Recommended

Muhammad

Titik Nol 198: Karachi

Mausoleum Mohammad Ali Jinnah, Bapa Pendiri Pakistan, adalah lanmark Karachi (AGUSTINUS WIBOWO) Karachi, inilah kota terbesar di Pakistan. Inilah salah satu urutan atas kota terbesar di muka bumi. Di sinilah belasan juta manusia Pakistan tumpah ruah, segala macam etnis dan agama campur aduk. Di sinilah segala kebanggaan bangsa, gemilang sejarah, bercampur dengan bau busuk gunung sampah dan sungai tercemar. Perjalanan dengan bus melintasi gurun pasir membawa saya kembali dari dunia Thar ke alam Pakistan. Begitu meninggalkan Umerkot, bus tak henti memutar acara khotbah pengajian dan lantunan syair maatam yang membawa suasana kesedihan Ashura. Penumpang bus, kebanyakan perempuan Hindu dengan sari dan kalung hidung ukuran besar, sama sekali tidak ada yang protes. Karachi, walaupun sudah bukan ibu kota Pakistan lagi, masih memegang kendali sebagai pusat perekonomian negeri ini. Kota pelabuhan ini masih menjadi hub perdagangan internasional dan gerbang utama masuknya komoditi ke seluruh Pakistan. Siapa yang tak terkesima oleh ukuran kota yang sudah masuk kategori megapolitan ini? Siapa yang tak takjub melihat modernitas arsitektur kuburan Muhammad Ali Jinnah – sang Bapak Pendiri Pakistan, sang Quaid-e-Azam (Pemimpin Yang Agung)? Di mana lagi di Pakistan kita bisa melihat hiruk pikuk orang seramai di kota ini, dengan luas sebesar ini, dengan gedung tinggi dan [...]

May 27, 2015 // 3 Comments

Titik Nol 174: Mehfil-E-Naat

Terhanyut dalam histeria spiritual (AGUSTINUS WIBOWO) “Ya Rasulullah….. Ya Habibullah…” suara sendu melantun lambat, suara yang keluar dari hati yang paling dalam, bergetar dan bergema. Ribuan penonton duduk bersila, tenggelam dalam ketakziman, terhipnotis dalam histeria spiritual, terbasuh hatinya dalam puja dan puji bagi Sang Nabi. Naat adalah barisan lantunan memuja kebesaran Nabi Muhammad S.A.W. Di Pakistan, Naat sangat populer bukan hanya sebagai dakwah tetapi juga bagian ibadah. Saya sering mendengarkan alunan Naat diputar di radio lokal, tape recorder, dan pementasan di masjid-masjid. Walaupun punya segala macam unsur musik, mulai dari syair bersajak, irama, komposisi, iringan suara mulut berdentum-dentum layaknya akapela, panggung pementasan, penonton yang histeris, jangan sekali-sekali menyebut naat sebagai musik atau lagu di Pakistan. Barisan kata-kata dalam naat semuanya berisi tentang Nabi, suri tauladannya, puja-puji dan doa baginya. Bagi mereka yang sangat religius, kata ‘musik’ atau ‘lagu’ berkonotasi negatif dan tidak pantas untuk menyebut kesucian lantunan naat. Bahkan orang menyebutnya sebagai naat-e-sharif, naat yang suci. Kawan saya, keluarga Syed dari Islamabad, adalah salah satu keluarga terpandang di kota ini. Bukan hanya karena Syed adalah keturunan langsung Nabi Muhammad, atau karena mereka aktif dalam kegiatan kemanusiaan menolong korban gempa di Kashmir, keluarga Syed Gilani yang satu ini juga dihormati masyakarat [...]

April 23, 2015 // 0 Comments

Titik Nol 173: Tuan Rumah

Rumah mewah bertabur di Islamabad (AGUSTINUS WIBOWO) Konsep mehman begitu mengakar dalam sanubari kehidupan orang Pakistan. Sebagai tamu, saya tidak hanya merasa malu saja, kali ini saya bahkan dirundung perasaan berdosa. Sudah beberapa hari ini saya tinggal di rumah Syed Ijaz Gillani, seorang kawan dekat yang juga sukarelawan selama di Kashmir. Dari namanya, Syed, menunjukkan ia orang yang dihormati karena konon adalah keturunan langsung Nabi Muhammad. Di negara ini, biasanya orang yang mengenal sang Syed langsung menyentuhkan tangan mereka ke sepatunya, lalu menempelkan tangan ke jidat mereka. Kalau bersalaman mereka sampai mencium tangan dan untuk kasus ekstrim sampai mencium kaki. Penghormatan seperti ini adalah cara orang Hindu menghormati kasta pandita. Kultur India ini belum luntur di Republik Islam Pakistan. Selain karena namanya, Syed Ijaz juga orang terpandang. Rumahnya seperti istana kecil di Islamabad. Rumah-rumah di kota yang jarang-jarang penduduknya ini bisa dikatakan hampir semuanya tergolong mewah, sungguh kontras dengan perumahan kumuh di Rawalpindi, saudara kembar kota ini. Ijaz punya bisnis keluarga yang cukup sukses. Selain itu beberapa kerabat dekatnya adalah pemuka agama penting di seluruh Pakistan. Ayah Ijaz yang sudah tua dan sangat taat beragama (AGUSTINUS WIBOWO) Kekayaan Ijaz dan kawan-kawannya membuat saya terperangah. Pernah saya diundang ke rumah Madam [...]

April 22, 2015 // 0 Comments

Titik Nol 157: Majlis di Noraseri

Majlis di atap rumah (AGUSTINUS WIBOWO) Ternyata bukan hanya di Muzaffarabad saja Chehlum diperingati. Bahkan di desa terpencil Noraseri, di atap rumah yang hampir ambruk, di hadapan gunung agung Nanga Parbat, orang-orang dengan takzim mendengar ceramah suri tauladan Imam Hussain. Farman Shah, seorang penduduk desa terpandang, mengundang saya untuk mengikuti peringatan Chehlum yang diadakan di rumahnya, tepat pukul 1 siang. Seorang lelaki bernama Tajjamal khusus diutus untuk menemani saya yang masih di Muzaffarabad. Pria ini berkumis, berjenggot, dan bercambang lebat. Sebenarnya masih muda, tetapi karena rambut-rambut di wajahnya, jadi kelihatan tua sekali. Perjalanan ke Noraseri dengan angkutan umum ternyata tidak mudah. Kami berdua sempat ganti kendaraan tiga kali. Yang pertama saya harus berdiri bergelantungan di luar mobil Suzuki, dengan kedua tangan memegang erat-erat tiang besi supaya tidak jatuh. Ini sebenarnya sudah lazim kalau berjalan-jalan di Pakistan. Tetapi jalanan Kashmir bergunung-gunung, berlubang dan bergerunjal. Berapa kali saya terlompat, belum lagi wajah saya diraupi debu jalan. Sungguh tidak nyaman. Saya bertanya kepada Tajjamal tentang Aliwallah yang merayakan Ashura dan Chehlum. “Hai. Saya juga Aliwallah, karena saya juga cinta Ali. Bukan hanya orang Syiah saja yang Aliwallah. Semua orang yang mencintai Ali, termasuk Sunni, juga disebut Aliwallah.” Tajjamal, sebagaimana kebanyakan orang Sunni di [...]

March 31, 2015 // 0 Comments

Titik Nol (156): Mandi Darah

Zanjir terayun (AGUSTINUS WIBOWO) Darah segar mengaliri punggung bocah-bocah kecil belasan tahun ini. Beberapa tetes terciprat ke wajah dan pakaian saya. Semua orang hanyut dalam nuansa perkabungan, peringatan empat puluh hari wafatnya Imam Hussain dalam perang Karbala. Sepuluh Muharram tahun 61 Hijriyah, atau 680 Masehi, Hussain bin Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi Muhammad S.A.W, gugur dalam pertempuran di perang Karbala melawan khalifah Yazid. Lebih dari 1300 tahun berselang, umat Syiah di Pakistan memperingati peristiwa itu dengan bermandi darah. Saya didampingi seorang pria tua berjenggot lebat yang mengaku sebagai petugas lapangan acara peringatan Chehlum hari ini. Pak tua bukan hanya memberi tahu saya harus ke mana dan meliput apa, malah masih membantu saya memanjat tembok dan pagar untuk mendapatkan angle yang bagus untuk liputan prosesi akbar ini. Pelataran masjid Syiah Muzaffarabad dipenuhi oleh pria yang berbaris bersaf-saf, berhadap-hadapan. Mereka semua bertelanjang dada atau berkaus kutang putih. Bersamaan, mereka mengayunkan lengan kanan tinggi-tinggi, kemudian dilecutkan ke dada masing-masing dengan keras. Plak..! Kemudian lengan kiri diangkat, dipukulkan dengan kencang ke dada. Plak…! Berulang-ulang, bertalu-talu. Gemuruh pukulan serempak di dada ratusan orang berhamoni bak musik pengiring. Kadang lembut dan lambat, kadang cepat dan penuh histeria. Orang-orang ini seakan tersihir dalam maatam, memukuli dada [...]

March 30, 2015 // 1 Comment

Titik Nol 155: Para Pengikut Ali

Mengikatkan bendera (AGUSTINUS WIBOWO) Suasana kesedihan menggelayut di Muzaffarabad. Para pria serempak memukuli dadanya. Anak-anak menyambitkan pisau tajam. Darah di mana-mana. Empat puluh hari yang lalu, 10 Muharram, adalah hari yang paling sedih sepanjang tahun. Ratusan orang berkumpul di lapangan, menangis bersama-sama, memukuli diri, dan menyambitkan rantai pisau sambil meratap. Darah segar mengalir, tetapi sama sekali tidak menghalangi jalannya upacara. Bulan Muharram adalah bulan penuh kesedihan. Warna hitam bertabur di seluruh pelosok kota. Lengang, karena tidak ada yang menyalakan musik lagu-lagu Hollywood. Yang terdengar sekarang adalah lantunan irama maatam, tangan yang menepuk dada berirama sebagai lambang berkambung, dan lagu-lagu yang mengalir melankolis, meratapi kematian Hussain dan kejamnya perang Qarbala. Hari ini, 20 Safar, adalah berakhirnya masa perkabungan yang empat puluh hari itu. Orang Pakistan menyebutnya sebagai Hari Chehlum, dari bahasa Farsi yang artinya ‘hari ke-40’. Bagi umat Syiah, memperingati Chehlum hampir sama pentingnya dengan memperingati Ashura. Walaupun mayoritas penduduk Pakistan menganut sekte Sunni, Chehlum juga diperingati sebagai hari libur nasional. Saya mengunjungi sebuah masjid umat Syiah di pusat kota Muzaffarabad, tidak jauh dari bazaar utama. “Kamu Muslim?” tanya Hamdani, seorang pria tiga puluhan mengenakan shalwar kamiz hitam-hitam, warna perkabungan. Hamdani mengaku sebagai penjaga keamanan upacara peringatan [...]

March 27, 2015 // 0 Comments

Titik Nol 146: Di Bawah Temaram Lampu Minyak

Gembira menerima sheet CGI (AGUSTINUS WIBOWO) Sekali perjalanan naik turun gunung, mengumpulkan data puluhan keluarga korban gempa dalam sehari, rasanya sudah membuat remuk tulang punggung. Tetapi saya tersentuh oleh keramahan setiap keluarga miskin yang selalu menawarkan secangkir teh panas. Dalam kesengsaraan, mereka masih ingat berbagi kebahagiaan. Hari ini kami mengunjungi lima desa. Tiga di atas, dua di bawah. Ijaz mengajari saya, kalau berpapasan dengan perempuan, kita tak boleh memandang wajah mereka atau berkontak mata, harus cepat-cepat menunduk dan mengalihkan pandangan. Umumnya penduduk desa menantikan kedatangan kami, menyampaikan keluh kesah jumlah CGI sheet yang tak cukup, atau menyampaikan keberhasilan rumah baru mereka yang mungil namun nyaman. Untuk setiap penerima bahan bantuan, kami mencatat nama kepala keluarga dan nama ayah. Hanya mereka yang sudah berkeluarga saja yang berhak menerima. Banyak orang yang punya nama sama di Pakistan. Hampir semua orang namanya berasal dari Al Qur’an. Karena itu pulalah, nama ayah juga perlu dicatat untuk menjadi pembeda. Tetapi ada pula kasus di mana dua orang bisa punya nama sendiri dan nama ayahnya yang sama persis. Untuk kasus begini, yang paling berfungsi adalah nomor KTP. Setiap korban gempa yang menerima bahan bangunan harus menunjukkan dokumen. Mengerjakan laporan di kemah menjelang tidur (AGUSTINUS WIBOWO) Senja [...]

March 16, 2015 // 4 Comments

Titik Nol 144: Kehidupan di Tenda

Mencukur jenggot pagi-pagi (AGUSTINUS WIBOWO) Sudah tiga puluh jam lebih hujan turun tanpa henti. Kalau Jakarta, pasti sudah banjir bandang. Di Kashmir, tanah melorot dari barisan gunung-gunung tinggi. Gemuruh longsor sambung menyambung tiada henti, menciutkan nyali. Pagi yang baru sudah diusung ke Pegunungan Kashmir. Langit masih gelap, dibungkus mendung. Dari barisan tenda yang sepi itu, satu demi satu tirai tersibak. Suara sandal yang diseret-seret memecah keheningan pagi. Laki-laki membawa pot berisi air panas, mengambil wudhu dan menggosok gigi. Anis Sahab duduk di dalam tenda, memegang cermin kecil, mencukur jenggotnya dan menyisakan kumis lebatnya. Aslam Sahab sudah keluar, selimut dan tikarnya sudah rapi. Di pagi yang dingin, berbungkus jaket tebal, para sukarelawan sudah rapi jali. Sedangkan saya, ah, menyentuh air pun tak berani. Hanya menggosok gigi saja, itu pun sehari sekali. Karena kemalasan yang tiada duanya ini, lima hari kemudian, wajah saya jadi hancur diselimuti jerawat gemuk. Kawan-kawan Pakistan ini tidak memakai sikat gigi dan odol untuk menggosok gigi. Cukup dengan potongan batang kayu yang disebut miswaak atau maswak. Panjangnya sekitar 15 cm, diameternya kecil. Disodokkan ke dalam mulut, digosok-gosok. Kelihatannya nyaman sekali, karena potongan kayu itu bisa nyangkut di mulut mereka sepanjang hari. Kalau iseng, digosok-gosok lagi. Pantas saja gigi [...]

March 12, 2015 // 11 Comments

Titik Nol 141: Dari Reruntuhan

Bocah-bocah pengungsi (AGUSTINUS WIBOWO) Mulai hari ini saya punya gelar baru – sukarelawan. Saya sudah berada dalam mobil milik Danish Muslim Aid, sebuah organisasi kemanusiaan, menuju ke Kashmir yang diluluhlantakkan  oleh gempa bumi 8 Oktober 2005. Sudah lama sekali saya ingin ke Kashmir. Saya teringat betapa bulatnya tekad saya untuk menjadi sukarelawan gempa ketika memohon visa Pakistan di New Delhi, lima bulan silam. Tetapi setelah mendapatkan visa, saya malah menyempatkan berkeliling Rajasthan, dan akhirnya mendapat penyakit hepatitis. Mungkin Tuhan mengingatkan saya akan komitmen yang saya buat dahulu. Ada perasaan tertekan dan bersalah, ketika harus menghabiskan hari-hari dengan beristirahat di pegunungan Hunza untuk memulihkan diri dari sakit kuning. Perasaan bersalah akan pengingkaran janji. “Mana Agustinus yang dulu bercita-cita jadi sukarelawan? Mana semangat sosialnya yang menggebu-gebu? Sekarang mengapa malah jadi turis di Hunza?” demikian bunyi e-mail Lam Li yang langsung menampar saya tanpa basa-basi. Hari ini, saya sudah resmi jadi sukarelawan, walaupun terlambat. Seorang kawan di Islamabad menjadi kepala organisasi Danish Muslim Aid (DM-Aid) yang menghimpun dana bantuan dari Denmark. Saya diminta membantu mendokumentasikan kegiatan mereka di lapangan. Saya berada di dalam mobil organisasi bersama Rashid, seorang sukarelawan juga. Rashid masih berumur 25 tahun, tetapi kumis tebalnya membuatnya tampak jauh lebih tua [...]

March 9, 2015 // 0 Comments

Titik Nol 136: Hancur Lebur

Api di mana-mana (AGUSTINUS WIBOWO) Saya dikeroyok orang-orang yang mulai beringas. Teriakan penuh marah terus bergemuruh. Asap mengepul di mana-mana. Data Darbar diselimuti lautan laki-laki yang membeludakkan semua kekesalan, “Bush anjing! Bush anjing!” bersahut-sahutan membahana. Tiba-tiba tangan saya diseret seseorang. “Ikut saya,” katanya lembut, di tengah keberingasan gerombolan lelaki yang mengepung saya. Pria bertubuh gemuk ini kemudian menghalau orang-orang beringas yang masih berusaha menyerang saya. “Kita ke rumah dulu, yuk,” katanya. Saya mengangguk. Qutbi bukan saja menyelamatkan saya dari kekisruhan, dia masih memberi saya segelas air dingin. Di dalam halaman rumahnya yang sederhana, saya aman. “Kamu pulang saja. Hari ini berbahaya sekali. Semua orang sudah jadi gila,” ia menganjurkan. Saya menggeleng. Qutbi pun tak berdaya dengan kekeraskepalaan saya. Istrinya yang bercadar sekujur tubuh datang membawa sebuah kopiah putih. Qutbi memasangkannya di atas kepala saya. “Sekarang kamu sudah seperti pelajar Muslim,” kata Qutbi, “Orang-orang itu tidak akan mengganggumu lagi.” Saya sangat terharu. Qutbi tidak tega melihat saya turun ke jalan sendirian. Ia menjadi pengawal saya. Saya merasa aman sekali. Kami kembali ke Data Darbar. Orang-orang baru saja bershalat, dan sekarang siap bergerak, melakukan pawai jalanan keliling Lahore. Suasana semakin panas dan kacau. Asap mengepul tinggi dan api berkobar di mana-mana. Di [...]

March 2, 2015 // 2 Comments

Titik Nol 135: Bukan Hari Valentine Biasa

Kerusuhan di depan Data Darbar (AGUSTINUS WIBOWO) 14 Februari 2006. Matahari sudah mulai tinggi di Lahore. Tetapi tak ada hiruk pikuk klakson kendaraan di jalan raya yang biasanya selalu ruwet oleh segala macam kendaraan. Toko sepanjang jalan tutup semua. Bahkan sarapan pun susah. Ada apa ini? “Hartal,” demikian jawab pemilik penginapan tempat saya tinggal. Artinya mogok – acara mogok massal di mana semua toko-toko tutup, semua orang tak bekerja dan mengurung diri di rumah, kendaraan tidak hilir mudik, semua kantor tak beroperasi. Saya ingat hartal adalah salah satu gerakan damai Mahatma Gandhi melawan imperialisme Inggris. Hingga sekarang, acara mogok-mogokan massal ini masih sangat populer di negara-negara Asia Selatan. “Bukan, bukan hartal,” sanggah seorang pemuda pemilik guesthouse tempat menginapnya para backpacker asing, “Kamu lupa? Hari ini kan hari Valentine. Ini hari cinta kasih di Pakistan, dan dirayakan di seluruh negeri. Kamu pergi saja ke taman kota. Di sana kamu melihat pasangan muda-mudi memadu kasih.” Sejak kapan Pakistan merayakan hari Valentine? Tak ayal, saya tetap melangkahkan kaki ke arah taman kota. Jalan raya Mall Road, jalan paling ramai di Lahore, hari ini tampak lengang dan sunyi. Yang bertebaran di mana-mana cuma polisi Pakistan, berseragam coklat abu-abu, membawa tongkat kayu. Demonstrasi damai yang [...]

February 27, 2015 // 2 Comments

Titik Nol 133: Ya Hussain

Menangisi penderitaan Hussain (AGUSTINUS WIBOWO) Bulan Muharram membawa kemuraman di seluruh penjuru Pakistan. Seketika, banyak orang berbaju hitam-hitam. Hingar bingar musik dan lagu India tak lagi terdengar. Para penabuh genderang jalanan, orang-orang bersurban dan bertrompet pemeriah pesta pernikahan, lenyap dari berbagai sudut kota. Tak ada orang yang menikah dalam bulan ini. Muharram adalah bulan perkabungan. Saya berada dalam bus antar kota yang menghubungkan Rawalpindi dengan Lahore. Kaset tua membunyikan lagu-lagu penuh kesedihan. Sebenarnya ini bukan lagu, tetapi alunan syair tentang perkabungan. Musiknya juga bukan dari alat musik, tetapi dari dada yang ditepuk secara serempak, berirama. Ada kekuatan magis di dalamnya, semua yang mendengarnya pasti larut dalam kesedihan. Di Indonesia, Muharram dirayakan sebagai Tahun Baru Islam. Di Pakistan, Muharram adalah waktu di mana orang meratapi kematian Imam Hussain, cucu Nabi Muhammad S.A.W yang gugur dalam perang Karbala. Perang ini adalah lambang keberanian untuk mengorbankan nyawa untuk membela kebenaran dan melawan kebatilan. Puncak perkabungan Muharram adalah hari Ashura, jatuh pada tanggal 10 Muharram. Kata Ashura berasal dari bahasa Arab, artinya ‘kesepuluh’. Pada hari inilah Hussain gugur dalam pertempuran melawan pasukan Yazid, tahun 61 Hijriyah. Ashura adalah hari teramat penting bagi umat Syiah, sekitar 20 persen jumlahnya di kalangan Muslim Pakistan. Tetapi Ashura [...]

February 25, 2015 // 4 Comments

Denmark Flag Humiliated

Protesters draw Denmark flag on streets, and deliberately step on it to humiliate it. Peaceful demonstration protesting the Denmark cartoon turns wild and bloody in Lahore, 14 February 2006. Pakistan experienced waves of angry demonstrations nationwide protesting controversial cartoon series of Prophet Muhammad published by Denmark newspaper, Jyllands-Posten, regarded as blasphemous by Muslims. Thousands of protesters rampaged through the city of Lahore, storming and torching Western and local businesses. The mob burned down a hotel, two banks, KFC restaurant, MacDonald restaurant, Pizza Hut restaurant, Suzuki showroom, and the office of a Norwegian cell phone company, Telenor. Rioters also damaged hundreds of cars, dozens of shops, and vandalized public properties. In Lahore, two movie theaters were torched. The city is covered by black smoke from burning vehicles in front of Citibank branch. Two people are reportedly killed and some others are injured in the unrest. Related blog posts: Lahore – Not an Ordinary Valentine’s Day (Riots in LAHORE) For other photography works, please proceed to Photography Album. All photography materials in agustinuswibowo.com are copyrights of Agustinus Wibowo, unless specially specified. Any unauthorized use or distribution of these copyrighted works is illegal. Agustinus can be contacted here.   [zoomfolio settings_mode=”masonry” skin=”skin-default” settings_specialgrid=”none” [...]

January 4, 2015 // 0 Comments

My Bodyguard

When I was covering the event, I was attacked by the mobs suspecting I was Chinese. Qutbi rescued me from the crowds, brought me home, put a Muslim cap on my head, and virtually became my bodyguard the whole day to guarantee my safety. “Today everybody is not human. Everybody is crazy,” he sighed, while walking through Lahore’s burning main street. “But nothing is special. Koi zabardast nehi,” he concluded. Peaceful demonstration protesting the Denmark cartoon turns wild and bloody in Lahore, 14 February 2006. Pakistan experienced waves of angry demonstrations nationwide protesting controversial cartoon series of Prophet Muhammad published by Denmark newspaper, Jyllands-Posten, regarded as blasphemous by Muslims. Thousands of protesters rampaged through the city of Lahore, storming and torching Western and local businesses. The mob burned down a hotel, two banks, KFC restaurant, MacDonald restaurant, Pizza Hut restaurant, Suzuki showroom, and the office of a Norwegian cell phone company, Telenor. Rioters also damaged hundreds of cars, dozens of shops, and vandalized public properties. In Lahore, two movie theaters were torched. The city is covered by black smoke from burning vehicles in front of Citibank branch. Two people are reportedly killed and some others are injured in the unrest. [...]

January 4, 2015 // 0 Comments

Beaten by Police

Police, armed with wooden sticks, caught and beat a protester Peaceful demonstration protesting the Denmark cartoon turns wild and bloody in Lahore, 14 February 2006. Pakistan experienced waves of angry demonstrations nationwide protesting controversial cartoon series of Prophet Muhammad published by Denmark newspaper, Jyllands-Posten, regarded as blasphemous by Muslims. Thousands of protesters rampaged through the city of Lahore, storming and torching Western and local businesses. The mob burned down a hotel, two banks, KFC restaurant, MacDonald restaurant, Pizza Hut restaurant, Suzuki showroom, and the office of a Norwegian cell phone company, Telenor. Rioters also damaged hundreds of cars, dozens of shops, and vandalized public properties. In Lahore, two movie theaters were torched. The city is covered by black smoke from burning vehicles in front of Citibank branch. Two people are reportedly killed and some others are injured in the unrest. Related blog posts: Lahore – Not an Ordinary Valentine’s Day (Riots in LAHORE) For other photography works, please proceed to Photography Album. All photography materials in agustinuswibowo.com are copyrights of Agustinus Wibowo, unless specially specified. Any unauthorized use or distribution of these copyrighted works is illegal. Agustinus can be contacted here.   [zoomfolio settings_mode=”masonry” skin=”skin-default” settings_specialgrid=”none” settings_posttype=”post” [...]

January 4, 2015 // 0 Comments

Aftermath

But the craziness today has left daunting scars Peaceful demonstration protesting the Denmark cartoon turns wild and bloody in Lahore, 14 February 2006. Pakistan experienced waves of angry demonstrations nationwide protesting controversial cartoon series of Prophet Muhammad published by Denmark newspaper, Jyllands-Posten, regarded as blasphemous by Muslims. Thousands of protesters rampaged through the city of Lahore, storming and torching Western and local businesses. The mob burned down a hotel, two banks, KFC restaurant, MacDonald restaurant, Pizza Hut restaurant, Suzuki showroom, and the office of a Norwegian cell phone company, Telenor. Rioters also damaged hundreds of cars, dozens of shops, and vandalized public properties. In Lahore, two movie theaters were torched. The city is covered by black smoke from burning vehicles in front of Citibank branch. Two people are reportedly killed and some others are injured in the unrest. Related blog posts: Lahore – Not an Ordinary Valentine’s Day (Riots in LAHORE) For other photography works, please proceed to Photography Album. All photography materials in agustinuswibowo.com are copyrights of Agustinus Wibowo, unless specially specified. Any unauthorized use or distribution of these copyrighted works is illegal. Agustinus can be contacted here.   [zoomfolio settings_mode=”masonry” skin=”skin-default” settings_specialgrid=”none” settings_posttype=”post” [...]

January 4, 2015 // 0 Comments

We Are Servants

We all are servants of the Prophet, says the banner. Peaceful demonstration protesting the Denmark cartoon turns wild and bloody in Lahore, 14 February 2006. Pakistan experienced waves of angry demonstrations nationwide protesting controversial cartoon series of Prophet Muhammad published by Denmark newspaper, Jyllands-Posten, regarded as blasphemous by Muslims. Thousands of protesters rampaged through the city of Lahore, storming and torching Western and local businesses. The mob burned down a hotel, two banks, KFC restaurant, MacDonald restaurant, Pizza Hut restaurant, Suzuki showroom, and the office of a Norwegian cell phone company, Telenor. Rioters also damaged hundreds of cars, dozens of shops, and vandalized public properties. In Lahore, two movie theaters were torched. The city is covered by black smoke from burning vehicles in front of Citibank branch. Two people are reportedly killed and some others are injured in the unrest. Related blog posts: Lahore – Not an Ordinary Valentine’s Day (Riots in LAHORE) For other photography works, please proceed to Photography Album. All photography materials in agustinuswibowo.com are copyrights of Agustinus Wibowo, unless specially specified. Any unauthorized use or distribution of these copyrighted works is illegal. Agustinus can be contacted here.   [zoomfolio settings_mode=”masonry” skin=”skin-default” settings_specialgrid=”none” settings_posttype=”post” [...]

January 4, 2015 // 0 Comments

Scattered

Destroyed items from shops, offices, banks scatter the street. Peaceful demonstration protesting the Denmark cartoon turns wild and bloody in Lahore, 14 February 2006. Pakistan experienced waves of angry demonstrations nationwide protesting controversial cartoon series of Prophet Muhammad published by Denmark newspaper, Jyllands-Posten, regarded as blasphemous by Muslims. Thousands of protesters rampaged through the city of Lahore, storming and torching Western and local businesses. The mob burned down a hotel, two banks, KFC restaurant, MacDonald restaurant, Pizza Hut restaurant, Suzuki showroom, and the office of a Norwegian cell phone company, Telenor. Rioters also damaged hundreds of cars, dozens of shops, and vandalized public properties. In Lahore, two movie theaters were torched. The city is covered by black smoke from burning vehicles in front of Citibank branch. Two people are reportedly killed and some others are injured in the unrest. Related blog posts: Lahore – Not an Ordinary Valentine’s Day (Riots in LAHORE) For other photography works, please proceed to Photography Album. All photography materials in agustinuswibowo.com are copyrights of Agustinus Wibowo, unless specially specified. Any unauthorized use or distribution of these copyrighted works is illegal. Agustinus can be contacted here.   [zoomfolio settings_mode=”masonry” skin=”skin-default” settings_specialgrid=”none” settings_posttype=”post” [...]

January 4, 2015 // 0 Comments

How Dare You, Denmark?

Aren’t you afraid of our reaction?, probably is what they want to express. Peaceful demonstration protesting the Denmark cartoon turns wild and bloody in Lahore, 14 February 2006. Pakistan experienced waves of angry demonstrations nationwide protesting controversial cartoon series of Prophet Muhammad published by Denmark newspaper, Jyllands-Posten, regarded as blasphemous by Muslims. Thousands of protesters rampaged through the city of Lahore, storming and torching Western and local businesses. The mob burned down a hotel, two banks, KFC restaurant, MacDonald restaurant, Pizza Hut restaurant, Suzuki showroom, and the office of a Norwegian cell phone company, Telenor. Rioters also damaged hundreds of cars, dozens of shops, and vandalized public properties. In Lahore, two movie theaters were torched. The city is covered by black smoke from burning vehicles in front of Citibank branch. Two people are reportedly killed and some others are injured in the unrest. Related blog posts: Lahore – Not an Ordinary Valentine’s Day (Riots in LAHORE) For other photography works, please proceed to Photography Album. All photography materials in agustinuswibowo.com are copyrights of Agustinus Wibowo, unless specially specified. Any unauthorized use or distribution of these copyrighted works is illegal. Agustinus can be contacted here.   [zoomfolio settings_mode=”masonry” skin=”skin-default” settings_specialgrid=”none” [...]

January 4, 2015 // 0 Comments

Reconciliation

Police has made reconciliation with the leaders of religious groups conducting today’s protest. Peaceful demonstration protesting the Denmark cartoon turns wild and bloody in Lahore, 14 February 2006. Pakistan experienced waves of angry demonstrations nationwide protesting controversial cartoon series of Prophet Muhammad published by Denmark newspaper, Jyllands-Posten, regarded as blasphemous by Muslims. Thousands of protesters rampaged through the city of Lahore, storming and torching Western and local businesses. The mob burned down a hotel, two banks, KFC restaurant, MacDonald restaurant, Pizza Hut restaurant, Suzuki showroom, and the office of a Norwegian cell phone company, Telenor. Rioters also damaged hundreds of cars, dozens of shops, and vandalized public properties. In Lahore, two movie theaters were torched. The city is covered by black smoke from burning vehicles in front of Citibank branch. Two people are reportedly killed and some others are injured in the unrest. Related blog posts: Lahore – Not an Ordinary Valentine’s Day (Riots in LAHORE) For other photography works, please proceed to Photography Album. All photography materials in agustinuswibowo.com are copyrights of Agustinus Wibowo, unless specially specified. Any unauthorized use or distribution of these copyrighted works is illegal. Agustinus can be contacted here.   [zoomfolio settings_mode=”masonry” skin=”skin-default” settings_specialgrid=”none” [...]

January 4, 2015 // 0 Comments

1 2 3 4