Recommended

Tionghoa

Ayahku dan Laut

Pertama kali aku melihat laut adalah saat umurku lima tahun, ayahku membawaku berhadapan dengan Samudra Hindia. Kami tinggal di pesisir selatan Pulau Jawa, menyebutnya sebagai Laut Selatan. Matahari baru merangkak naik, ombak terus bergemuruh menabrak bongkah batu karang di pantai. Kaki kami menapaki pasir hitam yang dibilas ombak, ayahku menunjuk ke garis cakrawala. Di balik garis itu, dia bilang, ada sebuah dunia yang sama sekali berbeda. Australia. Jika kau berenang terus ke selatan, kau akan tiba di Australia. Tapi, Laut Selatan tidaklah mudah diseberangi. Setiap tahun, selalu ada korban. Orang berenang, nelayan, penumpang kapal, bahkan pengunjung pantai yang mencelupkan kaki di air pun bisa terseret arus. Menurut legenda Jawa, ayahku bercerita, ganasnya laut ini adalah karena di dalamnya bersemayam Sang Ratu Laut Selatan, yang selalu mencari jiwa untuk dibawa ke istananya di dasar laut. Aku mempererat genggamanku pada tangan Ayah. Ayah tertawa, mengejekku sebagai pengecut. Jauh di lubuk hatiku, aku bermimpi menjadi ikan yang bebas mengarungi samudra luas, dari negeri ke negeri, dari benua ke benua. Tapi masa kecilku justru terpasung di dalam kamar. Aku takut keluar rumah. Aku takut ketika orang-orang di luar mengolok-olokku karena mata sipitku dan kulit kuningku. “Cina! Cina!” Saat itu aku sering bertanya: siapa diriku [...]

April 6, 2017 // 16 Comments

[Xingli]行李︱Agustinus:如果一个国家由17000个岛屿组成,还有什么事不能发生?

An interview with a Chinese media on the diversity of Indonesia. It was an in-depth interview, for more than 3 hours by phone (!). Here I talked about my experience and coming project on Indonesian nationalism. I discussed about the South Mollucan Republic movement, Papuan issues, Sharia Islam implementation in Aceh, the traditional religion of Toraja, the Javanese diaspora community of Suriname, the tourism history of Bali, the Dutch colonialization history, the religion policies of Indonesia, until my experience living as Chinese-ethnic in Indonesia. After the interview, I realized that the project I’m doing now is indeed very huge, very challenging, but at the same time, colourful and enlightening, as I also got much deeper in learning about my own country, my nation, and myself. Xingli 2017-03-24 07:14   这是Agustinus Wibowo的第二篇访谈,第一篇详见:【在阿富汗的3年里……】一个印尼作家,一直被祖辈告知他是中国人,但是当他19岁终于“回到”中国时,却被当做外国人,他第一次困惑自己的身份:我是中国人还是印尼人吗?他决定寻找印尼人的故事。而印尼人的故事,和17000多个岛屿有关,和400多座火山、700多种语言、300多个民族有关,也和各种闹独立的故事有关——有的在边境上闹,有的在海外闹;而作为华人,印尼人的故事当然还和无数次排华事件有关…… 行李&Agustinus Wibowo [...]

March 31, 2017 // 7 Comments

#1Pic1Day: Naga Kebebasan | Dragon of Freedom (Indonesia, 2013)

Dragon of Freedom (Indonesia, 2013) During the New Order under Suharto, Chinese culture was banned in Indonesia, including traditional and religious rituals. After the Reform Era, Chinese Indonesian (known locally as Tionghoa, from the Chinese word of “Zhonghua”) started to gain their rights as citizens, including performing their culture. The annual celebration of Cap Go Meh, the 15th day after the Chinese New Year/Spring Festival, is a great festive for the whole city. Chinese temples and other communities (including Muslims) participate in the parade, showcasing traditions and dances from all over Indonesia, including the Chinese Dragon Dance, for sure. Naga Kebebasan (Indonesia, 2013) Pada masa Orde Baru, kebudayaan Tionghoa dilarang di Indonesia, termasuk ritual perayaan tradisional dan religius. Setelah memasuki era Reformasi, barulah Tionghoa bebas mengekspresikan budaya mereka. Acara tahunan Cap Go Meh, atau hari ke-15 sesudah Imlek, menjadi pesta rakyat yang sangat meriah di Bogor, di mana berbagai elemen masyarakat dan kelenteng-kelenteng di Jawa Barat berparade menampilkan kebudayaan Nusantara dan kebudayaan Tionghoa, termasuk barongsai. [...]

January 31, 2014 // 0 Comments