Recommended

Tersandera oleh Batas

141023-png-digo-opm-camp-indonesia-5_1

Ketika Wilem Bab, seorang lelaki Papua, menerima bendera merah putih dari sepasukan 50 tentara perbatasan Indonesia yang berpatroli ke kampungnya, dia bingung. Para tentara itu menyuruhnya mengibarkan bendera itu di kampungnya, karena, mereka bilang, ini tanah Indonesia.

Wilem adalah lelaki tertua di kampung Digo, yang terletak di tengah hutan rimba, pada perbatasan antara Indonesia dan Papua Nugini. Orang Melanesia berkulit hitam itu baru berumur 39 tahun, tetapi kerut-kerut di wajah membuatnya terlihat seperti 60 tahun. Kabar Wilem menerima bendera Indonesia itu langsung menyebar ke desa-desa Papua Nugini di sekitar. Ketakutan mencekam: Indonesia akan jajah kita. Mereka marah, mendesak Wilem segera kembalikan bendera itu ke Indonesia.

Perjalanan menuju pos tentara Indonesia di desa Indonesia terdekat tidak mudah—Wilem jalan kaki dua hari, menginap semalam di hutan rimba, menyeberangi empat sungai kecil plus tiga sungai besar, deras, sedalam kepala. Di hutan ada ular, di sungai ada buaya. Sampai di sana, dia lihat dunia yang sama sekali berbeda: desa Indonesia diterangi listrik, dihuni orang Asia berkulit lebih terang. Tapi dia gagal. Tentara Indonesia bersikukuh dia harus menyimpan bendera itu. Mereka bilang, “Kami tahu kalian orang Papua Nugini. Tapi, kalian tinggal di wilayah Indonesia. Bendera ini untuk keamanan kalian.”

Wilem tidak pernah merasa dirinya tinggal di Indonesia. Dari Digo, Papua Nugini lebih dekat dan mudah diakses. Desa Papua Nugini terdekat cuma satu hari jalan kaki melewati hutan, menyeberangi tiga sungai kecil, sepuluh sungai sangat kecil, satu rawa sagu, tiga bukit terjal. Tentu, ini pun bukan perjalanan mudah.

Garis perbatasan timur Indonesia adalah garis lurus membentang utara—selatan sepanjang 740 kilometer, digambar bangsa-bangsa penjajah Barat, membelah pulau Nugini jadi dua. Di barat garis, Papua Indonesia; di timur, Papua Nugini. Di alam nyata, garis itu hanya hutan rimba tanpa penanda; sulit memastikan kita di sebelah mana, di negara apa.

Digo terletak 5 kilometer di barat garis, di sisi Indonesia, tetapi saya mencapainya dari Papua Nugini tanpa formalitas perbatasan apa-apa. Kampung berpenduduk 300 jiwa ini begitu miskin. Rumah-rumah gubuk berpanggung bertebaran jarang di atas tanah merah, terbuat dari kayu pohon dan ditudungi daun sagu. Bocah-bocah bertelanjang bulat berlarian, kurus berperut buncit, diselimuti kurap dari kepala sampai kaki. Penduduk makan pisang mentah, sagu, keladi, ubi rambat. Mereka tak pernah makan ikan, karena sungai tercemar limbah pertambangan. Mereka tidak sanggup membeli gula, garam, teh, kopi. Mereka tidak pernah mandi pakai sabun. Banyak anak mati digigit ular atau diseruduk babi. Banyak ibu hamil mati karena tidak ada klinik dan obat. Di sini, usia 30 tahun sudah tergolong tua.

Penduduk Digo sejatinya memang berasal dari Papua di sisi Indonesia, di barat perbatasan. Orang-orang tua di Digo masih bisa berbicara bahasa Melayu—bahasa nasional Indonesia. Kenapa mereka bisa tinggal di sini, itu terkait dengan aktivitas Organisasi Papua Merdeka (OPM), yang menuntut kemerdekaan Papua dari Indonesia.

Papua adalah wilayah yang agak belakangan masuk wilayah Indonesia, setelah referendum kontroversial tahun 1969. Sejak itu, gerakan menuntut kemerdekaan oleh orang Papua ditanggapi dengan represi oleh aparat Indonesia. Tahun 1984, aktivis Papua Merdeka merencanakan kudeta, tetapi sudah digagalkan oleh intel Indonesia sebelum rencana mereka terlaksana. Aparat Indonesia menangkapi dan membunuh para aktivis. Banyak aktivis melarikan diri ke Papua Nugini, tetapi mereka juga memobilisasi pengungsian besar-besaran warga-warga kampung sepanjang perbatasan, lebih dari 11.000 orang Papua menyeberang batas ke Papua Nugini. Tujuannya adalah membuka mata dunia, bahwa sesuatu yang sangat salah sedang terjadi di Papua. Tiga puluh tahun berlalu sejak eksodus itu, ribuan pengungsi Papua masih berdiam di wilayah Papua Nugini, menghuni kamp-kamp yang tersebar di sepanjang perbatasan. Mereka yakin, jika mereka terus tinggal di batas, terus “mengawal garis batas”, cita-cita mereka akan Papua Merdeka akan tercapai. Itulah yang diinstruksikan para pemimpin pergerakan, yang kini kebanyakan bermukim di negara Barat.

Warga Digo semula disambut hangat laksana saudara oleh orang-orang Papua Nugini, karena kesamaan ras Melanesia. Tetapi dalam tiga tahun sejak kedatangan mereka, perselisihan dengan penduduk setempat semakin memanas soal tanah dan makanan. Akhirnya, mereka tidak punya pilihan selain mundur lagi ke barat, hingga ke tengah hutan ini, tanpa sadar kembali lagi ke wilayah Indonesia.

Penduduk Digo mayoritas lahir sesudah pengungsian 1984, tidak tahu lagi kenapa mereka tinggal di hutan semiskin ini. Mereka cuma bisa bertanya, kenapa di sini tidak ada sekolah, tidak ada rumah sakit, tidak ada jalan. Warga Digo terpaksa membangun sekolah sendiri, berupa gubuk kumuh. Gurunya cuma satu, setiap pagi memulai kelas dengan memimpin murid-murid menyanyikan lagu kebangsaan Papua Nugini. O arise all you sons of this land

Beberapa bulan lalu, tentara perbatasan Indonesia datang dalam patroli rutin perbatasan. Mereka mengambil rute yang tidak biasa di tengah hutan lebat ini, dan terkejut menemukan Digo untuk pertama kali. Mereka lebih terkejut lagi ketika melihat ada sekolah Papua Nugini berdiri di wilayah Indonesia. Karena itu, mereka memberikan bendera merah putih untuk Wilem. Para tentara itu sama sekali tidak mengetahui bahwa Wilem dan semua warga Digo berhubungan dengan Organisasi Papua Merdeka—musuh besar mereka.

Tetapi Wilem juga tidak menganggap tentara Indonesia sebagai musuh. Dia tetap menyimpan bendera itu, karena dia punya mimpi besar. Beberapa minggu lalu, Wilem diam-diam pergi lagi ke kampung Indonesia terdekat. Kepada kepala kampung Indonesia, Wilem memohon supaya jalan yang akan dibangun di sisi Indonesia, bisa disambung sampai ke Digo. Kepala kampung Indonesia itu mengangguk. Wilem gembira sekali, membayangkan rumah seng, listrik, jalan raya, gereja segera masuk ke kampungnya.

Tetapi begitu Wilem pulang ke Digo, warga kampung marah besar. Mereka takut kelakuan Wilem bisa membuat desa-desa Papua Nugini marah, nanti orang Digo tidak boleh pergi sekolah dan gereja di Papua Nugini lagi. Ada pula yang bilang, Wilem mestinya tunggu dulu Papua merdeka dari Indonesia.

“Orang-orang kampung benci saya berteman dengan Indonesia,” kata Wilem. “Tapi, kita sebenarnya siapa? Kalau Indonesia bangun jalan ke sini, kita ikut Indonesia. Kalau Papua Nugini bangun jalan ke sini, kita ikut Papua Nugini. Tentang politik, kita hanya rakyat kecil, kita hanya tunggu yang di atas,”—maksudnya adalah para petinggi OPM di luar negeri. “Kita ini manusia, bukan anjing babi punya anak. Tapi kau lihat sendiri, hidup di sini bukan untuk manusia.”

Saya bertanya, di mana bendera itu.

Lesu, Wilem mengambil sebuah kotak kayu, di sudut gubuknya yang kosong melompong tanpa barang apa-apa. Bendera itu, masih di dalam kantong plastik yang sama, teronggok di dalam kotak. Tak pernah sekali pun bendera itu berkibar di langit Digo.

Bendera itu terbentang di hadapan saya. Bendera merah putih yang masih baru tapi sudah lusuh, putihnya kelunturan merah. Selembar bendera yang sempat memberi Wilem begitu banyak harapan, tetapi kemudian pupus lagi. Toh impian tidak bisa ditebus hanya dengan selembar bendera.

 

 

Catatan dari Digo, perbatasan RI–PNG, 23 Oktober 2014

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

5 Comments on Tersandera oleh Batas

  1. Memang begitu dilema hidup di perbatasan mas, hidup d negeri sendiri tp ngk mrs px hk sbg wrga negara, kl ke negara tetangga, kadang diakui keluarga, tp ngk dianggap/ d sebut imigran gelap oleh negara tsb? Serba salah?

  2. Mas Agus, Kapan buku tentang Papua Nugini terbit? Ditunggu….

  3. apakah NKRI ini hanya sebagai slogan slogan bagi orang orang yang hidup di ambang kenyamanan? tapi melihat,membaca dan membayangkan warga Digo yang sangat pasrah ketika harus memperjuangkan mereka berada di negara mana adalah sebuah dilema.Usang hanya sampai di perbatasan Sota,merauke.
    Seandainya di Digo dekat dengan sota,mungkin kondisinya tidak seperti sekarang

  4. Joko Setiawan // May 9, 2017 at 7:45 pm // Reply

    Mas agus, boleh tidak cerita tentang tersandera oleh Batas saya sadur, hal itu bagus untuk memotifasi saudara kita Papua supaya tidak berfikiran Merdeka, karena hal tersebut belum tentu akan membuat mereka maju, terintegrasi dengan Indonesia adalah sebuah kekuatan yang besar, dan yang harus kita fikirkan bersama adalah bagaimana caranya mengawasi implememntasi dana Otsus dan dan meratanya pembangunan di Papua, sehingga angka kemiskinan dapat ditekan,dan keadilan dapat merata. Karena Papua itu Kita dan Kita adalah Papua.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*