Recommended

resensi buku

Koran Jakarta (2013): Memotret Kehidupan Budaya dan Eksotisme Negeri Orang

http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/131435 Perada Sabtu, 19 Oktober 2013 | 03:03:10 WIB Memotret Kehidupan Budaya dan Eksotisme Negeri Orang Petualangannya tidak selalu mulus. Berbagai rintangan dan tantangan dihadapi dengan tabah, termasuk menemukan banyak keunikan budaya dan tradisi negaranegara seperti India. Negeri ini memiliki ritus sejak ribuan tahun, termasuk seks dan misterinya. Safarnama berasal dari bahasa Persia. Safar berarti perjalanan. Nama berarti tulisan, (hal 9). Buku ini memaparkan kisah perjalanan ke berbagai negara, seperti Mongolia, Tibet, Nepal, India, dan Pakistan. Salah satu kisah eksotis tentang nuansa mistis puncak Everest. Menatap puncak Everest, menyaksikan garis kurvanya yang tegak dan curam, tentu terbayang betapa sulit perjuangan para pendaki mencapainya, (hal 113). Meski sudah menelan banyak korban, pesona puncak Everest tidak pernah memudar, bahkan semakin menantang. Perjalanan adalah eksplorasi untuk menemukan dunia “lain”, (hal 133). Betapa dalamnya filosofi dari sebuah pelancongan. Perjalanan adalah proses menyusuri, (hal 259). Mungkin karena alasan inilah, penulis, Agustinus Wibowo, memaparkan kisah perjalanannya dalam buku setebal 552 halaman. Petualangannya tidak selalu mulus. Berbagai rintangan dan tantangan dihadapi dengan tabah, termasuk menemukan banyak keunikan budaya dan tradisi negara-negara seperti India. Negeri ini memiliki ritus sejak ribuan tahun, termasuk seks dan misterinya, (hal 246). Di Pakistan [...]

October 19, 2013 // 0 Comments

Wings (2013): Titik Nol

July 2013 Wings (The Magazine of Wings Air) Titik Nol Penulis Agustinus Wibowo Titik Nol merupakan buku ketiga yang ditulis oleh Agustinus. Sebelumnya ia juga pernah menuliskan pengalamannya sebagai backpacker dalam buka Selimut Debu (2010) dan Garis Batas (2011). Terpukau pesona kata “jauh”, si musafir menceburkan diri dalam sebuah perjalanan akbar keliling dunia. Menyelundup ke tanah terlarang di Himalaya, mendiami Kashmir yang misterius, hingga menjadi saksi kemelut perang dan pembantaian. Dimulai dari sebuah mimpi, ini adalah perjuangan untuk mencari sebuah makna. Hingga akhirnya setelah mengelana begitu jauh, si musafir pulang, bersujud di samping ranjang ibunya. Justru dari ibunya yang tidak pernah ke mana-mana itulah, dia menemukan satu demi satu makna perjalanan yang selama ini [...]

July 20, 2013 // 0 Comments

MyTrip (2013): Titik Nol, Apakah Makna Perjalanan ini Bagimu?

MyTrip Vol12/2013 Book review   Teks: Mayawati Nur Halim Foto: Hartadi, Dok.Pribadi Agustinus Wibowo   Perjalanan keliling adalah lingkaran sempurna: awal adalah akhir, tiada awal tiada akhir. Aku kembali ke titik nol.   Judul: Titik Nol Penulis: Agustinus Wibowo Penerbit:Gramedia Pustaka Utama Isi: 552 halaman + 40 halaman foto Harga: Rp 98.000   AGUSTINUS WIBOWO Sebelumnya ia telah melahirkan dua buku dengan genre sama yakni Selimut Debu dan Garis Batas. Merupakan kisah petualangannya di Afghanistan dan negeri-negeri Stan di Asia Tengah. Awalnya pemuda Lumajang, Jatim, yang pernah bekerja sebagai jurnalis di Beijing dan Afghanistan ini dikenal publik lewat rubrik “Petualang” di Kompas Cyber Media. Kini ia menetap di Jakarta.   SAFARNAMA NAMANYA Judul bukunya memang Titik Nol, tapi Agus menamai catatan pengembaraannya ini dengan Safarnama. Sebuah istilah dari Bahasa Persia yang artinya “catatan perjalanan”. Safarnama inilah yang menjadi inti buku ini, yang diceritakan pada sang bunda yang tengah meregang nyawa di ranjang rumah sakit di Surabaya. Ada 6 subbagian: •             Senandung Pengembara tentang Tibet. •             Surga Himalaya tentang Nepal. •             Kitab Tanpa Aksara tentang India. •             Mengejar Batas Cakrawala tentang Pakistan. •             Dalam Nama Tuhan masih tentang Pakistan. •             Di Balik Selimut [...]

May 16, 2013 // 0 Comments

Jakartabeat (2013): Jalan Pulang ‘Titik Nol’

29 April 2013 Jalan Pulang ‘Titik Nol’ Agustinus Written by Arman Dhani Pada satu sore yang teduh saya dan beberapa kawan datang ke acara diskusi buku Titik Nol karya Agustinus Wibowo. Jujur saya katakan sebenarnya saya malas datang. Bukan hanya karena saya tak begitu suka jenis buku ini tapi juga saya pikir fenomena travel writer, siapapun itu, adalah fenomena yang kepalang overrated dan begitu memuakan. Namun saya pikir saya harus bertemu dengan Agustinus. Setidaknya saya harus membenarkan tuduhan saya bahwa selamanya genre ini akan terjebak pada skema deskripsi keindahan dan promosi pariwisata belaka. Tapi rupanya saya memang ditakdirkan untuk salah. “Menulis perjalanan adalah usaha untuk menulis tentang manusia dan kemanusiaan. Jika tulisan perjalanan tak bicara tentang manusia. Maka ia adalah tulisan yang mati,” kata Agustinus ketika saya berjumpa dengannya sore itu. Lelaki pendek berkulit putih ini jauh dari bayangan awal saya dari penulis catatan perjalanan yang usai mengarungi jalan yang luas. Saya kira ia akan tinggi besar, brewok yang lebat dan tubuh yang kekar. Tapi penampilan memang seringkali menipu. Tak saya sangka lelaki peranakan Tionghoa di depan saya yang begitu santun dan komikal, telah menaklukan salah satu dataran tinggi paling mematikan di dunia. Kadang untuk mencari ke dalam seseorang harus [...]

April 29, 2013 // 0 Comments

DailySylvia (2013): Titik Nol

1 Apr 2013 http://www.dailysylvia.com/2013/04/01/titik-nol/ Titik Nol Penulis: Agustinus Wibowo Penerbit: Gramedia Pustaka Utama TIDAK JAUH dari tema dua buku yang sebelumnya, Selimut Debu dan Garis Batas, penulis serta penikmat perjalanan Agustinus Wibowo kembali mengeluarkan buku dengan tema perjalanan, pencarian makna dan tentu saja pencarian akan jati diri sendiri, Titik Nol. Bedanya, setelah menghabiskan tahun-tahun hidupnya dengan berkelana ke negara-negara seperti Tajikistan, Kirgizstan, Kazakhstan, Uzbekistan, Turkmenistan bahkan sampai ke negara yang dipercaya menyimpan kebahagiaan di balik punggung-punggung gunung yang misterius, Agustinus malah membuka lembar pertama bukunya ini dengan kalimat yang mencengangkan–atau bisa dibilang mengagetkan bagi seorang pengembara bagi dirinya, “Aku pulang.” Apabila dalam perjalanannya, Agustinus banyak diperhadapkan dengan kisah-kisah tragedi kemanusiaan–kali ini ia harus berhadapan dengan kisah miliknya sendiri; berhadapan dengan kenyataan bahwa ibunya, orang yang paling dikasihinya, ternyata mengidap penyakit kanker yang terus menggerogoti tubuhnya perlahan-lahan. Kesedihan serta perasaan bersalah karena merasa telah bersikap “begitu egois’ membuatnya mencoba menebus waktu kebersamaan yang hilang selama mereka hidup berjauhan dengan menceritakan Safarnama (catatan perjalanan) kepada sang Ibu–dan di setiap akhir fragmen kisah perjalanannya, Agustinus selalu membawa pembaca kembali ke kamar di sebuah rumah sakit. [...]

April 1, 2013 // 0 Comments

TourismNews (2013): Titik Nol, Pemaknaan Sebuah Perjalanan

http://tourismnews.co.id/category/books/titik-nol-pemaknaan-sebuah-perjalanan March 2013 TourismNews Agustinus Wibowo kembali menghadirkan cerita perjalanannya. Setelah Selimut debu pada tahun 2010 dan Garis Batas pada tahun 2011 kini setelah 2 tahun proses penulisannya, hadir buku ketiganya, Titik Nol. Diluncurkan beberapa waktu lalu di toko buku Kinokuniya Plaza Senayan, Jakarta, Buku Titik Nol sebenarnya sudah jual ke khalayak umum sejak tanggal 21 Februari 2013 dan sampai peluncurkannya telah mengalami cetak ulang. Agustinus Wibowo memulai perjalanannya sebagai perjalanan wisata backpacking biasa ke tempat-tempat wisata dunia. Dari China ia memulai perjalanan backpackingnya ke Afrika Selatan lewat jalan darat. Dengan bermodalkan 2000 Dollar Amerika, pria asal Surabaya ini memulai perjalanannya dengan menyelundup ke Tibet. Dari Tibet dilanjutkan ke Nepal, India, Pakistan dan Afganistan. Di negeri konflik bersenjata ini ia sempat tinggal 3 tahun sebagai volunteer. Kemudia dilanjutkan ke negara – negara pecahan Uni Soviet, Mulai Turkmenistan, Tajikistan, Ubekistan dan negara-negara Stan lainnya. Catatan perjalannya itu dibagi ke masyarakat Indonesia pertama-tama melalui cerita bersambung di Kompas.com. Dengan gaya penceritaan non fiksi secara bertutur namun bergaya sastrawi, cerita perjalannya menjadi lebih dari sekedar wisata, menjadi kisah pribadi memaknai kemanusiaan melalui orang-orang, budaya dan bangsa yang ia temuinya. Titik Nol diambil dari hasil perenungannya [...]

March 31, 2013 // 0 Comments

Jawa Pos (2011): Traveling Tak Sekadar Jalan-Jalan

15 Mei 2011 Jawa Pos Traveling Tak Sekadar Jalan-Jalan JUDUL: Garis Batas, Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah PENULIS: Agustinus Wibowo PENERBIT: PT Gramedia Pustaka Utama TERIT: April 2011 TEBAL: xiv, 510 halaman Menceritakan petualangan ke negara-negara yang “tak masuk peta” dengan bahasa yang mengalir. Mendefinisi ulang makna garis batas. SEIRING dengan kemajuan ekonomi dan membaiknya kesejahteraan, traveling kini bukan lagi barang mewah di Indonesia. Entah traveling ikut group tour atau model menggelandang gaya backpacker, semuanya sudah jadi gaya hidup anak muda sampai orang tua. Para pelakunya pun seperti berlomba mendokumentasikan perjalanannya. Baik dalam bentuk buku maupun dipajang di situs jejaring sosial untuk sekadar pamer ke teman atau kolega. Namun, di antara sekian banyak buku yang bertebaran itu, tak ada yang seistimewa Garis Batas, Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah, karya Agustinus Wibowo. Istimewa lantaran buku ini tak hanya menginformasikan tempat makan, tempat pelesiran, atau penginapan. Di sini Agustinus mengajak kita bertualang di negara-negara berakhiran Stan yang nyaris jarang mendapat kunjungan. Mulai Tajikistan, Kirgizstan, Kazakhstan, Uzbekistan, dan berakhir di Turkmenistan. Garis Batas adalah buku kedua Agustinus setelah Selimut Debu yang membahas tentang Afghanistan. Saat bertatap muka di Beijing, Tiongkok, akhir April silam, siapa yang menyangka sosok inilah yang berkelana mendaki gunung, mengarungi [...]

May 15, 2011 // 1 Comment