Recommended

Selimut Debu 70: Saudara Sebangsa

Para pria Pakistan ini memang katanya datang ke sini untuk membawa perubahan.

Lihat celana modern dan jaket-jaket bulu yang mereka pakai. Coba dengarkan gemeresik radio yang mereka putar. Belum lagi mulut-mulut yang bercakap bahasa Inggris dengan fasih. Faizal-ur-Rahman, Juma Khan, dan yang lain-lainnya, datang dari Chapursan di Pakistan di balik gunung sana. Mereka menganut Islam Ismaili yang sama, bicara bahasa yang sama, tetapi betapa modernnya orang-orang ini di mata penduduk desa.

Kelima belas orang ini umumnya adalah tukang batu dan tukang bangunan. Tugas mereka adalah membangun gedung sekolah di desa, proyek dari Central Asia Institute, sebuah NGO yang katanya cukup bermasalah. Ada yang menatah batu, ada yang mengangkut dengan traktor. Ada yang mengaduk semen, ada yang memasang tembok dan jendela. Penduduk desa kadang ikut membantu menyiapkan teh dan makanan kecil. Semua tidak sabar ingin melihat gedung sekolah mungil ini cepat selesai. Sekarang, anak-anak masih harus berjalan kaki empat kilometer untuk sampai di sekolah tenda berlogo UNICEF.

Bukan berarti orang Wakhan miskin-miskin. Ada cukup banyak pula orang kaya di sini. Akimboy salah satunya. Juga Bulbul, yang rumahnya di bawah bayang-bayang puncak salju Baba Tangi. Nama Bulbul memang berarti burung bulbul. Ternaknya ada ratusan. Dua adik Bulbul sekarang tidak tinggal di desa. Mereka menggiring kawanan yak dan domba ke Pegunungan Pamir di atas sana, lima hari perjalanan dari sini, karena hewan-hewan berbulu tebal itu tak tahan musim panas di lembah Wakhan (yang sebenarnya sudah sangat sejuk). Mereka sudah pergi dua bulan. Satu bulan lagi, ketika dingin sudah mulai merambah, mereka akan kembali dengan membawa yak dan domba yang sudah gemuk-gemuk. Bulan Juli, di pengujung musim panas, udara di Kret sudah mulai dingin. Sebentar lagi salju sudah mulai turun di sini. Istri Bulbul sibuk merebus jalinan benang yang dicelupkan dalam pewarna. Baju dingin untuk anak-anak harus sudah mulai disiapkan sejak sekarang. Bibi Roushan, tetangga sebelah rumah, malah sudah sibuk menyulam dan menjahit. Ibunya yang sudah tua juga memintal bulu domba untuk dibuat gulungan benang halus.

Penduduk sini memenuhi kebutuhan pokok dengan kemampuan sendiri, termasuk urusan sandang, mulai dari benang hingga menjadi pakaian. Perempuan Wakhan mengenakan pakaian warna-warni, mulai dari topi, kerudung, baju, rompi, rok, celana kombor, hingga sepatu; semuanya buah tangan sendiri. Pakaian ini makin menjadi ”ramai” dengan hiasan untaian lusinan kalung, puluhan gelang, rompi yang ditempeli segala macam perhiasan, bros, peniti, kunci rumah, hingga alat pemotong kuku. Semuanya digantung di badan.

Faizal menganggap orang-orang Wakhan ini sebagai saudara-saudara sebangsa yang malang dan tertinggal. Kampung halamannya di Pakistan Utara boleh dibilang sudah cukup modern. Angka baca tulis umat Ismaili di Pakistan sudah mencapai angka 95% lebih, sedangkan rata-rata di Pakistan hanya seperempat kaum perempuan yang melek huruf. Rumah tradisional Wakhi, yang sama persis dengan rumah Bulbul atau Akimboy di sini, sudah dipasangi cerobong asap, sehingga bayi-bayi tidak perlu menjadi buta dan anak-anak tidak perlu menghirup gas beracun sepanjang hari. Penduduk di kampung halamannya juga menikmati interaksi dagang dengan Cina. Perbatasan internasional dibuka, jalan beraspal dibangun, dan lembar-lembar dolar terus mengalir dari turis asing yang datang menikmati ajaibnya pegunungan salju di atap dunia.

Sedangkan Wakhan? Orang-orang yang sama, rumah-rumah batu dan lempung yang sama, bahasa gunung yang sama, tetapi kehidupan di sini bergulir di zaman yang berbeda.

Jam kerja orang-orang Pakistan ini mulai pukul tujuh pagi hingga tiga sore. Setengah tujuh adalah waktu sarapan. Tempatnya di rumah Bulbul. Ada teh susu asin dan roti nan. Jam setengah sepuluh adalah waktu minum teh. Juga di rumah Bulbul, dengan menu yang sama. Jam setengah satu siang adalah jam makan. Bulbul menyediakan nasi putih yang disiram lautan minyak. Istri Bulbul sibuk memasak setiap hari. Kerjaan Bulbul cuma menghitung pemasukan di akhir bulan nanti, yang kudengar dari kicauan Bulbul jumlahnya bakal lebih dari seribu dolar.

Selepas itu adalah jam bebas. Para pekerja bermain kartu atau catur. Faizal memetik gitar, kawan-kawannya bernyanyi. Yang lain lagi memutar radio, jauh-jauh mengarahkan antena ke arah Cina. Aku mendengar berita peresmian rumah sakit di provinsi Guangdong, dibacakan oleh pembawa berita dalam bahasa Mandarin yang seperti sedang bernyanyi. Untuk sesaat aku seperti terlempar ke dimensi zaman yang lain lagi.

Ternyata bukan cuma orang Pakistan yang datang dari jauh. Susu pun bisa datang dari jauh-jauh Lahore sampai ke pegunungan terpencil ini. Suatu hari, di seberang sungai Wakhan, aku melihat iring-iringan truk melintas ke arah timur, ke Sarhad-e-Boroghil.

”Truk siapa itu?” Aku sudah lama tidak melihat kendaraan bermotor di lembah ini, kecuali traktor merahnya si Juma Khan.

”Itu punya WFP. World Food Programme,” kata Faizal.

Mengapa harus mendatangkan susu dari Pakistan, dibawa jauh-jauh melintasi celah Khyber yang berbahaya, lewat Kabul, menempuh ribuan kilometer sampai ke pegunungan Atap Dunia ini? Apakah mereka lupa bahwa daerah ini, dengan ratusan ribu ternaknya, justru adalah salah satu penghasil susu paling segar di dunia? Perlukah jauh-jauh membawa susu berpengawet kepada anak-anak yang biasa minum susu segar? Berapa ratus liter bensin yang dihabiskan untuk membawa konvoi truk besar itu sampai ke sini? Belum lagi kertas-kertas pembungkus susu yang nantinya akan mewarnai padang gembala di gunung-gunung, siapa lagi yang mau membersihkan?

Faizal hanya tertawa. Itu semua terserah program manager, katanya.

Adakah yang salah di sini? Ada lembah indah di balik gunung-gunung agung, tetapi terlupakan dunia. Sungai mengalir deras tanpa ampun, tetapi orang-orang hidup dalam kegelapan tanpa listrik. Orang-orang bermimpi tentang komunisme, keadilan dan kebebasan, tetapi masih terpaksa membungkus perempuannya rapat-rapat dalam kurungan chadri. Jembatan menuju tanah impian dibangun di mana-mana, tapi tak seorang pun boleh menyeberang. Uang tak ada, tetapi opium merajalela. Ratusan sapi melenguh bernyanyi sepanjang hari, tetapi anak-anak minum susu kotak dari Pakistan.

Di sini, waktu pun menjadi tak berarti. Dunia ini memang punya waktunya sendiri, zamannya sendiri. Entah berapa lama lagi impian-impian yang dibawa Tajikistan di seberang sungai dan Chapursan di balik gunung, akan menjadi kenyataan di lembah Wakhan.

 

 

 

(bersambung)

 

Versi lain dari serial ini diterbitkan sebagai buku perjalanan berjudul “Selimut Debu: Impian dan Harapan dari Negeri Perang Afghanistan” oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2010.

 

1.Tatap mata Nozik, gadis cilik di rumah Bulbul (AGUSTINUS WIBOWO)

1. Tatap mata Nozik, gadis cilik di rumah Bulbul (AGUSTINUS WIBOWO)

2.Para perempuan di rumah Bulbul makan bersama (AGUSTINUS WIBOWO)

2. Para perempuan di rumah Bulbul makan bersama (AGUSTINUS WIBOWO)

3.Istri Bulbul dan anak-anaknya (AGUSTINUS WIBOWO)

3. Istri Bulbul dan anak-anaknya (AGUSTINUS WIBOWO)

4.Perhiasan para perempuan sangat banyak dan berat, mereka bahkan membawa bros bergambar foto suami atau kakak (AGUSTINUS WIBOWO)

4. Perhiasan para perempuan sangat banyak dan berat, mereka bahkan membawa bros bergambar foto suami atau kakak (AGUSTINUS WIBOWO)

5.Mereka satu saudara yang dipisahkan oleh garis batas negeri (AGUSTINUS WIBOWO)

5. Mereka satu saudara yang dipisahkan oleh garis batas negeri (AGUSTINUS WIBOWO)

6.Para lelaki bersalam dengan bercium pipi (AGUSTINUS WIBOWO)

6. Para lelaki bersalam dengan bercium pipi (AGUSTINUS WIBOWO)

7.Ini akan menjadi gedung sekolah (AGUSTINUS WIBOWO)

7. Ini akan menjadi gedung sekolah (AGUSTINUS WIBOWO)

8.Pekerja dari Pakistan (AGUSTINUS WIBOWO)

8. Pekerja dari Pakistan (AGUSTINUS WIBOWO)

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

5 Comments on Selimut Debu 70: Saudara Sebangsa

  1. kecantikan persia g ada duanya di dunia, cewek indonesia yg dekil, pesek, monyong itu kalah total…

    • Haha. Setuju Bro cewek Asia Tengah cantik-cantik memang. Gw lebih suka mereka ketimbang cewek bule sama Jepang. Tapi gak usah ngatain cewek Asia Tengggara kayak gitu lah. Apalagi lo sendiri orang Indonesia. 😀

  2. Mereka sangat cantik… dan saya sudah membaca banyak refrensi tentang hal ini… dan ternyata BETUL. tapi mereka tidak terlalu mengekspos kecantikan mereka seperti kita di indonesia dan dunia barat. Kecantikan mereka hanya untuk suami mereka. bukan untuk laki laki lain… LUAR BIASA… very very amazing………. :)

  3. thanks for this artical.. it’s so very useful..

Leave a comment

Your email address will not be published.


*