Recommended

Titik Nol 152: Terpenjara

Terpenjara [ilustrasi] (AGUSTINUS WIBOWO)

Terpenjara [ilustrasi] (AGUSTINUS WIBOWO)

Di kota Gilgit, ada dua kawan kita yang terkucil dalam penjara.

“Kasihan sekali,” kata Rajja Sadafar, seorang pegawai pemerintahan di kantor Deputy Commissioner, “mereka sendirian di sini. Tak ada yang mengunjungi. Tak ada kawan, tak ada keluarga.” Matanya berkaca-kaca ketika berkisah tentang dua gadis Indonesia yang terpenjara di Gilgit.

Rajja, pria berusia empat puluhan ini, begitu senang bertemu saya yang kebetulan sedang memperpanjang visa di kantor DC.

“Jarang ada orang Indonesia bisa sampai ke sini. Sebagai kawan senegara, kamu mesti menengok mereka. Bawalah buah, mereka pasti senang sekali.” Rajja kemudian menulis dalam buku catatan saya, ‘Maryam dan Christina’, nama kedua gadis itu.

Di kota Gilgit, rumor bertebaran tentang kedua gadis misterius ini. Khalayak ramai seakan tahu segala-galanya tentang mereka. Kasusnya pernah merebak, menjadi buah bibir di kota. Maryam dan Christina ditangkap petugas perbatasan Pakistan ketika mencoba menyelundupkan empat kilogram heroin ke negeri Tiongkok, melalui perbatasan Karakoram Highway.

“Mereka gadis lugu,” kata Yaqub, pemilik penginapan yang katanya pernah diinapi oleh Maryam dan Christina sebelum ditangkap, “masih sangat muda belia. Wajah mereka mungil dan tubuhnya pun kecil. Ada seorang pria Pakistan bersama mereka. Kasihan, gadis-gadis itu diperalat karena keluguannya.”

Heroin itu konon disimpan di dasar tas ransel mereka. Petugas perbatasan curiga dengan ukuran tas ransel yang kelewat besar dibandingkan dengan ukuran tubuh mereka ini. Seorang di antara kedua gadis ini berhasil melenggang melewati kontrol bea cukai Pakistan, yang seingat saya dilakukan di lapangan terbuka di kota Sost. Seorang lainnya diminta membuka semua isi tasnya.

Sungguh sial. Di dalamnya ditemukan sebuah kotak yang terkunci gembok. Pemeriksaan bea cukai Pakistan di Sost biasanya sangat longgar, cuma menggaruk-garuk tas ransel turis secara acak. Tetapi kedua penyelundup ini tak berhasil melewati mata petugas Pakistan yang bisa membaca gerak-gerik, mana yang backpacker sungguhan, mana yang pura-pura. Mungkin karena baru pertama kali terlibat dalam bisnis ini mereka masih kikuk. Gerak tubuh mereka memancing curiga.

Sebenarnya mereka masih beruntung ditangkap di Pakistan daripada kalau ditangkap di China, yang punya perlengkapan canggih untuk mendeteksi segala jenis barang terlarang. Di negeri itu, hukumannya bukan lagi penjara, melainkan hukuman mati.

“Tujuh tahun penjara,” kata Yaqub, “masih termasuk ringan untuk kasus ini. Sayang sekali. Sayang sekali. Mereka masih begitu muda dan lugu. Mereka punya mimpi setinggi langit. Tetapi sayang, mengapa mereka harus lewat jalan yang salah?” Yaqub tak henti-hentinya menyesali sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Lain lagi ceritanya dengan Muhammad Kasim, pemuda Gilgit umur duapuluhan tahun yang pernah dipenjara 13 hari karena kasus perkelahian. Kasim mengaku pernah ketemu kedua gadis itu. Di penjara ada larangan untuk mengobrol tentang sejarah kejahatan masing-masing narapidana, jadi Kassim tidak tahu-menahu tentang mengapa kedua gadis itu ada di sana.

“Yang jelas, Christina manis sekali. Saya bahkan pernah bilang ‘I love you’ kepadanya,” Kasim tertawa bangga.

Saya melangkah ke penjara distrik Gilgit dengan membawa sekilo jeruk di tentengan. Letaknya dekat bandara, tersembunyi di dalam gang yang berbelok-belok seperti benang kusut.

Penjara, bagi orang Pakistan, bukan kata yang bagus. Semua yang berhubungan dengan ‘penjara’ sama jeleknya dengan narapidana. Perumahan di sekitar penjara, sipir, bahkan orang yang mengunjungi kerabat di penjara, semua dianggap sama dengan pelaku kejahatan. Orang di jalan yang semula ramah dan menawari saya meneguk secangkir teh, tiba-tiba langsung berubah raut mukanya begitu saya bertanya jalan menuju penjara. Jawabannya pun singkat dan seperlunya, “di sana!”

Setelah berputar-putar setengah jam, akhirnya saya sampai juga. Bentuknya mirip benteng bertembok tebal. Seorang penjaga menanyakan tujuan saya. “Ingin bertemu dua orang Indonesia bernama Maryam dan Christina,” saya menjawab dalam bahasa Urdu.

Penjaga itu segera berlari ke dalam untuk memanggil kedua gadis itu.

Saya menunggu di luar gerbang terali besi dengan penuh rasa cemas. Akankah Maryam dan Christina sudi bertemu saya? Satu menit, dua menit, lima menit, berlalu begitu saja.

Beberapa saat kemudian, polisi datang dengan seorang gadis mungil berkerudung. Wajahnya sangat Indonesia, sedikit bulat. Kulitnya sawo matang. Si gadis mengintip-intip ke arah gerbang sambil membungkuk-bungkukkan badannya, kemudian berteriak.

No. I don’t know him. I don’t know! You go! Go!”

Saya terkejut. Itulah sapaan yang pertama kali saya terima dari sebuah pertemuan yang begitu lama dinantikan. Sebuah pertemuan dengan kawan yang terpenjara di sebuah sudut pegunungan tinggi ini.

Saya berbalik arah. Gontai.

Terdengar suara lembut dari balik gerbang. “Mas, jangan pergi dulu!”

 

(Bersambung)

Serial ini pernah diterbitkan sebagai “Titik Nol” di Rubrik Petualang, Kompas.com pada tahun 2008, dan diterbitkan sebagai buku perjalanan berjudul “Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan” oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2013.

Dimuat di Kompas Cyber Media pada 4 Maret 2009

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

1 Comment on Titik Nol 152: Terpenjara

  1. Pernah baca tentang ini kisah sampeyan ini. tiap kali baca ikut tegang dan kasihan. NASIB Malang. Pasti orang tuanya kawatir.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*