Recommended

Indonesia

Penodaan Agama: Menista Agama atau Menista Ego?

Pengalaman pertama saya bersinggungan dengan isu penodaan agama adalah pada tahun 2006, ketika saya berada di tengah ribuan demonstran di kota Lahore, yang memprotes pemuatan karikatur yang menghina Nabi Muhammad S.A.W oleh sebuah koran Denmark. “Ini adalah wujud cinta pada Rasul” tertulis di salah satu poster yang dibawa demonstran. Seorang pemuda yang membawa pentungan berkata pada saya, “Kami mencintai Nabi kami, lebih daripada kami mencintai anak dan orangtua kami sendiri.” Para demonstran menuntut pembuat karikatur dijatuhi hukuman mati, sebagaimana berlaku dalam hukum Pakistan terhadap penghujat Nabi. Semua demonstran yang saya wawancarai mengaku tidak pernah melihat sendiri karikatur itu, tetapi amarah mereka meledak setelah mendengar dari ulama mereka di masjid. Selepas siang, demonstrasi yang dilandasi cinta itu berubah menjadi amuk massa dahsyat. Orang-orang membakar mobil dan sepeda motor di sepanjang jalan. Mereka juga menjarah dan membakar restoran, kantor, toko, dan bank, diiringi seruan memanggil Tuhan Yang Maha Besar. Lebih dari seratus bangunan dan empat ratus kendaraan hancur. Kerusuhan meluas ke kota-kota lain di seluruh negeri. Massa juga membakar gereja, sekolah-sekolah dan rumah-rumah milik warga Kristen di berbagai lokasi di Pakistan, sebagai balasan untuk “penodaan” karikatur Denmark itu. Masih pada saat saya berada di Pakistan, pada akhir 2005, kasus lain yang menggemparkan [...]

May 17, 2017 // 57 Comments

Ikan Makan Ikan

Andai saja Republik Maluku Selatan (RMS) berhasil merdeka, Docianus Ony Sahalessy tentunya akan menjadi pahlawan nasional. Dia pencipta lagu kebangsaan RMS, Maluku Tanah Airku. Sepuluh tahun hidup dia bergerilya di hutan-hutan melawan kepungan tentara Indonesia, demi cita-cita tanah air Maluku merdeka. Kini lelaki 78 tahun itu tinggal di Belanda, hidup bersahaja dengan tunjangan sosial minimum dari pemerintah Belanda. Saya menemuinya di kota kecil Assen, di bagian utara Belanda, dalam sebuah rumah perawatan warga lansia. Sudah dua bulan Bung Ony sakit, baru saja menjalani operasi karena kesehatan semakin memburuk di usia senja. Badannya kecil, bungkuk dan ringkih, langkahnya tertatih-tatih. Suaranya terombang-ambing. Matanya menerawang jauh, terkadang berkaca-kaca, ketika saya, yang datang dari negeri yang pernah dia perangi, mengajaknya menyusuri kenangannya tentang tanah air. Maluku, tanah air Bung Ony, adalah untaian pulau-pulau kecil di bagian timur Indonesia. Dikenal sebagai Kepulauan Rempah, Maluku menghasilkan beragam rempah eksotis yang dulu teramat bernilai di Eropa. Maluku menjadi incaran bangsa-bangsa Barat yang menjelajah samudra, mengawali dominasi berabad kolonialisme Belanda di bentangan kepulauan yang kini kita kenal sebagai Indonesia. Belanda kemudian banyak merekrut serdadu dari Maluku Selatan untuk dibawa bertempur dalam pendudukan di pulau-pulau lain di Indonesia. Saat itu Bung Ony masih kecil. Kakeknya adalah mantan serdadu Belanda, [...]

May 10, 2017 // 8 Comments

Modeling di Negeri Syariat

  “Perempuan itu, semakin dibungkus semakin mulia. Semakin dibuka, semakin murah,” kata Fansari, seorang perancang busana Islami dari Banda Aceh, ibukota provinsi Aceh di ujung barat Indonesia. Fansari membungkus tubuhnya dalam jubah kombor yang mencapai mata kaki, menutup kepalanya dengan kerudung besar yang memanjang ke dada dan pinggul. Dengan pakaian itu, dia seolah bersedia setiap saat mendirikan salat. Fansari mengimani, inilah pakaian paling sempurna untuk memenuhi perintah Tuhan dan menyenangkan Tuhan, sedangkan bagi perempuan yang pakaiannya tidak sempurna—yang dia sebut “berpakaian tapi telanjang”, mengutip perkataan Nabi—tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya. Melihat Fansari hari ini, pada usia 35 tahun, sulit memercayai bagaimana penampilan masa mudanya. Sepuluh tahun lalu, dia peragawati dengan dandanan tebal, model rambut selalu berubah mengikuti tren, memakai baju you-can-see ketat yang menegaskan lekuk payudara dan rok mini yang ala kadarnya menutup selangkangan. Dia juga suka berpesta, minum minuman keras, bergaul dengan para lelaki anggota geng balap motor. Mendeskripsikan masa lalu dari sudut pandang sekarang, Fansari menggunakan satu kata: gila-gilaan. Hidupnya berubah total sejak dia mulai menutup rambutnya dengan jilbab, setelah belajar Islam lebih mendalam dari pengajian. Ajaran Islam tentang kesederhanaan bagi kaum perempuan seketika membuat Fansari merasa dirinya wanita terhormat. Tidak ada lagi laki-laki [...]

April 26, 2017 // 14 Comments

Tersandera oleh Batas

Ketika Wilem Bab, seorang lelaki Papua, menerima bendera merah putih dari sepasukan 50 tentara perbatasan Indonesia yang berpatroli ke kampungnya, dia bingung. Para tentara itu menyuruhnya mengibarkan bendera itu di kampungnya, karena, mereka bilang, ini tanah Indonesia. Wilem adalah lelaki tertua di kampung Digo, yang terletak di tengah hutan rimba, pada perbatasan antara Indonesia dan Papua Nugini. Orang Melanesia berkulit hitam itu baru berumur 39 tahun, tetapi kerut-kerut di wajah membuatnya terlihat seperti 60 tahun. Kabar Wilem menerima bendera Indonesia itu langsung menyebar ke desa-desa Papua Nugini di sekitar. Ketakutan mencekam: Indonesia akan jajah kita. Mereka marah, mendesak Wilem segera kembalikan bendera itu ke Indonesia. Perjalanan menuju pos tentara Indonesia di desa Indonesia terdekat tidak mudah—Wilem jalan kaki dua hari, menginap semalam di hutan rimba, menyeberangi empat sungai kecil plus tiga sungai besar, deras, sedalam kepala. Di hutan ada ular, di sungai ada buaya. Sampai di sana, dia lihat dunia yang sama sekali berbeda: desa Indonesia diterangi listrik, dihuni orang Asia berkulit lebih terang. Tapi dia gagal. Tentara Indonesia bersikukuh dia harus menyimpan bendera itu. Mereka bilang, “Kami tahu kalian orang Papua Nugini. Tapi, kalian tinggal di wilayah Indonesia. Bendera ini untuk keamanan kalian.” Wilem tidak pernah merasa dirinya tinggal [...]

April 21, 2017 // 5 Comments

Ayahku dan Laut

Pertama kali aku melihat laut adalah saat umurku lima tahun, ayahku membawaku berhadapan dengan Samudra Hindia. Kami tinggal di pesisir selatan Pulau Jawa, menyebutnya sebagai Laut Selatan. Matahari baru merangkak naik, ombak terus bergemuruh menabrak bongkah batu karang di pantai. Kaki kami menapaki pasir hitam yang dibilas ombak, ayahku menunjuk ke garis cakrawala. Di balik garis itu, dia bilang, ada sebuah dunia yang sama sekali berbeda. Australia. Jika kau berenang terus ke selatan, kau akan tiba di Australia. Tapi, Laut Selatan tidaklah mudah diseberangi. Setiap tahun, selalu ada korban. Orang berenang, nelayan, penumpang kapal, bahkan pengunjung pantai yang mencelupkan kaki di air pun bisa terseret arus. Menurut legenda Jawa, ayahku bercerita, ganasnya laut ini adalah karena di dalamnya bersemayam Sang Ratu Laut Selatan, yang selalu mencari jiwa untuk dibawa ke istananya di dasar laut. Aku mempererat genggamanku pada tangan Ayah. Ayah tertawa, mengejekku sebagai pengecut. Jauh di lubuk hatiku, aku bermimpi menjadi ikan yang bebas mengarungi samudra luas, dari negeri ke negeri, dari benua ke benua. Tapi masa kecilku justru terpasung di dalam kamar. Aku takut keluar rumah. Aku takut ketika orang-orang di luar mengolok-olokku karena mata sipitku dan kulit kuningku. “Cina! Cina!” Saat itu aku sering bertanya: siapa diriku [...]

April 6, 2017 // 16 Comments

Matinya Agama Tua

Perempuan tua itu seperti pengantin yang ketiduran. Bajunya merah menyala bersulam benang emas. Kedua pergelangan tangannya dilingkari gelang kebesaran peninggalan ratusan tahun, berupa piringan emas selebar kepala manusia, cemerlang bagai matahari di saat fajar. Warna-warna penuh gairah membalut sekujur tubuhnya, dari kepala hingga ujung kaki. Tetapi tubuh itu tak akan pernah bergerak lagi. Matanya yang terpejam itu juga tidak akan pernah membuka lagi. Perempuan tua 90 tahun itu, sejak tiga hari lalu, mati. Seorang anak perempuan dari nenek itu, alih-alih berduka bersimbah air mata, tersenyum mengundang saya masuk, “Mari. Mari makan bersama Nenek.” Saya susah payah memanjat dan merangkak memasuki pintu yang berupa lubang jendela selebar pinggang. Di dalam ruangan rumah kayu yang sempit beraroma sejarah itu, para kerabat duduk berdesakan di sekeliling mayat duduk sang nenek. Anehnya, sama sekali tidak terlihat air mata. Mereka, sambil menyantap nasi jagung yang keras dan hambar, berulang kali memandangi mayat yang wajahnya mulai mengembang itu, berujar, “Nenek sungguh cantik. Sungguh cantik.” Beberapa kerabat juga mengambil gambar dengan telepon genggam, dari diri mereka yang berdiri berdampingan atau bahkan sambil memeluk mayat itu. Bagi pemeluk agama tua Toraja di pegunungan terpencil di pedalaman Sulawesi, putusnya napas belum otomatis berarti mati. Hingga kemarin, sang nenek dianggap [...]

April 5, 2017 // 39 Comments

[Xingli]行李︱Agustinus:如果一个国家由17000个岛屿组成,还有什么事不能发生?

An interview with a Chinese media on the diversity of Indonesia. It was an in-depth interview, for more than 3 hours by phone (!). Here I talked about my experience and coming project on Indonesian nationalism. I discussed about the South Mollucan Republic movement, Papuan issues, Sharia Islam implementation in Aceh, the traditional religion of Toraja, the Javanese diaspora community of Suriname, the tourism history of Bali, the Dutch colonialization history, the religion policies of Indonesia, until my experience living as Chinese-ethnic in Indonesia. After the interview, I realized that the project I’m doing now is indeed very huge, very challenging, but at the same time, colourful and enlightening, as I also got much deeper in learning about my own country, my nation, and myself. Xingli 2017-03-24 07:14   这是Agustinus Wibowo的第二篇访谈,第一篇详见:【在阿富汗的3年里……】一个印尼作家,一直被祖辈告知他是中国人,但是当他19岁终于“回到”中国时,却被当做外国人,他第一次困惑自己的身份:我是中国人还是印尼人吗?他决定寻找印尼人的故事。而印尼人的故事,和17000多个岛屿有关,和400多座火山、700多种语言、300多个民族有关,也和各种闹独立的故事有关——有的在边境上闹,有的在海外闹;而作为华人,印尼人的故事当然还和无数次排华事件有关…… 行李&Agustinus Wibowo [...]

March 31, 2017 // 7 Comments

Detik: Agustinus Wibowo: Australia Negara Santai Tapi Taat Hukum

Jumat 10 Mar 2017, 17:25 WIB Australia Plus ABC – detikNews Perth -Agustinus Wibowo, penulis perjalanan dan fotografer asal Indonesia baru-baru ini hadir di Festival Penulis di Perth (Australia Barat). Penulis yang dikenal menguasai banyak bahasa ini berbicara dengan wartawan ABC Sastra Wijaya mengenai apa yang dibicarakan di Perth, pandangannya mengenai Australia dan buku terbaru yang sedang ditulisnya. Anda diundang di Perth Writers Festival, apa yang Anda bicarakan di sana? Saya tampil dua kali di Perth. Sesi pertama disebut Nomadic Lives (Kehidupan Nomadic (Berpindah-pindah). Saya tampil bersama penulis terkenal Australia Tim Cope, yang menghabiskan waktu tiga tahun mengendarai kuda berkelana dari Mongolia ke Hongaria di Eropa. Jadi kami terlibat dalam kehidupan nomadic dalam perjalanan kami. Di tahun 2005, saya memulai perjalanan ” Grand Overland Voyage”, melakukan perjalanan selama empat tahun, dimulai dari ibukota China, Beijing, dengan harapan bisa mencapai Afrika Selatan, tanpa melewati laut. Saya tidak menyelesaikan perjalanan tersebut, karena saya akhirnya tinggal di Afghanistan selama hampir tiga tahun. Salah satu pertanyaan menarik yang kami diskusikan di panel tersebut adalah apakah kita bisa menyebut diri kita nomad modern. Dalam pandangan saya ada perbedaan besar antara kehidupan nomadik dengan melakukan perjalanan. Bagi orang luar, para nomad ini sering dilihat sebagai ‘orang [...]

March 31, 2017 // 2 Comments

Australia Plus: 翁鸿鸣–华裔印尼旅行作家的中国情愫

Interview with Australia Plus on Perth Writers Festival, Chinese Version http://australiaplus.cn/in-person/翁鸿鸣-华裔印尼旅行作家的中国情愫 翁鸿鸣(Agustinus Wibowo)是一位旅行作家和摄影师,来自印度尼西亚。近日他参加了在西澳州首府珀斯举行的作家节。翁鸿鸣被视为印尼旅行文学一个新流派的先锋,他的故事让读者能体验他的亲身经历以及精神和情感的旅程。澳洲佳与翁鸿鸣进行了访谈。 你在珀斯作家节上讨论了什么话题? 我参加了两场讨论,第一场是与澳大利亚著名的探险家与旅行作家蒂姆·蔻普(Tim Cope)一起进行题为“游历生活”的讨论。 我与蒂姆一起讨论的其中一个有趣问题是我们是不是会自称为现代游牧一族。 我的观点是,游牧与为了自己进行的旅行有巨大差别。 游牧族一年内迁徙多达四次(跟随季节的转变),但是他们在春天、夏天、秋天以及冬天都有固定的牧场。他们仍然受到边界的限制,国际上的或者传统上的限制,而且他们游牧的目的是为了生存。 相比之下,一个现代旅行者在选择去哪里以及为何去都拥有多得多的自由。 我参加的另一场讨论叫“这个被称为家的地方”,一同参加的还有尼日利亚的诗人因努瓦·爱拉姆斯(Inua Ellams)以及南非的活跃人士斯桑克·姆希曼(Sisonke Msimang)。 [...]

March 31, 2017 // 0 Comments

Moengo, 17 Desember 2016: Sarijo Moeljoredjo, Imigran Jawa Terakhir di Moengo

Gurat tulang-belulang tampak jelas di sekujur tubuh renta Sarijo Moeljoredjo. Tetapi matanya masih bersinar cemerlang, gerakan tubuhnya cekatan. Pada usia menginjak 96 tahun ini, Mbah Sarijo (baca: Saryo) setiap hari masih bekerja di kebun pisang di belakang rumah. Sehari-hari pun dia kuat bersepeda keliling kota. Tetapi yang luar biasa, ingatannya masih sangat tajam manakala dia mengurai setiap detail perjalanan hidupnya. Dialah orang tertua sekaligus saksi hidup terakhir di kota Moengo, satu dari 32.962 orang Jawa yang pernah diangkut dengan kapal oleh Belanda ke Suriname. “Aku lahir di Desa Puluan,” kata Mbah Sarijo memulai kisahnya, “Itu ada di Negara Jawa. Tetapi aku tak tahu pasti di mana itu.” Mbah Sarijo bercerita dalam bahasa Jawa Ngoko yang kental, bercampur banyak kosakata Belanda dan Sranan Tongo (bahasa kreol Suriname). “Sebelum berangkat, Pak dan Mak-ku pisah, aku ikut Pak, mbakyuku ikut Mak. Pak-ku dulu kerja susah, di kebun, tidak ada kerja, tidak ada uang. Setahun itu kerja cuma tanam tebu dan padi, disuruh Belanda,” lanjutnya. Karena kemiskinan dan impian untuk hidup lebih baik, bapaknya yang bernama Moeljoredjo itu memutuskan untuk menjadi pekerja ke Suriname, dengan membawa istri baru dan anak lelakinya. Berdasar informasi dalam basis data Arsip Nasional Belanda, saya menemukan bahwa Sarijo lahir [...]

December 23, 2016 // 43 Comments

Den Haag, 24 November 2016: Djainem Moeridjan, Dukun Jawa di Belanda

Sudah hampir 30 tahun orang Jawa bermigrasi dari Suriname ke Belanda. Seiring waktu, tradisi Jawa semakin memudar, perlahan menghilang. Tidak banyak lagi dukun Jawa yang masih bisa melakukan ritual sebagaimana diwariskan leluhur turun-temurun. Tak heran, walaupun Mak Djainem Moeridjan sudah berusia 83 tahun, dia masih sibuk bepergian dari kota ke kota di seluruh penjuru Belanda untuk memenuhi panggilan. Dengan jadwal praktik yang begitu padat, cukup sulit membuat janji temu dengan Mak Djainem. Beruntung, dengan bantuan Ibu Hariette Mingoen—seorang aktivis diaspora Jawa Suriname, saya berhasil menemui Mak Djainem di kompleks apartemen khusus warga lanjut usia Jawa Suriname yang dinamai Wisma Tunggal Karso. Saya langsung merasakan keramahan khas Jawa begitu Mak Djainem membuka pintu rumahnya—kalimat pertamanya adalah permohonan maaf. “Jangan jadi penggalih kalau rumahku agak kotor,” katanya dalam bahasa Jawa Ngoko yang sangat kental. Kisah hidup Mak Djainem berasal dari tanah Jawa. Ayahnya saat itu masih perjaka, sedangkan ibunya semula adalah seorang istri yang sudah punya anak dua. Pada 15 Oktober 1918, mereka bersama-sama naik Kapal Karimata, sebagaimana hampir 600 penumpang yang lain, berangkat dari Semarang menuju Paramaribo, Suriname. Mereka di kapal yang sama, tetapi tidak saling mengenal. Ayah Mak Djainem sebenarnya bernama Satirin, 21 tahun, berasal dari Ngadiluwih, Kediri, naik kapal [...]

December 20, 2016 // 16 Comments

Groningen, 26 November 2016: Kisah Maluku di Negeri Belanda

Lelaki Maluku itu berdiri di atas panggung. Dengan suara bergetar, dia mengisahkan sebuah memori mengerikan tentang pamannya—seorang tentara KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) dari Maluku yang ikut aksi militer Belanda tidak lama setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Pamannya itu, saat itu adalah tentara muda berusia 18 tahun yang menjadi anggota korps elit Baret Hijau di bawah komando Raymond Westerling. Soal kekejaman Westerling dalam pembantaian ribuan orang di Sulawesi pada tahun 1946-1947 itu sudah menjadi pengetahuan umum. Pasukan mereka menyerang desa-desa, membunuhi semua yang ada: laki-laki, perempuan, tua, muda, anak dan bayi, bahkan semua ayam dan sapi, dan setelah itu mereka membumihanguskan desa. Sang paman, sebagai tentara yunior, mendapat ujian dari para senior. Di hadapannya satu orang Indonesia duduk berlutut dengan tangan terikat. “Tebas kepalanya!” perintah komandan, sambil menyerahkan kelewang. Tentara muda itu mengacungkan kelewang, tangannya bergetar hebat, tak sanggup dia mengayunkan kelewang itu. Tetapi, dikelilingi para komandan, dia tak punya pilihan. Trauma itu dibawa sang paman hingga ke masa tuanya. Di Belanda, ketika traumanya bangkit, dia berhalusinasi bahwa orang-orang Indonesia datang menyerangnya. Dia berteriak-teriak sendiri di kamar atas, menenggak alkohol, menaruh semua parang di depan pintu. Dia berteriak pada istri dan anak-anaknya, “Jangan naik! Ikan makan ikan!”—saudara bisa bunuh saudara. Ini [...]

December 3, 2016 // 6 Comments

Leiden, 20 November 2016: Diaspora Jawa Suriname Menyoal Makna Menjadi Jawa

“Apakah yang menjadikan Anda orang Jawa?” Pertanyaan itu diajukan pembawa acara kepada Johan Reksowidjojo, pemimpin Forum Javanen in Diaspora Nederland (JID-NL), atau Forum Orang Jawa dalam Diaspora di Belanda. Lelaki paruh baya itu terhenyak. Rupanya dia tidak menduga akan ditembak pertanyaan yang menohok itu, tepat setelah dia selesai membacakan sambutan pembukaan pada acara diskusi Identitas Orang Jawa (Suriname): Antara Pelestarian dan Pembaharuan. Merenung sejenak, sambil tertawa terkekeh Johan akhirnya menjawab, dia menjadi Jawa karena orangtuanya adalah orang Jawa, dia makan makanan Jawa, dan dia hidup secara orang Jawa. Tetapi, cukupkah itu untuk membuat seseorang menjadi Jawa? Acara diskusi ini digelar di Museum Volkenkunde, Leiden, dihadiri lima puluhan warga keturunan Jawa Suriname, di samping beberapa orang Belanda berkulit putih. Secara fisik, orang Jawa Suriname sangat mirip dengan orang-orang Jawa di Indonesia. Mereka berkulit cokelat terang hingga cokelat gelap, berpostur relatif pendek, beberapa memakai kopiah atau kebaya. Tetapi bahasa yang digunakan sepanjang acara hampir seluruhnya bahasa Belanda, sesekali diselingi kalimat-kalimat bahasa Jawa. Mereka ada karena migrasi. Pada akhir abad ke-19, Belanda mulai mengirimkan orang-orang Jawa ke Suriname untuk menjadi pekerja di perkebunan. Kebanyakan mereka, laki-laki maupun perempuan, sama sekali tidak tahu akan dibawa ke mana mereka. Mereka ditipu, bahwa mereka akan dibawa [...]

November 30, 2016 // 8 Comments

Amsterdam, 8 November 2016: Rumah Gamelan di Negeri Belanda

Hujan rintik di malam dingin bulan November di Amsterdam. Tetapi itu tidak menyurutkan niat lima belas orang dari berbagai bangsa ini untuk berlatih memainkan orkestra tradisional Jawa. Di antara mereka ada Ivy, seorang perempuan paruh baya Cina Suriname yang telah bermain gamelan selama 20 tahun. Dia piawai memainkan slenthem, instrumen tetabuhan berupa barisan lembaran logam tipis yang menghasilkan dengungan rendah. Matanya setengah terpejam dan kepalanya bergoyang-goyang lambat, manakala tangan kanannya mengayunkan pemukul, dan tangan kirinya me-matet, atau menahan getaran lembaran perunggu agar suara yang dihasilkan tetap terkontrol. Sedangkan Ruth Jaeger yang berasal dari Köln di Jerman rela datang jauh-jauh ke Amsterdam setiap Selasa untuk berlatih gamelan. Di negaranya sendiri memang ada grup gamelan, tetapi dia menemukan permainan di Amsterdam ini lebih bervariasi dan menantang. Di sini, dimainkan gending yang cepat maupun lambat; yang mudah seperti Menthog-Menthog sampai yang sulit seperti Palaran, yang menuntut kerja sama tingkat tinggi antara vokal, kendang, ketuk kenong, dan gong. Ada pula Gabriela, yang kecintaannya terhadap gamelan berawal dari kebiasaan. Rumah wanita asli Belanda itu berada di dekat Het Gamelanhuis—tempat grup gamelan ini berlatih—dan sejak lama dia sering mendengar dengung alunan orang berlatih gamelan, yang begitu magis terus bergema sampai ke alam mimpinya. Itu membuatnya tertarik [...]

November 22, 2016 // 6 Comments

Leiden, 5 November 2016: Garis Batas di Atas Kertas

“Maaf, Tuan, kami tidak bisa mengizinkan Anda naik ke pesawat,” kata petugas di balik konter China Airlines, saat saya melakukan pelaporan di bandar udara Svarnabhumi, Bangkok, Thailand, untuk penerbangan saya menuju Belanda. Kepada petugas yang seorang lelaki muda Thai ini, saya telah mengakui bahwa saya belum memastikan tanggal berapa saya akan meninggalkan Eropa, dan saya juga tidak memiliki tiket pulang. “Tetapi saya hendak ke sana melakukan riset,” kata saya, “Mustahil bagi saya untuk memastikan kapan riset saya akan benar-benar selesai. Lagi pula, saya memiliki visa yang panjang, untuk satu tahun.” Petugas itu kembali mengamati stiker visa yang tertempel di dalam paspor saya. Visa saya adalah Visa Schengen untuk kategori C, visa tinggal jangka pendek, yang artinya saya bisa tinggal di negara-negara Eropa penandatangan perjanjian Schengen selama maksimal 90 hari dalam setiap masa 180 hari. Lelaki itu menggeleng. “Saya sudah tanya atasan saya,” katanya, “Untuk kategori visa C, wajib untuk mempunyai tiket pulang yang sudah terkonfirmasi.” Dia lalu menutup buku paspor saya, dan mengembalikannya kepada saya tanpa pas naik. “Maaf, Tuan, Anda harus punya rencana yang pasti.” Saya tetap berdiri di sana beradu argumen, sementara petugas itu berusaha meyakinkan bahwa saya bisa membeli tiket pulang dan membatalkannya begitu saya sampai di [...]

November 11, 2016 // 9 Comments

Penulis Bicara Soal Garis Batas

Seperti halnya oksigen dan gravitasi bumi, garis batas tidak terlihat, tetapi ia memengaruhi setiap aspek hidup kita. Mulai dari garis batas fisik sampai ke kewarganegaraan, etnik, agama, bahasa, warna kulit, ideologi… garis batas ada di mana-mana. Garis batas menempatkan orang dalam kotak yang berbeda-beda, dan telah menyebabkan begitu banyak penderitaan sejak awal peradaban kita. Tetapi, apakah kita benar-benar bisa terbebas dari semua garis batas itu dan hidup dalam sebuah dunia yang tanpa batas? Pada ajang literasi internasional tahunan yang di gelar di Ubud, Bali, tahun ini saya diundang untuk berbicara dalam sejumlah sesi yang berhubungan dengan garis batas. Kebetulan, Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2016 ini mengangkat slogan Tat Tvam Asi, yang diterjemahkan sebagai: I am You, You are Me. Ini adalah sebuah kalimat suci dalam bahasa Sanskerta, yang melambangkan tentang Kebenaran Hakiki yang ada di dalam diri setiap manusia. Tetapi kalimat ini juga bisa diartikan sebagai dukungan terhadap keberagaman: bahwa semua manusia, walaupun berbeda-beda, pada hakikatnya adalah satu. Bagi saya pribadi, slogan Tat Tvam Asi beresonansi sangat kuat. Sebagai minoritas, saya dibesarkan dengan konsep garis batas yang terpatri di benak. Perjalanan saya berkeliling Asia dengan menembus berbagai garis batas negeri pun sesungguhnya berawal dari kegelisahan saya akan garis [...]

November 3, 2016 // 4 Comments

Tarakbits 26 Oktober 2014: Gereja dan Budaya

Selama perjalanan saya di Papua Nugini, saya menemukan bahwa kehidupan di negeri ini sangat berbeda dengan apa yang saya bayangkan. Sebelum datang ke sini, imajinasi saya terbentuk oleh gambar-gambar kuno tahun 1970an: orang-orang primitif dari dalam rimba yang bertelanjang baik laki-laki maupun perempuan. Kenyataannya, mereka sudah sangat “modern”. Tidak ada lagi koteka yang menutup kemaluan para lelaki, dan dada telanjang perempuan hampir tidak terlihat sama sekali (kecuali kalau mereka sedang menyusui, atau benar-benar sedang tidak ada baju yang bisa dipakai). Penyebab utama di balik perubahan yang sangat drastis ini adalah agama. Empat dasawarsa lalu, mayoritas penduduk Papua Nugini masih belum mengenal agama (Kristen), dan hidup dengan tradisi suku-suku asli di dalam hutan. Sejak tahun 1970an, Kristenisasi sangat gencar dilakukan di seluruh Papua Nugini, dan membawa perubahan gaya hidup drastis terhadap suku-suku asli itu. Bersamaan itu pula, tradisi suku asli Papua perlahan memudar dan sirna, karena gereja melarang segala sesuatu yang dianggap bertentangan dengan iman gereja. Di sepanjang pesisir selatan Western Province, maupun perjalanan menyusuri Sungai Fly, saya menyaksikan sebagian besar tradisi asli sudah mati. Pada peringatan hari kemerdekaan Papua Nugini 16 September lalu, penduduk daerah Suki merayakannya hanya dengan bermain basket, voli, dan kriket. Sejumlah pendeta yang saya temui mengatakan, [...]

November 2, 2016 // 5 Comments

Benkim 25 Oktober 2014: Patok Batas Negeri

Sudah dua bulan lebih saya melakukan perjalanan yang sangat berat secara mental dan fisik menyusuri perbatasan RI—PNG. Saya bahkan sudah beberapa kali melintasi perbatasan, masuk ke Indonesia dan kembali lagi ke Papua Nugini secara ilegal. Tetapi belum pernah sekali pun saya menyaksikan garis perbatasan itu berwujud gamblang di depan mata saya. Yang saya lihat hanya hutan rimba dan gunung, sungai atau rawa. Keinginan saya begitu menggebu. Saya berteguh hati berkata pada Papa Felix, “Apa pun yang terjadi, saya mau lihat patok perbatasan itu!” Tepat di antara Digo dan Binkawuk terdapat satu desa bernama Benkim. Di sinilah terdapat salah satu dari seratusan patok penanda perbatasan yang berderet sepanjang 740 kilometer perbatasan darat antara RI dan PNG. Perjalanan dari Digo dan Tarakbits sebenarnya bisa lewat Benkim, sedikit lebih jauh dan memutar daripada rute “jalur pintas” yang berupa garis lurus melintasi hutan yang kami ambil waktu datang ke sini. “Perut saya sakit,” kata Papa Felix, “Saya cuma ingin cepat-cepat pulang ke Binkawuk. Kalau lewat Benkim nanti malam baru kita sampai Binkawuk.” “Tetapi melihat patok itu penting bagi saya,” kata saya. Saya menjanjikan sedikit uang kepadanya. Papa Felix bilang pikir-pikir dulu, lihat keadaan nanti. Pagi itu juga, setelah menyantap pisang rebus (semua pisang masih [...]

October 18, 2016 // 10 Comments

Digo 24 Oktober 2014: Sekolah Papua Nugini di Indonesia

Pagi yang dingin, sekujur punggung saya pegal karena semalaman tidur di atas bilah kayu lantai gubuk yang renggang-renggang. Saya terbangun oleh sayup-sayup suara anak-anak menyanyikan lagu kebangsaan Papua Nugini dengan nada sumbang di kejauhan. O arise all you sons of this land,     Let us sing of our joy to be free,     Praising God and rejoicing to be     Papua New Guinea. Saya sedang berada di Digo, sebuah kamp yang dihuni para pengungsi OPM (Organisasi Papua Merdeka) dari wilayah Papua Indonesia yang melarikan diri ke wilayah Papua Nugini pada tahun 1984. Tetapi banyak penduduk sini yang tidak menyadari bahwa Digo sebenarnya berada di wilayah Indonesia, bukan di Papua Nugini. Letak Digo adalah sekitar 5 kilometer di barat garis perbatasan lurus antara kedua negara. Bagaimana lagu kebangsaan Papua Nugini bisa dinyanyikan di wilayah Indonesia? Saya bergegas menuruni tangga rumah panggung, berlari menuju gedung sekolah. Di kamp pengungsi ini, semua dari 40an rumah panggung yang ada terbuat dari bahan-bahan hutan, yaitu kayu, kulit pohon sagu, dan daun sagu, sedangkan sekolah yang terletak di tengah lapangan bertanah merah itu dindingnya terbuat dari seng. Seng—yang bahannya harus dibeli dari pasar di kota, minimal dua hari perjalanan dari sini—sudah terbilang sangat mewah untuk kehidupan [...]

October 17, 2016 // 3 Comments

Digo 23 Oktober 2014: Takut Bendera Merah Putih

Saya sebenarnya sudah berada di Indonesia, atau sekitar 5 kilometer di sebelah barat garis lurus yang menjadi perbatasan RI—PNG. Inilah Digo, sebuah kamp yang dihuni para pelarian West Papua, bagian gerakan pengungsian akbar Organisasi Papua Merdeka (OPM) ke Papua Nugini pada tahun 1984. Mereka melarikan diri dari Indonesia, tetapi mereka tidak sadar bahwa mereka masih berada di Indonesia. Setelah seharian berjalan menembus hutan lebat, naik turun bukit, menyeberangi begitu banyak sungai dan rawa dan lautan lumpur, saya dan Papa Felix tiba di Digo. Kamp ini terletak di atas bukit hijau. Rumah-rumah gubuk berpanggung bertebaran di atas tanah lapang berwarna merah. Semua rumah di sini terbuat dari bahan hutan: kayu pohon yang masih kasar dan atap dari daun sagu. Kejauhan di bawah bukit sana, terlihat Sungai Ok Ma, yang hulunya di wilayah Indonesia, tetapi mengalir ke arah Papua Nugini, dan akan bergabung dengan Sungai Ok Tedi dan Sungai Fly. Anak-anak bertelanjang bulat atau bertelanjang dada berlarian di lapangan, beberapa bermain egrang, dengan tubuh kurus dan perut buncit kekurangan gizi. Beberapa bocah itu juga menderita kurap yang sangat parah, di badan maupun di kepala. Bocah-bocah itu juga mengganggu para babi kurus dan para anjing kerempeng, yang menguik memelas dan menggonggong berlari dikejar-kejar [...]

October 14, 2016 // 3 Comments

1 2 3 8