Recommended

esai

Pakistan: Ketika Tuhan Menjadi Negara

Perbatasan Wagah (disebut Attari oleh India) terletak hampir tepat di tengah jarak antara Lahore di Punjab Pakistan dengan Amritsar—kota suci umat Sikh di Punjab India. Walaupun ini satu-satunya perlintasan resmi sepanjang 2.900 kilometer garis batas kedua negara, perbatasan biasanya sepi sepanjang hari. Sangat sulit bagi penduduk mereka untuk saling mendapatkan visa; minat saling berkunjung juga rendah. Perbatasan ini sesungguhnya adalah pseudo-stadion, dengan tribun-tribun berhadap-hadapan bagi penonton, di sisi Pakistan maupun India. Menjelang sore, perbatasan mendadak ramai oleh penduduk kedua negeri yang membanjiri tribun masing-masing seperti suporter sepak bola fanatik. Di sisi India, dari lautan manusia berbaju warna-warni memenuhi tribun di seberang garis batas dan berkilau keemasan dibilas matahari senja, terdengar meriahnya dendang musik pop Bollywood, juga gemuruh pekikan: “Hindustan Zindabad!” Hiduplah India! Di sisi Pakistan, di bawah bayang-bayang Gerbang Kebebasan, kami tak mau kalah, memekik sekencang-kencangnya, “Pakistan Zindabad! Pakistan Zindabad!” Pemandu sorak kami adalah seorang kakek berjenggot putih. Konon dia tak pernah absen agar semangat kami Pakistan jangan sampai kalah dari India. Dia selalu mengenakan pakaian hijau yang sama, bergambar bulan sabit dan bintang—lambang Islam dan lambang Pakistan—dan bertuliskan huruf Urdu: Pakistan Zindabad. “Nara e Takbir!!!” Pekikkan kebesaran Allah! kakek itu berteriak. “Allahuakbar!” [...]

April 14, 2016 // 12 Comments