Recommended

Koridor Wakhan

Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (6)–Jalan Menembus Batas

Serial artikel untuk Chinese National Geography Jalan Menembus Batas “Afghan datang! Afghan datang!” Para bocah yang tinggal di perkemahan yurt keluarga Khan bersorak meloncat-loncat menyaksikan titik kecil hitam yang bergerak di padang luas. Titik itu semakin mendekat, semakin menampakkan wujudnya. Para lelaki dari keluarga Khan berlarian menyambut. “Afghan datang!” Orang Kirgiz Afghan secara natural tidak pernah menganggap diri mereka sebagai “Afghan”. Para “Afghan” itu adalah dua pedagang Pashtun dari Kabul yang beserban dan berjenggot, membawa karung-karung besar di punggung kuda. Keduanya langsung menuju sebuah yurt kosong yang dikhususkan menerima tamu. Di sana, mereka membongkar isi karung, sementara para lelaki keluarga Khan sibuk memilih barang, dan anak-anak hanya menonton di sudut kemah sambil terkikik-kikik. Di Pamir tidak ada toko dan pasar. Semua barang kebutuhan orang Kirgiz di Pamir, mulai dari gandum sabun, kain, gula, selimut, radio, panel surya, potongan kayu untuk membangun tenda, kain merah untuk bahan pakaian perempuan Kirgiz, bros China untuk hiasan baju, sampai opium, dibawa oleh karavan pedagang Afghan dari bawah gunung sana. Mereka datang berkaravan, beriringan menunggang kuda. Di Pamir juga tidak ada uang. Perdagangan di abad milenium masih dilangsungkan dengan cara yang paling primitif: barter. Satuan mata uang mereka adalah domba. Seekor domba berumur empat tahun [...]

September 25, 2015 // 1 Comment

Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (5)–Perjalanan yang Terhenti

Serial artikel untuk Chinese National Geography Perjalanan yang Terhenti Nama Pamir bagi kebanyakan orang Afghan adalah sinonim surga. Nama Pamir bertebaran di seluruh Afghanistan, mulai dari toko, restoran, hotel, biro wisata, perusahaan dagang, lembaga sosial, sampai maskapai penerbangan. Seperti Shangri-La, Pamir telah menjadi mitos utopia, sebuah tempat fantastis berlimpah keindahan dan kedamaian sempurna. Namun, mengalami sendiri kehidupan di Pamir, saya tahu pasti ini bukanlah kehidupan surgawi yang dibayangkan orang-orang. Pada ketinggian yang ekstrem ini, kehidupan Pamir sama sekali tidak normal. Sore musim panas yang berkabut dan bersalju lebat itu, saya berkuda menuju perkemahan sang Khan—raja suku orang Kirgiz di Pamir. Khan Abdul Rashid Khan, lelaki renta bertubuh ringkih itu berjalan pincang dengan dibantu sebuah tongkat kayu, masuk ke dalam yurt, duduk setengah berbaring. Tidak sedikit pun saya melihat kemegahan seorang “raja” pada diri Khan. Lima kemah pada klan keluarga Khan tidak jauh berbeda dengan permukiman klan-klan Kirgiz lainnya, bahkan jumlah ternaknya terlalu sedikit jika dibandingkan sejumlah keluarga lainnya. “Mengapa tetap tinggal di alam yang sekeras ini?” saya bertanya. “Tanah kami ini memang sulit, tetapi kami tak mungkin meninggalkannya,” jawabnya. “Kami sudah terlalu banyak berpindah. Sekarang kami sudah menemukan rumah. Di sini, di Pamir Afghanistan. Rumah kami, sekarang dan selamanya.” Kirgiz [...]

September 24, 2015 // 4 Comments

Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (4)–Kehidupan Gembala Atap Dunia

Serial artikel untuk Chinese National Geography Kehidupan Gembala Atap Dunia Jalan mobil buatan Rusia berakhir di Sarhad-e-Boroghil, 220 kilometer di timur Ishkashim. Ini menandai berakhirnya Lembah Wakhan, yang dilanjutkan dengan Pamir di timur, ke arah perbatasan China. Selepas Sarhad, yang ketinggiannya sekitar 3300 meter, jalan berubah menjadi jalan setapak yang hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki atau berkuda, melintasi celah-celah pada ketinggian 5.000 meter dikelilingi puncak-puncak salju yang mencapai 7.000an meter. Ini jalan berbahaya di tepi jurang curam, yang seperti tak pernah tersentuh peradaban, namun justru adalah sebuah lintasan Jalur Sutra yang tak berubah sejak zaman Marco Polo. Karena terlalu berbahaya, saya tidak mungkin ke Pamir sendirian. Setelah empat hari menunggu di Sarhad, saya akhirnya menemukan sebuah karavan kuda para tentara Afghan yang hendak menuju Pamir. Karavan terdiri dari seorang komandan perbatasan, seorang pengawal, empat serdadu memanggul Kalashnikov. Mereka mendapat tiga ekor kuda dari penduduk Sarhad. Dua lelaki Wakhi dari Sarhad menjadi pemandu karavan. Di hadapan saya terpampang jalan setapak berpasir licin selebar 30 sentimeter tepat di tepi jurang vertikal yang kedalamannya mungkin sampai 1000 meter, dengan sebuah sungai deras mengaum dalam perjalanannya menuju Amu Darya, sementara tepat di seberang sungai ada sebuah tebing vertikal lain yang membentuk gunung cadas [...]

September 23, 2015 // 3 Comments

Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (3)–Koridor Zaman

Serial artikel untuk Chinese National Geography Koridor Zaman Begitu meninggalkan Ishkashim, hal yang paling mengejutkan saya adalah melihat wajah perempuan—sesuatu yang hampir mustahil di Afghanistan. Di mana-mana tampak para perempuan desa Lembah Wakhan berpakaian warna-warni mencolok, melambaikan tangan sambil tersenyum ke mobil kami. Baju, kerudung, topi sulaman tangan di bawah kerudung, rompi, rok, celana kombor, juga perhiasan manik-manik berat yang menghiasi rompi mereka, semuanya dalam warna berbeda dan beraksen kuat, membuat mereka terlihat seperti khusus berdandan untuk festival. Lembah Wakhan dihuni bangsa Wakhi, yang jumlahnya 100 ribu orang dan tersebar di daerah pegunungan Afghanistan, Tajikistan, Pakistan, dan China. Di Tajikistan mereka disebut sebagai “Tajik Pamir”, sedangkan di China hanya sebagai “Tajik”, walaupun mereka sebenarnya berbahasa, berbudaya, dan menganut kepercayaan yang berbeda dengan orang Tajik. Orang Wakhi adalah penganut sekte Islam Ismaili. Pemimpin spiritual umat Ismaili adalah Aga Khan, dipercaya sebagai keturunan langsung Nabi Muhammad. Dusun Qala Panja, 80 kilometer atau dua hari perjalanan dari Ishkashim, dalam sejarahnya adalah tempat perhentian penting para musafir kuno zaman Jalur Sutra untuk mengganti kendaraan mereka dari kuda menjadi yak untuk melintasi pegunungan Pamir menuju China. Kini, Qala Panja adalah lokasi kediaman pemimpin umat Ismaili di seluruh Koridor Wakhan. Lelaki itu dikenal sebagai Shah Panja, [...]

September 22, 2015 // 5 Comments

Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (2)–Sungai Pemisah Takdir

Serial artikel untuk Chinese National Geography Sungai Pemisah Takdir Amu Darya sang sungai ibunda mungkin memang sejak ribuan tahun telah ditakdirkan menjadi pemisah kehidupan manusia. Bangsa Yunani kuno menyebut Asia Tengah Transoxiana—“Seberang Sungai Amu” dan orang Arab Mawarannahr—“Tanah Seberang Sungai”. Amu Darya lebih dari 2.500 kilometer panjangnya, bersumber dari mata air di Pamir, pegunungan salju atap dunia di ujung timur Koridor Wakhan. Di sana, dia berupa sungai-sungai kecil yang sempit namun bergolak deras dan mematikan, bahkan buihnya sampai melayang ke udara. Satu cabangnya di utara menjadi Sungai Pamir, yang menjadi batas antara Afghanistan dan Tajikistan di bagian timur Koridor. Lalu, turun dari Pamir, sungai ini menjadi sungai lebar berlumpur yang mengalir lambat di lembah Wakhan, terus mencapai Ishkashim, berbelok ke utara dan kembali menjadi sempit dan deras, tetap membelah provinsi yang sama-sama bernama Badakhshan di kedua negeri. Semakin ke barat, setelah selama 1.300 kilometer menjadi batas dengan Tajikistan, sungai ini kemudian menjadi batas antara Afghanistan dengan secuil wilayah Uzbekistan, bermetamorfosa menjadi sungai yang lambat namun lebar tak terkira. Semakin ke barat, sungai ini menjadi pembatas antara padang pasir Afghanistan dengan Turkmenistan yang sama keringnya. Di sana, gelegaknya sirna, bahkan terlalu lemah untuk mempertahankan arah alirannya sendiri, sehingga sering bergeser di [...]

September 21, 2015 // 2 Comments

Tajikistan: Tersekat Gunung dan Batas (2)

Serial artikel Tajikistan untuk Chinese National Geography. Sungai Amu Darya, selebar 20 meter, memisahkan Afghanistan dan Tajikistan di kedua sisinya seabad jauhnya. Kerinduan dari Seberang Sungai Gambaran fisik Tajikistan yang paling gamblang dalam imaji kebanyakan orang tentu adalah gunung-gunung tinggi bertudung salju menggapai angkasa. Tidak salah memang. Belahan timur Tajikistan adalah kawasan pegunungan Pamir yang hampir seluruhnya berada di atas ketinggian 3.000 meter, dan dijuluki dengan sangat romantis: Atap Dunia. Jalan beraspal M-41 (dikenal juga sebagai “Pamir Highway”) yang bertabur lubang dan meliuk-liuk di tepi jurang pegunungan cadas yang nyaris tegak lurus ini menghubungkan Dushanbe dengan Pamir. Nama wilayah ini sebenarnya adalah Provinsi Otonomi Pegunungan Badakhshan, atau lebih dikenal dengan singkatan bahasa Rusia: GBAO. Luasnya sekitar 45 persen luas Tajikistan, tetapi populasinya hanya 5 persen penduduk nasional. Jip Rusia kami menyusuri jalan sempit sepanjang tepian Sungai Amu Darya, garis batas alami antara Tajikistan dengan Afghanistan. Lembah sungai tidak terlalu lebar, siapa pun bisa melihat dengan jelas kehidupan di negeri seberang sana. Paralel dengan jalan yang kami lewati di Tajikistan ini adalah sebuah jalan setapak sempit berdebu yang menanjak dan menukik mengikuti punggung pegunungan, tepat di tepi sungai yang bergolak hebat. Seorang pria Afghan beserban terlihat berjalan tertatih-tatih, menggeret keledai malas [...]

September 11, 2015 // 9 Comments

Selimut Debu 74: Everything is Wrong in Afghanistan

Yang membuat aku lebih marah lagi adalah, ternyata aku sendirian di tengah kerumunan orang-orang pasar ini. Tidak ada yang menolongku berbicara. Si orang Tajikistan yang tadi bersamaku sudah kabur entah ke mana, mungkin mengira aku adalah orang yang penuh masalah. Kemarahanku yang lebih besar adalah, sesungguhnya ada beberapa orang asing di pasar ini. Ada Arnault, ada aku, ada pula si orang Tajikistan, juga kalau tidak salah ada orang India. Tapi mengapa hanya aku satu-satunya yang dikerumuni orang, diperiksa pasporku dengan tidak profesional dan tanpa tujuan? Dan gara-gara pemeriksaan tadi, aku ketinggalan kendaraan menuju Faizabad (Aku tidak mau menginap di Baharak, terima kasih!). Sekarang aku harus mencari lagi kendaraan yang sudah penuh penumpang. Aku sudah tidak tahu semarah apa aku jadinya, ketika tiba-tiba sebuah tangan keras mencengkeram pundakku. Tangan dari seorang lelaki berseragam yang lebih mirip seragam satpam. Aku harus ke kantor, katanya. Tentu aku menolak. Aku hanyalah turis yang menunggu bus, dan sekarang aku menjadi pusat perhatian begitu banyak orang-orang bosan di jalanan, dan menjadi objek permainan para polisi yang sebenarnya tidak mengerti apa itu paspor dan apa tulisan di atas paspor asing. Seorang lelaki berbahasa Urdu berbisik di telingaku. “Menurut sajalah. Tenang, ikuti kata mereka. Koi zabardasti nehi. Tidak [...]

February 6, 2014 // 0 Comments

Selimut Debu 73: Hadiah Ulang Tahun

Setelah perjuangan panjang dari Qala Panjah menuju Ishkashim (yang di luar dugaan, memakan waktu sampai tiga hari karena parahnya transportasi!), aku berjuang untuk melanjutkan perjalanan ke arah barat, moga-moga bisa mencapai Kedutaan Indonesia di Teheran untuk merayakan Hari Kemerdekaan 17 Agustus. (Nasionalisme? Mungkin ini gara-gara perbincangan dengan Arnault sebelumnya). Lagi pula, hari ini 8 Agustus adalah hari ulang tahunku yang ke-25. Semoga saja hari ulang tahun ini melimpahiku dengan keberuntungan. Amin. Jadi hari ini, kami berdua berangkat menuju Baharak, di mana aku bisa mendapat kendaraan menuju Faizabad, dan Arnault berbelok ke utara ke arah Danau Shewa. Orang Afghan ini punya konsep waktu yang aneh. Ketika kami masih sarapan jam 6 pagi, sopir memburu-buru kami katanya mobil segera berangkat. Tetapi setelah kami duduk manis di mobil, satu jam kemudian mesin baru dinyalakan dan dua jam kemudian kami baru meninggalkan Ishkashim. Matahari sudah sangat tinggi sedangkan perjalanan ke Baharak memakan waktu minimal tujuh jam. Sekarang semua berbalik arah. Dulu waktu berangkat dari Baharak ke Ishkashim, Baharak terasa seperti kota pasar yang membosankan tapi jalanannya teramat indah. Sekarang, sepulang dari Wakhan, jalanan bergunung-gunung ke Baharak terasa sangat datar, tetapi Baharak dengan barisan toko-tokonya terasa seperti metropolitan New York. Warung-warung, kios, pedagang asongan, penyemir [...]

February 5, 2014 // 0 Comments

Selimut Debu 72: Nilai Ke-Afghanistan-an

Aku berusaha keras menghindari Bakhtali. Tapi untunglah, kami berjalan dengan kecepatan yang jauh berbeda. Aku merayap lambat menyisir bebatuan, sementara dia melesat kilat seperti anak panah. Dalam kesendirian, aku menikmati pemandangan perbatasan yang begitu menakjubkan ini. Di sebelah kananku Tajikistan, di sebelah kiriku Pakistan, aku ada di tengah Koridor Wakhan yang sempit dan termasyhur itu. Tetapi kesepian ini sungguh menakutkan. Sepi yang sesepi-sepinya, selain suara angin dan debur arus sungai. Tak ada lagi orang lain yang bisa kumintai pertolongan, apalagi karena kedua kakiku semakin sakit karena berjalan terlalu jauh. Aku mulai berjalan pukul 1 sore, dan setelah dua jam berjalan kedua kakiku hampir lumpuh. Aku hanya bisa berjalan, dan terus berjalan, karena tidak ada pilihan lain. Tidak ada desa sama sekali di antara Aorgarch dengan Qala Panjah. Yang kulihat hanya ada tiga orang gembala, dan tidak ada manusia lainnya barang satu pun. Ah, andaikan saja ada jembatan yang menghubungkan jalanan ini dengan jalanan beraspal di seberang sungai sana. Tentu dengan mudah aku menumpang kendaraan bermotor, tanpa harus bersusah-payah seperti ini. Tapi… itu cuma mimpi. Yang di seberang sana, walaupun terlihat dekat, adalah tanah tak tergapai. Negara lain. Dunia lain. Ada garis batas tak tertembus. Setelah empat jam berjalan, langit sore [...]

February 4, 2014 // 2 Comments

Selimut Debu 71: Petualangan Sebuah Traktor

Di tempat seperti ini, kita tidak bisa pergi kapan pun kita suka. Transportasi sangat terbatas, dan aku hanya bisa menggantungkan jadwal perjalananku pada tumpangan. Untungnya, hari ini Juma Khan kebetulan mau ke Khandud karena ada urusan, jadi aku bisa menumpang traktornya sampai ke Khandud. Kesempatan ini tidak datang setiap hari. Walaupun kakiku masih sakit gara-gara berjalan kaki 40 kilometer beberapa hari lalu, dan aku sebenarnya masih ingin tinggal lebih lama di Kret barang dua hari lagi, aku memutuskan untuk ikut. Para penumpang gratisan ternyata juga bukan aku saja. Ada beberapa warga desa Kret yang juga gembira ada transportasi ke desa tetangga. Bahkan Bakhtali si moalem juga ikut menumpang. Ini karena jalanan di sepanjang sisi selatan Sungai Wakhan sangatlah susah dilewati kalau berjalan kaki, karena banyaknya sungai besar. Juma Khan tidak memungut bayaran apa pun. Tolong-menolong sesama manusia adalah jalan hidup di Wakhan. Di sini, kita tidak mungkin hidup sendiri. Toh kita juga pasti akan membutuhkan bantuan mereka. Jalanan sesudah Desa Baba Tangi juga kebanjiran, yang airnya sampai sedalam pinggang. Saking dalamnya, kami para penumpang harus melemparkan batu ke dalam air supaya traktor bisa lewat. Selanjutnya adalah jalanan mendaki yang sangat terjal ke atas bukit. Traktor kosong yang kurang beban ini [...]

February 3, 2014 // 5 Comments

Selimut Debu 70: Saudara Sebangsa

Para pria Pakistan ini memang katanya datang ke sini untuk membawa perubahan. Lihat celana modern dan jaket-jaket bulu yang mereka pakai. Coba dengarkan gemeresik radio yang mereka putar. Belum lagi mulut-mulut yang bercakap bahasa Inggris dengan fasih. Faizal-ur-Rahman, Juma Khan, dan yang lain-lainnya, datang dari Chapursan di Pakistan di balik gunung sana. Mereka menganut Islam Ismaili yang sama, bicara bahasa yang sama, tetapi betapa modernnya orang-orang ini di mata penduduk desa. Kelima belas orang ini umumnya adalah tukang batu dan tukang bangunan. Tugas mereka adalah membangun gedung sekolah di desa, proyek dari Central Asia Institute, sebuah NGO yang katanya cukup bermasalah. Ada yang menatah batu, ada yang mengangkut dengan traktor. Ada yang mengaduk semen, ada yang memasang tembok dan jendela. Penduduk desa kadang ikut membantu menyiapkan teh dan makanan kecil. Semua tidak sabar ingin melihat gedung sekolah mungil ini cepat selesai. Sekarang, anak-anak masih harus berjalan kaki empat kilometer untuk sampai di sekolah tenda berlogo UNICEF. Bukan berarti orang Wakhan miskin-miskin. Ada cukup banyak pula orang kaya di sini. Akimboy salah satunya. Juga Bulbul, yang rumahnya di bawah bayang-bayang puncak salju Baba Tangi. Nama Bulbul memang berarti burung bulbul. Ternaknya ada ratusan. Dua adik Bulbul sekarang tidak tinggal di desa. [...]

January 31, 2014 // 5 Comments

Selimut Debu 69: Terkunci Waktu

Waktu berjalan sekehendaknya, kadang cepat, kadang lambat. Musim panas, musim dingin datang silih berganti. Dan tak ada yang peduli. Coba tanyakan kepada orang-orang dari Dusun Kret ini, berapa musim panas yang telah berlalu dalam hidup mereka. Tak banyak yang tahu jawabnya. Si bocah pemungut kotoran kambing dengan bangga berkata umurnya sudah tiga setengah tahun. Anaknya tangkas, sudah bisa memanjat pohon dan meloncati batu di tepi jurang. Di mataku setidaknya ia pasti sudah berumur sepuluh tahun. Rajabmat mengaku 95 tahun. Kepalanya sudah ditumbuhi rambut-rambut putih. Bahkan daun telinganya pun berbulu putih. Dengan angka 95 itu, ia sudah menjadi orang yang paling tua yang pernah kutemui di desa ini. Tetapi angka itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Siapa yang percaya? Orang bilang, Tila Khan adalah kakek paling tua di seluruh desa. Tetapi Tila Khan bilang “baru” berumur 80 tahun. Bagaimana membuktikannya? Akte kelahiran? Ah, itu barang dari dunia lain. Lembah ini hidup dalam dimensi waktunya sendiri. Sehari. Seminggu. Sebulan. Setahun. Sepuluh tahun. Tak ada bedanya. Masih musim panas yang itu-itu juga. Masih musim dingin yang sama menggigitnya. Waktu seakan tak pernah menggeser kehidupan di sini. Terperangkap. Terlupakan. Krek… krek… krek…. Derik bergema dalam kamar batu gelap. Zaman yang mana lagi ini, pikirku. [...]

January 30, 2014 // 1 Comment

Selimut Debu 68: Agama Kita Adalah Kemanusiaan

Terkadang aku lupa, ini adalah Afghanistan. Di sini tidak ada burqa, dan kaum perempuan begitu bebas bercengkerama di jalanan. Burqa tidak dikenal dalam kamus Bakhtali. Ia masih sering keseleo lidah menyebut kata itu, ”Bur-qa atau buq-ra? Apa sih namanya?” Bakhtali hanya tahu kata chadri, padanan kata burqa yang lebih banyak digunakan di sini. Bagi perempuan Ismaili di Wakhan, chadri sungguh adalah barang yang asing, namun terkadang mereka tak bisa menghindarinya. Bibi Sarfenaz, misalnya, pekerja sosial di Wakhan, selalu membawa chadri ke mana-mana. Ia adalah wanita tangguh, mengunjungi rumah-rumah penduduk di Desa Kret untuk survei. Ia bekerja untuk organisasi sosial milik Aga Khan. Dengan pengalaman kerjanya yang bertahun-tahun di wilayah umat Ismaili di Pakistan, kini ia kembali bekerja di kampung halamannya di Wakhan. “Orang Ismaili adalah pecinta kebebasan. Dan sudah seharusnya ada kebebasan terhadap perempuan, karena perempuan itu sejajar dengan laki-laki.” Bibi Sarfenaz berapi-api. Di Afghanistan, perempuan Sunni tidak pergi ke masjid. Tetapi kaum perempuan Ismaili bersama-sama dengan kaum prianya juga pergi beribadah di jemaatkhana, rumah ibadah orang Ismaili, tiga kali sehari. “Tetapi, kami juga terkadang harus memakai burqa,” lanjut Bibi Sarfenaz, ”yaitu ketika kami pergi ke kota. Di kota banyak orang-orang Sunni. Kalau tidak pakai burqa, mereka bilang darah kami [...]

January 29, 2014 // 11 Comments

Selimut Debu 67: Halusinasi

Asap mengepul dari pojok ruangan gelap rumah Bakhtali. Sumbernya bukan dari dapur atau perapian, melainkan dari sebuah pipa melengkung berbentuk tanda tanya. Seorang kakek tua berbaring di ruangan, mengisap dalam-dalam sambil meresapi kenikmatan pipa. Bakhtali mengambil tempat di sebelah kakek tua. Ia ikut menggerus sesuatu hingga menjadi bubuk, kemudian ditaruh dalam pipa, dan diisap asapnya. Aku bertanya, apa itu. “Taryak,” jawab Bakhtali kalem. Opium. Orang-orang Ismaili dari Lembah Wakhan ini memang dikenal akan tradisi mengisap opium. Aku sempat terkejut mencium aroma menusuk yang memualkan kini memenuhi seluruh ruangan. Si kakek tua terbaring menikmati surganya. Istri Bakhtali hanya duduk, di dekat perapian, mengamati teman suaminya yang tampaknya sudah langganan ke rumah ini. “Ini taryak,” kata Bakhtali sekali lagi, ”tapi percayalah. Aku tak akan mengisapnya. Ini barang jahanam.” Kakek tua mengisap dalam-dalam, menyemburkan asapnya ke arah Bakhtali. Bakhtali gelagapan. Godaan aroma asap itu menjebol daya tahannya. Tangannya gemetar. Ia meraih pipa tanda tanya itu dari kakek tua yang masih terbaring. Perlahan-lahan diisapnya, perlahan-lahan diembuskannya. “Aku tak akan mengisapnya. Ini barang jahanam,” ia masih berkata. Detik berikutnya ia sudah lupa ucapannya sendiri. Yang ada hanya ritual isap dan embus. Pufff…. Pufff…. Bergantian dengan kakek tua itu. Istri Bakhtali hanya merangkul kedua anak mereka, [...]

January 28, 2014 // 2 Comments

Selimut Debu 66: Nostalgia Komunis

Bagi sebagian orang, mimpi adalah masa lalu yang gemilang, sempurna, tanpa cacat. Itulah masa lalu yang sama sekali tak terbandingkan dengan realita hidup sekarang yang begitu terbelakang. Bakhtali, pria 35 tahun ini, masih hidup dalam masa lalunya. Gurat-gurat wajahnya menggambarkannya jauh lebih tua, tidak heran jika kuduga dia lebih dari 50 tahun. Kumisnya tebal tersekat antar hidung dengan bibir atas. Wajahnya keras. Tangannya pun keras. Sungguh berbeda dengan figur guru, atau mualem, sebagaimana ia biasa dipanggil penduduk Desa Kret. Dengan bangga dia menunjukkan serpihan-serpihan sejarahnya. ”Ini kartu anggota partai komunis.” Foto Bakhtali muda dalam lipatan kartu merah tampak sangat tampan dan gagah. Pandangan matanya tajam, wajahnya halus dan bersih. Bibirnya terkatup rapat. Inilah figur masa lalu seorang komunis yang sangat dibanggakannya. “Nah, kalau ini, tanda penghargaan kader komunis,” seringai Bakhtali, “langsung dari Presiden Najibullah!” Aku mengamati Bakhtali yang duduk di hadapanku. Mulutnya tak pernah terkatup rapat. Pandangan matanya kosong, kumisnya tebal, wajahnya gelap dan kasar, tak terawat. Benarkah ini Bakhtali yang sama dengan yang dibanggakan dalam kartu-kartu berlambang bintang dan palu arit? Ia masih hidup dalam masa lalu. ”Aku memang komunis,” katanya sambil menepuk dada, ”dan komunis itu baik.” Istri Bakhtali masuk membawa senampan cangkir dan poci teh, serta beberapa [...]

January 27, 2014 // 1 Comment

Selimut Debu 65: Kebahagiaan yang Sederhana

Hidup di Ghoz Khan begitu sederhana. Nyaris tanpa fasilitas apa pun. Tapi kedamaian, bebas dari ketakutan, adalah kebahagiaan hidup yang sangat mahal di Afghanistan. Dan di sini mereka berlimpah itu. Minimnya fasilitas menyebabkan mereka menaruh mimpi-mimpi tinggi pada Tajikistan. Tidak ada dokter, selain dokter Alex yang berpatroli dari desa ke desa. Tidak ada listrik, mereka masih hidup dalam kegelapan lampu minyak. Sayang, aku tak berkesempatan menyaksikan apakah benar realita Tajikistan itu sesuai dengan impian orang-orang di sini. Perjalananku dari Ghoz Khan tempat keriuhan pesta pembukaan perbatasan, menuju desa Kret ini sungguh berat. Di sekelilingku adalah gunung-gunung tinggi, padang rumput, aliran sungai deras, bebatuan raksasa, sementara aku seorang diri di tengah jalan setapak yang terkadang datar, terkadang menanjak, terkadang dibasuh jeram yang dalam. Berangkat dari Desa Ghoz Khan pagi-pagi buta, hingga menjelang senja sampai ke Desa Kret tempat Faizal-ur-Rahman, Juma Khan, dan orang-orang Pakistan lainnya bekerja. Sebenarnya orang-orang Pakistan itulah yang menjadi alasan perjalanan ini. Aku tidak tahu sejauh apa Kret dari Ghoz Khan. Yang kutahu hanya berjalan dan berjalan, melewati jalan berbatu dan sungai-sungai menggenang. Beberapa kali aku harus menyeberang sungainya yang mengalir deras, terkadang sambil meloncat-loncat mencari titian batu-batu besar—termasuk dalam deretan hal-hal yang paling tidak kusukai dalam perjalanan. [...]

January 24, 2014 // 5 Comments

Selimut Debu 64: Jembatan Menuju Impian

Jembatan kayu itu hanya tiga meter lebarnya, tak lebih dari dua puluh meter panjangnya. Sungai yang ada di bawahnya tak lebar, namun alirannya deras. Inilah jembatan tua yang akan mewujudkan impian orang-orang di lembah Wakhan ini. Jembatan-jembatan kayu dan reyot di pedalaman Koridor Wakhan sudah tua umurnya, seperti halnya jalan berdebu dari Ishkashim hingga ke sini. Semua pernah jadi saksi bisu kedatangan barisan tank Soviet yang menginvasi Afghanistan. Wakhan adalah salah satu pintu masuk para penjajah. Puluhan jembatan kayu dibangun untuk memuluskan jalan serdadu. Invasi itu mengubah jalan hidup Afghanistan, memundurkan peradabannya, membungkus kembali perempuan-perempuannya, mengawali pertumpahan darah berpuluh tahun, dan hidup manusia yang hanya digerayangi ketakutan dan kebodohan, hingga sekarang. Di seberang jembatan tampak tentara berjaga-jaga di belakang barikade gulungan kawat besi. Di sebelah kiri ada gambar bendera Tajikistan, di sebelah kanan ada gambar lambang negaranya. Persis seperti pintu masuk gang kecil di Indonesia. Ini adalah pintu masuk negeri impian, yang butuh perjuangan sangat panjang untuk menembusnya. Belasan tentara perbatasan anak buah Sakhi sibuk mempersiapkan prosedur—seperti layaknya operasi militer. Ada yang mengontak kantor pusat di Khandud dengan radio, ada yang mempersiapkan dokumen, tetapi kebanyakan hanya berkerumun, kemudian berpatroli sambil menenteng Kalashnikov. Di seberang sungai sana, selain kawat besi dan [...]

January 23, 2014 // 1 Comment

Selimut Debu 63: Poyandah Namaku

Malam ini sesungguhnya adalah malam yang penuh pengharapan. Orang-orang ini ternyata berkumpul di rumah Shah karena besok akan terjadi peristiwa bersejarah. Jembatan akan dibuka, menghubungkan langsung mereka dengan Tajikistan. Betapa susahnya kehidupan di sisi sungai ini, di negeri bernama Afghanistan. Sekolah sangat jarang, rumah sakit tidak ada, dan listrik hanya dihasilkan oleh generator pribadi. Jangan lupa pula, pasar terdekat ada di Ishkashim, dua hari perjalanan paling cepat kalau naik mobil, atau tiga hari jalan kaki. Seketika, negeri lain pas di seberang sungai sana menawarkan impian. Tajikistan sebentar lagi akan mereka rengkuh. Tajikistan akan membuka perbatasannya dengan dusun-dusun Wakhan. Adakah hal lain yang lebih baik daripada itu? “Kita bisa ke rumah sakit,” kata Wali Muhammad, “anak-anak kita bisa sekolah di sana.” “Listrik juga bisa masuk sini,” kata kakek tua beserban. “Kita bisa belanja ke pasar,” kata Khan Jon. “Kamu mau ikut? Kita besok belanja ke bazaar di Tajikistan sana” tanya Ghulam Sakhi. Tapi aku tak punya visa. Ghulam Sakhi sigap menjawab, “Jangan khawatir. Aku akan menyelundupkanmu!” Mereka bilang, wajahku sudah seperti orang Afghan. Aku cukup pura-pura bisu saja, beres. Mereka bahkan memberiku nama: Poyandah Iskashim, putra dari Rajab. Ya, namaku Poyandah Iskhashim bin Rajab. Inilah nama samaran yang harus kuhafal, jangan [...]

January 22, 2014 // 4 Comments

Selimut Debu 62: Agama Bukan di Baju

Traktor Juma Khan membawaku, Ghulam Sakhi, dan para penumpang lain hingga ke Qala Panja. Dari semua desa di tanah Wakhan ini, Qala Panja adalah yang paling terkenal. Namanya disebut-sebut dalam berbagai catatan perjalanan berabad silam. Karavan kuda yang membawa barang-barang dagangan dari Konstantinopel hingga ke negeri Tiongkok, pernah lewat di sini. Medan pegunungan Wakhan dan Pamir yang berat memaksa para saudagar mengganti kuda beban dengan keledai atau yak di Panja. Dalam catatan perjalanan yang dibuat Hsuan Tsang, disebutkan bahwa benteng-benteng kuno bertebaran antara Ishkashim hingga Qala Panja dan Yamchum (di seberang sungai, wilayah Tajikistan). Wilayah ini adalah sebuah kerajaan bernama Xiumi (Wakhan) yang beribu kota di Saijiazhen (Ishkashim). Kata Qala dalam nama Qala Panja memang berarti benteng, dan reruntuhan benteng kuno itu masih terlihat. Di sinilah Koridor Wakhan berakhir. Lidah sempit Afghanistan yang dimulai dari Ishkashim digantikan sebuah lidah besar yang dikelilingi Tajikistan, Pakistan, dan Cina. Qala Panja adalah tempat kediaman pemimpin besar Muslim Ismaili di seluruh tanah Wakhan, mulai dari Ishkashim hingga ke Boroghil. Namanya Said Ismail. Gelarnya Shah, yang berarti raja, atau lengkapnya Shah-e-Panja, sang raja dari Panja. Kedudukannya adalah pir, pemimpin komunitas umat Ismaili di seluruh Wakhan. Aku turun dari traktor, bersama Ghulam Sakhi dan Wali Mohammad, [...]

January 21, 2014 // 1 Comment

Selimut Debu 61: Dunia Begitu Kecil

Aku tak punya pilihan. Tidak ada rencanaku menginap di Khandud. Bahkan membayangkan pun aku tak pernah. Ada sejumput amarah bergemuruh di dalam diri, sopir yang kubayar ternyata mengantarkanku ke tempat lain yang bukan tujuanku. Kami masuk rumah Bashir, duduk melingkar di ruang tamu. Bashir langsung lenyap ke dalam rumah. Kegelapan menyelimuti ruangan ini. Matras-matras panjang digelar. Aku mengambil tempat di pojok. Waduj dan Haji Samsuddin di pojok lain. Sunyi. Senyap. Tak ada yang bicara. Mungkin semua lelah? Mungkin semua bingung? Komandan Sakhi tidak betah dengan kesunyian. Suaranya menggelegar. ”Hai, kamu semua tidak bisa bicara ya? Bisu ya?” Dia memang komandan, kata-katanya seakan menghipnotis. Samsuddin dan Waduj tiba-tiba mengobrol sembarang topik, memecah kesunyian. Tidak berapa lama, segunung nasi putih disajikan berwadah piring lebar dan panjang. Puncaknya tidak lancip seperti tumpeng, tetapi dengan kaldera seperti Bromo. Dalam cekungan di puncak gunungan nasi itu terdapat danau minyak bening. Dua piring lebar ditaruh di atas tikar, dikelilingi para lelaki yang wajahnya ikut berkelap-kelip bersama sinar lampu petromaks. Makan malam kami ini disediakan oleh keluarga Bashir. Ayah dan paman Bashir ikut bergabung bersama para tamu. Ini adalah kewajiban tuan rumah. “Kamu mau ke mana?” Sakhi bertanya padaku. Boroghil, aku menjawab. Dia tertawa. “Boroghil terlalu jauh. [...]

January 20, 2014 // 4 Comments

1 2