Recommended

Lahore

Penodaan Agama: Menista Agama atau Menista Ego?

Pengalaman pertama saya bersinggungan dengan isu penodaan agama adalah pada tahun 2006, ketika saya berada di tengah ribuan demonstran di kota Lahore, yang memprotes pemuatan karikatur yang menghina Nabi Muhammad S.A.W oleh sebuah koran Denmark. “Ini adalah wujud cinta pada Rasul” tertulis di salah satu poster yang dibawa demonstran. Seorang pemuda yang membawa pentungan berkata pada saya, “Kami mencintai Nabi kami, lebih daripada kami mencintai anak dan orangtua kami sendiri.” Para demonstran menuntut pembuat karikatur dijatuhi hukuman mati, sebagaimana berlaku dalam hukum Pakistan terhadap penghujat Nabi. Semua demonstran yang saya wawancarai mengaku tidak pernah melihat sendiri karikatur itu, tetapi amarah mereka meledak setelah mendengar dari ulama mereka di masjid. Selepas siang, demonstrasi yang dilandasi cinta itu berubah menjadi amuk massa dahsyat. Orang-orang membakar mobil dan sepeda motor di sepanjang jalan. Mereka juga menjarah dan membakar restoran, kantor, toko, dan bank, diiringi seruan memanggil Tuhan Yang Maha Besar. Lebih dari seratus bangunan dan empat ratus kendaraan hancur. Kerusuhan meluas ke kota-kota lain di seluruh negeri. Massa juga membakar gereja, sekolah-sekolah dan rumah-rumah milik warga Kristen di berbagai lokasi di Pakistan, sebagai balasan untuk “penodaan” karikatur Denmark itu. Masih pada saat saya berada di Pakistan, pada akhir 2005, kasus lain yang menggemparkan [...]

May 17, 2017 // 55 Comments

Titik Nol 179: Heera Mandi (1)

Masjid Badshahi di senja hari (AGUSTINUS WIBOWO) “Larki-marki dekhaun? Mau aku kasih liat koleksi cewek?” seorang pria berjubah shalwar kamiz yang tidak saya kenal berbisik ketika saya menyusuri gang-gang ruwet di kota kuno Lahore. Kemegahan Masjid Badshahi, masjid terbesar dari Dinasti Mughal, adalah kebanggaan Lahore dan Pakistan. Tetapi, bayang-bayang masjid ini menaungi daerah prostitusi paling tersohor di negeri ini, bahkan namanya hingga ke negara-negara tetangga. Siapa yang tak tahu nama Heera Mandi (baca: Hira Mandi)? Ratusan tahun lalu, ratusan gadis penari molek ditambah kaum hijra (penari transeksual) meliuk-liukkan badannya menggoda iman di malam yang gelap. Kini, di kota modern Lahore di bawah kibaran bendera Republik Islam Pakistan, gadis-gadis masih menawarkan hiburan malam, namun tersembunyi di balik tembok tebal. Siang hari, barisan rumah di ruwetnya gang Heera Mandi tak nampak istimewa. Hanya rumah-rumah kuno dari zaman negeri dongeng seribu satu malam. Ada pasar kuno yang ribut, para pria yang semuanya mengenakan ‘seragam’ shalwar kamiz, dan para perempuan yang dibalut purdah hitam pekat. “Tidak mahal,” kata lelaki berkumis itu masih penuh semangat, “hanya 300 Rupee saja.” Di siang hari pun, walaupun tidak semarak malam, transaksi masih terus perjalan. “Mujhe dilcaspi nehin. Saya tidak tertarik,” saya bergegas pergi menuju masjid. Matahari memanggang Lahore [...]

April 30, 2015 // 0 Comments

Titik Nol 137: Timbangan Kecil

Anarkali Food Street, terang benderang di malam hari (AGUSTINUS WIBOWO) Taktaktaktaktak…taktaktaktak… suara denting logam beradu, menambah riuh rendahnya jalanan di waktu malam. Bau harum semerbak. Seorang pedagang pinggir jalan dengan bangga menawarkan jualan andalannya. Orang-orang Lahore memenuhi jalanan yang diterangi lampu warna-warni ini, sudah tak sabar lagi mengisi perut mereka. Anarkali Food Street adalah daya tarik kuliner kota Lahore malam hari. Bagi penduduk kota besar Pakistan, keluar untuk makan malam adalah salah satu kegiatan hiburan yang digemari. Bukan hanya karena makanan lezat yang dijual dengan harga murah, tetapi karena juga suasana makan di jalan terbuka khusus para pejalan juga punya nuansanya sendiri. Segala macam jajanan Punjabi, segala macam nasi biryani dan roti, sampai kebab ala Turki dan bakmi China, tak lupa juga teh susu dudhpati dan manisnya faluda bisa dicicip di sini. Tak-a-tak atau kat-a-kat, diberi nama demikian karena bunyi santer taktaktaktaktak atau katkatkatkatkatkat yang dihasilkan ketika pemasak menggilas daging ayam dan kambing di atas wajan datar berdiameter besar. Kedua tangan koki sangat piawai memainkan dua lempeng logam berbentuk segitiga, cepat, berirama, menjadi melodi yang mengiringi harumnya beragam makanan tradisional dan hiruk pikuknya pengunjung dari segala penjuru kota. Jalanan ini terang benderang. Lampu hias warna-warni mengiluminasi semua sudut jalanan. Hasrat makan [...]

March 3, 2015 // 1 Comment

Titik Nol 136: Hancur Lebur

Api di mana-mana (AGUSTINUS WIBOWO) Saya dikeroyok orang-orang yang mulai beringas. Teriakan penuh marah terus bergemuruh. Asap mengepul di mana-mana. Data Darbar diselimuti lautan laki-laki yang membeludakkan semua kekesalan, “Bush anjing! Bush anjing!” bersahut-sahutan membahana. Tiba-tiba tangan saya diseret seseorang. “Ikut saya,” katanya lembut, di tengah keberingasan gerombolan lelaki yang mengepung saya. Pria bertubuh gemuk ini kemudian menghalau orang-orang beringas yang masih berusaha menyerang saya. “Kita ke rumah dulu, yuk,” katanya. Saya mengangguk. Qutbi bukan saja menyelamatkan saya dari kekisruhan, dia masih memberi saya segelas air dingin. Di dalam halaman rumahnya yang sederhana, saya aman. “Kamu pulang saja. Hari ini berbahaya sekali. Semua orang sudah jadi gila,” ia menganjurkan. Saya menggeleng. Qutbi pun tak berdaya dengan kekeraskepalaan saya. Istrinya yang bercadar sekujur tubuh datang membawa sebuah kopiah putih. Qutbi memasangkannya di atas kepala saya. “Sekarang kamu sudah seperti pelajar Muslim,” kata Qutbi, “Orang-orang itu tidak akan mengganggumu lagi.” Saya sangat terharu. Qutbi tidak tega melihat saya turun ke jalan sendirian. Ia menjadi pengawal saya. Saya merasa aman sekali. Kami kembali ke Data Darbar. Orang-orang baru saja bershalat, dan sekarang siap bergerak, melakukan pawai jalanan keliling Lahore. Suasana semakin panas dan kacau. Asap mengepul tinggi dan api berkobar di mana-mana. Di [...]

March 2, 2015 // 2 Comments

Titik Nol 135: Bukan Hari Valentine Biasa

Kerusuhan di depan Data Darbar (AGUSTINUS WIBOWO) 14 Februari 2006. Matahari sudah mulai tinggi di Lahore. Tetapi tak ada hiruk pikuk klakson kendaraan di jalan raya yang biasanya selalu ruwet oleh segala macam kendaraan. Toko sepanjang jalan tutup semua. Bahkan sarapan pun susah. Ada apa ini? “Hartal,” demikian jawab pemilik penginapan tempat saya tinggal. Artinya mogok – acara mogok massal di mana semua toko-toko tutup, semua orang tak bekerja dan mengurung diri di rumah, kendaraan tidak hilir mudik, semua kantor tak beroperasi. Saya ingat hartal adalah salah satu gerakan damai Mahatma Gandhi melawan imperialisme Inggris. Hingga sekarang, acara mogok-mogokan massal ini masih sangat populer di negara-negara Asia Selatan. “Bukan, bukan hartal,” sanggah seorang pemuda pemilik guesthouse tempat menginapnya para backpacker asing, “Kamu lupa? Hari ini kan hari Valentine. Ini hari cinta kasih di Pakistan, dan dirayakan di seluruh negeri. Kamu pergi saja ke taman kota. Di sana kamu melihat pasangan muda-mudi memadu kasih.” Sejak kapan Pakistan merayakan hari Valentine? Tak ayal, saya tetap melangkahkan kaki ke arah taman kota. Jalan raya Mall Road, jalan paling ramai di Lahore, hari ini tampak lengang dan sunyi. Yang bertebaran di mana-mana cuma polisi Pakistan, berseragam coklat abu-abu, membawa tongkat kayu. Demonstrasi damai yang [...]

February 27, 2015 // 2 Comments

Titik Nol 134: Lambang Cinta

Maatam, memukuli dada sendiri melambangkan duka cita yang mendalam (AGUSTINUS WIBOWO) Para pria ini kalap. Mereka memukulkan pisau ke punggung mereka. Berkali-kali, tanpa henti. Darah segar mengalir. Inilah lambang cinta bagi sang Imam Hussain. Ada banyak cara menunjukkan duka cita ketika ditinggal pergi orang yang disayangi. Ada yang menangis berhari-hari. Ada yang berpantang kesenangan selama empat puluh hari. Ada yang mengurung diri, tak mau bicara dengan siapa pun. Ada pula yang menyakiti diri sendiri, untuk menunjukkan kesedihan yang tak terkira. Ratusan pria yang berkumpul di sebuah lapangan di Lahore ini termasuk golongan yang disebut terakhir. Begitu kesedihan mereka mencapai klimaks, lautan massa menangis keras dan suara pukulan-pukulan pada kepala dan dada berlangsung serempak, tamparan-tamparan di wajah sendiri meninggalkan jejak-jejak tangan. Kaum perempuan sudah meledak air matanya di balik cadarnya yang hitam pekat. Tangisan yang tak lagi terbendung mengeringkan kantung air mata, para pria yang bertelanjang dada berebutan menggapai rantai pisau, untuk menunjukkan cinta mereka pada sang Imam yang syahid dalam membela kebenaran. Massa mulai tidak terkendali. Semuanya berdiri dan saling dorong. laki-laki yang bertelanjang dada saling berebutan zanjir, rantai.  Rantai ini berupa rangkaian beberapa bilah pisau berujung melengkung, terikat oleh jalinan rantai logam. Bilah pisau bermata tajam, cukup untuk menyayat [...]

February 26, 2015 // 0 Comments

Titik Nol 133: Ya Hussain

Menangisi penderitaan Hussain (AGUSTINUS WIBOWO) Bulan Muharram membawa kemuraman di seluruh penjuru Pakistan. Seketika, banyak orang berbaju hitam-hitam. Hingar bingar musik dan lagu India tak lagi terdengar. Para penabuh genderang jalanan, orang-orang bersurban dan bertrompet pemeriah pesta pernikahan, lenyap dari berbagai sudut kota. Tak ada orang yang menikah dalam bulan ini. Muharram adalah bulan perkabungan. Saya berada dalam bus antar kota yang menghubungkan Rawalpindi dengan Lahore. Kaset tua membunyikan lagu-lagu penuh kesedihan. Sebenarnya ini bukan lagu, tetapi alunan syair tentang perkabungan. Musiknya juga bukan dari alat musik, tetapi dari dada yang ditepuk secara serempak, berirama. Ada kekuatan magis di dalamnya, semua yang mendengarnya pasti larut dalam kesedihan. Di Indonesia, Muharram dirayakan sebagai Tahun Baru Islam. Di Pakistan, Muharram adalah waktu di mana orang meratapi kematian Imam Hussain, cucu Nabi Muhammad S.A.W yang gugur dalam perang Karbala. Perang ini adalah lambang keberanian untuk mengorbankan nyawa untuk membela kebenaran dan melawan kebatilan. Puncak perkabungan Muharram adalah hari Ashura, jatuh pada tanggal 10 Muharram. Kata Ashura berasal dari bahasa Arab, artinya ‘kesepuluh’. Pada hari inilah Hussain gugur dalam pertempuran melawan pasukan Yazid, tahun 61 Hijriyah. Ashura adalah hari teramat penting bagi umat Syiah, sekitar 20 persen jumlahnya di kalangan Muslim Pakistan. Tetapi Ashura [...]

February 25, 2015 // 4 Comments

Titik Nol 126: India di Hati

Film India mendominasi persewaan VCD di Pakistan (AGUSTINUS WIBOWO) India adalah musuh bebuyutan Pakistan. Jutaan dolar dihabiskan Pakistan untuk membangun pertahanan kuat menghadapi negeri tetangganya yang raksasa itu. Tetapi saya masih merasakan jiwa India hidup di sini. Karimabad mungkin adalah sebuah dusun kecil yang terlupakan dalam peta dunia. Kehidupan tenang tanpa gelora mengalir lambat di lereng pegunungan yang hening dan sejuk ini. Salju yang sejak kemarin mengguyur Karakoram menjadikan tempat ini terbungkus putih yang sempurna. Di tengah kesepian itu, menyeruak lagu Bollywood dari televisi kabel. Salman Khan beradu dengan Akshay Kumar di tepi pantai, menarik-narik lengan Priyanka Chopra seperti lomba tarik tambang. Mereka berdendang riang, Mujhse Shaadi Karogi…, Menikahlah Denganku…. Sejurus berikutnya, gambar berganti dengan panggung gegap gempita. Emran Hashmi, sang superstar Bombay yang selalu tampil dalam film-film seksi, menjadi bintang lagu Aashiq Banaya Aap Ne, Kau Jadikan Aku Kekasih, soundtrack dari film berjudul sama. Ketika saya di Rajasthan beberapa bulan lalu, semua orang memutar lagu ini. Dari radio, televisi, sampai ke pedagang kaki lima di pinggir jalan semua memutar Aashiq Banaya berulang-ulang. Selang berapa bulan, di Pakistan lagu ini juga meledak. Kakek Haider dan kawan-kawannya, sekelompok lelaki tua berjenggot, datang ke pondok. Begitu listrik datang, mereka bersorak. Televisi langsung [...]

February 16, 2015 // 0 Comments

Titik Nol 114: Malam Sufi

Berputar… berputar… berputar… (AGUSTINUS WIBOWO) Asap hashish mengepul, memenuhi ruangan yang penuh sesak oleh ratusan pria ini. Genderang bertambur bertalu-talu, menghipnotis semua yang ada. Dua orang pria berputar-putar di tengah lingkaran, bergedek bak pecandu ekstasi. Semua lebur dalam kecanduan spiritual. Sufisme, dikenal juga sebagai tasawuf, adalah aliran mistis dalam Islam yang percaya bahwa mendekatkan diri kepada Tuhan tidak hanya bisa melalui satu cara saja, termasuk musik dan tarian. Di Asia Tengah dan anak benua India, Sufisme adalah bagian dari budaya Islam itu sendiri. Kamis malam, bulan bersinar terang merambah kegelapan, susasana kuburan Baba Shah Zaman di daerah kota tua Ikhra di Lahore seakan melemparkan saya ke alam magis. Daerah ini seakan hidup dalam dunianya sendiri, dalam dunia yang berbeda dengan hiruk pikuk modernitas kota Lahore. Saya menyusuri anak tangga menuju ke makam suci ini. Semua orang harus melepas sandal di depan pintu. Di balik pintu gerbang, ada halaman berlantai pualam. Di sini hanya ada laki-laki. Perempuan dilarang masuk. Ratusan pria berjubah shalwar kamiz berusaha menerobos masuk ke halaman sempit yang terbatas ini. Saya mendapat tempat di antara kerumunan pria berjenggot. Semerbak baru harum bunga mawar bercampur dengan asap yang mengepul di mana-mana. Bau hashish, candu, menusuk dalam-dalam. “Ini adalah cara [...]

January 29, 2015 // 4 Comments

Titik Nol 112: Gerbang Kemerdekaan

Bus bersejarah itu pun tiba di wilayah India (AGUSTINUS WIBOWO) “Pakistan memang diciptakan untuk membuat jarak antara kita dan mereka, memecah belah persaudaraan kita. Tak perlu kita teruskan lagi [permusuhan ini].” Demikian sebuah koran India menurunkan artikel di rubrik opini. Kedua negara tetangga ini sudah berseteru sejak kelahirannya. Pakistan tercipta dari British India tahun 1947 ketika umat Muslim India minta diberi negara sendiri. Pakistan berarti ‘Negeri yang Murni’, cita-cita luhurnya adalah negara umat Muslim yang berdiri di atas kesucian dan kemurnian Islam. Tetapi, pertikaian dan perselisishan selalu mewarnai sejarah kedua negara, menyebarkan benci yang merayap sampai ke sanubari rakyat jelata. Ingat kasus bom di New Delhi yang serta merta membuat orang India langsung menunjuk hidung Pakistan sebagai kambing hitam? Ingat betapa susahnya orang India mendapat visa Pakistan dan juga sebaliknya? Orang India menggunakan kata Pakistan sebagai umpatan yang paling kasar – “Chalo Pakistan!”, artinya “Enyahlah ke Pakistan”. Mengapa Pakistan selalu digambarkan sebagai tempat bak neraka yang penuh kesengsaraan? Mengapa imej Pakistan di India hanya hitam dan kelabu? India dan Pakistan punya garis perbatasan sekitar 3000 kilometer, tetapi hanya satu perbatasan resmi yang dibuka. Perbatasan Wagah teramat sepi, kecuali di sore hari ketika upacara penurunan bendera berlangsung. Tak banyak orang yang [...]

January 27, 2015 // 4 Comments

Titik Nol 110: Chalo, Pakistan

Bendera Pakistan dan India turun bersamaan (AGUSTINUS WIBOWO) Pakistan di hadapan mata. Perasaan berdosa menyelimuti diri saya. Mengapa saya masih belum juga melintas gerbang perbatasan itu? Enam minggu yang lalu, saya bersorak gembira ketika visa Pakistan tertempel di paspor saya. Orang-orang Kashmir menyemangati saya, dan ikut merayakan kemenangan perjuangan visa saya. Tawa itu, air mata kebahagiaan itu, tak akan pernah saya lupakan. Tetapi, bukannya cepat-cepat berangkat ke Pakistan, saya masih menyempatkan bermain ke Rajasthan, dengan justifikasi untuk menenangkan diri setelah frustrasi berhari-hari di New Delhi. Banyak pengalaman menarik yang saya alami, membuat saya semakin betah di India, semakin melupakan Pakistan. Hingga pada akhirnya datang penyakit ini – kuning merambah mata dan tubuh, lemas melambatkan langkah, rasa mual mengeringkan perut. Mungkin peringatan dari Tuhan, mungkin pula hukuman karena saya melupakan komitmen sendiri. Saya berdiri di depan pintu perbatasan, tertunduk lesu. Sementara di sekeliling saya suasana gegap gempita menggelorakan jiwa nasionalisme India. “Bharat mata ji, jay! Bunda India, jayalah!” ribuan orang India bersorak sorai di depan perbatasan Pakistan. Genderang bertalu-talu. Gemuruh siswa sekolah serempak melantunkan    “Hindustan Zindabad! Hindustan Zindabad! Hidup India! Hidup Hindustan!” Perbatasan India dan Pakistan terletak tepat di antara kota Amritsar dengan Lahore. Dulu, sebelum India dan Pakistan dibelah, [...]

January 23, 2015 // 7 Comments

Denmark Flag Humiliated

Protesters draw Denmark flag on streets, and deliberately step on it to humiliate it. Peaceful demonstration protesting the Denmark cartoon turns wild and bloody in Lahore, 14 February 2006. Pakistan experienced waves of angry demonstrations nationwide protesting controversial cartoon series of Prophet Muhammad published by Denmark newspaper, Jyllands-Posten, regarded as blasphemous by Muslims. Thousands of protesters rampaged through the city of Lahore, storming and torching Western and local businesses. The mob burned down a hotel, two banks, KFC restaurant, MacDonald restaurant, Pizza Hut restaurant, Suzuki showroom, and the office of a Norwegian cell phone company, Telenor. Rioters also damaged hundreds of cars, dozens of shops, and vandalized public properties. In Lahore, two movie theaters were torched. The city is covered by black smoke from burning vehicles in front of Citibank branch. Two people are reportedly killed and some others are injured in the unrest. Related blog posts: Lahore – Not an Ordinary Valentine’s Day (Riots in LAHORE) For other photography works, please proceed to Photography Album. All photography materials in agustinuswibowo.com are copyrights of Agustinus Wibowo, unless specially specified. Any unauthorized use or distribution of these copyrighted works is illegal. Agustinus can be contacted here.   [zoomfolio settings_mode=”masonry” skin=”skin-default” settings_specialgrid=”none” [...]

January 4, 2015 // 0 Comments

My Bodyguard

When I was covering the event, I was attacked by the mobs suspecting I was Chinese. Qutbi rescued me from the crowds, brought me home, put a Muslim cap on my head, and virtually became my bodyguard the whole day to guarantee my safety. “Today everybody is not human. Everybody is crazy,” he sighed, while walking through Lahore’s burning main street. “But nothing is special. Koi zabardast nehi,” he concluded. Peaceful demonstration protesting the Denmark cartoon turns wild and bloody in Lahore, 14 February 2006. Pakistan experienced waves of angry demonstrations nationwide protesting controversial cartoon series of Prophet Muhammad published by Denmark newspaper, Jyllands-Posten, regarded as blasphemous by Muslims. Thousands of protesters rampaged through the city of Lahore, storming and torching Western and local businesses. The mob burned down a hotel, two banks, KFC restaurant, MacDonald restaurant, Pizza Hut restaurant, Suzuki showroom, and the office of a Norwegian cell phone company, Telenor. Rioters also damaged hundreds of cars, dozens of shops, and vandalized public properties. In Lahore, two movie theaters were torched. The city is covered by black smoke from burning vehicles in front of Citibank branch. Two people are reportedly killed and some others are injured in the unrest. [...]

January 4, 2015 // 0 Comments

Beaten by Police

Police, armed with wooden sticks, caught and beat a protester Peaceful demonstration protesting the Denmark cartoon turns wild and bloody in Lahore, 14 February 2006. Pakistan experienced waves of angry demonstrations nationwide protesting controversial cartoon series of Prophet Muhammad published by Denmark newspaper, Jyllands-Posten, regarded as blasphemous by Muslims. Thousands of protesters rampaged through the city of Lahore, storming and torching Western and local businesses. The mob burned down a hotel, two banks, KFC restaurant, MacDonald restaurant, Pizza Hut restaurant, Suzuki showroom, and the office of a Norwegian cell phone company, Telenor. Rioters also damaged hundreds of cars, dozens of shops, and vandalized public properties. In Lahore, two movie theaters were torched. The city is covered by black smoke from burning vehicles in front of Citibank branch. Two people are reportedly killed and some others are injured in the unrest. Related blog posts: Lahore – Not an Ordinary Valentine’s Day (Riots in LAHORE) For other photography works, please proceed to Photography Album. All photography materials in agustinuswibowo.com are copyrights of Agustinus Wibowo, unless specially specified. Any unauthorized use or distribution of these copyrighted works is illegal. Agustinus can be contacted here.   [zoomfolio settings_mode=”masonry” skin=”skin-default” settings_specialgrid=”none” settings_posttype=”post” [...]

January 4, 2015 // 0 Comments

Aftermath

But the craziness today has left daunting scars Peaceful demonstration protesting the Denmark cartoon turns wild and bloody in Lahore, 14 February 2006. Pakistan experienced waves of angry demonstrations nationwide protesting controversial cartoon series of Prophet Muhammad published by Denmark newspaper, Jyllands-Posten, regarded as blasphemous by Muslims. Thousands of protesters rampaged through the city of Lahore, storming and torching Western and local businesses. The mob burned down a hotel, two banks, KFC restaurant, MacDonald restaurant, Pizza Hut restaurant, Suzuki showroom, and the office of a Norwegian cell phone company, Telenor. Rioters also damaged hundreds of cars, dozens of shops, and vandalized public properties. In Lahore, two movie theaters were torched. The city is covered by black smoke from burning vehicles in front of Citibank branch. Two people are reportedly killed and some others are injured in the unrest. Related blog posts: Lahore – Not an Ordinary Valentine’s Day (Riots in LAHORE) For other photography works, please proceed to Photography Album. All photography materials in agustinuswibowo.com are copyrights of Agustinus Wibowo, unless specially specified. Any unauthorized use or distribution of these copyrighted works is illegal. Agustinus can be contacted here.   [zoomfolio settings_mode=”masonry” skin=”skin-default” settings_specialgrid=”none” settings_posttype=”post” [...]

January 4, 2015 // 0 Comments

We Are Servants

We all are servants of the Prophet, says the banner. Peaceful demonstration protesting the Denmark cartoon turns wild and bloody in Lahore, 14 February 2006. Pakistan experienced waves of angry demonstrations nationwide protesting controversial cartoon series of Prophet Muhammad published by Denmark newspaper, Jyllands-Posten, regarded as blasphemous by Muslims. Thousands of protesters rampaged through the city of Lahore, storming and torching Western and local businesses. The mob burned down a hotel, two banks, KFC restaurant, MacDonald restaurant, Pizza Hut restaurant, Suzuki showroom, and the office of a Norwegian cell phone company, Telenor. Rioters also damaged hundreds of cars, dozens of shops, and vandalized public properties. In Lahore, two movie theaters were torched. The city is covered by black smoke from burning vehicles in front of Citibank branch. Two people are reportedly killed and some others are injured in the unrest. Related blog posts: Lahore – Not an Ordinary Valentine’s Day (Riots in LAHORE) For other photography works, please proceed to Photography Album. All photography materials in agustinuswibowo.com are copyrights of Agustinus Wibowo, unless specially specified. Any unauthorized use or distribution of these copyrighted works is illegal. Agustinus can be contacted here.   [zoomfolio settings_mode=”masonry” skin=”skin-default” settings_specialgrid=”none” settings_posttype=”post” [...]

January 4, 2015 // 0 Comments

Scattered

Destroyed items from shops, offices, banks scatter the street. Peaceful demonstration protesting the Denmark cartoon turns wild and bloody in Lahore, 14 February 2006. Pakistan experienced waves of angry demonstrations nationwide protesting controversial cartoon series of Prophet Muhammad published by Denmark newspaper, Jyllands-Posten, regarded as blasphemous by Muslims. Thousands of protesters rampaged through the city of Lahore, storming and torching Western and local businesses. The mob burned down a hotel, two banks, KFC restaurant, MacDonald restaurant, Pizza Hut restaurant, Suzuki showroom, and the office of a Norwegian cell phone company, Telenor. Rioters also damaged hundreds of cars, dozens of shops, and vandalized public properties. In Lahore, two movie theaters were torched. The city is covered by black smoke from burning vehicles in front of Citibank branch. Two people are reportedly killed and some others are injured in the unrest. Related blog posts: Lahore – Not an Ordinary Valentine’s Day (Riots in LAHORE) For other photography works, please proceed to Photography Album. All photography materials in agustinuswibowo.com are copyrights of Agustinus Wibowo, unless specially specified. Any unauthorized use or distribution of these copyrighted works is illegal. Agustinus can be contacted here.   [zoomfolio settings_mode=”masonry” skin=”skin-default” settings_specialgrid=”none” settings_posttype=”post” [...]

January 4, 2015 // 0 Comments

How Dare You, Denmark?

Aren’t you afraid of our reaction?, probably is what they want to express. Peaceful demonstration protesting the Denmark cartoon turns wild and bloody in Lahore, 14 February 2006. Pakistan experienced waves of angry demonstrations nationwide protesting controversial cartoon series of Prophet Muhammad published by Denmark newspaper, Jyllands-Posten, regarded as blasphemous by Muslims. Thousands of protesters rampaged through the city of Lahore, storming and torching Western and local businesses. The mob burned down a hotel, two banks, KFC restaurant, MacDonald restaurant, Pizza Hut restaurant, Suzuki showroom, and the office of a Norwegian cell phone company, Telenor. Rioters also damaged hundreds of cars, dozens of shops, and vandalized public properties. In Lahore, two movie theaters were torched. The city is covered by black smoke from burning vehicles in front of Citibank branch. Two people are reportedly killed and some others are injured in the unrest. Related blog posts: Lahore – Not an Ordinary Valentine’s Day (Riots in LAHORE) For other photography works, please proceed to Photography Album. All photography materials in agustinuswibowo.com are copyrights of Agustinus Wibowo, unless specially specified. Any unauthorized use or distribution of these copyrighted works is illegal. Agustinus can be contacted here.   [zoomfolio settings_mode=”masonry” skin=”skin-default” settings_specialgrid=”none” [...]

January 4, 2015 // 0 Comments

Reconciliation

Police has made reconciliation with the leaders of religious groups conducting today’s protest. Peaceful demonstration protesting the Denmark cartoon turns wild and bloody in Lahore, 14 February 2006. Pakistan experienced waves of angry demonstrations nationwide protesting controversial cartoon series of Prophet Muhammad published by Denmark newspaper, Jyllands-Posten, regarded as blasphemous by Muslims. Thousands of protesters rampaged through the city of Lahore, storming and torching Western and local businesses. The mob burned down a hotel, two banks, KFC restaurant, MacDonald restaurant, Pizza Hut restaurant, Suzuki showroom, and the office of a Norwegian cell phone company, Telenor. Rioters also damaged hundreds of cars, dozens of shops, and vandalized public properties. In Lahore, two movie theaters were torched. The city is covered by black smoke from burning vehicles in front of Citibank branch. Two people are reportedly killed and some others are injured in the unrest. Related blog posts: Lahore – Not an Ordinary Valentine’s Day (Riots in LAHORE) For other photography works, please proceed to Photography Album. All photography materials in agustinuswibowo.com are copyrights of Agustinus Wibowo, unless specially specified. Any unauthorized use or distribution of these copyrighted works is illegal. Agustinus can be contacted here.   [zoomfolio settings_mode=”masonry” skin=”skin-default” settings_specialgrid=”none” [...]

January 4, 2015 // 0 Comments

Came too Late?

Finally, police controlled the situation Peaceful demonstration protesting the Denmark cartoon turns wild and bloody in Lahore, 14 February 2006. Pakistan experienced waves of angry demonstrations nationwide protesting controversial cartoon series of Prophet Muhammad published by Denmark newspaper, Jyllands-Posten, regarded as blasphemous by Muslims. Thousands of protesters rampaged through the city of Lahore, storming and torching Western and local businesses. The mob burned down a hotel, two banks, KFC restaurant, MacDonald restaurant, Pizza Hut restaurant, Suzuki showroom, and the office of a Norwegian cell phone company, Telenor. Rioters also damaged hundreds of cars, dozens of shops, and vandalized public properties. In Lahore, two movie theaters were torched. The city is covered by black smoke from burning vehicles in front of Citibank branch. Two people are reportedly killed and some others are injured in the unrest. Related blog posts: Lahore – Not an Ordinary Valentine’s Day (Riots in LAHORE) For other photography works, please proceed to Photography Album. All photography materials in agustinuswibowo.com are copyrights of Agustinus Wibowo, unless specially specified. Any unauthorized use or distribution of these copyrighted works is illegal. Agustinus can be contacted here.   [zoomfolio settings_mode=”masonry” skin=”skin-default” settings_specialgrid=”none” settings_posttype=”post” [...]

January 4, 2015 // 0 Comments

1 2 3 4