Recommended

Titik Nol 7: Penantian di Pinggir Jalan

Tas ransel tergeletak di jalan. Pemiliknya menanti dalam keputusasaan. (AGUSTINUS WIBOWO)

Tas ransel tergeletak di jalan. Pemiliknya menanti dalam keputusasaan. (AGUSTINUS WIBOWO)

Lengang. Kami berempat menanti dalam ketidakpastian. Tak ada manusia, tak ada kendaraan yang melintas. Kerajaan yang hilang itu tersembunyi di balik gunung-gunung tinggi sana.

Pria Jerman berjaket merah ini bernama Hans, seorang trekker sejati. Umurnya sudah mendekati lima puluhan, tetapi keberanian dan ketangguhannya melebihi orang muda sekalipun. Seorang diri ia sudah mengelilingi Tibet selama tiga bulan, mendaki gunung-gunung dan merambah tempat-tempat tersembunyi. Zanda, kerajaan Guge, termasuk tempat terakhir yang belum disentuhnya di tanah Tibet.

Hans bisa sedikit bahasa Mandarin. Bertualang di Tibet sebagai seorang laowai – bule – sangat tidak mudah.

Hitchhike – menumpang truk – sangat susah. Sopir truk kebanyakan tak berani mengangkut laowai, karena kalau tertangkap polisi mereka akan didenda mahal.”

Untuk soal permit Tibet, Hans lebih memilih mematuhi hukum. Tetapi itu pun tak mudah. Aturan di Tibet berubah setiap saat. Tidak ada yang tahu aturan apa yang sedang berlaku. Permit yang sudah dibeli mahal-mahal pun bisa jadi tak berlaku di tempat lain. Sekarang pada permit yang dipegang Hans pun tak tercantum nama Ngari, yang artinya ia pun pelancong ilegal.

Hans punya segudang nasihat terhadap para pelancong ilegal seperti kami.

“Berhati-hatilah, di Barga nanti ada pos pemeriksaan besar. Di situ permit diperiksa. Di Lhatse juga ada. Lebih mudah kalau datang dari arah barat ke Lhasa, karena ibaratnya kamu datang dari daerah yang kurang aman masuk ke daerah aman. Kalau sebaliknya, dari Lhasa ke sini, bukan hanya permit yang diperiksa, mencari kendaraan pun susah setengah mati.”

Saya sungguh kagum akan keberaniannya. Dengan bahasa Mandarin yang terbata-bata, ia masih bertahan dalam pengembaraan ke tempat-tempat sulit di penjuru Tibet.

Satu jam berlalu. Angin mendesir, suaranya tinggi menderu, kemudian lenyap di balik gunung. Rumput menari-nari. Gunung membisu. Jalan raya yang mulus diam tak bersuara. Di dalam lingkup garis-garis cakrawala dan lekuk gunung di keempat penjuru hanya ada kami empat manusia, menanti dengan cemas dan pasrah untuk menumpang kendaraan murah.

Dua jam berlalu. Perut mulai keroncongan. Nafsu bicara dan berbagi pengalaman sudah dikalahkan lapar dan bosan. Seum dan Kim membolak-balik fotokopian berbahasa Korea mereka, panduan jalan mereka, bible mereka. Saya baru ingat hari ini hari ulang tahun saya. Sepi sekali rasanya di sini.

Hans menghibur, “Semoga hari ulang tahunmu membawa keberuntungan bagi kita semua.”

Hanya arakan awan dan tiupan angin dingin yang merayakan hari istimewa dalam ketidakistimewaannya ini.

Tiga jam berlalu, angin dingin menerpa wajah. Ada sebuah truk pengangkut barat yang berbelok ke arah Zanda, tetapi mereka tak mau mengangkut kami semua.

“Susah sekali hitchhike kalau berombongan begini,” kata Hans, “biasanya di kendaraan pun paling banter cuma ada tempat untuk satu orang.”

Itulah sebabnya, lebih nyaman berkeliling Tibet secara ilegal dan menumpang kendaraan kalau seorang diri daripada berombongan. Hans sudah menunggu kendaraan sampai tiga hari di persimpangan sepi ini, nasibnya masih belum beruntung juga.

Empat jam berlalu, danau di tepi jalan berkerut-kerut oleh riak air yang diterpa angin. Selain itu ada juga bunyi perut yang keroncongan. Di sini tak ada toko ataupun warung. Tak ada siapa-siapa. Desa terdekat sekitar satu kilometer di bawah.

“Mari ke sana sama-sama,” ajak Hans, “makan siang di sana.”

Ransel kami berserakan di pinggir jalan. Hans siap-siap menggotong lagi ranselnya. Saya kurang bernafsu menggotong ransel ini, apalagi gara kebodohan saya kemarin berlari-lari kecil sore hari di Rutog, sampai sekarang paru-paru saya masih sakit rasanya.

“Kalian bertiga pergi dululah, saya yang menjaga barang, nanti saya berangkat ke desa sendiri.”

Tiga sosok manusia itu hilang dibalik lekukan gunung-gunung kelabu. Saya sendirian, duduk di samping empat tas ransel yang berserakan di pinggir jalan beraspal. Pemerintah China bisa membangun jalan berkualitas bagus sampai ke tempat yang tak berpenghuni dan sepi seperti ini. Jalan ini lengang, dari tadi hanya ada tiga mobil yang lewat.

Lima jam menunggu, pukul tiga sore, nampaknya kita harus menyerah, kembali berputar haluan ke Ngari. Di sini hanya ada alam liar. Tak ada tempat menginap. Bahkan untuk kembali ke Ngari pun tak mudah, karena mobil pun tak melintas di jalan sepi ini.

“Akhirnya, kita balik juga ke Ngari,” seru Kim gembira.

Kami berhasil mendapat truk. Sopirnya orang Tibet, dengan rambut panjang yang dibungkus kain merah. Orangnya tak begitu ramah.

“Seratus lima puluh Yuan! Tak bisa kurang! Kalau tak setuju tak usah naik!” Mungkin karena yang menawar bule, harganya pun jadi melangit.

Sampai di Ngari pun kami masih tak bisa mendapatkan kendaraan untuk ke Zanda. Di sini sopir jip dengan rakus meminta harga 8000 Yuan untuk perjalanan pulang pergi. Itu sudah hampir seribu dolar, hanya untuk melihat reruntuhan kota kuno. Saya mundur teratur.

Kota Ngari dihuni lebih banyak orang etnis Han daripada orang Tibet. Orang China sudah merambah ke seluruh penjuru negerinya, sampai ke tempat-tempat yang mustahil seperti ini, membangun kota megah, menaruh armada tentara dan polisi.

Ngari, seperti halnya kota-kota baru di Tibet lainnya, menjadi tumpuan harapan penduduk Sichuan – provinsi padat yang dihuni lebih dari 80 juta jiwa. Orang Sichuan ini mengembara sampai ke penjuru Tibet yang paling terpencil, buka usaha restoran, toko, servis mobil, apa pun yang bisa jadi uang. Walaupun Tibet miskin, tetapi uang yang bisa dikeruk di sini tak sedikit.

Saya melewatkan hari ulang tahun seorang diri di sebuah sudut warung kecil di pinggir jalan yang gelap. Memakan semangkuk nasi sayur di restoran Sichuan. Harganya 20 Yuan, tidak murah.

Saya sudah tak mau lagi lama-lama di Ngari. Di sini polisi berkeliaran di mana-mana, ada yang berseragam namun banyak pula yang intel dalam penyamaran. Besok pagi-pagi saya harus meninggalkan kota aneh ini, dan semoga seperti yang dikatakan Hans, hari ulang tahun membawa keberuntungan.

 

(Bersambung)

Serial ini pernah diterbitkan sebagai “Titik Nol” di Rubrik Petualang, Kompas.com pada tahun 2008, dan diterbitkan sebagai buku perjalanan berjudul “Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan” oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2013.

Dimuat di Kompas Cyber Media pada 12 Agustus 2008

Alam Tibet memang indah, tetapi kegersangan dan kekosongan tak selalu bersahabat. (AGUSTINUS WIBOWO)

Alam Tibet memang indah, tetapi kegersangan dan kekosongan tak selalu bersahabat. (AGUSTINUS WIBOWO)

Persimpangan Namru. (AGUSTINUS WIBOWO)

Persimpangan Namru. (AGUSTINUS WIBOWO)

Hans, penjelajah Tibet sejati. (AGUSTINUS WIBOWO)

Hans, penjelajah Tibet sejati. (AGUSTINUS WIBOWO)

About Agustinus Wibowo

Agustinus is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed three years in Afghanistan until 2009. He is now a full-time writer and based in Jakarta, Indonesia. agustinus@agustinuswibowo.com Contact: Website | More Posts

1 Comment on Titik Nol 7: Penantian di Pinggir Jalan

  1. Yes! Saya lagi baca Titik Nol-nya nih, Bang

Leave a comment

Your email address will not be published.


*