Recommended

Garis Batas 82: Utopistan

Dua dunia (AGUSTINUS WIBOWO)

Dua dunia (AGUSTINUS WIBOWO)

Mendung bergelayut di langit Ashgabat. Hujan turun rintik-rintik. Perumahan kuno tempat saya tinggal sudah menjadi lautan lumpur. Tempat ini tepat berada di belakang gedung-gedung marmer pencakar langit yang dibangun oleh Turkmenbashi, dengan cita rasa yang penuh tanda tanya.

Hanya menyeberang gang ke jalan utama, meninggalkan kumuhnya rumah-rumah kuno, saya sudah kembali ke dunia Turkmenistan yang dibangun oleh Turkmenbashi. Dalam bahasa Turkmen, Turkmenbashi artinya ‘Pemimpin orang Turkmen’. Mirip-mirip gelar Kemal Ataturk, sang pembaharu Turki, yang artinya ‘Bapa orang Turki’. Di negeri ini, itulah nama yang tidak boleh kita lupakan, karena dialah seluruh roh dan jiwa Turkmenistan, pembawa pencerahan dan pembaharuan ke seluruh penjuru negeri dan dunia.

Wajah Saparmurat Turkmenbashi, presiden agung yang baru saja meninggal, menghiasi setiap sudut jalan Ashgabat. Gedung-gedung kementrian selalu punya patung emasnya. Siluet wajahnya mengawali setiap slogan dan pesan pemerintah. Semua saluran televisi juga pasti memasang gambar sang Bapa Agung.

Belum cukup. Desa, kota, pelabuhan, jalan, bandara, semuanya diganti dengan nama beliau, nama orang tua beliau, juga konsep-konsep agung beliau. Kota pelabuhan Krasnodovsk di pinggir Laut Kaspia sekarang bernama Turkmenbashi. Kota perbatasan Charjou sekarang berjudul Turkmenabat. Kota kecil Kerki sudah menjadi Atamurat, nama ayah Turkmenbashi.

Ibundanya, Gurbansoltan Eje, sekarang menjadi pengganti kata ‘roti’ dan nama bulan April, sekaligus ditetapkan sebagai pahlawan perempuan. Tak banyak presiden di dunia yang punya inisiatif mengganti nama-nama bulan seperti Turkmenbashi. Bulan Januari, sejak 10 Agustus 2002, diganti menjadi bulan Turkmenbashi. Bulan Februari adalah Baydak (bulan bendera), Maret menjadi Nowruz (tahun baru Persia), Mei menjadi Magtymguly (seorang pujangga dan pemimpin spiritual Turkmen), Juni menjadi Oguz Khan (kakek moyang orang Turkmen), Juli menjadi Gorkut (pahlawan Turkmen), Agustus menjadi Alp Arslan (pahlawan Turkmen lainnya), September menjadi Ruhnama (kitab agung tulisan sang Presiden), Oktober menjadi Garashsyzlik (kemerdekaan), November menjadi Sanjar (nama pahlawan), dan Desember menjadi Bitaraplik (netralitas).

Hobi ganti-ganti nama Turkmenbashi juga menjalar ke nama-nama hari. Ada hari istirahat (dyncgun, Minggu), hari utama (bashgun, Senin), hari muda (yashgun, Selasa), hari bahagia (hoshgun, Rabu), hari diberkati (sogapgun, Kamis), hari ibu (Anna, Jumat) dan hari roh (ruhgun, Sabtu). Daftar nama bulan dan hari ini harus saya bawa ke mana-mana untuk tetap bisa membaca majalah dan koran suara pemerintah, karena kalau tidak saya jadi tidak tahu sedang berada di zaman apa.

Kalau nama hari dan bulan bisa diganti, apalagi nama jalan. Seperti halnya saudara-saudara Stan lainnya yang langsung menghapus nama-nama jalan berbau Soviet, orang Turkmen lebih diuji lagi hapalan memorinya. Bukan hanya sekali dua kali, nama jalan di Ashgabat sudah diganti berkali-kali sampai penduduk pun pusing. Nama jalan utama di Ashgabat adalah Azadi (kemerdekaan), Magtymguly (nama pujangga), Atamyrat Niyazov (nama ayah Turkmenbashi), Bitarap Turkmenistan (Turkmenistan yang Netral), dan tak lupa tentunya, Jalan Turkmenbashi. Nama-nama yang sudah bagus ini tahun 2002 diganti lagi menjadi angka-angka aneh yang saya tidak tahu apa maksudnya, seperti 1988, 1984, 1998, 2004, 2008. Cuma sejarawan dan matematikawan yang bisa bertahan di kota yang pemimpinnya rajin mengganti nama jalan.

Apartemen Ashgabat (AGUSTINUS WIBOWO)

Apartemen Ashgabat (AGUSTINUS WIBOWO)

Selain hal-hal aneh tadi, Turkmenbashi juga menawarkan kebahagiaan yang diidam-idamkan penduduknya.

Saya tergesa-gesa berjalan melintasi jalan-jalan yang namanya serba ajaib, di bawah hujan rintik-rintik yang terus mengguyur kota ini sejak kemarin. Tujuan saya adalah stasiun kereta api Ashgabat yang ramai sekali, apalagi tahun baru Navruz cuma kurang beberapa hari lagi. Sibuknya Navrus bisa disejajarkan dengan Lebaran di Indonesia.

Banyak sekali antrean dan loket-loket, saya sampai tidak tahu harus antre di mana. Saya antre di depan loket yang orangnya paling sedikit. Tiga puluh menit menunggu sampai akhirnya saya tiba persis di depan loket, dan si mbak yang berdiri di balik kaca dengan jutek lagi judes menyuruh saya untuk antre di loket lainnya. Kejudesan dan hobi berteriak-teriak pegawai pemerintahan di negara-negara bekas komunis memang sudah tersohor. Konsumen sama sekali tidak perlu diperlakukan sebagai raja.

Loket-loket yang banyak ini ternyata berbeda-beda tujuannya. Ada loket pembelian tiket hari ini, dua hari lagi, hingga booking satu minggu ke depan. Ada loket untuk kereta menuju Turkmenabat, ada yang untuk Darvaza. Memusingkan dan campur aduk. Semua informasi ditulis dengan bahasa Turkmen. Begitu antipatinya Turkmenistan terhadap Uni Soviet sampai-sampai tulisan bahasa Rusia benar-benar dihapus dari peredaran sama sekali.

Setelah bersusah payah mengantre di berbagai loket, akhirnya saya berhasil mendapatkan tiket ke Turkmenabat, keberangkatan besok lusa. Sebagian besar tiket sudah habis terjual. Yang tersisa cuma tiket kelas ekonomi, duduk di atas bangku kayu keras dan dijamin uyel-uyelan. Tak apa, daripada tidak berangkat sama sekali.

            “On besh ming Manat, 15.000 Manat,” kata si ibu penjual tiket yang masih lumayan ramah.

Berapa? Apa saya tidak salah dengar? 15.000 Manat, kira-kira 5.400 Rupiah. Ini biaya perjalanan dari Asghabat ke Turkmenabat, 600 kilometer jauhnya di atas kereta super lambat yang merambat selama 16 jam.

Wajah Turkmenbashi ada di mana-mana (AGUSTINUS WIBOWO)

Wajah Turkmenbashi ada di mana-mana (AGUSTINUS WIBOWO)

Mimpi indah Abad Emas yang menjadi kenyataan. Semua gratis, semua murah. Tiket pesawat dari Ashgabat ke Turkmenabat harganya hanya sekitar 14.000 Rupiah saja. Harga seliter bensin hanya 300 Manat, sekitar 120 Rupiah. Mau isi bensin full tank pun tak sampai sepuluh ribu Rupiah. Jangan lupa harga tiket bus kota yang cuma 50 Manat, 20 Rupiah saja. Gas, air, listrik, semua gratis. Bahkan di negeri padang pasir yang kering kerontang ini, air mancur mewah bertebaran di pojok-pojok Ashgabat, memberi ilusi tentang kemakmuran oasis padang pasir.

Abad 21 adalah Abad Emas Turkmenistan. Saya selalu teringat slogan itu. Altyn Asyr, Abad Emas, sekarang menjadi nama dan jargon favorit di negeri ini. Untuk apa ke luar negeri, kalau semua gratis dan murah di negeri utopis ini? Saya teringat Rita yang jauh lebih bangga akan kemajuan Turkmenistan daripada kemewahan kapitalisme Kazakhstan.

Hari ini adalah ruhgun, hari roh, hari Sabtu. Aneh, roh saya tiba-tiba ikut bersorak bersama kemakmuran dan kejayaan Abad Emas.

 

(Bersambung)

Serial ini pernah diterbitkan sebagai “Berkelana ke Negeri-Negeri Stan” di Rubrik Petualang, Kompas.com pada tahun 2008, dan diterbitkan sebagai buku perjalanan berjudul “Garis Batas: Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah” oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2011.

Dimuat di Kompas Cyber Media pada 27 Juni 2008

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

2 Comments on Garis Batas 82: Utopistan

  1. Bawa uang 1jt udah mewah dong. Makmur betul itu negri. Indonesia kmakmuran(slogan aja)

  2. Muchlison Batchinhehe… itulah negara dengan sistem yg sosialis. tp tdk ada kebebasan bersuara

Leave a comment

Your email address will not be published.


*