Recommended

Titik Nol

[Detik.com]: Novel ‘Titik Nol’ Segera Dibawa ke Layar Lebar

Detik Rabu, 02 Nov 2016 16:59 WIB  ·   Dicky Ardian – detikHOT Jakarta – Satu lagi novel best seller yang akan diadaptasi ke dalam film layar lebar. Kini giliran buku ‘Titik Nol’ karya Agustinus Wibowo yang akan difilmkan. Dari keterangan pers yang didapat detikHOT, Rabu (2/11/2016), buku tersebut sudah terjual lebih dari 26 ribu eksemplar dengan 6 kali cetak ulang. Di dalamnya menceritakan mengenai pengalaman pribadi Agustinus bertualang di Afganistan, Tibet, Nepal, India dan Pakistan dengan jalur darat. Adalah Rumah Produksi Falcon Pictures yang akan menggarap film tersebut. Namun sayangnya penayangannya belum akan terjadi dalam waktu dekat. “Sampai saat ini kita masih dalam proses penggarapan skrip. Mudah-mudahan semua berjalan lancar dan tahun depan kita bisa melakukan proses syuting,” kata Frederica selaku Produser Falcon Pictures. Lebih lanjut, Agustinus mengungkapkan sebenarnya bukan hanya Falcon Pictures yang mencoba untuk meminang bukunya itu untuk difilmkan. Tapi pilihannya jatuh ke rumah produksi yang baru saja sukses lewat ‘Warkop DKI Reborn’ itu. “Saya melihat Falcon mempunyai visi yang bagus dalam membuat film. Visinya bukan sekadar materialistis, tetapi juga ada visi untuk menghasilkan film yang berkualitas dan menginspirasi, karena itu saya memutuskan untuk menerima tawaran Falcon ini,” ujar Agustinus. [...]

November 6, 2016 // 54 Comments

[Dewi] Agustinus Wibowo–Perjalanan Mencari Cerita

      Dari pencarian personal, ia tergugah merambah zona-zona konflik dunia dan mendengar cerita-cerita penghuninya.   DEWI September 2016 DUNIA PRIA (LINDA CHRISTANTY)   IDENTITAS adalah masalah yang menyertai dirinya tumbuh di Lumajang, sebuah kota di Jawa Timur. Ia berbicara Bahasa Jawa dengan orangtuanya di rumah, tetapi mereka bukan keluarga Jawa bagi orang-orang di sekitar. Ajaran dan tradisi Islam dalam masyarakat telah mempengaruhi pikirannya sebagai seorang bocah, sehingga ia meminta kepada orangtuanya agar ia dikhitan seperti teman-temannya yang lain. Tetapi ia dan keluarganya bukan Muslim. Ia tak mengenal kampung halaman yang lain selain kota lahirnya, tetapi ada orang-orang yang menganggapnya orang asing dan meneriakinya, “Cina, Cina….” di jalanan. “Karena itu saya sering merasa tidak aman. Saya memilih naik becak dari rumah menuju tempat yang hanya berjarak sekitar 200 meter sekalipun,” tutur Agustinus Wibowo, penulis buku-buku perjalanan yang mengisahkan zona-zona konflik dunia. Ia pun melewati masa remaja dengan memikirkan hal yang paling mendasarkan dari keberadaan manusia di muka bumi ini, “Siapakah saya?” Pada Mei 1998 kerusuhan anti Cina merebak di Jakarta, mengiringi akhir kekuasaan Presiden Soeharto. Tetapi ia dan keluarganya tidak bisa lari ke luar negeri untuk menyelamatkan diri. “Paspor saja kami tidak punya,” katanya. Perekonomian keluarga mereka pun hanya [...]

September 19, 2016 // 12 Comments

[Detik] Hak Cipta Buku ‘Titik Nol’ Agustinus Wibowo Terjual ke Penerbit Vietnam

Detik Sabtu, 27 Ags 2016 19:40 WIB  ·   Tia Agnes – detikHOT Beijing – Di hari keempat Beijing International Book Fair (BIBF), hak cipta buku ‘Titik Nol’ atau dalam bahasa Inggris berjudul ‘Zero’ karangan Agustinus Wibowo berhasil terjual. Hak cipta buku bergenre travel writing tersebut dibeli oleh penerbit asal Vietnam, Chibooks. Hal tersebut dikatakan oleh International Marketing Gramedia Publisers, Yudith Andhika RH. “Setelah proses negosiasi, hari ini hak cipta Titik Nol berhasil dijual. Ini pencapaian luar biasa dan kabar bahagia bagi kami,” katanya ketika mengobrol di booth Gramedia di BIBF 2016, Sabtu (27/8/2016). Dalam waktu dekat, buku trilogi setelah buku ‘Selimut Debu’ dan ‘Garis Batas’ segera diterjemahkan. Untuk tahap pertama, lanjut Yudith, akan dicetak sebanyak 2000 eksemplar di Vietnam. “Kepastiaan waktu penerbitan akan dibahas lebih lanjut,” ungkap Yudith. Buku ‘Titik Nol’ atau ‘Zero’ menceritakan tentang perjalanan Agustinus ke tahap berikutnya. Bermula dari perjumpaannya bersama penziarah Tibet, orang-orang Nepal yang tangguh mendaki gunung, tentang Lasha yang menjadi komersial, serta cerita tentang Afghanistan yang pernah disebut Agus di buku pertama ‘Selimut Debu’. Ada juga yang menyebut buku ini sebagai prekuel dari dua buku sebelumnya. Serta buku yang tak hanya menceritakan tentang perjalanan dan pemaknaan yang lebih mendalam, [...]

August 28, 2016 // 27 Comments

On Journey and Reconciliation–A Panel with Yu Hua in Beijing International Book Fair

Back in 2011, when the first time I read any of Yu Hua’s work, I would never imagine that one day I would share the same chair with this great man. Yesterday, in Beijing International Book Fair (BIBF)’s Literary Salon, we sit together in front hundreds of audience, discussing about my book, Zero: When the Journey Takes You Home. We shared ideas about the meaning of journey, conflict of identities, search for meaning, and reconciliation. Yu Hua started with a story, quoting a 1001-night story about a boy from Baghdad, who went all the way to Cairo to find a treasure, but then went home to Baghdad to find the real treasure. He mentioned that the boy’s journey is not unlike my journey–that journey is about going out and returning home. We also shared much about Chinese and Indonesian identity. Raised in 1965, when many Chinese-Indonesians were forced to leave and had to return to China because of racial discrimination, he used to hear bad news about Indonesia. The image of Indonesia among Chinese people reach its worst position after the 1998 riots in Jakarta, and it has never fully recovered, until today. In fact, among so many visas in [...]

August 25, 2016 // 0 Comments

[Detik]: Panggung Agustinus Wibowo dan Yu Hua di BIBF 2016

Detik Beijing – Bermula dari Beijing, Agustinus Wibowo bermimpi ingin melakukan perjalanan ke Afrika Selatan. Ia pun melakukan perjalanan dari Tibet, Nepal, India, Pakistan, dan negara-negara lainnya. Di ajang Beijing International Book Fair (BIBF) 2016, Agustinus bersama Yu Hua membicarakan tentang identitas, perjalanannya menulis dan soal budaya dua negara. Penulis ‘Titik Nol’ itu membicarakan tentang identitas ketika dirinya lahir. “Saya dibilang orang Cina dan ketika saya belajar di negara ini, saya dibilang Indonesia. Sebenarnya saya ini dari mana. Karena itu saya mau mencoba menjadi traveler. Selalu ada pikiran yang baru di setiap tempat dan saya mencari Indonesia itu seperti apa,” ucapnya ketika berbicara di sesi Writer’s Stage di BIBF 2016, Rabu (24/8/2016). Dengan berjalan mengunjungi banyak negara, Agustinus keluar dari zona nyamannya. Dia menceritakan ketika turis asing dilarang bepergian ke Tibet, pria asal Lumajang Jawa Timur justru ke sana. Saat dia belajar jurusan komputer, dia juga tak mau hanya menjadi sarjana dengan lulusan tersebut. “Saya mau jadi jurnalis tapi kuliah nggak sesuai yang di mau. Tapi saya bisa motret dan menulis, kenapa nggak jadi jurnalis saja. Kita traveling ke mana saja dan bersama siapa itu nggak penting, yang penting adalah merasakan kehidupan baru dan orang lain. Dan itu yang membuat [...]

August 25, 2016 // 0 Comments

[Detik]: Diskusi Buku Agustinus Wibowo dan Yu Hua Perkuat Hubungan Dua Negara

Detik Beijing – Duta Besar Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok Soegeng Rahardjo hadir dalam sesi diskusi ‘Zero: When The Journey Takes You Home’ yang berlangsung hari ini di Beijing International Book Fair (BIBF) 2016. Sesi kali ini menampilkan dua penulis kenamaan dua negara, Agustinus Wibowo dan Yu Hua. Dalam sambutannya, Soegeng mengatakan hadirnya untuk pertama kali Indonesia di BIBF makin membuka peluang pengenalan sastra Indonesia ke publik dunia. Sekaligus, mempererat hubungan antar dua negara. “Dengan adanya Agustinus dan Yua Hua hadir untuk memberikan cerita-ceritanya tentang dua negara dan pesan yang disampaikan akan menyebar ke masyarakat Indonesia dan Tiongkok,” ujarnya di atas Writer’s Stage di gedung China International Exhibition Center (new venue), distrik Shunyi, Beijing, Rabu (24/8/2016). Di diskusi ‘Zero: When The Journey Takes You Home’ yang terselenggara berkat kerja sama Komite Buku Nasional Indonesia dan Paper Republic ini membicarakan tentang pengalaman mereka tentang Tiongkok, baik personal maupun sejarah. Karya Yu Hua ‘To Live’ telah diterjemahkan oleh Agustinus ke dalam bahasa Indonesia. Sedangkan karya lainnya tengah disiapkan untuk segera diterjemahkan dan diterbitkan di Tanah Air. Seperti apa hasil diskusi keduanya? Simak laporan [...]

August 25, 2016 // 0 Comments

The Weekend West Magazine (Australia): Ground Zero Book Review

Page turners WILLIAM YEOMAN Like so many travellers before him, Agustinus Wibowo left home in search of something intangible —in the case of this young Indonesian of Chinese heritage, who had long felt like a foreigner in his homeland, a place he would feel welcome, a place he could call his own. “In my pocket was an Indonesian passport and two thousand American dollars in cash, and in my heart was the dream of a colossal adventure: to travel overland from Beijing to the furthest destination possible: South Africa. I believed that somewhere out there, when I reached the end of the long and winding road, I would become a completely new man. There would be happiness there.” It was July 2005 and Agustinus had already been away from home for several years, studying computer engineering at university in Beijing, spending his days and nights in pursuit of high marks. This, he decided, was not the life for him. It took him months to wear down his angry father, who had such high hopes for his son in “the land of the ancestors”, but when Agustinus finally received his blessing, he bought a train ticket, loaded his backpack and headed [...]

August 22, 2016 // 0 Comments

From Zero to Frankfurt: The Translating Process of Ground Zero

The journey began when a mother is lying on a hospital bed, dying. The son who has been years living overseas finally returns. Realizing not much time left, the son sits beside her, reads his diary about faraway lands he saw. About their ancestral land of China, about the Himalayas, about the Pakistani desert and the warzone of Afghanistan. Along with his stories, the mother starts to recount her stories that have been buried for long. About her childhood, her love, her awaiting, her struggle, her God, her life and death. Two journeys set in two dimensions of time and place intertwine, and eventually converge. In the final days, the mother and son share a journey of life together. This is the story of my travel-narrative memoir, Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan (lit. Point Zero: The Essence of a Journey), published in Indonesian language by Gramedia Pustaka Utama in 2013. It received quite warm welcome from Indonesian readers. Some months after the launching, Gramedia asked whether I was interested to translate this book into English. At that time Indonesia has been confirmed to be the Guest of Honor in the Frankfurt Book Fair 2015. This is the biggest book exhibition [...]

October 12, 2015 // 0 Comments

Dari Titik Nol Menuju Frankfurt

Kisah ini dimulai dari seorang ibu yang terbaring di ranjang rumah sakit menanti ajal. Anaknya yang bertahun-tahun tinggal di perantauan akhirnya pulang. Menyadari tidak banyak waktu tersisa, anak itu duduk di samping ibunya, membacakan buku hariannya tentang negeri-negeri jauh yang pernah dialaminya. Bersama cerita-cerita itu, sang ibu yang tidak pernah ke mana-mana itu akhirnya membuka sebuah cerita yang selama ini dipendamnya. Tentang masa kecilnya, cintanya, penantiannya, perjuangannya, Tuhannya, hidup dan matinya. Dua perjalanan dalam dua dimensi waktu dan tempat itu berkelindan, akhirnya menyatu. Itulah kisah yang tertuang dalam memoar-cum-catatan-perjalanan saya, Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan, yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2013. Buku itu mendapat sambutan cukup hangat dari pembaca Indonesia. Beberapa bulan setelah buku itu terbit, penerbit menanyakan apakah saya tertarik menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris. Pada saat itu, Indonesia telah dipastikan akan menjadi Tamu Kehormatan dalam ajang pameran buku terbesar di dunia—Frankfurt Book Fair 2015. Itu artinya, fokus dunia perbukuan akan tertuju pada Indonesia. Namun terlepas Indonesia adalah negara dengan populasi terbesar keempat dunia dan industri buku yang sangat aktif dengan penerbitan 30.000 judul buku per tahun (faktor penting terpilihnya Indonesia sebagai Tamu Kehormatan), Indonesia masihlah sebuah negara “tembus pandang” di kancah perbukuan [...]

October 11, 2015 // 40 Comments

Grand Overland Voyage

Exactly ten years ago, I started my four-year overland journey. I started from Beijing with $2000, dreaming to reach South Africa. From an illegal visitor to Tibet until a journalist in the war ridden Afghanistan, this journey has changed my whole life. Today, I’m back to Beijing, my point zero. But journey is a point of no return; I’m not the same person anymore and my point zero is not the same either. That’s indeed a journey of life. [...]

July 31, 2015 // 1 Comment

Jawa Pos (2015): Traveling Gila tanpa Lewat Udara

Agustinus Wibowo, Traveler dan Travel Writer Muda Indonesia http://www.jawapos.com/baca/artikel/18472/agustinus-wibowo-traveler-dan-travel-writer-muda-indonesia Traveling Gila tanpa Lewat Udara 7/06/15, 05:00 WIB Hidup adalah perjalanan. Sebagai traveler sekaligus travel writer, Agustinus Wibowo tentu sudah akrab dengan jalanan. Stempel belasan negara telah melekat di paspor. Puluhan ribu kilo sudah ditempuh. Banyak cerita dan potret yang telah dihimpun dan dibagi. Apa lagi yang dia cari? MELIHAT sosok Agustinus Wibowo, orang tidak akan langsung percaya bahwa empunya nama pernah menjajal profesi pewarta foto di Afghanistan. Penampilan sederhana –kaus, celana selutut, serta sepatu olahraga serbagelap– dengan didukung wajahnya yang ramah senyum, pria asal Lumajang tersebut tampak innocent. Bahkan, mengutip traveler Malaysia Lam Li, Agus tampak seperti ’’anak lelaki lucu’’. ’’Jadi, traveler adalah salah satu impian masa kecil saya. Beginilah saya sekarang. Serba berpindah-pindah,’’ kata sulung dari dua bersaudara itu. Padahal, Agus kecil bukan anak yang pemberani. Untuk menempuh jarak ratusan meter, dia lebih memilih naik becak. Padahal, kota tempat dia tinggal, Lumajang, bukan kota yang besar dan ganas. Setiap hari lelaki pemalu itu memilih berdiam diri di rumah untuk membaca buku. Buku pintar, ensiklopedia, bahkan buku pelajaran menjadi makanan sehari-hari buat Agus. Hobi tersebut membawa berkah buatnya. Selama SD hingga SMA, dia tidak pernah luput dari [...]

June 7, 2015 // 24 Comments

Eramadina (2014): Menemukan Kembali Makna Perjalanan yang Terabaikan

http://eramadina.com/menemukan-kembali-makna-perjalanan-yang-terabaikan/ Judul buku : Titik Nol; Makna sebuah Perjalanan Penulis : Agustinus Wibowo Penerbit : Gramedia Pustaka Tahun terbit : 2013 ISBN : 978-979-22-9271-8 Tebal buku : xi +552 halaman Banyak orang yang mengelana begitu jauh, menyeberangi lautan, melewati daratan mendaki pegunungan namun dari semuanya yang mereka lakukan tidak pernah menemukan makna dari suatu perjalanan. Seakan perjalanan yang dirasakan hanya terhabiskan dengan sensasi berfoto, makan-makan, yang menjadi sekedar kumpulan kisah dan deretan foto yang bisa dipamerkan kepada orang lain. Dari sinilah timbul pertanyaan sesungguhnya apa yang dicari oleh para pejalan (Traveller)? Melalui untaian kisah pengalaman perjalanan seorang lelaki muda bernama Agustinus Wibowo ini kiranya sangat tepat untuk menjawab pertanyaan tersebut, dengan segala catatan pengalaman yang penuh dengan teka-teki, hingga menemukan satu demi satu makna dibalik perjalanan yang selama ini terabaikan. Menurut Agustinus sesungguhnya setiap pejalan punya tujuannya sendiri-sendiri. Setiap pejalan punya satu titik yang ingin dicapainya, punya mimpi yang ingin diraihnya dan punya makna yang ingin ditelusurinya sadar ataupun tidak. Dalam bukunya yang berjudul Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan adalah sebuah catatan tentang perjalanan panjang seorang lelaki muda bernama Agustinus Wibowo. Selama 10 tahun Agus meninggalkan Lumajang, dimulai dari menuntut ilmu di Beijing hingga kemudian [...]

March 15, 2014 // 0 Comments

Bukunya (2014): Membedah Buku Laris Gramedia Pustaka Utama 2013

http://bukunya.com/membedah-buku-laris-gramedia-pustaka-utama/ Membedah Buku Laris Gramedia Pustaka Utama 2013 By redaksi Mengupas resep dan rahasia tingginya penjualan Penerbit Gramedia Pustaka Utama pada Jumat (3/1) mengumumkan daftar buku terlaris mereka sepanjang 2013. Bukunya membedah beberapa alasan buku-buku tersebut masuk daftar bestseller. Kategori fiksi: Rantau 1 Muara karya A. Fuadi 99 Cahaya di Langit Eropa karya Hanum Rais dan Rangga Alma 9 Summers 10 Autumns karya Iwan Setyawan Mimpi Sejuta Dolar karya Alberthiene Endah Autumn Once More karya Ilana Tan, Alia Zalea, Ika Natassa, dkk. Seasons to Remember karya Ilana Tan Negeri di Ujung Tanduk karya Tere Liye Sunshine Becomes You karya Ilana Tan Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin karya Tere Liye The Devil in Black Jeans karya Alia Zalea Daftar buku laris ini menunjukkan dua resep buku laris dewasa ini yakni mengangkat novelisasi kisah hidup dari sederhana cenderung tak berada hingga sukses terutama setelah berjuang di luar negeri. Resep kedua adalah kisah asmara yang mudah dicerna. Roman memang tak ada matinya. Faktor film juga berperan besar dalam daftar ini. Misalnya saja 99 Cahaya meski isinya unik dan ditulis oleh putri tokoh ternama, namun penjualannya baru terdongkrak sejak rumor film hingga kemunculannya di layar lebar. Yang bakal mengikuti jejak novel ini [...]

January 5, 2014 // 0 Comments

Koran Jakarta (2013): Memotret Kehidupan Budaya dan Eksotisme Negeri Orang

http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/131435 Perada Sabtu, 19 Oktober 2013 | 03:03:10 WIB Memotret Kehidupan Budaya dan Eksotisme Negeri Orang Petualangannya tidak selalu mulus. Berbagai rintangan dan tantangan dihadapi dengan tabah, termasuk menemukan banyak keunikan budaya dan tradisi negaranegara seperti India. Negeri ini memiliki ritus sejak ribuan tahun, termasuk seks dan misterinya. Safarnama berasal dari bahasa Persia. Safar berarti perjalanan. Nama berarti tulisan, (hal 9). Buku ini memaparkan kisah perjalanan ke berbagai negara, seperti Mongolia, Tibet, Nepal, India, dan Pakistan. Salah satu kisah eksotis tentang nuansa mistis puncak Everest. Menatap puncak Everest, menyaksikan garis kurvanya yang tegak dan curam, tentu terbayang betapa sulit perjuangan para pendaki mencapainya, (hal 113). Meski sudah menelan banyak korban, pesona puncak Everest tidak pernah memudar, bahkan semakin menantang. Perjalanan adalah eksplorasi untuk menemukan dunia “lain”, (hal 133). Betapa dalamnya filosofi dari sebuah pelancongan. Perjalanan adalah proses menyusuri, (hal 259). Mungkin karena alasan inilah, penulis, Agustinus Wibowo, memaparkan kisah perjalanannya dalam buku setebal 552 halaman. Petualangannya tidak selalu mulus. Berbagai rintangan dan tantangan dihadapi dengan tabah, termasuk menemukan banyak keunikan budaya dan tradisi negara-negara seperti India. Negeri ini memiliki ritus sejak ribuan tahun, termasuk seks dan misterinya, (hal 246). Di Pakistan [...]

October 19, 2013 // 0 Comments

Wings (2013): Titik Nol

July 2013 Wings (The Magazine of Wings Air) Titik Nol Penulis Agustinus Wibowo Titik Nol merupakan buku ketiga yang ditulis oleh Agustinus. Sebelumnya ia juga pernah menuliskan pengalamannya sebagai backpacker dalam buka Selimut Debu (2010) dan Garis Batas (2011). Terpukau pesona kata “jauh”, si musafir menceburkan diri dalam sebuah perjalanan akbar keliling dunia. Menyelundup ke tanah terlarang di Himalaya, mendiami Kashmir yang misterius, hingga menjadi saksi kemelut perang dan pembantaian. Dimulai dari sebuah mimpi, ini adalah perjuangan untuk mencari sebuah makna. Hingga akhirnya setelah mengelana begitu jauh, si musafir pulang, bersujud di samping ranjang ibunya. Justru dari ibunya yang tidak pernah ke mana-mana itulah, dia menemukan satu demi satu makna perjalanan yang selama ini [...]

July 20, 2013 // 0 Comments

XLife (2013): Titik Nol – Agustinus Wibowo

Juli 2013 “Kamu sudah diperbudak. Masa lalu sudah lewat, tetapi kamu masih disiksa masa lalu. Listen, tak ada kebahagian di sana. Jangan dipikir lagi. Yang lalu biarlah berlalu. Masa lalu adalah penyesalan, masa depan adalah ketakutan.” Ujar salah satu sadhu Nepal yang menohok Agustinus Wibowo dalam perjalanannya karena masih memikirkan dompet. satu-satunya harta miliknya yang dicopet. ‘Titik Nol’, buku karya Agustinus Wibowo yang mengulas makna perjalanan yang telah dilaluinya, menyuguhkan cerita yang berbeda dari buku perjalanan lainnya. Mengawali titik nolnya dari Lumajang, Jawa Timur pada usia 19 tahun, ia melanjutkan kuliah di Universitas terbaik di China. Namun kemudian memutuskan untuk mengarungi Tibet, India, Nepal, hingga Afganistan, dan bukan melamar pekerjaan ataupun melanjutkan pendidikan S2. Dengan gaya penulisannya yang detil, Agustinus menggambarkan petualangannya bertemu dengan orang-orang disepanjang perjalanannya. Mencari cara untuk berbaur dengan penduduk setempat di Tibet agar lebih mudah berpindah tempat dan mendapatkan harga lebih murah dengan dananya yang terbatas, hingga petualangannya bisa lolos dari zona perang tanpa terluka sedikitpun.Nilai perjalanan tidak terletak pada jarak yang ditempuh seseorang, bukan tentang seberapa jauhnya perjalanan, tapi lebih tentang seberapa dalamnya seseorang bisa terkoneksi dengan orang-orang yang membentuk kenyataan di tanah kehidupan. (Liam Li, Oktober 2012) Buku setebal 552 halaman ini menggabungkan dua [...]

July 10, 2013 // 0 Comments

KabarJagad (2013): Pengembaraan Agustinus Wibowo Tak Pernah Berujung

Senin, 24 Juni 2013 12:57 Reporter Lora Satrapi Gaya Hidup Kabarjagad.com Pengembaraan Agustinus Wibowo Tak Pernah Berujung Semua berawal ketika Agustinus menjadi sukarelawan tsunami di Aceh pada Januari 2005. Di daerah yang luluh lantak akibat terjangan gelombang dahsyat tersebut, ia justru melihat semangat warga yang kuat untuk bangkit kembali. Agustinus yang saat itu baru lulus dari jurusan Komputer, bertekad banting stir menjadi seorang jurnalis. Tujuannya hanya satu, bisa mengunjungi tempat-tempat yang tak biasa dikunjungi, untuk menyebarkan cerita-cerita inspiratif. Rencananya jelas, ia akan melakukan perjalanan dari Beijing sampai Afrika Selatan lewat jalan darat. Karena tak mendapat restu orang tua, praktis ia membiayai sendiri perjalanannya tersebut. Perjalanan akbarnya dimulai dari Stasiun Kereta Api Beijing, Cina, pada bulan Juli 2005. Dari sana, ia menanjak ke Tibet, menyeberang ke Nepal, India, menembus ke Pakistan, Afghanistan, Iran, lalu masuk ke negeri-negeri Stan di Asia Tengah, diawali Tajikistan, kemudian Kyrgyzstan, Kazakhstan, hingga Uzbekistan dan Turkmenistan. Sebagai titik awal perjalanan, Tibet mendapat tempat spesial di hati Agustinus. Saat itu, ia masuk ke negeri atap dunia tersebut dengan cara menyelundup karena tak mengantongi izin masuk yang biayanya sangat tinggi. Satu bulan di Tibet dijalaninya dengan penuh ketakutan. Takut ketahuan sebagai orang asing, takut diciduk polisi, takut dipenjara, dan [...]

June 24, 2013 // 0 Comments

Jurnal Nasional (2013): Perjalanan untuk Memahami Diri Sendiri

Perjalanan untuk Memahami Diri Sendiri  | Minggu, 16 Jun 2013 Dodiek Adyttya Dwiwanto Sebuah kisah luar biasa dan tidak biasa tentang perjalanan dan petualangan. Judul Buku : Titik Nol, Makna Sebuah Perjalanan Penulis : Agustinus Wibowo Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Cetakan : kedua, Maret 2013 Tebal : 556 halaman Inilah catatan perjalanan yang tidak biasa. Biasanya sih, jika kita melihat catatan perjalanan atau petualangan seseorang di surat kabar atau buku, kita akan mendapatkan cerita yang indah atau kisah yang memukau. Enaknya menyantap makanan dan minuman khas setempat. Nikmatnya perjalanan dengan kendaraan unik yang ada di tempat tersebut atau kemudahan menjangkau lokasi wisata. Senangnya mendapatkan keramahtamahan penduduk setempat. Atau cara bagaimana sampai ke tempat itu, berapa biayanya, menginap di mana, makan apa, dan segala macam tetek bengek lainnya. Agustinus Wibowo tidak seperti itu. Titik Nol : Makna Sebuah Perjalanan bukanlah catatan perjalanan dan petualangan yang berisi kisah yang melulu indah. Ceritanya sudah tentu menarik tentang petualangan gila Agustinus dari Cina, India, Nepal, Afghanistan, Pakistan, Kashmir, dan lainnya. Tetapi yang tidak kalah ajaibnya, kisah ini malah dibuka dan diselang-selingi dengan penuturan Agustinus perihal ibundanya yang sakit keras. Pengungkapan soal pribadi terkait relasi dia dengan keluarga, ayah, ibu, dan adiknya. Tentu ini rada [...]

June 16, 2013 // 0 Comments

Gatra (2013): Memaknai Pengembaraan Melintas Peradaban

29 Mei 2013 Gatra  | Buku | Resensi Memaknai Pengembaraan Melintas Peradaban ADITYA KIRANA Titik Nol adalah prekuel dari dua buku perjalanan penulis sebelumnya. Paradoks-paradoks kehidupan yang terekam dalam perjalanan ini menjadi kekuatan dari hakikat keberagaman kultur umat manusia. Perjalanan menurut sebagian orang adalah cerita tentang pergi jauh menembus batas-batas provinsi, negara; serta benua, dan mungkin juga tentang beberapa penaklukan puncak gunung tertinggi, sungai terpanjang, lembah terdalam, samudra terluas, serta wilayah terdingin. Namun, menurut Agustinus, kerap para pengelana dan penjelajah melupakan bahwa setiap yang pergi pasti akan kembali. Titik Nol, ungkapan filosofis yang merupakan pantulan makna terdalam dari sebuah perjalanan, coba dimaknai Agustinus. Baginya, “jauh” adalah kata yang sering menjadi patokan setiap mengawali sebuah perjalanan. Para penjelajah Eropa dalam penaklukan dan menemukan jalur menuju ke Timur, seperti masa Alfonso d’Alburqurque. Juga di abad ke-20, seperti para astronot yang berlomba menjejakkan kaki ke bulan. Kesemuanya hanya terinspirasi oleh satu kata, jauh. Jauh ke tepi batas yang masih bisa dijangkau manusia. Mengawali perjalanannya melewati Urumqi menuju Kashgar, kota yang disebut sebagai pusat kebudayaan Uyghur dan terkenal dengan masjid-masjid kunonya, ia menjelajah melewati banyak wilayah, banyak cerita, dan tentunya banyak petualangan. Ketika masuk di Tibet sebagai pendatang gelap yang menyelundup, [...]

May 29, 2013 // 0 Comments

MyTrip (2013): Titik Nol, Apakah Makna Perjalanan ini Bagimu?

MyTrip Vol12/2013 Book review   Teks: Mayawati Nur Halim Foto: Hartadi, Dok.Pribadi Agustinus Wibowo   Perjalanan keliling adalah lingkaran sempurna: awal adalah akhir, tiada awal tiada akhir. Aku kembali ke titik nol.   Judul: Titik Nol Penulis: Agustinus Wibowo Penerbit:Gramedia Pustaka Utama Isi: 552 halaman + 40 halaman foto Harga: Rp 98.000   AGUSTINUS WIBOWO Sebelumnya ia telah melahirkan dua buku dengan genre sama yakni Selimut Debu dan Garis Batas. Merupakan kisah petualangannya di Afghanistan dan negeri-negeri Stan di Asia Tengah. Awalnya pemuda Lumajang, Jatim, yang pernah bekerja sebagai jurnalis di Beijing dan Afghanistan ini dikenal publik lewat rubrik “Petualang” di Kompas Cyber Media. Kini ia menetap di Jakarta.   SAFARNAMA NAMANYA Judul bukunya memang Titik Nol, tapi Agus menamai catatan pengembaraannya ini dengan Safarnama. Sebuah istilah dari Bahasa Persia yang artinya “catatan perjalanan”. Safarnama inilah yang menjadi inti buku ini, yang diceritakan pada sang bunda yang tengah meregang nyawa di ranjang rumah sakit di Surabaya. Ada 6 subbagian: •             Senandung Pengembara tentang Tibet. •             Surga Himalaya tentang Nepal. •             Kitab Tanpa Aksara tentang India. •             Mengejar Batas Cakrawala tentang Pakistan. •             Dalam Nama Tuhan masih tentang Pakistan. •             Di Balik Selimut [...]

May 16, 2013 // 0 Comments

1 2