Recommended

perbatasan

Tersandera oleh Batas

Ketika Wilem Bab, seorang lelaki Papua, menerima bendera merah putih dari sepasukan 50 tentara perbatasan Indonesia yang berpatroli ke kampungnya, dia bingung. Para tentara itu menyuruhnya mengibarkan bendera itu di kampungnya, karena, mereka bilang, ini tanah Indonesia. Wilem adalah lelaki tertua di kampung Digo, yang terletak di tengah hutan rimba, pada perbatasan antara Indonesia dan Papua Nugini. Orang Melanesia berkulit hitam itu baru berumur 39 tahun, tetapi kerut-kerut di wajah membuatnya terlihat seperti 60 tahun. Kabar Wilem menerima bendera Indonesia itu langsung menyebar ke desa-desa Papua Nugini di sekitar. Ketakutan mencekam: Indonesia akan jajah kita. Mereka marah, mendesak Wilem segera kembalikan bendera itu ke Indonesia. Perjalanan menuju pos tentara Indonesia di desa Indonesia terdekat tidak mudah—Wilem jalan kaki dua hari, menginap semalam di hutan rimba, menyeberangi empat sungai kecil plus tiga sungai besar, deras, sedalam kepala. Di hutan ada ular, di sungai ada buaya. Sampai di sana, dia lihat dunia yang sama sekali berbeda: desa Indonesia diterangi listrik, dihuni orang Asia berkulit lebih terang. Tapi dia gagal. Tentara Indonesia bersikukuh dia harus menyimpan bendera itu. Mereka bilang, “Kami tahu kalian orang Papua Nugini. Tapi, kalian tinggal di wilayah Indonesia. Bendera ini untuk keamanan kalian.” Wilem tidak pernah merasa dirinya tinggal [...]

April 21, 2017 // 5 Comments

Tarakbits 26 Oktober 2014: Gereja dan Budaya

Selama perjalanan saya di Papua Nugini, saya menemukan bahwa kehidupan di negeri ini sangat berbeda dengan apa yang saya bayangkan. Sebelum datang ke sini, imajinasi saya terbentuk oleh gambar-gambar kuno tahun 1970an: orang-orang primitif dari dalam rimba yang bertelanjang baik laki-laki maupun perempuan. Kenyataannya, mereka sudah sangat “modern”. Tidak ada lagi koteka yang menutup kemaluan para lelaki, dan dada telanjang perempuan hampir tidak terlihat sama sekali (kecuali kalau mereka sedang menyusui, atau benar-benar sedang tidak ada baju yang bisa dipakai). Penyebab utama di balik perubahan yang sangat drastis ini adalah agama. Empat dasawarsa lalu, mayoritas penduduk Papua Nugini masih belum mengenal agama (Kristen), dan hidup dengan tradisi suku-suku asli di dalam hutan. Sejak tahun 1970an, Kristenisasi sangat gencar dilakukan di seluruh Papua Nugini, dan membawa perubahan gaya hidup drastis terhadap suku-suku asli itu. Bersamaan itu pula, tradisi suku asli Papua perlahan memudar dan sirna, karena gereja melarang segala sesuatu yang dianggap bertentangan dengan iman gereja. Di sepanjang pesisir selatan Western Province, maupun perjalanan menyusuri Sungai Fly, saya menyaksikan sebagian besar tradisi asli sudah mati. Pada peringatan hari kemerdekaan Papua Nugini 16 September lalu, penduduk daerah Suki merayakannya hanya dengan bermain basket, voli, dan kriket. Sejumlah pendeta yang saya temui mengatakan, [...]

November 2, 2016 // 5 Comments

Benkim 25 Oktober 2014: Patok Batas Negeri

Sudah dua bulan lebih saya melakukan perjalanan yang sangat berat secara mental dan fisik menyusuri perbatasan RI—PNG. Saya bahkan sudah beberapa kali melintasi perbatasan, masuk ke Indonesia dan kembali lagi ke Papua Nugini secara ilegal. Tetapi belum pernah sekali pun saya menyaksikan garis perbatasan itu berwujud gamblang di depan mata saya. Yang saya lihat hanya hutan rimba dan gunung, sungai atau rawa. Keinginan saya begitu menggebu. Saya berteguh hati berkata pada Papa Felix, “Apa pun yang terjadi, saya mau lihat patok perbatasan itu!” Tepat di antara Digo dan Binkawuk terdapat satu desa bernama Benkim. Di sinilah terdapat salah satu dari seratusan patok penanda perbatasan yang berderet sepanjang 740 kilometer perbatasan darat antara RI dan PNG. Perjalanan dari Digo dan Tarakbits sebenarnya bisa lewat Benkim, sedikit lebih jauh dan memutar daripada rute “jalur pintas” yang berupa garis lurus melintasi hutan yang kami ambil waktu datang ke sini. “Perut saya sakit,” kata Papa Felix, “Saya cuma ingin cepat-cepat pulang ke Binkawuk. Kalau lewat Benkim nanti malam baru kita sampai Binkawuk.” “Tetapi melihat patok itu penting bagi saya,” kata saya. Saya menjanjikan sedikit uang kepadanya. Papa Felix bilang pikir-pikir dulu, lihat keadaan nanti. Pagi itu juga, setelah menyantap pisang rebus (semua pisang masih [...]

October 18, 2016 // 10 Comments

Digo 24 Oktober 2014: Sekolah Papua Nugini di Indonesia

Pagi yang dingin, sekujur punggung saya pegal karena semalaman tidur di atas bilah kayu lantai gubuk yang renggang-renggang. Saya terbangun oleh sayup-sayup suara anak-anak menyanyikan lagu kebangsaan Papua Nugini dengan nada sumbang di kejauhan. O arise all you sons of this land,     Let us sing of our joy to be free,     Praising God and rejoicing to be     Papua New Guinea. Saya sedang berada di Digo, sebuah kamp yang dihuni para pengungsi OPM (Organisasi Papua Merdeka) dari wilayah Papua Indonesia yang melarikan diri ke wilayah Papua Nugini pada tahun 1984. Tetapi banyak penduduk sini yang tidak menyadari bahwa Digo sebenarnya berada di wilayah Indonesia, bukan di Papua Nugini. Letak Digo adalah sekitar 5 kilometer di barat garis perbatasan lurus antara kedua negara. Bagaimana lagu kebangsaan Papua Nugini bisa dinyanyikan di wilayah Indonesia? Saya bergegas menuruni tangga rumah panggung, berlari menuju gedung sekolah. Di kamp pengungsi ini, semua dari 40an rumah panggung yang ada terbuat dari bahan-bahan hutan, yaitu kayu, kulit pohon sagu, dan daun sagu, sedangkan sekolah yang terletak di tengah lapangan bertanah merah itu dindingnya terbuat dari seng. Seng—yang bahannya harus dibeli dari pasar di kota, minimal dua hari perjalanan dari sini—sudah terbilang sangat mewah untuk kehidupan [...]

October 17, 2016 // 4 Comments

Digo 23 Oktober 2014: Takut Bendera Merah Putih

Saya sebenarnya sudah berada di Indonesia, atau sekitar 5 kilometer di sebelah barat garis lurus yang menjadi perbatasan RI—PNG. Inilah Digo, sebuah kamp yang dihuni para pelarian West Papua, bagian gerakan pengungsian akbar Organisasi Papua Merdeka (OPM) ke Papua Nugini pada tahun 1984. Mereka melarikan diri dari Indonesia, tetapi mereka tidak sadar bahwa mereka masih berada di Indonesia. Setelah seharian berjalan menembus hutan lebat, naik turun bukit, menyeberangi begitu banyak sungai dan rawa dan lautan lumpur, saya dan Papa Felix tiba di Digo. Kamp ini terletak di atas bukit hijau. Rumah-rumah gubuk berpanggung bertebaran di atas tanah lapang berwarna merah. Semua rumah di sini terbuat dari bahan hutan: kayu pohon yang masih kasar dan atap dari daun sagu. Kejauhan di bawah bukit sana, terlihat Sungai Ok Ma, yang hulunya di wilayah Indonesia, tetapi mengalir ke arah Papua Nugini, dan akan bergabung dengan Sungai Ok Tedi dan Sungai Fly. Anak-anak bertelanjang bulat atau bertelanjang dada berlarian di lapangan, beberapa bermain egrang, dengan tubuh kurus dan perut buncit kekurangan gizi. Beberapa bocah itu juga menderita kurap yang sangat parah, di badan maupun di kepala. Bocah-bocah itu juga mengganggu para babi kurus dan para anjing kerempeng, yang menguik memelas dan menggonggong berlari dikejar-kejar [...]

October 14, 2016 // 3 Comments

Digo 22 Oktober 2014: Menuju Kamp OPM di Wilayah Indonesia

Tujuan saya datang ke sini adalah untuk mengunjungi sebuah kamp pengungsi OPM (Organisasi Papua Merdeka). Kamp itu terletak di tengah hutan rimba, dan saya akan harus menyeberangi sungai-sungai yang berbahaya. Lebih aneh lagi, kamp itu ternyata terletak di dalam wilayah Indonesia! Hujan yang mengguyur Tarakbits seharian tak kunjung reda, saya mulai gelisah. Saya tidak ingin menghabiskan waktu terlalu lama di desa ini. Tetapi dengan cuaca begini, dan tanpa pemandu, saya tak mungkin bisa mencapai tempat itu. Sore sekitar pukul 15, hujan mengecil, lalu berhenti. Kepala sekolah Stanis Angoro berlari tergopoh-gopoh ke rumahnya—tempat saya menginap—untuk menyuruh saya berkemas. “Cepat, ada dua murid dari desa Binkawuk mau pulang ke desa mereka. Kamu ikut mereka. Sampai di sana, kamu cari orang yang bisa antar kamu sampai ke Digo,” katanya. Binkawuk adalah sebuah desa yang jauh lebih kecil daripada Tarakbits, katanya hanya satu jam perjalanan saja. Tetapi sungguh saya tidak menyangka, perjalanan yang bagi orang-orang sini paling mudah, justru telah membuat saya babak belur. Sekitar sepuluh menit kami berjalan meninggalkan Tarakbits, tiba-tiba hujan turun lagi dengan begitu derasnya. Tanpa payung, saya harus menaruh tas punggung saya di balik jaket. Lagi pula, jalanan di daerah ini berbukit-bukit, mendaki sangat curam lalu turun dengan curam, di [...]

October 13, 2016 // 5 Comments

Tarakbits 20 Oktober 2014: Mengungsi demi Merdeka

Meninggalkan Tabubil, saya kembali bergerak ke selatan, menuju sebuah kamp pengungsi OPM yang konon tersembunyi di dalam hutan. Tidak banyak yang saya ketahui tentang kamp terpencil itu, kecuali tentang letaknya yang sangat dekat dengan perbatasan Indonesia. Untuk menuju Digo, saya kembali menyusuri jalan raya Tabubil—Kiunga ke arah selatan. Sekitar separuh perjalanan, saya mesti turun di Ningerum, yang dari sana konon kita bisa berjalan kaki delapan jam termasuk menyeberangi dua sungai untuk sampai desa Tarakbits, dan dari Tarakbits kita bisa berjalan kaki tiga jam untuk sampai ke Digo. Tampaknya tidak terlalu sulit, bukan? Begitu saya sampai di Ningerum, saya mendengar ada perahu yang bisa langsung mencapai Tarakbits melalui jalur sungai. Perahu ini hanya berangkat siang hari, pada Senin, Rabu, dan Jumat, dengan bayaran 30 kina (Rp 150.000) per penumpang. Kebetulan hari ini Senin, dan kalau naik perahu saya bisa menghemat satu hari perjalanan (daripada harus jalan kaki 8 jam ditambah menyeberang dua sungai? No, thanks!). Karena itu, saya langsung menumpang bus lagi, bergerak 2 kilometer ke selatan, menuju tempat berlabuhnya perahu dari Tarakbits. Untunglah perahu itu belum berangkat. Para penumpangnya kebanyakan adalah warga Tarakbits yang datang ke pasar Ningerum untuk berjualan dan berbelanja, lalu pulang pada hari yang sama. Perahu motor [...]

October 12, 2016 // 0 Comments

Tabubil 19 Oktober 2014: Masa Depan Pertambangan

Tabubil, sebuah kota kecil terpencil di tengah rimba lebat Pegunungan Bintang, adalah salah satu urat nadi perekonomian Papua Nugini. Emas dan tembaga yang diproduksi pertambangan Ok Tedi di dekat Tabubil mencakup seperlima ekspor nasional. Tetapi, itik tidak selamanya bertelur emas, hari-hari kejayaan Tabubil tersisa sudah tidak lama lagi. Sejatinya, kota ini bukan habitat manusia normal. Ini salah satu tempat dengan curah hujan tertinggi di dunia, setidaknya 300 hari dalam setahun diguyur hujan lebat. Penulis sekaligus peneliti kenamaan Australia, Tim Flannery, mendeskripsikan Tabubil, “Kau bahkan bisa merasakan jamur bertumbuh di kulitmu sejak begitu kau turun dari pesawat.” Tetapi Tabubil justru adalah kota paling layak huni yang pernah saya alami di Papua Nugini. Kota ini menggunakan sistem birokrasi dan keamanan ala Australia, dengan peraturan ketat yang diikuti semua penduduk sampai ke detail-detail terkecil. Tabubil memiliki hotel, rumah sakit, kantor polisi, pengadilan, pemadam kebakaran, sekolah internasional, supermarket besar, bank, toko furnitur. Air gratis, listrik gratis, banyak orang menyalakan AC sepanjang hari nonstop. Karena curah hujan yang tinggi, kota ini memiliki fasilitas olahraga dalam ruangan yang memadai: squash, lapangan basket, gym, bahkan kriket indoor.  Semua jalan dilengkapi dengan papan petunjuk nama jalan dan rambu-rambu, sedangkan orang yang berlalu lalang—baik warga Papua Nugini maupun kaum [...]

October 11, 2016 // 8 Comments

Kiunga 14 Oktober 2014: Penyakit OPM Hanya Satu

Sudah dua minggu ini saya berada di Kiunga menggali kisah kehidupan para pengungsi dari West Papua, atau Papua Indonesia yang kini bermukim di Papua Nugini. Tetapi aktivitas saya telah memancing kecurigaan. Saya mendengar dari seorang pastor di Gereja Katolik, sudah ada rumor beredar di kalangan pengungsi bahwa saya adalah mata-mata yang dikirim Indonesia. Harus saya akui, identitas saya sebagai warga Indonesia menyebabkan saya tidak bebas bergerak di sini. Walaupun Kiunga adalah kota yang sangat aman menurut standar Papua Nugini—hampir tidak ada raskol, dan orang asing bebas berjalan sendiri tanpa khawatir dirampok—saya selalu merasakan ada tatapan tidak bersahabat dari orang-orang tertentu, khususnya di daerah sekitar pesisir sungai yang dihuni para pengungsi. Pernah saya dihampiri seorang pemabuk, yang meneriaki saya dalam bahasa Melayu, bahwa saya mata-mata Indonesia. Pastor kawan saya yang berasal dari Flores itu mengatakan, jangankan saya yang baru datang, dirinya yang sudah bekerja bagi mereka bertahun-tahun pun terkadang masih merasakan kecurigaan itu. Pernah ada seorang pastor yang mengunjungi kamp pengungsi West Papua di Iowara untuk melakukan penelitian tentang kehidupan pengungsi, justru kamera dan komputernya dirampas oleh sekelompok oknum pengungsi yang mencurigainya, sehingga semua hasil kerjanya sia-sia. Tetapi bagaimana pun juga, mereka adalah orang-orang yang bekerja demi ketuhanan dan kemanusiaan, sehingga [...]

June 13, 2016 // 15 Comments

Dome 9 Oktober 2014: OPM Juga Manusia(2)

Sudah tiga puluh tahun para pengungsi dari Papua tinggal di desa Dome, Papua Nugini. Seiring waktu, konflik antara para pendatang dengan penduduk setempat semakin meluas. Warga lokal sering menuduh para pengungsi menggunakan perempuan mereka untuk menggoda para lelaki Papua Nugini, dengan tujuan untuk mendapatkan kewarganegaraan Papua Nugini. Kasus itu terjadi pada Jenny Wuring, warga Papua Nugini yang kini sedang mengurus perceraian dengan suaminya. Dia bilang, seorang gadis pengungsi Papua berumur 16 tahun pernah menggoda suaminya yang berumur 40 tahun, sehingga Jenny membawa kasus ini ke pengadilan. Ayah dari gadis itu adalah seorang anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM), sebuah gerakan separatis yang memperjuangkan kemerdekaan Papua dari cengkeraman Indonesia. Selain itu, Jenny juga mencurigai para pengungsi itu menguasai ilmu sihir sehingga sering membunuh dengan menyantet warga asli. Dia curiga, ayahnya yang tiba-tiba meninggal sepuluh tahun lalu itu adalah gara-gara sihir dari warga pengungsi. Orang-orang Papua Nugini di Dome memang memanggil para pengungsi dengan istilah bahasa Melayu, sobat. Tetapi itu seperti panggilan tanpa makna. Konflik di antara mereka semakin parah dan belakangan ini sering menjadi kontak fisik. Misalnya, penduduk asli Dome yang marah sering menebangi pohon-pohon pisang yang ditanam para pengungsi. Peristiwa terparah adalah pembakaran sekolah yang dibangun para pengungsi, yang terjadi pada [...]

June 10, 2016 // 4 Comments

Dome 8 Oktober 2014: OPM Juga Manusia (1)

Sekilas, Dome tidak tampak berbeda dengan kebanyakan desa di Western Province, Papua Nugini: terbelakang, nyaris tanpa sentuhan pembangunan apa pun. Tetapi di sini para pengungsi separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) dari Papua Indonesia hidup berdampingan dengan penduduk lokal Papua Nugini. Dan mereka sama sekali tidak bisa dikatakan akur. Dome tidak terlalu terpencil. Untuk mencapai Dome, orang bisa menumpang minibus yang melintasi jalan utama yang menghubungkan kota besar Kiunga dengan Tabubil, kota pertambangan nan makmur di pegunungan utara. Ini sebuah jalan berdebu bergerunjal dan memualkan, yang di negeri ini sudah disebut sebagai highway. Dua jam perjalanan kemudian, kita mesti meninggalkan jalan utama, berbelok ke barat, sampai ke tepi sungai Ok Tedi, di mana kita mesti menumpang perahu untuk menyeberangi sungai keruh dan beracun itu untuk mencapai Dome. Desa Dome terbelah dua. Desa asal, yang dijuluki sebagai Dome-1, dihuni penduduk warga Papua Nugini, terletak di tepi sungai. Sedangkan permukiman para pengungsi OPM, kini dijuluki sebagai Dome-2, terletak di belakangnya, jauh dari sungai. Garis batas pemisah keduanya adalah sebuah tanah lapang yang berfungsi sebagai pasar. Walaupun masih di desa yang sama, mayoritas berbicara bahasa Yomgom yang sama, memiliki hubungan kekerabatan dari nenek moyang yang sama, dan telah hidup berdampingan selama tiga puluh tahun, [...]

June 4, 2016 // 8 Comments

Pakistan: Ketika Tuhan Menjadi Negara

Perbatasan Wagah (disebut Attari oleh India) terletak hampir tepat di tengah jarak antara Lahore di Punjab Pakistan dengan Amritsar—kota suci umat Sikh di Punjab India. Walaupun ini satu-satunya perlintasan resmi sepanjang 2.900 kilometer garis batas kedua negara, perbatasan biasanya sepi sepanjang hari. Sangat sulit bagi penduduk mereka untuk saling mendapatkan visa; minat saling berkunjung juga rendah. Perbatasan ini sesungguhnya adalah pseudo-stadion, dengan tribun-tribun berhadap-hadapan bagi penonton, di sisi Pakistan maupun India. Menjelang sore, perbatasan mendadak ramai oleh penduduk kedua negeri yang membanjiri tribun masing-masing seperti suporter sepak bola fanatik. Di sisi India, dari lautan manusia berbaju warna-warni memenuhi tribun di seberang garis batas dan berkilau keemasan dibilas matahari senja, terdengar meriahnya dendang musik pop Bollywood, juga gemuruh pekikan: “Hindustan Zindabad!” Hiduplah India! Di sisi Pakistan, di bawah bayang-bayang Gerbang Kebebasan, kami tak mau kalah, memekik sekencang-kencangnya, “Pakistan Zindabad! Pakistan Zindabad!” Pemandu sorak kami adalah seorang kakek berjenggot putih. Konon dia tak pernah absen agar semangat kami Pakistan jangan sampai kalah dari India. Dia selalu mengenakan pakaian hijau yang sama, bergambar bulan sabit dan bintang—lambang Islam dan lambang Pakistan—dan bertuliskan huruf Urdu: Pakistan Zindabad. “Nara e Takbir!!!” Pekikkan kebesaran Allah! kakek itu berteriak. “Allahuakbar!” [...]

April 14, 2016 // 12 Comments

Kiunga 2 Oktober 2014: Membujuk Pengungsi Papua Merdeka untuk Pulang

Di wilayah Western Province, Papua Nugini, yang berbatasan dengan Indonesia, masih banyak tinggal para pengungsi dari Papua. Mayoritas dari mereka adalah pendukung gerakan Papua Merdeka. Kini Indonesia membuka pintu bagi mereka untuk pulang ke kampung halaman. Tetapi bagi mereka, ini bukan masalah semudah mengatakan ya atau tidak. Kebetulan pada saat saya berada di Kiunga, datang rombongan dari Konsulat Jenderal Indonesia di Vanimo bersama Pemerintah Provinsi Papua untuk bertatap muka dengan para pengungsi Papua yang tinggal di kota itu. Delegasi pemerintah Indonesia berupaya membujuk para pengungsi untuk pulang. Sesudah pertemuan itu, rombongan pemerintah Indonesia mendatangi ke Gereja Katolik, yang selama ini menaungi sebagian besar pengungsi dari Papua. Saya diundang seorang pastor dari Flores untuk ikut pertemuan di Gereja. Pertemuan dihadiri oleh sejumlah anggota Gereja dan warga pengungsi Papua. Kepada Uskup Gereja, Konsul Jendral Indonesia, Jahar Gultom dengan penuh semangat mengatakan bahwa pertemuan dengan para pengungsi tahun ini cukup memuaskan. “Tahun lalu poin mereka hanya satu. Hanya Merdeka,” katanya, “Tapi kemarin ada banyak warga yang bertanya tentang pemulangan. Ada pula yang berkomentar, ‘Saya tidak tahu saya ini siapa, apakah saya orang Papua Nugini atau orang Indonesia.’” Para pengungsi adalah orang tanpa identitas. Sebagian besar pengungsi bermigrasi dari Indonesia ke Papua Nugini pada [...]

April 13, 2016 // 10 Comments

Kiunga 30 September 2014: Benderamu Menghalangi Matahariku

Sudah hampir 30 tahun John Wakum tinggal di Papua Nugini. Dia adalah salah satu orang yang paling dihormati kalangan masyarakat pengungsi Papua Barat di kota ini. Dia seorang aktivis OPM (Organisasi Papua Merdeka). Tiga puluh tahun sejak dia datang ke negeri ini, impiannya masih sama: Papua harus merdeka dari Indonesia. Lelaki 67 tahun ini kurus kering. Jenggot putih tebal menyelimuti janggutnya. Syal melingkar di lehernya. Dia terus terbatuk, mengaku sudah dua hari dia tidak bisa turun dari ranjang, dan baru hari ini dia bisa keluar menikmati matahari. Kami duduk di beranda rumahnya yang terbuat dari kayu. Di dalam rumah itu, tepat di hadapan pintu masuk, terpampang sebuah bendera besar dengan lambang bintang dan garis-garis putih biru. Itu bendera Bintang Kejora. Bendera Papua Merdeka. John Wakum berasal dari Biak, menuntut ilmu tata negara di Universitas Cendrawasih. Pendidikan tinggi yang ditempuhnya di Indonesia justru membuatnya selalu bertanya kenapa negerinya masih juga terjajah. Dia pernah menjadi kepala bagian sebuah badan pembangunan, sehingga dia bekerja ke daerah-daerah terpencil dan rawan di pedalaman Papua. Misalnya di Asiki, dia bekerja pada proyek pengasapan karet dan di Nabire untuk pembuatan sagu. Selama bekerja di pedalaman Papua, dia terus menanamkan pemahaman tentang kemerdekaan terhadap orang-orang Papua yang ditemuinya. [...]

March 16, 2016 // 17 Comments

Kiunga, 29 September 2014: Pengungsi Papua Merdeka

Dari Kuem menuju kota besar Kiunga, saya akan melintasi daerah paling aneh dari perbatasan Indonesia dan Papua Nugini: “benjolan” Sungai Fly. Saya menumpang perahu motor milik Raven, lelaki paruh baya dari Kuem yang hendak berjualan ikan mujair ke Kiunga. Kami berangkat pukul dua dini hari. Ketika matahari sudah mulai bersinar, perahu kami sudah memasuki daerah benjolan Sungai Fly yang menjadi pemisah kedua negeri. Sinar matahari kemerahan menyapu sungai yang bagaikan cermin panjang, dan menerangi pekatnya rimba di kedua sisinya. Kalau kita melihat di atas peta, perbatasan antara Indonesia dan Papua Nugini berwujud garis lurus dari utara ke selatan sepanjang garis 141 derajat Bujur Timur. Pada bagian tengah agak ke bawah, ada “benjolan” yang mengarah ke sisi Indonesia. Daerah itu adalah lekukan Sungai Fly. Karena peranannya yang teramat penting bagi kehidupan masyarakat Papua Nugini, keseluruhan Sungai Fly harus masuk wilayah mereka. Garis batas di selatan “benjolan” Sungai Fly itu sebenarnya tidak lurus dengan garis di atasnya, melainkan agak menjorok sedikit masuk ke wilayah Papua Nugini. Itu adalah kompensasi yang didapatkan Indonesia untuk luas tanah yang hilang setelah memasukkan potongan Sungai Fly ke Papua Nugini. Garis batas negeri membelah kehidupan. Di sebelah kiri sungai teorinya adalah Indonesia, dan di sebelah kanan sungai [...]

March 14, 2016 // 6 Comments

Papua Nugini (3) Ketika Era Prasejarah Bertemu Globalisasi : Perbatasan Segitiga

Draft artikel menengai Papua Nugini untuk majalah Traveler 旅行家, China. Dauan, Australia (AGUSTINUS WIBOWO) Tidak banyak orang menyadari bahwa Australia terletak sangat dekat dari Papua Nugini. Saking dekatnya kita bisa lihat Australia dengan mata telanjang. Untaian pulau kecil Australia hanya empat kilometer di selatan pantai Papua Nugini. Ber adalah satu desa Papua Nugini yang berhadapan dengan pulau Boigu, Australia. Dilihat dari laut di malam hari, Boigu bagai metropolitan dengan ratusan noktah cahaya berkilauan, sedangkan Ber tampak seperti tiga cahaya lemah yang sering padam, seperti lilin diterpa angin. Sumber cahaya di Ber hanyalah api unggun. Satu-satunya cara untuk mencapai Ber, orang harus naik perahu dari Daru ke arah barat sejauh 100 kilometer melewati lautan Selat Torres yang terkenal ganas ombaknya. Perahu motor yang saya tumpangi nyaris tenggelam ditelan ombak. Ini adalah perjalanan seharian yang basah dan mematikan. Begitu terisolasinya Ber dari daerah Papua Nugini lainnya, desa dengan dua ratusan penduduk ini seperti belum tersentuh peradaban. Mereka tinggal rumah-rumah panggung yang semuanya terbuat dari gedek anyaman daun. Pantai Ber tertutup lumpur, seperti sawah padi yang baru diairi. Ber berhadapan langsung dengan laut, tetapi warga di sini justru jarang ke laut dan ikan nyaris tidak ada dalam menu mereka. Setiap hari penduduk makan [...]

February 9, 2016 // 4 Comments

Asiki 27 September 2014: Pasar di Garis Batas

Sebenarnya sejak Papua masih diduduki Belanda (hingga 1963) orang dari sisi Papua Nugini sudah biasa melintasi perbatasan negeri untuk menjual ikan ke daerah Asiki. Tetapi empat tahun lalu dibangun sebuah jalan tembus sampai ke tengah hutan di tepi rawa ini. Sejak itu, orang Papua Nugini bisa datang berjualan dengan perahu-perahu mereka tanpa perlu berjalan kaki jauh. Pasar ini dikenal dengan nama Bus Stop. Itu karena dari sini orang bisa menumpang angkot sampai ke kota kecamatan Asiki (sekitar 30 kilometer, 100 ribu rupiah per orang). Pasar ini berupa sebuah lapangan yang dikelilingi rapatnya pepohonan tinggi hutan perkebunan, dengan beberapa gubuk kayu tempat mengaso. Semua transaksi berlangsung di lapangan terbuka yang diselimuti daun-daun kering dan sampah plastik. Transaksi utama di sini adalah perdagangan ikan. Orang Papua Nugini menjual mujair, orang Indonesia membeli. Para pembeli Indonesia ini bukan konsumen biasa. Mereka pedagang yang akan menjual ikan-ikan itu ke pasar di kota-kota kecamatan seperti Asiki dan Tanah Merah, yang cukup jauh dari sini. Transaksi lain adalah minyak. Orang Papua Nugini datang ke sini dengan perahu motor, tentu mereka perlu bahan bakar untuk pergi pulang. Di seberang batas sana, minyak sangat langka dan mahal, warga desa terkadang harus menunggu berbulan-bulan sampai stok minyak datang. Sedangkan [...]

February 3, 2016 // 15 Comments

Kuem 27 September 2014: Menyelundup ke Indonesia

Sekilas ini seperti pasar ikan yang terlalu sederhana. Di sebelah rawa, di tengah hutan, kecil dan jauh dari mana-mana. Tetapi pasar yang terletak di sisi terluar Indonesia ini sangat berarti bagi hidup warga perbatasan Papua Nugini. Pasar ini hanya berlangsung setiap Rabu dan Sabtu. Desa Papua Nugini terdekat adalah Kuem, yang masih memerlukan empat jam perjalanan dengan perahu. Sedangkan dari Manda dan Mipan perlu waktu enam sampai delapan jam ke sana. Elisa si pedagang kulit buaya berangkat pukul tiga dini hari dengan perahunya. Lelaki tua yang tidak banyak bicara itu sejak kemarin sudah mengumpulkan calon penumpang. Setiap penumpang diharuskan berkontribusi bahan bakar sesuai jumlah manusia dan ikan dagangan yang mereka bawa. Elisa mengizinkan saya ikut asalkan membayar dengan 5 liter bensin. Perahu kami sepertinya kelebihan muatan. Elisa membawa 80 ekor ikan mujair yang masing-masing ukurannya sepanjang lengan, hasil tangkapan jala semalam. Ditambah dagangan para penumpang lain, jumlah ikan di perahu kami sekitar 300 ekor. Yang membuat saya heran, walaupun tujuannya berdagang, tetapi ini lebih terlihat seperti piknik. Ada 12 orang di perahu ini, termasuk empat anak kecil dan para ibu mereka. Para penumpang begitu ceria, antusias membahas apa saja yang bisa beli dari Indonesia: minyak goreng, beras, tepung, garam, mi [...]

January 27, 2016 // 22 Comments

Kuem 26 September 2014: Siapa Kawan dan Siapa Lawan

“I am from China. REPEAT!” kata Papa Leo tegas, sebelum kami melangkah lebih jauh ke desa Kuem. “I am from China,” kata saya. “Mulai sekarang, kau orang China,” kata Papa Leo, “Di Kuem jangan sekali-sekali bilang kau dari Indonesia. Sekarang, ulangi lagi: Saya orang China!” Papa Leo berulang kali mengatakan Kuem sangat bahaya buat saya, karena di sini banyak para pengungsi OPM dari West Papua (Papua yang dikuasai Indonesia). OPM singkatan Organisasi Papua Merdeka, gerakan separatis yang berusaha memisahkan diri dari Indonesia. Papa Leo juga melarang saya untuk berbicara bahasa Indonesia sama sekali, hanya boleh dalam bahasa Inggris dan Tok Pisin. Tetapi sangat sulit menyembunyikan identitas asli saya. Orang sini kebanyakan tidak bisa bahasa Indonesia, tetapi mereka sering berdagang ke Indonesia. Saya memang bilang, “I am from China,” tapi setiap kali bersalaman saya tidak bisa melepaskan kebiasaan Jawa saya untuk segera menaruh tangan kanan di dada. Orang sini tahu arti isyarat itu, membalas, “Mas. Selamat pagi!” Di Kuem, nuansa Indonesia memang sangat kental. Toko, berupa kedai atau sekadar meja di pinggir jalan, menjual produk-produk Indonesia: mi instan Indomie dan Mi Sedap, susu kotak Indomilk, rokok Gudang Garam dan Surya, beragam biskuit dan kaus … Pemilik dagangan bahkan menerima pembayaran rupiah, [...]

January 26, 2016 // 11 Comments

Manda 22 September 2014: Tunggu dan Tunggu

Di desa kecil di penjuru yang sangat terpencil di Papua Nugini ini, hati saya diliputi kecemasan luar biasa. Visa Papua Nugini saya tinggal dua minggu lagi, sementara saya tidak sedikit pun berada di dekat perbatasan resmi untuk meninggalkan negara ini. Plus, saking terpencilnya tempat ini, tak seorang pun tahu pasti kapan akan ada perahu melintas. Bisa-bisa, saya terdampar di sini sampai satu bulan. Sebelum saya datang ke Manda, saat berada di Obo, saya dengar ada penduduk Obo yang berencana untuk berangkat ke Kiunga. Saya perkirakan perahu mereka akan lewat dalam sehari dua hari ini. Itu sebabnya, sepanjang hari dari pagi sampai petang, saya duduk di tepi sungai menunggu melintasnya perahu. Saya akan berteriak pada mereka, melambai-lambaikan tangan, siapa tahu mereka mau memberi saya tumpangan. Penduduk Manda hanya menertawakan saya. Tidak usah ditunggu begitu, mereka bilang, kalau ada perahu pasti kami dengar. Orang-orang ini memang memiliki pendengaran luar biasa, mungkin karena mereka senantiasa hidup tenang tanpa ingar-bingar modernitas. Walaupun mereka berada jauh dari bibir sungai, dan perahu itu masih beberapa kilometer jauhnya, mereka sudah bisa mendengar, bahkan bisa mengatakan berapa kekuatan mesin perahu itu, pergi ke mana, punya siapa. Oh, itu 15 tenaga kuda, perahu nelayan Mipan mau ke hutan. Oh, [...]

January 20, 2016 // 4 Comments

1 2 3 7