Recommended

Murghab

#1Pic1Day: Peninggalan KGB | KGB Legacy (GBAO, Tajikistan, 2006)

KGB Legacy (GBAO, Tajikistan, 2006) The Pamir border town of Murgab is among the host of Tajikistan’s last Lenin statues. The statue is located near the offices of the former KGB and the police militia. After the independence of Central Asian nations, anything Soviet-related was removed from sight. Lenin statues and street names were replaced by those of national heroes, and Cyrillic script replaced by Latin. Peninggalan KGB (GBAO, Tajikistan, 2006) Kota perbatasan Murghab di Pamir memiliki salah satu dari beberapa patung Lenin yang masih tersisa di Tajikistan. Patung itu terletak di dekat bekas kantor KGB dan kantor polisi. Setelah kemerdekaan negara-negara Asia Tengah, banyak peninggalan bekas Uni Soviet yang dihancurkan atau dipindahkan. Patung-patung Lenin dan nama jalan Lenin diganti dengan ikon pahlawan lokal (sekarang menjadi pahlawan nasional), dan huruf-huruf Sirilik di sejumlah negara telah diganti menjadi huruf [...]

September 26, 2013 // 0 Comments

#1Pic1Day: Sesudah Perang | Life After War (GBAO, Tajikistan, 2006)

Life After War (GBAO, Tajikistan, 2006) Madam Dudkhuda is a typical town dweller in the Pamir Mountains. She works as bread baker, earning less than US$20 per month, while her geologist husband only earns about US$150 a year. There is no adequate job offered by the government, so most people in the mountainous province become unemployed or underemployed. Recently some NGOs like the Aga Khan Foundation and Acted provided some training programs to the communities, as well as microcredit financial aid, to help the rebuilding of the economy after years of civil war. Sesudah Perang (GBAO, Tajikistan, 2006) Nyonya Dudkhuda adalah seorang warga kota biasa dari Pegunungan Pamir. Dia bekerja sebagai pembuat roti, dengan pendapatan kurang dari US$ 20 per bulan, sementara suaminya yang bekerja sebagai ahli geologis hanya memperoleh US$ 150 per tahun. Kurangnya pekerjaan yang dapat disediakan oleh pemerintah menyebabkan sebagian besar penduduk di provinsi pegunungan ini menjadi pengangguran atau setengah pengangguran. Saat ini beberapa LSM internasional seperti Aga Khan Foundation dan Acted telah menyediakan program pelatihan kepada masyarakat, juga bantuan finansial dengan skema mikrokredit, untuk membantu pembangunan ekonomi pasca tahun-tahun perang [...]

September 25, 2013 // 2 Comments

Garis Batas 21: Danau Kematian

Karakul, danau besar di puncak atap dunia, adalah sebuah danau raksasa. Tak ada kehidupan di dalamnya.  Dalam bahasa Kirghiz, Karakul berarti danau hitam. Danaunya sendiri tidak hitam, malah biru kelam memantulkan warna langit yang cerah. Yang hitam adalah kehidupannya. Dalam danau yang sangat asin ini, tak ada satu pun makhluk yang bisa hidup. Danau ini tercipta oleh sebuah meteor yang jatuh menghantam bumi, jutaan tahun silam. Biksu Buddha Xuanzang, ribuan tahun yang lalu, pernah lewat sini. Marco Polo pun pernah melintas. Kini, danau ini masih menyimpan misteri dalam keheningannya. Di dekat danau ada sebuah dusun kecil. Penduduknya berasal dari etnis Kirghiz , hanya ada satu orang Tajik. Saya sebenarnya dikenalkan oleh orang-orang di Murghab untuk menginap di rumah orang Tajik yang polisi ini. Tetapi, ketika saya sampai di Karakul, si polisi sudah tidak tinggal di sini lagi. Saya pun menginap di sebuah rumah keluarga Kirghiz yang memang sudah dipersiapkan oleh organisasi Perancis, Acted, di Murghab, sebagai losmen untuk melayani orang asing. Keluarga ini tidak bisa bahasa Tajik, tetapi si suami bisa sedikit-sedikit. Setidaknya mereka bisa menyanyikan lagu kebangsaan Tajikistan dengan bangga, “Zindabosh e vatan Tajikistan e azadi man…,” walaupun tidak tahu artinya sama sekali. Tildahan, istrinya, seorang wanita muda yang [...]

June 9, 2013 // 1 Comment

Garis Batas 20: Bagaimana Caranya Keluar dari Sini?

Bazaar Kota Murghab (AGUSTINUS WIBOWO) Bagaimana caranya keluar dari Murghab? Saya sudah tak sabar lagi ingin keluar dari kota yang penuh dengan kemuraman hidup ini. Apalagi, visa Tajikistan saya hanya tersisa empat hari. Saya harus selekasnya masuk ke Kyrgyzstan sebelum visa kadaluwarsa. Murghab memang bukan tempat yang nyaman untuk menunggu kendaraan. Sudah dua hari saya menunggu di pasar Murghab yang sepi dan malas itu. Begitu pula dua orang backpacker bule, orang Israel dan Amerika, yang saya temui di sana. Di sini, tidak seperti di Langar, banyak sekali mobil. Tetapi, tidak ada penumpang. Orang tidak mampu membayar karcis perjalanan yang melambung. Harga bensin di Murghab 3.40 Somoni per liter, lebih murah daripada di Langar yang terpencil. Selain kami bertiga, tidak ada lagi yang berniat pergi ke Kyrgyzstan. Melihat backpacker bule  para supir tidak mau melewatkan kesempatan berharga. Tiga ratus dolar, tidak bisa ditawar, untu menyewa jeep sampai ke kota Osh di Kyrgyzstan sana. Saya tidak tertarik untuk menyewa kendaraan. Angka ratusan dolar jauh sekali di atas kemampuan dompet saya. Tapi, Si Turis Amerika sudah tidak sabar lagi. Visanya berakhir hari ini. Kalau dia tidak berada di Kyrgyzstan malam ini juga, nasibnya akan berakhir di tangan para tentara Tajik yang rakus, atau [...]

June 9, 2013 // 0 Comments

Garis Batas 18: Kisah Seorang Geologis dari Murghab

Komplek rumah bobrok dan kosong di pinggiran Murghab. [AGUSTINUS WIBOWO] Barisan rumah muram dengan bayang-bayangnya yang seram menyambut kami ketika tiba di komplek perumahan yang ditinggali Dudkhoda di pinggiran kota Murghab. Seperti rumah hantu, lusinan rumah reyot yang atapnya ambruk dengan dinding yang mengelupas berbaris dan bersaf di komplek ini. Sepertinya hanya keluarga Dudkhoda yang tinggal di tempat ini. Rumah-rumah lain tak berpenghuni. Tetapi, barisan rumah yang hampir rubuh ini mengajarkan sesuatu yang paling berharga dalam perjalanan saya ke Murghab. Tentang cinta dan pengharapan. Rumah Dudkhoda hanyalah sepetak ruangan berukuran 3 kali 4 meter yang dihuninya bersama istri dan dua orang anaknya, ditambah seekor kucing kecil. “Musim dingin di Murghab sini dingin sekali, jadi rumah kecil itu yang bagus,” Dudkhoda beralasan menutupi kekurangannya. Puterinya yang baru berumur 9 tahun langsung sibuk mengiris kentang yang dibawa ayahnya ketika saya dan rombongan supir-supir truk Kyrgyzstan datang. Istrinya menyiapkan penggorengan penuh dengan minyak. Para supir dan kernet dari Kyrgyzstan duduk mengelilingi meja kecil. Tak ada listrik. Mata orang-orang Kirghiz berkelap-kelip memantulkan sinar lampu petromaks yang menggantung di langit-langit. Saya menangkap rasa lapar yang amat sangat  di mata itu. Dudkhoda menyiapkan sepoci teh hijau. Tak ada gula. Ia tak punya uang. Harga gula mahal, [...]

June 9, 2013 // 1 Comment

Garis Batas 17: Padang Gembala

Anak-anak Kirghiz bermain di dekat truk Kamaz. (AGUSTINUS WIBOWO) Semalam di Alichur, tidur di dalam stolovaya, di atas lantai dingin dan dibungkus selimut tebal yang kotor, mungkin bukan idaman semua petualang. Supir-supir truk yang tidak saya kenal dan saya ingat wajahnya, kecuali satu dua orang saja, tidur berjajar seperti ikan yang digelar di pasar. Dalam kegelapan total, suara dengkuran sahut menyahut, seakan bersaing dengan lolongan anjing-anjing gembala di luar sana. Tak bisa tidur, saya membuka mata. Yang terlihat hanya hitam. Tiba-tiba sebuah tangan merangkul saya. Di warung yang sempit ini memang tidak banyak tempat. Saya berbagi tikar dan selimut dengan Dudkhoda, pria Tajik yang menjadi teman bicara saya. Tak tahu apa artinya pelukan ini. Mungkin dia sudah pulas. Tapi, tidak terdengar dengkuran dari mulutnya. Ada hembusan napas yang lebih cepat dari biasanya. Saya diam saja. Tiba-tiba telapak tangan asing itu meraba-raba tubuh saya. Aduh, apa lagi ini? Bau vodka tercium kuat. Dudkhoda tidak sedang tidur lelap. Sepertinya ia butuh sesuatu untuk pelampiasan hasratnya. Suara dengkuran supir-supir Kirghiz masih bersahutan tanpa henti, seperti konser orkestra. Perjuangan Dudkhoda pun tidak pernah berhenti. Berkali-kali saya mengembalikan tangan itu ke tempat yang seharusnya. Berkali-kali pula tangan itu mendarat lagi di atas tubuh saya. Malam [...]

June 9, 2013 // 0 Comments

Garis Batas 16: Semalam di Alichur

Alichur, Kota Gembala di Pengunungan Pamir (AGUSTINUS WIBOWO) Di antara semua kesusahan hidup di Tajikistan, yang paling berat adalah transportasi. Langar memang sangat terpencil. Letaknya bukan di jalan utama, sehingga dalam sebulan mungkin hanya ada satu kendaraan saja yang lewat. Saya ingin meneruskan perjalanan ke utara, menuju Pamir Highway yang menghubungkan Tajikistan dengan Kyrgyzstan, negara tujuan saya berikutnya. Tetapi menunggu satu bulan di Langar tentu saja bukan pilihan. Visa Tajikistan, yang saya beli dengan harga 250 dolar di Kabul, hanya memberi saya ijin tinggal satu bulan. Khalifa Yodgor memang orang baik. Tahu kesulitan saya, ia membantu mencarikan saya kendaraan yang akan membawa saya melanjutkan perjalanan. Pemilik mobil yang satu ini memang sudah lama menganggur. Tahu saya ingin ke Alichur, dia langsung mengeluarkan sederetan hitung-hitungan yang membuat kepala saya pening. “Jarak Langar ke Alichur 120 kilometer. Pergi pulang 240 kilometer. Naik turun gunung, 1 liter bensin cuma untuk 3 kilometer. Kamu paling tidak harus memberi 80 liter bensin.” “Bisa bayar tidak pakai uang?” “Terserah kamu, mau bayar pakai bensin atau bayar pakai uang?” Apakah dia menganggap saya sebagai suplier bensin yang selalu membawa 80 liter bensin ke mana-mana? Atau memang di sini, di mana BBM langka sampai harganya mencekik leher, bensin [...]

June 9, 2013 // 1 Comment

Karakul – Out of Murghab

A new day, and a new month, starts in Murghab The new month has just started, and I have only 4 days left on my visa. I met these two guys in the bazaar of Murghab, one with visa expiring today (November 1). The guys were from America and Israel, and they have been waiting for onward travel to Kyrgyzstan. They were there in the bazaar yesterday but failed to depart. Today is the second day (and supposed to be the last day) attempt. Murghab is somehow a depressing place to wait for transport. As now the oil price has skyrocketed, one’s a month salary is only enough to cover the distance from Murghab to Osh or to Khorog in a public transport for one time. People don’t travel anywhere. There are many drivers but not passengers. The drivers hang around the bazaar the whole day to get passengers, and except the two travelers, and me, there is nobody else to share the cost. Some drivers even didn’t have petrol for their vehicles. The cost is always calculated in terms of liters of oil, with 3.40 Somoni/liter standard in Murghab. In Langar I even saw a driver asked the passengers [...]

November 1, 2006 // 0 Comments

Murghab – Life in Murghab

A morning greetings from Murghab Murgab (Murghab) was promising when it was built. It was a new Russian settlement built as frontier city of Pamir. The highway connecting the isolated mountains to the lowland towns was supposed to bring wealth to the nomadic community. Life had changed ever since. A town was built on the top of mountains. People were educated. Frontier military checkpoints were enforced. But how is life now, after Tajikistan gained independence from the USSR and civil war took place in the new country? The hope of the future had turned to be a bad fate. I had got a chance to know Gulnara, a 54 year old woman working as a primary school teacher in Murgab. Gulnara is the younger sister of Khalifa Yodgor from Langar. But the last time she saw him was 2 years ago. “It is too expensive to go there,” said her. Langar is not too far from Murgab. It is around 250 km only, but the public transport there is very rare and expensive. At present, Murghab-Langar cost 50 Somoni/pax. Gulnara’s salary is only 80 Somoni per month. She hardly manages to feed her family with that money, needless to say [...]

October 31, 2006 // 0 Comments

Murghab – The Dudkhoda’s Family

Boys of Murghab, in front of Tajik banner with the tricolor flag and coat-of-arms, of which important element is a snow mountain “Pamir will be better…. Pamir will be better….” – Dudkhoda My first impression of this 39 year old Tajik man was really not so good. this man tried to hug me and kiss me when I was sleeping next to him under the same blanket on the floor in the Kyrgyz restaurant in alichur packed by the Kyrgyz drivers. He also made me to pay his bills in the restaurant. But later I found that he had story worth to tell. He arranged for me a seat in the Kyrgyz truck, along with him, who returned to his home in Murghab. He was actually a passenger of the truck, not being able to pay the ride with money but offered the drivers a dinner in his hosue in Murghab. I came along with him, sitting along the way to Murghab (100 km) for free. Just near Murghab, there were two military checkpoint. The Kyrgyz drivers failed to do registration and they became easy target of the military man in the small dormitory. “Hey, brother, you should follow the [...]

October 29, 2006 // 0 Comments