Recommended

Ikan Makan Ikan

170510-holland-assen-maluku-RMSAndai saja Republik Maluku Selatan (RMS) berhasil merdeka, Docianus Ony Sahalessy tentunya akan menjadi pahlawan nasional. Dia pencipta lagu kebangsaan RMS, Maluku Tanah Airku. Sepuluh tahun hidup dia bergerilya di hutan-hutan melawan kepungan tentara Indonesia, demi cita-cita tanah air Maluku merdeka. Kini lelaki 78 tahun itu tinggal di Belanda, hidup bersahaja dengan tunjangan sosial minimum dari pemerintah Belanda.

Saya menemuinya di kota kecil Assen, di bagian utara Belanda, dalam sebuah rumah perawatan warga lansia. Sudah dua bulan Bung Ony sakit, baru saja menjalani operasi karena kesehatan semakin memburuk di usia senja. Badannya kecil, bungkuk dan ringkih, langkahnya tertatih-tatih. Suaranya terombang-ambing. Matanya menerawang jauh, terkadang berkaca-kaca, ketika saya, yang datang dari negeri yang pernah dia perangi, mengajaknya menyusuri kenangannya tentang tanah air.

Maluku, tanah air Bung Ony, adalah untaian pulau-pulau kecil di bagian timur Indonesia. Dikenal sebagai Kepulauan Rempah, Maluku menghasilkan beragam rempah eksotis yang dulu teramat bernilai di Eropa. Maluku menjadi incaran bangsa-bangsa Barat yang menjelajah samudra, mengawali dominasi berabad kolonialisme Belanda di bentangan kepulauan yang kini kita kenal sebagai Indonesia. Belanda kemudian banyak merekrut serdadu dari Maluku Selatan untuk dibawa bertempur dalam pendudukan di pulau-pulau lain di Indonesia.

Saat itu Bung Ony masih kecil. Kakeknya adalah mantan serdadu Belanda, tapi benci Belanda. Kakeknya itu bilang, tidak salah jika orang Indonesia sebut Maluku “anjing Belanda”, itu gara-gara hitamnya Belanda menjajah Maluku, mengisap Maluku sampai kering sampai ke akar-akarnya, hingga orang Maluku hanya bisa bergantung pada Belanda. Sedangkan di sekolah, Bung Ony juga belajar dari para tentara Indonesia, bahwa negara tumpah darahnya bernama Indonesia.

Tahun 1949, Belanda akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia, dengan syarat Indonesia berwujud negara federal dengan sejumlah negara bagian. Namun dalam hitungan bulan, satu demi satu negara-negara bagian itu bubar dan melebur ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maluku Selatan, saat itu adalah provinsi Negara Indonesia Timur, memandang Indonesia telah melanggar perjanjian, sehingga mereka memproklamasikan kemerdekaan RMS pada 25 April 1950.

Saat Bung Ony masuk hutan untuk mencari makanan, dia bertemu om-om gerilyawan RMS. Mereka hidup menderita, berbaju compang-camping, berbadan kurus dengan luka di sana-sini. Mereka berkata, “Kamu mesti paham, Maluku ini kita punya tanah. Kalau diambil orang lagi, kita bagaimana?” Saat itulah bergemuruh pertanyaan dalam diri Bung Ony: mana yang betul, Indonesia atau Maluku?

Suatu hari, Bung Ony melihat di tengah kampungnya, tentara Indonesia mempertunjukkan lima gerilyawan RMS yang menyerahkan diri. Di antara mereka adalah Kolonel Nussy, seorang Maluku pemimpin penting pasukan gerilya RMS. Komandan tentara Indonesia meremas-remas pundaknya, berkata, “Nanti, ikan makan ikan, ya?” Nussy mengangguk. Tidak lama setelah itu, Nussy menjadi komandan satu pasukan Indonesia untuk memberangus gerilyawan RMS, dan justru yang paling kejam membunuh sesama orang Maluku.

Ikan makan ikan. Saudara bunuh saudara. Pilihanmu hanya dua: menjadi ikan yang memakan, atau ikan yang dimakan. Bung Ony berpikir: Kalau kakekku sudah jadi anjing Belanda, buat apa kita jadi anjing tentara Indonesia hantam bangsa sendiri? Dia memutuskan meninggalkan studi pada usia 19 tahun, demi masuk ke hutan, berjuang bersama gerilyawan RMS di bawah pimpinan Mr. Dr. Chris Soumokil. Di dalam hutan inilah, dia menggubah lagu kebangsaan Maluku yang berirama pilu.

 

Maluku, Tanah airku

Tanah tumpah darahku

Kuberbakti kepadamu

Selama hari hidupku

 

170510-holland-assen-maluku-RMS-ony-sahalessy

Tentara Indonesia datang ke rumahnya, menyuruh ayah ibunya membujuknya keluar dari hutan dan menyerahkan diri. Papa tidak mau, tetapi Mama, setiap hari memasak masakan yang enak-enak, datang ke hutan dan memanggil-manggil namanya. Tidak pernah bertemu lagi dengan anaknya, Mama menangis dan membuang semua makanan itu di tanah. Tidak lama kemudian, sang ibunda meninggal dalam duka.

 

Engkaulah pusaka raya, yang leluhur dan teguh

Aku junjung selamanya, hingga sampai ajalku

Aku ingat terlebih, sejarahmu yang pedih

 

Di antara para tentara Indonesia itu banyak juga orang Maluku, bahkan teman-temannya satu sekolah dulu. Di tengah gerilya di hutan, pada malam buta yang sunyi, Bung Ony memeluk senapannya, berdoa dengan bersimbah air mata. “Tuhan, saya pegang senjata ini bukan untuk bunuh orang, tapi untuk bela tanah air yang Tuhan berikan. Tuhan, jikalau mereka tidak bersalah, biarkanlah pelorku menyimpang dari arahnya.”

Perlawanan gerilya RMS berlangsung tiga belas tahun. Hari itu, Bung Ony bersama belasan gerilyawan lainnya berada di sisi lain pulau, terpisah dari Soumokil sang pemimpin gerakan. Dari radio transistor, mereka mendengar bahwa Soumokil telah ditangkap. Mereka terguncang, langsung menghancurkan radio itu dengan kapak. “Kita tidak boleh dengar radio ini, nanti kita menyerah,” kata seorang dari mereka.

Dengan ditangkapnya Soumokil, perjuangan RMS bagaikan lilin yang habis meleleh. Tidak lama, Bung Ony ditangkap tentara Indonesia. Bertahun-tahun dia lewati sebagai tahanan kota di tanahnya sendiri. Semangat juangnya sudah nyaris padam.

Sampai ketika dia mendengar, perjuangan RMS masih berkobar nun jauh di negeri Belanda sana.

Setelah mengakui kedaulatan Indonesia pada 1949, Belanda bertanggung jawab membubarkan tentara kolonialnya. Namun ada masalah dengan para tentara yang berasal dari Maluku. Karena masih bertempur melawan RMS, Indonesia tidak mengizinkan para personel Maluku ini pulang ke Maluku, karena khawatir mereka akan berjuang di pihak RMS. Para personel ini juga tidak mau masuk militer Indonesia, karena dulu adalah musuh yang saling membunuh. Akhirnya, pada tahun 1951, Belanda terpaksa membawa 12.500 orang, yaitu para tentara Maluku beserta keluarganya, melintasi Samudra Hindia menuju negeri Belanda. Semua orang Maluku itu mengira ini perjalanan sementara, segera mereka akan dipulangkan ke pulau-pulau tropis tanah air mereka. Kenyataannya, mereka tidak bisa pulang lagi. Diperlakukan seperti pengungsi, mereka ditempatkan di bekas kamp-kamp konsentrasi Yahudi pada masa Perang Dunia II. Ketidakadilan membuat anak-anak muda RMS di Belanda semakin marah dan radikal. Tahun 1970an, mereka mencoba menculik Duta Besar Indonesia, menyandera Konsulat Indonesia di Amsterdam, membajak dua kereta api Belanda, satu sekolah Belanda, dan satu gedung pemerintahan Belanda.

Aksi-aksi berani di seberang lautan itu membuat Bung Ony terpikir untuk menyambung perjuangannya. Dia melakukan perjalanan berbahaya ala spionase: menyelundup ke Jakarta, menyuap untuk mendapat paspor Indonesia, terbang ke Jerman, lalu masuk ke Belanda dengan menggunakan paspor Belanda milik orang lain.

Sesampainya di Belanda, dan empat puluh tahun tinggal di sini, Bung Ony menyaksikan realitas Kabinet RMS yang tidak lagi solid seperti semula, terpecah belah hingga akhirnya meredup dan meredup. Begitu redup, sampai RMS menjadi gerakan ekstrateritorial, yang hanya ramai di luar negeri tapi nyaris tak ada gaungnya di dalam negeri, sehingga kebanyakan orang Indonesia tidak tahu RMS masih ada. Begitu redupnya, sampai anak-anak muda Maluku sekarang di Belanda pun sudah banyak yang tidak mengerti kenapa mereka kini berakhir menjadi orang Belanda.

Yang Bung Ony paling sedih, adalah melihat lagu ciptaannya dinyanyikan setiap tahun oleh orang-orang Maluku di Belanda, tetapi tidak banyak yang memahami kepedihan di balik lagu itu. Meski harus terengah-engah berjuang sendiri, hampir tanpa dukungan siapa-siapa, mimpi Bung Ony masih tinggi. Dia kini terus menulis buku. Tentang sejarah Maluku. Tentang perjuangan dan penjajahan. Tentang upaya-upaya diplomasi yang harus dilakukan Maluku di PBB.

Waktu untuk berpisah. Dia memeluk saya—tamu yang datang dari negeri yang pernah dia perangi, tetapi adalah saudara dalam satu bahasa dan sejarah. Air matanya meleleh lagi. “Yang saya lakukan ini bukan ideologi,” katanya, “tapi ini panggilan yang datangnya dari Tuhan.”

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

5 Comments on Ikan Makan Ikan

  1. Takjub dgn cstatan n ulasan anda…mengungkap hal “sensitif” tanpa terjemahan berlebihan. Terimakasih

  2. Dua Samudera // May 10, 2017 at 11:55 pm // Reply

    Fuuuuuuuuih, topik berat nan sensitif. Membuat manusia dalam dua sisi yang berbeda, kita dan mereka. Lanjutkan ceritanya Bang! Keren.

  3. Mengharukan.

  4. Claudius Nugroho // May 16, 2017 at 4:18 pm // Reply

    Kenapa keyakinan merobek-robek persaudaraan sepanjang sejarah manusia.

  5. hanya dikira indonesia melanggar perjanjian terus bs seenaknya aja berjuang untuk merdeka? hadehhh

Leave a comment

Your email address will not be published.


*