Recommended

Merauke

Papua Nugini (3) Ketika Era Prasejarah Bertemu Globalisasi : Perbatasan Segitiga

Draft artikel menengai Papua Nugini untuk majalah Traveler 旅行家, China. Dauan, Australia (AGUSTINUS WIBOWO) Tidak banyak orang menyadari bahwa Australia terletak sangat dekat dari Papua Nugini. Saking dekatnya kita bisa lihat Australia dengan mata telanjang. Untaian pulau kecil Australia hanya empat kilometer di selatan pantai Papua Nugini. Ber adalah satu desa Papua Nugini yang berhadapan dengan pulau Boigu, Australia. Dilihat dari laut di malam hari, Boigu bagai metropolitan dengan ratusan noktah cahaya berkilauan, sedangkan Ber tampak seperti tiga cahaya lemah yang sering padam, seperti lilin diterpa angin. Sumber cahaya di Ber hanyalah api unggun. Satu-satunya cara untuk mencapai Ber, orang harus naik perahu dari Daru ke arah barat sejauh 100 kilometer melewati lautan Selat Torres yang terkenal ganas ombaknya. Perahu motor yang saya tumpangi nyaris tenggelam ditelan ombak. Ini adalah perjalanan seharian yang basah dan mematikan. Begitu terisolasinya Ber dari daerah Papua Nugini lainnya, desa dengan dua ratusan penduduk ini seperti belum tersentuh peradaban. Mereka tinggal rumah-rumah panggung yang semuanya terbuat dari gedek anyaman daun. Pantai Ber tertutup lumpur, seperti sawah padi yang baru diairi. Ber berhadapan langsung dengan laut, tetapi warga di sini justru jarang ke laut dan ikan nyaris tidak ada dalam menu mereka. Setiap hari penduduk makan [...]

February 9, 2016 // 3 Comments

Manda 22 September 2014: Tunggu dan Tunggu

Di desa kecil di penjuru yang sangat terpencil di Papua Nugini ini, hati saya diliputi kecemasan luar biasa. Visa Papua Nugini saya tinggal dua minggu lagi, sementara saya tidak sedikit pun berada di dekat perbatasan resmi untuk meninggalkan negara ini. Plus, saking terpencilnya tempat ini, tak seorang pun tahu pasti kapan akan ada perahu melintas. Bisa-bisa, saya terdampar di sini sampai satu bulan. Sebelum saya datang ke Manda, saat berada di Obo, saya dengar ada penduduk Obo yang berencana untuk berangkat ke Kiunga. Saya perkirakan perahu mereka akan lewat dalam sehari dua hari ini. Itu sebabnya, sepanjang hari dari pagi sampai petang, saya duduk di tepi sungai menunggu melintasnya perahu. Saya akan berteriak pada mereka, melambai-lambaikan tangan, siapa tahu mereka mau memberi saya tumpangan. Penduduk Manda hanya menertawakan saya. Tidak usah ditunggu begitu, mereka bilang, kalau ada perahu pasti kami dengar. Orang-orang ini memang memiliki pendengaran luar biasa, mungkin karena mereka senantiasa hidup tenang tanpa ingar-bingar modernitas. Walaupun mereka berada jauh dari bibir sungai, dan perahu itu masih beberapa kilometer jauhnya, mereka sudah bisa mendengar, bahkan bisa mengatakan berapa kekuatan mesin perahu itu, pergi ke mana, punya siapa. Oh, itu 15 tenaga kuda, perahu nelayan Mipan mau ke hutan. Oh, [...]

January 20, 2016 // 4 Comments

Obo 19 September 2014: Melihat ke Barat

Semakin saya menyusuri Sungai Fly, semakin saya dekat dengan Indonesia. Bukan hanya secara geografis, tetapi juga dari kehidupan orang-orangnya. Di Suki saya menemukan sejumlah pemuda Papua Nugini yang sekolah komputer di distrik Sota, Merauke, dan terpaksa pulang karena tidak cukup biaya. Salah satu di antara mereka bahkan memiliki KTP asli Indonesia, yang dia beli dengan sangat mudah seharga 300 ribu rupiah. Dari Suki, orang bisa berperahu dan bersepeda selama dua hari untuk mencapai Indonesia. Saat saya menumpang perahu dari Suki menuju Obo, Nobi si pemuda pemilik perahu mengatakan senang dengan semakin terbukanya kontak dengan Indonesia, karena dia sangat suka rokok lempeng khas Merauke yang biasa dibawa para pedagang dari Indonesia. Dia juga bilang, di Obo nanti, saya bisa menginap di rumah saudara iparnya yang sering ke Merauke. Perjalanan dari Suki ke Obo memakan waktu sehari penuh. Sungai Fly semakin sempit dan dalam, meliuk-liuk dan berzig-zag bagai benang kusut. Selain itu, banyak jalur pintas yang berupa rawa atau selokan yang menghubungkan kelok-kelokan Sungai Fly itu, sehingga kita tidak perlu selalu mengikuti aliran sungai utama demi memotong jarak. Namun jangan berasumsi kita bisa menghemat waktu. Jalur pintas ini sering tertutup tanaman atau rumput yang sangat rapat, sehingga para penumpang perahu harus menggunakan [...]

January 13, 2016 // 10 Comments

Marukara 3 September 2014: A Dangerous Adventure with Indonesian Illegal Traders

The coastal region in the southern Papua New Guinea near the Indonesian border is notorious for the illegal cross-border trading activity. Indonesian traders often cross the sea border from Merauke in the west and venture to Papua New Guinean villages to do their unlawful business. This is a very dangerous journey, due to attacks from the pirates and possibility being caught by joint PNG—Australian border patrol. I could sense the over-cautious attitude in Herman—a Marind trader from Merauke, whom I saw one boat of three passengers floating on the sea near the Buzi village. Marind is a Papuan native tribe inhabiting Merauke, a big city and its surrounding regions at the Indonesian side of the border. Thus, as a dark-skinned and curly-haired Melanesian, Herman did not look any different from the PNG villagers in this area. It was Sisi who disclosed Herman’s Indonesian identity to me. Herman’s boat was heading from west to east, making a short stop in Buzi as he was to meet someone here. At that time, Sisi was about to cross the sea to Australia (Boigu island, only six kilometers away across Buzi), so she walked to the water and talked to Herman. “There is one [...]

May 19, 2015 // 6 Comments

Tais 28 August 2014: What is Your Dream?

The school is supposed to start at eight in the morning, and to finish at twelve. But none in this Papua New Guinean coastal village have clocks. Including Madam Singai, the only school teacher in the village. Nevertheless, she knows perfectly when she should start her class. That is when she has finished the cassava cooking and baby feeding in her house, and when she believes the sun is high enough. She then roams around the village, shouting all her students’ names. Dozens of barefooted students then resemble a parade of obedient ducks, follow her to the school hut at the end of the village. Madam Singai also knows when to finish her school. That is when most of her students make so much of noise, crying because of being hungry, or because of her own stomach produces noise calling for lunch. After gathering the students, Madam Singai is ready for the class today. The classroom for the Grade I and II students. Centipedes disrupted the class. Of course once in a while Madam Singai thinks how much better life would be if she could split herself into two. She alone has to take the responsibility of all of the [...]

May 6, 2015 // 4 Comments

Tais 28 Agustus 2014: Rumah di Sini dan Rumah di Sana (2)

Didimus dan Mama Ruki (AGUSTINUS WIBOWO) Dari Sabang sampai Merauke, berjajar pulau-pulau; sambung-menyambung menjadi satu, itulah Indonesia… Lirik lagu kredo nasionalisme Indonesia itu masih terpatri kuat pada memori Didimus Gepse, lelaki suku Marind asal Merauke yang menetap di Tais, Papua Nugini. Lelaki tua berotot gempal dengan jenggot putih serupa duri menyelimuti dagu ini selalu menyimpan sekilas senyum manis ketika mengenang kampung halaman yang sudah 22 tahun dia tinggalkan. Saya bertanya, apakah dia mengerti lagu yang dia nyanyikan, apakah dia tahu Sabang ada di mana. Didimus terkekeh. Dengan bahasa Indonesia yang berlogat Papua dia berkata, “Itu artinya Suharto datang dari Sabang, lewat pulau-pulau sampai ke Merauke.” Didimus lahir tahun 1962, ketika Papua Indonesia masih berstatus jajahan Belanda. Dia hanya dengar dari ayahnya, tentara dari Jakarta terlibat baku tembak dengan tentara Belanda, para tentara payung berjatuhan ke kampung-kampung, dan sejak itu Papua jadi milik Indonesia. Sejarah yang lebih kompleks dari itu, dia tak tahu. “Politik hanya untuk orang-orang di atas yang pintar,” katanya. Hubungan Didimus dengan Sisi Wainetti, perempuan Papua Nugini tuan rumah saya di Tais, adalah paman dengan keponakan. Nenek Sisi berasal dari Kondo, Merauke, dan berpindah ke sisi Papua Nugini karena terpikat oleh lelaki sini yang pernah bertandang ke desanya. [...]

January 28, 2015 // 10 Comments

Tais 27 Agustus 2014: Rumah di Sini dan Rumah di Sana (1)

Seorang warga Papua Nugini dengan baju TNI-AD, yang dibeli dari Merauke (AGUSTINUS WIBOWO) 17 Agustus 2003, Sisi Wainetti dan kakak sepupunya Paulus Waibon pertama kali menyeberang perbatasan dari Morehead di Papua Nugini menuju Merauke, Indonesia. Mereka berangkat dari desa penuh semangat. Mereka dengar kabar, pada hari itu akan dirayakan kemerdekaan negara baru: West Papua. Entah mereka dapat informasi dari mana. Yang jelas, mereka sangat terkejut karena yang mereka temukan hanyalah perayaan kemerdekaan Republik Indonesia. Nyanyian dan tari-tarian, tabuhan gendang kundu (di Indonesia disebut “tifa”), topi dari bulu kasuari, dan kibaran bendera merah putih di mana-mana di lapangan kantor Pemerintah Daerah Merauke. Orang-orang berbagai warna kulit berjoget tradisional maupun bergoyang dangdut dengan ceria. Tebersit kekecewaan di benak Sisi. Kenapa tak ada bendera Papua? Impian kemerdekaannya kandas seketika. Ketika dia mendengar kabar kemerdekaan West Papua itu, hatinya sempat berpikir: Tidak ada yang lebih bagus daripada ini! Merdekanya West Papua, dalam bayangannya adalah tentang berakhirnya garis batas antara Morehead dengan Merauke yang memisahkan mereka; semua orang Papua di sisi timur dan barat perbatasan akan bersatu dalam negeri yang baru. Perbatasan negeri baru mereka nanti adalah di Sorong. Sisi meyakini, andaikan negara Papua itu terbentuk, maka mereka akan terpisah dari Nugini—bagian utara Papua Nugini [...]

January 27, 2015 // 4 Comments

Daru 23 Agustus 2014: Nenek Moyangku Orang Pelaut

Menembus badai dan gelombang (AGUSTINUS WIBOWO) Nenek moyangku orang pelaut Gemar mengarung luas samudra Menerjang ombak tiada takut Menempuh badai sudah biasa Sisi Wainetti, Marcella, dan saya meringkuk dan berpelukan erat. “Jesus! Jesus!” Sisi mulai berteriak sekencang-kencangnya, seolah teriakan itu akan mendatangkan keajaiban kuasa dari langit untuk menyelamatkan kami. Marcella dan saya menimpali dengan teriakan yang sama dan sama kerasnya. Dinghy, perahu motor cepat yang kami tumpangi ini, terombang-ambing amukan ombak. Dinghy menghentak, kami para penumpang yang duduk berhimpitan terloncat. Pantat saya menghantam bilah kayu yang menjadi alas duduk, punggung saya seperti ditinju bertubi-tubi dan sakitnya merambat sampai ke tengkuk. Satu gulungan ombak yang lebih tinggi daripada manusia itu menerjang. Sisi berteriak, “Issaiah, cepat lakukan sesuatu! Kita akan tenggelam!” Terlambat. Ombak itu menghantam kami, menampar wajah saya dan semua dari enam penumpang di atas perahu kecil ini. Air sudah setinggi mata kaki di dasar perahu. Kami basah kuyup sekujur tubuh, buru-buru mengambil gelas plastik dan timba karet dan sepon untuk membuang air keluar perahu. Saya memeluk erat kamera yang sudah dibungkus plastik di balik jaket saya. Satu gelombang lagi menghantam perahu kami. “Oh, Jesus!” Sisi berteriak lagi. Saya mengenal Sisi baru dua hari lalu. Dia adalah putri angkat dari bidan [...]

January 20, 2015 // 12 Comments