Recommended

Selimut Debu 105: Bom

Tenteramnya Lembah Bamiyan sudah menjadi kenangan dunia lain ketika aku kembali menginjakkan kaki di Kabul. Di bulan Ramadan ini bukan kedamaian yang terasa, melainkan kengerian sebuah negeri perang.

Bom meledak.

Letaknya di seberang kantor berita Pajhwok, tempat aku biasa duduk dan menghabiskan waktu bersama para wartawan. Pukul delapan pagi, pegawai kantor Kementerian Dalam Negeri masuk kerja dan murid-murid masuk sekolah.

Bus shuttle yang mengantar para pegawai kementerian berhenti di tepi jalan untuk menurunkan para penumpang. Pelaku peledakan melompat ke arah bus, dan meledakkan dirinya. Bersamanya, lima penumpang bus dikirim ke akhirat, juga anak-anak sekolah dan ibu tua. Tak ada api, tetapi ledakan dahsyat ini mematikan. Hingga tengah hari, jumlah korban sudah mencapai empat belas orang, belum lagi ditambah puluhan yang luka parah di rumah sakit.

Para pelajar melihat potongan telinga dan anggota tubuh lainnya terlempar sampai ke halaman sekolah mereka, tersangkut di pepohonan dan tersebar di lantai gedung. Anak-anak berteriak histeris. Dalam usia sekecil ini, mereka sudah harus terbiasa dengan ledakan, perang, dan kengerian.

Esoknya, bom lain meledak di daerah Mikroyan, blok-blok perumahan yang dulu dibangun oleh pemerintah Uni Soviet ketika menguasai negeri ini. Pelaku bom bunuh diri adalah seorang pemuda berpakaian ala Barat yang sekarang jasadnya terbaring di pinggir jalan. Kakinya sudah terbang entah ke mana, sementara ususnya terburai keluar, berbaur dengan darah yang menghitam oleh kotoran jalanan.

Perutku mual. Menatap wajah yang terpejam itu, aku bertanya dalam hati, apakah ini perjuangan yang ingin dicapai dalam hayatnya? Ia sudah berhasil membunuh enam jiwa, yang kesemuanya adalah penduduk Afghan malang yang kebetulan berada di tempat yang salah, waktu yang salah. Kakek tua penumpang Falang Coach ikut menjadi korban. Entah hendak ke mana ia pergi. Entah bagaimana perasaan keluarganya yang menanti di rumah. Bagaimana anak cucunya, atau bahkan istrinya yang mungkin masih bergantung padanya akan bertahan hidup? Di saku jenazah kakek malang itu terselip selembar uang 500 Afghani, yang mungkin bisa menghidupi keluarganya untuk berhari-hari.

Kabul, konon adalah salah satu kota teraman di Afghanistan, kini sudah bukan kota yang ramah lagi. Kengerian Kandahar telah merambat ke sini. Mayat bergelimpangan, api berkobar, kengerian merebak, kecurigaan menyelimuti jiwa.

Jantungku berdegup kencang. ”Ini Afghanistan, kawan,” kata teman jurnalis, sambil menepuk pundakku.

Mengapa justru di bulan suci ini serangan bom semakin menggila? Karena konon mereka diajarkan jika mati syahid di bulan suci maka akan berlipat pahalanya. Selain itu, musim dingin segera menjelang. Serangan bom akan kurang efektif di musim dingin. Sebelum memasuki bulan-bulan ”tenang dan damai”, sekarang kira-kira kesempatan terakhir untuk melakukan operasi.

Pukul setengah lima sore, kantor berita mulai sepi. Para wartawan sudah naik ke mobil shuttle yang mengantar mereka pulang. Aku sendirian melintasi Jalan Kementerian Dalam Negeri, tempat bom meledak dua hari lalu.

Suasana terlihat tegang, banyak polisi di mana-mana. Aku terus berjalan, tanpa memperhatikan ada gelagat buruk. Lagi pula aku hanya orang asing yang hendak pergi belanja buku dan kartu pos. Sambil jalan, aku asyik membaca SMS.

Tiba-tiba, ketika mendekati pertigaan, seorang tentara dari arah berlawanan menyuruhku berhenti. Aku berhenti. Tahu-tahu dari belakang aku ditampar.

Seorang polisi kurus dengan telapak tangan besar dan tamparan mantap, menghardik. Aku nyaris tersungkur, telinga berdengung akibat tamparan. Polisi memeriksa isi tas kameraku dengan paksa. Tanpa ba-bi-bu ia langsung main pukul. Tas kamera yang terselempang di tubuhku berbentuk bulat, mungkin dicurigai sebagai bom. Aku juga mengenakan pakaian tradisional Afghan lengkap dengan rompi hitam, yang mungkin menambah kecurigaannya.

Ia menyalakan kamera, mengamat-amati lensa, memeriksa baterai Tidak ada yang salah. Ini bukan bom seperti yang meledakkan Ahmad Shah Massoud.

BORO! PERGI!” teriaknya.

Tetapi aku tidak terima begitu saja. Dengan bahasa Inggris bercampur Farsi, aku menyuruhnya minta maaf untuk penempelengan yang tak berdasar.

“Bukan salah polisi,” kata tentara yang tadi menghentikanku. Badannya kekar seperti Rambo. ”Itu salah kamu. Tadi polisi itu minta kamu berhenti kamu tak berhenti.” Tetapi aku sama sekali tidak pernah melihat polisi ini sebelumnya. Tahu-tahu ia muncul dari belakang dengan tamparan keras.

Polisi pun terpancing. Ia membentakku sambil menunjukkan jari telunjuknya di depan hidungku.

”Hei. Aku orang asing! Mau apa kamu?” Saking marahnya suaraku sampai bergetar.

Polisi ini menamparku untuk kedua kalinya. Lalu aku ditampar sekali lagi. Ia bahkan hampir memukulku dengan popor Kalashnikov-nya, untung ditahan oleh tentara itu.

“Orang asing? Paspor! Tunjukkan paspormu!” perintah si tentara.

Aku meraba kantong rompi. Sial! Pasporku ketinggalan.

 

 

(bersambung)

 

Versi lain dari serial ini diterbitkan sebagai buku perjalanan berjudul “Selimut Debu: Impian dan Harapan dari Negeri Perang Afghanistan” oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2010.

 

1.Suasana mencekam pasca pengeboman (AGUSTINUS WIBOWO)

1. Suasana mencekam pasca pengeboman (AGUSTINUS WIBOWO)

2.Tentara asing sudah berjaga (AGUSTINUS WIBOWO)

2. Tentara asing sudah berjaga (AGUSTINUS WIBOWO)

3.Salah satu dari pelaku berhasil ditangkap, menyamar sebagai tentara (AGUSTINUS WIBOWO)

3. Salah satu dari pelaku berhasil ditangkap, menyamar sebagai tentara (AGUSTINUS WIBOWO)

4.Pengebom yang tewas, separuh badannya hancur (AGUSTINUS WIBOWO)

4. Pengebom yang tewas, separuh badannya hancur (AGUSTINUS WIBOWO)

5.Pasar Kabul masih ramai seperti biasa (AGUSTINUS WIBOWO)

5. Pasar Kabul masih ramai seperti biasa (AGUSTINUS WIBOWO)

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

1 Comment on Selimut Debu 105: Bom

Leave a comment

Your email address will not be published.


*