Recommended

Titik Nol 175: Air Mata yang Tergenang

Kuil Hindu yang terlupakan (AGUSTINUS WIBOWO)

Kuil Hindu yang terlupakan (AGUSTINUS WIBOWO)

Dikisahkan dalam hikayat Brahmana, Dewa Shiva (Syiwa) menangisi kematian istri tercintanya, Sati, yang mengorbankan nyawanya demi kehormatan sang Dewa. Setetes air mata jatuh di Pushkar, satunya lagi di Katas. Yang satu menjadi tempat pemujaan para umat, satunya lagi menjadi genangan air dikelilingi puing-puing kuil tua.

Katas, kota kecil di Provinsi Punjab, hanya sekitar 135 kilometer jauhnya dari Islamabad. Tetapi di sini, hiruk pikuknya kota modern itu bagaikan kehidupan di dunia lain. Kotanya sendiri biasa saja, tidak semrawut, tapi tak juga istimewa. Yang membuatnya menarik dikunjungi adalah reruntuhan kuil Hindu kuno di puncak bukit.

Adalah sebuah legenda indah yang mengawali sejarah kuil kuno ini. Dikisahkan, Suti, istri Dewa Syiwa, membakar dirinya sendiri untuk membuktikan cintanya kepada Syiwa.  Suti melakukan ini semata-mata untuk melawan ayahandanya yang tidak menghormati Syiwa. Teladan Suti kemudian masih berlanjut di India berabad-abad kemudian, ketika janda-janda Hindu yang baru ditinggal mati suaminya ikut menceburkan diri ke dalam api yang membakar jenazah sang suami. Kata ‘Suti’ kemudian merujuk kepada kegiatan bunuh diri janda Hindu. Bahkan hingga awal abad XX, kebiasaan bakar diri janda Hindu ini masih hidup di Pulau Bali.

Danau suci dan kuil agung yang kini tinggal puing-puing (AGUSTINUS WIBOWO)

Danau suci dan kuil agung yang kini tinggal puing-puing (AGUSTINUS WIBOWO)

Nama Katas berasal dari Katahsah, berarti sumber air mata. Dewa Syiwa menangisi kepergian Suti. Air matanya menetes, turun ke bumi. Setetes jatuh di Pushkar, sekarang menjadi danau suci umat Hindu pemuja Brahma untuk membasuh diri dari dosa. Setetes lagi di Katas, kini menjadi tempat berenang pemuda desa sekitar, tergenang kesepian dikelilingi reruntuhan kuil kuno yang terlupakan.

Berkunjung ke Katas rasanya seperti menemukan sebuah misteri peradaban yang ditinggalkan begitu saja. Kuil ini, yang didirikan pada abad X, pastinya pernah menjadi tempat pemujaan penting. Luas sekali kompleks bangunannya. Arsitekturnya cukup rumit dan detail, menunjukkan bahwa barisan kuil di sini dibangun dengan segenap jiwa dan perhitungan yang cermat. Bahkan, walaupun sudah berwujud reruntuhan, ada aura kemegahan yang terpancar.

“Sekarang sudah tidak ada umat Hindu lagi di sini,” kata seorang pemuda Katas, “sudah tidak ada orang yang beribadah. Dan tempat ini terlupakan.”

Terlupakan. Terbengkalai. Ditelan zaman. Itulah takdir kuil agung Katas Raj ketika sebuah negara bernama Pakistan berdiri di muka bumi ini tahun 1947. Ketika itu, sebuah garis nasib digambarkan di atas peta bumi. Di bagian barat itu adalah negeri bernama Pakistan, di sebelah timurnya adalah Hindustan.

Manusia yang bukan berada di tempat yang tempat berbondong-bondong menyeberang garis, menuju negeri yang disediakan bagi masa depan mereka. Umat Muslim berdatangan dari tanah Hindustan, umat Hindu dan Sikh meninggalkan negeri Pakistan.

Turis Pakistan di tengah puing-puing kuil Katas (AGUSTINUS WIBOWO)

Turis Pakistan di tengah puing-puing kuil Katas (AGUSTINUS WIBOWO)

Katas adalah sebuah kota yang semula penuh dengan para pemuja dewa-dewi. Tetapi garis telah digambar oleh para penjajah Inggris itu, tanah Punjab terbelah menjadi dua bagian, dan Katas berada di dalam lingkar wilayah Pakistan. Para pemuja Syiwa mengosongkan tempat ini. Sekarang yang tinggal adalah kaum Muslimin yang tak mengenal siapa itu Suti, Syiwa, dan para pahlawan dalam epos Mahabarata.

Air mata Syiwa, yang terkumpul dalam kolam besar yang tergenang alami di dekat kuil, tak lagi dibanjiri umat Hindu yang melakukan ibadah mandi suci. Selain barisan bebek yang berenang di sana, ada bocah-bocah Punjab yang melompat riang ke dalam air dengan hanya memakai celana shalwar kombor. Tak ada patung yang tersisa di kuil ini. Yang ada adalah lorong gelap, bau, penuh coret-coretan grafiti si Ahmad atau si Mahmud yang pernah datang ke sini. Hanya di lorong-lorong tersembunyi, gambar dewa dewi yang hampir pudar masih bertahan, lolos dari tangan manusia yang tak mau ingat lagi masa lalu.

Padahal dalam sejarahnya, Katas pernah menjadi sebuah tempat di mana para pemeluk beragam agama hidup bersama. Sang pendiri agama Sikh, Shri Guru Nanak, datang ke tepi danau suci ini untuk bermeditasi. Sang ilmuwan Muslim Al Biruni dari Khorezmia datang untuk belajar bahasa Hindi, menulis sejarah Hindustan, dan menghitung diameter bumi. Belum lagi ribuan orang suci Hindu yang melepaskan kesenangan duniawi, menempuh perjalanan ratusan hingga ribuan kilometer untuk berziarah.

Air mata dewa yang kini menjadi tempat bermain (AGUSTINUS WIBOWO)

Air mata dewa yang kini menjadi tempat bermain (AGUSTINUS WIBOWO)

Selanjutnya, masa-masa kejayaan itu surut, tenggelam bersama bukit-bukit garam Punjab yang mengelilingi tempat ini. Perlahan-lahan lumut dan sulur-suluran menenggelamkannya. Serangga bersarang di dalamnya. Atapnya ambruk. Temboknya bolong. Lima puluh tahun setelah partisi India, bangunan bersejarah kuil Katas Raj sudah berubah menjadi puing-puing kuil yang terlupakan.

Pakistan, sebuah negara Muslim yang menghargai masa lalunya. Tidak seperti negara tetangga yang menghancurkan patung-patung, Pakistan tetap melestarikan dan merawat peninggalan sejarahnya. Museum Lahore dipenuhi patung Buddha bertapa yang kurus kering. Kota Moenjo Daro, tempat lahirnya peradaban Indus, menjadi kebanggaan nasional. Kota Buddha Taxila dari dinasti Gandhara terawat dengan rapi. Juga patung-patung Buddha di lembah Swat hingga balik pegunungan Himalaya di Baltistan, semuanya masih berdiri dengan megah. Tetapi mengapa kuil Katas begitu saja terhapus dari memori negeri ini, terbenam dalam kebencian terhadap Hindustan?

Ada sebuah misteri yang dibisikkan oleh reruntuhan altar dan kuil. Ada air mata sang Dewa yang menggenangi kolam kotor. Sejarah menjadi pudar karena perang dan persengketaan. Entah berapa lama lagi ia akan bertahan.

(Bersambung)

Serial ini pernah diterbitkan sebagai “Titik Nol” di Rubrik Petualang, Kompas.com pada tahun 2008, dan diterbitkan sebagai buku perjalanan berjudul “Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan” oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2013.

Dimuat di Kompas Cyber Media pada 7 April 2009

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

Leave a comment

Your email address will not be published.


*