Recommended

Sungai Fly

Kiunga 30 September 2014: Benderamu Menghalangi Matahariku

Sudah hampir 30 tahun John Wakum tinggal di Papua Nugini. Dia adalah salah satu orang yang paling dihormati kalangan masyarakat pengungsi Papua Barat di kota ini. Dia seorang aktivis OPM (Organisasi Papua Merdeka). Tiga puluh tahun sejak dia datang ke negeri ini, impiannya masih sama: Papua harus merdeka dari Indonesia. Lelaki 67 tahun ini kurus kering. Jenggot putih tebal menyelimuti janggutnya. Syal melingkar di lehernya. Dia terus terbatuk, mengaku sudah dua hari dia tidak bisa turun dari ranjang, dan baru hari ini dia bisa keluar menikmati matahari. Kami duduk di beranda rumahnya yang terbuat dari kayu. Di dalam rumah itu, tepat di hadapan pintu masuk, terpampang sebuah bendera besar dengan lambang bintang dan garis-garis putih biru. Itu bendera Bintang Kejora. Bendera Papua Merdeka. John Wakum berasal dari Biak, menuntut ilmu tata negara di Universitas Cendrawasih. Pendidikan tinggi yang ditempuhnya di Indonesia justru membuatnya selalu bertanya kenapa negerinya masih juga terjajah. Dia pernah menjadi kepala bagian sebuah badan pembangunan, sehingga dia bekerja ke daerah-daerah terpencil dan rawan di pedalaman Papua. Misalnya di Asiki, dia bekerja pada proyek pengasapan karet dan di Nabire untuk pembuatan sagu. Selama bekerja di pedalaman Papua, dia terus menanamkan pemahaman tentang kemerdekaan terhadap orang-orang Papua yang ditemuinya. [...]

March 16, 2016 // 17 Comments

Kiunga, 29 September 2014: Pengungsi Papua Merdeka

Dari Kuem menuju kota besar Kiunga, saya akan melintasi daerah paling aneh dari perbatasan Indonesia dan Papua Nugini: “benjolan” Sungai Fly. Saya menumpang perahu motor milik Raven, lelaki paruh baya dari Kuem yang hendak berjualan ikan mujair ke Kiunga. Kami berangkat pukul dua dini hari. Ketika matahari sudah mulai bersinar, perahu kami sudah memasuki daerah benjolan Sungai Fly yang menjadi pemisah kedua negeri. Sinar matahari kemerahan menyapu sungai yang bagaikan cermin panjang, dan menerangi pekatnya rimba di kedua sisinya. Kalau kita melihat di atas peta, perbatasan antara Indonesia dan Papua Nugini berwujud garis lurus dari utara ke selatan sepanjang garis 141 derajat Bujur Timur. Pada bagian tengah agak ke bawah, ada “benjolan” yang mengarah ke sisi Indonesia. Daerah itu adalah lekukan Sungai Fly. Karena peranannya yang teramat penting bagi kehidupan masyarakat Papua Nugini, keseluruhan Sungai Fly harus masuk wilayah mereka. Garis batas di selatan “benjolan” Sungai Fly itu sebenarnya tidak lurus dengan garis di atasnya, melainkan agak menjorok sedikit masuk ke wilayah Papua Nugini. Itu adalah kompensasi yang didapatkan Indonesia untuk luas tanah yang hilang setelah memasukkan potongan Sungai Fly ke Papua Nugini. Garis batas negeri membelah kehidupan. Di sebelah kiri sungai teorinya adalah Indonesia, dan di sebelah kanan sungai [...]

March 14, 2016 // 6 Comments

Papua Nugini (5) Ketika Era Prasejarah Bertemu Globalisasi : Sungai yang Mengering

Draft artikel menengai Papua Nugini untuk majalah Traveler 旅行家, China. “Dumori desa kami adalah surga,” kata Mama Ruth saat kami bersama menumpang kano menuju desanya di muara Sungai Fly, “Itu tempat terbaik di dunia.” Kano kayu kami terayun-ayun di laut tenang. Perlu waktu 12 jam untuk menempuh jarak 130 kilometer dari Daru ke Dumori dengan kano besar ini. Kami tiba di Dumori tengah malam, badan saya menggigil hebat. “Welcome to Paradise,” kata Mama Ruth. Senyumnya menampilkan barisan gigi putih yang seakan melayang di tengah kegelapan. Surga? Di sekeliling saya hanya tampak air, memantulkan samar sinar bulan. Rumah-rumah panggung dan pohon seperti mengambang. Dulu, Dumori terletak di tebing tinggi dan hampir tak pernah banjir. Sekarang, seminggu dalam sebulan desa ini pasti terendam air. Setelah banjir surut, seluruh desa tertutup lumpur tebal. Kerusakan alam terjadi sangat radikal di Sungai Fly gara-gara aktivitas pertambangan emas dan tembaga Ok Tedi di hulu sana. Saat baru beroperasi tiga puluh tahun lalu, pertambangan itu membuang limbah beracun ke Sungai Fly. Air sungai kini tidak bisa diminum dan penduduk terpaksa mengandalkan air hujan. Sagu makanan utama mereka diolah dengan air sungai, kini hitam dan pahit. Hampir semua orang di sini juga menderita penyakit kulit parah. Pertambangan itu [...]

February 11, 2016 // 8 Comments

Manda 25 September 2014: Menuju Rawa

Kekhawatiran semakin mencengkeram saya. Sudah lima hari saya tinggal di Manda menanti tumpangan perahu ke utara, tanpa hasil. Saya ingin tinggal lebih lama di Papua Nugini, masih banyak yang ingin saya pelajari di sini, tetapi visa saya hanya tersisa seminggu lagi. Saya harus ke Kiunga sesegera mungkin. Itu ibukota provinsi. Siapa tahu, visa saya bisa diperpanjang di sana. Atau setidaknya, saya bisa memikirkan jalan keluar meninggalkan negara ini dengan aman. Namun di tengah keterpencilan yang paling terpencil di Sungai Fly ini, apa pun solusi yang ada di pikiran, kita selalu dihadapkan pada ketidakberdayaan. Kemarin sebenarnya saya punya harapan. Satu perahu panjang dengan mesin 15 tenaga kuda merapat di Manda. Penumpangnya sepuluhan orang, mayoritas perempuan. Mereka datang dari Kuem. Desa itu beberapa kilometer di utara Manda, tetapi berbelok ke timur dan masuk ke rawa-rawa yang menjauh dari Sungai Fly. Kalau saya ikut mereka, memang meninggalkan Manda, tapi bisa jadi justru saya akan semakin terperangkap di desa yang dikelilingi rawa itu. Kemarin itu saya berjalan bersama Papa Leo ke bagian belakang desa. Dia sudah tidak sabar ingin membagikan pada penduduk cerita tentang nyamuk yang dia dengar dari saya. Dari dalam sebuah rumah, menghambur seorang perempuan paruh baya kurus dan sangat pendek, menyambut [...]

January 25, 2016 // 6 Comments

Manda 22 September 2014: Tunggu dan Tunggu

Di desa kecil di penjuru yang sangat terpencil di Papua Nugini ini, hati saya diliputi kecemasan luar biasa. Visa Papua Nugini saya tinggal dua minggu lagi, sementara saya tidak sedikit pun berada di dekat perbatasan resmi untuk meninggalkan negara ini. Plus, saking terpencilnya tempat ini, tak seorang pun tahu pasti kapan akan ada perahu melintas. Bisa-bisa, saya terdampar di sini sampai satu bulan. Sebelum saya datang ke Manda, saat berada di Obo, saya dengar ada penduduk Obo yang berencana untuk berangkat ke Kiunga. Saya perkirakan perahu mereka akan lewat dalam sehari dua hari ini. Itu sebabnya, sepanjang hari dari pagi sampai petang, saya duduk di tepi sungai menunggu melintasnya perahu. Saya akan berteriak pada mereka, melambai-lambaikan tangan, siapa tahu mereka mau memberi saya tumpangan. Penduduk Manda hanya menertawakan saya. Tidak usah ditunggu begitu, mereka bilang, kalau ada perahu pasti kami dengar. Orang-orang ini memang memiliki pendengaran luar biasa, mungkin karena mereka senantiasa hidup tenang tanpa ingar-bingar modernitas. Walaupun mereka berada jauh dari bibir sungai, dan perahu itu masih beberapa kilometer jauhnya, mereka sudah bisa mendengar, bahkan bisa mengatakan berapa kekuatan mesin perahu itu, pergi ke mana, punya siapa. Oh, itu 15 tenaga kuda, perahu nelayan Mipan mau ke hutan. Oh, [...]

January 20, 2016 // 4 Comments

Manda 21 September 2014: Kaki di Papua Nugini, Tanah di Indonesia

Kedatangan saya di Manda 2 disambut dengan kewaspadaan tinggi oleh para lelaki penghuni kampung. Saya tahu, letak kampung mereka yang dekat dengan perbatasan Indonesia dan keberadaan kamp OPM di sekitar sini membuat mereka sangat mencurigai saya. Tiba-tiba saya teringat pada sepucuk surat sakti teronggok di dasar tas ransel saya. Surat yang dikeluarkan Kedutaan Besar Indonesia di Port Moresby, menyatakan bahwa saya adalah “fotografer Indonesia yang ingin mengabadikan keindahan alam dan budaya Papua Nugini”. Kepada para lelaki Manda itu, saya menunjukkan surat itu lengkap dengan paspor saya. Mereka mengamati lekat-lekat, bergiliran. Ketegangan mereda. Kini mereka tersenyum ramah. “Banyak orang Indonesia yang datang ke sini, tapi tak pernah ada yang seperti kau,” kata salah seorang dari mereka, “Tadi kita kira kau mata-mata tentara Indonesia. Apalagi kau tanya-tanya soal OPM. Kita mesti hati-hati.” Kini kami sudah tidak saling curiga. Mereka mengajak saya berjalan-jalan keliling kampung. Manda 2 mungkin adalah desa termiskin yang saya saksikan sejauh ini di Papua Nugini. Semua rumah terbuat dari bahan hutan, nyaris tidak ada bahan logam sama sekali. Bahkan tangki penadah air hujan pun masih belum terpasang. Dengan air Sungai Fly yang sudah tercemar, kini satu-satunya sumber air minum mereka adalah mata air yang jauh di dalam hutan di [...]

January 19, 2016 // 7 Comments

Manda 20 September 2014: Terdampar di Tempat yang Salah

Saya sudah banyak mendengar rumor tentang Manda dari warga Obo. Tempat itu tepat berada di perbatasan PNG—Indonesia, mereka bilang. Orang-orang Manda adalah warga Papua Nugini tetapi tanah mereka ada di Indonesia. Saking dekatnya dengan Indonesia, orang Manda semua bisa bahasa Indonesia. Sempurna! Ini adalah tempat yang penuh cerita. Saya harus pergi ke Manda! Perjalanan meninggalkan Obo sebenarnya agak terlalu mulus buat saya. Penduduk bilang, sangat jarang ada perahu yang berangkat dari Obo ke arah utara. Tetapi kebetulan, besok ada rombongan dokter yang hendak berangkat dengan perahu speedboat dengan mesin 60 HP menuju Kiunga. Siapa tahu saya bisa menumpang mereka? Keesokan paginya, subuh-subuh saya meninggalkan gubuk milik Gids Salle, menyeberangi sungai yang memisahkan Obo Lama dari Obo Baru dengan rakit, lalu berlari menuju rumah sakit di sebelah landasan udara yang lebat tertutup ilalang, demi mencari dokter Felix. Dokter muda yang berasal dari daerah Highlands di bagian tengah Papua Nugini itu kemudian membawa saya menemui dokter perempuan kepala rombongan. Saya memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan perjalanan saya. Dokter kepala dengan senang hati menerima saya dalam perahu itu. Semua dokter dalam rombongan dari Kiunga ini berasal dari luar Western Province. Dokter kepala rombongan berasal dari Sepik di utara dan satu dokter perempuan berasal [...]

January 15, 2016 // 3 Comments

Obo 19 September 2014: Melihat ke Barat

Semakin saya menyusuri Sungai Fly, semakin saya dekat dengan Indonesia. Bukan hanya secara geografis, tetapi juga dari kehidupan orang-orangnya. Di Suki saya menemukan sejumlah pemuda Papua Nugini yang sekolah komputer di distrik Sota, Merauke, dan terpaksa pulang karena tidak cukup biaya. Salah satu di antara mereka bahkan memiliki KTP asli Indonesia, yang dia beli dengan sangat mudah seharga 300 ribu rupiah. Dari Suki, orang bisa berperahu dan bersepeda selama dua hari untuk mencapai Indonesia. Saat saya menumpang perahu dari Suki menuju Obo, Nobi si pemuda pemilik perahu mengatakan senang dengan semakin terbukanya kontak dengan Indonesia, karena dia sangat suka rokok lempeng khas Merauke yang biasa dibawa para pedagang dari Indonesia. Dia juga bilang, di Obo nanti, saya bisa menginap di rumah saudara iparnya yang sering ke Merauke. Perjalanan dari Suki ke Obo memakan waktu sehari penuh. Sungai Fly semakin sempit dan dalam, meliuk-liuk dan berzig-zag bagai benang kusut. Selain itu, banyak jalur pintas yang berupa rawa atau selokan yang menghubungkan kelok-kelokan Sungai Fly itu, sehingga kita tidak perlu selalu mengikuti aliran sungai utama demi memotong jarak. Namun jangan berasumsi kita bisa menghemat waktu. Jalur pintas ini sering tertutup tanaman atau rumput yang sangat rapat, sehingga para penumpang perahu harus menggunakan [...]

January 13, 2016 // 10 Comments

Suki 16 September 2014: Makna Sebuah Kemerdekaan

Hari ini, 39 tahun lalu, kemerdekaan Papua Nugini diproklamasikan. Hari Kemerdekaan, di samping Natal, adalah hari besar terpenting di negara ini. Pesta perayaan digelar di berbagai penjuru negeri, yang menikmati libur panjang mulai dari lima hari hingga dua minggu penuh. Suki adalah sebuah pusat pemerintahan di Distrik Fly Selatan, di mana biasanya perayaan dipusatkan. Suki sebenarnya adalah sebuah wilayah yang terdiri dari beberapa desa, yaitu Nakaku, Godowa, dan Ewe. Ketiga desa ini terletak di sebuah anak sungai dari Sungai Fly, yang cukup jauh dari aliran sungai utama. Saya sengaja berada di Suki untuk melihat bagaimana kemerdekaan dirayakan di negara muda ini. Walaupun statusnya adalah “pusat pemerintahan”, keadaan Suki sangat mengenaskan. Tidak ada listrik, rumah sakit, sekolah menengah. Suki juga menempati posisi strategis di perbatasan; Indonesia hanya 70 kilometer jauhnya (atau tiga hari berperahu plus jalan kaki plus naik sepeda melibas hutan), tetapi tidak ada satu pun tentara atau polisi di sini. Setidaknya di Godowa ada sebuah menara pemancar sinyal seluler, dan di Nakaku terdapat satu supermarket dan satu toko milik orang China, juga satu kios agen bank tempat warga bisa mengecek rekening dan menarik uang. Desa-desa ini berpencaran di sepanjang sungai yang jernih bertabur teratai, sehingga penduduk harus mengayuh kano [...]

December 3, 2015 // 4 Comments

Suwame 13 September 2014: Saya Bukan Bos

Sudah hampir seminggu berlalu sejak saya meninggalkan Daru dalam perjalanan menyusuri Sungai Fly. Namun saya baru mencapai perhentian kedua, Lewada, yang hanya sekitar 50 mil dari mulut sungai, sementara Kiunga—tujuan akhir perjalanan ini—masih 400 mil lagi. Sulitnya transportasi di Sungai Fly mulai membuat saya takut. Cara perjalanan saya adalah dengan menumpang perahu penduduk dari desa ke desa. Semula saya kira, antara desa-desa di sini bakal banyak perahu hilir mudik. Ternyata tidak. Warga sepanjang Sungai Fly memang berperahu setiap hari, tetapi itu hanya untuk pergi ke ladang, berburu, atau menangkap ikan. Untuk perjalanan jarak jauh mereka hanya pergi ke Daru yang merupakan pusat perdagangan dan pemerintahan. Mereka hampir tidak pernah pergi ke desa lain, apalagi yang berbeda bahasanya (di negara dengan 820 bahasa ini, bahkan desa yang paling berdekatan pun bahasanya bisa berbeda total). Sudah dua malam saya menginap di Lewada, di rumah seorang guru desa. Kekhawatiran saya semakin menjadi ketika matahari telah meninggi, dan arus pasang telah membuat sungai yang dasarnya mengering dan menjadi bantaran pasir itu kini telah kembali ke wujud aslinya: sungai raya tak bertepian dan bergejolak hebat. Entah kapan penantian berakhir, tetap tak ada perahu. Bagaimana pun juga hari ini saya harus mencapai Dewara, yang sekitar dua [...]

November 16, 2015 // 8 Comments

Lewada 12 September 2015: Antara Cerita dan Sejarah

Di utara Lewada, di mulut anak sungai Bituri, tinggallah buaya yang terkenal itu. Sang Buaya Lewada. Seorang pendeta yang beberapa bulan lalu mendayung kano untuk memeriksa jaring yang dipasangnya di tengah sungai untuk menangkap ikan. Itu adalah kano kecil yang hanya muat satu orang. Tiba-tiba, dari belakang, buaya itu melibas punggung si pendeta dengan ekornya yang tajam. Si pendeta jatuh terguling dari kano, tercebur ke sungai. Buaya itu menggigit pendeta pada mata kakinya, menyeretnya lebih dalam ke dalam air. Buaya itu kemudian membawa pendeta itu kembali ke permukaan air, mungkin supaya lebih leluasa memangsa manusia ini. Pada saat itulah pendeta menarik kakinya dari mulut buaya. Kakinya patah, tetapi dia hanya bisa berusaha berenang secepat-cepatnya. Beruntung, ada akar bakau. Dia memanjat sampai ke puncak pohon, bergelayutan di sana, berteriak minta tolong. Buaya itu kemudian pergi. Kejadian lain adalah seorang anak muda yang juga mendayung kano untuk memeriksa jaring. Pemuda itu ingin mencuci kakinya, menurunkan kedua kakinya ke sungai. Sialnya, kedua kaki itu mendarat ke dalam mulut buaya yang sudah menganga di bawah air. Dia langsung tenggelam. Si buaya itu berusaha merobek tubuhnya dengan cakarnya, pemuda itu terluka dari bahu sampai paha. Pada saat itu ada kano lain melintas, pemuda itu selamat. [...]

October 2, 2015 // 7 Comments

Lewada 11 September 2014: Menyerahkan Nasib pada Sang Pembunuh

Selain sifat pasif dan pasrah yang berlebihan dari masyarakat Doumori, ada satu hal lain yang membuat saya frustrasi: saya mungkin akan terperangkap di Doumori. Transportasi di Sungai Fly ternyata jauh lebih sulit daripada dugaan saya. Warga Doumori hanya bepergian ke Daru dan sangat jarang pergi ke desa lain di sepanjang aliran sungai ini. Warga desa lain pun tidak ke sini. Lagi pula, dengan sedimen pasir dan gelombang tsunami harian, Doumori semakin terkunci dalam dunianya sendiri. Sementara Mama Ruth, bicara seperti tidak ada masalah dalam hidup yang sanggup meresahkannya. “Son, kamu bisa tinggal di rumah kami berapa lama pun, karena kamu anakku.” Keesokan harinya, Mama Ruth meminta orang-orang desa membantu mengantarkan saya ke Lewada. Desa ini adalah yang terdekat, terletak di sisi selatan sungai. Sebenarnya hanya butuh menyeberang sungai, tetapi perjalanan menuju Lewada memakan waktu satu hingga dua jam dengan kano karena saking lebarnya Sungai Fly. Kita bisa pergi dengan perahu layar, mengikuti arus air laut saat pasang sehingga irit bensin. Sebagai wujud terima kasih, saya membayar 25 kina (sekitar 12 dolar) kepada para lelaki yang mau bersusah-payah mengantar saya. Kebetulan pula, penduduk Doumori mengalami krisis air minum—tank penadah hujan mereka sudah kering. Karena itu, para perempuan dan anak-anak ikut dalam [...]

October 1, 2015 // 13 Comments

Doumori 10 September 2014: Surga Berlumpur (2)

Mama Ruth menyebut desa yang ditinggalinya ini “surga”. Tetapi di mata saya yang pendatang ini, Doumori sama sekali bukan tempat yang layak ditinggali. Pemandangan Doumori memang indah. Pohon kelapa berjajar di tepi sungai, dengan rerumputan yang menghijau menandai betapa suburnya tanah ini. Tetapi selama seminggu setiap bulannya Doumori dilanda banjir besar sehingga mereka terisolasi di rumah dan bepergian ke mana-mana dengan perahu dayung, termasuk ke rumah tetangga. Dan setelah itu, desa ini menjadi lautan lumpur, yang mengandung zat-zat beracun sehingga penduduk mengalami penyakit kulit parah. Tetapi bencana terbesar di Doumori adalah sungai. Sungai Fly yang menjadi sumber kehidupan mereka, kini telah rusak parah oleh aktivitas pertambangan emas dan tembaga Ok Tedi yang berada di hulu sana. Doumori termasuk daerah muara Sungai Fly. Di pagi hari, air sungai surut sehingga mengering. Dari tepi sungai yang kini menjadi tebing tegak lurus setinggi dua meter karena dilanda erosi, kita bisa meloncat ke dasar sungai dan berjalan-jalan di atas hamparan pasir yang begitu luas. Hamparan pasir ini terbentuk karena sedimen dari limbah pertambangan yang dibuang langsung ke sungai Fly. Hamparan pasir ini begitu luas, kita merasa seperti sedang berada di pantai. Apalagi Sungai Fly pada bagian muara ini juga begitu lebar seperti sebuah selat, [...]

September 26, 2015 // 7 Comments

Doumori 10 September 2014: Surga Berlumpur (1)

Kano kayu menuju Sungai Fly terayun-ayun di atas laut yang tenang. Sesekali angin semilir berhembus, membuat kami para penumpang tertidur di papan datar di atas kano. Berbeda dengan speedboat yang membuat posisi duduk para penumpang berada di bawah permukaan air laut, kano pesisir Papua selatan ini tinggi dan besar, dan papan tempat kami duduk sekitar dua meter tingginya dari permukaan air, sehingga kami tidak perlu terlalu khawatir basah oleh gelombang. Penumpang kano ini terdiri dari dua belas orang, merupakan keluarga besar dari Mama Ruth yang datang dari desa Doumori di mulut Sungai Fly ke Daru untuk menjual sagu dan ikan. Mayoritas penumpang adalah anak-anak dan bayi. Para bayi itu tidak pernah melihat orang berkulit putih dalam hidup mereka, sehingga selalu menangis keras-keras ketika berada di dekat saya. Panjang papan kayu di atas perahu ini mencapai 8 meter, dan lebarnya 2 meter ditambah bilah-bilah penyeimbang di sisi kanan perahu yang lebarnya mencapai 5 meter. Saking besarnya para ibu bisa memasak di atas perahu selama berlayar. Perjalanan ini jauh lebih menyenangkan daripada perjalanan sebelumnya menyusuri pesisir selatan Papua. Walaupun ini masih laut yang sama, tetapi karena muara Sungai Fly yang begitu besar menyebabkan gelombang laut di timur Daru tidak sedahsyat di bagian [...]

September 22, 2015 // 4 Comments

Daru 8 September 2014: Petualangan Menyusuri Sungai Liar

Setelah menyusuri pesisir pantai selatan Papua Nugini di Western Province yang paling terisolasi, saya masih menginginkan sebuah petualangan yang lebih gila. Sebuah petualangan yang bahkan para penduduk pun mengatakan mustahil: Menyusuri Sungai Fly. Sekadar menyusuri Sungai Fly saja sebenarnya tidak mustahil. Dari Daru menuju kota Kiunga (pusat pemerintahan Western Province) di hulu sana, yang sejauh 400an kilometer, sebenarnya ada kapal penumpang yang dioperasikan perusahaan pertambangan Ok Tedi setidaknya sebulan sekali, yang harga karcisnya sekitar 2 juta rupiah. Bagi saya, itu tidak menarik, karena saya tidak akan bisa melihat apa-apa selain Kiunga, dan hanya menyaksikan sungai ini seperti pengunjung museum tanpa bisa melebur ke dalam kehidupannya. Lagi pula, saya tidak tahu pasti kapan perahu itu akan datang. Sedangkan untuk menuju Kiunga, alternatif lainnya adalah terbang, dengan frekuensi penerbangan hanya sekali seminggu yang harganya 1500 kina. Tujuh ratus dolar! Hanya untuk perjalanan di dalam satu provinsi yang tidak sampai satu jam penerbangan. Biaya transportasi memang sangat gila di Papua Nugini. Sungai Fly menarik bagi saya, karena sungai sepanjang seribu kilometer ini adalah sungai terpanjang kedua di Papua Nugini setelah Sungai Sepik, namun jauh lebih sulit dijangkau. Sungai ini pertama kali ditemukan tahun 1842 oleh Francis Blackwood yang mengemudikan kapal korvet HMS Fly [...]

September 20, 2015 // 7 Comments

Daru 21 Agustus 2014: Wantok

Di pelabuhan Daru, para nelayan pun mengelompok sesuai daerah asal dan bahasa masing-masing (AGUSTINUS WIBOWO) Daru, dikenal sebagai “ibukota ikan kakap” adalah pulau berbentuk seperti anak ayam. Di bagian timur adalah mulut lancipnya, berupa pelabuhan yang selalu penuh perahu dari desa-desa sepanjang daratan utama dan daerah Sungai Fly, yang menyuapi Daru dengan beragam jenis ikan, sagu, udang sayuran. Di sini pula terletak toko-toko besar dan hotel, yang semuanya dimiliki orang dari China Daratan, menjual beras, berbagai makanan instan dan kalengan, bumbu, pakaian. Menyusuri jalan utama ini dari timur ke barat, kita akan melintasi bandara, dan dari sana kita akan berbelok ke selatan, menuju “anus” Daru: tempat sampah-sampah dibuang, pelabuhan yang sudah mati dengan kapal-kapal berkarat, juga daerah corner—permukiman penduduk pendatang yang dipercaya sebagai tempat tinggalnya para raskol. Salah satu supermarket di dekat pelabuhan adalah milik sebuah keluarga China. Keluarga besar bermarga Yan dari Fujian, satu kampung halaman dengan leluhur saya. Hampir semua barang di supermarket ini adalah produk impor. Kasir dan pegawai adalah orang lokal, sedangkan para orang China duduk di atas kursi tinggi di belakang kasir. “Apa yang kalian lihat dari ketinggian sana?” saya bertanya dalam bahasa Mandarin. “Di negara ini terlalu banyak pencuri,” kata lelaki muda itu. “Setiap [...]

January 16, 2015 // 19 Comments