Recommended

Tips Menulis Cerita Perjalanan

Kamu baru pulang dari sebuah trip yang rasanya wow banget. Ada banyak cerita yang ingin kamu bagikan. Tetapi begitu kamu duduk di depan komputer, kamu malah bengong menghadapi layar kosong, pikiranmu pun jadi ikutan kosong. Tidak satu pun kata yang mengalir keluar. Kamu mendadak merasa perjalananmu sepertinya biasa-biasa saja. 

Atau sebaliknya, kamu sudah mulai menulis dengan sangat antusias. Kamu menulis panjang lebar tentang indahnya langit biru dan lembutnya pasir di pantai. Tetapi sampai di tengah-tengah, kamu hilang arah, kebingungan tulisan ini mau ke mana. Kamu memutuskan untuk mulai lagi dari depan. Begitu berulang-ulang. Gagal lagi dan gagal lagi. Sampai akhirnya kamu putus asa, dan merasa kamu sama sekali tidak punya bakat menulis.

Kalau kamu pernah mengalami ini, jangan khawatir, kamu tidak sendiri.   

Menulis perjalanan memang tidak semudah kelihatannya. Tulisan perjalanan termasuk genre tulisan nonfiksi, dan kita sering mengasosiasikan nonfiksi dengan hal-hal yang membosankan: arsip sejarah, dokumen resmi, kamus, memo, berita di koran. Kesulitan utama dalam menulis karya nonfiksi adalah karena kita harus bekerja dengan fakta, dan kita tidak boleh berimajinasi untuk menciptakan fakta.

Namun nonfiksi sebenarnya bisa menjadi menarik apabila kita memadukan penulisannya dengan teknik bercerita. Inilah yang disebut dengan “nonfiksi kreatif”, atau di masa lalu sering disebut sebagai “jurnalisme sastrawi”. Kita bisa memanfaatkan teknik-teknik penulisan fiksi untuk menghasilkan karya nonfiksi yang bercerita. Strategi ini juga bisa kita terapkan untuk menuliskan perjalanan, supaya cerita perjalanan kita jadi lebih menarik dan enak dibaca.

“Jauh lebih mudah untuk melakukan perjalanan daripada menuliskannya,” penulis legendaris David Livingstone pernah berkata. Di sini saya ingin membagikan beberapa tips yang mungkin bisa membantu membuat perjalanan menulismu menjadi sedikit lebih mudah dan menyenangkan.  

1. Keingintahuan yang Tinggi

Tulisan yang baik membutuhkan bahan baku yang baik, dan bahan baku bagi tulisan perjalanan tentu adalah perjalanan itu sendiri. Tanpa perjalanan yang baik, tidak akan ada tulisan perjalanan yang baik. Tetapi bagaimanakah perjalanan yang baik itu? Tentu sangat relatif, karena tiap orang punya tujuan dan cara perjalanan masing-masing. Tetapi kalau harus disimpulkan satu kualitas yang wajib dimiliki oleh seorang perjalanan yang baik, maka itu adalah keingintahuan yang tinggi. Rasa ingin tahulah yang membuat kita bisa mengamati dunia di sekeliling kita, dan menyerap informasi yang berguna untuk dibagikan lewat tulisan. 

2. Temukan “Guru”

Tulisan perjalanan yang baik harus memberikan informasi baru bagi pembaca. Tetapi sebelum “mengedukasi” pembaca, si pejalan haruslah mengedukasi dirinya sendiri terlebih dahulu melalui perjalanan yang dilakukannya. Dan siapakah yang lebih berhak untuk mengajari kita tentang tempat yang kita kunjungi, selain penduduk di tempat itu? Karena itu, sangatlah penting untuk menemukan “guru” dalam setiap perjalananmu. “Guru” adalah mereka yang bisa memberikan pencerahan baru kepadamu tentang tempat itu, tentang kehidupan dan budaya di situ, serta tentang apa yang dipikirkan orang-orang di sana. Mereka mungkin adalah pakar, seperti sejarawan atau jurnalis, tetapi bisa juga orang-orang biasa yang kamu temui di jalan. Seorang tukang rickshaw mungkin bisa memberimu pelajaran tentang sistem kasta, dan seorang umat di kuil bisa membuatmu merenungkan makna berserah. Dalam setiap perjalanan, banyak-banyaklah berkomunikasi dengan penduduk setempat, supaya kamu punya bahan cerita yang mendalam dan melimpah.  

3. Alamilah Perjalananmu

Tulisan perjalanan yang baik juga harus membuat pembaca seolah-olah mengalami sendiri perjalanan yang mereka baca. Untuk itu, sebagai penulis pertama-tama kamu harus benar-benar mengalami perjalananmu sendiri. Selama dalam perjalanan, fokuskan segenap pikiranmu pada perjalanan dan gunakan semua indramu. Jika kau berada di tengah pasar India, perhatikan juga bagaimana aroma rempah yang kau cium, atau bagaimana terik matahari membuat keringatmu membanjir, atau bagaimana kepadatan orang di sana membuatmu gelisah. Jangan lupa pula untuk mencatat detail-detail pengalaman ini ke dalam buku harian, karena memori kita tidak mungkin bisa mengingat itu semua. Saat menulis nanti, buku harian yang penuh detail ini akan menjadi harta karunmu yang paling berharga.   

4. Renungkanlah Maknanya

Perjalanan adalah pengalaman pribadimu. Apa pedulinya pembaca untuk tahu masalah cirit-birit diaremu di India, atau betapa susah payahnya kamu mengurus visa? Hal-hal yang sangat pribadi ini biasanya tidak menarik bagi orang yang sama sekali tidak kenal kamu. Untuk membuatnya menjadi menarik, kamu harus menemukan sesuatu yang lebih besar dari pengalaman-pengalaman pribadi itu, yang bisa menghubungkanmu dengan pembaca. Dan itu adalah: makna.

Sebelum kamu bisa membagikan makna untuk pembaca, pertama-tama kamu harus memahami dulu apa makna pengalaman perjalananmu bagi dirimu sendiri. Sebelum mulai menulis, tanyakan kepada dirimu: apakah makna dari perjalananku ini? Dari sekian banyak jawaban yang kamu temukan dalam perenunganmu, akan ada satu jawaban yang paling dominan dan penting untuk disampaikan pada pembaca. Inilah pesan utama dari ceritamu, yang biasanya disebut sebagai premis. Setelah kamu menemukan premis ini, kamu sudah bisa menyaring cerita apa saja yang perlu kamu masukkan dan apa yang tidak, sehingga ceritamu akan menjadi lebih kuat. Dengan premis yang solid, kamu juga bisa menyusun strategi penulisan yang lebih efektif.  

5. Buatlah Kerangka Sebelum Menulis

Banyak orang yang menyepelekan kerangka tulisan sebagai pekerjaan anak SD atau penulis amatiran, sehingga melewatkan proses yang sangat penting ini. Kerangka ibaratnya adalah peta untuk merambah hutan imajinasi dan memorimu yang begitu luas, supaya kamu jangan sampai tersesat. Kerangka akan sangat membantu kamu untuk membuat tulisan yang lebih kompleks dan “sastrawi”. Ada bermacam-macam struktur kerangka yang bisa kamu gunakan, tergantung premis dan cerita yang ingin kamu sampaikan. Dengan membuat kerangka, kamu tidak perlu harus selalu memulai tulisan dari awal perjalanan secara kronologis, atau membuka dengan kalimat-kalimat membosankan seperti “Matahari bersinar cerah…” atau “Mendung menggelayut di langit…” Dengan adanya kerangka, kamu juga tidak perlu menulis berurutan. Kamu bisa mulai menulis dari tengah, atau bahkan dari kalimat penutup, baru akhirnya menemukan kalimat pembuka yang paling brilian. 

6. Bebaskanlah Dirimu

Rahasia terbesar untuk bisa menulis bagus adalah: berikan izin pada dirimu untuk menulis jelek. Banyak orang yang salah mengira bahwa penulis yang jago itu begitu mulai menulis maka kata-kata indah sempurna akan terus mengalir tanpa henti. Pikiran bahwa kita harus menulis sebagus-bagusnya sedari awal itu menyesatkan, dan justru menjadi belenggu. Banyak orang yang patah semangat saat mulai menulis, setelah mendapati tulisan mereka tidak sesempurna yang mereka bayangkan, sehingga pada akhirnya mereka malah tidak jadi menulis apa-apa. Pola pikir ini harus diubah. Saat awal menulis, jangan pedulikan masalah ejaan, pilihan kata, tata bahasa, atau enak-tidaknya dibaca. Tuangkan saja semua cerita yang ada di kepalamu, sampai semua cerita itu tumpah keluar. Jangan khawatir, karena sekarang kamu sudah punya kerangka, kamu tidak akan tersesat terlalu jauh.  

7. Revisi, Revisi, Revisi

Setelah semua cerita selesai kamu tumpahkan dalam bentuk tulisan, jangan buru-buru dipublikasikan. Tulisan yang sangat mentah itu bisa bikin pembacamu ingin bunuh diri. Diamkan dulu satu sampai dua hari, lalu bacalah kembali tulisan itu dari depan dan perbaikilah kesalahan-kesalahan yang kamu temukan. Proses mematangkan tulisan ini disebut editing. Pertama-tama yang perlu diperhatikan adalah apakah alur cerita sudah mengalir lancar. Mungkin ada urutan yang keliru, mungkin ada logika yang bolong, mungkin ada bagian yang terlalu bertele-tele dan harus dibuang. Tahapan berikutnya adalah memperkuat detail, yaitu bagaimana membuat ceritamu menjadi lebih hidup. Mungkin harus ada anekdot yang ditambahkan, mungkin ada deskripsi yang harus diperjelas. Dalam tahapan yang paling akhir, barulah kamu memikirkan soal ejaan atau keindahan kata, supaya tulisanmu lebih sempurna. Sebagaimana pernah dikatakan Ernest Hemingway, “The first draft of anything is shit.” Menulis sebenarnya adalah pekerjaan merevisi, merevisi, dan merevisi kembali.

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

4 Comments on Tips Menulis Cerita Perjalanan

  1. Mas Teguh Sudarisman

  2. thanks tipsnya mas.. beberapa udah kuterapkan juga, tinggal melengkapi yang lainnya.. kerangka kadang bikin kadang nggak sih, tergantung mood hehe..

    -Traveler Paruh Waktu

  3. Kesekian kalinya aku membaca tulisan bang agus ini, untuk memulai menulis.
    Dan kesekian kalinya juga, serelag membaca selalu menemukan referensi

    Terimakasih bang, atas insfirasi ini

  4. Aku tak pernah bosan membaca tulisan ini. Lagi, lagi dan lagi…

Leave a comment

Your email address will not be published.


*