Recommended

China

China dan Jalur Sutra Baru

China mempromosikan mimpi besar untuk membangun Jalur Sutra modern demi kemakmuran bersama. Apakah mimpi ini bisa terwujud, atau sekadar menjadi slogan utopia semata? Laporan untuk Visiting Program for Young Sinologist di Beijing, riset saya mengenai usulan China untuk membangun Jalur Sutra Baru. Jalur Sutra Abad Milenium Hampir 22 abad silam, Kaisar Han mengutus Zhang Qian mendatangi kerajaan Dayuan di Asia Tengah demi membentuk aliansi militer. Perjalanan ini kemudian melahirkan rute perdagangan legendaris Jalur Sutra. Berselang dua milenium, China sekali lagi mengajak negara-negara di sekelilingnya untuk bergabung dalam aliansi multinasional yang dijuluki Jalur Sutra Baru. Dalam kunjungan kenegaraan di Kazakhstan pada 7 September 2013, Presiden Xi Jinping mengusulkan pembangunan Sabuk Ekonomi Jalur Sutra (Silk Road Economic Belt). Berselang tiga minggu kemudian, di hadapan parlemen Indonesia di Jakarta, Xi mengemukakan konsep Jalur Sutra Maritim Abad ke-21 (21st Century Maritime Silk Road). Kedua konsep ini, yang digabungkan menjadi inisiatif Satu Sabuk dan Satu Jalur (OBOR), adalah desain akbar untuk menghubungkan negeri-negeri yang dilintasi rute perdagangan bersejarah itu, mulai dari Asia Tengah hingga Eropa dan Afrika, mulai dari Asia Tenggara hingga Jazirah Arab. Menurut data ADB, kebutuhan pendanaan pembangunan infrastruktur di Asia mencapai US$ 800 miliar setiap tahunnya. Sebagai negara dengan cadangan devisa terbesar [...]

October 5, 2015 // 3 Comments

Beijing 7 Juli 2015: China dan Jalur Sutra

Sebuah catatan dari Visiting Program for Young Sinologists, 7-24 Juli 2015 Ibn Battuta pernah menyusuri Jalur Sutra Laut dari Arab sampai ke Quanzhou di China Orang sering mengaitkan Jalur Sutra dengan peradaban China. Pemerintah China di abad ke-21 ini juga menggalakkan pembangunan “Jalur Sutra Baru”. Tetapi, menurut pakar sejarah Prof. Ge Jianxiong dari Universitas Fudan, dalam sejarahnya China justru lebih banyak mengabaikan Jalur Sutra. Istilah “Jalur Sutra” sendiri tidak pernah ditemukan dalam catatan sejarah China. Istilah ini pertama kali digunakan oleh ahli geografi Jerman pada akhir abad ke-19, Ferdinand von Richtofen, yang menyebut jalur perdagangan sepanjang 6.000 kilometer dari China sampai ke negeri Romawi itu sebagai “Seidenstraße” atau “Jalan Sutra”. Dalam bahasa Indonesia, kita menyebutnya sebagai “jalur” bukan “jalan”, karena lintasan ini bukan hanya berupa satu jalan melainkan beratus lintasan yang bercabang-cabang. Selain itu, lintasan bukan berupa jalan besar, tetapi kebanyakan berwujud hanya jalan setapak bagi karavan. Setelah orang Barat dan Jepang banyak meneliti sejarah Dunhuang dan daerah-daerah di China Barat yang dilintasi Jalur Sutra, barulah China mulai menaruh perhatian pada Jalur Sutra. Mengapa demikian? Prof. Ge Jianxiong dalam presentasinya kepada kami pada pertemuan Sinologis Muda di Beijing ini menjawab dengan tegas, “Karena di mata China, Jalur Sutra itu tidak [...]

September 29, 2015 // 2 Comments

Terlahir Kembali… Dengan Roh Berbeda/西递宏村的沧海桑田

11 November 2011 Nenek moyang mereka adalah saudagar hebat.  Kejayaan para saudagar Anhui sudah membahana dan menjadi buah bibir orang-orang di seantero negeri. Era emas serikat dagang Anhui, yang dikenal sebagai Huishang, berlangsung pada zaman Dinasti Song dan Tang, ketika para saudagar keluar dari lingkungan kampung mereka di Huizhou dan merajai bisnis perdagangan di seantero tanah Tiongkok, bahkan sampai ke Asia Tenggara, termasuk di kepulauan Nusantara. Saking pentingnya pengaruh para saudagar Anhui ini, ada ungkapan legendaris: “Tanpa saudagar Anhui, kota pun tidak akan menjadi kota”. Lima abad berlalu, dusun Xidi dan Hongchun di selatan kota Huangshan adalah sisa peninggalan ketangguhan nenek moyang. Sejak tahun 2000, kejayaan para saudagar Anhui bukan lagi hanya sekedar kebanggaan warga setempat, tetapi juga menjadi bagian khazanah sejarah dunia. Xidi dan Hongchun dimasukkan ke dalam daftar warisan sejarah UNESCO. Belasan tahun lalu, saya datang kali pertama ke Xidi. Kala itu, dusun ini belum terbuka bagi kunjungan orang asing. Sopir berani menyelundupkan saya ke sini hanya karena wajah saya mirip warga Tiongkok. Pesannya cuma satu: saya dilarang keras bicara. Karena begitu saya buka mulut pasti langsung ketahuan bahwa saya orang asing, dan tentunya kami akan terlibat masalah. Alhasil, saya hanya bisa menyimpan kekaguman saya dalam bisu. Rumah-rumah [...]

February 9, 2015 // 3 Comments

Huangshan Modern di Mata Musafir Kuno / 光阴荏苒数百年——假如徐霞客重游黄山

10 November 2011 “Di seluruh penjuru negeri, tiada yang melebihi Huangshan di Huizhou; Mendaki Huangshan, tiada lagi gunung di bawah kolong langit, cukuplah semua!” Demikian musafir kenamaan Tiongkok, Xu Xiake dari akhir era Dinasti Ming menorehkan kesannya setelah mengunjungi gunung Huangshan, yang kini berada di selatan provinsi Anhui. Kata-kata yang mentahbiskan Huangshan sebagai gunung terindah di seluruh negeri Tiongkok, bahkan di seluruh muka bumi. Orang-orang dari zaman sesudahnya kemudian memparafrase ungkapan sang musafir kuno ini menjadi: “Siapa pun yang pernah mendaki Huangshan, tidak perlu lagi melihat gunung lain mana pun.” Huangshan tidak perlu banyak kata. Keindahan wajah pegunungan raksasa ini sudah cukup menjadi puisi bagi dirinya sendiri. Di tengah selimut kabut yang menyingsing, batu-batu menjulang dalam beragam bentuk yang begitu aneh. Magis. Romantis. Bebatuan raksasa seakan bernyanyi melalui melodi yang tergambar dari gurat wajah yang terkadang hilang ditelan kabut, terkadang misterius di balik balutan awan, terkadang menimbulkan kegalauan di balik kelabu, dan terkadang mendadak megah seraya menunjukkan kegarangan tebing curam ketika diraupi sinar matahari. Huangshan, Anhui, China (AGUSTINUS WIBOWO) Bayangkan bagaimana musafir kuno harus mendaki tebing yang curam ini (AGUSTINUS WIBOWO) Xu Xiake dan perjalanannya, diabadikan di atas prangko China terbitan 1987 Tak heran, nuansa mistis ini menghasilkan karya seni [...]

February 6, 2015 // 6 Comments

Ketika Sejarah dan Turisme Bergandeng Tangan/当旅游与历史共舞

Perjalanan ke Anhui, 9 November 2011   Merah mengawal hari di Gunung Maren. Matahari sebenarnya tidak terlihat karena tertutup kabut, dan putih yang pekat menyelimuti seluruh penjuru perbukitan, tetapi gelora merah sudah terasa sejak kami memasuki bangunan sederhana di kaki bukit. “Matahari di Hati Tidak Akan Tenggelam untuk Selamanya,” demikian kata barisan huruf emas bertahta di atas latar belakang dinding merah. Ribuan wajah Chairman Mao berjajar rapi di balik kaca, dalam berbagai pose dan ukuran, mulai dari lempeng lencana mungil untuk disematkan di baju sampai piringan logam besar seukuran wajan. Dulu di sini, Chairman Mao pernah menempatkan bataliun tentara. Tempat ini juga adalah basis perjuangan melawan penjajah Jepang. Destinasi wisata ini bukan sekedar untuk melihat gunung dan air, tetapi juga untuk menggugah rasa cinta tanah air dan kesadaran akan sejarah. Merah, punya arti lain dari “merah” yang kita kenal di Indonesia. Merah di negeri ini adalah warna dari komunisme. Wisata Merah: Pemandu menjelaskan rute perjuangan Paman Mao (AGUSTINUS WIBOWO) Buddha, Dewa Zeus, Pan-ku, Lao-tze, dan Maya? Ada yang salah di sini (AGUSTINUS WIBOWO) “Wisata Merah” pun bisa jadi sangat religius (AGUSTINUS WIBOWO) Poster-poster zaman revolusi yang terpampang dalam museum mungil itu menggambarkan ingar-bingar para buruh Tiongkok menyanyikan lagu mars revolusi, [...]

February 5, 2015 // 3 Comments

Anhui: Kebanggaan Masa Lalu, Industri Masa Kini / 安徽:光辉的昨天,今天的事业

8 November 2011 Kelabunya kabut tebal dan dinginnya rintik hujan menyambut kami saat mendarat di bandara Hefei yang terbilang cukup sederhana. Sebelum mendarat tadi, pesawat kami berputar-putar cukup lama di udara, susah menembus kelabu pekat yang merata di seluruh penjuru. Di bulan November ini, hujan adalah keseharian. Jalanan begitu lengang, kami memasuki kawasan distrik baru pemerintahan yang disiapkan untuk menjadikan ibukota Provinsi Anhui ini menjadi kota berstandar internasional. Pemandu lokal kami penuh bangga mengisahkan betapa penting arti kota Hefei dalam sejarah Tiongkok. Jaksa Bao, hakim legendaris yang terkenal karena keadilannya, adalah putra kebanggaan kota Hefei. Kisah legendaris Tiga Kerajaan alias Sam Kok, juga punya kaitan erat dengan kota ini, ia berkata. Sang filsuf Laotzu, ahli pengobatan Hua Tuo, seniman Hu Shi, sampai presiden Tiongkok sekarang Hu Jintao, semua adalah bagian dari kebanggaan provinsi ini. Dan jangan lupa, tambahnya, gunung megah Huangshan yang sudah menjadi trademark utama di sini, yang karena keindahannya sejak ribuan tahun lalu dikenal di Tiongkok dengan pameo: siapa pun yang pergi ke Huangshan tidak perlu melihat gunung lain mana pun. Kebanggaan masa lalu yang menjadi komoditas hari ini (AGUSTINUS WIBOWO) Di tengah lengangnya jalanan Hefei, terlihat sesuatu yang pasti: perubahan.  Di mana-mana di sudut kota yang sedang [...]

February 4, 2015 // 6 Comments

The Palace of Illusions

When drawing a picture about memory of the past, we tend to have only two alternatives. Either we amplify good memories and minimize the bad ones, or the other way round. When the nostalgia is about history, this can be dangerous, as the history may turn to an illusion, no matter how real the events are. The incidence of nostalgia may bring you to homesickness. American physicians in nineteenth century even pointed out that acute nostalgia led to “mental dejection”, “cerebral derangement” and sometimes even death. In Indonesia, the so-called history is never so long ago. Some people say, Indonesians have such short memories as they suffer from “history amnesia”. With most of its population are less than 30 years old, majority people did not really experience the whole history of the Republic, from the Independence struggle era (1940s), Sukarno’s Old Order (1950s), the chaos before the arrival of Suharto’s New Order (1960s), and the never ending period of our-president-is-him-again-and-him-again (1970s-1990s). When grumbling about the hardship in current democratic period, people tend to turn their head to the past: how strong and respected our country during Sukarno! How things were cheap and life were happy under Suharto! How we need [...]

December 15, 2013 // 7 Comments

Eyes of Non-travelers: The Socialism Paradise of Beijing

What if the air of the 21st century Beijing still covered by the bravado of Cultural Revolution and the 2008 Olympic host city become a Maoist paradise? You may see the extraterrestrial architecture of China Central Television building worshipped by thousands of comrades chanting rouge slogans marching down the road. Or office workers work happily with their desktop computers, along with smiling cleaning staffer, and surrounded a parade of curious working class visitors with their happy faces and red flags. All of this imagination is portrayed in several paintings made by North Korean propaganda artists. The idea and effort of this project came from Beijing-based British expat duo, one of which runs the travel company specializing in trips to the Democratic People’s Republic of Korea (DPRK, known better as North Korea). The duo showed some daily life photos of Beijing to the artists from the hermit kingdom, and invited them to visualize the life of the modern city they have never visited. Sea of happy people next to CCTV Headquarters A journey to the promised land Chinese tourist with camera in front of Bird’s Nest Red Guards in KTV No bikini Happy office Let’s go disco Future of China One [...]

December 14, 2013 // 0 Comments