Recommended

Viva (2013): Merangkum Dunia Lewat Rangkaian Kata

1311-vivanews-travelwriter

Merangkum Dunia Lewat Rangkaian Kata

Maya Sofia, Ananda Putri Laras
Jum’at, 1 November 2013, 12:22 WIB
 “Saya pergi ke negeri jauh, juga untuk mempelajari Indonesia.”

VIVAlife – Seorang pria menyusuri perjalanan panjang. Khasmir telah dilihatnya dengan mata telanjang. Wilayah yang diperebutkan oleh India dan Pakistan. Dua negara ini bertetangga, namun saling bertempur melucuti ego masing-masing.

Pernah juga ia tinggali Afghanistan, negeri yang diidentikan tentara Taliban. Kemudian kakinya melangkah terus ke Pakistan, Tajikistan, Kirgizstan, Kazakhstan, Uzbekistan, hingga Turkmenistan. Ia terus berpetualang mempelajari hidup dari berbagai sudut pandang.

“Saya pergi ke negeri jauh, juga untuk mempelajari Indonesia,” ucap seorang pria bernama Agustinus Wibowo. Ia lah sang penjelajah negeri “stan” tersebut.

Bagi Agustinus, negara-negara Asia Tengah adalah refleksi dari Tanah Airnya sendiri, Indonesia. Masih memiliki koneksi, sama-sama negara berlatar belakang terjajah yang dibebat konflik perbatasan.

Berpindah latar ke Kamboja, pria lain menelisik detail Angkor Wat. Candi yang dibangun megah di kota Siem Reap. Relief-relief yang terukir begitu akrab di matanya. Berupa burung Garuda yang senantiasa bergeming pada kisah Ramayana.

“Ternyata dunia wayang menarik, kisahnya mendunia di berbagai belahan bumi. Saya tidak hanya melihatnya di Indonesia, tapi di negara lain juga, semuanya terkoneksi,” kata Yudasmoro Minasiani, penjelajah yang tertarik mempelajari sejarah dan budaya.

Agustinus Wibowo dan Yudasmoro Minasiani, dua petualang yang mengabadikan perjalanannya di atas kertas. Profesi penulis perjalanan digeluti selama bertahun-tahun, diperoleh melalui banyak tahap dan proses yang tidak mudah. Mereka hinggap dari satu negara ke negara lain. Terus melancong, menghubungkan negeri sendiri dengan fakta-fakta dari dunia luar.

Agustinus Wibowo

Tiga buku sudah dirampungkan, yakni Selimut Debu, Garis Batas dan Titik Nol. Tentu semua tidak instan. Sebuah blog perjalanan dibuatnya sebagai awal. Agus menulis blog dengan Bahasa Inggris, ia tidak fasih menulis dengan Bahasa Indonesia ketika itu. Sebab, 13 tahun lamanya ia tinggalkan Indonesia. Ia menuntut ilmu di Universitas Zhejiang, China.

Perjalanan ke Mongolia, Tibet, Nepal dan ke negeri-negeri ”stan”, dikemas ke dalam sebuah tulisan. Walau tak berbekal ilmu jurnalistik, tapi ia terus belajar menulis lewat blog, hingga sebuah surat kabar di Indonesia tertarik. Ia pun ditawari dan bersedia mengisi rubrik perjalanan. Hasilnya, animo masyarakat begitu besar.

“Setelah itu, penerbit banyak yang tertarik untuk membuat blog saya menjadi buku,” kata Pria kelahiran Lumajang, 1981 ini. Namun tidak mudah baginya memindahkan blog menjadi sebuah buku.

Agus terus melancong, singgah sebagai relawan tsunami di Aceh pada Januari 2005. Dari sinilah awal motivasinya membuat buku. Ia terkesan dengan ketegaran yang dilihat di sana. Sebulan melewati bencana, penduduk Aceh tidak dirundung duka. Para ibu masih bersyukur kepada Tuhan, anak kecil berlari riang gembira di pengungsian. Penduduk setempat tak anggap tsunami sebagai hukuman Sang Pencipta, melainkan hikmah hidup yang lebih baik setelahnya.

“Tidak ada tangis, ternyata di tempat sehancur ini, mereka masih miliki harapan yang besar. Cerita seperti inilah yang saya ingin bagi ke orang-orang, kemudian saya terinspirasi membuat sebuah buku,” kata pria yang pernah bekerja sebagai penyiar radio di China ini.

Di mata Agus, perjalanan bukanlah sekadar destinasi. Karakter penduduk lebih memikat daripada pemandangan. Ia menyukai Laos, negeri yang tenang, dimana penduduknya begitu hangat diajak bicara. Pernah juga susah payah naik ke Pegunungan Pamir di Afghanistan, hanya untuk bertemu Suku Kyrgys. Gunung dengan tinggi 4.500 meter, harus ditaklukannya di atas seekor kuda. Ini adalah pengalaman pertamanya menunggang kuda.

“Saya tidak suka naik gunung, jikalau saya naik gunung, pasti karena saya ingin bertemu orang di atasnya,” lanjut Agus.

Perjuangannya berbuah manis. Agus berhasil menemui Suku Kyrgys. Waktu dua bulan dihabiskan untuk hidup bersama bangsa penggembala itu. Pengalaman yang berharga terus dicatat di sebuah buku harian setiap malamnya.

Agus melupakan alat teknologi untuk menyingkap perjalanan. Suku pedalaman takut pada benda asing, jika melihat alat perekam, mereka tidak akan terbuka jika ditanya. Kamera kerap jadi teman setia Agus di perjalanan. Agus pernah berpikir untuk menekuni fotografi, karena sebuah foto bisa bermakna seribu kata.

“Tapi kalau perjalanan sudah begini panjang, seribu kata pun sudah tidak cukup.”

Mobilitas Agus ke berbagai negara, membuat lidahnya fasih bermacam bahasa. Urdu, Rusia, Parsi, merupakan beberapa bahasa yang dipelajari secara otodidak. Namun menguasai bahasa bukan hal wajib, bahkan manusia dapat bertahan hidup hanya dengan bahasa tubuh sekalipun.

Agus masih sering menggunakan penerjemah bahasa untuk mencari informasi. Fungsi penerjemah itu, kata dia, sangat penting. Banyak hal yang bisa digali, terutama jika ingin menulis buku.

“Uang yang dikeluarkan tidak seberapa dibanding informasi yang didapat,” kata pria yang mengidolakan penulis V.S Naipaul ini.

Walau sudah menggelar jejak di berbagai garis batas negara, perjalanan tidak pernah putus. Agus tetap ingin melangkah ke garis batas lain. Menuju Atambua, Timor Leste, maupun perbatasan Thailand Selatan.

“Saya ingin menulis tentang Nasionalisme, yang maknanya sudah tergeser. Kita seringkali menutup diri pada negara tetangga, padahal kebudayaan sudah menyebar jauh sebelum garis batas diciptakan.”

Agus kini sibuk menerjemahkan ketiga bukunya ke dalam Bahasa Inggris. Agar bisa diikuti di ajang internasional Frankfurt Book Fair 2015 di Jerman. Karyanya sudah terjual ratusan ribu eksemplar. Agus menikmati hidup dari hasil jerih payahnya tersebut. Menurut Agus, hidup menjadi seorang penulis perjalanan memang menjanjikan, tapi tidak menghasilkan kekayaan.

Ia berbagi suka dukanya menjadi seorang penulis perjalanan. Hidupnya kini lebih berwarna. Orang lain yang terjebak dengan kesibukan, belum tentu memilikinya. Tapi jalan tak selamanya lurus. Kadang ia merasa stres, harus menghitung pengeluaran, mengejar narasumber, mengurus visa, dan berupaya adaptasi di setiap negara.

“Orang berpikir bahwa travel writer adalah pekerjaan terenak di dunia, tapi tidak begitu kenyataannya. Ini sama sekali tidak mudah, karena dituntut menghasilkan buku yang bagus, dituntut untuk mengubah hidup orang lain. Berada di jalan tidak selalu glamor, banyak tekanan,” lanjut Agus.

Berbeda dengan di luar negeri, menjadi penulis perjalanan di Indonesia belum terlalu diakui. Tulisan dan foto perjalanan Agus, dimuat pertama kali di sebuah majalah China pada 2003. Ia mengantongi bayaran sebesar Rp3 juta ketika itu. Jumlah yang sama dengan yang diberikan oleh majalah-majalah Indonesia saat ini. Sedangkan di luar negeri,  bayaran sudah mencapai Rp10 juta untuk artikel dan foto.

“Di luar negeri pun ada pendidikan S2 dan S3 untuk Travel Writing, saya sedang mencari beasiswa ke sana,” tambah Agus.

Yudasmoro Minasiani

“Saya sendiri tidak percaya bisa seperti ini sekarang, bisa jalan-jalan gratis keliling dunia,” ujar Yudasmoro Minasiani, penulis perjalanan yang lahir di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Ini bukan mimpinya. Ketika kecil ia bercita-cita menjadi pilot pesawat tempur. Sempat berkeinginan menjadi jurnalis, namun latar belakang pendidikan dirasanya kurang mendukung. Yudas, sapaan akrabnya, mengemban ilmu di Universitas Atmajaya, Fakultas Bisnis Administrasi. Setelah lulus, ia bekerja sebagai manajer di salah satu restoran cepat saji.

Yudas jatuh cinta dengan perjalanan pada 2007, sejak menghabiskan liburan ke Flores, Nusa Tenggara Timur. Selama satu pekan, ia susuri Maumere hingga Labuan Bajo seorang diri. Bertemu dengan penduduk Flores yang ramah, bahkan menurutnya paling ramah se-Indonesia.

“Sepulangnya dari Flores, saya mulai mencatat perjalanan lewat blog. Tulisan saya masih tidak bagus, tapi saya terus melakukan perjalanan sejak itu, dan memuatnya kembali di blog,” kata pria yang kini bekerja di salah satu majalah pariwisata ini.

Kemudian, Yudas coba mengirimkan karyanya ke sebuah majalah pariwisata. Berhasil? Tentu belum. Tapi ia tidak menyerah, terus memperbaiki tulisan dengan banyak membaca buku perjalanan.

“Saya tidak melihat referensi lewat blog, orang menulis di blog bisa semaunya.”

Masih di tahun 2007, ia dihubungi sebuah media di Medan. Artikel yang ditulis di blog pun dimuat di majalah untuk pertama kalinya. Saat itu ia mendapat bayaran sebesar Rp350 ribu untuk tulisan dan fotonya. Kini nama Yudasmoro Minasiani menghiasi beberapa majalah pariwisata. Ia menjadi penulis perjalanan langganan di berbagai media.

Lima tahun Yudas bekerja lepas sebagai penulis perjalanan. Ia bisa bertahan hidup dengan itu. Pekerjaan yang menyenangkan, tidak usah bermacet ria pergi ke kantor, cukup menikmati perjalanan dan mencurahkan di atas tulisan.

Namun kenyataannya tidak senikmat itu. Keadaan selama lima tahun tersebut naik turun. Terlebih, profesi pekerja lepas tidak terlalu diakui di Indonesia.

“Saya pernah mengajukan pinjaman ke bank, dan seorang pekerja lepas tidak bisa tembus untuk itu,” ujar Yudasmoro.

Belum lagi, kini tuntutan penulis perjalanan semakin tinggi. Menurutnya, menulis perjalanan bukan sekadar destinasi, harus ada cerita yang dimunculkan di balik itu semua.

Menulis perjalanan tidak selalu tentang keindahan. Jika buruk, tulislah buruk. Mainkan kosakata yang mengena pembaca. Yudas kerap membedah budaya untuk memperkuat tulisannya. Ia melakukan wawancara dengan tukang becak atau pekerja seni sekalipun. Tujuannya, untuk menghasilkan tulisan yang menyentuh sosial dan personal.

Tapi tulisan yang dikirim tidak selalu dimuat. Walaupun sudah senior, Yudas masih menerima omelan dari para editor majalah. Ia terus belajar dengan otodidak dan modal nekat. Menurutnya, penulis perjalanan sekarang beruntung karena banyak seminar yang digelar untuk meningkatkan proses kreatif menulis.

“Zaman saya dulu masih susah sekali, saya mencari buku panduan menulis perjalanan pun belum ada. Oleh sebab itu, saya termotivasi membuat buku Travel Writer pada tahun 2012,” ucap Yudas.

Yudas tak segan membagi ilmunya kepada orang lain. Bukunya memuat banyak tips untuk menjadi penulis perjalanan profesional. Yudas pun menekankan, jangan pusingkan bayaran terlebih dahulu. Memiliki kenalan di berbagai media adalah langkah pertama, dan harus dipertahankan.

Yudas kini sudah merambah ke Jepang, Cina, Malaysia, dan berbagai wilayah di Indonesia. Menginap di bermacam tempat pernah dirasakan. Mulai dari yang kelas bawah hingga kelas atas sekalipun. Baginya, perjalanan bukanlah tentang berkompetisi semurah mungkin untuk menuju ke suatu tempat.

“Perjalanan itu menyegarkan diri, bukan berlomba-lomba menjadi gembel atau menghilangkan banyak hal untuk bisa sampai ke suatu tempat,” ucap pria yang selalu membawa sorban saat melakukan perjalanannya.

Perjalanan Yudas akan terus berlanjut. Impiannya ke wilayah perbatasan Chiang Mai di Thailand, ataupun ke Serawak, perbatasan antara Indonesia dan Malaysia. Perbatasan menyita perhatiannya, kawasan dimana sejarah masih sangat kental, dan banyak ritual daerah yang mencengangkan.

“Dengan pergi ke negara lain, kita bisa perkenalkan budaya Indonesia, bisa menghargai perbedaan, serta belajar bahwa banyak hal yang terkoneksi,” kata Yudasmoro.

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

Leave a comment

Your email address will not be published.


*