Recommended

nomaden

Perjalanan Kirghiz: Di Manakah Rumah?

Nama dari surga itu tersebar di seluruh Afghanistan. Kau bisa menemukannya di toko, di restoran, di supermarket, di hotel, biro tur, perusahaan, organisasi sosial, dan bahkan di pesawat terbang. Tidak berbeda dengan Shangri-La, Pamir telah menjadi sebuah mitos utopis—sebuah surga pegunungan yang dilimpahi keindahan dan kedamaian abadi, begitu jauh sampai tak seorang pun yakin tempat itu apakah benar ada. Untuk mencapai Pamir, saya pergi ke Koridor Wakhan yang sangat terpencil. Itu adalah sebuah lidah yang cukup kikuk yang seperti ditempelkan secara paksa ke ujung timur-laut Afghanistan. Daerah itu berupa segaris tanah sempit yang memanjang, hanya 11 kilometer pada sisi tersempitnya, membentang 300 kilometer, dijepit oleh Tajikistan di utara, Pakistan di selatan, dan China di timur juah. Koridor Wakhan terbentuk pada abad ke-19 sebagai zona penyangga antara India Inggris dan kekaisaran Rusia. Saya membutuhkan sepuluh hari untuk bepergian dari Kabul, dengan membonceng berbagai kendaraan hingga mencapai ujung terakhir jalan tak beraspal yang rusak parah di sepanjang aliran Amu Darya. Di sini petualangan dimulai. Saya membonceng sebuah karavan yang terdiri dari empat tentara Afghan dan seorang komandan mereka yang hendak berpatroli ke perbatasan. Mereka punya empat kuda, dan dua warga desa disuruh memandu. Jalan setapak hanya selebar 30 sentimeter, tertutup kerikil dan [...]

April 22, 2016 // 6 Comments

Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (6)–Jalan Menembus Batas

Serial artikel untuk Chinese National Geography Jalan Menembus Batas “Afghan datang! Afghan datang!” Para bocah yang tinggal di perkemahan yurt keluarga Khan bersorak meloncat-loncat menyaksikan titik kecil hitam yang bergerak di padang luas. Titik itu semakin mendekat, semakin menampakkan wujudnya. Para lelaki dari keluarga Khan berlarian menyambut. “Afghan datang!” Orang Kirgiz Afghan secara natural tidak pernah menganggap diri mereka sebagai “Afghan”. Para “Afghan” itu adalah dua pedagang Pashtun dari Kabul yang beserban dan berjenggot, membawa karung-karung besar di punggung kuda. Keduanya langsung menuju sebuah yurt kosong yang dikhususkan menerima tamu. Di sana, mereka membongkar isi karung, sementara para lelaki keluarga Khan sibuk memilih barang, dan anak-anak hanya menonton di sudut kemah sambil terkikik-kikik. Di Pamir tidak ada toko dan pasar. Semua barang kebutuhan orang Kirgiz di Pamir, mulai dari gandum sabun, kain, gula, selimut, radio, panel surya, potongan kayu untuk membangun tenda, kain merah untuk bahan pakaian perempuan Kirgiz, bros China untuk hiasan baju, sampai opium, dibawa oleh karavan pedagang Afghan dari bawah gunung sana. Mereka datang berkaravan, beriringan menunggang kuda. Di Pamir juga tidak ada uang. Perdagangan di abad milenium masih dilangsungkan dengan cara yang paling primitif: barter. Satuan mata uang mereka adalah domba. Seekor domba berumur empat tahun [...]

September 25, 2015 // 1 Comment

Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (5)–Perjalanan yang Terhenti

Serial artikel untuk Chinese National Geography Perjalanan yang Terhenti Nama Pamir bagi kebanyakan orang Afghan adalah sinonim surga. Nama Pamir bertebaran di seluruh Afghanistan, mulai dari toko, restoran, hotel, biro wisata, perusahaan dagang, lembaga sosial, sampai maskapai penerbangan. Seperti Shangri-La, Pamir telah menjadi mitos utopia, sebuah tempat fantastis berlimpah keindahan dan kedamaian sempurna. Namun, mengalami sendiri kehidupan di Pamir, saya tahu pasti ini bukanlah kehidupan surgawi yang dibayangkan orang-orang. Pada ketinggian yang ekstrem ini, kehidupan Pamir sama sekali tidak normal. Sore musim panas yang berkabut dan bersalju lebat itu, saya berkuda menuju perkemahan sang Khan—raja suku orang Kirgiz di Pamir. Khan Abdul Rashid Khan, lelaki renta bertubuh ringkih itu berjalan pincang dengan dibantu sebuah tongkat kayu, masuk ke dalam yurt, duduk setengah berbaring. Tidak sedikit pun saya melihat kemegahan seorang “raja” pada diri Khan. Lima kemah pada klan keluarga Khan tidak jauh berbeda dengan permukiman klan-klan Kirgiz lainnya, bahkan jumlah ternaknya terlalu sedikit jika dibandingkan sejumlah keluarga lainnya. “Mengapa tetap tinggal di alam yang sekeras ini?” saya bertanya. “Tanah kami ini memang sulit, tetapi kami tak mungkin meninggalkannya,” jawabnya. “Kami sudah terlalu banyak berpindah. Sekarang kami sudah menemukan rumah. Di sini, di Pamir Afghanistan. Rumah kami, sekarang dan selamanya.” Kirgiz [...]

September 24, 2015 // 4 Comments

Koridor Wakhan: Jalan Terakhir Jalur Sutra (4)–Kehidupan Gembala Atap Dunia

Serial artikel untuk Chinese National Geography Kehidupan Gembala Atap Dunia Jalan mobil buatan Rusia berakhir di Sarhad-e-Boroghil, 220 kilometer di timur Ishkashim. Ini menandai berakhirnya Lembah Wakhan, yang dilanjutkan dengan Pamir di timur, ke arah perbatasan China. Selepas Sarhad, yang ketinggiannya sekitar 3300 meter, jalan berubah menjadi jalan setapak yang hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki atau berkuda, melintasi celah-celah pada ketinggian 5.000 meter dikelilingi puncak-puncak salju yang mencapai 7.000an meter. Ini jalan berbahaya di tepi jurang curam, yang seperti tak pernah tersentuh peradaban, namun justru adalah sebuah lintasan Jalur Sutra yang tak berubah sejak zaman Marco Polo. Karena terlalu berbahaya, saya tidak mungkin ke Pamir sendirian. Setelah empat hari menunggu di Sarhad, saya akhirnya menemukan sebuah karavan kuda para tentara Afghan yang hendak menuju Pamir. Karavan terdiri dari seorang komandan perbatasan, seorang pengawal, empat serdadu memanggul Kalashnikov. Mereka mendapat tiga ekor kuda dari penduduk Sarhad. Dua lelaki Wakhi dari Sarhad menjadi pemandu karavan. Di hadapan saya terpampang jalan setapak berpasir licin selebar 30 sentimeter tepat di tepi jurang vertikal yang kedalamannya mungkin sampai 1000 meter, dengan sebuah sungai deras mengaum dalam perjalanannya menuju Amu Darya, sementara tepat di seberang sungai ada sebuah tebing vertikal lain yang membentuk gunung cadas [...]

September 23, 2015 // 3 Comments

Esquire (2013): Di Atap Dunia

1 2 • 1 3 Esquire Gourmet Halaman 19 Di Atap Dunia Kuliner yang amat mengakar budaya >>> Teks & Foto: Agustinus Wibowo “Makanan apa ini?” gerutu seorang tamu saat memandang piring-piring besar yang disajikan para gembala Pamir. Di satu piring, kepala domba utuh dengan mulut seperti mengerang plus bola mata hitam menyembul,menatap ke arah kami, para tamu kehormatan. Tersaji di pinggan sebelahnya, sebongkah gajih seukuran semangka dari pantat domba, empuk bagai agar-agar yang berbalut minyak. Menu istimewa dari padang gembala di ujung terjauh Afghanistan ini direbus tanpa bumbu dan garam, menyisakan rasa dan aroma domba yang paling murni. Kepala domba adalah bagian paling mulia, simbol penghormatan bagi tamu teristimewa. Lemak domba untuk tamu level dua. Potongan daging sebesar lengan manusia itu untuk tetamu biasa. Berulang kali kami memohon pada tuan rumah untuk diperlakukan sebagai tamu biasa, dalam hati sungguh tidak tega melahap kepala domba dan menelan gumpalan lemak itu. Penghuni Pamir adalah bangsa nomaden Kirgiz, mendiami padang rumput di ketinggian 4.500 meter, dikelilingi barisan gunung bertudung salju. Tidak ada musim panas, apalagi pohon, belukar, buah, toko, atau pasar. Bahkan perdagangan masih menggunakan sistem barter dengan mata uang berupa domba. “Domba murahan adalah yang lemaknya sedikit,” kata pepatah bangsa Kirgiz. [...]

December 16, 2013 // 4 Comments

Garis Batas 70: Cermin Gulshan, Cermin Halmiyon (2)

Bocah-bocah Uzbek di sekolah Kirghiz (AGUSTINUS WIBOWO) Gulshan adalah sebuah desa di Uzbekistan yang dipotong-potong oleh garis perbatasan Kyrgyzstan yang hanya para komrad Soviet dan Tuhan yang tahu apa mengapanya. Ada perbatasan di tengah gang kecil, ada keluarga yang dipecah-pecah oleh batas negara, ada bangunan rumah yang separuh ikut Uzbekistan separuh ikut Kyrgyzstan. Tepat di sebelah Gulshan, ada desa Halmiyon. Orang-orangnya, kulturnya, rumah-rumahnya, bahasanya, semua sama persis dengan Gulshan, yang cuma sepuluh langkah kaki jauhnya. Bedanya, di Halmiyon yang berkibar adalah bendera merah Kyrgyzstan. Saidullo mengendarai mobil Tico-nya, made in Uzbekistan, membawa saya melintasi jalan setapak di belakang desa. Jalan ini tak beraspal dan becek. Gunung-gunung salju berjajar di hadapan. Itu gunungnya Kyrgyzstan, Negeri Gunung Surgawi yang memang tak pernah lepas dari gunung dan salju. Sebenarnya jalan setapak ini juga sudah masuk wilayah teritorial Kyrgyzstan. Saya sedang dalam misi penyelundupan lintas batas tanpa paspor masuk ke wilayah Kyrgyzstan secara ilegal. Tetapi kata Saidullo, ini sudah biasa, orang-orang Halmiyon pun tidak mungkin bisa hidup tanpa interaksi dengan Gulshan, demikian pula sebaliknya. Apalagi pernikahan internasional antara penduduk dua desa sudah sangat lazim. Saidullo mengemudikan kendaraannya ke pusat Halmiyon. Saya dibawa ke sebuah sekolah, gedungnya berdiri megah, papan namanya bertulis “Sekolah Toktogul No. [...]

September 19, 2013 // 0 Comments

Garis Batas 33: Kumis dan Balbal

Negeri bangsa pengembara (AGUSTINUS WIBOWO) Salju mulai mengguyur kota Bishkek, menyulap taman-taman cemara menjadi negeri Sinterklas. Anak-anak Rusia dengan riang membuat manusia salju. Kakek-kakek melintas pelan karena lapisan es yang licin sudah membungkus jalan setapak. Saya hanya bisa tertegun, karena celana jeans yang saya cuci dan jemur di luar sepanjang malam, kini jadi kaku seperti papan tripleks. Musim dingin sudah datang di Kyrgyzstan. Setelah diguyur salju selama dua hari terakhir, matahari mulai menampakkan senyumnya. Kota yang sempat muram, dingin, dan kelabu, seketika menjadi penuh gairah. Selain taman-taman yang dipenuhi para gadis muda yang sibuk berfoto di tengah lapisan salju, menggelincir di atas lapisan es, dan kakek-nenek yang berjalan-jalan menikmati segarnya udara bermandi sinar mentari, TSUM juga penuh sesak oleh pembeli. TSUM adalah department store pusat, mal terbesar milik pemerintah di seluruh negeri. Mal berlantai tiga ini mungkin tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pertokoan di Jakarta, tetapi gedung ini cukup fenomenal di Kyrgyzstan. Mal ini adalah satu-satunya gedung di seluruh negeri yang memiliki eskalator, mungkin sudah ada sejak zaman Soviet. Eskalator tua dengan tangga yang tinggi-tinggi dan bersudut tajam, meluncur perlahan dengan suara berderik, seakan sudah tak kuat lagi membawa para pengunjung. Toko-toko tersebar di semua penjuru, mulai dari studio foto [...]

July 30, 2013 // 0 Comments

Garis Batas 32: Nikah ala Kirghiz

Bersulang anggur (AGUSTINUS WIBOWO) Betapa saya hampir menangis, ketika saya mendapatkan paspor saya yang hilang masih disimpan dengan rapi oleh gadis penjaga kserokopia. Moken yang dengan sabar menunggu di rumah ikut tertawa bahagia. Masalah paspor saya yang hilang, seperti garam yang dituang ke lautan, hanya menambah kesibukan keluarga Moken yang sudah teramat sangat sibuk. Anak Moken yang paling besar, Timur, akan menikah dengan Zarina. Keduanya masih belum 20 tahun. Zarina, si gadis Kirghiz yang ayu itu, sudah sejak sebulan ini tinggal di rumah Moken bersama Timur. Akad nikah sebenarnya sudah dilaksanakan jauh sebelumnya. Hanya kurang resepsinya saja, yang juga harus menunggu hari baik tanggal baik. Rumah Moken sudah kebanjiran tamu sejak seminggu ini. Kebanyakan sanak saudara, yang hubungan persaudaraannya rumit sekali. Di Kyrgyzstan, arti keluarga sangat penting. Dalam bahasa Kirghiz, untuk menyebut ‘paman’ dan ‘bibi’ saja banyak sekali istilahnya. Kayanya kosa kata dalam pertalian kekeluargaan menunjukkan kuatnya ikatan persaudaraan dalam kultur bangsa ini. Dari Toktogul berdatangan sanak saudara Moken, yang biarpun dijelaskan hubungannya, saya susah sekali mengerti. Ada kakek Moken yang sudah tua sekali, namun masih sangat sehat, berjenggot putih dan bertopi bulu. Benar-benar seorang aksakal dalam arti yang sebenarnya. Orang Kirghiz menyebut kakek tua yang dihormati sebagai aksakal, yang [...]

July 29, 2013 // 0 Comments

Garis Batas 21: Danau Kematian

Karakul, danau besar di puncak atap dunia, adalah sebuah danau raksasa. Tak ada kehidupan di dalamnya.  Dalam bahasa Kirghiz, Karakul berarti danau hitam. Danaunya sendiri tidak hitam, malah biru kelam memantulkan warna langit yang cerah. Yang hitam adalah kehidupannya. Dalam danau yang sangat asin ini, tak ada satu pun makhluk yang bisa hidup. Danau ini tercipta oleh sebuah meteor yang jatuh menghantam bumi, jutaan tahun silam. Biksu Buddha Xuanzang, ribuan tahun yang lalu, pernah lewat sini. Marco Polo pun pernah melintas. Kini, danau ini masih menyimpan misteri dalam keheningannya. Di dekat danau ada sebuah dusun kecil. Penduduknya berasal dari etnis Kirghiz , hanya ada satu orang Tajik. Saya sebenarnya dikenalkan oleh orang-orang di Murghab untuk menginap di rumah orang Tajik yang polisi ini. Tetapi, ketika saya sampai di Karakul, si polisi sudah tidak tinggal di sini lagi. Saya pun menginap di sebuah rumah keluarga Kirghiz yang memang sudah dipersiapkan oleh organisasi Perancis, Acted, di Murghab, sebagai losmen untuk melayani orang asing. Keluarga ini tidak bisa bahasa Tajik, tetapi si suami bisa sedikit-sedikit. Setidaknya mereka bisa menyanyikan lagu kebangsaan Tajikistan dengan bangga, “Zindabosh e vatan Tajikistan e azadi man…,” walaupun tidak tahu artinya sama sekali. Tildahan, istrinya, seorang wanita muda yang [...]

June 9, 2013 // 1 Comment

Lion Air Magazine (2009): Surga di Bumi Afghan

May 2009 LionMag SURGA DI BUMI AFGHAN Teks dan foto-foto: Agustinus Wibowo Adakah surga di Afghanistan? Lupakan gurun tandus dan desingan badai pasir. Lupakan perang, mayat bergelimpangan, ledakan bom. Di sini yang ada hanya kesunyian dan kedamaian di padang rumput hijau membentang, dikelilingi gunung bertudung salju yang bagaikan dinding berjajar di segala arah. Danau biru hening memantulkan kelamnya langit. Anak gembala mengiring kawanan ratusan domba dan yak, perlahan melintasi gunung cadas.   Pegunungan Pamir boleh jadi adalah tempat paling terpencil di negara ini. Letaknya di ujung terjauh di timur laut, dikelilingi oleh Cina, Tajikistan, dan Pakistan. Orang lebih mengenalnya dengan nama Atap Dunia di mana awan begitu rendah, nyaris tergapai. Di sini waktu pun seperti berhenti mengalir. Bangsa pengembara tinggal di kemah bundar, berpindah-pindah padang seiring bergantinya musim, mencari mata air dan rumput untuk menghidupi mereka sepanjang tahun. Ini adalah cara hidup yang sama seperti nenek moyang mereka ratusan tahun silam. Surga –kalau boleh kedamaian di tengah kecamuk perang Afghanistan ini disebut– sungguh tak mudah dijangkau. Ketika di zaman modern ini pesawat terbang sudah mewujudkan fantasi manusia untuk menjelajah bumi dengan kecepatan seribuan kilometer per jam, di pegunungan ini perjalanan masih berarti merayap perlahan di atas punggung kuda atau keledai [...]

May 11, 2009 // 16 Comments