Recommended

penulisan

Dari Titik Nol Menuju Frankfurt

Kisah ini dimulai dari seorang ibu yang terbaring di ranjang rumah sakit menanti ajal. Anaknya yang bertahun-tahun tinggal di perantauan akhirnya pulang. Menyadari tidak banyak waktu tersisa, anak itu duduk di samping ibunya, membacakan buku hariannya tentang negeri-negeri jauh yang pernah dialaminya. Bersama cerita-cerita itu, sang ibu yang tidak pernah ke mana-mana itu akhirnya membuka sebuah cerita yang selama ini dipendamnya. Tentang masa kecilnya, cintanya, penantiannya, perjuangannya, Tuhannya, hidup dan matinya. Dua perjalanan dalam dua dimensi waktu dan tempat itu berkelindan, akhirnya menyatu. Itulah kisah yang tertuang dalam memoar-cum-catatan-perjalanan saya, Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan, yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2013. Buku itu mendapat sambutan cukup hangat dari pembaca Indonesia. Beberapa bulan setelah buku itu terbit, penerbit menanyakan apakah saya tertarik menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris. Pada saat itu, Indonesia telah dipastikan akan menjadi Tamu Kehormatan dalam ajang pameran buku terbesar di dunia—Frankfurt Book Fair 2015. Itu artinya, fokus dunia perbukuan akan tertuju pada Indonesia. Namun terlepas Indonesia adalah negara dengan populasi terbesar keempat dunia dan industri buku yang sangat aktif dengan penerbitan 30.000 judul buku per tahun (faktor penting terpilihnya Indonesia sebagai Tamu Kehormatan), Indonesia masihlah sebuah negara “tembus pandang” di kancah perbukuan [...]

October 11, 2015 // 40 Comments

Pos Sore (2015): Agustinus Wibowo Berbagi Ilmu ‘Travel Writing’

http://possore.com/2015/09/27/agustinus-wibowo-berbagi-ilmu-travelling-writing/ SMESCO Art Fest & Netizen Vaganza 2015 Minggu, 27 Sep 2015 MENUANGKAN perjalanan kita dalam bentuk tulisan? Mengapa tidak. Jangan biarkan travelling berkesan kita berlalu begitu saja hanya dalam penggalan foto demi foto, lalu dishare di media sosial atau di blog. “Menuliskan perjalanan adalah juga suatu perjalanan,” begitu kata Agustinus Wibowo, seorang penulis dan fotografer perjalanan kepada peserta workshop ‘Travelling Writing’ di gedung Smesco UKM/RumahKU (Rumahnya Koperasi dan UKM), Minggu (27/9). Pria asal Jawa Timur itu sengaja diundang Lembaga Layanan Pemasaran Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (LLP-KUKM) Kemenkop dan UKM yang dipimpin Ahmad Zabadi itu untuk mengisi acara SMESCO Art Fest dan Netizen Vaganza 2015 pada 26-27 September 2915. Kegiatan itu berisikan berbagai workshop, antara lain ‘Travelling Writing’. Mengapa workshop bertema ini diangkat? Karena ternyata, sebagaimana diutarakan Ahmad Zabadi, menuliskan travelling dalam sisi yang lain seperti yang dilakoni Agustinus Wibowo, bisa menghasilkan uang. Selain tulisan dapat dinikmati oleh diri sendiri, juga bisa dipublikasikan di media, yang tentunya akan mendapatkan honor penulisan. Dan, kalau beruntung, penerbit akan membukukan jurnal perjalanan tersebut. Karya ini pun akan mendatangkan pundi-pundi uang dan juga kepuasan batin. Di hadapan para peserta workshop yang sebagian besar blogger, sarjana ilmu komputer di [...]

September 27, 2015 // 2 Comments

Indonesia Book Fair (2013): Menulis Perjalanan Ke Dalam Diri Sendiri

http://www.indonesiabookfair.net/2013/11/09/agustinus-wibowo-menulis-perjalanan-ke-dalam-diri-sendiri/ Agustinus Wibowo: Menulis Perjalanan Ke Dalam Diri Sendiri Agustinus Wibowo (32), seorang backpacker penulis trilogi perjalanan Selimut Debu (2011), Garis Batas (2011), Titik Nol (2013) lahir 08 Agustus 1981 di Lumajang dan besar di sana. Kemudian, kuliah di Institut Teknologi Surabaya dan melanjutkannya di China. Seorang kutu buku yang tertarik pada backpacking ini, setelah berkenalan dengan backpacker perempuan asal Jepang. Pada tahun 2001, dia pun memulai perjalanannya ke Mongolia. Lalu, melanjutkannya lagi pada tahun 2005, setelah lulus kuliah, dengan  melintasi Tibet, Nepal, ke gurun pasir India, pegunungan di Pakistan Utara. Dia juga sempat bekerja sebagai sukarelawan gempa Kashmir, ke pedalaman Pakistan, berkeliling Afghanistan dengan hitchhiking, lalu ke Iran, Tajikistan, Kirgistan, Kazakhstan, Uzbekistan dan Turkmenistan. Perjalanannya terus berlanjut hingga Mei 2009, ketika akhirnya dia harus pulang ke Lumajang karena Mamanya divonis kanker dan harus menjalani pengobatan. Pada kesempatan pameran Indonesia Book Fair 2013, Sabtu (09/11) di Panggung Utama Istoran Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta ia membagikan pengalamannya dalam menulis buku perjalanan. Ia sendiri jika disebut berbeda dengan penulis perjalanan lain tidak mengiranya dan begitu tahu. Karena konsep yang ia pahami dari travel writing ini dari awal sebelum ia menulis sering membaca buku-buku traveler [...]

November 9, 2013 // 0 Comments