Recommended

Profile

Agustinus-Wibowo-profilephoto-2

Agustinus Wibowo

is an Indonesian travel writer and travel photographer. Agustinus started a “Grand Overland Journey” in 2005 from Beijing, where he pursued his bachelor degree in Tsinghua University, and dreamed to reach South Africa totally by land with an optimistic budget of US$2000. His journey has taken him across Himalaya, South Asia, Afghanistan, Iran, and ex-Soviet Central Asian republics. He was stranded and stayed for three years in Afghanistan, until 2009.

His first book was Selimut Debu (A Blanket of Dust, 2010), chronicles his journey in Afghanistan. It was followed by Garis Batas (Borderlines: A Journey through Central Asia, 2011), which examines issues of borderlines across ex-Soviet republics, including psychological borders and the search for national identity. Through his third book, Titik Nol (Ground Zero, 2013), he has pioneered a new genre in Indonesian travel literature by allowing readers to experience the writer’s physical, spiritual and emotional journey as they contemplate their own conflicts and anxieties. The English version of Titik Nol, Ground Zero: When Journey Takes You Home, was released in 2015.

Agustinus speaks Indonesian, English and Mandarin Chinese fluently; and has learned Russian, Japanese, German and French academically; and has taught himself to speak many languages including Urdu, Farsi, Tajik, Kyrgyz, Kazakh, Uzbek, Mongol, Turkish, and Tok Pisin. Agustinus has also translated some Chinese literary novels from Chinese to Indonesian, including (活着) To Live and Chronicle of a Blood Merchant (许三观 卖血 记) by Yu Hua 余华.

Currently Agustinus is living in Jakarta. He can be contacted here.

Agustinus-Wibowo-profilephoto

Agustinus Wibowo

adalah seorang penulis dan fotografer perjalanan Indonesia. Berawal dari seorang sarjana ilmu komputer di Universitas Tsinghua di Beijing, pada tahun 2005 Agustinus memulai petualangan perjalanan darat keliling Asia, berangkat dari China melintasi negara-negara Asia Selatan dan Asia Tengah, hingga menetap sebagai jurnalis foto di Afghanistan selama tiga tahun. Catatan perjalanannya menjadi pionir dalam penulisan narasi perjalanan dengan gaya nonfiksi kreatif di Indonesia. Buku pertamanya adalah Selimut Debu: Impian dan Kebanggaan dari Negeri Perang Afghanistan (2010), disusul dengan Garis Batas: Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah (2011). Buku ketiganya, Titik Nol: Sebuah Makna Perjalanan (2013) adalah sebuah catatan perjalanan dengan gaya penulisan yang orisinal dipadukan dengan memoar, telah diterbitkan dalam versi bahasa Inggris sebagai Ground Zero: When the Journey Takes You Home (2015).

Kedalaman tulisan Agustinus sangat dipengaruhi kemampuannya berkomunikasi dengan penduduk setempat, dan itu ditunjang oleh kecintaannya terhadap bahasa. Agustinus menguasai bahasa Indonesia, Inggris, Mandarin; juga pernah mempelajari bahasa Rusia, Jepang, Jerman, Prancis di bangku sekolah; dan secara otodidak mempelajari banyak bahasa di antaranya Urdu, Farsi, Tajik, Kirgiz, Kazakh, Uzbek, Mongol, Turki, dan Tok Pisin. Agustinus juga menerjemahkan novel sastra China dari bahasa Mandarin ke bahasa Indonesia, di antaranya To Live (活着) dan Chronicle of A Blood Merchant (许三观卖血记) karya Yu Hua 余华.

Saat ini Agustinus sedang menggarap sebuah buku perjalanan tentang nasionalisme Nusantara. Agustinus dapat dihubungi di sini.

17 Comments on Profile

  1. saya tinggal di malang.saya adalah pengemar pak agustinus dan saya juga punya hoby travelling,dan saya ingin skali untuk membaca buku” pak agustinus.ingin tau bagai mana pengalaman bpk di dalam menjelah dunia..sungguh kbahagiaan yang luar biasa bagi saya apa bila suatu saat nanti saya bisa jalan” bersama bpk agustinus..di dalam prinsif hidup saya.”TAK ADA YANG TAK BISA DI DUNIA INI,SELAGI PERATURAN ITU DI BUAT OLEH MANUSIA”dan kalau bpk tidak keberatan saya ingin berbicara dengan bpk agustinus dan sekiranya bpk bisa menghugi sayadi(081333662992) thanks.

  2. Pekerjaan yg paling menyenangkan adalah Hobby yg dibayar., kalau sempat traveler ke indo timur khususnya perbatasan Timor leste dan pulau Ndana paling selatan indonesia di Rote bang.,:)

  3. gua juga pengen banget jadi traveler, tapi sebentar lagi gua mau nikah, jadi makin banyak pertimbangan… mungkinkah jadi traveller kalau sudah berkeluarga ?

    trims

  4. salam kenal agus, perjalanmu selalu hidup

  5. salam kenal, nemu lagi blog yang enak dibaca

  6. Franz Ferdinand // January 14, 2016 at 3:17 pm // Reply

    Salam kenal mas agustinus wibowo, saya suka foto & liputan perjalanan anda yg menguak sisi human interest dgn apa adanya.
    Sekedar saran, mungkin bisa lebih banyak liputan travel pada kehidupan masyarakat pedalaman di negeri kita dari sudut pandang orang indonesia sendiri, karena selama ini lebih banyak liputan dilakukan oleh traveler dari luar.
    Semangat & terus berkarya. Mohon izin untuk tag ke sosial media saya. Trims.

  7. kirain sudah tua .. ternyata masih belia 😛 MENGINSPIRASI ..!

  8. Terima kasih untuk sharing pengalamannya, sangat menginspirasi :)

    Salam kenal.

  9. wow bagus jadi panutan nih
    kebetulan aku juga punya impian ingin jadi traveler
    bukan ingin mencari popularitas tp tenttag pencaarian jati diri

  10. nur hikmah // May 5, 2016 at 11:55 am // Reply

    agustinus muda yang penuh ispirasi. meski baru baca salah satu dari bukunya, saya langsung penasaran dengan biografi penulis buku ini… super…, lanjut baca buku-buku agustinus selanjutnya

  11. Waaw foto” nya bagus
    blognya mempunyai halaman tersendiri untuk memperlihatkan hasil jepretannya
    nice

  12. Mas agustinus emang mantap sangat menginspirasi perjalanan saya. Bahkan sampai saat ini saya bekerja di haifa israel saya masih mengikuti blog mas agustinus. 2 buku mas agustinus tak lupa selalu saya bawa sebagai bacaan hehehe. Pengin rasanya nanti setelah pulang ke indonesia bertemu dengan mas agustinus wibowo. Salam

  13. Q suka dg berbagai pandangannya, ceritanya sangat berkesan, tp ada jg yg tidak Kusuka hehe #damai

  14. saya lupa kapan tepatnya saya mulai membaca perjalanan mas agus ini,
    kalau gak salah sekitar 2006. tapi yang pasti seingat saya waktu itu trend backpacker belum seperti sekarang. dan sampai saat ini pun rasanya belum ada yang serupa mas agus. yang ngaku2 backpaker di acara2 tv sih banyak :D.
    tapi mas agus ini buat saya adalah gambaran backpacker yang sesungguhnya! dan kayaknya belum ada yang menyamainya.

    cerita perjalanan yang sangat menarik dan menginspirasi. :)

  15. kapan ke lumajang lagi mas?

  16. siti fatimah nst // June 5, 2017 at 12:56 pm // Reply

    Assalammualaikum mas asgustinus,
    Sy baru aj baca novel selimut debu, msh belum selesai sy baca, tp udh menginspirasi sy. Sya seneng banget bacanya, dan sbnrnya cita2 sy saat ini inging menjadi penulis, mksnya sy semakin penasaran sm sosok penulis yg menrt sy pas bgt dgn sosok yg sy cari saat ini, dan stlh sy cek profilmas agusn trnyta mas agus masiih muda, jd nmbah saluuut deh,
    Semangat terus yh mas agustinus buat novelnya.

1 Trackbacks & Pingbacks

  1. Workshop Travel Writing | EnsiPedia

Leave a comment

Your email address will not be published.


*