Recommended

Penulis Bicara Soal Garis Batas

161103-indonesia-uwrf16-ubud-bali-border-1Seperti halnya oksigen dan gravitasi bumi, garis batas tidak terlihat, tetapi ia memengaruhi setiap aspek hidup kita. Mulai dari garis batas fisik sampai ke kewarganegaraan, etnik, agama, bahasa, warna kulit, ideologi… garis batas ada di mana-mana. Garis batas menempatkan orang dalam kotak yang berbeda-beda, dan telah menyebabkan begitu banyak penderitaan sejak awal peradaban kita. Tetapi, apakah kita benar-benar bisa terbebas dari semua garis batas itu dan hidup dalam sebuah dunia yang tanpa batas?

Pada ajang literasi internasional tahunan yang di gelar di Ubud, Bali, tahun ini saya diundang untuk berbicara dalam sejumlah sesi yang berhubungan dengan garis batas. Kebetulan, Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2016 ini mengangkat slogan Tat Tvam Asi, yang diterjemahkan sebagai: I am You, You are Me. Ini adalah sebuah kalimat suci dalam bahasa Sanskerta, yang melambangkan tentang Kebenaran Hakiki yang ada di dalam diri setiap manusia. Tetapi kalimat ini juga bisa diartikan sebagai dukungan terhadap keberagaman: bahwa semua manusia, walaupun berbeda-beda, pada hakikatnya adalah satu.

Bagi saya pribadi, slogan Tat Tvam Asi beresonansi sangat kuat. Sebagai minoritas, saya dibesarkan dengan konsep garis batas yang terpatri di benak. Perjalanan saya berkeliling Asia dengan menembus berbagai garis batas negeri pun sesungguhnya berawal dari kegelisahan saya akan garis batas. Sejak kecil, saya selalu dirundung pertanyaan: mengapa manusia harus terkotak-kotak oleh garis batas?

Sesi pertama saya diselenggarakan tepat setelah pembukaan UWRF 2016. Saya berbicara di atas panggung Pecha Kucha Night. Ini adalah presentasi saya yang paling menggebrak dan menggelora sejauh ini. Selain karena topiknya adalah tentang garis batas—yang selalu mengobarkan semangat orasi saya, format Pecha Kucha juga menuntut setiap pembicara untuk bicara cepat dan efisien, karena harus mempresentasikan 20 slide gambar, dengan waktu tepat 20 detik per gambar.

Saya memulai presentasi saya dengan Tembok Besar China—yang dibangun oleh bangsa China sejak ribuan tahun untuk mencegah serangan dari bangsa-bangsa barbar di utara. Tembok Besar sesungguhnya adalah sebuah garis batas raksasa yang memisahkan antara “dunia beradab” dengan “dunia tak beradab”. Tapi apakah efektif? Dengan adanya Tembok Besar, bangsa-bangsa nomaden di utara justru semakin tertantang dan bergairah untuk menyerbu China, selama ratusan tahun.

161103-indonesia-uwrf16-ubud-bali-border-2

Saya juga menceritakan tentang absurditas garis batas yang saya jumpai di Asia Tengah. Sungai Amu, sungai selebar 20 meter, tetapi memisahkan kehidupan di kedua sisinya, yaitu Tajikistan dan Afghanistan, sejauh seratus tahun. Juga tentang garis batas antara Uzbekistan dan Kirgizstan di Lembah Ferghana, yang melintang sepanjang gang sempit, dan bahkan terkadang mengiris rumah penduduk. Bagi sebagian besar manusia, garis batas bukanlah sesuatu yang bisa mereka pilih sendiri. Garis batas lurus yang memisahkan Papua Indonesia dari Papua Nugini juga digambar oleh orang Barat ribuan kilometer jauhnya, tanpa pernah memikirkan ada manusia yang hidup di atas pulau itu. Penderitaan orang Papua hingga hari ini, semuanya berkaitan dengan absurditas itu.

Manusia adalah makhluk yang selalu menciptakan garis batas. Di masa lalu, orang mungkin akan membunuhmu karena kau tidak punya Tuhan. Sekarang kau punya Tuhan, mereka masih akan membunuhmu karena Tuhanmu beda. Tuhanmu sama, mereka masih bisa membunuhmu karena nabimu beda. Nabimu sama tetapi gurumu beda, atau waktu sembahyangmu beda, atau cara sembahyangmu beda… Selalu ada alasan untuk berbeda, dan membunuh.

Orang bisa mengorbankan apa pun demi negaranya, sukunya, tanahnya, kekayaannya, kebanggaannya, Tuhannya, kitab sucinya, kepercayaannya, ideologinya, jendernya, bahkan bahasanya. Kelihatannya semua masalah disebabkan oleh garis batas. Tetapi jika kau lihat lebih teliti, kau akan melihat jiwa dari semua garis batas itu: kekuasaan. Di mana garis batas diterapkan, di situ kekuasaan ditegakkan. Dan kita semua hanyalah bidak catur pada papan permainan kekuasaan para penguasa.

Dalam waktu sekitar enam menit, saya menjerit dan berjingkrak-jingkrak di atas panggung—beberapa teman saya bahkan berkomentar bahwa saya sudah mirip “penyanyi rock”. Saya mengajak audiens membayangkan kehidupan di sebuah dunia tanpa batas—tetapi itu kemudian lebih menjadi sebuah distopia yang suram alih-alih sebuah utopia surgawi.

161103-indonesia-uwrf16-ubud-bali-border-3161103-indonesia-uwrf16-ubud-bali-border-4

Pada hari kedua Festival, saya duduk dalam sebuah panel Thinking Without Borders. Dalam panel ini juga ada penulis dari Turki, Çiler İlhan, yang bukunya berjudul Exile meraih penghargaan European Eunion Prize for Literature pada tahun 2011. Tema bukunya mengangkat kisah orang-orang yang teralienasi dari tanah airnya, dari keluarganya, dan dari masyarakatnya. Pada panel ini, Çiler juga berbicara tentang isu yang sedang marak di negerinya: ISIS, terorisme lintas batas, dan pengungsi.

Pembicara lain Voranai Vanijaka, editor pelaksana Majalah GQ Thailand, juga seorang dosen Komunikasi Politik. Dia berpendapat bahwa kita sekarang hidup di sebuah dunia tanpa batas, di mana anak-anak muda Thailand kini lebih banyak menghabiskan waktu dengan Facebook dan media sosial lainnya, mengikuti kebudayaan pop dunia, pergi ke Seoul lebih untuk melakukan operasi plastik daripada untuk mempelajari budaya bangsa Korea.

Kalau Voranai cukup optimistis bahwa teknologi adalah alat yang paling dahsyat untuk meruntuhkan garis-garis batas yang menyekat manusia dan menjadikan semua manusia setara, saya justru berpendapat sebaliknya. Teknologi memang membuat garis batas fisik semakin memudar, tetapi garis batas lain justru semakin menebal. Di tengah gencarnya informasi, orang malah lebih banyak salah informasi. Fitnah dan ujaran kebencian disebarkan, konflik antar umat beragama justru lebih parah. Contohnya, perekrutan anggota ISIS dilakukan di seluruh penjuru dunia dengan memanfaatkan media sosial. Ingat foto-foto hoax yang katanya adalah pembantaian umat Muslim Rohingya yang dilakukan oleh biksu Buddha Myanmar—yang sesungguhnya adalah foto biksu Buddha Tibet berjalan di antara mayat korban gempa di China? Juga bagaimana umat Muslim Indonesia yang sepuluh tahun lalu masih tidak tahu apakah dirinya Sunni atau Syiah, tetapi sekarang bisa begitu berapi-api mengorbankan kebencian terhadap Syiah—yang mungkin bahkan tidak pernah mereka jumpai seumur hidup mereka?

Voranai menjelaskan bahwa pendidikan adalah cara terbaik untuk mengatasi masalah konflik dan media sosial dewasa ini. Dalam kelasnya, dia mengajarkan para mahasiswanya untuk selalu menerapkan “membaca secara kritis” terhadap semua informasi. Sedangkan Çiler lebih menekankan pada cinta dan keluarga—orang yang dibesarkan dalam keluarga yang penuh cinta akan lebih toleran terhadap orang lain. Cinta itulah yang membawa perdamaian.

161103-indonesia-uwrf16-ubud-bali-border-5

Kisah di balik semua garis batas adalah ketakutan. Garis batas ada untuk memberi rasa aman kepada manusia. Saya sangat setuju dengan perkataan Çiler, “Garis batas yang paling berbahaya itu ada di dalam otak.” Ketakutan kita yang sangat berlebihan terhadap orang-orang yang berbeda dari kita itulah yang menyebabkan garis batas menebal dan semakin tebal. Dan dari sanalah tragedi bermula.

Tapi kita juga tidak mungkin hidup tanpa garis batas. Saya percaya, menghapuskan garis batas adalah perbuatan yang sia-sia, malah berbahaya. Garis batas bukanlah menciptakan perbedaan; garis batas justru merefleksikan perbedaan. Dengan adanya garis batas, dunia kita justru menjadi beragam dan berwarna. Pertanyaannya sekarang adalah: bagaimana kita bisa hidup berdampingan dengan garis batas?

Bagi saya, pendidikan, cinta, maupun keluarga tidaklah cukup. Orang mesti mengalami sendiri garis batas, menembus garis batas, untuk bisa memahami dunia lebih dari sekadar garis batas. Perjalanan, saya percaya, adalah cara terbaik untuk itu.

Tembuslah garis batas. Kalau orang Pakistan mengatakan bahwa orang India adalah bajingan paling kejam, dan kalau orang India memberitahumu bahwa orang Pakistan adalah teroris paling busuk, jangan serap mentah-mentah kebencian mereka. Pergilah ke dua sisi garis batas, dan alamilah kehidupan mereka yang sesungguhnya. Dengan menembus garis batas, kau akan melihat kekuatan terbesar yang mempersatukan kita: kemanusiaan. Kau akan melihat bahwa kita semua menangis untuk kesedihan yang sama, tertawa untuk kesenangan yang sama, dan dalam perjalanan yang sama untuk mencapai kebahagiaan. Dan pada akhirnya, kita pun akan memiliki akhir yang sama: kembali menjadi debu.

Dengan menembus batas, kau akan melihat bahwa: aku adalah kamu, dan kamu adalah aku.

161103-indonesia-uwrf16-ubud-bali-border-6161103-indonesia-uwrf16-ubud-bali-border-7

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

4 Comments on Penulis Bicara Soal Garis Batas

  1. Mas , klo casting pelm ,diumumkan dunk, trus kita mau ikutan casting ,
    Pengen ngalamin kek yg spt titik nol ituuu ,plzzz dehhhh

  2. Arianti dari Pantai Mirota Galang // November 7, 2016 at 7:19 am // Reply

    Bagus sekali

  3. Isabella Apriyana // December 8, 2016 at 7:31 pm // Reply

    Terima kasih, Mas Agus.

  4. gaya tulis dan pemikiran mas agus sungguh menginspirasi saya. sudah dua tahun ini saya mecoba melakukan perjalanan kecil menyusuri kota-kota tmpat saya tinggal, bahkan provinsi di Jawa menggunakan sepeda. dan kali ini saya sedang belajar menulis tentang perjalanan, bercerita dari sudut pandang saya tentang pengalaman yang saya lalui.
    terimakasih mas.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*