Recommended

Balkh

Selimut Debu 76: Ziarah

“Ziarah, semakin besar penderitaannya, semakin bagus,” kata Arvin. Di saat yang sama, perutku sudah kenyang oleh debu sementara kulitku gosong terbakar matahari. Arvin datang ke Balkh untuk tujuan yang lebih suci—berziarah dan berdoa di makam-makam keramat. Balkh adalah kota kecil bertabur ribuan tempat ziarah. Bicara soal ziarah di Balkh tak pernah ada habisnya. Tak ada yang tahu pasti berapa ratus orang suci dimakamkan di sini. Dari mullah, guru Sufi, pujangga kuno, sampai pejuang jihad, semua layak diziarahi. Ada makam guru suci Khawja Parsa dengan kubah megah. Ada kuburan pujangga perempuan Rabi’a Balkhi yang mati demi cinta, dan dikubur di ruang bawah tanah. Masih ada puluhan ziarat lainnya yang sulit diketahui semua asal usulnya. Di antara tempat ziarah, yang terpenting adalah Masjid Haji Piyada atau Masjid No Gonbad. Ini adalah situs masjid tertua di Afghanistan, dibangun pada abad ke-9. No Gonbad artinya sembilan kubah, tak satu pun tersisa. Yang tertinggal adalah pilar-pilar dari tanah lempung berukir indah. Juru kunci berkisah tentang guru suci Balkh yang pertama kali menyebarkan Islam di Afghanistan, berjalan kaki untuk menunaikan ibadah haji sampai ke Mekkah. Itulah sebabnya dinamakan Haji Piyada, haji yang berjalan kaki. “Begitu seharusnya semangat ziarah, menderita demi spiritual. Kalau zaman dulu mereka berziarah [...]

February 10, 2014 // 2 Comments

Selimut Debu 75: Mantan Komunis

Wakhan masih memimpikan datangnya kemajuan peradaban menjamah lembah pegunungan. Namun sesungguhnya Afghanistan adalah negeri tua di mana peradaban mulai berayun, berputar, berjalan. Kota-kota kuno tegak, kejayaan masa lalu berpendar, kehidupan spiritual berbaur dengan adat dan embusan napas penduduk. Umm-al-Belad, Ibunda Semua Negeri, demikian orang Arab menjuluki kota tua Balkh di utara Afghanistan. Umurnya sudah lebih dari 3.000 tahun. Kota ini dulunya dipenuhi kuil-kuil megah untuk dewa-dewi Zoroaster, agama kuno pemuja api dari Persia. Iskandar Agung menjadikannya sebagai benteng setelah ia menaklukkan kota terakhir Persia yang semula bernama Baktria ini. Di awal-awal Masehi, kota ini bertabur kuil Buddha yang berhiaskan zamrud dan permata, bahkan menjadi pusat ziarah umat Buddhis seluruh dunia. Hingga pada abad ke-7, Islam datang, dan menjadikannya pusat peradaban yang melahirkan pujangga dan filsuf kelas dunia. Sekarang, Balkh adalah kota kecil yang terlupakan, terbungkus selimut debu jalanan. ”Khaak!” seru Khan Agha Arvin di dalam mobil kecil yang kami tumpangi, ”Tutup jendelanya rapat-rapat!” Gilasan ban mobil melintasi jalan tak beraspal yang penuh bulir lempung halus langsung menyemburkan badai debu ke sekelilingnya. Naik mobil di Balkh hanya ada dua pilihan—kepanasan akibat teriknya matahari dalam kendaraan berjendela tertutup atau bermandi debu. Di antara dua opsi buruk, kami memilih yang pertama. Ada lima [...]

February 7, 2014 // 2 Comments

Dushanbe – Tajikistan, First Impression

Just across the river border, even the grilled meat looks very different, despite of the same name, kabab. Oh, it also gets a Russian name here, sashlik. Before actually physically stepped on the country, I had heard, and seen Tajikistan when I was still in Afghanistan. It is the country idolized by many people in the Badakhshan province. It is the country of freedom, flourished by goods, electricity, and public services. It is the country where women can walk on the streets freely without fear of not covering properly. Now, I am in Tajikistan, seeing and experiencing what man of the northern rural Afghans dreaming about. But for me, Tajikistan is not about dream. According to a reference, the average salary of the people in the country was only 61.81 Somoni (US$ 19.93/month, 2005) and average pension was as low as 16.92 Somoni (US$ 5.23/month, 2005). Life cost is not cheap at all, at least in Dushanbe, compared to the low income statistics. Long distance transport was incredibly expensive, comparable to Afghanistan, as oil costs almost 1 US$ per litre. 93% of Tajikistan’s land is mountains, making it only 7% inhabited and potential for agriculture. It has distinctive four seasons [...]

October 8, 2006 // 0 Comments

Balkh – The Passed Past

The ancient civilization of Balkh “I am not a communist. I am a Muslim” – Khan Agha Arvin The present day tiny town of Balkh, 30 minutes away from Mazhar e Sharif connected by high speed highway, was before a glorious capital of the Bactrian empire. Today, for the locals, the name Balkh maybe more better translated as pilgrimage sites, where hundreds of holy saints’ mausoleums are located and pilgrims came for blessing and prayers everyday. One among the pilgrims was Khan Agha Arvin, currently worked as vice director of one of Afghanistan’s most famous high schools, Lycee Istiqlal in Kabul. I met him accidentally in the pilgrimage site of Rabia Balkhi, a great Persian woman poet who died in name of love. Arvin, now 47, offered me to go with him and his colleagues around the old town. Offering prayers in holy sites which populate the whole city of Balkh The city walls of Balkh, once walls which protected the great capital of the great empire, now was rubble of history. But for Arvin, the history was still alive. It was here, 12 years ago, when he struggled to defend the truth. 12 years ago, when he was a [...]

August 11, 2006 // 0 Comments