Recommended

Dome 8 Oktober 2014: OPM Juga Manusia (1)

141008-png-dome-pengungsi-opm-5Sekilas, Dome tidak tampak berbeda dengan kebanyakan desa di Western Province, Papua Nugini: terbelakang, nyaris tanpa sentuhan pembangunan apa pun. Tetapi di sini para pengungsi separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) dari Papua Indonesia hidup berdampingan dengan penduduk lokal Papua Nugini. Dan mereka sama sekali tidak bisa dikatakan akur.

Dome tidak terlalu terpencil. Untuk mencapai Dome, orang bisa menumpang minibus yang melintasi jalan utama yang menghubungkan kota besar Kiunga dengan Tabubil, kota pertambangan nan makmur di pegunungan utara. Ini sebuah jalan berdebu bergerunjal dan memualkan, yang di negeri ini sudah disebut sebagai highway. Dua jam perjalanan kemudian, kita mesti meninggalkan jalan utama, berbelok ke barat, sampai ke tepi sungai Ok Tedi, di mana kita mesti menumpang perahu untuk menyeberangi sungai keruh dan beracun itu untuk mencapai Dome.

Desa Dome terbelah dua. Desa asal, yang dijuluki sebagai Dome-1, dihuni penduduk warga Papua Nugini, terletak di tepi sungai. Sedangkan permukiman para pengungsi OPM, kini dijuluki sebagai Dome-2, terletak di belakangnya, jauh dari sungai. Garis batas pemisah keduanya adalah sebuah tanah lapang yang berfungsi sebagai pasar. Walaupun masih di desa yang sama, mayoritas berbicara bahasa Yomgom yang sama, memiliki hubungan kekerabatan dari nenek moyang yang sama, dan telah hidup berdampingan selama tiga puluh tahun, kedua kelompok manusia ini nyaris tidak saling bertegur sapa dan aroma perselisihan tercium begitu dahsyat.

Saya datang dari Kiunga bersama dua perempuan warga Dome-1. Modesta Young adalah seorang perempuan beruban dengan tato bintik-bintik hitam di pipinya, selalu bertelanjang kaki, menggandeng cucunya yang baru berumur enam tahun. Selain itu, ada saudara iparnya bernama Jenny Wuring, yang berkulit lebih gelap dan rambut lebih hitam, dengan kerut-kerut di wajah seolah sudah memasuki paruh baya, tetapi mengaku baru berumur 30-an.

Sungai beracun akibat aktivitas pertambangan

Sungai beracun akibat aktivitas pertambangan

Dennis, adik laki-laki Modesta yang menjadi tuan rumah kami, adalah sekretaris desa di Dome-1. Saya bertanya kepadanya masalah pengungsi OPM di desa ini. “Mereka harus pulang,” kata Dennis tegas, “Gara-gara mereka, kami tidak bisa menggunakan tanah kami. Kami tidak menginginkan mereka di sini. Mereka harus pulang ke negara mereka sendiri!”

“Kenapa mereka di sini?” tanya saya.

“Kami tahu mereka berjuang untuk kemerdekaan,” tukasnya, “Kami bicara bahasa yang sama dengan mereka, tapi kami tidak mendukung mereka.”

Dennis sudah beberapa kali ke Indonesia, dan Indonesia di matanya tidaklah seburuk apa yang dikatakan para pengungsi OPM. Dennis berkata, “Setelah saya tiba di Kombut,”—itu desa Indonesia terdekat, dua hari perjalanan dari sini—“saya bisa melihat, di sana ada kehidupan. Para pengungsi melarang saya ke sana, mereka bilang Indonesia itu berbahaya. Tetapi saya lihat Indonesia dengan mata sendiri, di situ ada ekonomi, ada pembangunan. Tidak ada kelaparan, pemerintah Indonesia bahkan memberi kami 15 kilogram beras per keluarga, juga minyak goreng, padahal kami orang asing. Saya tidak lihat penjajahan, yang ada hanya penegakan hukum. Saya rasa mereka telah berbohong, jadi mereka harus pulang!

Para pengungsi itu pertama kali berdatangan tahun 1984. Di seberang batas di Indonesia sana, terjadi pembunuhan oleh TNI terhadap orang-orang Papua, sehingga ribuan orang Papua mengungsi ke Papua Nugini. Tetapi para warga Dome ini tidak tahu pasti tentang peristiwa itu, mereka hanya dengar ada masalah antara orang Papua ini dengan pemerintah Indonesia. Sekarang, dengan perseteruan yang makin menghebat dengan para pengungsi, mereka malah menuding semua alasan itu sebagai desas-desus yang mengada-ada.

Beberapa bulan lalu, Dennis dan Jenny bahkan bersama ikut Pemilihan Presiden di Indonesia di Kombut. Saudara-saudara mereka yang warga Papua Indonesia melarang mereka kembali ke Papua Nugini, membujuk mereka ikut Pemilu dengan identitas asli tapi palsu, dan mengajari mereka untuk mencoblos calon nomor urut 2. “Mereka di sana bilang, kalau No. 2 menang, maka kehidupan Papua akan lebih baik,” kata Dennis, “Sekarang dia sudah menang, jadi mereka harus pulang!

Mereka mengajari Dennis cara mencoblos dalam pemilu di Indonesia.

Mereka mengajari Dennis cara mencoblos dalam pemilu di Indonesia.

Jumlah pengungsi di Dome kini bahkan telah melebihi jumlah warga Dome sendiri. Menurut data kepala desa, warga Dome-1 hanya 700an jiwa, sedangkan warga Dome-2 telah mencapai 1.700 jiwa, dan terus bertambah karena selalu ada orang berdatangan dari seberang perbatasan.

Di desa yang berpenduduk padat dan rumah-rumah panggungnya berdempetan ini, pangan adalah masalah utama. Sumber makanan mereka adalah hasil ladang, yang berupa pisang, sagu, ubi, jagung, kacang, dan keladi. Tetapi tanah di Dome tidak bagus, berwarna merah dan retak-retak. Ditambah lagi kerusakan alam akibat pertambangan Ok Tedi, sehingga air sungai jadi beracun dan tidak ada lagi ikan di dalamnya. Sekarang dengan adanya pengungsi OPM yang sudah mencapai angka ribuan, persaingan atas tanah dan sumber makanan pun menghebat. Warga asli Dome mengeluhkan bahwa para pengungsi OPM telah membuka ladang melewati batas yang telah mereka tetapkan, tetapi mereka tidak bisa mengusir mereka karena mereka kalah dalam hal jumlah. Selain itu, bahan bangunan yang berupa kayu pun menjadi sangat terbatas.

“Saat mereka datang itu, mereka tidak punya tempat tinggal dan tidak punya makanan,” kenang Dennis, “dan karena kami adalah saudara satu bahasa, kami memberi izin mereka untuk tinggal. Tidak ada perjanjian apa pun, semuanya demi kemanusiaan.”

Pemerintah Papua Nugini dan UNHCR kemudian menyediakan tanah di Iowara bagi para pengungsi, sehingga mereka tidak bercampur warga Papua Nugini. Semua pengungsi dari Papua Barat (Irian Jaya) diharuskan tinggal di kamp Iowara yang jauh dari mana-mana itu untuk mendapatkan status legal sebagai pengungsi. Tetapi para pengungsi di Dome menolak untuk pindah. Mereka tetap di sini, beranak-pinak, dan berselang 30 tahun, mereka masih di sini.

“Kami sudah berulang kali memberitahu mereka, menuntut mereka membayar ganti rugi untuk tanah kami,” sambung Dennis, “Mereka bilang, mereka akan pulang ke sana, tetapi mereka menunggu dibangunnya jalan ke sana supaya bisa pulang. Kau tahu, pemerintah Papua Nugini ini lambat, bisa berpuluh-puluh tahun lagi baru mereka akan membangun jalan ke sana. Itu cuma alasan mereka saja. Mereka harus pulang!

Saya ingin berbicara langsung dengan para pengungsi OPM itu. Saya hanya punya satu nama yang direkomendasikan Gereja Katolik di Kiunga: Rafael, seorang katekis Gereja Katolik untuk pengungsi Papua Barat. Dennis dan Jenny bersedia mengantar saya mencari Rafael. Kami melewati jalanan desa yang terkadang datar, terkadang naik dan turun. Dome ternyata cukup luas, butuh waktu 20 menit dari tepi sungai untuk mencapai pasar yang menjadi batas desa. Setelah melewati pasar, jalanan menurun tajam, dan terlihatlah kontras antara kedua Dome. Dome-2 lebih primitif: semua rumah terbuat dari bahan hutan, bahkan seng pun mereka tak punya. Satu-satunya benda modern yang mereka punya adalah dua tangki penampung air hujan sebagai sumber air minum mereka, yang diberikan perusahaan Ok Tedi melalui Gereja Katolik.

Rumah Rafael

Rumah Rafael

Rumah pertama dari batas itu adalah milik Rafael. Dia seorang lelaki tua bertubuh gempal, bertelanjang dada karena bersiap pergi mandi. Dia menatap saya tajam, dari kepala sampai ujung kaki, lalu dari kepala ke ujung kaki lagi.

Saya memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris, bilang saya datang direkomendasikan Gereja Katolik. Rafael sama sekali tidak menanggapi. Lalu giliran Dannis dan Jenny yang memperkenalkan saya dalam bahasa Yomgom. Mereka bicara cukup lama, Rafael hanya mengangguk-angguk, tanpa bicara. Saya mulai merasa ada yang tidak beres.

Setelah mereka selesai bicara, Rafael termenung sejenak. Dia lalu berkata kepada saya dalam bahasa Melayu, yang tidak dimengerti oleh Dannis dan hanya dimengerti sebagian oleh Jenny. “Maaf tadi saya diam saja. Pastor Indonesia dari Gereja Katolik sudah pernah datang ke sini tanya-tanya, ambil banyak informasi dari kami, tetapi setelah itu dia pergi tanpa ada apa-apa untuk kami. Uang dimakan sendiri. Kalau kamu ada surat dari Keuskupan, saya mau percaya,” katanya.

Saya tidak punya surat dari Keuskupan. Saya punya surat dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Port Moresby, tetapi itu bukan ide bagus untuk menunjukkan padanya. Saya menjelaskan bahwa saya bukan dari Gereja; saya adalah penulis dari Jakarta, yang khusus datang untuk mendengar langsung cerita dari mereka para pengungsi OPM, belajar tentang perjuangan mereka yang terlupakan.

Rafael mengangguk-angguk, terus mengamati saya dengan tatapan curiga, lalu menoleh kepada Dennis dan Jenny, lalu menoleh lagi pada saya. “Baiklah, besok pagi jam 11 kau datang lagi ke sini.”

Jenny Wuring

Jenny Wuring

Keesokannya, saya datang terlambat. Sejak semalam saya didera diare hebat dan hampir pingsan, sehingga saya mesti ke klinik desa terlebih dahulu untuk meminta obat. Ternyata orang-orang dari Dome-2 telah mengirim orang untuk menyampaikan pesan, bahwa saya harus datang tepat waktu, karena mereka tidak punya waktu lain bagi saya. Dituntun Jenny, saya berjalan terhuyung-huyung, dan terengah-engah hingga akhirnya kami menuruni bukit setelah pasar. Saya menaiki rumah panggung milik Rafael yang terbuat dari bilah-bilah kayu.

Rafael tidak ada di situ. Di ruang utama, sudah duduk tujuh atau delapan lelaki mengelilingi saya, dengan tatapan yang sangat mengintimidasi. Ketika saya mengeluarkan kamera dan membuka tutupnya, seseorang dari mereka langsung mencegah saya. “Sabar dulu, Mas!” serunya dalam bahasa Melayu.

“Kami dalam kewaspadaan,” kata seseorang dari mereka kemudian, “Karena kami sekarang melawan NKRI. Indonesia sering menggunakan senjata Kopassus, sering mengirim polisi untuk datang menyamar ke sini, sehingga kami terus tertinggal.”

“Tapi gerak-gerik kamu tidak seperti TNI atau mata-mata. Dan kamu bukan orang Jawa,” sambung yang lain. Saya menjelaskan bahwa saya keturunan Cina, dan pada masa Orde Baru juga mengalami diskriminasi dan pelanggaran HAM sebagaimana dialami saudara-saudara Papua. Rupanya pengakuan itu sangat ampuh untuk mendapatkan kepercayaan mereka.

“Berapa lama kalian mengungsi di sini?” saya bertanya.

“Yang pertama, kami bukan pengungsi. Kami adalah warga Dome-2,” kata Titus Koponang, yang mengaku sebagai kepala kampung Dome-2. Dia seorang lelaki dengan wajah tirus dan tatapan sendu yang duduk di samping saya.

Para pengungsi sekaligus pejuang OPM di Dome

Para pengungsi sekaligus pejuang OPM di Dome

Di samping Titus ada Benny Rukamko, seorang lelaki berwajah tirus dan selalu serius, yang paling banyak bicara di antara sekumpulan lelaki ini. Dia mengaku dirinya sebagai petani, dan panjang lebar menjelaskan kepada saya bagaimana ihwal mereka bisa berada di sini.

Mereka semua berasal dari Kecamatan Waropo di seberang perbatasan sana. Mereka adalah pejuang kemerdekaan Papua, dan pada tahun 1980an, tekanan politik dari Indonesia menghebat. Pada tahun 1984, TNI masuk menyerang dua desa, sehingga masyarakat di dua kecamatan yang berbatasan dengan Papua Nugini, yaitu Mindiptana dan Waropo, langsung melarikan  diri menyeberang perbatasan.

Kenapa harus lari? “Kami tidak bisa bersatu dengan Indonesia,” kata Benny, “Tradisi beda, warna kulit beda, rambut beda. Kami ingin bebas dengan berdiri sendiri. Kalau kami tetap berada di dalam sana, mereka akan hancurkan kami. Karena itulah kami keluar.”

Alasan utama tuntutan kemerdekaan itu adalah cara-cara tidak sah yang dilakukan berbagai kekuatan besar dunia atas Papua. Yang mereka maksudkan bukan cuma Indonesia, tetapi juga Amerika Serikat, Belanda, dan PBB. Salah satu kecurangan itu adalah referendum Penentuan Pendapat Rakyat 1969, yang seharusnya satu orang satu suara, tetapi oleh Indonesia digelar dengan hanya mengundang 1.025 orang yang dipilih oleh tentara. PBB mengetahui itu, tetapi seperti tutup mata. Itu karena antara Amerika Serikat dan Indonesia sudah ada kesepakatan, bahwa Indonesia mendapat wilayah Papua sedangkan Amerika mendapatkan akses pada hasil tambang Papua.

“Kami tidak mau melawan dengan senjata, kami mau damai. Kami tidak punya utang dengan Indonesia, tapi Indonesia punya utang yang terlalu besar terhadap kami,” tandas Benny, sambil menunjukkan kepada saya beberapa lembar selebaran tentang seruan kemerdekaan, yang diterbitkan pejuang kemerdekaan Papua Barat di Port Moresby dalam bahasa Melayu.

“Indonesia sudah terlalu sering menggunakan cara-cara licik untuk menguasai Papua,” kata Kaitanus Amborum, sekretaris dusun yang duduk di samping Benny. “Misalnya pemimpin kami, Fery Awom yang bertahan dan berkampanye di hutan-hutan. Dia dijual oleh adiknya sendiri, yang sudah diperalat TNI, sehingga dia ditangkap dan dibunuh. Cara-cara ini masih dipakai hingga sekarang oleh Indonesia, sehingga kami harus waspada.”

“Pada tahun 1984 itu, pemimpin kami ada yang mengatakan, jika kami terus berada di Indonesia maka kami akan sulit untuk berjuang, sehingga kami datang ke sini,” imbuh Benny. “Kami bekerja sama dengan mereka di dalam, juga dengan para pejuang kemerdekaan Papua yang ada di Amerika, Australia, Vanuatu, dan lain-lain. Sedangkan kami bertahan di sini, menuntut kemerdekaan.”

Jadi ini bukan pengungsian. Ini adalah perjuangan. Mereka berjuang dengan berjaga di perbatasan. Di satu sisi mereka memelihara kontak dengan para pejuang kemerdekaan Papua, baik yang berada di wilayah Indonesia maupun di seluruh dunia; di sisi lain mereka tetap bertahan sebagai pengungsi sehingga dunia tetap ingat bahwa ada masalah yang belum terselesaikan di sini. Sayangnya, seiring berlalunya waktu, perjuangan mereka di perbatasan ini justru tak lagi diingat dunia.

“Bukankah ini hidup yang sulit? Sekarang sumber makanan pun menjadi sumber konflik dengan warga asli Dome,” saya berkomentar.

“Entah makan atau tidak, kami tidak pusing,” kata Benny, “Semua kami berikan pada Tuhan. Kami dan orang Dome-1 punya satu moyang. Mereka datang dulu ke tempat ini, sehingga kami datang ke sini mereka pun mudah memberi tempat bagi kami.”

Mereka adalah penganut Katolik

Mereka adalah penganut Katolik

Mereka bertahan hidup dengan berjualan sayur, kacang tanah, dan sagu ke Kiunga atau Tabubil. Dalam sebulan, satu orang bisa mendapat 200 Kina, sekitar Rp 1 juta, cukup untuk konsumsi keluarga selama seminggu. “Kami tidak mungkin menabung, karena kami orang perjuangan, bukan pengungsi ekonomi,” jelas Kaitanus.

“Tetapi bukankah setiap perjuangan membutuhkan dana?” tanya saya.

“Semua dana dari kami sendiri, tidak ada orang lain yang membantu,” kata Benny, “Tuhan Yesus juga berjuang hanya dengan suara, memberikan kabar gembira. Jadi kami ikut jejak Tuhan. Kami hidup tidak berlebih-lebih, hanya cukup untuk dipakai.”

Di tahun-tahun awal pengungsian, yaitu antara tahun 1984 hingga 2000, sering terjadi perselisihan dengan warga asli soal tempat. Tetapi setelah tahun 2000, mereka mengaku semua sudah beres. “Kami selalu menjadi tuan rumah di sini,” kata Titus, “Kami bisa tetap tinggal dan bekerja untuk mencapai tujuan, dan mereka memahami. Apabila tujuan tercapai baru kami pulang. Kami tidak akan pulang, kecuali Indonesia menyerahkan hak kami untuk merdeka.”

“Pergi ke Indonesia sangat mudah dari sini. Bahkan orang-orang Dome pun pergi ke Indonesia untuk belanja,” pancing saya.

“Kami sama sekali tidak pernah ke sana,” tegas Benny, “Kami tidak mau pulang selama tanah air kami dalam tubuh Indonesia. Belanja pun kami tak sudi, karena Indonesia jajah Papua.”

“Kita tinggal di sini sampai merdeka, dan merdeka itu hak dari semua bangsa!” sambung seseorang yang lain di ujung kanan. Ucapannya itu langsung disambung serempak para lelaki itu mengacung-acungkan tangan, berteriak, “Merdeka!” Sungguh gelora semangat mereka simetris dengan gelora pejuang kemerdekaan Indonesia saat mengusir Belanda.

Para lelaki ini hanya mau bicara soal politik. Ketika saya mengalihkan pembicaraan tentang warga Dome, mereka selalu mengembalikan lagi pada topik politik. “Politik adalah makanan kami, kami tidak mau bicara yang lain,” kata salah satu dari mereka. Saya curiga, mereka enggan bicara yang lain karena ada Jenny—seorang warga Dome-1 yang walaupun selalu memasang senyum manis pada mereka tetapi dalam hatinya sangat membenci mereka.

Kami berbincang sampai lebih dari dua jam. Ketika saya terakhir ingin mengambil gambar, para lelaki itu masih melarang. “Kami ini murni pejuang, jadi tidak bisa ambil gambar kami,” kata Benny, yang tadi mengaku sebagai petani. Saya berjanji untuk tidak mempublikasikan gambar wajah mereka. Mereka ragu-ragu. Seorang lelaki mengusulkan bahwa saya mesti mengambil sumpah dahulu di atas Injil, baru boleh mengambil gambar mereka.

Sebaliknya, mereka juga memotret saya dengan telepon genggam, yang katanya foto diri saya itu akan mereka kirim melalui email kepada para bos di Inggris, Belanda, dan lain-lain. Sambil tersenyum, Titus menjelaskan kepada saya, “Selama puluhan tahun kami tinggal di sini, tidak pernah ada orang seperti Bapak Agus. Jadi kalau ada apa-apa kerusuhan, tentu kami akan sebut pertemuan kita hari ini. Banyak gerakan kami ditipu, karena Indonesia pakai mata-mata, gereja, atau Kopassus.”

Kami berpamitan. Titus memeluk erat Jenny, sambil tertawa-tawa berkata, “Dia adalah saudara iparku yang baik.” Jenny pun tertawa-tawa, berkata bahwa mereka semua adalah wantok—“one talk”—saudara satu bahasa.

Bersumpah di atas Injil.

Bersumpah di atas Injil.

Begitu meninggalkan rumah Rafael, saya melihat senyum di wajah Jenny seketika berubah menjadi cemberut. “Saya sangat tidak senang!” serunya, “Mereka bohong. Mereka tidak pernah memberitahu kami soal rencana mereka untuk tinggal selama itu. Ini bukan tanah mereka, sejak kapan mereka jadi tuan rumah di sini? Tempat mereka bukan di sini. Mereka harus pulang!

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

8 Comments on Dome 8 Oktober 2014: OPM Juga Manusia (1)

  1. Semoga masalah ini cepat menemui titik terang

  2. Koh buku keempatnya jd keluar taun ini kah?

  3. Kebenaran relatif…garis batas nya di subyektifitas…selalu kabur demarkasi obyektifitas nya

  4. mantab….
    ditunggu kisah perjalanan terbarunya bang

  5. Mas Agus, rumah pa Rafael, sudah dibangun baru lho…mau datang lagi ga? Yg begini pasti sdh pergi….

  6. hai Mas Agustinus. Saya Tenni dari @pesonamag ingin mewawancarai Mas Agustinus. Saya hubungi via email di bio tapi not delivered

  7. Bolehkah saya tahu email lain agar saya dapat menjelaskan tentang artikel yang sedang saya tulis?

Leave a comment

Your email address will not be published.


*