Recommended

Garis Batas 87: Baju Indah

Pelajar Turkmen dengan pakaiannya yang indah (AGUSTINUS WIBOWO)

Pelajar Turkmen dengan pakaiannya yang indah (AGUSTINUS WIBOWO)

Saya masih terkesima dengan pemuda dan pemudi Turkmen yang semuanya berbaju rapi, indah, dan penuh pesona. Apakah ini bagian wajib dari sebuah Abad Emas?

Jeyhun adalah seorang mahasiswa teknik mesin di sebuah universitas di Ashgabat. Namanya berarti Sungai Amu Darya, sungai besar yang disebut-sebut sebagai tempat lahirnya peadaban Asia Tengah. Kampung halaman Jeyhun sebenarnya berada di Uzbekistan, di kota kecil Karakul di selatan Bukhara. Tetapi sekarang keluarganya tinggal di kota Turkmenabat, persis di seberang pintu gerbang Uzbekistan.

Mahasiswa yang satu ini berpakaian sangat parlente. Kemejanya putih bersih. Dasinya pun berpadu serasi. Yang bikin mana tahan adalah jas hitamnya yang lembut dan gagah. Celana panjangnya pun hitam mengkilap. Tak lupa sepatu hitamnya yang terus-menerus bercahaya.

Tak tampak seperti orang Turkmen? Masih ada tahia, topi bundar, tipis, mungil berhiaskan noktah-noktah berwarna kuning dan merah teronggok miring menutupi ubun-ubun di puncak kepalanya.

Bukankah berpakaian seperti ini menghabiskan biaya? Harga jas yang berkualitas bagus seperti ini harganya mulai dari 40 dolar sampai 100 dolar. Sangat mahal untuk ukuran mahasiswa.

“Tidak masalah,” kata Jeyhun, seorang mahasiswa dari Turkmenabat yang belajar di Ashgabat, “semua orang jadi kelihatan bagus. Para pelajar di sini sangat cantik dan tampan. Tak ada salahnya berpenampilan menarik.”

Turkmenistan, seperti diyakini para warganya, adalah negara yang sudah kaya. Sekarang orang harus mulai memperhatikan penampilan. Tahia adalah identitas bangsa Turkmen, juga tidak salah kalau jadi bagian dari seragam sekolah dan pakaian wajib di kantor.

Dalam Ruhnama, buku bacaan wajib maha karya Sang Turkmenbashi yang Agung, termaktub dengan jelas:

Nabi Nuh bersabda: ‘pakaian yang bagus meningkatkan penampilan eksternal dan membuat orang jadi kelihatan bagus, maka pilihlah pakaian yang sesuai dengan dirimu!’

Ruhnama adalah jawaban akan segala hal di Turkmenistan. Turkmenbashi memang mewajibkan anak-anak sekolah hingga mahasiswa untuk menghafalkan, menghayati, dan mengamalkan Ruhnama. Jeyhun pun sangat bangga dengan pendidikan di negerinya.

“Universitas di Turkmenistan semuanya gratis. Bukan hanya gratis, kami malah dibayar oleh pemerintah, satu juta Manat per bulan.”

Tak heran dengan gaji sebanyak itu, yang setara dengan gaji rata-rata penduduk Turkmen, para mahasiswa dan mahasiswi ini mampu membeli jas mahal untuk meningkatkan ‘penampilan eksternal’-nya.

Jas mahal berpadu dengan tahia (AGUSTINUS WIBOWO)

Jas mahal berpadu dengan tahia (AGUSTINUS WIBOWO)

Jeyhun tak pernah putus menyebutkan nama-nama pahlawan agung Turkmen, seperti Oguz Khan, sang Bapa orang Turkmen yang memulai peradaban dunia, juga pujangga Magtymguly dan pejuang Arp Arslan. Dalam benaknya, seperti yang diajarkan dalam buku suci itu, Turkmen adalah pusat kebudayaan dunia, nenek moyang orang-orang yang terbentang dari Turki hingga Afghanistan dan Mongolia. Turkmen adalah gemilangnya sejarah manusia, dan kini sedang menapaki jalan menuju negeri makmur yang akan dikagumi semua bangsa di muka bumi.

Semuanya itu sudah termaktub dalam Ruhnama, yang baru saja puja dan pujinya dilantunkan di depan altar oleh puluhan mahasiswa dan mahasiswi yang tersenyum penuh bangga.

Tetapi di luar apa yang tertulis dalam Ruhnama, Jeyhun mengaku tak banyak tahu. Dia tak pernah dengar ada negara bernama Indonesia, tak tahu apa itu tsunami. Turkmenistan, seperti halnya Indonesia, adalah dua negara yang sama-sama pernah menderita karena gempa dahsyat. Pada awal abad ke-20, Ashgabat pernah diluluhlantakkan oleh gempa yang membunuh hampir semua rakyatnya. Di pusat kota Ashgabat, di taman patung emas Turkmenbashi, dibangun sebuah museum untuk mengenang tragedi besar dalam sejarah Turkmen. Semua anak Turkmen pasti tahu tentang sejarah ini, karena ini termasuk lembaran penting sejarah umat manusia. Tetapi tsunami yang terjadi di ujung bumi yang jauh di sana? Hanya berita sekilas yang lewat seperti angin lalu.

Tidak ada kata Indonesia dalam kamus Jeyhun. Nama Indonesia sama sekali tidak disebut-sebut dalam kitab suci bernama Ruhnama. Indonesia bukan di pusat dunia seperti Turkmenistan, jadi bukan hal yang perlu untuk didengar.

Bagaimana orang di negeri ini bisa tahu dunia luar, kalau pemerintah memilih dan menyaring dulu semua yang boleh diketahui rakyatnya?

Saya teringat, suatu hari di Tajikistan, bersama keluarga miskin di Murghab, kami menonton siaran televisi Turkmenistan yang tertangkap dengan satelit. Televisi nasional Turkmenistan selalu memasang foto Turkmenbashi di pojok kanan atas. Acara televisi itu menunjukkan kemajuan pertanian di desa-desa Turkmen yang sekarang sudah pakai traktor canggih. Ada pejabat yang meninjau dan tersenyum riang menunjukkan panenan anggur yang luar biasa. Yang nampak adalah negeri makmur dengan penduduk bahagia. Tak ada pengemis, tak ada orang kelaparan. Saya jadi teringat acara ‘Desa ke Desa’ zaman TVRI dulu.

Keluarga dari Tajikistan itu, yang dirundung kemiskinan, kekeringan, dan kegelapan, sangat takjub melihat acara TV ini. Sang bapak spontan memuji Turkmenistan, “Lihat, Turkmenistan sekarang sudah menjadi negara paling kaya di Asia Tengah!”

Kalau televisi bisa menjadi sarana penerangan yang disenangi pemerintah, tidak demikian halnya dengan internet. Turkmenbashi pernah menutup semua warnet di kota ini, dan sekarang cuma ada satu warnet di Ashgabat. Harga aksesnya 100.000 Manat atau sekitar 38.000 Rupiah per jam. Semua pengunjung harus menunjukkan dokumen lengkap dan pemerintah terus memantau situs-situs apa saja yang dikunjungi.

Informasi dibatasi. Bagaimana orang bisa berinternet kalau harga akses internet satu jam bahkan lebih mahal daripada tiket pesawat domestik pergi pulang? Sang Pemimpin memang membanjiri warganya dengan kebahagiaan-kebahagiaan – air gratis, bensin dan angkutan umum super murah, tetapi keran informasi tentang dunia luar disumbat. Tak ada lagi yang harus dicari-cari dari Internet, karena Ruhnama, buku maha karya sang Pemimpin Agung, sudah menyajikan jawaban akan semua pertanyaan di dunia.

Setidaknya dari Ruhnama saya menemukan jawaban mengapa orang Turkmen selalu berbaju indah.

 

(bersambung)

Serial ini pernah diterbitkan sebagai “Berkelana ke Negeri-Negeri Stan” di Rubrik Petualang, Kompas.com pada tahun 2008, dan diterbitkan sebagai buku perjalanan berjudul “Garis Batas: Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah” oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2011.

Dimuat di Kompas Cyber Media pada 4 Juli 2008

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

3 Comments on Garis Batas 87: Baju Indah

  1. Mereka seperti hidup dlm istana.. Namun tanpa bisa melihat dunia luar..

  2. Referensi bagus ttg Turkmenistan “: Garis Batas 87: Baju Indah – http://t.co/ZAX2oIOuxq http://t.co/CgFWzFPGRY”

  3. Muhammad Rizky // January 23, 2016 at 3:48 pm // Reply

    Indonesia saja tidak tahu -_- kita aja udah desak-desakan hidup dalam 250 juta jiwa dan memecah berjuta rekok tetap saja tidak tahu…negara macam apa itu :)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*