengan jalan yang kami lewati di Tajikistan ini adalah sebuah jalan setapak sempit berdebu yang menanjak dan menukik mengikuti punggung pegunungan, tepat di tepi sungai yang bergolak hebat. Seorang pria Afghan beserban terlihat berjalan tertatih-tatih, menggeret keledai malas [...]

September 11, 2015 // 9 Comments

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (1)

Serial artikel Tajikistan untuk Chinese National Geography. Para tentara Tajikistan memberikan penghormatan kepada Rudaki, sang pujangga pahlawan nasional. Bagasi Masa Lalu Alkisah, seribu tahun silam, Rudaki sang pujangga Tajik cemas melihat raja junjungannya terlena pada kenyamanan hidup di kota Herat (kini wilayah Afghanistan) dan tampaknya akan melupakan takhta kerajaan di ibukota Bukhara. Kepada sang raja, Rudaki melantunkan puisi legendaris ini: Kucium semerbak harum Sungai Muliyan, Bangkitkan kenangan manis pada dia tercinta Gerunjal bebatuan Sungai Amu tajam meradak, Di telapak kakiku begitu lembut laksana sutra Puisi itu seketika membuat raja Nasr II dari Dinasti Samani bangkit dari duduknya, langsung meloncat ke punggung kuda bahkan lupa mengenakan sepatunya, memacu kuda dengan kecepatan penuh tanpa berhenti hingga mencapai ibukota tercinta: Bukhara. Itulah satu dari begitu banyak kisah menakjubkan tentang Rudaki yang saya dengar dari penduduk desa Panjrud. Desa tempat beradanya makam Rudaki ini terletak 55 kilometer di barat kota tua Panjakent, kota perbatasan Tajikistan yang pernah menjadi salah satu kota paling ramai di dunia pada masa keemasan Jalur Sutra. Desa ini berada di selatan aliran Sungai Zeravshan (namanya berarti “Penyebar Emas”), tersembunyi di balik lekukan pegunungan cadas di mana sejumlah perusahaan pertambangan emas dari China kini beroperasi. “Di sini semua orang, termasuk anak [...]

September 10, 2015 // 1 Comment

Selimut Debu 16: Inisiasi

Bocah-bocah dari negeri perang (AGUSTINUS WIBOWO) Mulai hari ini, kami resmi menjadi war tourists. Para turis sinting yang tergila-gila dengan eksotisme kehancuran, pertumpahan darah, dan memorabilia perang. Kami mendaki bukit terjal yang menjadi tempat berdirinya patung-patung Buddha. Ada jalan setapak berpasir yang cukup curam, membuatku terpeleset berkali-kali. Tetapi Adam adalah pencinta alam liar, dia pernah mendaki gunung dan mengelilingi Annapurna di deretan pegunungan Himalaya di Nepal, medan seperti ini justru yang dia cari. Apa lagi yang lebih menantang daripada mendaki gunung di negeri perang, yang kita pun tidak tahu mana yang ada ranjau, mana yang aman? Di puncak bukit, bertaburan rongsokan artileri dan tank. Tetapi kengerian ini seakan dilunakkan oleh lembah hijau Bamiyan yang menghampar, menantang tegarnya pegunungan gersang dan cadas. Aku memungut sebuah peluru, dari ratusan yang bertabur begitu saja di tanah. Ukurannya besar-besar, lengkap dengan selongsongnya. “Ambil lagi yang banyak,” Adam tertawa girang. ”Untuk kenang-kenangan dari Afghanistan.” Aku menyimpan peluru itu hati-hati dalam saku, diiring sebuah pertanyaan pragmatis: bagaimana cara menyelundupkan butir peluru sisa perang Afghan dengan aman sampai ke rumah? Kami berdua menyusuri tebing-tebing di sekitar reruntuhan patung Buddha. Kami melupakan pesan orang-orang bijak: jangan sembarangan melangkah di Afghanistan karena ranjau bertebaran di mana-mana. Ah, siapa yang [...]

November 18, 2013 // 3 Comments

Selimut Debu 15: Bayang-Bayang Sang Buddha

Seperti baru kemarin saja perang itu berhenti (AGUSTINUS WIBOWO) Berabad silam, negeri ini adalah pusat peradaban Buddha, dengan patung-patung raksasa yang memancarkan kemilau batu mulia. Tetapi, hanya dalam dua tahun yang lalu, puncak peradaban itu menjadi bongkah-bongkah batu tanpa makna. Di hadapan puing-puing reruntuhan, aku merenungkan betapa manusia bisa menjadi begitu kejam dan bodohnya. Aku punya perasaan istimewa terhadap tempat ini. Adalah Bamiyan yang membuatku bermimpi tentang Afghanistan. Suatu hari di dua tahun lalu, siaran berita televisi mengabarkan Taliban akan segera menghancurkan patung Buddha tertinggi di dunia yang terletak di jantung Afghanistan. Ada patung Buddha di negeri Afghan? Aneh juga kedengarannya. Televisi menunjukkan gambar para pelaku, yang menyebut diri sebagai Taliban, berwujud orang-orang berjenggot lebat, berjubah hitam, dan beserban kain hitam panjang menjuntai hingga ke pinggang. Mereka berbicara penuh semangat. Tentang perjuangan, tentang agama, tentang kelaparan dan dunia yang lebih mementingkan patung daripada penderitaan manusia Afghan. Siaran berita televisi itu kemudian menunjukkan gambar tebing cadas sebuah dusun bernama Bamiyan. Cadas itu berdiri tegak lurus. Pada sisinya terdapat dua relung besar dengan dua patung Buddha raksasa berdiri di dalamnya. Patung-patung itu sudah cacat. Kakinya hilang, hidungnya tertebas, wajahnya rusak. Itulah peninggalan peradaban dunia yang masih tersisa di negeri yang hancur lebur. [...]

November 15, 2013 // 7 Comments

Selimut Debu 2: Kota Kuno Jalur Sutra

Sepasang suami istri Uyghur (AGUSTINUS WIBOWO) Dari Urumqi aku langsung melanjutkan perjalanan menuju Kashgar, 30 jam dengan kereta api kelas kambing yang paling murah. Apakah ini masih di China? Aku bertanya-tanya. Di tengah hiruk-pikuk ini, yang ada cuma orang-orang yang berbicara bahasa yang begitu asing. Lihatlah mata mereka yang besar dan bercahaya itu! Lihatlah betapa mancung hidupnya! Juga topi tradisional besar yang dipakai para lelaki, kerudung warna-warni dari para perempuannya. Sementara aku, yang selama ini tidak pernah merasa jadi orang asing di China karena perawakanku, kini seperti sudah berada di negeri lain. Para penumpang kereta termurah ini mungkin hanya orang Uyghur. Mereka bilang, orang China Han tidak akan berani menumpang kereta ini. Semula pandangan mereka sangat sinis ketika aku memasuki gerbong. Setelah aku memakai kopiahku dan menjelaskan pada mereka aku orang “Indonosia”, seketika itu pula mereka menjadi sangat ramah dan berusaha berbagi cerita denganku. Tapi sungguh sulit memahami apa yang mereka ucapkan, sebab bahasa Mandarin mereka jauh lebih buruk daripada aku yang orang asing ini, walaupun mereka adalah warga negara Republik Rakyat China. Orang-orang Uyghur adalah orang-orang yang riang dan bersahabat. Tiada waktu tanpa tawa, dan mereka sangat suka berkenalan dengan orang-orang tak dikenal. Perjalanan bukan hanya sekadar perpindahan yang [...]

October 29, 2013 // 9 Comments

Garis Batas 65: Plov

Makan malam bersama. (AGUSTINUS WIBOWO) Di sini sutra, di sana sutra. Kehidupan di kota sutra Margilan memang tak terpisahkan dari ipak, sutra. Tetapi yang membuat saya lebih terpukau adalah keramahan dan kemurahan hati orang-orang Lembah Ferghana, seperti yang telah saya dengar sejak lama. Lembah Ferghana disebut-sebut sebagai jantungnya kebudayaan Uzbek. Bahasa Uzbek yang paling murni katanya berasal dari sini. Lembah ini ditinggali lebih dari 8 juta penduduk, yang menjadikannya sebagai tempat terpadat di seluruh penjuru Asia Tengah. Di sini pulalah agama Islam mengakar kuat dalam keseharian, bercampur dengan adat dan kebudayaan. Tetapi yang paling membuat penduduknya bangga adalah keramahtamahan yang konon tiada bandingannya di mana pun. Tidak sulit untuk membuktikannya. Saya yang tidak sampai sehari di Margilan, langsung diajak Firuza Turdameyeva untuk menginap di rumahnya yang tersembunyi jauh di dalam gang di pinggiran kota Margilan. Gadis Uzbek yang cantik jelita ini bekerja sebagai desainer kain sutra. Kulit Firuza putih bersih. Matanya besar dan bulat. Hidungnya mancung. Senyum selalu terkembang di bibirnya yang secantik delima. Wajahnya benar-benar boleh dikatakan sebagai kecantikan tipikal Uzbek, kecantikan yang berasal dari Lembah Ferghana. Tetapi Firuza bukan tipe gadis desa. Pakaiannya modis, roknya cuma sedengkul. Saya heran bagaimana dia bertahan dalam udara yang sedingin ini. Sepatu [...]

September 12, 2013 // 0 Comments

Garis Batas 64: Di Sini Sutra di Sana Sutra

Selamat datang di negeri sutra (AGUSTINUS WIBOWO) Saya menghela nafas lega ketika berhasil melepaskan diri dari Halim, yang masih ingin terus menempel ke mana pun saya pergi. Tetapi, petualangan kemarin ke kantor polisi cukup sudah, dan saya tidak mau setiap malam harus tidur merangkul erat-erat tas kamera. Akhirnya Halim hanya minta 5.000 Sum untuk ongkos pulang, dan pergi dengan tertunduk lesu. Masih dengan jantung yang berdebar-debar, saya memutuskan melanjutkan perjalanan untuk menemukan apa yang saya cari-cari selama ini. Kota Ferghana adalah kota besar di seluruh Lembah Ferghana, dengan barisan gedung yang semuanya berbentuk kotak, di pinggir jalan yang diteduhi pohon-pohon rindang. Tetapi Lembah Ferghana, bukan hanya kota Ferghana. Orang yang datang ke sini pasti bertanya-tanya, “Mana lembahnya?” Sejauh mata memandang, ke segala penjuru, tak tampak sama sekali gunung apa pun. Lembah ini luas sekali, sampai 22 ribu kilometer persegi, sampai orang pun lupa berada di lembah.  Kota-kota berdiri di dasar lembah, mulai dari Margilan kota Sutra, Andijan tempat lahirnya Raja Babur, hingga Kokand kesultanan agung Asia Tengah, semakin menyemarakkan lintasan sejarah Uzbekistan. Lembah Ferghana ini adalah salah satu perhentian utama di zaman Jalan Sutra, oasis bagi karavan-karavan unta berduyun-duyun melintasi gunung-gunung surgawi, barisan Pegunungan Tien Shan dan Pamir, membawa segala [...]

September 11, 2013 // 0 Comments

Garis Batas 61: Pancaran Sinar Lazuardi

Reruntuhan Masjid Bibi Khanym (AGUSTINUS WIBOWO) Ratusan tahun lalu, kota ini pernah menjadi pusat dunia. Di sinilah segala macam bangunan raksasa, mercu suar peradaban dunia, berdiri dengan segala keanggunannya. Puing-puing reruntuhan Masjid Bibi Khanym, yang pada zamannya pernah menjadi bangunan tertinggi di dunia, dibangun oleh sang Raja Amir Timur sebagai lambang cintanya untuk permaisuri tersayang dari negeri Tiongkok, masih menggambarkan kebesaran dan kejayaan negeri ini. Belum lagi barisan kuburan indah di kota makam bernama Shakhr-i-Zinda, yang diperuntukkan bagi Sang Raja Hidup yang membawa cahaya Islam ke tengah padang Asia Tengah. Bait-bait puisi mengalir bak air bah, di bawah kegagahan gedung-gedung kuno. Bintang, planet, galaksi ditemukan dari teropong panjang milik Ulughbek. Barisan karavan para saudagar tak pernah berhenti singgah di kota yang semakin hiruk pikuk oleh berbagai aktivitas perdagangan. Sinar lazuardi tak pernah berhenti memancar dari keagungan Samarkand. Samarkand memang tak pernah mati. Samarkand sekarang adalah ibu kota Samarkand Viloyati atau Provinsi Samarkand, kota terbesar kedua di Uzbekistan dengan jumlah penduduk hampir setengah juta jiwa. Musim panasnya menyengat, musim dinginnya bermandi salju. Tetapi nama Samarkand, yang senantiasa hidup dalam angan mimpi dan fantasi, adalah sebuah Samarkand yang dipenuhi alunan musik padang pasir, membahana memuja kemajuan peradaban. Zaman terus berputar. Gedung-gedung raksasa [...]

September 6, 2013 // 0 Comments

Garis Batas 60: Registan

Agustinus Wibowo jadi pedagang di Registan. Marhamat! Marhamat! Savdo keling! (AGUSTINUS WIBOWO) Siapa yang tak akan terpekur di bawah keagungan nama Samarkand? Sang pujangga Omar Khayyam tiada hentinya memuja kemuliaan kota ini, bahkan sebelum bangunan-bangunan molek raksasa itu berdiri. Di sinilah sang penakluk Amir Timur (dikenal juga sebagai Timurleng, Timur si Pincang), memulai kerajaannya yang menguasai wilayah dari padang rumput Asia Tengah hingga ke negeri India di timur dan Turki di barat. Di sinilah sang raja besar mendirikan gedung-gedung raksasa yang merupakan mahakarya tiada duanya. Di sini pulalah peradaban Islam pernah mencapai puncaknya. Tiga bangunan raksasa diselimuti mozaik warna-warni yang menyembunyikan nama-nama agung Tuhan dan Nabi, berdiri gagah mengelilingi lapangan besar Registan. Salju yang kemarin lebat membasuh bumi, kini berpadu dengan cantiknya kerlap-kerlip dinding gedung-gedung kuno Registan, membangkitkan imajinasi saya yang melihat Aladdin sedang melambai-lambai di atas permadani terbangnya menyapa barisan kawanan unta pedagang sutra. Sang pujangga besar Islam, Omar Khayyam, pernah menginjakkan kakinya di sini, di lapangan Registan. Kala itu, bangunan-bangunan raksasa ini masih belum berdiri. Lapangan Registan zaman Omar Khayyam adalah bazaar, pasar besar kota kuno Samarkand. Registan hari ini kembali lagi menjadi pasar, yang dikerumuni oleh tiga jenis manusia – pedagang suvenir, turis, dan satpam pemeriksa karcis. [...]

September 5, 2013 // 0 Comments

Garis Batas 56: Permata Islami

Bukhara, permata Islami (AGUSTINUS WIBOWO) O Bokhara! Engkau menghias Langit, Ialah Bulan yang cemerlang, O Langit yang perkasa, memeluk BulanMu dengan riang  Demikian Abu Abdullah Rudaki, sang pujangga Persia, menggoreskan bait syahdu tentang keagungan kota suci Bukhara, lebih dari seribu tahun silam. Keagungan kota suci Bukhara terpancar dari Masjid Kalon yang berdiri megah mendominasi pemandangan langit kota kuno ini. Kalon, dalam bahasa Tajik, berarti besar, secara harafiah mendeskripsikan kebesaran tempat suci ini. Takzim menyelimuti sanubari siapa pun yang berziarah ke Bukhara, kota yang paling mulia di seluruh penjuru dataran Asia Tengah. Pintu gerbang Masjid Kalon membentang tinggi, berhadap-hadapan dengan Madrasah Mir-e-Arab, seperti jiplakan cermin tembus pandang. Gerbang utama, berbentuk kotak, bertabur mozaik dekorasi yang dibuat dengan ketelitian tingkat tinggi, bertahtakan huruf-huruf Arab, dan asma Allah dan Muhammad yang disamarkan dalam ornamen-ornamen yang menyelimuti seluruh dinding. Warnanya coklat, menyiratkan kejayaan masa lalu, dan berkilauan diterpa mentari senja. Menara Kalon, hampir 1000 tahun usianya, menjulang setinggi 47 meter, berselimutkan ukir-ukiran dan detail yang indah. Bentuknya sedikit mengerucut, dan dari puncaknya kita bisa melihat keindahan kota kuno Bukhara. Sayangnya, menara ini sementara tidak boleh dinaiki, gara-gara beberapa bulan yang lalu ada turis bule yang terpeleset dari atas. Keindahan Menara Kalon bahkan menggugah hati [...]

August 30, 2013 // 0 Comments

1 2