Recommended

Titik Nol 184: Makam Suci

Chowkidar tak pernah berhenti memutar tasbih   (AGUSTINUS WIBOWO)

Chowkidar tak pernah berhenti memutar tasbih (AGUSTINUS WIBOWO)

Tempat suci ini adalah kota kuno bertabur makam orang suci. Bangunan dari zaman kaum derwis berjenggot putih diselimuti nuansa mistis. Di sini keajaiban dan mukjizat bertabur. Uch Sharif, kota yang agung, bermandi cahaya mentari dan rembulan.

Terperangkap waktu, demikianlah yang saya rasakan ketika menyusuri gang-gang kecil di pasar berdebu Uch Sharif, berkelok-kelok menyesatkan. Segala macam pedagang ada di sini. Mulai dari sirup sharbat, minuman segar faluda, sup lentil, nasi biryani, sampai pengeras suara Made in China. Tetapi di dalam labirin pasar kuno inilah tersembunyi tempat-tempat paling suci di Pakistan.

Di antara ratusan orang suci yang pernah berdiam di kota Uch ratusan tahun silam adalah Sayyid Jalaluddin Bukhari, guru Sufi dari abad ke-15 yang termasyhur akan mukjizatnya. Jahanian Jahangasht, atau Pengelana Dunia, demikan julukannya. Sang Baba – orang suci – telah menjelajah muka bumi untuk mempelajari hakikat Islam. Dari tanah leluhurnya di Bukhara, sekarang wilayah Uzbekistan, sang guru sudah ke Mekkah, Medina, Bagdhad, Persia, dan akhirnya menetap di Punjab. Saya teringat Guru Nanak pendiri agama Sikh yang juga berkelana ke seluruh penjuru bumi untuk menemukan kebenaran hakiki.

“Baba, dengan kekuatan magisnya bisa memindahkan mihrab dari Delhi ke Uch,” kata chowkidar – juru kunci – sambil menunjuk ke arah pintu mihrab dalam makam ini, sementara tangan kanannya tak pernah berhenti memutar tasbih.

Baba Jahanian Jahangasht adalah salah satu orang suci terpenting dari tarekah Suhrawardiyah, aliran Sufi yang berkembang di Asia Tengah dan Selatan. Menarik dicermati bahwa orang suci Sufi di India dan Pakistan kebanyakan berasal dari Afghanistan, Persia, dan Asia Tengah. Ajaran Sufi, percampuran Islam dengan mistis dan budaya lokal, adalah Islam yang mendarah daging dalam Muslim Asia Selatan turun-temurun melintasi ratusan tahun.

Saya teringat alunan musik qawwali di makam Data Ganj Bakhsh serta tetabuhan genderang yang memabukkan di makam kuno Lahore. Juga seruan mantra Jhulelal dan Mast Qalandar yang mengagungkan guru Sufi. Apakah itu Islam? Saya pernah terlibat perdebatan panjang dengan seorang pelajar Deobandi – aliran konservatif di Asia Selatan – yang bersikukuh bahwa musik, tarian Sufi, dan penyebutan Tuhan sebagai kekasih adalah haram.

Menyentuh makam suci dipercaya akan membawa berkah (AGUSTINUS WIBOWO)

Menyentuh makam suci dipercaya akan membawa berkah (AGUSTINUS WIBOWO)

Mengunjungi makam dan mengharapkan mukjizat juga tradisi lokal yang masih hidup subur di tanah Punjab dan seluruh anak benua. Di makam Jalaluddin Surkh Bukhari ini, orang berziarah. Ada yang membawa anak atau orang tuanya yang sakit, mengharap kesembuhan dari tempat suci. Cara mereka berziarah pun penuh dengan kultur Hindu. Dengan telapak tangan kanan mereka menyentuh daun pintu kemudian menempelkan tangan ke dahi dan mulut berkomat-kamit membaca doa. Ada pula yang dengan rasa haru sampai menangis menggapai dan mencium makam suci yang dibalut kain merah dan hijau. Ada yang berkeliling makam sambil menyentuh semua sisi dinding dan pilar-pilar kayu, mengharapkan transmisi mukjizat dari tempat suci ini.

Hanya laki-laki yang boleh masuk ke dalam bangunan kuno ini. Tugas chowkidar adalah menjaga ketertiban di sini. Pria gemuk berkumis dan berumur empat puluhan ini sangat tegas terhadap peziarah yang tak turut aturan. Kaum perempuan hanya boleh membaca doa dari ambang pintu, berjongkok dan berkomat-kamit tanpa henti. Isak tangis dan sesenggukan pun terdengar ketika para perempuan berkerudung rapat itu memanjatkan doa mereka.

Chowkidar bukan hanya sekadar penjaga makam biasa. Ia juga menjadi tumpuan harapan para peziarah. Seorang ayah membawa bayinya yang sakit mental kepada chowkidar. Sang juru kunci membaca doa, menyentuh tubuh bayinya, dan memberinya sejumput garam dan beberapa lembar kertas bertulis huruf Arab.

Semakin besar harapannya, semakin besar pula mannat-nya. Mannat berarti sumpah atau nazar (dari kata nadhr), yang merupakan perjanjian dari peziarah untuk melakukan sesuatu agar doanya terkabul. Seorang perempuan tua mengabdikan hidupnya di makam ini sebagai penyapu sebagai wujud nazarnya.

“Kasihan sekali perempuan itu,” kata sang chowkidar, “Ia dan anaknya ‘sakit’.. Suaminya cuma bekerja sebagai penjual air di pasar.”

Kaum hawa hanya boleh duduk di ambang pintu (AGUSTINUS WIBOWO)

Kaum hawa hanya boleh duduk di ambang pintu (AGUSTINUS WIBOWO)

Sakit yang dimaksud adalah sakit jiwa, datangnya tiba-tiba. Anak perempuannya, baru berumur sekitar empat tahun, berkepala nyaris botak dengan rambut pirang dan pandangannya kosong. Sepanjang hari hanya berbaring di lantai mazar – gedung makam – yang dingin, menghabiskan hari. Ibunya, berkulit gelap dan berkerudung tebal, tak pernah lepas dari sapu lidi dan kain serbet. Penuh kecintaan dan tanpa mengeluh ia membersihkan setiap sudut makam, dari pagi hingga petang. Dengan telaten ia menyapui debu di depan barisan makam yang entah mengapa dihiasi tulisan hitam dan tebal: CRUSH USA.

“Mukjizat memang datang,” kata sang chowkidar, “Dokter bilang sejak mereka berdua berada di mazar ini, kesehatan mereka sudah jauh membaik.”

Selain untuk masalah penyakit berat, chowkidar juga melayani para peziarah yang mengeluhkan masalah sehari-hari. Seorang bocah belasan tahun dengan wajah muram menceritakan bagaimana ia kehilangan HP. Sang juru kunci membaca doa, kemudian memberinya sepotong kertas bertulis “Innalillahi wa innalillahi roji’un”. Ia berpesan pada si bocah untuk membaca tulisan itu berulang-ulang, sepanjang hari, sampai hatinya tenang. Si bocah kemudian mencemplungkan uang sedekah ke dalam kotak kayu.

Masalah uang sedekah ini kadang juga menjadi pertengkaran hebat. Ketika saya sedang mendengarkan teduhnya suara chowkidar memberika nasihat, tiba-tiba di luar terdengar kegaduhan. Seorang pemuda, juga penjaga makam, mengacungkan tongkat kayu, berteriak dan memaki-maki seorang pemuda penjaga makam lainnya. Pandangan matanya ganas.

Semakin besar harapannya, semakin besar mannat-nya. Ibu ini mengabdi di makam Jalaluddin Surkh Bukhari demik kesembuhan putrinya. (AGUSTINUS WIBOWO)

Semakin besar harapannya, semakin besar mannat-nya. Ibu ini mengabdi di makam Jalaluddin Surkh Bukhari demik kesembuhan putrinya. (AGUSTINUS WIBOWO)

Penyebabnya sebenarnya sepele. Seorang penjaga makam mengutip sumbangan ‘sukarela’ dari peziarah perempuan yang ingin masuk ke makam kecil tempat penyimpanan jejak kaki Hazrat Ali (Ali bin Abi Thalib, khalifah keempat). Hanya 2 Rupee sebenarnya. Tetapi wanita miskin itu tak punya uang sama sekali. Ia tak diizinkan masuk. Seorang penjaga makam lainnya kebetulan melihat kejadian ini, segera menasihati rekannya. Tak terima dinasihati, orang itu lantas mengambil tongkat kayu dan siap memukul.

Kegaduhan ini langsung reda dengan kehadiran chowkidar gemuk yang paling dihormati di sini. Masih mengumpat-umpat, pemuda yang membawa tongkat kayu itu langsung pergi. Ketenangan dan kekushyukan doa kembali menyelimuti pekuburan suci ini.

 

(Bersambung)

Serial ini pernah diterbitkan sebagai “Titik Nol” di Rubrik Petualang, Kompas.com pada tahun 2008, dan diterbitkan sebagai buku perjalanan berjudul “Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan” oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2013.

Dimuat di Kompas Cyber Media pada 20 April 2009

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

Leave a comment

Your email address will not be published.


*