Recommended

Selimut Debu 62: Agama Bukan di Baju

Traktor Juma Khan membawaku, Ghulam Sakhi, dan para penumpang lain hingga ke Qala Panja. Dari semua desa di tanah Wakhan ini, Qala Panja adalah yang paling terkenal. Namanya disebut-sebut dalam berbagai catatan perjalanan berabad silam. Karavan kuda yang membawa barang-barang dagangan dari Konstantinopel hingga ke negeri Tiongkok, pernah lewat di sini. Medan pegunungan Wakhan dan Pamir yang berat memaksa para saudagar mengganti kuda beban dengan keledai atau yak di Panja.

Dalam catatan perjalanan yang dibuat Hsuan Tsang, disebutkan bahwa benteng-benteng kuno bertebaran antara Ishkashim hingga Qala Panja dan Yamchum (di seberang sungai, wilayah Tajikistan). Wilayah ini adalah sebuah kerajaan bernama Xiumi (Wakhan) yang beribu kota di Saijiazhen (Ishkashim).

Kata Qala dalam nama Qala Panja memang berarti benteng, dan reruntuhan benteng kuno itu masih terlihat. Di sinilah Koridor Wakhan berakhir. Lidah sempit Afghanistan yang dimulai dari Ishkashim digantikan sebuah lidah besar yang dikelilingi Tajikistan, Pakistan, dan Cina.

Qala Panja adalah tempat kediaman pemimpin besar Muslim Ismaili di seluruh tanah Wakhan, mulai dari Ishkashim hingga ke Boroghil. Namanya Said Ismail. Gelarnya Shah, yang berarti raja, atau lengkapnya Shah-e-Panja, sang raja dari Panja. Kedudukannya adalah pir, pemimpin komunitas umat Ismaili di seluruh Wakhan. Aku turun dari traktor, bersama Ghulam Sakhi dan Wali Mohammad, seorang pria tua dari kantor pemerintah Khandud. Bersama Juma Khan dan Faizal, kami langsung menuju ruang tamu kediaman Shah.

“Kamu malam ini menginap di rumah Shah,” kata Ghulam Sakhi.

“Kami juga menginap di rumah Shah. Jadi kita menginap bersama-sama,” kata Wali Mohammad.

“Dan besok kita ke Tajikistan,” kata Ghulam Sakhi mengerling, “kamu ikut kan?”

Kemurahan hati Shah sudah termasyhur di seluruh pelosok Wakhan. Ia suka menjamu semua musafir yang melintas dengan makanan mewah dan tempat tidur yang nyaman. Tampaknya ini sudah jadi tradisi turun-menurun. Kita pasti bertanya, dari mana Shah punya begitu banyak kekayaan untuk memberi makanan pada semua orang yang datang. Bukan cuma sembarang makanan, tapi setumpuk nasi dan daging yang berlimpah. Shah begitu kaya, dan orang-orang Ismaili pun menyumbang sebagai bagian dari kepercayaan mereka. Sumbangan umat itu dikembalikan pada umat. Dan semakin lama, Shah semakin dicintai dan juga semakin kaya.

Menjelang malam, Shah datang menemui kami, tamu-tamunya. Dia berpakaian sederhana. Shalwar qamiz warna abu-abu dipadu dengan rompi hitam. Kepalanya berbalut serban bundar dan tebal. Bicaranya tenang, suaranya lembut. Ada aura yang terpancar dalam setiap kata yang mengalir. Walaupun dia tidak bisa bahasa Inggris dan aku tidak terlalu banyak tahu bahasa Farsi, ada dorongan entah dari mana yang membuatku selalu ingin belajar dari kebijaksanaannya.

Orang-orang datang, duduk bersila, di sekeliling Shah. Shah memulai diskusi malam ini, diterangi lampu petromaks yang berkelip-kelip.

Motaaseb. Kata ini meluncur dari Salahuddin, putra sulung Shah, saat mendeskripsikan orang-orang Afghan. Motaaseb berarti fanatik, mengandung makna konotasi kekeraskepalaan dan kebodohan.

”Perempuan kami terpaksa membungkus diri mereka dengan burqa, kalau belanja ke Ishkashim. Ini gara-gara pedagang Sunni yang banyak di Ishkashim. Orang-orang motaaseb ini, pikirannya memang sudah buta. Mereka tidak suka melihat wajah perempuan. Kalau sampai wajah seorang perempuan terlihat, mereka marah. Apalagi itu namanya kalau bukan motaaseb?” kata Salahudin berapi-api.

Kaum perempuan Wakhi bangga dengan pakaian berwarna-warni cantik yang mereka pakai setiap hari. Sejak meninggalkan Ishkashim aku melihat sebuah dunia yang berbeda dengan Afghanistan yang kukenal sebelumnya. Perempuan berkerudung mencolok bekerja di ladang gandum, dengan wajah terbuka yang terlihat jelas. Di Wakhan, para perempuan bangga dengan warna-warni syal mereka, baju mereka, rok, celana, sepatu, bros, … semua dirancang dengan desain yang begitu indah dan tradisional.

”Adat perempuan kami tidak memakai burqa. Tetapi mulai dari Ishkashim dan seterusnya ke pedalaman Afghanistan, kami tidak punya pilihan lain selain memakaikan burqa kepada kaum perempuan kami,” seorang warga Panja bercerita.

Shah, dengan bijaksana menyatakan ketidaksetujuannya terhadap pemaksaan pakaian perempuan, ”Agama itu bukan di baju. Agama itu ada di dalam hati. Inti agama adalah kemanusiaan.”

Perkataan Shah langsung menancap ke dalam benakku.

Shah adalah orang yang terbuka terhadap berbagai pandangan. Dia memintaku menjelaskan konsep reinkarnasi dalam agama Hindu dan Buddha yang pernah aku pelajar. Dia kemudian menerjemahkan konsep itu dalam bingkai Islam kepada para pengikutnya.

Umumnya umat Muslim tidak mengenal konsep reinkarnasi, tetapi beberapa kelompok Ismaili mengakui adanya reinkarnasi dalam siklus perjalanan kehidupan manusia. Shah sendiri mengaku masih mempelajari hakikat reinkarnasi.

“Intinya, semua perbuatan kita itu akan ada balasannya,” Shah menyimpulkan.

 

 

(bersambung)

 

Versi lain dari serial ini diterbitkan sebagai buku perjalanan berjudul “Selimut Debu: Impian dan Harapan dari Negeri Perang Afghanistan” oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2010.

 

1.Di seberang sungai sana adalah Tajikistan (AGUSTINUS WIBOWO)

1. Di seberang sungai sana adalah Tajikistan (AGUSTINUS WIBOWO)

2.Qala Panja (AGUSTINUS WIBOWO)

2. Qala Panja (AGUSTINUS WIBOWO)

3.Sang Shah (AGUSTINUS WIBOWO)

3. Sang Shah (AGUSTINUS WIBOWO)

4.Bocah-bocah di rumah Shah (AGUSTINUS WIBOWO)

4. Bocah-bocah di rumah Shah (AGUSTINUS WIBOWO)

5.Rumah Shah ini terbuka untuk siapa saja (AGUSTINUS WIBOWO)

5. Rumah Shah ini terbuka untuk siapa saja (AGUSTINUS WIBOWO)

6.Para tentara perbatasan di Qala Panja (AGUSTINUS WIBOWO)

6. Para tentara perbatasan di Qala Panja (AGUSTINUS WIBOWO)

7.Hijaunya ladang di Wakhan (AGUSTINUS WIBOWO)

7. Hijaunya ladang di Wakhan (AGUSTINUS WIBOWO)

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

1 Comment on Selimut Debu 62: Agama Bukan di Baju

  1. suami itu baju bagi istrinya dan sebaliknya istri adalah baju bagi suaminya^^

Leave a comment

Your email address will not be published.


*