Recommended

Selimut Debu 1: Sebuah Kisah Cinta

selimut-debu-01-1

Impian tentang lembah hijau di negeri perang (AGUSTINUS WIBOWO)

Sayup-sayup dia berbisik memanggil dan menyapa, dengan suara yang lemah, lembut, namun dalam, dari balik cadar birunya. Sebuah suara yang menggetarkan hati siapa pun yang mendengarnya. Aku tahu pasti, ada sepasang mata besar yang indah yang tersembunyi di balik sana, menatap tajam penuh pengharapan. Ada seraut wajah putih berhiaskan dandanan cantik, terselubung dalam cadar biru yang kelam.

Dan aku berbisik padanya,“Izinkanlah aku menyingkap cadarmu …”

Kisah cintaku dengannya di tengah kengerian perang sebenarnya dimulai dari sebuah mimpi. Tentang sepasang mata. Tentang ekspresi misterius di balik cadar pekat. Tentang suara lembut di lembah hijau yang dikelilingi kegersangan padang membentang.

Mimpi itulah yang membawaku berjalan ribuan kilometer, untuk menemukan rahasianya, menikmati kecantikan wajahnya, ikut merasakan air matanya yang mengalir di kedua belah pipinya.

Saat itu aku masih seorang pelajar di sebuah universitas ternama di kota Beijing. Kengerian baru melanda seluruh negeri. Penyakit misterius merebak, orang-orang meninggal begitu saja. Setiap hari televisi sibuk menyiarkan, berapa kasus tertular, berapa kasus tewas. Kita bahkan tak berani menghirup udara, karena virus-virus penyebar penyakit berbahaya itu bisa saja tiba-tiba hinggap di tubuh, membunuh tanpa ba-bi-bu.

Siapa yang tidak takut mati? Virus yang tak sampai sepersejuta meter itu membuat semiliar penduduk negeri raksasa kalang kabut. China, terbentang lima ribu kilometer dari utara ke selatan, lima ribu kilometer dari timur ke barat, seluruhnya seperti benteng raksasa yang dikarantina. Orang-orang tak berani keluar rumah, ataupun kalau terpaksa, mereka memakai masker yang menjadikan wajah mereka semakin anonim dan tak berekspresi. Kawasan kampus dikunci total, mahasiswa yang tinggal di dalam tidak boleh keluar, dan mahasiswa yang di luar tak boleh masuk—seperti diriku yang sudah berbulan-bulan dipaksa membolos dan terkurung dalam apartemen sempit.

Perjalanan adalah dosa. Kota-kota diisolasi, kita perlu izin yang ketat hanya untuk bepergian. Semua penumpang dianggap sebagai agen pembawa penyakit sebelum terbukti tidak. Demam sedikit saja sudah membangkitkan histeria berlebihan, seolah semua orang di sekitarnya akan ikut mati bersama. Setiap kompleks punya pengawas dan mata-mata masing-masing. Oh, siapa orang asing itu? Dari mana dia? Ada perlu apa? Apakah dia bawa penyakit?

Ketakutan akan kematian ini berlebihan. Paranoia ini sebenarnya jauh lebih membunuh daripada penyakit SARS itu. Banyak kawan-kawan mahasiswa di sekolahku yang menjadi gila karena terkurung di kampus tak bisa menghirup udara bebas sama sekali selama dua bulan (jangan lupa! Ada virus kematian di udara bebas!).

Di saat semua orang ketakutan akan kematian, aku justru memimpikan petualangan di bibir kematian. Petualangan! Ketidakterdugaan! Keserbaasingan! Ketidaktahuan dan bahaya, perang. Semua itu membayangi mimpi-mimpiku, apalagi sejak aku membaca catatan perjalanan seorang backpacker asal Hong Kong yang menyusuri gunung-gunung Pakistan utara, menyusup ke Afghanistan, menginjakkan kaki di negeri perang yang hidup seperti dalam dimensi waktu berbeda itu. Perjalanan seperti itu sama sekali bukan mustahil! Dan itu jauh lebih berarti daripada mengurung diri di kamar hanya karena virus-virus yang tak terlihat.

Jangan salahkan jika aku berubah menjadi liar begitu badai SARS berlalu dari kota Beijing, kehidupan perlahan menjadi normal, dan perbatasan dengan negara-negara tetangga pun satu per satu mulai dibuka. Terbuka pula kesempatan bagiku menerjang ke alam penuh bahaya di barat sana, demi menemui gadis misterius dalam mimpiku itu.

Dengan visa Pakistan yang cukup mudah kudapatkan di Beijing, dan hanya 300 dolar Amerika di kantong, aku menempuh perjalanan 48 jam dengan menumpang kereta api dari Beijing menuju Urumqi. Empat puluh delapan jam itu bukan angka main-main, apalagi kalau kau hanya mampu membeli tiket kelas termurah. Kursi keras dengan sandaran bangku tegak sembilan puluh derajat. Bukan hanya punggungku yang perih, bibir pun sampai berdarah-darah.

Petugas kereta datang silih berganti menimbang suhu badan para penumpang. Suhu badan yang salah adalah dosa besar. Ingat, angka normal tidak boleh lebih dari 37,5 derajat. Tetapi setelah 40 jam duduk di kereta, entah mengapa suhu tubuhku melonjak jadi 38 derajat. Apalagi setiap kali melihat pak dokter berjubah putih datang dari bangku ke bangku, seperti guru yang mengawasi ruang ujian nasional, jantungku semakin berdegup kencang.

“Kau mungkin tidak boleh turun di Urumqi. Tiga puluh delapan derajat ini bisa jadi masalah,” kata dokter.

“Tapi aku tidak SARS,” kataku, gugup. Aku pun tak yakin dengan ucapanku sendiri.

Semua orang panik, karena penumpang-penumpang yang duduk di sebelahku pun takut dikarantina. Mereka, yang semula dalam dua hari terakhir ini akrab bergurau denganku, sekarang seolah-olah menjadi orang yang tidak kenal aku sama sekali. Aku seperti pelaku kejahatan, hanya gara-gara suhu badan.

“Ya, memang belum tentu SARS. Siapa saja bisa kena suhu tinggi. Kalau saran saya, minumlah air putih banyak-banyak. Kamu dehidrasi. Atau mungkin juga tegang.”

“Bagaimana ini? Dua jam lagi kita sampai di Urumqi! Bagaimana jika suhu tubuhku belum juga turun?”

“Jangan panik. Tenang, tenang. Semakin kau panik, suhu tubuhmu semakin tinggi,” katanya.

Pak dokter membelikan aku beberapa botol air mineral, yang harus kutenggak semuanya untuk menurunkan suhu tubuhku.

Setelah menenggak lima botol, sampai nyaris muntah dan memegangi perut yang mengembung, aku kembali diperiksa oleh pak dokter. Suhuku sudah kembali lagi menjadi  37 derajat.

Dokter tersenyum lega.

Para penumpang tersenyum lega. Persahabatan kami pun tersambung kembali. Dalam hidup yang penuh misteri ini, memang ketakutan akan kematian bisa seketika mengubah hubungan manusia.

Kereta melambat, sayup-sayup hiruk-pikuk terdengar. Lihatlah itu, Urumqi sudah di hadapan.

 

(bersambung)

 

Versi lain dari serial ini diterbitkan sebagai buku perjalanan berjudul “Selimut Debu: Impian dan Harapan dari Negeri Perang Afghanistan” oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2010.

 

Siap menempuh perjalanan panjang (AGUSTINUS WIBOWO)

Siap menempuh perjalanan panjang (AGUSTINUS WIBOWO)

Padatnya kereta China kelas “kursi keras” untuk perjalanan panjang 48 jam (AGUSTINUS WIBOWO)

Padatnya kereta China kelas “kursi keras” untuk perjalanan panjang 48 jam (AGUSTINUS WIBOWO)

Para juru masak kereta (AGUSTINUS WIBOWO)

Para juru masak kereta (AGUSTINUS WIBOWO)

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

6 Comments on Selimut Debu 1: Sebuah Kisah Cinta

  1. gara2 suhu badan yg ‘salah’

  2. terima kasih buku sudah saya terima :) terima kasih banyak :) salam kenal…….

  3. slamet muslim // August 1, 2015 at 4:50 pm // Reply

    suhu badan 38 bisa juga kecapaean & kurang minum

  4. Dimana beli buku berselimut debu ..karena cetakanaya sudah lama..terimakasih

Leave a comment

Your email address will not be published.


*