Recommended

Australia

Detik: Agustinus Wibowo: Australia Negara Santai Tapi Taat Hukum

Jumat 10 Mar 2017, 17:25 WIB Australia Plus ABC – detikNews Perth -Agustinus Wibowo, penulis perjalanan dan fotografer asal Indonesia baru-baru ini hadir di Festival Penulis di Perth (Australia Barat). Penulis yang dikenal menguasai banyak bahasa ini berbicara dengan wartawan ABC Sastra Wijaya mengenai apa yang dibicarakan di Perth, pandangannya mengenai Australia dan buku terbaru yang sedang ditulisnya. Anda diundang di Perth Writers Festival, apa yang Anda bicarakan di sana? Saya tampil dua kali di Perth. Sesi pertama disebut Nomadic Lives (Kehidupan Nomadic (Berpindah-pindah). Saya tampil bersama penulis terkenal Australia Tim Cope, yang menghabiskan waktu tiga tahun mengendarai kuda berkelana dari Mongolia ke Hongaria di Eropa. Jadi kami terlibat dalam kehidupan nomadic dalam perjalanan kami. Di tahun 2005, saya memulai perjalanan ” Grand Overland Voyage”, melakukan perjalanan selama empat tahun, dimulai dari ibukota China, Beijing, dengan harapan bisa mencapai Afrika Selatan, tanpa melewati laut. Saya tidak menyelesaikan perjalanan tersebut, karena saya akhirnya tinggal di Afghanistan selama hampir tiga tahun. Salah satu pertanyaan menarik yang kami diskusikan di panel tersebut adalah apakah kita bisa menyebut diri kita nomad modern. Dalam pandangan saya ada perbedaan besar antara kehidupan nomadik dengan melakukan perjalanan. Bagi orang luar, para nomad ini sering dilihat sebagai ‘orang [...]

March 31, 2017 // 2 Comments

Australia Plus: 翁鸿鸣–华裔印尼旅行作家的中国情愫

Interview with Australia Plus on Perth Writers Festival, Chinese Version http://australiaplus.cn/in-person/翁鸿鸣-华裔印尼旅行作家的中国情愫 翁鸿鸣(Agustinus Wibowo)是一位旅行作家和摄影师,来自印度尼西亚。近日他参加了在西澳州首府珀斯举行的作家节。翁鸿鸣被视为印尼旅行文学一个新流派的先锋,他的故事让读者能体验他的亲身经历以及精神和情感的旅程。澳洲佳与翁鸿鸣进行了访谈。 你在珀斯作家节上讨论了什么话题? 我参加了两场讨论,第一场是与澳大利亚著名的探险家与旅行作家蒂姆·蔻普(Tim Cope)一起进行题为“游历生活”的讨论。 我与蒂姆一起讨论的其中一个有趣问题是我们是不是会自称为现代游牧一族。 我的观点是,游牧与为了自己进行的旅行有巨大差别。 游牧族一年内迁徙多达四次(跟随季节的转变),但是他们在春天、夏天、秋天以及冬天都有固定的牧场。他们仍然受到边界的限制,国际上的或者传统上的限制,而且他们游牧的目的是为了生存。 相比之下,一个现代旅行者在选择去哪里以及为何去都拥有多得多的自由。 我参加的另一场讨论叫“这个被称为家的地方”,一同参加的还有尼日利亚的诗人因努瓦·爱拉姆斯(Inua Ellams)以及南非的活跃人士斯桑克·姆希曼(Sisonke Msimang)。 [...]

March 31, 2017 // 0 Comments

Perth Writers Festival: Meet Travel Author Agustinus Wibowo

Perth Writers Festival To say that Indonesian travel writer and photographer Agustinus Wibowo has a passion for adventure and linguistics is an understatement – he has spent most of his life travelling to the far reaches of the world and currently speaks 16 languages. In his latest book Zero, his travels bring him home to spend time with his dying mother, a woman who lived her entire life in one small village. Read more about this incredible author before his PWF sessions Nomadic Lives and This Place Called Home. For those who haven’t read it, what is your latest book Zero about? Zero is my story of homecoming. After ten years wandering the world, I had to go home, to face the reality of my home. My mother was on the brink of death, as cancer ravaged her body. The only thing I could do was sit next to her, reading my travel notes from faraway lands – China, Nepal, India, Pakistan, Afghanistan. Just like Scheherazade who reads through one thousand and one tales over as many nights, I wished that every story may prolong her life for one day. Along with these stories, my mother finally found a voice [...]

February 22, 2017 // 7 Comments

[Kimberley Echo]: Region tantalises travel writer

An article in a local Kimberley newspaper on the fabulous Kimberley Writers Festival, Kununurra, Australia, 2-4 September 2016 Rourke Walsh Indonesian travel writer Agustinus Wibowo likes to immerse himself in the culture of a region before putting pen to paper. Having travelled extensively through Asia for his first three books, he said the “magical and exotic beauty” of the Kimberley could bring him back and feature as the subject of a future work. The writer was one of several authors and playwrights in Kununurra for the 11th annual Kimberley Writers’ Festival at the weekend. Wibowo’s travels include hitchhiking his way across Asia for 18 months on a shoestring budget of $US2000 before spending more than a year living in war-torn Afghanistan. He said before the weekend, he knew little of the Kimberley, despite its relative closeness to his homeland. “The Kimberley is so close to Indonesia, it’s actually closer than it is to Perth,” he said. “The landscape is fabulous and for me there is a magical and exotic beauty about it.” Wibowo said while this was unfortunately just a flying visit before jetting back to Jakarta for other commitments, the Kimberley had left a lasting impression on him. “I [...]

September 30, 2016 // 3 Comments

Papua Nugini (3) Ketika Era Prasejarah Bertemu Globalisasi : Perbatasan Segitiga

Draft artikel menengai Papua Nugini untuk majalah Traveler 旅行家, China. Dauan, Australia (AGUSTINUS WIBOWO) Tidak banyak orang menyadari bahwa Australia terletak sangat dekat dari Papua Nugini. Saking dekatnya kita bisa lihat Australia dengan mata telanjang. Untaian pulau kecil Australia hanya empat kilometer di selatan pantai Papua Nugini. Ber adalah satu desa Papua Nugini yang berhadapan dengan pulau Boigu, Australia. Dilihat dari laut di malam hari, Boigu bagai metropolitan dengan ratusan noktah cahaya berkilauan, sedangkan Ber tampak seperti tiga cahaya lemah yang sering padam, seperti lilin diterpa angin. Sumber cahaya di Ber hanyalah api unggun. Satu-satunya cara untuk mencapai Ber, orang harus naik perahu dari Daru ke arah barat sejauh 100 kilometer melewati lautan Selat Torres yang terkenal ganas ombaknya. Perahu motor yang saya tumpangi nyaris tenggelam ditelan ombak. Ini adalah perjalanan seharian yang basah dan mematikan. Begitu terisolasinya Ber dari daerah Papua Nugini lainnya, desa dengan dua ratusan penduduk ini seperti belum tersentuh peradaban. Mereka tinggal rumah-rumah panggung yang semuanya terbuat dari gedek anyaman daun. Pantai Ber tertutup lumpur, seperti sawah padi yang baru diairi. Ber berhadapan langsung dengan laut, tetapi warga di sini justru jarang ke laut dan ikan nyaris tidak ada dalam menu mereka. Setiap hari penduduk makan [...]

February 9, 2016 // 3 Comments

Suki 16 September 2014: Makna Sebuah Kemerdekaan

Hari ini, 39 tahun lalu, kemerdekaan Papua Nugini diproklamasikan. Hari Kemerdekaan, di samping Natal, adalah hari besar terpenting di negara ini. Pesta perayaan digelar di berbagai penjuru negeri, yang menikmati libur panjang mulai dari lima hari hingga dua minggu penuh. Suki adalah sebuah pusat pemerintahan di Distrik Fly Selatan, di mana biasanya perayaan dipusatkan. Suki sebenarnya adalah sebuah wilayah yang terdiri dari beberapa desa, yaitu Nakaku, Godowa, dan Ewe. Ketiga desa ini terletak di sebuah anak sungai dari Sungai Fly, yang cukup jauh dari aliran sungai utama. Saya sengaja berada di Suki untuk melihat bagaimana kemerdekaan dirayakan di negara muda ini. Walaupun statusnya adalah “pusat pemerintahan”, keadaan Suki sangat mengenaskan. Tidak ada listrik, rumah sakit, sekolah menengah. Suki juga menempati posisi strategis di perbatasan; Indonesia hanya 70 kilometer jauhnya (atau tiga hari berperahu plus jalan kaki plus naik sepeda melibas hutan), tetapi tidak ada satu pun tentara atau polisi di sini. Setidaknya di Godowa ada sebuah menara pemancar sinyal seluler, dan di Nakaku terdapat satu supermarket dan satu toko milik orang China, juga satu kios agen bank tempat warga bisa mengecek rekening dan menarik uang. Desa-desa ini berpencaran di sepanjang sungai yang jernih bertabur teratai, sehingga penduduk harus mengayuh kano [...]

December 3, 2015 // 4 Comments

Lewada 12 September 2015: Antara Cerita dan Sejarah

Di utara Lewada, di mulut anak sungai Bituri, tinggallah buaya yang terkenal itu. Sang Buaya Lewada. Seorang pendeta yang beberapa bulan lalu mendayung kano untuk memeriksa jaring yang dipasangnya di tengah sungai untuk menangkap ikan. Itu adalah kano kecil yang hanya muat satu orang. Tiba-tiba, dari belakang, buaya itu melibas punggung si pendeta dengan ekornya yang tajam. Si pendeta jatuh terguling dari kano, tercebur ke sungai. Buaya itu menggigit pendeta pada mata kakinya, menyeretnya lebih dalam ke dalam air. Buaya itu kemudian membawa pendeta itu kembali ke permukaan air, mungkin supaya lebih leluasa memangsa manusia ini. Pada saat itulah pendeta menarik kakinya dari mulut buaya. Kakinya patah, tetapi dia hanya bisa berusaha berenang secepat-cepatnya. Beruntung, ada akar bakau. Dia memanjat sampai ke puncak pohon, bergelayutan di sana, berteriak minta tolong. Buaya itu kemudian pergi. Kejadian lain adalah seorang anak muda yang juga mendayung kano untuk memeriksa jaring. Pemuda itu ingin mencuci kakinya, menurunkan kedua kakinya ke sungai. Sialnya, kedua kaki itu mendarat ke dalam mulut buaya yang sudah menganga di bawah air. Dia langsung tenggelam. Si buaya itu berusaha merobek tubuhnya dengan cakarnya, pemuda itu terluka dari bahu sampai paha. Pada saat itu ada kano lain melintas, pemuda itu selamat. [...]

October 2, 2015 // 7 Comments

Marukara 3 September 2014: A Dangerous Adventure with Indonesian Illegal Traders

The coastal region in the southern Papua New Guinea near the Indonesian border is notorious for the illegal cross-border trading activity. Indonesian traders often cross the sea border from Merauke in the west and venture to Papua New Guinean villages to do their unlawful business. This is a very dangerous journey, due to attacks from the pirates and possibility being caught by joint PNG—Australian border patrol. I could sense the over-cautious attitude in Herman—a Marind trader from Merauke, whom I saw one boat of three passengers floating on the sea near the Buzi village. Marind is a Papuan native tribe inhabiting Merauke, a big city and its surrounding regions at the Indonesian side of the border. Thus, as a dark-skinned and curly-haired Melanesian, Herman did not look any different from the PNG villagers in this area. It was Sisi who disclosed Herman’s Indonesian identity to me. Herman’s boat was heading from west to east, making a short stop in Buzi as he was to meet someone here. At that time, Sisi was about to cross the sea to Australia (Boigu island, only six kilometers away across Buzi), so she walked to the water and talked to Herman. “There is one [...]

May 19, 2015 // 6 Comments

Buzi 2 September 2014: Not As Paradise As It Seems

Being in such isolated place like Tais, I was totally at the mercy of my host. I could go nowhere without approval from Sisi the Tais woman who brought me here. I had been staying in Tais for more than a week. I wanted to see more places. I wanted to go to Mari, the neighboring village four hours away by walking where Sisi used to live. But she did not allow me, saying that people there would kill me. I wanted our group to depart earlier to Daru, so we could stop in Buzi or Sigabadaru, border villages face to face with Australian islands of Boigu and Saibai. Sisi also did not allow me, saying that the villages were full of raskol (rascals). “But Sisi, how can be raskol there? These are just little villages, everybody knows everybody,” protested me. “No, no. You markai are just foreigner, you never understand,” said Sisi, “These people are jealous people. They will kill you.” Tais, she said, was different from other villages nearby. Tais is so small, the people have abundant food, the church is strong; there is no drinking habit among the people, the village is always peaceful. But I was [...]

May 12, 2015 // 2 Comments

Tais 30 August 2014: A Nation in Waiting

Nobody would deny, Tais is a very blessed land. See how green the vast pasture surrounding the village—even though your economist mind may ask why such a potential fertile land is just wasted and overgrown by wild grass as tall as your chest. See how bountiful their garden products are, their huge yams and blue yams and cassavas and sweet potatos, their super-sweet bananas and super-hot chili and super-fresh coconuts and super-big oranges. When the men go hunting to nearby jungles, they almost never come home empty handed. The people of Tais never ran out of food, as their land provide much more than enough for its 80 families spread in the 1 kilometer breadth of their village. Despite of this, you would see the children were very unhealthy; they have skinny bodies of bones but with big bellies. I asked Sisi—my host in this village—why. She just laughed, and said that it was children loved to eat too much. But I thought it was due to their monotony of diet, most of which was carbohydrate. Their food, if not boiled yam or boiled potato or boiled cassava, then it must be roast yam, roast potato, or roast cassava. Sometimes [...]

May 8, 2015 // 1 Comment

#BoycottBali: Siapa Membutuhkan Siapa?

Saat menentukan destinasi liburan, ada beberapa hal yang biasanya kita pertimbangkan: kemudahan visa, atraksi di destinasi, biaya, keamanan. Tetapi warga Australia diminta untuk mempertimbangkan hal lain: ada tidaknya hukuman mati di destinasi yang dituju. Itu tergambar dari gerakan boikot dari media sosial Australia dan sempat menjadi trending topic beberapa hari lalu: #BoycottBali. Gerakan ini berkenaan dengan rencana Indonesia menjalankan eksekusi mati terhadap dua gembong narkoba warga Australia, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, yang ditangkap di Bali pada 17 April 2005. Mereka berdua adalah pemimpin dari kelompok beranggotakan sembilan orang Australia, dikenal sebagai “Bali Nine”, yang berupaya menyelundupkan 8,3 kilogram heroin senilai A$ 4 juta dari Indonesia ke Australia. Death Row Diaries of Andrew Chan and Myuran Sukumaran (source: news.com.au) Di saat-saat terakhir ini, pemerintah Australia gigih meminta pengampunan kepada presiden Indonesia. Tetapi presiden Indonesia yang baru terpilih, Joko Widodo, juga gigih untuk tidak memberikan grasi terhadap kasus narkoba. Jokowi—demikian dia biasa dikenal—beralasan bahwa Indonesia dalam keadaan “darurat narkoba”, dan mengutip data mencengangkan: 4,5 juta orang Indonesia harus direhabilitasi karena narkoba dan 40-50 orang Indonesia mati setiap hari karena narkoba. Sebagian publik Australia menuding Indonesia yang melaksanakan hukuman mati sebagai negara barbar biadab. Sementara Andrew dan Myu dipandang sebagai [...]

February 21, 2015 // 49 Comments

Tais 30 Agustus 2014: Kulit Hitam dan Kulit Putih

“Apakah di negaramu, orang kulit putih juga ada yang jadi pengemis?” Singai Suku, lelaki kepala desa Tais yang berperut besar itu bertanya kepada saya. “Kulit putih? Kulit putih yang mana?” tanya saya. “Kulit putih yang seperti kamu.” “Kulit putih dan kulit hitam semua sama, semua ada.” “Apa?” Singai begitu terkejut sampai melongo. “Kenapa kulit putih harus mengemis? Kalau kulit hitam jadi pengemis itu wajar. Tapi kulit putih? Itu tidak masuk akal!” Ini adalah salah satu dari begitu banyak percakapan yang cukup membikin stres selama saya berada di Papua Nugini. Mengapa mereka selalu menganggap diri mereka lebih rendah daripada kulit putih? Beberapa hari yang lalu, saya pernah menunjukkan foto-foto yang saya ambil di Afghanistan kepada Sisi—perempuan muda tuan rumah saya di Tais—bersama warga desa lainnya. Sisi terpaku menatap gambar anak-anak jalanan korban perang di ibukota Kabul yang mengemis dengan berbaring telentang di atas aspal panas. Sisi menggeleng-geleng tak percaya. “Tapi mengapa? Mengapa mereka harus hidup seperti itu? Mereka kulit putih, bukan?” Boneka kulit hitam dijual di sebuah toko di Port Moresby (AGUSTINUS WIBOWO) Warga Tais hidup dari berburu (AGUSTINUS WIBOWO) Di Papua Nugini, walaupun saya bukan kulit putih, mereka selalu menyebut saya kulit putih. Menjadi “orang putih” di sini, saya menerima [...]

February 3, 2015 // 33 Comments

Ber 25 Agustus 2014: Rindu Terpisah Garis Batas

Australia, dengan rumah-rumahnya yang berkilau, terlihat di seberang sana (AGUSTINUS WIBOWO) Jarak sebuah takdir bisa jadi hanya delapan kilometer. Itu jarak yang memisahkan Ber dari Boigu, memisahkan Papua Nugini dari Australia, memisahkan salah satu negeri termiskin di dunia dari salah satu negeri terkaya di dunia. Boigu adalah daerah yang sama sekali tak tersentuh bagi saya. Hanya penduduk dari desa-desa pesisir Papua Nugini ini yang berhak menyeberang ke sana, dengan surat izin khusus dari kepala desa. Mengenai Boigu, saya cuma bisa menyusun mozaik imajinasi dari serpihan deskripsi warga Ber. Boigu adalah sebuah desa modern, ada toko dan bandara. Rumah-rumah di sana juga sama seperti di sini, rumah panggung, tetapi dari bahan permanen dan lebih mengkilap. Di Boigu, orang asli yang hitam bercampur dengan pendatang yang putih. Dulu orang asli Boigu sama juga dengan orang Papua Nugini, sama hitam sama keriting, dan masih berkerabat dengan orang-orang di sini. Tetapi sudah berpuluh-puluh tahun di bawah Australia, penampilan mereka sekarang sangat berbeda. Mereka memakai baju panjang kombor gaya pantai, kaos berwarna cerah mencolok. Mereka terlihat gembira, tetapi mereka juga mudah terlihat marah dan garang. Itu karena ukuran badan mereka terlalu besar. Ya, makanan mereka terlalu baik dan terlalu melimpah. Mereka tidak bekerja, mereka dapat [...]

January 22, 2015 // 19 Comments

Ber 24 Agustus 2014: Lambatkan Langkahmu

Hanya ada rumah gubuk bertebaran jarang-jarang di Ber (AGUSTINUS WIBOWO) Saya membuka mata. Sinar matahari menyeruak lewat tembok dari bilah-bilah bambu dan anyaman dedaunan. Saya menyibak kelambu, keluar dari ranjang, menemukan lensa kamera saya hanya bisa mengambil foto-foto kabur seperti tertutup embun tebal. Pasti karena kedinginan dan air laut kemarin. Pandangan mata saya kini sama kaburnya dengan lensa itu. Saya tidak tahu ini rumah gubuk ini milik siapa. Saya menuruni tangga di luar pintu, berjalan mencari Sisi dan Marcella, yang ternyata tidur di balai-balai rumah lain seratus meter jauhnya di seberang hamparan rumput tinggi. “Sisi, jam berapa kita berangkat ke Buzi?” kata saya. “Tidak bisa. Kami harus pergi menyeberang dulu ke Boigu untuk belanja,” katanya santai. Boigu adalah pulau milik Australia yang terletak tepat di seberang laut dari Ber, sekitar 5 kilometer jauhnya. “Kenapa kalian tidak cepat berangkat?” “Kau lupa ya? Ini hari Minggu. Hari untuk Tuhan. Tidak ada orang bepergian di hari ini.” Sisi mengucapkan itu ketika saya sibuk mencuci lensa kamera saya dengan air sabun sembari menggumamkan keluhan apakah kamera saya akan bisa berfungsi normal. Melihat kegelisahan saya, Sisi berkata, “Jangan buru-buru, lambatkan langkahmu. Percayakan semua masalahmu pada Tuhan. Olgetta bai orait.” Semua akan baik-baik saja. Sisi adalah [...]

January 21, 2015 // 13 Comments

Daru 23 Agustus 2014: Nenek Moyangku Orang Pelaut

Menembus badai dan gelombang (AGUSTINUS WIBOWO) Nenek moyangku orang pelaut Gemar mengarung luas samudra Menerjang ombak tiada takut Menempuh badai sudah biasa Sisi Wainetti, Marcella, dan saya meringkuk dan berpelukan erat. “Jesus! Jesus!” Sisi mulai berteriak sekencang-kencangnya, seolah teriakan itu akan mendatangkan keajaiban kuasa dari langit untuk menyelamatkan kami. Marcella dan saya menimpali dengan teriakan yang sama dan sama kerasnya. Dinghy, perahu motor cepat yang kami tumpangi ini, terombang-ambing amukan ombak. Dinghy menghentak, kami para penumpang yang duduk berhimpitan terloncat. Pantat saya menghantam bilah kayu yang menjadi alas duduk, punggung saya seperti ditinju bertubi-tubi dan sakitnya merambat sampai ke tengkuk. Satu gulungan ombak yang lebih tinggi daripada manusia itu menerjang. Sisi berteriak, “Issaiah, cepat lakukan sesuatu! Kita akan tenggelam!” Terlambat. Ombak itu menghantam kami, menampar wajah saya dan semua dari enam penumpang di atas perahu kecil ini. Air sudah setinggi mata kaki di dasar perahu. Kami basah kuyup sekujur tubuh, buru-buru mengambil gelas plastik dan timba karet dan sepon untuk membuang air keluar perahu. Saya memeluk erat kamera yang sudah dibungkus plastik di balik jaket saya. Satu gelombang lagi menghantam perahu kami. “Oh, Jesus!” Sisi berteriak lagi. Saya mengenal Sisi baru dua hari lalu. Dia adalah putri angkat dari bidan [...]

January 20, 2015 // 12 Comments

Daru 22 Agustus 2014: Mengapa Harus Ada Batas di Antara Kita?

Seorang guru bahasa Inggris di Daru High School bertanya pada saya tentang Indonesia. Dia ingin memastikan kabar yang dia dengar: “Orang-orang putih” (maksudnya orang Asia termasuk Jawa) di Indonesia membutuhkan tengkorak manusia untuk membangun gedung tinggi dan jembatan; tumbal itu bikin mereka “orang putih” semakin kaya dan semakin sukses dibanding orang hitam. Di Daru, dia bilang, tahun kemarin beredar kabar bahwa orang Indonesia banyak menyelinap ke Papua Nugini untuk membunuhi orang sini, lalu diambil kepalanya buat membangun rumah dan jembatan di Merauke sana, dan membuang begitu saja mayat tanpa kepala itu ke hutan atau pulau. Saya syok. “Dan kau percaya itu?” “Semua orang heboh. Sampai tak berani keluar rumah, khawatir dibunuh orang Indonesia,” katanya. Bahkan orangtua menasihati anak yang nakal atau keluar malam dengan: “Awas nanti ada Indonesia.” Ini rumor zaman batu yang beredar di abad milenium, dan herannya, orang percaya. Sangat percaya. Indonesia menjadi nama horor, bagai hantu yang bisa datang sekonyong-konyong mencabut nyawa. Indonesia menjadi nama untuk menakuti anak yang nakal (AGUSTINUS WIBOWO) Warga Daru sempat ketakutan mendengar rumor tentang pemburu kepala manusia dari Indonesia (AGUSTINUS WIBOWO) Rumor ini membuat saya sedikit bimbang ketika memenuhi undangan Mekha dan guru-guru lainnya untuk berbicara di depan murid-murid kelas XI di [...]

January 19, 2015 // 25 Comments

Byron Bay, 3 Agustus 2014: Festival Penulis

Bersama Janet Steele, Jono Lineen, Carina Hoanh, dan Bhuchung Sonam “So, where are you from?” tanya Janet Steele membuka panel diskusi “A Guest in Their Country” kepada kami para panelis: seorang pengungsi Tibet yang kini tinggal di Dharamsala, India; seorang Tionghoa Indonesia yang pernah mencari rumah ke negeri China; seorang pengungsi Vietnam yang pernah menjadi manusia perahu dan kini menikah dengan orang Australia dan tinggal di Australia; seorang Kanada-Australia yang kematian adiknya membawanya pergi ke Himalaya dan membuatnya menemukan agama baru—Buddhisme. Pertanyaan “Dari mana kamu?” adalah pertanyaan sederhana yang ternyata membutuhkan jawaban panjang. Bhuchung Sonam menceritakan bagaimana dia meninggalkan Tibet yang pernah menjadi rumahnya, ketika negerinya berada di bawah pendudukan China yang tidak akan pernah diakuinya sebagai tuan untuk negerinya, dan kini tinggal di India yang juga tidak pernah menjadi rumahnya. Bhuchung, dengan penuh kesedihan, mengatakan, dia tidak pernah kehilangan rumah karena memang dia tak punya rumah. Janet Steele, seorang jurnalis kawakan dari Amerika Serikat dan seorang Indonesianis, adalah moderator panel ini. Dia mengawali cuplikan dari buku saya Ground Zero, ketika saya berada di Kashmir di tengah keluarga pengungsi yang menjadikan saya sebagai bagian dari keluarga itu. Para pengungsi Kashmir itu berkata pada saya, “Agustinus, ke mana pun kamu pergi [...]

August 4, 2014 // 10 Comments

Byron Bay, July 31, 2014: A Nanny State?

“Australia is a country only for old people,” says Celine, a 22-year-old Indonesian student sitting next to me in a Qantas flight to Sydney. Celine lives in a suburb of Melbourne, and has been there for four years majoring food technology. “After 5 pm all shops are closed and the towns are deserted. There is absolutely no fun.” I am on my way to Gold Coast, to attend Byron Bay Writers Festival tomorrow; while Celine is heading to Melbourne and she will have some hours of transit in Sydney. Celine grumbles as she has no choice but to take this Qantas flight. She usually takes the Indonesian carrier, Garuda, which offers the only direct flight from Jakarta to Melbourne. But Garuda tickets are sold out, and only Qantas is available for her. But as I am a first timer to Qantas, I am very excited with this flight. In fact, I am first timer to any Western airlines. And I have to admit, I am shocked to see that all passengers were greeted by an overweight stewardess with thick lips wearing glossy lipsticks, whose age I bet around half a century. “Welcome, Sir,” she says with a friendly smile. In [...]

August 1, 2014 // 26 Comments

Byron Bay, 31 Juli 2014: Negara Orang Tua

Pramugari Qantas “Australia adalah negara orang tua,” kata Celine, pelajar asal Indonesia yang sudah tinggal di Melbourne selama empat tahun untuk belajar teknologi pangan, “Setelah jam lima semua toko tutup dan sepi. Sama sekali tidak fun.” Saya dan Celine berbagi tempat duduk dalam pesawat menuju Sydney. Saya menuju Gold Coast, dan dia transit menuju Melbourne. Biasanya dia menumpang Garuda, yang mempunyai layanan penerbangan langsung dari Jakarta ke Melbourne. Tetapi karena tidak kebagian tiket, dia terpaksa menumpang pesawat Qantas ini. Begitu memasuki pesawat, semua penumpang disambut pramugari bertubuh gemuk dan berbibir tebal dengan lipstik mengilap, usianya saya duga sudah mendekati setengah abad. “Welcome, Sir,” katanya sambil tersenyum ramah. Kalau di negara kita, ataupun di kebanyakan negara Asia lainnya, pramugari umumnya gadis muda, tinggi, semampai, berwajah atraktif, para pramugara di penerbangan Qantas ini adalah lelaki paruh baya berkepala botak sedangkan para pramugarinya juga berumur setidaknya empat puluh tahun dan sama sekali tidak bisa dibilang ramping. Saya sempat bertanya-tanya, apakah kita orang Indonesia telah melakukan diskriminasi terhadap orang tua dan orang jelek untuk banyak jenis profesi? Saat pesawat mengudara, para pramugari dan pramugara memeragakan petunjuk keselamatan, mengikuti penjelasan panjang lebar dari corong pengeras suara dalam bahasa Inggris dan Melayu Malaysia. Penjelasan ini sangat [...]

August 1, 2014 // 25 Comments

Jakarta, 29 Juli 2014: Australia dan Papua Nugini

Saya mengambil backpack, mengisinya dengan barang-barang, dan menyadari bahwa saya sudah tak ingat lagi kapan terakhir kali saya merasakan debar seperti ini. Debar akan Ketidaktahuan dan Keberbedaan. Besok, saya akan memulai perjalanan pertama saya keluar benua Asia. Hari Senin 21 Juli lalu saya mendapat konfirmasi undangan menghadiri Byron Bay Writers Festival (BBWF) di Byron Bay, NSW, 1-3 Agustus. Ini adalah festival penulis yang bekerja sama dengan Ubud Writers and Readers Festival, dan setiap tahun memberi kesempatan bagi penulis Indonesia maupun Asia untuk tampil pada forum penulis internasional ini. Karena waktu yang sangat mendesak, saya pun buru-buru mengurus visa Australia. Biasanya visa Australia membutuhkan waktu 5 hari kerja, dan berkenaan dengan Idul Fitri maka hari keberangkatan saya bertepatan dengan hari kerja ke-4. Agak riskan juga. Untunglah, visa Australia (dengan undangan dan permintaan urgen) keluar hanya dalam dua hari. Mengenai festival penulis ini, saya diundang untuk berbicara dalam dua panel, semuanya berhubungan dengan penulisan perjalanan. Hal yang paling membuat saya excited adalah kesempatan untuk berkomunikasi dengan penulis perjalanan dari negara lain. Ketika menerjemahkan buku ketiga saya, Titik Nol, ke dalam bahasa Inggris, saya sungguh menyadari betapa pola pikir dari setiap bangsa yang berbeda sangat memengaruhi cara masyarakat dari pengguna bahasa itu untuk [...]

July 29, 2014 // 26 Comments

1 2