Recommended

Virus yang Mengikatkan Takdir Kita Semua

Beberapa tahun sebelum Covid-19 menjadi momok yang merajalela di seluruh penjuru dunia seperti sekarang ini, saya sudah pernah mengalami getirnya hidup bersama virus corona. 

Di musim semi tahun 2003 itu, kota Beijing yang saya tinggali menjadi episentrum wabah penyakit SARS. Ada virus misterius berbentuk seperti mahkota yang konon menyebar di udara, menyebabkan radang paru-paru aneh yang sangat menular dan sangat mematikan. Menghadapi situasi yang tidak biasa ini, pemerintah Beijing menerapkan kebijakan “isolasi kota”. Perpindahan antar-kota dan antar-provinsi dihentikan total, dan para pendatang dari kota lain harus terlebih dahulu dikarantina selama dua minggu. Penduduk juga dilarang meninggalkan kompleks perumahan masing-masing. Sekolah dan universitas ditutup, transportasi publik ditiadakan, kantor dan toko berhenti beroperasi, kendaraan tidak boleh berlalu-lalang di jalanan. Beijing mendadak menjadi kota mati.  

Hidup dalam karantina selama berminggu-minggu tentu sangat menyiksa, sangat sulit untuk tetap menjaga kewarasan di tengah belenggu yang memenjara kebebasan kita. Namun isolasi yang sangat ketat yang diterapkan oleh pemerintah Cina itu—metode yang kini populer dengan istilah lockdown—terbukti paling efektif untuk menghentikan wabah penyakit baru yang sangat mengerikan itu. Pada musim panas 2003, hanya beberapa bulan sejak merebaknya wabah, pemerintah Cina sudah bisa mengumumkan kemenangan umat manusia atas virus yang menewaskan tujuh ratusan orang itu. Tanpa kasus baru lagi sama sekali, SARS pun menjadi memori.

Berselang hampir tujuh belas tahun kemudian, di kota Wuhan, Cina, kembali merebak penyakit serupa SARS yang disebabkan oleh virus lain yang masih sekeluarga dengan SARS. Virus ini dikenal sebagai “corona baru”, atau novel corona, alias SARS-CoV-2, dan penyakit yang ditimbulkannya kini disebut sebagai Covid-19.

Desas-desus tentang virus baru ini sebenarnya mulai menyeruak sejak akhir tahun 2019, tetapi banyak orang yang menganggapnya sebagai angin lalu. Saya pun termasuk yang tidak terlalu mengkhawatirkan potensi virus ini untuk menjadi ancaman dunia. Waktu itu saya masih percaya, pemerintah Cina yang sudah mengumpulkan banyak pengalaman dari penanganan epidemi SARS, akan sekali lagi mengambil langkah tegas “isolasi total” dan mengalahkan virus itu sebelum sempat menyebar luas keluar negeri, sebagaimana SARS di tahun 2003.

Tetapi saya salah besar. Dunia kita di tahun 2020 ini sangatlah berbeda dengan dunia di tahun 2003. Dunia kita di masa sekarang adalah dunia yang sangat terglobalisasi, di mana negara-negara saling terkoneksi satu sama lain. Orang Cina yang semula sulit keluar negeri karena dianggap miskin dan berbahaya secara ideologis, kini justru sangat disambut kedatangannya dan menjadi tumpuan harapan banyak negara untuk memakmurkan industri pariwisata. Dalam setahun, ratusan juta orang Cina melakukan perjalanan keluar negeri. “Isolasi total” di Wuhan dan Beijing tidak sanggup menghentikan aliran penyebaran virus itu keluar Cina. 

Perpindahan manusia yang tidak terbendung di era pesawat murah dalam dunia yang terglobalisasi juga memperparah keadaan ini. Covid-19 menyebar begitu pesat dan seketika menjadi pandemi global. Dalam tiga bulan saja, penyakit ini sudah menjangkiti lebih dari sejuta orang di hampir semua negara di dunia. Banyak negara yang wabahnya paling parah adalah yang memiliki frekuensi lalu lintas perjalanan internasional yang sangat tinggi. Sebaliknya, negara-negara yang hingga hari ini masih terbebas dari Covid-19 adalah yang sejak awal sudah mengisolasi diri secara total atau memang terisolasi secara geografis, seperti Korea Utara, Turkmenistan, dan Kiribati.

Covid-19 adalah penyakit yang egaliter, yang bisa menyerang siapa saja, mulai dari gelandangan, pedagang kaki lima, pengusaha kaya, atlet, selebriti, menteri, pangeran, sampai kepala negara. Sebagaimana produk globalisasi lainnya, pandemi Covid-19 juga memiliki efek globalisasi yang sama, yaitu membuat kehidupan umat manusia di seluruh penjuru dunia semakin seragam. Tidak peduli orang dari latar belakang bangsa atau agama mana pun di seluruh dunia, semua kini bicara kosakata yang sama: pandemi, WFH, social distancing, physical distancing, lockdown, karantina. Semuanya kini menjadi lebih rajin mencuci tangan dan melindungi wajah dengan masker. Gara-gara Covid-19, semua orang kini menjalani kehidupan yang terbolak-balik. Apa yang dulunya dianggap baik—seperti berjabat tangan, silaturahmi, beribadah massal, berwisata, rapat bisnis—kini dianggap tidak baik. Dan apa yang dulunya dianggap tidak baik—menutupi wajah, mengurung diri, menjauhi kontak sosial—kini justru dianggap sebagai perbuatan mulia.

Covid-19 menimbulkan dampak yang bertentangan dengan arah globalisasi. Satu demi satu negara di dunia mulai menutup total pintu mereka dari pengunjung asing, sebagaimana yang telah dilakukan Korea Utara dari jauh-jauh hari. Orang tidak bisa meninggalkan negaranya sendiri dan tidak bisa memasuki negara lain. Seorang pemegang paspor Italia yang semula bisa mengunjungi 188 negara tanpa visa, karena berbagai pembatasan perjalanan yang diberlakukan di masa pandemi ini, kini tidak bisa lagi bebas pergi ke negara tetangga Spanyol atau bahkan memasuki Vatikan yang ada di dalam kota Roma. Pandemi ini memang seketika membuat semua paspor jadi setara. Seorang pemegang paspor Inggris kini tidak ada bedanya dengan seorang pemegang paspor Afghanistan, sama-sama tidak bisa ke mana-mana.  

Covid-19 juga memorak-porandakan perekonomian semua negara di dunia. Jalanan lengang, kantor dan toko tutup, pesawat batal terbang, hotel kosong, pabrik berhenti berproduksi, jutaan orang kehilangan pekerjaan, daya beli menurun, investasi ambyar. Resesi global sudah di depan mata. Tidak satu pun negara yang tidak babak belur ekonominya karena pandemi ini. Krisis ekonomi yang tidak ditangani dengan baik bisa menjelma menjadi krisis politik dan sosial yang lebih mengerikan.  

Namun di balik segala bencana ini, tentu ada sejumlah hikmah dari pandemi ini. Dengan terkurungnya orang-orang dalam rumah masing-masing, polusi udara di bumi kita ini jauh berkurang. Langit menjadi biru, puncak salju Himalaya bisa terlihat dari ratusan kilometer. Kanal kota Venesia yang biasanya keruh dan mati, kini menjadi biru jernih dan ikan-ikan pun kembali. Perang berhenti, kubu-kubu yang berkonflik meminta gencatan senjata, berita tentang aksi teror pun mendadak jarang terdengar. Mungkin Covid-19 ini adalah cara alam untuk meregenerasi dirinya kembali dari segala perusakan yang telah dilakukan manusia.

Di samping itu, berbagai aturan pembatasan perjalanan dan interaksi sosial membuat orang juga menjadi lebih dekat dengan keluarga atau tetangga sebelah rumah. Dihadapkan dengan kematian yang begitu masif, banyak orang yang kini juga menjadi lebih spiritual, menggunakan kesempatan berhening di rumah untuk mempertanyakan kembali makna hidup dan mereposisi kembali hal-hal yang penting dalam hidup mereka. Pandemi ini juga membuat banyak orang menjadi lebih ilmiah dan lebih peduli terhadap hasil penelitian ilmiah. Para politisi dan pemuka agama yang bicara tanpa dasar ilmiah semakin kehilangan kredibilitas dan semakin ditinggalkan.

Kita yakin, suatu saat nanti (yang kita belum tahu kapan), badai pandemi Covid-19 ini pasti akan berlalu, dan sebagian besar dari kita masih akan bertahan hidup. Namun yang jelas, dunia kita pasca Covid-19 ini tidak akan pernah sama lagi. Banyak hal yang akan berubah permanen dalam hidup kita. Yang paling mencolok adalah cara kita bepergian. Sektor yang paling terpukul dari pandemi ini adalah industri yang berhubungan dengan perjalanan, yaitu transportasi dan pariwisata, yang akan butuh waktu lebih panjang untuk bisa pulih dari trauma. Para penumpang di masa mendatang mungkin akan diminta menunjukkan surat keterangan bebas corona atau vaksinasi corona, sebagaimana surat keterangan vaksinasi yellow fever yang diminta sejumlah negara di masa sekarang. Turis pun akan lebih mempertimbangkan faktor kesehatan dalam memilih destinasi mereka, sehingga negara-negara yang tidak menangani pandemi ini dengan serius jangan berharap akan lekas pulih industri pariwisatanya.     

Pandemi Covid-19 juga membuat negara-negara telah mengambil langkah-langkah yang sangat radikal, yang biasanya tidak mungkin akan dipertimbangkan dalam keadaan normal. Ini akan menjadi semacam eksperimen sosial besar-besaran, yang sangat mungkin membawa revolusi besar dalam kehidupan kita di masa mendatang. Sekolah dan universitas mungkin akan lebih mendayagunakan kelas online daripada tatap muka. Bisnis perkantoran bisa jadi meredup apabila perusahaan menyadari ternyata sistem kerja WFH lebih efisien. Tempat ibadah bisa semakin sepi apabila orang-orang menemukan jalan spiritualitas yang baru di rumah masing-masing. Penggunaan uang kertas bisa mati total jika semua orang dipaksa menggunakan pembayaran digital. Pemerintah mungkin akan menggunakan teknologi pelacakan berdasar gawai pintar dan kecerdasan buatan untuk memata-matai gerak-gerik setiap rakyatnya. Mungkin pula, masker akan menjadi elemen yang tidak terpisahkan dari gaya busana masa depan umat manusia. Apa yang benar-benar akan terjadi, mari kita amati bersama-sama.

Hikmah yang paling positif dari pandemi ini bagi saya adalah membuat kita benar-benar menyadari bahwa di dunia yang terglobalisasi ini, seluruh umat manusia saling terhubung satu sama lain. Di hadapan pandemi ini, nasionalisme sempit tidak akan membantu. Memfitnah pihak lain atau menggaungkan teori konspirasi juga tidak ada gunanya. Negara-negara yang akan terbebas terlebih dahulu dari cekaman pandemi ini adalah mereka yang mau membina solidaritas dan kerja sama dengan negara lain. Negara-negara yang menjadi episentrum pandemi bisa belajar dari resep keberhasilan Cina dan Singapura dalam menerapkan lockdown serta pelacakan pergerakan pasien menggunakan teknologi komunikasi modern. Vaksin yang dikembangkan di Jerman atau Amerika bisa menyelamatkan jutaan orang yang ada di Indonesia. Masker yang diproduksi Korea bisa digunakan untuk melindungi pernapasan orang Eropa. Demikian pula dalam hal ekonomi, negara-negara perlu membangun koordinasi makroekonomi global yang efektif agar dunia tidak terseret ke resesi yang lebih dalam.  

Covid-19 telah menjadi tantangan bersama yang dihadapi seluruh umat manusia. Pandemi ini untuk sementara waktu ini memang terlihat seperti rem yang menghentikan roda globalisasi dunia kita secara mendadak. Tetapi sebagai produk globalisasi, dia tetap mengajarkan hal yang sangat penting tentang globalisasi: bahwa takdir semua umat manusia di bumi ini saling terikat satu sama lain. Kita semua adalah manusia yang sama, di bumi yang sama, bergandeng tangan untuk menghadapi masa depan global yang sama.

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

13 Comments on Virus yang Mengikatkan Takdir Kita Semua

  1. Sukma Pertiwi // April 11, 2020 at 2:44 pm // Reply

    Koko, stay safe yaa. Sini, makan bareng lagi yuk!

  2. well-said. Selali senang baca tulisan dirimu mah. Berfaedah. Semoga sehat selalu ya. Salam dari Riverbrick a.k.a Kalibata 😁

  3. Selalu senang membaca coretan dik agus,moga semua ini cepat berakhir..agar anda bisa melanglang buana lg membagi cerita. .

  4. Ditunggu buku terbarunya ya, Mas 😀

  5. Luar biasa 💖
    Sepertinya ini akan terjadi.
    ahir jaman

  6. J Sumardianta // April 15, 2020 at 12:21 pm // Reply

    Saya telah membaca semua buku Agustinu. Selimut Debu. Garis Batas. Titik Nol. Dua kali saya dan Agustinus pernah kopdar di Jogja. Saya menunggu buku Agustinus tth Sejarah Indonesia yg ditulis dari perbatasan Papua Nugini. Selalu ada kejutan dari Avgustin. Termasuk esainya tth Pagebluk Covid 19.
    Salam Takzim dari Jogja.

  7. jarang nulis sekarang ya, kenapa nggak buat yg pendek2 saja, tapi lebih sering. bila perlu tiap hari 🙂

  8. Selalu ciamik dg data tajam. Awakmu iki perpustakaan hidup, kamus online, dan komputer berjalan

  9. Suka sekali baca tulisan njenengan mas Agustinus. Salam kenal.

  10. Senang sekali membaca tulisan mas Agustinus. Selalu menginspirasi dan menambah wawasan. Terima kasih.

  11. kerja WHF ga seenak keliatannya, koh. Saya malah pernah jadi kerja hingga 11 malam selama WFH

  12. Iya juga, ya. Nanti, bisa-bisa cuma seputar ASEAN, kita mesti vaksin.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*