Recommended

Karimabad

Titik Nol 153: Keresahan yang Terpendam

Terpenjara [ilustrasi] (AGUSTINUS WIBOWO) Di balik terali besi pintu gerbang penjara kota Gilgit, saya berjumpa dengan kedua gadis Indonesia yang terpenjara. Dua gadis itu bertubuh pendek. Berkaus lengan panjang dan mengenakan celana training. Warna kerudung mereka mencolok, menyembulkan rambut hitam di dahi. “Mas dari Indonesia ya?” sapa gadis kedua yang baru datang. Suaranya lembut. Ramah sekali. “Sendirian ke sini? Kenapa ke sini?” Saya bercerita tentang Rajja Sadafar dari kantor District Commissioner di Gilgit. Si gadis mengangguk-angguk, mengucapkan terima kasih. Gadis yang satu lagi, yang semula berteriak-teriak mengusir saya, kini datang mendekat dan bergabung dalam percakapan. Tetapi, belum sempat kami bercakap-cakap banyak, dan masih cuma taraf basa-basi, tiba-tiba terdengar suara menggelegar. “Jao!Tum jao! Pergi! Pergi kamu!” Seorang sipir berlari sambil membentak, membuat gerakan seperti mengusir ayam. Tak pernah saya diperlakukan seperti ini selama berada di Pakistan, yang orang-orangnya ramah dan lembut. “Jao!” teriaknya lagi. Kini sudah hampir menyeret saya menjauh. Di kejauhan, Mariam dan Christina sayup-sayup memandang. Saya tak tahu apa yang mereka pikirkan. Pertemuan ini sangat mengecewakan. Sudah sekian lama saya memimpikan untuk bertemu dengan kedua gadis ini. Sebenarnya saya sudah mendengar kisah mereka sejak dua bulan silam, dari gosip-gosip yang beredar di Gilgit. Adalah Rajja Sadafar yang membuat saya [...]

March 25, 2015 // 4 Comments

Titik Nol 131: Berjalan Lagi

Mata Hassan masih sembab melepas kepergian kedua anaknya (AGUSTINUS WIBOWO) Saya melihat tetes air menggenangi mata Hassan Shah melepas kepergian anak-anaknya. Saya teringat air mata yang sama mengalir di kedua belah pipi ibunda saya. Sudah sepuluh hari Karimabad terkunci dari dunia luar. Jalan Karakoram Highway, satu-satunya jalan yang menghubungkan Islamabad ke negeri Tiongkok melintasi barisan gunung tinggi Himalaya, tak bisa ditembus. Penyebabnya, badai salju menyebabkan beberapa titik sepanjang jalan ini ditimbun longsor. Batu-batu gunung raksasa bisa begitu saja berpindah tempat dari puncak sana ke badan jalan. Di belahan bumi ini, di tengah musim seperti ini, longsor batu sama lazimnya dengan chapati di pagi hari. Lebih dari sebulan sudah saya terperangkap di Hunza. Semula saya datang dengan tubuh lemah, nafsu makan minim, dan mata kuning mengerikan. Tetapi udara pegunungan surgawi yang berdaya magis dalam sekejap menyembuhkan penyakit saya. Setelah beristirahat sekian lama, rasanya segenap semangat hidup saya sudah kembali lagi, walaupun saya belum yakin kekuatan tubuh ini sudah pulih seperti sedia kala. Lepas dari hepatitis, sekarang saya ditekan rasa berdosa. Dulu semangat saya begitu meluap-luap, ingin segera membaktikan diri ke daerah gempa di Kashmir. Tetapi kini, saya tak lebih dari seorang turis lemah yang menghabiskan hari-hari di pondokan, menonton film India [...]

February 23, 2015 // 1 Comment

Titik Nol 129: Menjemput Sang Istri

Pengantin pria siap menjemput sang putri (AGUSTINUS WIBOWO) Rombongan barat berarak-arak menyusuri jalan sempit di pinggir rumah-rumah batu Karimabad. Kami menuju Hassanabad bersama sang pengantin pria untuk menjemput sang putri. Pukul sembilan pagi. Rumah keluarga karim mulai ramai didatangi sanak saudara. Bahkan ada beberapa paman yang sudah sejak beberapa hari yang lalu datang dari luar kota dan menginap di sini. Bocah-bocah perempuan anak tetangga berlari riang di halaman, menunjukkan tangan mereka yang sudah berhias henna. Yang laki-laki sudah siap dengan korek dan petasan. Ledakan demi ledakan sambung-menyambung. Di ruang utama, di bawah potret besar sang pemimpin spiritual Aga Khan yang sedang tersenyum, para pria kerabat dekat menikmati sarapan pagi – roti tipis chapati yang dimakan dengan gumpalan mentega padat. Minumnya adalah teh susu campur mentega, asin rasanya. Semua pria yang duduk di ruangan ini, termasuk saya, adalah kaum barati. Kami akan ikut dalam rombongan barat, rombongan pengantin pria untuk menjemput pengantin perempuan di rumahnya. Amin Khan, sang pengantin pria, kakak kandung Karim, sudah tiga puluh tahunan umurnya. Ia pemilik hotel di dusun Altit di atas Karimabad. Wajahnya garang dan tegang. Kumisnya tebal. Matanya menyorot tajam. Ia mengenakan shalwar kamiz putih bersih, dipadu dengan sweater abu-abu untuk mengusir dingin. Pakaian pengantin [...]

February 19, 2015 // 0 Comments

Titik Nol 128: Sharbat dan Tamasha

Sharbat (AGUSTINUS WIBOWO) Semarak tari-tarian di malam yang gelap, memecah kesunyian pegunungan bisu Karakoram, mengawali hidup baru sepasang pengantin di Karimabad. Karim adalah seorang kawan Hussain si juru masak. Rumah Karim hari ini sibuk sekali, karena keluarga besar itu sedang menyiapkan acara pernikahan. “Makanlah ini,” Karim menyuguhi saya semangkuk makanan yang nampak seperti bubur. Namanya sharbat, makanan wajib pesta pernikahan di Hunza. Sharbat selalu dimasak oleh laki-laki, terbuat dari mentega yang direbus dengan air dalam wajan besar dengan api kecil, dicampur tepung kasar sampai mengental. Hangat, lembek, sedikit hambar. Di tengah kesibukannya membersihkan rumah, Karim bercerita bahwa kakaknya, Amin Khan, akan menikah besok lusa.. Pernikahan di Hunza selalu jatuh hari Sabtu. Tetapi sehari sebelumnya, hari Jumat, baik di keluarga pengantin pria dan wanita pesta sudah dimulai. Masing-masing keluarga mengundang tetangga, kerabat, dan kawan-kawan untuk makan siang. Menunya adalah sharbat, makanan kental yang barusan saya santap. “Acara besok dan besok lusa pasti meriah,” kata Karim, “Besok adalah acara tamasha, acara pesta dengan tari-tarian. Hari Sabtu lusa adalah puncak dari semua perayaan ini – nikah. Nikah akan dilaksanakan di jemaatkhana di dekat rumah pengantin perempuan. Nanti kami akan berombongan berangkat ke sana.” Untuk urusan jumlah tamu dan rombongan di Hunza ada aturan [...]

February 18, 2015 // 0 Comments

Titik Nol (127): Dusun Mati

Desa mati yang ditinggal penduduknya di musim dingin (AGUSTINUS WIBOWO) Dusun Karimabad terperangkap dalam sepi. Salju terus mengguyur, menyelimuti lereng gunung dengan warna putih yang merambah semua sudut. Teras-teras ladang bagaikan lautan salju yang berombak. Saya juga terperangkap di sini. Sekarang hanya ada seutas jalan yang menghubungkan Karimabad dengan dunia luar – Karakoram Highway. Ke utara, ke arah China, perbatasan ditutup total sejak awal Januari. Ke selatan, ke arah kota-kota Pakistan, jalan pun tertutup oleh longsoran batu gunung. Seluruh wilayah Northern Areas sekarang terperangkap dalam dunianya sendiri. Saya sudah ingin cepat-cepat meninggalkan surga di lereng Karakoram ini menuju Kashmir, tempat saya seharusnya bekerja sebagai sukarelawan. Tetapi harga karcis bus ke Rawalpindi sungguh mahal, 821 Rupee. Karenanya, saya langsung mengiyakan tawaran Akhtar, pemuda dari Sost, yang katanya mau berangkat bersama menuju Islamabad dengan kendaraan pribadinya. Tetapi janji orang sini tak boleh dipercaya seratus persen. Akhtar berkata, seminggu lagi kita berangkat. Saya sudah menunggu seminggu penuh, tak ada kabar juga. Komunikasi satu-satunya yang mungkin hanya via telepon. Di musim dingin begini, hanya ada satu warung telepon yang buka di Karimabad. Saya harus naik bukit hanya untuk sekadar menanyakan kapan ia berangkat. Jawabannya, bisa ditebak, “Mister,‘dua’ hari lagi”. Dua hari berikutnya, di bawah [...]

February 17, 2015 // 0 Comments

Titik Nol 124: Mehman

Puncak-puncak lancip pegunungan di Pasu (AGUSTINUS WIBOWO) “Aap hamare mehman hai. Anda adalah tamu kami,” kata seorang sopir truk dari Karimabad, yang – selain menolak menerima ongkos –  menawari saya sekotak biskuit dan sekaleng minuman. Saya hampir tak bisa berkata-kata menerima ketulusan persahabatan ini. Jika Anda menjelajah Pakistan, ada satu hal yang selalu hadir: keramahtamahan.  Dalam bahasa Urdu disebut mehmannavazi. Tak peduli betapa miskinnya orang-orang di negeri ini, bagaimana pun tingkat pendidikan dan latar belakang sosialnya, semuanya seakan berlomba menawarkan yang terbaik untuk para tamu. Mehman, sebuah konsep yang melekat dalam sanubari penduduk setempat. Begitu kuatnya, sampai saya jadi malu sendiri. Tuan rumah tak makan tak mengapa, asalkan tamu dijamu dengan limpahan makanan mewah. Tak ada uang tak mengapa, asalkan sang tamu tetap merasa nyaman. Menggigil kedinginan bukan masalah, asalkan sang tamu tetap hangat dan lelap. Dari Chapursan kembali ke Karimabad, saya harus melewati Kota Sost di perbatasan Pakistan-Cina. Harga karcis angkot Sost-Karimabad cuma 100 Rupee, sekitar 15 ribu. Tidak mahal. Tapi saya memutuskan berjalan kaki agar lebih menikmati keindahan lembah-lembah dan barisan gunung Karakoram. Kalau sudah capek, sesekali saya menumpang mobil yang melintas. Hari ini matahari bersinar cerah. Lembah tanpa sinar mentari di Chapursan menjadi kenangan. Barisan pegunungan Gojal [...]

February 12, 2015 // 2 Comments

Titik Nol 119: Pelabuhan Darat

Hunza bukan lagi Shangri-La yang tersembunyi, tak terjamah peradaban manusia. Sejak Karakoram Highway selesai dibangun, desa-desa di pegunungan tinggi ini semakin terbuka bersama kemajuan dunia. Pembangunan jalan raya menembus gunung-gunung pada ketinggian di atas 4000 meter bukanlah hal yang mudah. Pemerintah Pakistan dan China bersama-sama mengerjakan proyek ini, membutuhkan waktu 20 tahun, dan baru selesai pada tahun 1986. Panjangnya 1300 kilometer, menghubungkan Islamabad dengan kota Kashgar di propinsi Xinjiang milik Republik Rakyat China. Medannya sangat berat. Pakistan menyebut jalan raya ini sebagai Keajaiban Dunia Kedelapan. Saya berhasil mengalahkan rasa malas, memaksa diri beranjak meninggalkan Karimabad menuju kota Sost, kota terakhir Pakistan sebelum perbatasan China. Saya dengar karena banyaknya orang China, di kota Sost kita bisa membeli makanan China yang asli citarasanya. Dua tahun lalu, saya sudah pernah sampai di sini. Para pekerja China sedang sibuk membangun dry port – pelabuhan darat, yang akan membangkitkan denyut nadi perekonomian di barisan pegunungan Karakoram. Waktu itu mereka sangat gembira, karena kiriman daging babi dari China baru datang. Bagi para pekerja itu, makanan Pakistan terlalu hambar dan tak sesuai lidah mereka. Di seluruh negeri, daging babi tak tersedia sama sekali dan harus diimpor untuk konsumsi sendiri. Selain itu, para pekerja juga tidak bisa hidup [...]

February 5, 2015 // 15 Comments

Titik Nol 118: Firdaus di Atas Awan

Bendera PPP (Pakistan People’s Party) pimpinan Benazir Bhutto berkibar di Karimabad yang dibalut salju tebal (AGUSTINUS WIBOWO) Al pergi meninggalkan Hunza dengan segala kepuasan batinnya, dalam perjalanan pencarian jati dirinya dengan menemukan komunitas orang-orang seiman. Ia tak lagi mengeluhkan hawa dingin, jalan bolong-bolong, dan ketiadaan tiket pesawat. Jiwa yang terpenuhkan membuat segalanya menjadi indah. Sedangkan saya, masih sendiri di pemondokan kakek tua Haider. Salju turun deras beberapa hari lalu. Jalanan desa yang naik turun makin berbahaya dengan lapisan es selicin cermin. Tak ada pilihan. Saya hanya bisa menghabiskan hari dengan selimut dan jaket tebal, membaca buku, dan menyeruput teh hijau hangat dari teko Kakek Haider. “Aap kaise hai? Bagaimana keadaanmu?” Kakek itu menyapa saya. Kerut-merut tajam menghias sudut matanya. Tubuhya berbalut selimut tebal, topi pakkol coklat menutup kepalanya, menyembunyikan rambut yang memutih. “Aap ki dua hai. Mein thik hun.. Berkat doa Anda, saya baik-baik saja,” saya memasang senyum Kakek Haider menatap bola mata saya dalam-dalam. Sudah tiga hari saya beristirahat di desa beku ini gara-gara penyakit hepatitis-A, kenang-kenangan petualangan di India. Saat seluruh tubuh menguning dan dalam keadaan sakit parah, saya berhasil menyeberang ke Pakistan. Hepatitis bukan barang yang asyik untuk dicoba, apalagi dalam perjalanan keliling dunia. Saya sempat takluk [...]

February 4, 2015 // 7 Comments

Titik Nol 117: Melek Huruf

Di sini semua orang bisa baca tulis Penderitaan di Karimabad yang membeku tidaklah sia-sia. Di sinilah Al menemukan jati dirinya yang selama ini ia cari. Di sinilah ia menemukan komunitas saudara-saudari seiman. Al tak jadi pindah pemondokan. Semua pemondokan sama dinginnya, bahkan Hunza Darbar yang tarifnya 40 dolar per malam itu pun tak punya listrik dan pemanas. Tak ada pesawat ke Islamabad, karena cuaca buruk di musim dingin di daerah yang diapit gunung-gunung bertudung salju sungguh berbahaya bagi penerbangan. Daripada berdiam diri di Karimabad, kami turun ke desa di kaki bukit. Namanya Ganesh, entah kenapa mirip nama dewa Hindu. Kalau di Karimabad penduduknya semua Ismaili, hanya beberapa ratus meter saja di desa Ganesh ini penduduknya penganut Syiah. Kakek Haider sebenarnya adalah penganut Syiah, tetapi Al terlanjur menganggapnya sebagai pemeluk Ismaili dan masih terpesona dalam kegembiraan hidup bersama komunitas orang-orang seiman. Biarlah, biar Al hidup dalam euforianya. Dari Ganesh, kami naik kendaraan Suzuki sampai ke desa berikutnya, Aliabad. Di Pakistan, orang biasa menyebut kendaraan umum menurut merknya. Yang dimaksud Suzuki adalah mobil pickup ukuran kecil. Bagian belakangnya dikasih terpal, untuk tempat duduk penumpang. Kalau tidak cukup, penumpang pria sampai duduk di atap atau berdiri di luar, bergelantungan pada besi bak belakang. [...]

February 3, 2015 // 0 Comments

Titik Nol 116: Karakoram Highway

Kakek tua Haider (AGUSTINUS WIBOWO) Di bawah gunung bertudung salju setinggi 7.790 meter, Desa Karimabad diam dalam keheningan. Di sini waktu mengalir lambat-lambat, ditelan keagungan puncak-puncak raksasa. Di bawah sana terhampar Lembah Hunza—terletak di utara Pakistan, diapit tiga gunung besar: Himalaya, Karakoram, dan Pamir. Jalan raya Karakoram Highway berkelok di pinggang gunung, menghubungkan Islamabad—ibu kota Pakistan—dengan kota kuno Kashgar di negeri Tiongkok. “Perjalanan yang benar-benar menyakitkan,” keluh Al, “Saya memang sudah tua. Perjalanan seperti ini sudah bukan untuk umurku lagi.” Saya dan Al baru saja menempuh perjalanan panjang sampai ke dusun Karimabad di jantung Lembah Hunza. Tujuh jam perjalanan Lahore–Rawalpindi plus 22 jam dengan bus menyusuri Karakoram Highway, dan masih ditambah lagi dua jam perjalanan sampai ke Karimabad. Jalannya berkelak-kelok, naik turun, bolong-bolong. Namanya juga jalan gunung. Gunung-gunung di bagian utara Pakistan mengisolasi wilayah pedesaan di seluruh provinsi Northern Areas (NA) di dataran tinggi ini. Ajaib, di liukan tajam punggung bukit, di tepi jurang dengan air sungai yang menggelegak, bisa dibangun jalan raya beraspal yang menghubungkan Pakistan-China, menghidupkan kembali perdagangan Jalur Sutra, dan menyembulkan dusun-dusun Hunza ke atas peta. Namun, bagi Al, itu adalah siksaan. Tak pernah ia semenderita ini. “Masa tak ada pesawat terbang ke Gilgit?” ia mengeluh lagi. [...]

February 2, 2015 // 5 Comments

U-Mag (2008): Hunza – Firdaus di Atap Dunia

U-Mag Magazine (March 2008) Hunza Firdaus di Atap Dunia   Nun jauh di balik lekuk-lekuk pegunungan Himalaya, Karakoram, dan Pamir, tersembunyilah Lembah Hunza. Di bawah bayangan puncak-puncak salju menggapai langit, lembah yang mistis penuh rahasia ini membentangkan keelokan sebuah surga di atap dunia … Nyanyian Bisu Di bawah gunung bertudung salju setinggi 7.790 meter tingginya, desa Karimabad diam dalam keheningan. Di sini waktu mengalir lambat-lambat, ditelan keagungan puncak-puncak raksasa. Di bawah sana terhampar Lembah Hunza – terletak di utara Pakistan, diapit tiga gunung besar: Himalaya, Karakoram, dan Pamir. Jalan raya Karakoram Highway berkelok di pinggang gunung, menghubungkan Islamabad – ibu kota Pakistan – dengan kota kuno Kashgar di negeri Tiongkok. Saya duduk di depan kamar, di penginapan kakek tua Haider. Salju turun deras beberapa hari lalu. Jalanan desa yang naik turun makin berbahaya dengan lapisan es selicin cermin. Tak ada pilihan. Saya hanya bisa menghabiskan hari dengan selimut dan jaket tebal, membaca buku, dan menyeruput teh hijau hangat dari teko Kakek Haider. “Aap kaise hai? Bagaimana keadaanmu?” Kakek itu menyapa saya. Kerut-merut tajam menghias sudut matanya. Tubuhya berbalut selimut tebal, topi pakkol coklat menutup kepalanya, menyembunyikan rambut yang memutih. Kakek Haider menatap bola mata saya dalam-dalam. Sudah tiga hari saya [...]

March 3, 2008 // 1 Comment

Karimabad – Travelling Again

Journey is about meeting and farewell. Now comes the time to say goodbye to Hunza. January 24, 2006 His name is Hassan Shah, a father of 4 sons and 1 daughter. Today, two of his sons are going to leave him to Manshera, which is around 18 hours away bus journey from Karimabad. Hussain Shah, one of the sons, is bringing his elder brother, Salman Shah, for medical check up. His brother has got a sudden mental attack 2 years ago, and regular check up is needed, as now Salman’s hairs are getting lesser and lesser. This might be a very, very common farewell of a short separate between father and sons. But when this happen to Karimabad, in a family which rarely separated each other, this can be very dramatic. Hussain has never been further than Rawalpindi, not to mention how he dreamed to go abroad. But as Northern Areas citizen, passport for them is not easy to get. Only China is the country that people from this area can go, easily, with border pass. Passport for Northern Areas could be 100 times more difficult than those for other Pakistanis. That’s why leaving house is a big deal here, [...]

January 24, 2006 // 2 Comments

Karimabad – Wedding

Prepared to bring the bride home Being delayed is not always bad. The road to Pindi has been blocked for more than a week now, and I am still in Karimabad. I have heard the rumours that Mr. Karim’s brother was going to marry. So 2 days ago I visited him. Mr Karim was busy, preparing for the feasts and everything. He offered me sharbat (the traditional food for 2 days before marriage, made from flour) but I felt he tried to send me home politely as he couldnt entertain me due to his business. From him, I learnt about the tradition of the wedding in Hunza. The ‘nikah’ will be held in bride’s side, in the nearest jamaat khana from the bride’s house. For this, the bride side invited 40 people from the groom side. These 40 people, mostly relatives, were carefully selected and counted. As we might know, the families in Pakistan are all big, that 40 is a very limited number. It seems that the culture is quite closed for outsiders, that I probably might not be able to join the whole procession. As he was busy in this sunny bright day, I went together with him [...]

January 21, 2006 // 1 Comment

Karimabad – Another Night Talk

Tourism also brings cultural impact to far flung places January 17, 2005 At last the guys from the restaurant successfully moved the TV and VCD to my room. They played hide and seek with the old man, the owner, and it was indeed funny to see the games. The sound was mixed with other movie, Bunty and Babli, to distract the attention of the old man. And they successfully made the old man sleep earlier. One accident happened when they moved the TV, the man woke up. Haroun (not real name) told the old man that the Indonesian guy (me) need the TV and VCD to do his homework. Damn! The 2 CDs, both were painfully obtained, were all damaged. One of it, the funniest porn CD I have ever watched, from South India. The actresses were all old, grey haired, bathing in the river. Then came the raper, old, fat, black, ape-faced man. The open sex happened openly in the river side, but it was too ugly, and the Pakistani guys also thought so. Talking about the open sex, I mean sex in open field, Haroun told me a story of a European couple having sex in a park [...]

January 17, 2006 // 0 Comments

Karimabad – Trapped

A journey to no-men peaks January 16, 2006 Planned to leave Karimabad already, awaiting for the coming jeep from Sust which I can hitch for free, but the friend who is going to go together delayed his journey for unlimited time. Meanwhile the bus ticket from Karimabad to Rawalpindi arouse to 821 Rupees, too expensive for me. And another bad news, there was road block somewhere between Gilgit and Pindi, so all buses will not operating for these 2-3 days. What a luck. Again, I am trapped in Karimabad. Yesterday, to pass the time, I decided to join some local guys climbing up to the Eagle’s Nest. From here we can see the whole valley. I have been there two years ago, and it was a terrible walk in summer. Now in super cold winter, nobody is up there. All hotels and houses are empty, and the road was slippery of ice and glacier. Luckily I was not alone, so there was someone (Mr Karim) who held my hand along the way…. Totally deserted in winter The snow was thick up there, and it was land of nobody, with empty houses and buildings, left-away agricultural fields, resembled a ghost town. [...]

January 16, 2006 // 1 Comment

Karimabad – Porn Night Part 2

Women are rarely seen on the streets of Pakistan. But they are quite open in the movies January 14, 2006 Today I didnt know what was the plan, when I came back to the restaurant, it seems that the guys successfully invited some guests to the old owner, so the old man was busy in his room (just next to the TV) with the guests. The guys locked the owner room from outside, so that the old man cant go out. And then, as previously suggested, the show began. The title today is Horny School Girls. There were about 3 guys watching, and they were all too excited. Not to make the old man hearing, the VCD was played in mute setting. All of the doors of the restaurant were locked, the windows were closed, and they ignored all coming guests. It’s funny to see how these guys, at least 22 years old, still have to play hide and seek with their parents just to watch porn. When suddenly the old man wanted to open the door, the guys were turning off everything just less than a second, and ran away. The room became empty, only me left. The story [...]

January 14, 2006 // 5 Comments

Karimabad – Porn Night

January 13, 2006 Porn night in Pakistan? Yes, the idea was started due to the sudden heavy snow here in Karimabad. Some young guys in my restaurant decided to rent a porn VCD and played in the middle of the night. It’s just a usual thing in Indonesia to watch porn movie together, (read: nonton bokep rame-rame), but it’s become a very special thing here, in a traditional village in mountainous area of Pakistan. That is why I was interested to observe what going to happen. Due to obvious reasons, all names included here are not the real names. Umer, brought his favorite VCD which he got from Aliabad, after more than 100 minutes of journey go and back. He was so excited what we were going to watch tonight. “A guy with two girls, big cock, one girl sucking one girl kissing…” and you could see a slight of horny feeling from his eyes. Yeah, we couldnt wait for the exciting tonight. Everything was prepared, a secret room, a plan to move the TV and VCD player from the restaurant, a plan to make the old man, the owner, going to sleep earlier, a plan to knock my door [...]

January 13, 2006 // 3 Comments

Karimabad – Pakistan Will Open

Pakistani movies are actually quite …, well, “sexy” January 11, 2006 Talking about films with the locals is always interesting, because I believe that films are also part of the culture. The satelitte dish in my hotel restaurant is broken, so for a temporary moment we have to say good bye to Raj and Rani (lit. means king and queen, a typical of Indian movies where the hero is named Raj and heroine Rani and they both will be married) from the TV series of Vuh Rahnewali Mehlon Ki. But quiet life is unimaginable in this house, that the guys then rented a VCD player to fill up the emptiness due to the absence of the TV programs. They only had one very old (of 1960’s) VCD of an Indian woman singing all the way with super high voice. The movie itself is black and white, and soon they got bored. They asked whether I had some interesting VCDs. I brought mostly DVDs with me, but yes, I have some VCDs. First I played Inul. This Indonesian diva with her famous pumping butt, indeed was a stimulus to these hungry men. Everybody was excited to see the sexy butt of [...]

January 11, 2006 // 3 Comments

Hunza – From Sust to Karimabad

The icy road of Hunza Today decided to go back to Karimabad. During the stay in the Upper Hunza area, there is a very big problem: electricity. Due to failure of generator in Khyber, a village next to Pasu, the villages in Upper Hunza has to wait for its turn for electricity. One in 4 days the electricity comes to a village. I missed both in Sust and Chapursan. So that my memory cards are full, my batteries are finished, my harddisk couldnt start, completely I cant take any more photos. The main reason to leave is that actually I missed the food and hot in Karimabad. Before starting, my Sust friend and I had breakfast together in Sust. Practising my Urdu, I was joking with them that I was very poor, but I could earn money when I didnt have enough, by sleeping with Pakistani men for 150 Rs (1 US$=60Rs). It was merely a joke. But apparently it was an offer for the restaurant owner. When my friends left for work, I was still having my breakfast. And the restaurant owner came, whispering to me in Urdu, offering me 250 Rs to sleep with him. I refused, the [...]

January 7, 2006 // 3 Comments