Recommended

Indonesia

Ikan Makan Ikan

Andai saja Republik Maluku Selatan (RMS) berhasil merdeka, Docianus Ony Sahalessy tentunya akan menjadi pahlawan nasional. Dia pencipta lagu kebangsaan RMS, Maluku Tanah Airku. Sepuluh tahun hidup dia bergerilya di hutan-hutan melawan kepungan tentara Indonesia, demi cita-cita tanah air Maluku merdeka. Kini lelaki 78 tahun itu tinggal di Belanda, hidup bersahaja dengan tunjangan sosial minimum dari pemerintah Belanda. Saya menemuinya di kota kecil Assen, di bagian utara Belanda, dalam sebuah rumah perawatan warga lansia. Sudah dua bulan Bung Ony sakit, baru saja menjalani operasi karena kesehatan semakin memburuk di usia senja. Badannya kecil, bungkuk dan ringkih, langkahnya tertatih-tatih. Suaranya terombang-ambing. Matanya menerawang jauh, terkadang berkaca-kaca, ketika saya, yang datang dari negeri yang pernah dia perangi, mengajaknya menyusuri kenangannya tentang tanah air. Maluku, tanah air Bung Ony, adalah untaian pulau-pulau kecil di bagian timur Indonesia. Dikenal sebagai Kepulauan Rempah, Maluku menghasilkan beragam rempah eksotis yang dulu teramat bernilai di Eropa. Maluku menjadi incaran bangsa-bangsa Barat yang menjelajah samudra, mengawali dominasi berabad kolonialisme Belanda di bentangan kepulauan yang kini kita kenal sebagai Indonesia. Belanda kemudian banyak merekrut serdadu dari Maluku Selatan untuk dibawa bertempur dalam pendudukan di pulau-pulau lain di Indonesia. Saat itu Bung Ony masih kecil. Kakeknya adalah mantan serdadu Belanda, [...]

May 10, 2017 // 8 Comments

Modeling di Negeri Syariat

  “Perempuan itu, semakin dibungkus semakin mulia. Semakin dibuka, semakin murah,” kata Fansari, seorang perancang busana Islami dari Banda Aceh, ibukota provinsi Aceh di ujung barat Indonesia. Fansari membungkus tubuhnya dalam jubah kombor yang mencapai mata kaki, menutup kepalanya dengan kerudung besar yang memanjang ke dada dan pinggul. Dengan pakaian itu, dia seolah bersedia setiap saat mendirikan salat. Fansari mengimani, inilah pakaian paling sempurna untuk memenuhi perintah Tuhan dan menyenangkan Tuhan, sedangkan bagi perempuan yang pakaiannya tidak sempurna—yang dia sebut “berpakaian tapi telanjang”, mengutip perkataan Nabi—tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya. Melihat Fansari hari ini, pada usia 35 tahun, sulit memercayai bagaimana penampilan masa mudanya. Sepuluh tahun lalu, dia peragawati dengan dandanan tebal, model rambut selalu berubah mengikuti tren, memakai baju you-can-see ketat yang menegaskan lekuk payudara dan rok mini yang ala kadarnya menutup selangkangan. Dia juga suka berpesta, minum minuman keras, bergaul dengan para lelaki anggota geng balap motor. Mendeskripsikan masa lalu dari sudut pandang sekarang, Fansari menggunakan satu kata: gila-gilaan. Hidupnya berubah total sejak dia mulai menutup rambutnya dengan jilbab, setelah belajar Islam lebih mendalam dari pengajian. Ajaran Islam tentang kesederhanaan bagi kaum perempuan seketika membuat Fansari merasa dirinya wanita terhormat. Tidak ada lagi laki-laki [...]

April 26, 2017 // 14 Comments

Tersandera oleh Batas

Ketika Wilem Bab, seorang lelaki Papua, menerima bendera merah putih dari sepasukan 50 tentara perbatasan Indonesia yang berpatroli ke kampungnya, dia bingung. Para tentara itu menyuruhnya mengibarkan bendera itu di kampungnya, karena, mereka bilang, ini tanah Indonesia. Wilem adalah lelaki tertua di kampung Digo, yang terletak di tengah hutan rimba, pada perbatasan antara Indonesia dan Papua Nugini. Orang Melanesia berkulit hitam itu baru berumur 39 tahun, tetapi kerut-kerut di wajah membuatnya terlihat seperti 60 tahun. Kabar Wilem menerima bendera Indonesia itu langsung menyebar ke desa-desa Papua Nugini di sekitar. Ketakutan mencekam: Indonesia akan jajah kita. Mereka marah, mendesak Wilem segera kembalikan bendera itu ke Indonesia. Perjalanan menuju pos tentara Indonesia di desa Indonesia terdekat tidak mudah—Wilem jalan kaki dua hari, menginap semalam di hutan rimba, menyeberangi empat sungai kecil plus tiga sungai besar, deras, sedalam kepala. Di hutan ada ular, di sungai ada buaya. Sampai di sana, dia lihat dunia yang sama sekali berbeda: desa Indonesia diterangi listrik, dihuni orang Asia berkulit lebih terang. Tapi dia gagal. Tentara Indonesia bersikukuh dia harus menyimpan bendera itu. Mereka bilang, “Kami tahu kalian orang Papua Nugini. Tapi, kalian tinggal di wilayah Indonesia. Bendera ini untuk keamanan kalian.” Wilem tidak pernah merasa dirinya tinggal [...]

April 21, 2017 // 5 Comments

Ayahku dan Laut

Pertama kali aku melihat laut adalah saat umurku lima tahun, ayahku membawaku berhadapan dengan Samudra Hindia. Kami tinggal di pesisir selatan Pulau Jawa, menyebutnya sebagai Laut Selatan. Matahari baru merangkak naik, ombak terus bergemuruh menabrak bongkah batu karang di pantai. Kaki kami menapaki pasir hitam yang dibilas ombak, ayahku menunjuk ke garis cakrawala. Di balik garis itu, dia bilang, ada sebuah dunia yang sama sekali berbeda. Australia. Jika kau berenang terus ke selatan, kau akan tiba di Australia. Tapi, Laut Selatan tidaklah mudah diseberangi. Setiap tahun, selalu ada korban. Orang berenang, nelayan, penumpang kapal, bahkan pengunjung pantai yang mencelupkan kaki di air pun bisa terseret arus. Menurut legenda Jawa, ayahku bercerita, ganasnya laut ini adalah karena di dalamnya bersemayam Sang Ratu Laut Selatan, yang selalu mencari jiwa untuk dibawa ke istananya di dasar laut. Aku mempererat genggamanku pada tangan Ayah. Ayah tertawa, mengejekku sebagai pengecut. Jauh di lubuk hatiku, aku bermimpi menjadi ikan yang bebas mengarungi samudra luas, dari negeri ke negeri, dari benua ke benua. Tapi masa kecilku justru terpasung di dalam kamar. Aku takut keluar rumah. Aku takut ketika orang-orang di luar mengolok-olokku karena mata sipitku dan kulit kuningku. “Cina! Cina!” Saat itu aku sering bertanya: siapa diriku [...]

April 6, 2017 // 17 Comments

Matinya Agama Tua

Perempuan tua itu seperti pengantin yang ketiduran. Bajunya merah menyala bersulam benang emas. Kedua pergelangan tangannya dilingkari gelang kebesaran peninggalan ratusan tahun, berupa piringan emas selebar kepala manusia, cemerlang bagai matahari di saat fajar. Warna-warna penuh gairah membalut sekujur tubuhnya, dari kepala hingga ujung kaki. Tetapi tubuh itu tak akan pernah bergerak lagi. Matanya yang terpejam itu juga tidak akan pernah membuka lagi. Perempuan tua 90 tahun itu, sejak tiga hari lalu, mati. Seorang anak perempuan dari nenek itu, alih-alih berduka bersimbah air mata, tersenyum mengundang saya masuk, “Mari. Mari makan bersama Nenek.” Saya susah payah memanjat dan merangkak memasuki pintu yang berupa lubang jendela selebar pinggang. Di dalam ruangan rumah kayu yang sempit beraroma sejarah itu, para kerabat duduk berdesakan di sekeliling mayat duduk sang nenek. Anehnya, sama sekali tidak terlihat air mata. Mereka, sambil menyantap nasi jagung yang keras dan hambar, berulang kali memandangi mayat yang wajahnya mulai mengembang itu, berujar, “Nenek sungguh cantik. Sungguh cantik.” Beberapa kerabat juga mengambil gambar dengan telepon genggam, dari diri mereka yang berdiri berdampingan atau bahkan sambil memeluk mayat itu. Bagi pemeluk agama tua Toraja di pegunungan terpencil di pedalaman Sulawesi, putusnya napas belum otomatis berarti mati. Hingga kemarin, sang nenek dianggap [...]

April 5, 2017 // 40 Comments

[Xingli]行李︱Agustinus:如果一个国家由17000个岛屿组成,还有什么事不能发生?

An interview with a Chinese media on the diversity of Indonesia. It was an in-depth interview, for more than 3 hours by phone (!). Here I talked about my experience and coming project on Indonesian nationalism. I discussed about the South Mollucan Republic movement, Papuan issues, Sharia Islam implementation in Aceh, the traditional religion of Toraja, the Javanese diaspora community of Suriname, the tourism history of Bali, the Dutch colonialization history, the religion policies of Indonesia, until my experience living as Chinese-ethnic in Indonesia. After the interview, I realized that the project I’m doing now is indeed very huge, very challenging, but at the same time, colourful and enlightening, as I also got much deeper in learning about my own country, my nation, and myself. Xingli 2017-03-24 07:14   这是Agustinus Wibowo的第二篇访谈,第一篇详见:【在阿富汗的3年里……】一个印尼作家,一直被祖辈告知他是中国人,但是当他19岁终于“回到”中国时,却被当做外国人,他第一次困惑自己的身份:我是中国人还是印尼人吗?他决定寻找印尼人的故事。而印尼人的故事,和17000多个岛屿有关,和400多座火山、700多种语言、300多个民族有关,也和各种闹独立的故事有关——有的在边境上闹,有的在海外闹;而作为华人,印尼人的故事当然还和无数次排华事件有关…… 行李&Agustinus Wibowo [...]

March 31, 2017 // 7 Comments

Moengo, 17 Desember 2016: Sarijo Moeljoredjo, Imigran Jawa Terakhir di Moengo

Gurat tulang-belulang tampak jelas di sekujur tubuh renta Sarijo Moeljoredjo. Tetapi matanya masih bersinar cemerlang, gerakan tubuhnya cekatan. Pada usia menginjak 96 tahun ini, Mbah Sarijo (baca: Saryo) setiap hari masih bekerja di kebun pisang di belakang rumah. Sehari-hari pun dia kuat bersepeda keliling kota. Tetapi yang luar biasa, ingatannya masih sangat tajam manakala dia mengurai setiap detail perjalanan hidupnya. Dialah orang tertua sekaligus saksi hidup terakhir di kota Moengo, satu dari 32.962 orang Jawa yang pernah diangkut dengan kapal oleh Belanda ke Suriname. “Aku lahir di Desa Puluan,” kata Mbah Sarijo memulai kisahnya, “Itu ada di Negara Jawa. Tetapi aku tak tahu pasti di mana itu.” Mbah Sarijo bercerita dalam bahasa Jawa Ngoko yang kental, bercampur banyak kosakata Belanda dan Sranan Tongo (bahasa kreol Suriname). “Sebelum berangkat, Pak dan Mak-ku pisah, aku ikut Pak, mbakyuku ikut Mak. Pak-ku dulu kerja susah, di kebun, tidak ada kerja, tidak ada uang. Setahun itu kerja cuma tanam tebu dan padi, disuruh Belanda,” lanjutnya. Karena kemiskinan dan impian untuk hidup lebih baik, bapaknya yang bernama Moeljoredjo itu memutuskan untuk menjadi pekerja ke Suriname, dengan membawa istri baru dan anak lelakinya. Berdasar informasi dalam basis data Arsip Nasional Belanda, saya menemukan bahwa Sarijo lahir [...]

December 23, 2016 // 45 Comments

Den Haag, 24 November 2016: Djainem Moeridjan, Dukun Jawa di Belanda

Sudah hampir 30 tahun orang Jawa bermigrasi dari Suriname ke Belanda. Seiring waktu, tradisi Jawa semakin memudar, perlahan menghilang. Tidak banyak lagi dukun Jawa yang masih bisa melakukan ritual sebagaimana diwariskan leluhur turun-temurun. Tak heran, walaupun Mak Djainem Moeridjan sudah berusia 83 tahun, dia masih sibuk bepergian dari kota ke kota di seluruh penjuru Belanda untuk memenuhi panggilan. Dengan jadwal praktik yang begitu padat, cukup sulit membuat janji temu dengan Mak Djainem. Beruntung, dengan bantuan Ibu Hariette Mingoen—seorang aktivis diaspora Jawa Suriname, saya berhasil menemui Mak Djainem di kompleks apartemen khusus warga lanjut usia Jawa Suriname yang dinamai Wisma Tunggal Karso. Saya langsung merasakan keramahan khas Jawa begitu Mak Djainem membuka pintu rumahnya—kalimat pertamanya adalah permohonan maaf. “Jangan jadi penggalih kalau rumahku agak kotor,” katanya dalam bahasa Jawa Ngoko yang sangat kental. Kisah hidup Mak Djainem berasal dari tanah Jawa. Ayahnya saat itu masih perjaka, sedangkan ibunya semula adalah seorang istri yang sudah punya anak dua. Pada 15 Oktober 1918, mereka bersama-sama naik Kapal Karimata, sebagaimana hampir 600 penumpang yang lain, berangkat dari Semarang menuju Paramaribo, Suriname. Mereka di kapal yang sama, tetapi tidak saling mengenal. Ayah Mak Djainem sebenarnya bernama Satirin, 21 tahun, berasal dari Ngadiluwih, Kediri, naik kapal [...]

December 20, 2016 // 16 Comments

Groningen, 26 November 2016: Kisah Maluku di Negeri Belanda

Lelaki Maluku itu berdiri di atas panggung. Dengan suara bergetar, dia mengisahkan sebuah memori mengerikan tentang pamannya—seorang tentara KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) dari Maluku yang ikut aksi militer Belanda tidak lama setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Pamannya itu, saat itu adalah tentara muda berusia 18 tahun yang menjadi anggota korps elit Baret Hijau di bawah komando Raymond Westerling. Soal kekejaman Westerling dalam pembantaian ribuan orang di Sulawesi pada tahun 1946-1947 itu sudah menjadi pengetahuan umum. Pasukan mereka menyerang desa-desa, membunuhi semua yang ada: laki-laki, perempuan, tua, muda, anak dan bayi, bahkan semua ayam dan sapi, dan setelah itu mereka membumihanguskan desa. Sang paman, sebagai tentara yunior, mendapat ujian dari para senior. Di hadapannya satu orang Indonesia duduk berlutut dengan tangan terikat. “Tebas kepalanya!” perintah komandan, sambil menyerahkan kelewang. Tentara muda itu mengacungkan kelewang, tangannya bergetar hebat, tak sanggup dia mengayunkan kelewang itu. Tetapi, dikelilingi para komandan, dia tak punya pilihan. Trauma itu dibawa sang paman hingga ke masa tuanya. Di Belanda, ketika traumanya bangkit, dia berhalusinasi bahwa orang-orang Indonesia datang menyerangnya. Dia berteriak-teriak sendiri di kamar atas, menenggak alkohol, menaruh semua parang di depan pintu. Dia berteriak pada istri dan anak-anaknya, “Jangan naik! Ikan makan ikan!”—saudara bisa bunuh saudara. Ini [...]

December 3, 2016 // 6 Comments

Leiden, 20 November 2016: Diaspora Jawa Suriname Menyoal Makna Menjadi Jawa

“Apakah yang menjadikan Anda orang Jawa?” Pertanyaan itu diajukan pembawa acara kepada Johan Reksowidjojo, pemimpin Forum Javanen in Diaspora Nederland (JID-NL), atau Forum Orang Jawa dalam Diaspora di Belanda. Lelaki paruh baya itu terhenyak. Rupanya dia tidak menduga akan ditembak pertanyaan yang menohok itu, tepat setelah dia selesai membacakan sambutan pembukaan pada acara diskusi Identitas Orang Jawa (Suriname): Antara Pelestarian dan Pembaharuan. Merenung sejenak, sambil tertawa terkekeh Johan akhirnya menjawab, dia menjadi Jawa karena orangtuanya adalah orang Jawa, dia makan makanan Jawa, dan dia hidup secara orang Jawa. Tetapi, cukupkah itu untuk membuat seseorang menjadi Jawa? Acara diskusi ini digelar di Museum Volkenkunde, Leiden, dihadiri lima puluhan warga keturunan Jawa Suriname, di samping beberapa orang Belanda berkulit putih. Secara fisik, orang Jawa Suriname sangat mirip dengan orang-orang Jawa di Indonesia. Mereka berkulit cokelat terang hingga cokelat gelap, berpostur relatif pendek, beberapa memakai kopiah atau kebaya. Tetapi bahasa yang digunakan sepanjang acara hampir seluruhnya bahasa Belanda, sesekali diselingi kalimat-kalimat bahasa Jawa. Mereka ada karena migrasi. Pada akhir abad ke-19, Belanda mulai mengirimkan orang-orang Jawa ke Suriname untuk menjadi pekerja di perkebunan. Kebanyakan mereka, laki-laki maupun perempuan, sama sekali tidak tahu akan dibawa ke mana mereka. Mereka ditipu, bahwa mereka akan dibawa [...]

November 30, 2016 // 8 Comments

Amsterdam, 8 November 2016: Rumah Gamelan di Negeri Belanda

Hujan rintik di malam dingin bulan November di Amsterdam. Tetapi itu tidak menyurutkan niat lima belas orang dari berbagai bangsa ini untuk berlatih memainkan orkestra tradisional Jawa. Di antara mereka ada Ivy, seorang perempuan paruh baya Cina Suriname yang telah bermain gamelan selama 20 tahun. Dia piawai memainkan slenthem, instrumen tetabuhan berupa barisan lembaran logam tipis yang menghasilkan dengungan rendah. Matanya setengah terpejam dan kepalanya bergoyang-goyang lambat, manakala tangan kanannya mengayunkan pemukul, dan tangan kirinya me-matet, atau menahan getaran lembaran perunggu agar suara yang dihasilkan tetap terkontrol. Sedangkan Ruth Jaeger yang berasal dari Köln di Jerman rela datang jauh-jauh ke Amsterdam setiap Selasa untuk berlatih gamelan. Di negaranya sendiri memang ada grup gamelan, tetapi dia menemukan permainan di Amsterdam ini lebih bervariasi dan menantang. Di sini, dimainkan gending yang cepat maupun lambat; yang mudah seperti Menthog-Menthog sampai yang sulit seperti Palaran, yang menuntut kerja sama tingkat tinggi antara vokal, kendang, ketuk kenong, dan gong. Ada pula Gabriela, yang kecintaannya terhadap gamelan berawal dari kebiasaan. Rumah wanita asli Belanda itu berada di dekat Het Gamelanhuis—tempat grup gamelan ini berlatih—dan sejak lama dia sering mendengar dengung alunan orang berlatih gamelan, yang begitu magis terus bergema sampai ke alam mimpinya. Itu membuatnya tertarik [...]

November 22, 2016 // 6 Comments

Agustinus Wibowo in Ubud Writers & Readers Festival 2016

This is my schedule for this year’s awaited literary festival, UWRF 2016. I have got quite a busy schedule, but I am really excited to see you all there. And I really love this year’s theme: “I am you, you are me“.   Live Music & Arts: Pecha Kucha http://www.ubudwritersfestival.com/program/pecha-kucha/ 26 Oct 2016 20:30 – 22:00 After Dark / Live Music & Arts IDR 75,000 Betelnut . Jl. Raya Ubud (Google Maps) Ignite your ideas with a fast and furious Pecha Kucha night at Betelnut. Brave Festival artists step out on stage to share what they’re passionate about in the 20×20 format: 20 images, 20 seconds each. Tickets available at the door. Featuring: Agustinus Wibowo, Emmanuela Shinta, Madelaine Dickie, Mayank Austen Soofi, Melizarani T Selva, Yassmin Abdel-Magiied Book Launch: Zero: When Journey Takes You Home http://www.ubudwritersfestival.com/program/zero-journey-takes-home/ 27 Oct 2016 16:30 – 18:00 Book Launches / Free Events Free Rondji Restaurant. Jl. Raya Campuhan (Google Maps) After 10 years, the traveller returns home and comes face-to-face with one reality he has always feared: his mother is on the brink death. He recounts his journey, page after page, to his dying mother who has barely ever left their little village in Java. [...]

October 23, 2016 // 0 Comments

Benkim 25 Oktober 2014: Patok Batas Negeri

Sudah dua bulan lebih saya melakukan perjalanan yang sangat berat secara mental dan fisik menyusuri perbatasan RI—PNG. Saya bahkan sudah beberapa kali melintasi perbatasan, masuk ke Indonesia dan kembali lagi ke Papua Nugini secara ilegal. Tetapi belum pernah sekali pun saya menyaksikan garis perbatasan itu berwujud gamblang di depan mata saya. Yang saya lihat hanya hutan rimba dan gunung, sungai atau rawa. Keinginan saya begitu menggebu. Saya berteguh hati berkata pada Papa Felix, “Apa pun yang terjadi, saya mau lihat patok perbatasan itu!” Tepat di antara Digo dan Binkawuk terdapat satu desa bernama Benkim. Di sinilah terdapat salah satu dari seratusan patok penanda perbatasan yang berderet sepanjang 740 kilometer perbatasan darat antara RI dan PNG. Perjalanan dari Digo dan Tarakbits sebenarnya bisa lewat Benkim, sedikit lebih jauh dan memutar daripada rute “jalur pintas” yang berupa garis lurus melintasi hutan yang kami ambil waktu datang ke sini. “Perut saya sakit,” kata Papa Felix, “Saya cuma ingin cepat-cepat pulang ke Binkawuk. Kalau lewat Benkim nanti malam baru kita sampai Binkawuk.” “Tetapi melihat patok itu penting bagi saya,” kata saya. Saya menjanjikan sedikit uang kepadanya. Papa Felix bilang pikir-pikir dulu, lihat keadaan nanti. Pagi itu juga, setelah menyantap pisang rebus (semua pisang masih [...]

October 18, 2016 // 10 Comments

Digo 24 Oktober 2014: Sekolah Papua Nugini di Indonesia

Pagi yang dingin, sekujur punggung saya pegal karena semalaman tidur di atas bilah kayu lantai gubuk yang renggang-renggang. Saya terbangun oleh sayup-sayup suara anak-anak menyanyikan lagu kebangsaan Papua Nugini dengan nada sumbang di kejauhan. O arise all you sons of this land,     Let us sing of our joy to be free,     Praising God and rejoicing to be     Papua New Guinea. Saya sedang berada di Digo, sebuah kamp yang dihuni para pengungsi OPM (Organisasi Papua Merdeka) dari wilayah Papua Indonesia yang melarikan diri ke wilayah Papua Nugini pada tahun 1984. Tetapi banyak penduduk sini yang tidak menyadari bahwa Digo sebenarnya berada di wilayah Indonesia, bukan di Papua Nugini. Letak Digo adalah sekitar 5 kilometer di barat garis perbatasan lurus antara kedua negara. Bagaimana lagu kebangsaan Papua Nugini bisa dinyanyikan di wilayah Indonesia? Saya bergegas menuruni tangga rumah panggung, berlari menuju gedung sekolah. Di kamp pengungsi ini, semua dari 40an rumah panggung yang ada terbuat dari bahan-bahan hutan, yaitu kayu, kulit pohon sagu, dan daun sagu, sedangkan sekolah yang terletak di tengah lapangan bertanah merah itu dindingnya terbuat dari seng. Seng—yang bahannya harus dibeli dari pasar di kota, minimal dua hari perjalanan dari sini—sudah terbilang sangat mewah untuk kehidupan [...]

October 17, 2016 // 4 Comments

Digo 23 Oktober 2014: Takut Bendera Merah Putih

Saya sebenarnya sudah berada di Indonesia, atau sekitar 5 kilometer di sebelah barat garis lurus yang menjadi perbatasan RI—PNG. Inilah Digo, sebuah kamp yang dihuni para pelarian West Papua, bagian gerakan pengungsian akbar Organisasi Papua Merdeka (OPM) ke Papua Nugini pada tahun 1984. Mereka melarikan diri dari Indonesia, tetapi mereka tidak sadar bahwa mereka masih berada di Indonesia. Setelah seharian berjalan menembus hutan lebat, naik turun bukit, menyeberangi begitu banyak sungai dan rawa dan lautan lumpur, saya dan Papa Felix tiba di Digo. Kamp ini terletak di atas bukit hijau. Rumah-rumah gubuk berpanggung bertebaran di atas tanah lapang berwarna merah. Semua rumah di sini terbuat dari bahan hutan: kayu pohon yang masih kasar dan atap dari daun sagu. Kejauhan di bawah bukit sana, terlihat Sungai Ok Ma, yang hulunya di wilayah Indonesia, tetapi mengalir ke arah Papua Nugini, dan akan bergabung dengan Sungai Ok Tedi dan Sungai Fly. Anak-anak bertelanjang bulat atau bertelanjang dada berlarian di lapangan, beberapa bermain egrang, dengan tubuh kurus dan perut buncit kekurangan gizi. Beberapa bocah itu juga menderita kurap yang sangat parah, di badan maupun di kepala. Bocah-bocah itu juga mengganggu para babi kurus dan para anjing kerempeng, yang menguik memelas dan menggonggong berlari dikejar-kejar [...]

October 14, 2016 // 3 Comments

Digo 22 Oktober 2014: Menuju Kamp OPM di Wilayah Indonesia

Tujuan saya datang ke sini adalah untuk mengunjungi sebuah kamp pengungsi OPM (Organisasi Papua Merdeka). Kamp itu terletak di tengah hutan rimba, dan saya akan harus menyeberangi sungai-sungai yang berbahaya. Lebih aneh lagi, kamp itu ternyata terletak di dalam wilayah Indonesia! Hujan yang mengguyur Tarakbits seharian tak kunjung reda, saya mulai gelisah. Saya tidak ingin menghabiskan waktu terlalu lama di desa ini. Tetapi dengan cuaca begini, dan tanpa pemandu, saya tak mungkin bisa mencapai tempat itu. Sore sekitar pukul 15, hujan mengecil, lalu berhenti. Kepala sekolah Stanis Angoro berlari tergopoh-gopoh ke rumahnya—tempat saya menginap—untuk menyuruh saya berkemas. “Cepat, ada dua murid dari desa Binkawuk mau pulang ke desa mereka. Kamu ikut mereka. Sampai di sana, kamu cari orang yang bisa antar kamu sampai ke Digo,” katanya. Binkawuk adalah sebuah desa yang jauh lebih kecil daripada Tarakbits, katanya hanya satu jam perjalanan saja. Tetapi sungguh saya tidak menyangka, perjalanan yang bagi orang-orang sini paling mudah, justru telah membuat saya babak belur. Sekitar sepuluh menit kami berjalan meninggalkan Tarakbits, tiba-tiba hujan turun lagi dengan begitu derasnya. Tanpa payung, saya harus menaruh tas punggung saya di balik jaket. Lagi pula, jalanan di daerah ini berbukit-bukit, mendaki sangat curam lalu turun dengan curam, di [...]

October 13, 2016 // 5 Comments

Kiunga 2 Oktober 2014: Membujuk Pengungsi Papua Merdeka untuk Pulang

Di wilayah Western Province, Papua Nugini, yang berbatasan dengan Indonesia, masih banyak tinggal para pengungsi dari Papua. Mayoritas dari mereka adalah pendukung gerakan Papua Merdeka. Kini Indonesia membuka pintu bagi mereka untuk pulang ke kampung halaman. Tetapi bagi mereka, ini bukan masalah semudah mengatakan ya atau tidak. Kebetulan pada saat saya berada di Kiunga, datang rombongan dari Konsulat Jenderal Indonesia di Vanimo bersama Pemerintah Provinsi Papua untuk bertatap muka dengan para pengungsi Papua yang tinggal di kota itu. Delegasi pemerintah Indonesia berupaya membujuk para pengungsi untuk pulang. Sesudah pertemuan itu, rombongan pemerintah Indonesia mendatangi ke Gereja Katolik, yang selama ini menaungi sebagian besar pengungsi dari Papua. Saya diundang seorang pastor dari Flores untuk ikut pertemuan di Gereja. Pertemuan dihadiri oleh sejumlah anggota Gereja dan warga pengungsi Papua. Kepada Uskup Gereja, Konsul Jendral Indonesia, Jahar Gultom dengan penuh semangat mengatakan bahwa pertemuan dengan para pengungsi tahun ini cukup memuaskan. “Tahun lalu poin mereka hanya satu. Hanya Merdeka,” katanya, “Tapi kemarin ada banyak warga yang bertanya tentang pemulangan. Ada pula yang berkomentar, ‘Saya tidak tahu saya ini siapa, apakah saya orang Papua Nugini atau orang Indonesia.’” Para pengungsi adalah orang tanpa identitas. Sebagian besar pengungsi bermigrasi dari Indonesia ke Papua Nugini pada [...]

April 13, 2016 // 10 Comments

Terorisme Tidak Punya Agama—Benarkah?

Awal tahun lalu Paris dikejutkan dengan penembakan keji di kantor koran satir Charlie Hebdo, yang sering menerbitkan karikatur yang mengolok-olok Islam (di samping Kristen, Yahudi, dan berbagai kelompok lain di dunia). Pada November tahun yang sama, Jumat tanggal 13, Paris kembali diguncang ledakan bom simultan dan penembakan di sejumlah kafe, restoran, sebuah teater, menewaskan setidaknya 130 orang. Pelakunya adalah para radikal Muslim yang berkaitan dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Kemudian giliran Belgia, minggu lalu mengalami aksi teror paling mengerikan dalam sejarahnya: dua bom meledak di bandara Brussel dan satu bom di stasiun metro, menewaskan setidaknya 38 orang. ISIS juga mengaku bertanggung jawab untuk serangan ini. Berbeda dengan masa dahulu, aksi teror tidak dilakukan oleh orang asing. Para teroris dalam serangan di Paris dan Belgia adalah warga Eropa sendiri, generasi keturunan migran Muslim yang lahir dan besar di Eropa. Itu salah kalian sendiri. Begitu komentar Donald Trump, calon presiden Amerika dari Partai Republik terhadap insiden teror di Brussel. Trump sebelumnya sempat meneriakkan ide “gila” bahwa dia akan melarang semua pengunjung Muslim dari negara-negara Muslim (termasuk Indonesia) masuk ke Amerika Serikat, demi melindungi keamanan AS dan rakyat AS. Mayoritas warga Amerika tidak setuju dengan ide Trump ini, tetapi tidak sedikit [...]

April 11, 2016 // 66 Comments

Kiunga 30 September 2014: Benderamu Menghalangi Matahariku

Sudah hampir 30 tahun John Wakum tinggal di Papua Nugini. Dia adalah salah satu orang yang paling dihormati kalangan masyarakat pengungsi Papua Barat di kota ini. Dia seorang aktivis OPM (Organisasi Papua Merdeka). Tiga puluh tahun sejak dia datang ke negeri ini, impiannya masih sama: Papua harus merdeka dari Indonesia. Lelaki 67 tahun ini kurus kering. Jenggot putih tebal menyelimuti janggutnya. Syal melingkar di lehernya. Dia terus terbatuk, mengaku sudah dua hari dia tidak bisa turun dari ranjang, dan baru hari ini dia bisa keluar menikmati matahari. Kami duduk di beranda rumahnya yang terbuat dari kayu. Di dalam rumah itu, tepat di hadapan pintu masuk, terpampang sebuah bendera besar dengan lambang bintang dan garis-garis putih biru. Itu bendera Bintang Kejora. Bendera Papua Merdeka. John Wakum berasal dari Biak, menuntut ilmu tata negara di Universitas Cendrawasih. Pendidikan tinggi yang ditempuhnya di Indonesia justru membuatnya selalu bertanya kenapa negerinya masih juga terjajah. Dia pernah menjadi kepala bagian sebuah badan pembangunan, sehingga dia bekerja ke daerah-daerah terpencil dan rawan di pedalaman Papua. Misalnya di Asiki, dia bekerja pada proyek pengasapan karet dan di Nabire untuk pembuatan sagu. Selama bekerja di pedalaman Papua, dia terus menanamkan pemahaman tentang kemerdekaan terhadap orang-orang Papua yang ditemuinya. [...]

March 16, 2016 // 17 Comments

Dari Frankfurt ke Ubud—Jalan Panjang Kebebasan Sastra Indonesia

Hanya beberapa pekan silam, dunia sastra dan perbukuan Indonesia merayakan sebuah momen bersejarah: Indonesia didapuk menjadi tamu kehormatan Frankfurt Book Fair 2015. Ini adalah ajang pameran buku tertua dan terbesar di dunia. Pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Anies Baswedan pada pembukaan pameran itu, 13 Oktober 2015, jelas menyiratkan optimisme atas keberhasilan yang telah dicapai Indonesia, terutama dalam hal demokrasi dan “memanajemen perbedaan”. “Inilah negeri dengan 17.000 pulau, 800 bahasa, 300 tradisi lokal,” kata Anies, “Berabad-abad, melalui perdagangan atau diplomasi, perang atau damai, keanerakagaman itu belajar untuk hidup bersama.” Karena itu, dia mewakili Indonesia “mengajak Eropa dan Dunia ke dalam sebuah percakapan yang lebih luas. Terutama di masa ini, ketika Eropa menemukan apa yang di Indonesia kami sebut sebagai “ke-bhineka-an”, keanekaragaman ekspresi dan cara hidup.” Sementara pada hari yang sama, ribuan kilometer jauhnya di Jakarta, puluhan massa justru menggelar unjuk rasa di depan Kementerian yang dipimpin Anies. Mereka menuding adanya agenda gelap yang dibawa Anies dalam ajang Frankfurt Book Fair, karena delegasi yang dibawa disusupi pembahasan dan pameran peristiwa kasus G30S/PKI 1965. Frankfurt Book Fair adalah ajang bisnis perbukuan terbesar di dunia Leila Chudori bicara di The Blue Sofa Sejumlah penulis dalam rombongan besar delegasi yang dibawa Indonesia ke Frankfurt [...]

October 30, 2015 // 8 Comments

1 2