Recommended

Lockdown ala Wuhan (1): Mengapa Cina Bisa?

Wuhan sunyi di masa lockdown (Foto:Weibo)

Kota Wuhan, episentrum pertama virus corona di Cina, mulai memberlakukan lockdown pada 23 Januari 2020. Pada hari itu, di Wuhan sudah ada 495 orang yang terinfeksi, dan 23 meninggal. Lockdown Wuhan ini menjadi karantina yang paling akbar dan paling ketat sepanjang sejarah modern.

Dalam bahasa Cina, lockdown disebut fengcheng (封城), secara harfiah berarti penyegelan atau penutupan kota. Lockdown sendiri ada beberapa level, dan diterapkan secara bertahap.

Tahap pertama adalah mengisolasi kota Wuhan. Semua akses jalan keluar-masuk ke kota itu ditutup, termasuk jaringan pesawat terbang, kereta api, dan bus antarkota. Layanan transportasi publik di dalam kota juga dihentikan. Lockdown langsung berlaku dalam beberapa jam setelah diumumkan. Wuhan pun mendadak lengang dan sunyi bak kota mati.

Lockdown ini mengurung 11 juta warga Wuhan di dalam kotanya. Pada hari-hari berikutnya, lockdown terus diperluas hingga akhirnya mencakup semua kota di Provinsi Hubei, mengurung 57 juta dalam karantina raksasa.

Hari keempat lockdown, 26 Januari, mobil pribadi dilarang turun di jalan. Hanya kendaraan dengan surat izin khusus yang diizinkan beroperasi, seperti kendaraan angkutan barang, kendaraan pengangkut staf, dan sebagainya.  Kebetulan pada saat diberlakukannya lockdown itu sudah mendekati masa Tahun Baru Imlek, sehingga sekolah dan universitas sudah libur. Libur sekolah ini diperpanjang hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Demikian juga dengan pertokoan dan perkantoran sudah banyak yang libur Imlek, dan akan terus libur sepanjang masa lockdown. Hanya toko yang menjual makanan dan obat-obatan yang tetap beroperasi.

Pada masa awal berlakunya lockdown, warga masih bisa keluar rumah. Dua minggu setelah lockdown, penularan corona di Wuhan ternyata masih cukup tinggi, jumlah kasus positif sudah lebih dari 30.000 orang. Pemerintah pun menaikkan level lockdown. Sejak 11 Februari, semua kompleks perumahan diwajibkan menutup pintu gerbangnya, dan hanya orang-orang dengan surat izin khusus yang diperbolehkan meninggalkan lingkungan hunian. Mereka yang memaksa keluar tanpa izin bisa ditangkap aparat. Penyediaan pasokan bahan makanan diorganisir secara kolektif oleh manajemen masing-masing blok apartemen. Di banyak tempat diberlakukan aturan bahwa hanya satu orang dalam satu keluarga yang diizinkan keluar rumah setiap dua atau tiga hari sekali, cuma untuk membeli barang kebutuhan pokok.

Manusia adalah makhluk yang senantiasa mendamba kebebasan. Dikurung dalam belenggu lockdown tentu sangat menyiksa bagi siapa pun yang mengalaminya, dan sedikit banyak akan muncul hasrat untuk berontak di dalam hati. Namun lockdown di Wuhan bisa berjalan lancar tanpa kericuhan berarti, dan warganya justru menunjukkan kepatuhan dan kedisiplinan yang sangat tinggi. Di seluruh dunia, mungkin hanya Cina yang bisa melakukan lockdown seperti ini.

Apa rahasianya?

Yang pertama adalah sistem. Cina adalah negara dengan sistem terpusat. Kebijakan dari pemerintah pusat adalah komando tunggal yang terpadu, dan tidak ada pertentangan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Partai Komunis juga memiliki hierarki yang sangat kokoh, mulai dari tingkat pusat sampai level terbawah yang menjangkau unit-unit produksi, perkantoran, sekolah, hingga lingkungan perumahan warga. Di negeri ini, tidak ada yang bisa lolos dari kontrol pemerintah. Sistem satu partai juga menguntungkan Cina saat menghadapi krisis. Dalam pengambilan kebijakan, para petinggi Cina tidak perlu memikirkan apakah kebijakan mereka akan memengaruhi perolehan suara dalam pemilu berikutnya. Mereka bisa fokus memikirkan kebijakan apa yang paling efektif untuk menyelesaikan krisis.

Selain itu, bangsa Cina juga adalah bangsa dengan budaya tembok yang kuat. Sekolah, universitas, gedung-gedung vital, hingga kompleks perumahan di negeri ini selalu dikelilingi tembok yang kokoh. Tembok-tembok itu berfungsi untuk menciptakan batas antara “orang luar” dan “orang dalam”, untuk melindungi “yang aman” dari “yang berbahaya”. Bagi pemerintah, tembok-tembok ini juga berguna untuk memecah masalah besar menjadi klaster-klaster kecil yang lebih mudah untuk dikendalikan.

Sistem karantina berdasar klaster ini sangat efektif menghambat perpindahan warga demi mencegah penularan. Taruhlah ada seorang warga yang bandel mau keluar dari kompleks perumahannya, sebelum bisa melangkah keluar saja dia sudah dicegat satpam di pintu gerbang kompleksnya. Orang itu mungkin akan bertengkar dengan satpam itu, tetapi satpam cukup memanggil polisi, yang langsung datang dalam hitungan menit, dan orang itu pun seketika akan patuh.

Saya sendiri pernah mengalami lockdown ala Cina ketika menjadi mahasiswa di Beijing pada tahun 2003, di tengah wabah SARS. Saat itu siswa yang tinggal di dalam lingkungan kampus tidak boleh keluar, dan siswa yang tinggal di luar kampus—termasuk saya—dilarang memasuki areal kampus. Para siswa juga diminta oleh pihak sekolah untuk saling mengawasi satu sama lain, saling memata-matai, dan melaporkan segala bentuk pelanggaran yang mereka temukan. Semua hanya bisa patuh. Tidak ada celah sama sekali untuk melanggar aturan.

Namun semata-mata mengandalkan penegakan hukum dari aparat juga tidak mungkin. Tetap dibutuhkan kesadaran masyarakat luas untuk mendukung penuh program-program pemerintah dalam penanganan wabah. Untuk menciptakan kesadaran warga, pemerintah perlu menyosialisasikan dan mengomunikasikan wabah ini dengan cara yang tepat. Pemerintah Cina sudah belajar dari pengalaman SARS, yaitu apabila pejabat berusaha menutup-nutupi dan menyembunyikan wabah demi meredam kepanikan warga, maka wabah justru akan semakin meluas dan kepanikan warga justru akan lebih menggila.

Untungnya warga Cina juga masih punya memori kolektif tentang SARS. Mereka sudah paham bahwa SARS adalah penyakit yang mengerikan, dan Covid-19 disebabkan oleh virus corona yang masih berkerabat dengan virus SARS. Ketakutan mereka akan kematian berperan besar dalam membangkitkan kepatuhan dan kesabaran luar biasa untuk mematuhi arahan pemerintah. Begitu wabah Covid-19 merebak, warga Cina dengan sadar diri memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan meningkatkan standar kebersihan.

Dalam kampanye penanganan Covid-19, pemerintah Cina juga menggunakan retorika perang, mengibaratkan ini sebagai pertempuran yang harus dimenangi dengan perjuangan segenap rakyat.  Berpartisipasi dalam pencegahan dan pengendalian wabah—termasuk dengan patuh berdiam diri di rumah—ditekankan sebagai wujud nyata kecintaan terhadap tanah air dan bangsa. Banyak warga Cina yang dengan kesadaran sendiri membatalkan rencana mudik pada hari raya Imlek demi turut andil memutus rantai penularan virus, padahal mudik Imlek merupakan tradisi mendarah daging bangsa Cina. Banyak pula desa, kampung, hingga lingkungan hunian warga di seluruh negeri yang secara aktif mengarantina daerah masing-masing secara swadaya. 

Dengan bangkitnya semangat perjuangan perang di seluruh negeri, pemerintah bisa mendapatkan dukungan penuh untuk melakukan mobilisasi massa dan sumber daya besar-besaran demi menyelamatkan Wuhan. Setidaknya 42.000 dokter dan tenaga medis dari berbagai penjuru Cina diberangkatkan ke Hubei, untuk membantu tenaga medis setempat bertempur di garis depan. Mereka benar-benar mempertaruhkan nyawa dalam pertempuran ini. Lebih dari 3.000 tenaga medis terinfeksi dalam menjalankan tugas, puluhan meninggal.  

Untuk mengatasi kekurangan daya tampung rumah sakit di Wuhan, pemerintah Cina membangun dua rumah sakit raksasa khusus corona berkapasitas total 2.300 ranjang. Mereka mengerahkan ribuan pekerja yang bekerja siang malam tanpa henti, dan menyelesaikan konstruksi hanya dalam waktu sekitar sepuluh hari. Kemampuan Cina untuk memobilisasi massa dan menyelesaikan pengerjaan mega-konstruksi secepat ini sungguh tidak terbayangkan di negara lain.  

Mobilisasi massa juga terlihat pada antusiasme warga yang mendaftar sebagai relawan. Lebih dari 50.000 relawan non-medis bekerja di Wuhan selama lockdown, menjadi urat nadi yang menghidupi kota yang sedang diisolasi itu. Para relawan itu menggunakan mobil sendiri, bensin dengan biaya sendiri, untuk mengantar-jemput para dokter dan tenaga medis yang kesulitan mengakses rumah sakit karena ketiadaan transportasi publik. Para relawan juga bertugas mengantar makanan ke rumah-rumah warga yang membutuhkan, juga menjemput dan mengantar obat-obatan bagi para pasien yang menjalani karantina mandiri di rumah. Mereka juga pejuang garis depan, yang berisiko tertular penyakit dalam menjalankan tugas.

Dalam film dokumenter BBC Wuhan: Life under Lockdown terlihat jelas betapa besar dedikasi segenap rakyat Cina dalam memenangi pertempuran akbar ini. Di tengah masa genting penanganan corona, tersiar kabar bahwa obat HIV cukup efektif dalam pengobatan Covid-19. Banyak penderita HIV yang kemudian merelakan jatah obat mereka untuk disumbangkan bagi para pasien corona. Mereka rela mempertaruhkan nyawa sendiri demi menyelamatkan orang lain yang bahkan tidak pernah mereka kenal dan tidak pernah mereka temui. Adalah tugas para relawan kemudian untuk menjemput obat-obatan dari pasien HIV dan mengantarkannya pada para pasien corona yang sedang dalam kondisi kritis.

Lockdown Wuhan bukan lockdown biasa. Ini adalah kombinasi dari strategi yang komprehensif dari pemerintah, penegakan sistem yang kuat, kesadaran dan kedisiplinan warga, serta perjuangan tanpa pamrih dari para pejuang garis depan. Sebagaimana dikatakan pepatah Cina, “Ketika negara menghadapi bahaya, maka segenap rakyat turut mengemban tanggung jawab”.

Bersambung

Artikel-artikel dalam serial ini:
Lockdown ala Wuhan (1): Mengapa Cina Bisa?
Lockdown ala Wuhan (2): Rumah Sakit Darurat
Lockdown ala Wuhan (3): Teknologi Pelacakan Modern
Lockdown ala Wuhan (4): Haruskah Kita Mengikutinya?

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

8 Comments on Lockdown ala Wuhan (1): Mengapa Cina Bisa?

  1. wah, keren euy sdh nerbitin buku, mas gust!

  2. Hi Agustinus! I am back in Afghanistan. Congratulations for all your publications!!

  3. Mantabs mas, sangat mencerahkan, ditunggu lanjutan ya…👏

  4. Sayangnya hanya sedikit dari rakyat Indonesia yang mau belajar dr pengalaman tetangga…yang lebih banyak adalah “kepala batu”.

  5. Berlian Cahyadi // April 18, 2020 at 4:30 pm // Reply

    Artikel yang bagus sekali Mas Agus. 😁 Mencerahkan, mengedukasi, sekaligus menginspirasi agar kita bangsa Indonesia yang tengah mengalami nasib sama seperti warga Wuhan kala itu supaya bisa berjuang mendisiplinkan diri seperti mereka.

  6. Thank you buat sharing nya Weng

Leave a comment

Your email address will not be published.


*