Recommended

Resolusi Tahun Baru

Tanpa terasa, kita sudah memasuki 2022. Dua tahun pandemi ini berlangsung sepertinya terlalu cepat, dan jujur saya akui, saya mengalami gegar budaya.

Mulai dari paranoia terhadap penyakit mematikan, hingga jaga jarak sosial dan pembatasan pergerakan yang sungguh mengobrak-abrik kewarasan. Dilanjutkan dengan kehidupan yang berpindah ke ranah digital, mulai dari rapat online, webinar, kelas daring, sampai paket wisata virtual, membuat kehidupan di tengah isolasi diri ini justru menjadi sangat sibuk dan melelahkan.

Belum lagi derasnya konten digital yang mengisi kebosanan di tengah pandemi. Dengan dalih “meningkatkan imun”, tanpa terasa berjam-jam berlalu begitu saja untuk menonton video-video yang tanpa henti di Youtube, postingan foto Instagram, dan yang lebih adiktif lagi: Tiktok dan Instagam Reels.

Tahun 2021 kemarin juga membawa perubahan besar yang memorak-porandakan ritme hidup saya. Demi mencari keamanan finansial, saya mulai belajar untuk berinvestasi saham. Saya menjadi bagian dari “investor angkatan Corona”, mengikuti arus utama generasi milenial yang mencari peruntungan dari perdagangan online di bursa. Setiap hari saya memantengi laporan keuangan, grafik pergerakan harga, dan tabel-tabel transaksi bandar. Isi pikiran saya pun didominasi kegelisahan tentang kapan harus beli atau jual, take profit atau cut loss.

Menjelang berakhirnya tahun, saya menyadari betapa waktu terasa terbang begitu cepat, sementara energi setiap hari terus terkuras hingga tak sanggup melakukan apa-apa. Cuan boleh melimpah, tapi diri terasa hampa, dan rasa pencapaian begitu rendah. Betapa jauh saya telah berubah, dan saya pun dibayangi kekhawatiran saya akan melupakan siapa diri saya yang mula-mula.

Karena itulah, pada penghujung tahun saya mengikuti program meditasi Vipassana di Bogor. Saya melewati pergantian tahun dalam sepuluh hari keheningan. Tanpa bicara, tanpa telepon, tanpa internet, tanpa medsos dan tanpa saham. Detoksifikasi total untuk mengenali dan menemukan diri.

Keheningan itu memberi saya kesempatan untuk berefleksi dan berkontemplasi. Dia mengingatkan saya pada cita-cita besar dan makna hidup saya. Dia mengingatkan saya pada begitu banyak pekerjaan yang selama ini terbengkalai di tengah derasnya aliran waktu. Dia membuat saya membulatkan tekad, untuk mengawali tahun yang baru dengan semangat baru untuk menjadi diri yang baru.

Dan inilah resolusi tahun baru saya: saya ingin menggeliatkan kembali jati diri saya sebagai penulis.

Selama pandemi, saya menjadi lebih aktif di medsos yang memaksa saya untuk berlatih menulis dengan pendek dan padat. Itu memang cara yang lebih komunikatif di masa digital ini, ketika rentang perhatian orang telah menjadi sangat-sangat pendek. Tapi di sisi lain, itu melemahkan otot otak saya untuk berpikir secara mendalam dan mengekspresikan pemikiran yang lebih kompleks.

Saya belakangan ini merasa seperti kehilangan platform untuk menuangkan pikiran dan tulisan panjang. Tapi kemudian saya ingat, saya senantiasa punya platform itu. Saya punya blog pribadi yang sudah bertahun-tahun ini tidak terawat. Padahal semula, blog ini adalah kanvas saya untuk menuangkan gagasan dan pemikiran. Blog ini pulalah yang telah menjadikan saya sebagai penulis.

Tahun 2022 ini, saya bertekad untuk meramaikan kembali blog saya ini. Entah ini terlalu muluk atau tidak, saya ingin menulis setidaknya satu artikel baru setiap sehari atau dua.

Bahan tulisan perjalanan saya sebenarnya masih sangat berlimpah dan belum tersentuh sama sekali. Saya pernah melakukan riset mendalam di Belanda untuk mengenali gerakan OPM, GAM, dan RMS yang masih aktif di sana. Saya juga pernah melakukan perjalanan mendalam di Toraja dan Aceh untuk belajar tentang bagaimana agama memengaruhi kehidupan keseharian dan politik di Indonesia. Belum lagi perjalanan ke Suriname yang mengulik kehidupan diaspora Jawa nun jauh di benua Amerika.

Bukan hanya tentang perjalanan fisik, saya juga ingin menggunakan blog ini untuk menuangkan pemikiran saya sehari-hari. Juga tentang perjalanan spiritual saya. Atau tentang buku-buku inspiratif yang pernah saya baca. Bahan tulisan sebenarnya tidak ada habisnya. Tidak perlu menjadi tulisan yang terlalu berat atau formal, tapi setidaknya itu akan terus melatih otak ini untuk terus kreatif, agar tidak menjadi jemu dan kaku.  

Proyek besar lain yang ingin saya rampungkan tahun ini adalah menerbitkan buku. Saya yakin, dengan lebih sering menulis artikel di blog, proses penulisan buku saya juga akan menjadi semakin lancar, dan semoga tahun ini saya bisa menerbitkan satu atau dua buku baru.

Yang terakhir, tahun ini saya juga ingin belajar memproduksi konten Youtube dan Tiktok. Harus diakui, pandemi dan digitalisasi telah membuat cara orang menyerap informasi berubah. Sebagai penulis pun, saya rasa saya harus belajar beradaptasi dengan perubahan ini, dan bergerak ke arah komunikasi gagasan yang multimedia.

Banyak orang tidak suka mengumbar rencana-rencana besar yang sama sekali belum dimulai. Kalau tidak ada yang kesampaian, apa tidak malu? Tapi saya rasa, saya perlu menorehkan resolusi Tahun Baru saya ini dalam kata-kata konkret ini, agar menjadi pengingat bagi diri saya sendiri. Dan juga agar teman-teman pembaca sekalian bisa turut mengingatkan saya, memecut saya, apabila merasa saya telah menjadi kendor.

Semoga tahun ini bisa menjadi tahun yang produktif dan berbahagia bagi kita semua.  

3 Januari 2022

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

5 Comments on Resolusi Tahun Baru

  1. Yeeeey. Sy akan jadi pembaca setia kakak. Ditunggu tulisan tulisannya, Kak.

  2. Selamat datang kembali, selamat pulang ke rumah, Mas Agus.

  3. semoga dimudahkan proses merampungkan penerbitan bukunya mas agust,. hehee selalu semangat nungguin tulisannya

  4. Akhirnya Mas Agustinus ngeblog lagi. Saya suka bukunya, Mas. Baru beli yang Titik Nol, hehehe. Ketagihan beli buku yang lainnya.

    Selamat tahun baru ya, Mas.

  5. Asiik..Sebagai pembaca blog ini saya menantikan update terbaru, Mas. Mendoakan dari Serpong, semoga Mas Agustinus selalu sehat dan bahagia. Saat ini saya maih menyelesaikan Jalan Panjang Untuk Pulang. Kelihatannya isinya tulisan lama semua 🙂 Semoga tahun 2022 penggemarnya Mas lebih banyak dapat tulisan fresh hehehe

Leave a comment

Your email address will not be published.


*